wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

Minggu 24 Agustus 2014
MINGGU BIASA 21
STOLA  PUTIH

Bacaan     I : Yeremia 20 : 7 – 9.
Bacaan   II :           -
Bacaan  III : Matius 16 : 21 – 28.

 

Tema Bulanan       : Alam sebagai tanda kehadiran Allah.
Tema Mingguan   : Mewujudkan kehadiran Allah dalam pelayanan.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 

YANG TERDEKAT, YANG MENJADI BATU SANDUNGAN

(Nats : Matius 16 : 23)

 

Pembukaan.

Setiap orang normal pasti memiliki seseorang atau sesuatu yang dianggap terdekat dengan dirinya. Bila yang dianggap terdekat itu seseorang, bisa saja itu sahabat, teman, pacar, suami, isteri, dsb. Jika yang dianggap terdekat itu bukan manusia, bisa saja itu berupa harta benda, uang, kedudukan, hobby, binatang peliharaan, dsb. Tidak jarang ada orang-orang yang begitu “terikat” atau “melekat” pada sesuatu atau seseorang yang dianggap terdekat dalam hidupnya itu. Apa yang terdekat itu seolah-olah menjadi segalanya bagi hidupnya, atau sulit untuk dipisahkan. Tetapi Tuhan Yesus melalui bacaan Alkitab hari ini mengingatkan bahwa setiap orang perlu “waspada” terhadap apapun yang dianggap terdekat dalam hidupnya itu.

 

Isi.

Petrus, adalah salah satu dari kedua belas murid Tuhan Yesus. Bisa dikatakan dia adalah murid yang sangat dekat dengan gurunya, atau mungkin juga dianggap yang terdekat oleh para murid lainnya. Hal ini tentunya bisa dimaklumi karena sering kali Petrus berperan sebagai pemimpin ataupun wakil dari para murid lainnya jika ingin mengemukakan sesuatu.

Kedekatan Petrus dengan Tuhan Yesus ternyata tidak menjadi jaminan bahwa Petrus memahami dengan benar apa yang dipikirkan dan diinginkan oleh Tuhan Yesus. Hal ini jelas nampak dalam perkataan Tuhan Yesus dalam Mat. 16 : 23. Tuhan Yesus sadar betul bahwa iblis yang ingin membelokkanNya dari misiNya untuk menyelamatkan dunia ini ternyata juga bisa memanfaatkan Petrus sebagai orang terdekatNya. Tuhan Yesus tidak lengah, namun tetap waspada dengan kemungkinan seperti itu. Perkataan Petrus tampaknya begitu indah, tidak ingin Tuhan Yesus jatuh dalam penderitaan. Petrus ingin “menyelamatkan” Tuhan Yesus dengan membelaNya secara fisik supaya gurunya tidak bersentuhan dengan penderitaan.

Pemikiran seperti ini tentunya tidak terlepas dari pemahaman Petrus yang menganggap Yesus, Gurunya itu memang adalah Mesias yang akan melepaskan mereka dari segala beban hidup, termasuk membawa kemenangan secara politis. Apa yang dipikirkan oleh Petrus itu juga yang dipikirkan oleh sebagaian besar pengikut Yesus pada saat itu. Petrus tidak sadar bahwa keinginannya untuk “melindungi” Tuhan Yesus itu sesungguhnya justru membelokkan misi Tuhan Yesus untuk menyelamatkan dunia ini. Bagi Tuhan Yesus, kehadiran Sang Mesias memang membawa pembebasan dan kemenangan, tetapi bukan secara politis melainkan secara rohani. Manusia akan dibebaskan dari belenggu dosa sehingga mereka menerima anugerah keselamatan dari Allah. Untuk tercapainya rencana Allah ini memang Tuhan Yesus harus menderita, mati dan bangkit dari kematian. Kesengsaraan yang akan dialami Tuhan Yesus di Yerusalem adalah skenario Allah.

Petrus tidak ingin Tuhan Yesus mengalami penderitaan. Padahal, untuk menyelamatkan dunia ini tidak bisa tidak harus ditempuh lewat jalan penderitaan hingga kematian di kayu salib. Petrus sebagai pihak yang “terdekat” ternyata tidak memahami akan hal itu. Dan lebih jauh bisa dikatakan bahwa iblis yang tidak ingin misi Tuhan Yesus itu berhasil, ternyata memanfaatkan “orang-orang terdekat” untuk mempengaruhi Tuhan Yesus. Caranya sangatlah halus, yaitu dengan menawarkan bentuk “perlindungan”, bahkan yang tampaknya dibungkus dengan motifasi “mengasihi”. “Mengasihi” ternyata juga bisa membawa kehancuran bagi seseorang dan masa depannya jika tidak dilandasi dengan ketulusan.

Orang / pihak terdekat memang bisa “mengikat”, sehingga seseorang tidak mampu berpikir kritis. Seseorang bisa jatuh pada rasa “sentimentil”, merasa bahwa dirinya  amat dikasihi dan diperhatikan. Apalagi jika pihak terdekat itu telah mampu memberikan rasa nyaman ataupun kepuasan dalam hidupnya. Tanpa kekritisan, seseorang bisa punya anggapan bahwa apapun yang ingin dilakukan oleh pihak “terdekat” itu adalah untuk kebaikan dirinya. Hal inilah yang seringkali menjadi semacam “belenggu”. Dengan kedok “kasih”, maka pihak terdekat itu bisa membelokkan atau melunturkan misi kita untuk melakukan sesuatu yang benar. Dan sangat mungkin hal ini terjadi karena perbedaan persepsi dan misi.

Petrus membayangkan bahwa mengikut Yesus Sang Mesias itu diliputi kenyamanan dan fasilitas. Kenyataannya Tuhan Yesus mengatakan: “Setiap orang yang mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16 : 24). Dalam mengikut Tuhan Yesus, seseorang justru diperhadapkan pada kesediaan untuk tahan menderita. Penderitaan itu tidak selalu berasal dari luar dirinya, tetapi juga yang dari dalam dirinya, yaitu yang berupa penyangkalan diri. Menyangkal diri artinya rela untuk tidak melakukan sesuatu yang diingini jika ternyata apa yang diingini itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Sama halnya dengan Petrus yang tidak ingin terpisah dari Gurunya, tidak ingin Tuhan Yesus menderita, tetapi kenyataannya keinginan itu berlawanan dengan kehendak Tuhan. Dalam hal inilah Petrus dituntut untuk lebih taat pada kehendak Tuhan.

Penyangkalan diri saja belumlah cukup. Masih harus diikuti sebuah kesetiaan memikul salibnya. Setia menghadapi berbagai penderitaan yang dialami dengan tetap setia kepada Tuhan. Sesudah itu diikuti dengan tindakan mengikut Tuhan Yusus dalam segala laku dan teladanNya. Sang Mesias akan dimuliakan bukan karena menang perang secara politis, tetapi justru karena kemenanganNya dari segala penderitaan yang ditanggungNya demi memenangkan manusia berdosa dari belenggu dosa dan kuasa iblis. Seseorang dimuliakan tidak selalu dari kehebatannya melakukan sesuatu berdasarkan penilaian dunia, tetapi juga bisa karena kerendahan hati dan kesetiaannya melakukan apa yang menjadi tanggung-jawabnya.

Kuasa iblis ternyata sudah bekerja dalam diri Petrus. Petrus tidak sadar bahwa “kasihnya” kepada Tuhan Yesus itu justru bisa dimanfaatkan oleh iblis untuk menjadikan dirinya maupun Sang Guru agar tidak menaati kehendak Allah. Petrus yang merasa “mengasihi” Tuhan Yesus tidak ingin dipisahkan dari Tuhan Yesus secara fisik, apalagi dipisahkan oleh penderitaan. Petrus takut kehilangan sosok yang dia kasihi. Kasih Petrus itu telah menjadi semacam “kelekatan” dalam dirinya yang pada akhirnya mampu menumpulkan ketajamannya dari mendengarkan suara Tuhan. Dengan dalih “kasih” itu pula Petrus hendak menghalangi-halangi Tuhan Yesus mewujudkan misiNya menyelamatkan dunia yang memang harus ditempuh melalui jalan penderitaan. Jalan penderitaan ini sekaligus menjadi teladan bagi para pengikutNya, bahwa para pengikut Kristuspun harus siap berhadapan dengan penderitaan. Petrus, pihak yang “terdekat” ternyata pernah menjadi batu sandungan bagi misi dan pelayanan Tuhan Yesus. Penghalang yang besar dalam pelayanan adalah jika itu datang dari pihak-pihak yang “terdekat” itu.

 

Penutup.

Banyak orang yang menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam pelayanannya, sebagaimana Tuhan Yesus. Tetapi sesungguhnya diperlukan kewaspadaan, sebab bukan tidak mungkin jika rintangan itu justru datangnya dari pihak-pihak yang “terdekat” dengan kita. Tuhan Yesus sungguh waspada dengan hal ini. Sehingga Dia menegor Petrus yang akan menjadi batu sandungan bagi pelayanan dan misiNya. Tuhan Yesus juga mengingatkan kita sekalian bahwa penyangkalan diri dan kesetiaan dalam mengikut Tuhan adalah hal yang amat penting dalam hidup pelayanan kita. Hal ini tentunya juga akan menolong kita mengatasi segala bentuk “kelekatan” kita pada sesuatu atau seseorang yang bisa membelokkan kita dari rencana Allah. Oleh karena itu tetaplah waspada terhadap segala sesuatu yang “dekat” dengan kita, supaya itu semua tidak menjadi batu sandungan bagi pelayanan dan ketaatan kita untuk memberlakukan kehendak Allah.  Amin. (YM).

 

Nyanyian  : Kidung jemaat 396 : 2 – 4.

—-
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi.

 

KANG RAKET, KANG DADI SANDHUNGAN

(Jejer : Mateus 16 : 23)

 

Pambuka.

Saben tiyang ingkang normal mesthi gadhah punapa ingkang dipun anggep paling raket. Menawi ingkang dipun anggep paling raket punika manungsa, saged kemawon punika sakabat, kanca, pacar, semah, lsp. Menawi ingkang dipun anggep raket punika sanes manungsa, saged kemawon arupi raja-brana, arta, kalenggahan, klangenan, ingon-ingon, lsp. Wonten ugi tiyang ingkang rumaos kados dene “kaiket” utawi “kelet” ing punapa ingkang dipun anggep raket ing gesangipun. Punapa ingkang dipun anggep paling raket punika kados dene ingkang paling wigati ing gesangipun, utawi lajeng ewed kauwalaken. Ananging lumantar waosan kita ing dinten punika Gusti Yesus ngengetaken kita sami bilih saben tiyang kedah “waspada” tumrap punapa kemawon ingkang paling raket ing gesangipun.

 

Isi.

Petrus, inggih punika salah satunggaling sakabatipun Gusti Yesus. Petrus punika saestu raket kaliyan gurunipun, utawi saged ugi dipun wastani ingkang paling raket dening para sakabat sanesipun. Punika saged dipun mangertosi awit asring Petrus punika tumindak kados dene pangarsa utawi sesulihing para sakabat sanesipun menawi badhe ngaturaken pamanggih.

Raketipun Petrus lan Gusti Yesus nyatanipun boten ndadosaken Petrus mangertos ingkang saleresipun ing bab punapa ingkang dipun penggalih lan kakersakaken dening Gusti Yesus. Prekawis punika saestu ketawis saking pangandikanipun Gusti ing Mat. 16 : 23. Gusti Yesus mangertos bilih iblis ingkang kepingin ngenggokaken misinipun Gusti wonten anggenipun badhe milujengaken jagad punika nyatanipun ugi migunakaken Petrus ingkang raket kaliyan Gusti. Gusti Yesus boten lena, nanging tansah waspada ing kawontenan ingkang mekaten kalawau. Pangucapipun Petrus kados-kados endah sanget, boten kepingin menawi Gusti Yesus dhumawah ing kasangsaran. Petrus kepingin “nylametaken” Gusti Yesus kanthi mbelani secara kajasmanen supados gurunipun boten dhumawah ing kasangsaran. Pamanggih ingkang mekaten kalawau tamtunipun boten uwal saking pamanggihipun Petrus ingkang nganggep Gusti Yesus, Gurunipun punika saestu Sang Mesih ingkang badhe nguwalaken manungsa saking momotaning gesang, kalebet kamenangan sacara politis. Punapa ingkang dipun penggalih dening Petrus punika saged ugi dados pamanggihipun para pandherekipun Gusti sanesipun nalika semanten. Petrus boten mangertos bilih anggenipun badhe paring pangayoman dhateng Gusti Yesus punika estunipun malah ngenggokaken misinipun Gusti Yesus anggenipun badhe milujengaken jagad. Tumrap Gusti Yesus, rawuhipun Sang Mesih pancen ngasta “kemenangan”, nanging boten sacara politis ananging sacara karohanen. Manungsa badhe kauwalaken saking panguwaosing dosa lan nampi kanugrahan kawilujengan saking Allah. Supados rancanganipun Allah punika kaleksanan, Gusti Yesus pancen kedah nandhang sangsara, seda sinalib lan wungu saking antawisipun tiyang pejah. Kasangsaran ingkang badhe dipun alami dening Gusti Yesus ing Yerusalem punika saestu sampun karancang dening Allah.

Petrus boten kepingin Gusti Yesus nandhang kasangsaran. Kangge milujengaken jagad, estunipun kedah katempuh kanthi margining kasangsaran ngantos seda sinalib. Petrus minangka tiyang ingkang “paling  raket” kaliyan Gusti nyatanipun boten mangertos ing bab punika. Lah ing ngriki saged dipun wastani bilih iblis ingkang boten remen menawi misinipun Gusti Yesus punika saged kasil katindakaken, nyatanipun migunakaken “tiyang-tiyang ingkang raket” kaliyan Gusti kangge ngojok-ojoki Gusti Yesus. Cara ingkang kaginakaken saestu alus sanget, inggih punika kanthi badhe paring pangayoman, malah-malah ingkang ketawis kabungkus “motifasi” katresnan. Nresnani punika nyatanipun ugi saged “ngejur” tiyang sanes ingkang dipun tresnani lan gesang ing salajengipun menawi katresnan punika boten tulus.

Manungsa / pihak ingkang paling raket pancen saged “naleni / ngiket”, ngantos ndadosaken tiyang kalawau boten saged mikir kanthi “kritis” (taliti). Manungsa saged dhawah ing swasana “sentimentil” awit rumaos piyambakipun saestu dipun tresnani lan dipun gatosaken. Punapa malih menawi pihak ingkang raket kalawau saged  paring raos ayem utawi katentreman ing gesangipun. Tanpa “kekritisan” manungsa saged gadhah pamanggih bilih punapa kemawon ingkang katindakaken dening pihak ingkang raket punika mesti kangge kasaenanipun. Inggih pamanggih punika ingkang asring kados dene “ngiket”. Kanthi alasan “katresnan”, mila pihak ingkang raket punika saged ngenggokaken utawi nglunturaken misi (rancangan) kita kangge nindakaken prekawis ingkang leres. Sedaya punika saged kedadosan awit saking pamanggih lan misi ingkang boten sami.

Tamtunipun Petrus gadhah pamanggih bilih ndherek Gusti Yesus inggih Sang Mesih punika kebak ing katentreman lan bandha donya. Nyatanipun Gusti Yesus ngandika: “Manawa ana wong kang arep ngetut wuri Aku, iku kudu nyingkur awake dhewe sarta manggula salibe lan melua Aku” (Mat. 16 : 24). Anggenipun ndherek Gusti, sinten kemawon, kedah ngadhepi lan sumadya nandhang sangsara. Kasangsaran punika dereng tamtu asalipun saking sak njawinipun manungsa punika, nanging saged ugi saking salebeting manahipun, inggih punika ingkang awujud nyingkur awake dhewe. Nyingkur awake dhewe ateges sumadya boten nindakaken menapa ingkang dados pepinginanipun bilih pepinginan kalawau cengkah kaliyan karsanipun Gusti. Mekaten ugi kaliyan Petrus ingkang gadhah pepinginan supados boten pinisah saking Gustinipun, boten purun menawi Gurunipun nandhang sangsara, ananging nyatanipun pepinginan punika cengkah kaliyan karsanipun Gusti. Lah ing ngriki Petrus kedah langkung mbangun turut ing karsanipun Gusti.

Nyingkur awake dhewe punika dereng cekap. Manungsa ugi kedah purun setya tuhu manggul salibe dhewe. Setya tuhu anggenipun ngadhepi samudaya panandhang kanthi tansah setya ing kapitadosan dhumateng Gusti. Sabibaripun punika, kalajengaken kaliyan sumadya ndherek Gusti ing sedaya laku lan tuladhanipun. Sang Mesih badhe kamulyakaken boten karana mimpang ing paprangan sacara politis, nanging awit mimpang saking sedaya panandhang ingkang dipun adhepi kangge nglabuhi manungsa dosa supados uwal saking bebenduning dosa. Mekaten ugi manungsa badhe kamulyakaken boten karana unggul saking nindakaken prekawis ingkang dipun biji dening manungsa ing donya, nanging awit saking andhap-asoring manah lan kasetyanipun nindakaken punapa ingkang dados tanggel-jawabipun.

Panguwaosing iblis nyatanipun sampun makarya ing manahipun Petrus. Petrus boten mangertos bilih katresnanipun dhumateng Gusti Yesus punika malah saged kaginakaken dening iblis kangge ndadosaken dirinipun lan Gusti Yesus boten nindakaken karsanipun Allah. Petrus ingkang rumaos “nresnani” Gusti Yesus boten purun pisah sacara kajasmanen saking Panjenenganipun, punapa malih kapisahaken dening kasangsaran. Petrus ajrih “kecalan” punapa ingkang dipun “tresnani”. “Katresnanipun” Petrus punika sampun kelet ing manahipun ingkang wusananipun ndadosaken Petrus boten saged mirengaken pangandikanipun Gusti. Kanthi alesan “katresnan” punika lajeng Petrus badhe ngalang-alangi Gusti Yesus anggenipun badhe mujudaken misinipun milujengaken jagad ingkang pancen kedah katempuh kanthi margining kasangsaran. Margining kasangsaran punika inggih dados tuladha tumrap para pandherekipun Gusti, bilih sedaya pandherekipun Gusti punika kedah sumadya ngadhepi kasangsaran. Petrus minangka sakabat ingkang “raket” nyatanipun ugi nate dados sandhungan tumrap misi lan peladosanipun Gusti Yesus. Pepalang ingkang paling ageng ing peladosan inggih punika pepalang ingkang saking sinten utawi punapaa kemawon ingkang “raket” kaliyan kita.

 

Panutup.

Kathah tiyang ingkang ngadhepi werni-werni pepalang ing salebeting peladosanipun, kados dene Gusti Yesus piyambak. Ananging mugi tansah kita enget-enget bilih kita kedah tansah waspada, awit saged ugi pepalang kalawau saking sinten utawi punapaa kemawon ingkang “raket” kaliyan kita, kados dene semah, anak, pacar, hobby, lsp. Gusti Yesus saestu waspada ing bab punika. Mila Gusti Yesus lajeng ngengetaken Petrus supados boten dados sandhungan ing peladosan lan misinipun Gusti. Gusti Yesus ugi ngengetaken kita sami bilih bab nyingkur awake dhewe lan kasetyan anggen kita ngetut wingking Panjenenganipun, saestu prekawis ingkang wigati sanget ing salebeting peladosan kita. Bab punika tamtunipun ugi badhe nulungi kita anggen kita ngatasi bab keleting kita dhumateng sinten utawi punapaa kemawon ingkang saged ngenggokaken kita sami saking karsanipun Gusti. Pramila, mugi tansah waspada tumrap punapa kemawon lan sinten kemawon ingkang “raket”, supados boten dados sandhungan tumrap peladosan kita lan kasetyan kita nindakaken karsanipun Allah.  Amin. (YM)

 

Pamuji  : Kidung Pasamuwan Kristen 101 : 1 – 3.

 

xxx

MINGGU, 31 Agustus 2014
MINGGU BIASA  22
STOLA PUTIH

 

 

Bacaan  1  :  Yehezkiel 33: 7-9
Bacaan  2  :  Roma 13: 8-10
Bacaan  3  :  Matius 18: 15-20

Mazmur    :  Mazmur 95: 1-9

Tema  Bulanan : Alam sebagai tanda kehadiran Allah.
Tema Pekan      : Menasehati untuk keselamatan semuanya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

Ada pepatah bahasa Jawa yang sangat terkenal: Crah agawe bubrah, rukun agawe santosa, atau dalam bahasa Indonesia menjadi: Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Pepatah ini mau mengingatkan semua orang supaya jangan sampai terpecah-pecah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semuanya harus bersatu. Perpecahan hanya akan merusak kehidupan bersama. Sebaliknya, persatuan akan membuat kekuatan semakin teguh. Pepatah ini berlaku dalam kehidupan kelompok yang sangat besar, seperti negara, sampai pada kelompok yang lebih kecil, seperti kelompok agama atau gereja atau jemaat, dan bahkan kelompok yang paling kecil, yaitu dalam keluarga.

 

Isi

Salah satu penyebab keterpecahan adalah dosa. Dosa itu bukan sekedar perbuatan jahat terhadap sesama manusia. Dosa juga adalah perbuatan menyalahgunakan dan merusak alam lingkungan yang menjadi tanda kehadiran Allah. Dosa menyebabkan putusnya hubungan antara manusia dengan Allah dan sesamanya.  Karena dosa, tidak ada lagi kedamaian dalam kehidupan manusia, baik pribadi maupun bersama, tidak ada kerukunan dalam kehidupan bersama.

Karena itu jika terjadi perbuatan dosa, maka harus diberikan peringatan atau nasehat. Tuhan Yesus berkata “Apabila saudara berbuat dosa, tegorlah dia…” (ayat 15). Peringatan atau nasehat diberikan supaya yang melakukan perbuatan dosa diselamatkan dan kembali kepada kedamaian dan kerukunan kehidupan bersama. Peringatan dan nasehat yang kita berikan itu tidak hanya untuk menyelamatkan orang yang berbuat dosa, tetapi membebaskan kita dari tuntutan Tuhan atas kematian orang berdosa itu. Itulah yang tuliskan dalam bacaan kita yang pertama dari kitab Yehezkiel 33 tadi.

Untuk menyelamatkan dan mengembalikan yang berdosa itu, yang dijadikan dasar dan pelaksanaan peringatan dan nasehat itu adalah kasih. Itulah yang ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam bacaan ke 2 (Roma 13: 8-10). Seberapapun kejam, destruktif dan merugikannya perbuatan dosa itu, kasih tetap yang harus menjadi dasar dan pelaksanaan peringatan dan nasehatnya. Kita tidak boleh menghukumnya. “Sebab, kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia” (ayat 10).

Karena kasih itu, maka peringatan atau nasehat itu pertama-tama diberikan di bawah empat mata, “…tegorlah dia di bawah empat mata” (ayat 15). Artinya, sendirian, tanpa diketahui oleh orang lain. Maksudnya ialah bahwa seberapapun besar dosa yang telah dilakukan, pelakunya harus tetap dilindungi, tidak diberitakan kepada orang lain. Jika diberitakan kepada orang lain, maka si pelaku akan dipermalukan.

Jika tahap pertama peringatan atau nasehat itu tidak diindahkan, barulah dibutuhkan orang lain sebagai saksi “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan” (ayat 16). Orang lain itu dilibatkan adalah untuk menguatkan peringatan itu, bukan supaya dosa orang itu diketahui oleh orang lain.  Diharapkan dengan peringatan yang lebih kuat itu, orang yang melakukan perbuatan dosa itu mengakui dosanya dan kembali kepada kehidupan yang benar.

Namun, jika peringatan yang lebih kuat itu tetap tidak membuat orang berdosa itu mengakui dosanya, barulah dibutuhkan semakin banyak orang, yaitu jemaat. Ini menjadi tahap yang terakhir untuk memperingatkan orang itu. Namun jika peringatan yang semakin kuat dan maksimal ini tidak juga diindahkan, maka tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk memperingatkan itu selain mengucilkannya dari jemaat. “…pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai” pada ayat 17 maksudnya adalah pengucilan itu. Pengucilan itu menunjukkan bahwa dosa tidak bisa ditolerir. Kasih itu tegas dan tidak berkompromi dengan dosa. Kebenaran harus diberlakukan untuk menjaga keutuhan dan persatuan jemaatNya.

Dalam keutuhan dan kesatuan (sepakat pada ayat 19) doa jemaat akan dikabulkan oleh Tuhan, persekutuan –betapapun kecilnya (hanya dua atau tiga orang)- dihadiri oleh Tuhan (ayat 20). Dengan demikian, kedamaian dan kerukunan akan bisa dirasakan dan dinikmati oleh semua umat Tuhan.

Penutup

Saudara-saudara yang mengasihi Tuhan dan saling mengasihi,

Oleh karena itu semua, janganlah kita bersikap sinis terhadap saudara yang kedapatan melakukan perbuatan dosa. Janganlah mencibirinya! Janganlah menjauhinya! Janganlah memberitakannya kesana-kemari! Janganlah menghukumnya dengan sikap kita seperti itu. Kita tidak punya hak untuk menghukum siapapun. Sebab, bahkan Tuhan Yesus pun datang ke dunia bukan untuk menghukum orang berdosa. Dia datang ke dunia untuk menyelamatkannya. Jika kita mensinisi, mencibiri, menjauhi, menghakimi dan menghukumnya berarti kita merebut hak Allah sendiri, kita mau menjadi Allah. Siapakah kita ini, kok mau bertindak menjadi Allah terhadap sesama?

Yang harus kita lakukan adalah memperingatkan dan menasehati orang yang melakukan perbuatan dosa dengan penuh kasih. Kita semua mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk saling mengingatkan dan menasehati, siapapun kita dan kepada siapapun, bahkan kepada Diaken, Penatua atau Pendeta sekalipun. Peringatan dan nasehat kita kepadanya bukan dalam rangka menjaga kesucian jemaat, melainkan supaya dia tidak binasa karena dosanya, supaya dia kembali hidup dalam keselamatan, dalam kedamaian bersama jemaat. [ST]

 

Nyanyian  : Kidung Jemaat 422: 1, 2, 3.

RANCANGA KHOTAB: Basa Jawi

Pambuka

Wonten sesanti ingkang kawentar: Crah agawe bubrah, rukun agawe santosa. Sesanti menika ngemu pepenget lan piwulang tumrap sedaya tiyang supados sampun ngantos pepisahan ing salebeting gesang bebrayan ing satengahing bangsa lan negari setunggal. Sedayanipun kedah tetunggilan. Crah lan cecongkrahan namung badhe ngrisak gesanging bebrayan. Swalikipun, tetunggilan badhe ndamel kakiyatan saya bakuh. Sesanti menika prayogi sanget tumrap gesanging bebrayan agung, kados satunggaling negari, ugi bebrayan ingkang langkung alit, kados patunggilaning agami utawi greja utawi pasamuwan, lan ugi prayogi tumraping bebrayan ingkang alit piyambak, nggih menika kulawarga.

 

Isi

Salah satunggaling jalaran crah lan pepisahan nggih menika dosa. Dosa menika mboten namung tumindak awon tumrap sesamining manungsa. Dosa menika ugi tumindak ingkang ngrisak alam lingkungan ingkang dados pratandha kehadiran Allah. Dosa njalari pedhoting sesambetanipun manungsa kaliyan Gusti Allah lan sesaminipun. Karana dosa, mboten wonten malih katentreman wonten ing gesangipun manungsa, dadosa ing gesang pribadi lan ugi ing bebrayan, mboten wonten karukunan wonten ing gesang bebrayan.

Pramila saking menika yen wonten tumindak dosa kedah wonten piweleh lan pitutur. Gusti Yesus ngandika: “Manawa sadulurmu duwe kaluputan, elingna…!” (ayat 15). Piweleh lan pitutur kaparingaken supados tiyang ingkang nggadhahi kalepatan lan tumindak dosa kawilujengaken lan wangsul malih dhateng katentreman lan karukunan ing gesang bebrayan. Piweleh lan pitutur ingkang kita paringaken menika boten namung kangge milujengaken ingkang tumindak dosa, nanging ugi ngluwari kita saking tuntutan tanggel jawab saking Gusti atas sedanipun tiyang dosa menika. Menika ingkang kaserat ing waosan kita kang kapisan saking kitab Nabi Yeheskiel 33 kalawau.

Kangge milujengaken lan mangsulaken tiyang dosa menika, ingkang kedah dados dhasar, landhesan, lan tumindaking piweleh lan pitutur nggih menika katresnan. Menika ingkang dipun antepaken dening Rasul Paul ing waosan kang kaping kalih (Rum 13: 8-10). Kadosa pundi kejem, ngrisak lan mitunanining tumindak dosa menika, katresnan tetep kedah dados landhesan tumindaking piweleh lan pitutur menika. Kita boten pareng njeksani, menghukum piyambakipun. Awit “tresna iku ora nandukake piala marang sapadha-padha” (ayat 10).

Karana katresnan menika, pramila piweleh lan pitutur menika wiwitan kedah katindakaken sesidheman, “…elingna dhedhewekan!” (ayat 15). Tegesipun, boten perlu dipun mangertosi dening tiyang sanes. Pikajengipun nggih menika, bilih kadosa pundi angenging dosa ingkang katindakaken, tiyang ingkang tumindak dosa menika tetep kedah dipun reksa, dipun jagi asmanipun, boten dipun biwaraken utawi dipun kandhakaken dhateng tiyang sanes. Menawi dipun biwaraken utawi dipun wartosaken dhateng tiyang sanes, tiyang ingkang tumindak dosa menika badhe dipun wirang-wirangaken.

Menawi ing tahap kapisan piweleh lan pitutur sesidheman menika boten dipun gape, boten dipun gugu, nembe dipun betahaken tiyang sanes dados seksi, “Dene yen ora nggugu, kowe ngajaka wong siji utawa loro engkas, supaya marga saka anane katrangane seksi loro utawa telu, prakakrane banjur rampung” (ayat 16). Tiyang sanes dipun libataken kangge ngantepaken piweleh menika, sanes supados dosanipun tiyang menika dipun sumurupi dening tiyang sanes. Pengajeng-ajengipun, srana piweleh ingkang langkung mantep menika, tiyang ingkang tumindka dosa menika purun ngakeni dosanipun lan wangsul malih dhateng tatananing gesang ingkang utami.

Menawi  piweleh ingkang langkung mantep menika tetep boten dipun gape, tiyang menika boten purun ngakeni dosanipun, nembe dipun betehaken tiyang kathah, nggih menika pasamuwan. Menika dados tahap ingkang pungkasan kangge melehaken tiyang dosa menika. Nanging menawi piweleh ingkang saya mantep lan katog menika tetep boten dipun gape, boten dipun gugu, sampun boten wonten malih ingkang saged dipun tindakaken kejawi namung mengucilkan (nyingkiraken) tiyang menika saking patunggilaning pasamuwan. Dhawuh ing ayat 17 “… anggepen wong kapir utawa juru mupu beya” menika tegesipun dikucilkan, dipun singkiraken. Pengucilan menika nedahaken bilih dosa menika boten saged dipun sarujuki (ditolerir). Katresnan menika teges lan boten sarujuk kaliyan dosa. Kayekten utawi kaleresan kedah dipun jejegaken kangge njagi nyawiji lan manunggaling pasamuwan.

Ing patunggilan kang nyawiji (saiyeg ing ayat 19) pandonganing pasamuwan bakal kasembadan dening Gusti. Patunggilan –nadyan alit sanget (namung tiyang kalih utawi tiga)- mesthi dipun rawuhi dening Gusti (ayat 20). Kanthi makaten, katentreman lan karukunan badhe saged dipun raosaken kanthi nikmat dening sedaya umatipun Gusti.

 

Panutup

Para sedherek ingkang nresnani Gusti lan sami tresna-tinresnan,

Ingkang menika sedaya, sampun ngantos kita tumindak sinis dhateng sedherek ingkang kadenangan tumindak dosa. Sampun dipun esemi utawi dipun enyek! Sampun dipun tebihi! Sampun ngabaraken mrika-mriki! Sampun njeksani utawi ngukum tiyang menika srana tumindak mekaten menika. Kita boten nggadhah karep (hak) kangge midana utawi ngukum sintena kemawon. Awit, malah Gusti Yesus piyambak rawuh ing jagad menika boten saperlu ngukum manungsa dosa. Panjenenganipun rawuh saperlu mitulungi rahayu dhateng tiyang dosa. Menawi kita tumindak sinis, ngesemi, nebihi, njeksani lan ngukum tiyang dosa, menika ateges kita ngrebut hakipun Allah piyambak, kita tumindak dados Allah. Sinten ta kita menika, kok tumindak dados Allah tumrap sesami kita?

Ingkang prayoginipun kita tindakaken nggih menika melehaken lan nuturi tiyang ingkang tumindak dosa menika kanthi kebak ing katresnan. Kita sedaya nggadhahi kuwajiban lan tanggel jawab kangge weleh-winelehan, tutur-tinutur setunggal lan setunggalipun, sintena kemawon kita lan dhateng sintena kemawon, kalebet ugi dhateng Diaken, Pinisipuh lan ugi dhumateng Pendhita. Piweleh lan pitutur kita sanes kangge njagi kasucening pasamuwan, nanging supados tiyang dosa menika boten bilai karana dosanipun, supados tiyang menika wangsul gesang ing rehing karahayonipun Gusti, wangsul dhateng katentreman lan karukunan sesarengan kaliyan pasamuwan. [ST]

Pamuji: KPK 31: 1, 2 /  310: 2, 4.

 

xxx

MINGGU, 07 September 2014
MINGGU BIASA 23
STOLA PUTIH

 

Bacaan  1  :  Yesaya 33: 7-9
Bacaan  2  :  Roma 14: 7-9
Bacaan  3  :  Matius 18: 21-35

 

Tema  Bulanan : Allah tidak berpangku tangan di dalam bait suciNya.
Tema Pekan      : Allah mengampuni kita supaya kita saling mengampuni.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

Ketika Sang Prabu Salya menjadi senapati Kurawa dalam perang baratayuda melawan Pendawa, ia mengeluarkan aji Candrabirawa, yaitu ia menjadikan seorang raksasa yang besarnya seanak gunung untuk maju berperang melawan Pendawa.  Maka para satria Pendawapun maju berperang melawan raksasa itu. Tetapi setiap raksasa itu dapat dibunuh dan mati, tiba-tiba hidup lagi jumlahnya menjadi lipat dua. Mati satu menjadi dua, mati dua menjadi empat, mati empat menjadi delapan dan begitu seterusnya sehingga padang Kuruksetra itu penuh dengan raksasa raksasa.  Prajurit pendawa lari tunggang langgang.  Akhirnya Prabu Kresna meminta Puntadewa untuk maju perang.  Bagaimana mungkin? Puntadewa ini latihan perang saja tidak pernah. Tetapi akhirnya ia maju dan benarlah ia menjadi bulan-bulanan para rasaksa itu, digigit sini, dilemparkan ke sana….  Namun setiap digigit keluar darahnya putih, seketika itu pula lenyaplah raksasa yang menggigitnya. Begitu seterusnya hingga pada akhirnya semua raksasa itu musnah.

Dendam adalah seperti aji Candrabirawa itu. Dendam jikalau tetap dihembus-hembuskan dan dipelihara akan terus beranak-pinak dendam, geram, kebencian, bahkan kekerasan. Sehingga, merusak diri sendiri, sesama dan lingkungan hidup.  Hanya hati yang putih yang dapat menghentikannya.

 

Tuhan Yesus menghendaki pengampunan

Ketika Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus: Tuhan sampai berapa kali saya harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa kepadaku?  Sampai tujuh kali?  Apa yang diungkapkan Petrus ini sebenarnya sudah jauh melebihi ajaran para Rabi saat itu. Namun jawab Tuhan Yesus mencengangkan.  Bukan!  Aku berkata kepadamu: Bukan tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.  Artinya angka yang tidak terbatas.

Mengapa?

Di dalam Tuhan Yesus, Allah telah mengampuni dosa kita yang begitu besar itu, yang digambarkan seperti orang yang mempunyai hutang 10.000 talenta.  Ini jumlah yang sangat besar sekali. 1 talenta = 6.000 dinar, sehingga 10.000 talenta = 60.000.000 dinar. Karena kasih karunia Allah kita telah dibebaskan. Tuhan menghendaki supaya kita hidup menikmati kebebasan karuniaNya itu. Bahkan supaya kehidupan kita terus tumbuh, berkembang dan mengeluarkan buah dalam karuniaNya itu. Dibandingkan dengan karunia pengampunan Tuhan yang kita terima, kesalahan sesama yang harus kita ampuni itu sungguh bukan apa-apanya, seperti 1 dibanding 60.000.000.

Dendam hanya akan menggerogoti kehidupan kita, menjadikan kehidupan rohani kita tidak dapat bertumbuh dengan baik. Malahan dendam yang tidak dihentikan akan menjadi akar pahit yang terus mengaliri hati, pikiran, perasaan, kata-kata dan perbuatan kita. Lebih-lebih jikalau dendam itu kita wariskan kepada generasi-generasi penerus kita. Oleh karena itu siapa yang ingin hidup tenteram, damai, bahagia dan berbuah banyak, harus bisa mengatasi dan menyelesaikan dendamnya itu.

 

Bagaimana?

Ternyata memang tidak mudah memberikan pengampunan dan melepaskan dendam itu.  Lebih-lebih jikalau dalam kehidupan ini yang menjadi pusat perhatian adalah diri sendiri.  Betapa sulitnya mengampuni orang lain itu?  Bahkan banyak orang lebih suka menderita di tusuk-tusuk oleh sembilu dendam dan tidak jarang rasa sakit itu terus diceriterakan berulang-ulang ditebarkan kepada anak cucunya dan siapa saja.  Oleh karena itu jangan heran jika ceritera-ceritera persilatan, sinetron penuh dengan ceritera tentang dendam.

Dari nas kita Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita telah mendapat pembebasan yang begitu besar. Hidup kita telah ditebus olehNya dengan tebusan yang sangat mahal sekali. Oleh karena itu, menurut nasehat Paulus hidup kita ini sudah bukan milik kita sendiri, melainkan milik Tuhan. Oleh karena itu, hidup ini tidak layak hanya untuk diri sendiri dan melayani dosa, melainkan harus diserahkan kepada Tuhan dan melayani kehendakNya yang tidak lain juga untuk kebaikan kita bersama (Rm 14:7-9). Amin. [BRU]

 

Nyanyian: KJ 467

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

 

Pambuka

Para sadherek kinasih, rikala Sang Prabu Salya madeg senapatining Kurawa nglawan trah Pendawa, piyambakipun ngedalaken ajinipun Candrabirawa.  Mak jleg dumadakan wonten raseksa sagunung anakan agengipun majeng perang. Para satria lan prajurit pendawa sami mapagaken mangsah prang. Ananging saben raseksa punika saged kapejahan dumadakan gesang malih cacahipun dados tikel kalih. Saengga, satunggal pejah dados kalih, kalih pejah dados sekawan, sekawan pejah dados wolu wolu pejah sakala dados 16 mekaten salajengipun ngantos Tegal Kuruksetra punika dados kebak raseksa pating regunuk ngangseg Pendawa, ngantos prajurit Pendawa kocar-kacir mlajeng salang tunjang. Werkudara kamigilan.  Pungkasanipun Prabu Kresna ngutus supados Puntadewa sapunika majeng perang. Sadaya sami kaget. Kadospundi punika, para satria ingkang sekti kemawon mboten kuwagang nglawan, lha kok Puntadewa ingkang latihan perang kemawon mboten nate kapurih majeng ngadhepi. Sanajan mekaten, Puntadewa estu majeng perang. Kocapa badanipun Puntadewa dipun juwing-juwing lan bujleng-bujleng.  Ananging elokipun saben badanipun dipun kremus lajeng ngedalaken rah pethak, sakala raseksa ingkang nglethak punika musna. Mekaten salajengipun ngantos sadaya raseksa ical, kantun Puntadewa kemawon.

Saestunipun raos dendam punika inggih kadosdene Candrabirawa punika.  Rikala raos dendam dipun uri-uri, dipun sebaraken, dendam manak dendam lan degsiya.  Matemah ngrisak dhiri, sesami miwah lingkungan kita.

 

Gusti Yesus ngersakaken apunten-ingapunten

Rikala Petrus pitaken dhumateng Gusti Yesus: “ngantos kaping pinten kawula kedah ngapunten dhumateng sadherek kawula ingkang kalepatan dhumateng kawula?  Punapa kaping pitu?” Saestunipun pitakenanipun Petrus punika sampun nglangkungi umumipun, malahan nglangkungi punapa ingkang dipun wucalaken dening para Rabi (Guru) Yahudi.  Ananging wangsulanipun Gusti Yesus elok sanget: kaping pitung puluh kaping pitu. Saestu kathah sanget, bebasan tanpa wates.  Pancen inggih mekaten kersanipun.

Lajeng Gusti mulangi paribasan: wonten satunggaling tiyang ingkang nggadhahi utang kathah sanget 10.000 talenta, ingkang sami kaliyan 60.000.000 dinar, ingkang kabebasaken dening bendaranipun, ananging mboten saged mbebasaken dhumateng kancanipun ingkang utangipun namung 10 dinar kemawon (sakpra 6.000.000) nipun.

Mekaten ugi para sadherek, saestunipun dosa kita punika ageng sanget wonten ngarsanipun Gusti.  Ananging Gusti sampun nebus kita kanthi regi ingkang awis sanget.  Saengga kita mardika, bebas.  Gusti sampun nyaur pundhat utang kita. Gusti ngersakaken kita tetep gesang ing kanugrahanipun lan kamardikanipun.  Gusti ngersakaken kita terus tuwuh ngrembaka ing kawilujenganipun, malahan dados berkah ageng.  Gusti mboten ngersakaken kita kabelenggu lan kaiket malih ing dosa.  Dendam ingkang kasimpen, kauri-uri lan kawarisaken kadosdene oyot pahit ingkang ngilekaken toya pahit ngluberi manah kita, rasa-pangrasa kita, pikiran kita, pitembungan lan tumindak kita ingkang tundhonipun ndadosaken kita mboten saged nikmati katentreman peparingipun Gusti lan mboten saged ngedum berkahipun Gusti dhateng tiyang sanes.

Mila tumrap ingkang kepengin gesang tentrem rahayu wonten ing Gusti kedah saged mbucal lan nilaraken raos dendam punika kanthi apunten-ingapunten.

 

Kadospundi caranipun?

Pranyata mboten gampil paring pangapunten lan nilaraken raos dendam punika.  Malahan kathah tiyang ingkang nikmati karujit-rujit lan kairis-iris raos dendam punika, lajeng kacariyosaken mawantu-wantu dhumateng generasi salajengipun.  Saengga, generasi enggal ingkang saestunipun mboten mangertos cariyosipun, wusana ugi ndherek nandhang penyakit dendam punika.  Pinten kathahipun cariyos-cariyos, film-film silat miwah sinetron-sinetron ingkang isinipun namung dendam kusumat punika.

Pancen mboten gampil, para sadherek, menawi ingkang dados pusatipun dhiri kita piyambak. Ananging menawi ingkang dados pusat punika Gusti piyambak, bilih karana sih katresnanipun Gusti sampun paring pangapunten ingkang sakelangkung ageng dhumateng kita lan sadaya punika karana Gusti ngersakaken kangge kasaenanan kita, supados gesang kita terus tuwuh kanthi sehat jasmani-rohani, miwah mbabar berkah, tamtu sadaya saged kita tindakaken. Persis kadosdene tiyang ingkang nggadhahi utang kathah sanget ingkang sampun kabebasaken, ingkang nggadhahi raos syukur tanpa upami, saengga tansah kepengin ngedum gesangipun kaliyan sinten kemawon punika.  Karana panebusipun Sang Kristus, gesang kita punika sampun sanes gadhahan kita piyambak, ananging kagunganipun Sang Kristus. Pramila gesang kita ugi kedah sumaos konjuk nindakaken kersanipun Gusti kemawon (Rm 14:7-9).  Amin. [BRU]

 

Pamuji: KPK 261

 

Comments are closed.