Home » Puspa Ragam

Setitik Air di Sudut Mata

Kristyanti Retno Wahyuni 24 January 2009 Puspa Ragam 340 views One Commente-mail artikel ini e-mail artikel ini

Mungkin ini kali ketiga aku duduk di sebelah tubuh yang lemah tak berdaya. Pertama, aku berada di sebelah tubuh kakek tua berusia 75 tahun yang sudah tidak bisa melakukan apapun selain hanya terbaring di tempat tidur. Aku berbisik lirih di telinganya. Ku condongkan badanku mendekati tubuhnya dan mengusap-usap lengannya. Aku tidak tahu apa masih ada artinya kata dan doaku baginya, namun yang aku tahu, dia mendengarku karena… kulihat ada setitik air di sudut matanya. “Nuwun sewu ya mbah…” kuusap air itu dari sudut mata yang telah keriput.

Kedua kalinya, aku berdiri di sebuah ruang ICU menghadap tubuh yang bernafas dengan tersengal-sengal keras. Handuk basah yang ditaruh di atas dadanya cepat sekali mengering, menandakan bahwa suhu tubuhnya sangat tinggi. Kata-kata dalam Kitab Amsal yang dibacakan mungkin lebih tepat menjadi penghiburan yang besar bagi anak istri yang setia menunggunya. Lagu pujian penghiburan yang dilantunkan oleh suara merdu putrinya, mungkin lebih tepat sebagai sumber kekuatan bagi orang-orang yang mencintainya. Dia tetap tak membuka mata. Alat-alat medis menempel hampir di seluruh tubuhnya. Setiap kali aku datang, aku berusaha tersenyum menyapanya, seolah ia bisa menyambut salamku “selamat malam pak Riung… bangun yo… panjenengan di tunggu sama kanca-kanca lho… tadi kebaktian, makan urap-urap lho. Wah sayang panjenengan tidak datang…” aku tak tahu, apa yang dirasakannya. Aku selalu berpikir lelaki kuat dari pulau Sangir ini mendengarku, karena aku juga pernah melihat ada setitik air di sudut matanya. Dan ternyata.. sapaanku tadi, menjadi sapaan yang terakhir, karena tidak sampai 5 menit setelah aku datang dan berdoa, aku harus menyaksikan pendeteksi denyut jantung itu berbunyi “thiiiiiiiiit…………….” Dengan garis lurus… “selamat jalan papa…” suara si putri mengawali jerit sang istri. Itu pertama kalinya aku menyaksikan perjuangan seseorang di akhir kehidupan. aku bingung, terdiam sebentar.. “apa yang harus kulakukan?”. Tidak ada, selain tubuhku yang segera kugerakkan mendekat sang istri untuk merangkulnya dan menyandarkannya di badanku… tanpa kata, selain tangan yang kueluskan lembut di lengannya…

Kali ketiga terjadi saat kubisikkan lagu “ayem neng Gusti Yesus..” di telinga nenek 90 tahun yang sudah tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Sembari bersenandung lirih kuusap dan kuelus lengan dan dadanya dengan selalu kulakukan kebiasaanku, “mbah… mangga wungu… mangke arisan sareng-sareng malih..” Aku tidak pernah peduli sekalipun nenek tua ini dirawat di ruangan khusus untuk penyakit menular. Aku hanya ingin hadir di sana. Karena aku tahu, dia mengerti jika aku di dekatnya, karena saat aku menggenggam tangannya, sembari bernyanyi dan berdoa, aku harus bilang “nuwun sewu nggih, mbah….” Karena sekali lagi aku melihat.. setitik air di sudut matanya… kuusap untuk kesekian kalinya.

Ya… apa arti setitik air di sudut mata itu bagi dia yang sudah tidak bisa berkomunikasi lagi? Apa ya yang hendak dikatakannya…? Tidak ada yang tahu, karena mereka tidak pernah barang sejenak membuka matanya untuk mengisyaratkan sesuatu, atau membuka mulutnya untuk membisikkan sesuatu. Namun, setitik air di sudut mata itu, telah berbicara jauh lebih banyak dan mengisyaratkan jauh lebih besar dari apapun. Hanya keheningan hati yang ada di dekatnya yang mungkin bisa membacanya apakah itu ucapan “terima kasih, telah ada di sini.” Ataukah “maaf, telah merepotkan kalian” atau juga “andai kalian tahu, betapa aku sangat mencintai kalian” atau apa..? yang pasti, bagiku, setitik air di sudut mata itu adalah tanda… “Tuhan menghadirkanku di sini bertemu kamu, Tuhan membawamu di sini menemaniku, sehingga aku dan kamu bersama Tuhan di sini… untuk melewati satu titik kehidupan yang bernama kehadiran”. Ketiganya telah pergi, meninggalkan setitik air di sudut mata, yang pernah kulihat dan kuusap. Ketiganya telah membuatku merasa, begitu berharganya hidup yang dianugerahkan Tuhan. Karenanya, aku harus selalu ada buat hidup yang akan terus berjalan.. menuju akhir saat sudut mata berhenti mengalirkan air…

e-mail artikel ini e-mail artikel ini
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

One Comment »

  1. Mbak emang pintar dan berbakat dalam hal tulis menulis artikel.

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>