Home » Juni 2009

Juni 2009

Bacaan I - Juni 2009

ANAK DAN GEREJA

Bacaan    : Lukas 2:41-52
Metode   :
Sharing dan PA
Tujuan    :
Agar orang tua dapat memotivasi anaknya untuk terpanggil mengikuti kegiatan di gereja.

Ilustrasi

Pak A memiliki 3 orang anak yang memiliki karakter berbeda satu dengan lainnya, nama mereka adalah Anggi, Angga dan Ange. Mereka anak-anak yang pintar, menjadi kebanggaan pak A dan istrinya. Mereka bertiga selalu mendapatkan ranking di kelasnya. Bu A adalah salah satu anggota pamong anak dan remaja di gerejanya, dia selalu mendapat pujian dari anak-anak seusainya memimpin ibadah Minggu anak.

Pada suatu hari Minggu, ketika bu A melayani ibadah Remaja, ada salah satu anak remaja bertanya pada bu A : “Bu, Anggi kemana kok tidak pernah ikut ibadah remaja ?”, jawab bu A : “Dia ikut kegiatan pramuka di sekolahnya.” Balas anak-anak remaja serempak : “Ke gereja kan lebih penting dari kegiatan pramuka bu !” Ibu A tersentak dan termenung sejenak. Dia mulai memimpin ibadah, tetapi hatinya galau, sehingga sedikit terganggu kosentrasi pelayanannya.

Dia baru sadar bahwa anaknya sering tidak ke gereja karena kegiatan disekolahnya, selama ini  bu A tidak sadar bahwa demi mencapai prestasi di sekolah,  anaknya dibiarkan sering tidak pergi ke gereja. Pulang dari gereja ia menemui anaknya Anggi yang sudah menginjak remaja mencoba mendekati anaknya dan berkata : “Nggi, selama ini mama salah, membiarkan kamu meninggalkan kegiatan gereja hanya untuk mencapai prestasi di sekolah, mama hanya memikirkan keberhasilan secara dunia, sedangkan keadaan keberhasilan secara rohani tidak mama pikirkan, sejak hari ini tolong atur kegiatan sekolahmu dan jangan meninggalkan kegiatan gereja” Anggi terdiam sejenak dan kemudian ia menganggukkan kepalanya.

Pengantar sharing

Saudara-saudara, anak tidak dapat kita lepaskan dari pelayanan di gereja, alangkah baiknya sejak kecil anak-anak dibiasakan mendahulukan pelyanan di gereja, sebagai bukti bahwa mereka mendahulukan Tuhan di atas kepentingan apapun. Demikian juga dengan orang tua Tuhan Yesus ketika masih kecil (usia 12 tahun). Orang tuanya tidak melupakan tanggung jawabnya kepada Tuhan untuk membawa anaknya mengunjungi bait Allah. Dan Tuhan Yesuspun menyambut ajakan orang tuanya untuk pergi ke Bait Allah, bahkan Tuhan Yesus mengunakan kesempatan tersebut dengan baik. Ia juga masuk ke bait Allah, tidak bermain di depan bait Allah atau di tempat lain bersama teman sebayanya.

Ia beribadah dengan sukacita, bahkan seusianya beribadah dengan setia ia mengikuti perbincangan Para Imam kepala. Ia berani ikut menjawab permasalahan yang ada. Tuhan Yesus berani ikut perbincangan mereka, bahkan ia mampu menjawab setiap pertanyaan para Imam. Hingga selang beberapa lama ia tidak menyadari bahwa ia harus pulang dengan orang tuanya. Dan orang tuanyapun tidak menyadari bahwa anaknya tidak bersama mereka, baru disadari selang setelah di tengah perjalanan, mereka kembali untuk mencari dan menemukan Tuhan Yesus.

Saudaraku dari sisi orang tuanya Tuhan Yesus, sangat terlihat bahwa mereka membiarkan Tuhan Yesus sebebasnya melakukan aktifitas di dalam bait Allah. Bagi mereka, Bait Allah adalah tempat umat melakukan aktifitas peribadahan, demikian juga dengan anaknya. Karena di bait Allah pada saat itu penuh dengan kegiatan.

Dari sisi Tuhan yesus, Dia menggunakan  kesempatan di bait Allah untuk kegiatan rohani dengan melakukakan perbincangan dengan para Imam. Seseorang  yang sungguh-sungguh dan dengan leluasa melakukan aktifitas di gereja/Bait Allah, ia pasti dapat mempersembahkan waktunya untuk Tuhan dengan leluasa pula, sebaliknya jika pergi ke bait Allah hanya karena rutinitas saja, pasti sangat merasa keberatan jika lebih lama berada dalam Bait Allah, alias tidak tenang dan terburu-buru ingin pulang, bahkan ibadah belum menerima berkatpun ia sudah terburu-buru meninggalkan tempat ibadah, ia mendahulukan kepentingannya sendiri dibandingkan dengan kepentingan Tuhan.

Dapat dipastikan anak-anak yang dibiasakan sejak kecil untuk mempersembahkan waktunya dengan leluasa, maka ia akan belajar mengatur waktunya lebih banyak untuk Tuhan, tanpa meninggalkan tugas belajarnya. Ada anak yang tetap ikut ibadah dan kegiatan gereja, sekalipun ia sedang ulangan, karena dia merasa tanpa Tuhan ia tidak akan diberkati untuk meraih cita-citanya. Sehingga anak ini akan selalu dekat dan tidak dapat dipisahkan oleh persekutuannya. Puji Tuhan, jika hal ini terus ada dalam kehidupan setiap anak-anak Tuhan.

Pertanyaan untuk didiskusikan

  1. Siapakah yang berkewajiban untuk mendekatkan anak pada gereja, sehingga mulai kecil ia akan merasa berkewajiban untuk ikut melayani Tuhan ?
  2. Apa hak anak yang didapatkan dari orang tua untuk pertumbuhan rohani mereka ?
  3. Pertumbuhan rohani seperti apa yang meski dimiliki oleh seorang anak, sehingga ia dapat menjadi generasi penerus  yang dapat melanjutkan pelayanan di gereja ?
  4. Studi kasus : Pernah ditemui seorang anak yang tidak aktif untuk mengikuti ibadah anak di gereja dimana iamenjadi warganya,  dikarenakan ia sibuk mengikuti orang tuanya yang berpindah-pindah beribadah di gereja yang berbeda-beda setiap Minggu, dengan alasan ia ingin melihat pelayanan ibadah minggu di tempat lain. Menurut saudara, orang tua demikian apakah benar ? Dampak apa dapat ditimbulkan untuk anaknya tersebut ? Dan apa yang dapat saudara lakukan dalam peristiwa ini, sebagai saudara seiman ? Bagaimana penilaian saudara terhadap ibu A ?
  5. Inventarisasikan, kiat-kiat apa saja yang dapat menjadikan anak-anak menjadi senang dan rindu untuk mengikuti setiap kegiatan di gereja ? dan jadikan kiat-kiat tersebut untuk dilakukan dalam kehidupan saudara.

Doa :  Tuhan yesus, Engkau memanggil kami bukan untuk menjadi orang Kristen semata, namun Engkau menjadikan kami gereja, agar kami dapat selalu bersekutu dengan saudara seiman. Kami mohon berikan kemampuan untuk dapat membimbing anak-anak kami dapat menjadi generasi penerus dalam pelayanan di gerejaMu, Amin (DPM)

***

Bacaan II - Juni 2009

PELAYANAN  GEREJA KEPADA ANAK

Bacaan      : Kisah Para Rasul 2:37-40
Metode      :
Sharing
Tujuan      :
Agar kita selaku gereja dapat memberikan pelayana kepada anak secara maksimal,
karena mereka adalah generasi penerus gereja.

Sebagaimana yang tertera dalam  Pranata tentang Pelayanan Anak dan Remaja bab I pasal 2, dasar pelayanan anak dan remaja adalah kewajiban yang diamanatkan oleh Tuhan Allah kepada setiap orang percaya dan gereja; Anak dan remaja membutuhkan bimbingan secara khusus di dalam pertumbuhan menuju kedewasaan lahir batin secara kristiani; anak dan rema GKJW adalah bagian dari tubuh Kristus dan patunggilan kang nyawiji. Dalam hal ini nyata bahwa pelayanan kepada anak di dalam gereja adalah suatu keharusan, maka akan salah jika gereja menelantarkan pelayanan kepada anak. Gereja kurang tepat jika menyerahkan pelayanan anak kepada pihak lain tanpa membekali lebih dahulu bagaimana melayani anak yang tepat, benar dan sungguh-sungguh.

Demikian juga, akan sangat tidak benar, jika ada pihak tertentu yang mulanya bersedia menerima tanggung jawab melayani anak, namun dikemudian hari mereka tidak menunaikan tugasnya dengan setia.

Ketika ramai-ramainya membuat rencana PKT tahun selanjutnya, seringkali yang menjadi korban pemangkasan anggaran adalah KPAR (Komisi Pembinaan Anak dan Remaja), karena dianggap program untuk anak dapat ditunda, tidak begitu mendesak bila dibandingkan dengan kebutuhan sound system di gedung gereja utama. Apakah hal ini tepat?  Sementara jika diperhatikan masalah regenarasi adalah kebutuhan yang sangat mendesak. Sejak dini anak harus dibimbing untuk meneruskan pelayanan yang ada di gereja. Sehingga tidak mungkin mereka dibimbing dengan asal-asalan.

Memang, kenyataan yang ada pelayanan kepada anak sudah diperhatikan sedemikian rupa, namun materi pelayanan yang diberikan kepada anak, cukup diserahkan kepada pamong yang bersangkutan tanpa ada persiapan pelayanan bersama pendeta,penatua dan diaken yang lain. Menurut pendapat sebagian besar, sudah diserahkan kepada KPT dan KPAR. Padahal jika diperhatikan Tuntunan Ibadah Anak dan remaja (TIAR), bukan materi pembinaan yang siap secara langsung diberikan kepada anak, masih diperlukan penyerpunannya baik metode penyampaian kepada anak dan teologi yang dibelajarkan kepada anak.

Pelayanan kepada anak harus dapat membantu anak mengalami pertumbuhan menuju kedewasaan lahir batin secara rohani, untuk mencapai hal ini, dibutuhkan kreatifitas dalam pelayanan agar dapat tertarik akan pelayanan pamongnya. Maka gereja harus dapat mempersiapkan para pomong dengan sungguh-sungguh, agar dapat melayani anak menuju kepada pertumbuhan kedewasaan lahir batin secara rohani.

Dalam bacaan kita tadi, gereja harus dapat mewujudkan harapan dan kehendak Tuhan Yesus akan janji Tuhan yang tidak hanya diberikan kepada anak-anak kita. Sebagai pengantara janji,  gereja harus mampu dapat membawa dan memberikan janji Tuhan Yesus kepada anak-anak, maka dalam program kegiatannya

Gereja sedapatnya mengutamakan pelayanan kepada anak di samping pelayanan kepada warga dewasa. Sedapatnya dalam hal pendanaanpun pelayanan kepada anak harus diutamakan, jangan sampai dikorbankan untuk  kegiatan yang lain. Kepedulian kepada anak berarti kepedulian dengan Tuhan, ingat : “sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu…..”.

Pekabaran Injil selalu dipahami pemberitaan Injil kepada orang dewasa saja, sehingga focus PI hanya ditujukan kepada orang diluar gereja/jemaat, keberhasilan atas dibaptisnya orang dewasa adalah sukacita yang luar biasa. Sedangkan baptisan anak dianggap kegiatan rutin pada saat hari peringatan baptisan yang pertama GKJW, bahkan ada orang tua yang tidak meminta sendiri anaknya di baptis, menunggu majelis yang datang ke rumahnya untuk mendata anaknya. Namun tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah jika orang tua dan anggota majelis tidak mempedulikan anak-anak yang belum dibaptis tadi. Hal ini berarti tidak memperhatikan dan melaksanakan kehendak Tuhan.

Ada satu kisah dalam kehidupan bergereja, disalah satu jemaat ketika mengadakan Rapat Koordinasi Komisi-komisi Pembinaan jemaat, dimana masing-masing komisi menginformasikan kegiatan pelayanan yang sudah dilaksanakan maupun yang belum dilaksanakan serta kendala dan hambatannya. KPAR Komisi Pembinaan Anak dan Remaja) menginformasikan kendala pelayanannya, yaitu akhir-akhir ini kegiatan ibadah Minggu anak dan remaja, tingkat kehadirannya menurun dikarenakan di dekat gereja, baru berdiri gereja baru beraliran pietis, yang sangat getol mencari anggota/warga baru, ada salah satu anggota majelis yang nyeletuk :”Biar saja, anak-anak diambilin mereka, toh juga ikut ibadah yang menyembah Tuhan yesus, sama saja.” Omongan salah satu majelis tadi, ditanggapi oleh anggota majelis yang lain “Piye to pak! Ya nggak sama ! caranya beda ! gerejanya ya nggak sama ! memang Tuhan yesusnya sama, apalagi panjenengan anggota majelis yang dipercaya mendampingi KPAR, kojur ini.” Semua peserta Rakor (Rapat Kordinasi) terdiam, bingung untuk berpendapat, kelihatannya mereka ingin ikut urun rembug, tetapi takut salah. Mereka hanya bisa menunggu Bp. Pendeta yang ikut hadir rapat untuk membantu mereka.

Pertanyaan untuk didiskusikan :

  1. Apa yang dapat saudara  lakukan sebagai warga jemaat mengenai pelayanan kepada anak dan remaja ?
  2. Di forum apakah, saudara dapat memberi usulan tentang pelayanan anak dan remaja ?
  3. Apakah benar pendapat salah satu majelis, yang berpendapat bahwa tidak apa-apa anak-anak mengikuti ibadah di gereja lain ? Dan apakah benar pendapat anggota majelis yang lain bahwa “nggak sama, caranya beda dan gerejanya beda ? jelaskan.
  4. Apakah permasalahan ini ada di gereja saudara, dan bagaimana solusi/penyesaian masalah yang dilakukan oleh majelis dan KPAR ? Jelaskan
  5. Jika saudara menjadi Bp. Pendeta kira-kira pendapat apa yang akan saudara sampaikan di tengah-tengah rapat kordinasi tersebut ? (DPM)