Maret 2009
NAMAKU AIR
Bacaan : Yohanes 2 : 1 - 11
Metode : Renungan
Tujuan : Agar orang tua dapat membimbing anak-anaknya untuk melestarikan air.
Ibu-ibu yang terkasih, masa yang paling menyenangkan adalah ketika kita masih kanak-kanak, mari kita ingat-ingat lagi saat kita main tanah kering yang diayak hingga halus lalu dibuat seperti membuat adonan kue dari tepung kemudian diberi air bagian tengahnya maka jadi kue tanah; ketika musim penghujan tiba maka main dengan air hujan bahkan juga mandi di bawah saluran air (talang : bhs Jawa) merupakan keasyikan tersendiri. Nah apalagi kalau mandi di sungai yang airnya jernih dengan bebatuan yang tampak jelas kelihatan seperti berada di dalam kaca,wah pokoknya asyiiik banget!
Tapi kemana ya itu semua sekarang? khok sulit sekali mendapatkannya, kita dulu begitu akrab dan mengenal dengan baik yang namanya air bahkan kita juga sangat paham dengan watak dan karakternya yang kadang jadi sahabat dan terkadang juga menjadi musuh, ya semuanya itu tergantung pada kita menjalin hubungan baik dan tidaknya dengan si air. Ketika semuanya tadi kita ceritakan pada anak-anak kita mereka hanya mlongo alias heran karena apa yang pernah kita lakukan belum pernah atau tidak pernah mereka alami,banyak anak-anak sulit untuk mengerti bahwa di dalam sungai terdapat pasir, batu, lumpur, ganggang, kecebong dan lain sebagainya bahkan mereka juga tidak pernah merasa kesulitan untuk mendapatkan air bersih maka harus menimba dari dalam sumur sedangkan mereka hanya putar kran maka air mengucur apa lagi harus membayangkan bagaimana air disimpan didalam tanah melalui akar tumbuhan sehingga disebut air tanah.
Apakah pernah terlintas dalam pikiran kita bagaimana jika air tidak lagi bisa kita dapatkan dengan mudah guna memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan kita,pernahkah kita berterima kasih kepada air melalui sikap hemat atau melestarikannya? Mungkin banyak diantara kita yang mengatakan “lha ngapain khok repot-repot mikirin melestarikanlah…merawatlah…menjaga keseimbangan… apalagi itu tentang banjir,air pasang dari laut akibat melelehnya kutub , walah..walah…. pokoknya sekarang khan masih ada ? ! ya sudah!besok anak cucu yo biar mengusahakan sendiri lagian teknologi sudah canggih pasti mereka bisa mendapatkannya, beres khan?!”
Mengapa kita tidak mencoba mengajak anak-anak kita untuk berkenalan dengan si air dan menjalin persahabatan dengannya? Kalau main di sungai itu kotor! Tidak ada waktu untuk mengajak mereka ke gunung atau melihat sumber air tanah di tepi sungai apalagi menceritakan bagaimana si air sangat berguna bagi kehidupan kita.
Ibu-ibu yang terkasih,mari kita ingat-ingat berapa tagihan PDAM bulan ini. Atau apa yang dirasakan saat menimba air dari sumur,kalau tagihan PDAM meningkat atau stabil pasti diatas Rp.10.000 atau yang menimba air tangannya pegel-pegel bahkan mungkin sampai bertengkar karena kelelahan. Pemanfaatan yang tidak efisien dan efektif akan menimbulkan masalah,jika tidak mulai sekarang kita bicarakan pada anak-anak tentang siapa : si air itu sebenarnya.
Kita semua pasti masih ingat tentang apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus ketika menghadiri pesta perkawinan di Kana bersama ibunya, dalam pesta perkawinan saat itu tamu masih banyak sedangkan anggur telah habis, Para pelayan sangat gelisah, karena sudah tidak ada lagi persediaan yang ada hanya….ya, air? mereka tidak pernah menghiraukan karena rasanya tawar dan tidak mungkin disuguhkan pada para tamu,memalukan?! apa kata mereka? lho pesta sebegini meriahnya khok minumannya hanya air sich? Tetapi apa yang terjadi dari air justru Tuhan Yesus dengan kuasanya mengubah menjadi anggur bahkan yang luar biasa adalah rasa anggur itu justru lebih nikmat (enak) dibandingkan anggur semula dan air yang di ubah itu sebenarnya adalah air yang disediakan untuk membasuh kaki.
Kita memang tidak bisa melakukan hal tersebut seperti Tuhan Yesus tetapi kita dapat mulai memahami suatu proses bahwa ketika kita paham tentang si apa air maka kita dapat memanfaatkan sesuai situasi atau kepentingannya yang jelas tidak merugikan dan bahkan menjadi lebih baik serta menguntungkan semua pihak.
Ibu-ibu,mari kita simak perkenalan dengan teman lama yang telah lama pula terabaikan :
Ibu-ibu,ijinkanlah saya memperkenalkan diri:
Nama saya : air, ya cukup tiga huruf saja, saya ada karena kuasa Tuhan sejak bumi ini di ciptakanNya dan saya juga merupakan komponen terpenting dalam tubuh manusia,hewan serta tumbuhan bahkan saya selalu ada guna memenuhi kebutuhan semua mahluk hidup walaupun saya bukan mahkluk hidup, saya memiliki sifat keras tapi tenang namun menyejukan ,tetapi ketika semua manusia menginjak-injak hargadiri maka saya menjadi emosi dan meledakan amarah yang dapat mengancurkan bumi ini, sebetulnya saya malu dengan sifat tersebut tetapi itulah saya,saya sangat senang jika anak-anak ibu boleh berkenalan bahkan menjalin persahabatan, saya rindu sentuhan yang dapat mengangkat martabat saya seperti yang telah Tuhan Yesus lakukan pada pesta perkawinan di Kana, tolong sampaikan kepada anak-anak ibu supaya tidak menyia-nyiakan keberadaan saya tapi bersama-sama saling menyejukkan,te rimakasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan ,semoga perkenalan in menjadikan bumi dan segala isinya terjalin hubungan yang harmonis” (DS)

(4.5 out of 5)
(4 out of 5)