Tinggalkan Pekerjaan untuk Pilih Sekolah Teologi
Semula tak ada yang istimewa dalam kehidupan Sri Hadijanto STh. Pria kelahiran Semarang, 28 November 1950, itu besar dalam keluarga bahagia dan sederhana, seperti yang dialami banyak orang. Ketika remaja, dia bersekolah di STM. Setahun lulus, dia bekerja di perusahaan konstruksi. Meski tergolong sebagai orang yang taat ke gereja, pria yang akrab disapa Anto itu tidak pernah berpikir akan menyerahkan hidupnya untuk kegiatan agama.
Sampai satu ketika, sebuah formulir pendaftaran sekolah pendeta mengubah segalanya. “Adik saya yang bawa formulir itu. Dikasih sama gurunya. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba saja saya tergerak untuk mendaftar. Sampai sekarang saya juga tidak tahu alasannya,” ujarnya.
Tercatat selama enam tahun, mulai 1972, Anto menjalani pendidikan di Sekolah Tinggi Teologia Duta Wacana Jogjakarta. Untuk itu, dia harus melepas pekerjaan di dunia konstruksi tersebut. Keluarga mendukung keputusannya itu. “Keluarga saya memiliki latar kehidupan agama yang sangat kuat. Maka, ayah saya senang sekali saat tahu ada anaknya yang mau jadi pendeta,” ujar anak keempat di antara enam bersaudara tersebut.
Sejak keluar dari pekerjaannya, otomatis Anto tidak lagi memiliki penghasilan. Untung dia mendapatkan beasiswa. Namun, karena sudah terbiasa memegang uang sendiri dan tak enak hanya menunggu kiriman dari orang tua, Anto berusaha mencari pekerjaan di luar jam pendidikan. “Tapi susah. Soalnya, waktu saya ternyata habis untuk kuliah dan mengerjakan tugas,” ceritanya.
Baru saat menginjak tahun-tahun terakhir kuliah, dia mendapat kesempatan itu. Anto mulai membagi ilmu dengan menjadi pengajar di sekolah pendidikan guru agama Kristen setingkat SMA di Jogjakarta pada 1976-1977. “Ngajarnya cuma Sabtu-Minggu. Hari lain fokus kuliah. Lumayan, hasilnya buat tambahan,” imbuhnya.
Setelah lulus kuliah, Anto bertugas sebagai calon pendeta di GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) Jemaat Rejoagung daerah Jember pada 1978-1979. Kemudian dia berpindah tugas ke Probolinggo pada Januari sampai April 1980. Pada April 1980-1983 dia berpindah ke Donomolyo, Malang. “Di Kota Malang inilah saya diangkat menjadi pendeta pada Juni 1980,” tuturnya.
Anto sangat aktif dalam berbagai kegiatan gereja. Dia pernah dikirim untuk kursus religion education di West Hill College, Birmingham. Dia juga pernah dikirim ke Australia menjadi tamu dalam sebuah kursus pemimpin gereja dan pendeta Aborigin di Sydney.
Berbagai yang sudah dia dapatkan membuatnya semakin berpengalaman. Saat berumur 44 tahun, dia berangkat ke Belanda untuk urusan gereja. Saat bertugas di negara kincir angin itu, Sri Hadijanto STh mendapatkan banyak pengalaman berharga yang terkait dengan kehidupan spiritual. Selama empat tahun, mulai 1994, pria yang biasa dipanggil Anto itu ditempatkan sebagai pendeta di kantor pembinaan gereja Netherlands Hervormde Kerk (NHK), Utrecht, Belanda. “Saya berbagi banyak pengalaman dengan sesama pendeta di sana,” tuturnya.
Menurut Anto, orang Belanda tertarik untuk mengetahui bagaimana gereja di Indonesia bisa hidup di tengah-tengah masyarakat yang majemuk, baik budaya dan agama. Sebagian penduduk Belanda tidak begitu mempersoalkan apakah orang itu beragama atau tidak. “Beberapa teman saya di sana tidak memiliki agama. Mereka malah heran kenapa orang di Indonesia diharuskan beragama,” ungkapnya.
Tak heran jika simbol-simbol keagamaan hampir jarang ditemukan dalam tempat tinggal di Negeri Kincir Angin tersebut. Kalaupun ada, letaknya tidak di ruang utama, terkesan tidak ditonjolkan. “Beda kan dengan Indonesia. Paling tidak, di ruang utama ada salib atau simbol agama lain, seperti tulisan Arab di dinding,” jelasnya.
Selain berbagi pengalaman tentang keagamaan, Anto mengamati cara bersosialisasi masyarakat di sana. Suatu kali, dia pernah menemukan beberapa orang saling berbicara. Awalnya, mereka tidak saling kenal, tapi akhirnya bisa ngobrol dengan santai. Salah seorang di antara mereka berprofesi sebagai tukang sapu jalanan.
“Yang bikin saya heran, tukang sapu tersebut bisa memiliki rasa percaya diri tinggi. Dia tidak minder sama sekali. Sementara itu, orang yang diajak ngobrol juga tetap antusias meski tahu bahwa lawan bicaranya tukang sapu. Sikap pede dan saling menghormati tersebut sangat kental di sana,” ucapnya.
Fokus Pada Umat
Bertahun-tahun hidup tanpa dikaruniai anak, pasangan pendeta Sri Hadijanto STh dan Sulistiani tak pernah kesepian atau sedih. Suami istri yang menikah pada 1980 itu malah mencoba menarik berbagai hal positif dari kondisi yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta itu. “Kami bisa fokus pada kegiatan masing-masing. Mungkin, itu cara Tuhan agar saya bisa mengabdikan diri untuk umat,” kata Anto, panggilan Sri Hadijanto.
Pria berusia 58 tahun tersebut mengatakan, sebetulnya pada 1983 istrinya pernah hamil anak kembar. Tapi, kehamilan itu ternyata berisiko pada keselamatan hidup Sulistiani. “Saya pilih menyelamatkan istri. Dengan terpaksa, kandungannya dikuret,” tuturnya.
Keinginan mengadopsi anak pernah terpikir oleh mereka. Namun, niat itu dibatalkan saat mereka berpikir tentang banyak hal yang mungkin terjadi di masa depan. “Kami nggak mau anak itu nanti sakit hati saat orang bilang dia hanya anak adopsi, misalnya,” papar Anto.
Hidup hanya dengan istri, otomatis tanggungan keluarga Anto tak terlalu besar. Hari-harinya lebih sering dihabiskan di GKJW Jemaat Surabaya yang terletak persis di sebelah rumah. “Nggak pernah sepi karena ketemu jemaat terus,” ujarnya.
Tanpa anak di rumah, jelas Anto, dia dan istri tidak pernah merasa harus memasang pohon Natal saat Desember tiba. “Pohon Natal kan cuma buat memeriahkan suasana. Di rumah saya, hampir nggak ada pohon Natal. Tapi, itu tidak pernah mengurangi nilai spiritual hari raya tersebut,” ungkap dia.
Menjelang masa pensiun sebagai pendeta yang kurang dua tahun lagi, Anto berencana menulis dan membaca banyak buku. Bersama istri, dia bakal meninggalkan rumah dinas dan menempati rumah sendiri di Sidoarjo. “Berusaha menikmati masa pensiun,” ucapnya.
Meski begitu, Anto tetap ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Nilai-nilai positif yang dianut, termasuk urusan menghargai orang lain, akan terus ditularkannya. “Hidup harus terus berguna untuk orang lain. Tak peduli berapa pun usia saya nanti,” tegasnya. (war/ayi)
Sumber & Foto: halaman evergreen Jawa Pos
e-mail artikel ini



(4.5 out of 5)
Have your say!