Sweet Personal Diary of Masayu
Week 29th
Monday, July 14.
(06.15) I’m on the way. Back to school again. Chelsea and Tessa sudah berangkat. Lie Bing malah berangkat lebih pagi, sekalian mengantar mamanya ke bandara. Semoga kita sekelas lagi, seperti kelas 11 dulu. Friendship forever. Surabaya macet lagi nih. Semua kendaraan berebut jalan. Sebel. Kenapa ya? Katanya sih karena jumlah kendaraan yang ada melebihi kapasitas jalanan. Jadinya di jam-jam sibuk begini lalu lintas padat dan macet. Aku bayangkan Surabaya yang bebas macet dan bersih dari polusi. Bus umum yang bersih dan nyaman, penumpang yang tertib. Papa nggak perlu nganterin aku pagi-pagi begini.
(19.10) Horee …. Aku dan Chelsea sekelas lagi. Tessa sekelas dengan Lie Bing. Siangnya kami ngumpul bareng di kantin. Lie Bing ngomongin perkembangan blog-nya. Menarik banget. Tapi aku belum tertarik bikin blog. Apalagi untuk sharing kisah pribadi di sana. Mungkin aku tipe orang yang lebih suka menikmati catatan-catatan pribadi secara pribadi.
(20.07) Aku mengolah diaryku sebagai rekaman ingatan tentang pikiran dan perasaanku. Ini media perenunganku. Ia teman diskusiku untuk memahami cetusan gagasan dan gejolak batin. Diaryku adalah juga wahana ekspresiku. Membuatku lebih mengenal diriku. Diaryku yang pertama kutulis sejak aku di kelas 9, dalam sebuah diary notes. Sekarang kulanjutkan di laptop ini sejak setahun yang lalu. Thank’s Pap, buat laptopnya.
Aku percaya bahwa tidak ada peristiwa kebetulan dalam hidup. Semua ada dalam genggaman rencanaNya. Pertanyaan penting buat kita adalah bagaimana kita bisa mengenali rencanaNya dalam hidup kita.
Tuesday, July 15.
(05.45) I’m so happy. So fresh. Papa mengajarku untuk selalu memulai hari dengan bersyukur atas tiga hal: kehidupan, keluarga dan diriku. Terima kasih Tuhan atas pagi yang baru. Setiap hari memberi kesempatan baru untuk melakukan kebaikan. Hari ini Ayu ingin melakukan banyak kebaikan untuk orang lain …….
(12.27) Jam istirahat. Aku tak tahan untuk segera menuliskan kisahku hari ini …… Kuberi senyum bagi setiap orang yang kutemui, dan mereka pun membalas senyum itu. Bukan saja kepadaku, tapi juga kepada orang-orang lain. Kusapa teman-temanku, kupanggil akrab nama mereka. Mereka pun memberiku salam hangat. Aku membantu Pak Felix membagi bahan praktek laboratorium. Aku menolong ibu penjual makanan di kantin mengangkat kardus. Aku berbagi bekal dengan Tessa. Hari ini begitu indah bagiku.
(19.40) Papa ingin aku jadi jurnalis. Dia bilang aku pintar nulis, mengungkapkan pikiran dan perasaan. Katanya jurnalis yang profesional itu harus berwawasan luas, kritis, jujur, berani, serta independen namun berpihak. Lho? Maksudnya berpihak kepada mereka lemah, miskin, tertindas dan terlupakan. Papa memang pernah bekerja untuk sebuah surat kabar besar di Jakarta, jadi pasti punya banyak kenalan jurnalis dan tahu apa yang mereka kerjakan. Menurut Papa seorang jurnalis seharusnya menganjurkan perdamaian dan menawarkan pengharapan.
Ayu pernah baca di sebuah artikel koran. Dibandingkan bangsa-bangsa lain, Indonesia adalah bangsa yang besar dan dikaruniai aneka kekayaan alam. Namun sayang, kelewat sering berantem sendiri dan nggak mau belajar untuk menjadi lebih baik.
Ayu sendiri belum tahu mau jadi apa. Cita-citaku waktu kecil adalah menjadi tukang salon. Hi hi hi, lucu ya. Itu yang diceritakan mama. Kata mama, waktu kecil aku ingin kalau sudah besar punya salon sendiri. Not bad, lha. Mama bilang yang penting hidup kita harus berguna bagi orang lain. Jadi terang dan garam dunia gitu lho. Tapi yang jelas, seperti kata papa aku harus mulai fokus tahun ini. Dream and pray, mau jadi apa. See yourself in the next ten years. Putusin mau melanjutkan kuliah di mana, jurusan apa. Chelsea bilang mau kuliah bisnis di Singapore. Lie Bing akan kuliah kedokteran di Jakarta. Tessa belum tahu, tapi sepertinya di Surabaya, entah jurusan apa. Ok, I’ll dream and pray for it. It’s bed time now.
Wednesday, July 16.
(06.35) Oh ya, Ayu mau komentar soal banyaknya poster-poster kampanye pilkada di sepanjang jalan. Nyebelin banget sih. Kita harus melihatin wajah-wajah mereka itu tiap hari. Nggak perlu kali. Kalau mau dipilih, cukup buktikan kalau punya track record sebagai pemimpin yang teruji dan berkualitas. Terus sampaikan apa visi dan program pembangunannya. Nggak perlu nampang-nampang gitu, apalagi bikin arak-arakan massa yang bikin macet. Itu pemborosan. Betapa banyak uang yang dikeluarkan secara sia-sia. Eh, ini kayaknya bisa jadi ide bagus untuk artikel di koran.
(16.00) Nggak ada les hari ini. I’m free…. Siang tadi di sekolah aku berdebat dengan Bu Petty di kelas. Bu Petty mengatakan bahwa keberadaan gelandangan dan pengemis hanya merupakan masalah bagi kota besar seperti Surabaya dan karenanya mereka harus dikembalikan ke desa-desa asal. Kukatakan bahwa mengembalikan mereka ke desa tidak akan menyelesaikan masalah. Desa tidak mampu menghidupi mereka, sedangkan kota menolak keberadaan mereka. Jadi desa-desa harus dibangun dan dikembangkan potensinya terlebih dahulu. Aku ingat kata-kata mama bahwa Indonesia itu tidak hanya terdiri dari kota besar, tapi terutama memiliki banyak pedesaan. Ronny membelaku. Dia setuju dengan pendapatku. That’s so sweet, Ron. Chelsea bilang Ronny ngefans aku. Aku ingin segera mulai menulis ideku tadi pagi. …………
(20.13) Yup, artikelku sudah selesai. Kukirim via email. Thank’s my dear God.
Thursday, July 17.
(19.44) Hari ini aku membuat heboh teman-teman sekelas. Pas jam istirahat aku pungutin semua tissue, sampah serutan, bungkus permen dan banyak lagi sampah. Kubuang ke trash can. Setelah itu kutulis besar-besar di papan tulis: “Let’s keep our classroom green, clean and comfort! Thank you.” Menurutku, gagasan besar harus diawali dengan tindakan-tindakan kecil!
Aku pernah baca di www.nationalgeographic.com, bagaimana suhu bumi ini makin panas. Tiap hari volume es meleleh di kutub utara terus bertambah. That’s global warming. Harusnya manusia, termasuk kita di Indonesia, segera melakukan berbagai tindakan dan perubahan. Seperti waktu di tahun 1800-an, saat Thomas R. Malthus mengungkapkan bahwa pertumbuhan jumlah populasi manusia yang berlipat mengikuti deret ukur adalah tidak sebanding dengan terbatasnya peningkatan jumlah bahan pangan yang mengikuti deret angka. Provokasi Pak Malthus itu kemudian memicu berbagai daya upaya manusia untuk meningkatkan persediaan pangan melalui teknologi pertanian dan industrialisasi. Akhirnya krisis pangan terhindarkan. Jadi kembali ke topik, kita perlu ambil langkah-langkah nyata untuk menghentikan global warming! Reduce, reuse, recycle!
Friday, July 18.
(07.02) TGIF, Thank’s God, it’s Friday!
(20.07) Mama ingin aku kuliah di Surabaya. Papa ingin aku kuliah di Jakarta atau kalau bisa dapat beasiswa ke luar negeri. Mereka itu lucu ya, sering nggak kompakan. Tapi mereka amat baik dan sayang kepadaku. Mungkin karena aku anak tunggal ya.
Kadang aku bertanya mengapa ada perbedaan di dunia ini. Perbedaan agama, warna kulit, budaya, dan bahasa. Dan mengapa perbedaan-perbedaan itu menimbulkan konflik? Harusnya nggak begitu. Lie Bing keturunan Tionghoa totok, agamanya Budha. Chelsea keturunan Tionghoa yang sudah turun temurun di Indonesia dan bergerejanya di Bethany. Tessa Jawa tulen, bergereja di GKI. Aku sendiri campuran. Papa Tionghoa, mama Jawa. Orang menyebutnya seperti ampyang, suatu cemilan dari gula jawa dan kacang cina. Gerejaku di GKJW. Pasti banyak perbedaan-perbedaan lain. Kami berbeda tapi bersahabat. Bagiku keberbedaan itu membuat kita masing-masing unik dan menarik. Berbeda? So what gitu lo!
Saturday, July 19.
(21.00) Pagi tadi kubaca headline kompas.com. Di Jakarta, menurut data RSCM, dalam sebulan sebanyak 15 remaja putri mengalami kekerasan seksual! It’s shocked me. Ini mungkin saja aku atau teman-temanku alami. Menurutku ini bukan kecelakaan, tapi kejahatan. Aku forward berita ini ke sahabat-sahabatku. Ini reply dari Chelsea yang lagi online: “Lu nggak usah paranoid gitu dong … Love, Peace and GBU - Chelsea Tan.” He he he … gue memang lagi paranoid kali ya. Tapi waspada perlu dong. Jangan sampai jadi korban. Seringkali akibat salah pergaulan. Kita para cewek jangan jadi lemah dan gampang dibodohin. Seperti tadi waktu aku jalan bareng Lie Bing di Plaza Marina. Kami berenang di sana. Ada pasangan yang gaya pacarannya lengket banget. Aku pikir, memangnya pacaran itu harus lengket fisik gitu ya? Apa nggak ada kegiatan lain yang lebih bermakna. Istilah falling in love itu keliru. Jadinya falling beneran. Harusnya growing in love. Itu yang tertulis di sebuah majalah sih. Setuju!
Sunday, July 20.
(19.30) Inilah doaku. Dear Lord, terima kasih atas berlimpahnya berkat dan talenta dalam hidupku. Bimbinglah aku agar dapat menggunakannya dengan bijaksana bagi kemuliaanMu dan kebaikan sesama. Bila aku gagal, biarlah aku belajar memahami keterbatasanku dan berserah pada anugrahMu. Bila aku berhasil biarlah kubelajar untuk mengerti kuasa dan kehendakMu dalam diriku. Ajarilah aku bahasa kasihMu. Sehingga hanya terang kasihMu sajalah yang terpancar dari kata dan perbuatanku. Ajarilah aku untuk berbela rasa dengan sesama. Dan bilamana ada orang lain yang berlaku jahat terhadapku, biarlah aku tetap mampu berlaku kasih terhadapnya. Amin.
e-mail artikel ini



(4.5 out of 5)
Have your say!