Home » Opini

Surat Terbuka untuk DPR

Sumardiyono 5 May 2009 Opini 431 views 3 Commentse-mail artikel ini e-mail artikel ini

amplop suratNegara Indonesia berdiri a.l. karena kematangan, kedewasaan dan watak visioner para pendirinya. Pada saat dideklarasikan NKRI tahun 1945 ada dua kekuatan dominan pada waktu itu, yaitu agama (Islam), dan suku (Jawa). Namun yang akhirnya berdiri bukanlah Negara Agama (Islam), juga bukan Negara Suku (Jawa), melainkan Negara Indonesia. Saya menghayati hal itu sebagai anugerah/ berkah agung dari Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan sendiri yang menggerakkan para pendiri bangsa sehingga sanggup menggeser ke pinggir kepentingan kelompok dan mengedepankan kebersamaan/ kemajemukkan. Hanya karena karya Tuhan yang Maha kuasa yang memungkinkan hal itu terjadi! Sehingga Indonesia bisa menjadi rumah bersama yang memberi ruang bagi setiap anggotanya untuk menjalankan perannya masing-masing. Inilah demokrasi!

Ribuan pulau; kekayaan suku bangsa: adat, tradisi, bahasa, kesenian; kekayaan alam: flora, fauna menjadikan Indonesia bak Taman warna-warni bunga nan indah. Si Polan yang Islam bisa bermain-main dan bersendau gurau dengan riang bersama si Parto yang Hindu. Si Wulan yang Budha bisa belajar kelompok mempersiapkan untuk ujian bersama dengan si Bunga yang Kristen, juga si Panjul yang Konghucu. Si Dadap yang Islam bisa patungan modal mendirikan warung makan bersama dengan si Waru yang Katolik. Si Akhmad yang Islam dengan senang hati meminjamkan mobilnya kepada keluarga si Jupri yang anaknya akan menerima pemberkatan perkawinan di gereja. Inilah barangkali yang terbayangkan oleh para pendiri bangsa. Ruang publik adalah ruang milik bersama yang harus bebas dari sekat-sekat sektarian/ kepentingan kelompok tertentu!

Lembaga terhormat seperti DPR adalah rumah publik, rumah bersama. Oleh karena itu semua produk yang dihasilkan dari ruang publik itu haruslah juga untuk kepentingan bersama. Sudah lebih dari 60 tahun kita merdeka, mestinya watak visioner para pendiri bangsa semakin melekat (inherent) pada setiap pemegang posisi strategis di negara ini, mulai ketua RT s/d Presiden.

Pertanyaan: Tegakah Anda menodai warisan para pendiri bangsa yang amat visioner/ pluralis itu dengan cara mengetok palu untuk UU atau produk hukum lainnya yang hanya ditujukan untuk kelompok tertentu? Akankah rumah bersama itu Anda robohkan?

Salam dan doa kami semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberi roh hikmat dan kejernihan akal budi kepada Anda semua. Terima kasih.

Pdt. Sumardiyono

Catatan:
Surat terbuka ini sudah dikirim ke DPR RI dan dimuat di Surat Pembaca Suara Pembaruan, 02 Mei 2009.

e-mail artikel ini e-mail artikel ini
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

3 Comments »

  1. Bekerjalah untuk semua orang, bukan untuk diri sendiri atau kelompok sendiri. Berpandanganlah selalu bahwa : ” Sesuatu itu baik apabila buruk bagi dirimu sendiri dan sesuatu itu buruk apabila baik bagi dirimu sendiri”.

  2. Shalom,
    Harapan dan himbauan merupakan suatu keinginan yang sah-sah saja…Satu hal yang terkadang kita kesampingkan adalah dengan dasar pemikiran bahwa di dalam gereja tidak boleh berpolitik dan tidak boleh berpihak pada salah satu partai politik tertentu…

    Dasar pemikiran tersebut bukan salah, tetapi menurut Saya tidaklah tepat…Karena melihat Kenyataan yang terjadi, Ketika alam berpikir kita membaca,melihat dan mendengar apa yang terjadi di panggung politik, kita menjadi tercengang dan ketakutan….Bagaimana nanti kalau yang jadi Presiden si-Anu, si- Itu…si-Ini ???? Jangan-jangan nanti muncul Syariat ini…Syariat itu…?

    Bagaimanapun doa itu Luar biasa Kuasanya dan Dahsyat…Kita harus punya Iman itu…

    Namun pertanyaan Saya….: KETIKA KITA ADA KESEMPATAN UNTUK MEMILIH WAKIL KITA YANG POTENSIAL YANG BENER2 BISA MEMBAWA ASPIRASI KITA DAN MENJADI WAKIL KITA, KENAPA KITA TIDAK DUKUNG ???, Ada satu jawaban yang muncul : ‘ Kita doakan saja agar bisa terpilih sebagai wakil rakyat ? ‘ Nah, apabila di arena politik sana ada satu aspirasi yang akan memberangus kita, yang akan menjadikan bangsa ini menjadi negara yang diluar jangkauan pemikiran kita ? Apa tidakan kita ??? Cukupkah kita hanya berdoa ???

    Untuk itu didalam benak Saya, yang notabene Saya adalah bagian dari warga GKJW, Saya sedikit memberikan urun rembuk… Ketika terjadi pergantian Majelis Gereja, cobalah dihimbau agar tidak sekedar memilih orang yang pendiam,penurut,dan nggah-nggih… Cobalah dipilih yang bener-bener kapabel dan Kredibel…dari Aspek Theologis, kemampuan IT, Kemampuan Bicara bener-bener harus dipertimbangkan…Karena dari tahun-ke tahun yang Saya lihat Majelisnya ya yang itu2 saja…
    Demikian pemikiran Saya, Kiranya Tuhan Memberkati Kita, Amin.

    Salam,
    Bambang GKJW Waru -Wilayah 10

  3. Betapapun, suara itu mesti diperdegarkan…
    terima kasih Pak Mardiono. Tulisan ini memberikan secercah harapan. Setidaknya,ada pengharapan bahwa opini kenabian mesti disuarakan. Sebuah sikap batin yang lahir dari pergulatan jiwa, patut mendapat apresiasi. Sudah cukup lama warga kristiani, khususnya warga Jemaat GKJW tidak memiliki teladan sikap teologis yang tegas.
    Apalagi berkaitan dengan sikap teologis hidup berbangsa.Jarang sekali pandangan seperti ini dimunculkan di wilayah publik, sehingga mampu menjadi cermin mematutkan diri bahwa warga Jemaat GKJW juga memiliki sikap teologis. Jarang pula dinampakkan sikap dan pendirian yang demikian.
    Bukan lantaran ketiadan figur,melainkan secara institusional, hal semacam ini mesti ada sikap yang jelas. Semoga ada sikap yang jelas pula menyangkut ketidakadilan sosial yang masih berserakan di antero negeri ini…

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>