Februari 2009
Bacaan I - Februari 2009
BUKU BERJALAN
Bacaan : Matius 2:1-12
Tujuan : Agar orang tua dapat menumbuhkan pola hidup senang membaca pada anak.
Ibu-ibu yang terkasih ,ketika kita mengingat masa-masa di sekolah entah waktu SD,SMP atau SMA pasti terlintas wajah dan sikap teman-teman kita kemudian prestasi-prestasi mereka jika kita bertemu salah satu diantara mereka tak jarang pula terungkap ” sampeyan ingat sama Santo,klas satu IPS yang pinter gitaran dan sempat menjuarai lomba gitar klasik antar sekolah tingkat kota..”
“oh…,ya..,aku yo jelas ingat ta?! lha wong aku pernah belajar gitaran sama dia,anaknya nyenengno,kalau aku nggak ngerti dia sabar ngajarinya…”
“kemarin aku ketemu sama si Kancil,aduh… sapa ya nama anak itu,pokoknya teman-teman dulu njuluki si kancil,itu lho anak dua IPA yang pernah juara pidato dan menang lomba karya tulis antar pelajar sak kecamatan,wah dia sekarang jadi guru,sangat cocok sekali, pengetahuannya luas,nguerti sembarang,diajak ngomong pelajaran di sekolah,sepakbola,badminton,politik, musik,wah…apa saja”
“lho sampeyan ini bagaimana sich,kancil itu rajin keperpustakaan kota,dia itu seneng mbaca kalau ada teman punya buku-buku bacaan apa saja pasti dia akan pinjam”.
Ibu-ibu begitulah kenangan-kenangan yang sepintas terlintas dalam benak kitatentang apa yang pernah kita alami,kalau kita mau jujur jaman itu untuk bisabersekolah saja sudah syukur apalagi harus beli buku-buku untuk menambahpengetahuan,tapi ternyata banyak teman-teman atau bahkan diantara ibu-ibu yang menjadi sukses dengan keprihatianan saat itu karena berusaha keras untuk mengupayakan agar menjadi orang yang bisa memberikan informasi atau penjelasan bagi orang-orang yang membutuhkan,nah bagaimana dengananak-anak kitasekarang,sudah sekolah biayanya tinggi tapi belajar saja malas,minta dibelikan buku tapi nggak pernah di baca,kalau ditanya tentang sesuatu hal njawabnya lama dan pringisan,ya memang tidak semua anak demikian tetapi hampir kebanyakan seperti itu ,baca buku kalau yang ada kaitannya dengan pelajaran di sekolah sedangkan pengetahuan diluar sekolah belum tentu tahu,minat baca anak-anak kita masih rendah, justru cerita komik yang menarik bagi mereka,mungkin kita perlu usul ke teman-teman penulis supaya membuat info pengetahuan dalam bentuk komik,bagaimana ibu-ibu setujukan?
Para orang majus yang kita ketahui melalui bacaan kita pada Matius 2 : 1-12 adalah orang-orang ilmuwan yang pandai dalam perbintangan,yang sangat menarik adalah penghayatan dalam apa yang telah mereka pelajari dengan mewujudkannya dalam perbuatan mereka tanpa ambisi atau kepentingan pribadi ,bagaimana mereka menempuh suatu perjalanan jauh dan waktu yanglama dengan berjalan mengikuti arah bintang menuju suatu tempat yaitu Bethlehem. Ibu-ibu yang terkasih , kita bisa seperti para majus, nah apa yang dapat kita mulai ajarkan dan lakukan bersama anak-anak kita? ada beberapa hal yang bisa kita lakukan secara sederhana :
- Siapkan Alkitab Perjanjian Lama
- Biarkan anak-anak memilih cerita yang akan dibaca,misalnya tentang Musa atau Abraham dan lain Sebagainya
- Selesai membaca, ajak mereka menceritakan kembali dengan pemahaman dan bahasa mereka sendiri dalam bentuk tulisan.
- Simpan tulisan dalam binder atau buku yang dapat menarik perhatian anak-Anak.
atau :
- Ajak anak - anak ke perpustakaan yang ada di kota
- Daftarkan sebagai anggota.
- Suruh mereka pinjam setiap akhir pekan atau liburan sekolah.
- Selesai membaca, tanyakan kepada mereka, apa yang menarik dari buku yang telah selesai dibaca.
Ibu- ibu yang terkasih jangan pernah lelah mengajak anak-anak untuk senang bercerita dan menulis. Sekarang, mulai dari para ibu yang hadir dalam pertemuan ini., siapkan satu lembar kertas dan tuliskan judul buku apa saja yang sudah pernah di baca, kalau milik sendiri, maka dapat dipinjamkan kepada ibu yang lain. Melalui pertemuan ini, kita sepakat ingin seperti Para Majus, Amin (DS)
***
Bacaan II - Februari 2009
Anak dan Tata Krama
Bahan Pemahaman Alkitab (PA)
Perikop : Amsal 25:11 & Bilangan 12:1-16
Sebuah Cerita:
Menurut kisah, nenek moyang kita hidup dalam kebersamaan yang rukun dan indah. Kebersamaan yang indah itu tercipta karena mereka saling menghargai dan menghormati keberadaan tiap-tiap individu, dan dalam rasa hormat tersebut mereka merasa saling memiliki satu sama lain, sehingga mereka menciptakan sistem gotong royong untuk membangun kehidupan bersama mereka.
Sistem gotong royong yang mereka bangun adalah sistem yang menempatkan setiap individu sebagai yang patut dihormati, dengan demikian tidak ada yang merasa dirinya lebih utama melainkan mereka menganggap bahwa yang lain lah yang lebih utama dan layak untuk dihormati. Dengan dasar itu, maka terciptalah suasana yang menyenangkan, semua krama (tingkah laku dan perbuatan terhadap orang lain) ditata dengan baik; yang kemudian dikenal dengan istilah tata krama. Dan semua itu diajarkan kepada keturunan dari nenek moyang kita, sampai dengan sekarang; berarti kita adalah pewaris dari tata krama dari nenek moyang kita.
Namun… masihkah tata krama itu dipertahankan?
Diskusikan pertanyaan di atas dalam diskusi kelompok lalu inventarisasikan setiap jawaban dan bahaslah dalam pleno.
Penjelasan Perikop:
- Amsal 25:11 hendak mengungkapkan sebuah sistem nilai dari kehidupan. Dinyatakan dengan tegas di sini bahwa keindahan dan keteraturan hidup itu ditentukan oleh setiap perkataan yang keluar dari mulut seseorang. Dengan kata lain, perkataan seseorang sangat menentukan bagi terciptanya suasana yang melingkupi kehidupan. Jika perkataan yang keluar dari mulut adalah perkataan yang membangun, maka kehidupan yang sedang dijalani ini akan menjadi kehidupan yang indah dan baik; tetapi sebaliknya, jika perkataan yang keluar adalah perkataan yang buruk/jelek maka kehidupan akan menjadi buruk dan menyesakkan.
- Ini juga yang mau diingatkan oleh kisah mengenai Miryam+ Harun yang mengkonfrontasikan diri mereka dengan Musa (Bil 12:1-16). Di mana dalam kisah itu mau digambarkan ada 2 sikap yang mewakili sikap hidup manusia, yaitu sikap yang cenderung iri, cemburu (diwakili oleh Miryam dan Harun - ay. 1) dan sikap yang penuh kelembutan dan kerendahan hati (diwakili oleh Musa - ay. 3). Sikap pertama adalah sikap yang sama sekali tidak memiliki tata krama, karena selalu memandang orang dengan cara pandang negatif dan akhirnya mewujudkan sikap untuk selalu merendahkan keberadaan orang lain; sedangkan sikap kedua adalah sikap yang penuh dengan tata krama, yang menempatkan orang lain dalam posisi terhormat dan tidak pernah memiliki tendensi negatif terhadap orang lain. Bahkan sikap kedua yang penuh tata krama ini mengajarkan bahwa sikap yang penuh kebencian dan kecemburuan (tanpa tata krama) harus dibalas dengan sikap pengampunan dan kasih saying (air tuba dibalas dengan air susu).
- Jika kedua perikop digabungkan dalam satu kesatuan, terbersitlah sebuah pesan bahwa tata krama harus ditumbuhkembangkan dan selalu diajarkan kepada setiap generasi agar generasi yang tumbuh akan menjadi generasi yang selalu menghargai keberadaan orang lain dan kehidupannya ditandai dengan kasih saying. Tidak ada keinginan untuk saling menyakiti dan meremehkan keberadaan orang lain; dan yang ada hanyalah keinginan untuk membangun kesejahteraan hidup.
- Anak sekarang pun harus diajarkan dengan tata krama, agar mereka bisa mengerti bagaimana harus hidup dan menghargai kehidupan. Tata krama di sini bukan hanya berkaitan dengan sikap berbicara saja melainkan sudah menyeluruh; yaitu bagaimana setiap katqan dan perbuatan harus mencerminkan dan menumbuhkembangkan kasih, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Karena sikap yang demikianlah akan mengarahkan kehidupan menuju pada kesejahteraan.
Diskusikan hal-hal di bawah ini:
- Dewasa ini kita melihat bahwa banyak anak yang tidak mengenal sopan-santun, baik dalam berbahasa maupun bersikap, saat mereka berhadapan dengan orang yang lebih tua. Menurut anda, mengapa hal ini bisa terjadi?
- Bagaimana cara kita agar dapat mengembalikan tata krama pada kehidupan anak-anak kita? Jelaskan kiat-kiat apa saja yang bisa kita lakukan…(FP)

(4.5 out of 5)
(4 out of 5)