wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 06 SEPTEMBER 2015
MINGGU BIASA
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1           : Amsal 22:1-2, 8-9, 22-23
Bacaan 2           : Yakobus 2:1-4
Bacaan 3           : Markus 7:24-37

Tema Bulanan   : Gereja Harus Menjadi Tanda Kehidupan
Tema Pekan      : Meniru Yesus dalam Wujud Kepedulian terhadap Sesama

 

Keterangan Bacaan

Amsal 22:1-2, 8-9, 22-23

Isi Amsal, yang diyakini merupakan petuah dari Raja Salomo yang bijak, dalam pasal ini merupakan nasihat –bahkan ancaman– bagi orang yang “curang”, yakni suka bertindak tidak adil kepada orang miskin dan lemah (khususnya ay. 8 dan 23). Namun justru merupakan berita sukacita dan penguatan bagi orang miskin dan lemah. Sekilas tampak bahwa Tuhan jelas akan menghukum orang yang “curang” dan membela orang lemah. Tetapi sesungguhnya bacaan ini justru ditujukan untuk (agar dibaca oleh) orang-orang kaya dan yang mempunyai kekuasaan. Sebab orang-orang kaya dan yang mempunyai kekuasaan inilah yang mempunyai potensi untuk berbuat “curang”. Ini merupakan peringatan pedas bagi kalangan menengah ke atas, agar: mereka mampu peduli terhadap siapapun, terutama sesamanya yang lemah dan menderita, demi kesejahteraan bersama, atau setidak-tidaknya demi nama baik mereka sendiri.

 

Yakobus 2:1-4

Perikop ini adalah sebuah peringatan dari Yakobus, ketua majelis jemaat di Yerusalem, kepada seluruh warga gereja di Yerusalem, pada paroh kedua abad pertama. Dalam peringatan ini ditegaskan bahwa seluruh orang Kristen hendaknya tidak “mengamalkan iman dengan memandang muka”, artinya: bahwa dalam berperilaku sesehari, orang Kristen hendaknya tidak “pilih-pilih”. Dalam budaya Timur di manapun juga, termasuk di Yerusalem saat itu, sudah menjadi sesuatu yang lumrah jika orang berpangkat dan orang kaya (apalagi yang sumbangannya besar bagi jemaat) sangat dihormati dan seringkali diperlakukan secara berbeda dari yang lain. Jemaat di Yerusalem pada zaman Yakobus ini pun ternyata juga mempunyai tradisi demikian. Tradisi seperti ini sudah mereka warisi sejak lama, bahkan sejak ketika mereka masih beragama Yahudi dan beribadah di sinagoge. Namun terhadap tradisi yang demikian, adik dari Tuhan Yesus ini sama sekali tidak setuju. Ketua majelis jemaat yang satu ini menganggap bahwa tradisi itu berpotensi merusak keutuhan dalam persekutuan, menjurus pada adanya ketidakadilan, dan lebih parah lagi: menodai ketulusan kasih. Oleh sebab itu dengan terang-terangan Yakobus berani, bukan hanya mengkhotbahkannya, namun lebih dari itu menuliskannya sebagai surat pastoral, yang dapat terekam sepanjang masa dan selalu dibacakan dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Harapannya, bahwa dengan adanya peringatan ini seluruh warga jemaat mampu memperlakukan orang lain dengan kepedulian yang sungguh-sungguh, yang tidak disilaukan oleh status jabatan, kekayaan, atau pengaruh apapun.

 

Markus 7:24-37

Perikop ini sungguh menarik, ketika puncak penekanannya terpusat pada pemahaman bahwa: di mana pun Tuhan Yesus berada, di situ terjadi kebaikan. Dalam bacaan ini dikisahkan bahwa Tuhan Yesus memang sudah termasyhur di mana-mana, baik di seluruh wilayah Galilea, maupun di luar propinsi itu. Bahkan dalam kisah ini, Ia pun sudah sangat dikenal di daerah bukan Yahudi (daerah orang kafir/Yunani). Oleh sebab itu tak mengherankan jika ketika Dia, bersama para murid-Nya, mengunjungi Tirus (sebuah kota berpenduduk Yunani) dengan maksud untuk bermeditasi dan menghindari kerumunan orang banyak, namun kedatangan-Nya itu pun tak dapat disembunyikan-Nya. Selalu saja ada orang yang ingin “menemui-Nya”. Sungguh menarik kisah Markus ini bahwa meski tidak dikehendaki-Nya, namun kedatangan dan permohonan setiap orang, bahkan orang kafir sekalipun, tidak pernah ditolak-Nya. Ia tidak pernah menimbulkan kekecewaan bagi siapapun. Ia selalu peduli terhadap siapapun. Maka sungguh tepat kesimpulan yang diutarakan oleh Markus di akhir perikop ini, bahwa: “”Ia menjadikan segala-galanya baik…”. Kalimat ini memang dipakai Markus untuk mengingatkan kita pada bunyi Kejadian 1:31 untuk menggambarkan situasi dan kondisi ketika Allah hadir: semua akan menjadi baik, teratur, dan damai sejahtera (shalom) ketika Allah hadir/ ada.

 

Benang merah 3 bacaan:

Ketiga bacaan ini sama-sama bermaksud menekankan perihal: kepedulian kepada orang lain. Memang, munculnya teks-teks ini bukanlah dilatar belakangi bahwa dalam kehidupan berjemaat zaman dulu para warga sama sekali belum mempunyai kepedulian kepada sesamanya, rasa peduli itu sudah ada, namun seringkali kepedulian yang mereka miliki tersebut masih berupa bentuk kepedulian yang tendensius, kepedulian yang “pilih-pilih”. Hal ini khususnya menjadi perhatian serius dalam Yakobus dan Markus. Oleh sebab itu berbagai peringatan dalam teks-teks ini ingin memperbaiki rasa kepedulian yang sudah dimiliki orang beriman itu agar semakin bertumbuh ke arah suatu kepedulian yang tulus, kepedulian yang “tidak membeda-bedakan”.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

“Bagaimanakah cara agar dapat tampil menarik di hadapan semua orang?”

Pertanyaan ini selalu dinilai penting oleh semua orang di sepanjang masa. Sebab pada dasarnya memang manusia itu tak lain adalah zoon politicon, yakni: sosok makhluk sosial, yang seharusnya mampu menjalani hidupnya bersama sesamanya dalam suatu komunitas. Maka tak mengherankan jika manusia selalu mempunyai naluri atau dorongan untuk dapat hidup bersama-sama dalam sebuah masyarakat, dan kondisi inilah yang biasa diistilahkan sebagai gregoriousness.

Oleh sebab itu, seseorang seharusnya mempunyai daya tarik pribadi dalam dirinya. Sebab, pada umumnya masyarakat akan menilai seseorang dari daya tarik yang dimilikinya. Daya tarik pribadi ini mencakup: daya tarik fisik, daya tarik kepribadian, dan daya tarik sosial. Namun, sebuah penelitian mengenai hal ini menunjukkan bahwa daya tarik kepribadian dan sosial cenderung lebih dihargai oleh masyarakat daripada daya tarik yang bersifat fisik seperti halnya ketampanan, kecantikan, atau kekuatan fisik.

Dari sini, dapatlah dimaklumi jika sejak zaman dulu seseorang selalu mengupayakan untuk memperoleh daya tarik diri, bahkan dengan cara apapun, agar ia dapat tampil menarik di hadapan semua orang dan dihargai oleh masyarakatnya.

Contoh yang umum dari upaya untuk memperoleh daya tarik diri ini adalah dengan jalan pemakaian susuk. Susuk adalah benda logam, yang pada umumnya terbuat dari emas, meski ada pula yang dari: berlian, perak, mutiara, intan, dsb., yang disematkan dalam tubuh seseorang dengan cara gaib, untuk menambah daya tarik diri pada orang yang memakainya. Oleh sebab itu jenis susuk ini ada bermacam-macam:

  • Susuk kecantikan
  • Susuk keberuntungan
  • Susuk untuk kekuatan, supaya jauh dari sial
  • Susuk kekuasaan: menundukkan atasan, tampil berwibawa, dsb.

Dan bukan hanya pada zaman dulu saja barang semacam ini diminati, sebab hingga sekarang pun pengiklanannya ternyata cukup marak di internet dengan penawaran sbb:

  • Paket Biasa: Rp. 449.000,-
  • Paket Khusus: Rp. 699.000,-
  • Paket Istimewa: Rp. 998.000,-

Selain susuk, banyak pula orang yang percaya bahwa daya tarik diri yang dipunyai manusia itu sangatlah tergantung pada aura yang dimilikinya. Yang dimaksud dengan aura itu adalah pancaran energi yang mengelilingi tubuh makhluk hidup, termasuk manusia. Ilmuwan modern mengistilahkan aura ini sebagai medan elektromagnetik yang membungkus tubuh makhluk hidup. Aura dikenal juga sebagai biolistrik atau lapisan listrik yang berpencar di sekitar tubuh, yang melambangkan kondisi energi, kesehatan, serta karakter seseorang.

Pancaran sinar aura ini terbagi dalam 2 macam, yakni : Aura Puraka dan Aura Resaka. Namun yang bermanfaat bagi manusia berkenaan dengan daya tarik dirinya adalah Aura Resaka. Sebab pancaran Aura Resaka ini bersifat ilahi, mistis dan sakral sehingga dapat menimbulkan pesona, daya tarik, atau kharismatik pada diri seseorang, terutama dalam pergaulan, karir/ jabatan, dan usaha mendapatkan pasangan hidup.

Itulah yang umumnya dipercaya orang hingga kini berkenaan dengan daya tarik diri yang seharusnya dipunyai oleh setiap manusia. Lalu bagaimana halnya dengan orang Kristen?

Memang, orang beriman pun seharusnya mampu menyadari dan mengukur daya tarik diri yang telah dimilikinya, untuk selanjutnya selalu berupaya meningkatkan daya tarik diri mereka itu agar menjadi semakin baik. Namun apakah juga dengan cara yang umumnya dilakukan oleh orang lain, yakni melalui susuk maupun aura?

Melalui kisah dalam Markus 7:24-37, kita menyaksikan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang manusia yang mempunyai daya tarik tertentu bagi masyarakat Galilea di masa itu. Kemanapun Dia pergi, orang banyak selalu mencari-Nya (ay. 24). Di mana pun Dia berada, orang banyak selalu berusaha untuk menemui-Nya (ay. 31-32).

Memang, Tuhan Yesus telah berhasil memikat hati orang banyak, memikat hati semua kalangan. Dia telah memberi teladan yang baik bagi kita di masa kini mengenai cara bagaimanakah seharusnya mengupayakan dan mempertahankan daya tarik diri untuk selalu mempunyai kesan baik di hadapan masyarakat. Namun sesungguhnya ada hal yang perlu direnungkan secara mendalam, yakni: dengan cara apakah Dia berhasil memikat ketertarikan orang banyak terhadap diri-Nya? Apakah karena penampilan-Nya yang mengagumkan? Apakah karena kepiawaian-Nya dalam menyembuhkan penyakit? Ataukah karena kuasa-Nya yang luar biasa dalam mengusir setan?

Ya, pasti sebagian karena hal-hal itu: Ia selalu berpenampilan anggun dan menarik, Ia juga mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit (ay. 32-35), Ia juga berkuasa mengusir segala bentuk roh jahat (ay. 25-30). Namun itu bukanlah yang utama, sebab yang terpenting adalah bahwa: karena “Ia menjadikan segala-galanya baik…” (ay. 37). Artinya, bahwa meski Tuhan Yesus memiliki segala bentuk kemampuan, tetapi yang terutama adalah bahwa: Dia mau berbuat sesuatu demi kebaikan masyarakat, demi kebaikan orang lain. Dia mau menerapkan kemampuan yang dimiliki-Nya dalam bentuk aksi/ tindakan demi kemaslahatan orang banyak.

Itulah juga yang seharusnya diteladani oleh setiap orang Kristen di masa kini, yakni: memiliki daya tarik diri di hadapan masyarakatnya karena perbuatan dan kepedulian mereka terhadap kesejahteraan sesama. [BC]

 

Nyanyian: KJ 424:1-2

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

“Kadospundi caranipun supados kita saged sesolah kanthi nengsemaken ing sangajengipun tiyang sanès?”

Pitakènan menika èstu dipun raosaken minangka prekawis ingkang wigati déning sedaya tiyang. Amargi nyatanipun pancèn manungsa menika sinebat zoon politicon, inggih menika makhluk sosial, ingkang kedahipun kuwagang nindakaken gesang sesarengan kaliyan sesaminipun ing satengahing komunitas. Mila mboten nggumunaken menawi manungsa tansah nggadhahi naluri utawi krenteg supados saged gesang sesarengan ing satengahing masyarakat, lan kawontenan menika ingkang limrahipun kawastanan minangka gregoriousness.

Pramila, saben tiyang kedahipun sami nggadhah daya tarik pribadi ing dhirinipun. Amargi, umumipun masyarakat badhe mbiji tiyang sanes menika saking daya tarik ingkang dipun gadhahi. Ingkang kalebet daya tarik pribadi inggih menika: daya tarik raga (fisik), daya tarik kapribadèn, lan daya tarik sosial. Nanging, salah satunggaling penelitian magepokan ing bab menika nedahaken bilih daya tarik kapribadèn lan sosial langkung dipun gatosaken déning masyarakat katimbang daya tarik ingkang asipat fisik, kadosdéné bagus lan ayuning rupa, utawi kakiyataning badan.

Saking ngriki, prelu dipun sadhari kanthi lebet bilih nyatanipun wiwit rumiyin mila manungsa tansah ngupaya sageda nggadhahi daya tarik dhiri, malah kanthi mawarni cara, supados piyambakipun saged sesolah kanthi nengsemaken ing sangajengipun tiyang sanès lan kinurmatan déning masyarakatipun.

Conto ingkang umum ing bab ngupaya daya tarik dhiri inggih menika kanthi cara ngagem susuk. Susuk inggih menika barang logam, ingkang umumipun kadamel saking mas, senajan ugi wonten ingkang kadamel saking: berlian, pèrak, mutiara, intan, lsp., ingkang dipun pasang ing salebeting badan kanthi cara gaib, ginanipun supados sageda nambahi daya tarik dhirinipun sok sintena ingkang ngagem. Pramila susuk menika pèranganipun warni-warni:

  • Susuk kecantikan
  • Susuk panglaris
  • Susuk kanggé kakiyatan badan, supados tebih saking bebaya
  • Susuk panguwaos: ndadosaken atasan saged manut, nggadhah kawibawan, lsp.

Lan mboten namung ing jaman rumiyin kémawon barang menika dipun padosi, awit ngantos sepriki iklan-nipun jebul taksih kathah ing internet kados mekaten:

  • Paket Biasa: Rp. 449.000,-
  • Paket Khusus: Rp. 699.000,-
  • Paket Istimewa: Rp. 998.000,-

Salintunipun susuk, kathah ugi tiyang ingkang pitados bilih daya tarik dhiri menika ugi gumantung saking aura ing salebeting dhiri manungsa. Aura inggih menika soroting energi (daya) ingkang wonten ing sakupenging badanipun sadaya makhluk, kalebet manungsa. Para ilmuwan modern mastani aura menika minangka medan elektromagnetik ingkang mbungkus badanipun makhluk. Aura dipun gagas ugi minangka biolistrik utawi lapisan listrik ingkang sumunar ing sakupengipun badan, ingkang nedahaken kawontenanipun energi, kasèhatan, sarta watakipun tetiyang.

Sumunaring cahya aura menika kapèrang dados 2 macem, inggih menika: Aura Puraka lan Aura Resaka. Nanging ingkang piguna tumrap manungsa gandheng kaliyan daya tarik dhiri inggih menika Aura Resaka. Awit sumunaring Aura Resaka menika asipat ilahi, mistis lan sengker satemah saged mujudaken daya tarik lan kharisma tumraping tetiyang, mirungganipun anggenipun caturan, ngupaya karir/ jabatan, lan ngupaya sisihan.

Menika umumipun ingkang dipun pitados déning mèh sedaya tiyang ngantos sepriki ing bab daya tarik dhiri ingkang kedahipun dipun gadhahi déning saben manungsa. Lajeng kados pundi tumraping tiyang Kristen piyambak?

Pancèn, sedaya tiyang pitados ugi kedahipun inggih kuwagang nyadhari lan ngukur daya tarik dhiri ingkang sampun dipun gadhahi, temah salajengipun tansah ngupaya daya tarik dhirinipun menika sageda ngrembaka tumuju ing kasaénan. Nanging menapa ugi kanthi cara ingkang umumipun dipun lampahi déning tiyang sanès, inggih menika mawi susuk utawi aura?

Lumantar cariyos ing Markus 7:24-37, kita nyeksèni bilih Gusti Yésus menika piyantun ingkang kagungan daya tarik dhiri ingkang agung tumrap masyarakat ing Galilea rikala semanten. Dhateng pundia kemawon Panjenenganipun tindak, tiyang kathah tansah madosi (ay. 24). Wonten ing pundia kemawon Panjenenganipun lenggah, tiyang kathah tansah ngupaya manggihi (ay. 31-32).

Pancèn, Gusti Yésus sampun kasil nengsemaken manahipun tiyang kathah, nengsemaken manahipun sadaya kalangan. Panjenenganipun sampun paring tuladha saé kagem kita ing jaman samangke bab kados pundi kita kedahipun ugi saged ngupaya daya tarik dhiri ingkang nengsemaken ing satengahipun masyarakat. Nanging, sejatinipun wonten bab ingkang prelu karaosaken kanthi lebet, inggih menika: kanthi cara kados menapa Gusti Yésus temah saged nengsemaken manahipun tiyang kathah? Menapa karana Panjenenganipun kagungan sesolah ingkang èlok? Menapa karana Panjenenganipun saged nyarasaken tiyang sakit? Ugi menapa karana Panjenenganipun kagungan kuwaos nundhung dhemit?

Inggih, pancèn cetha karana panguwaosipun Gusti Yésus ing bab-bab menika: Panjenenganipun pancèn kagungan sesolah ingkang èlok, Panjenenganipun pancèn saged nyarasaken tiyang sakit (ay. 32-35), Panjenenganipun ugi pancèn kagungan kuwaos nundhung dhemit (ay. 25-30). Nanging sedaya menika sanes jalaran ingkang paling ageng, amargi ingkang paling ageng inggih menika karana: “Panjenengané iku ndadèkaké becik samubarang kabèh” (ay. 37). Tegesipun, bilih senajan Gusti Yésus kagungan sadaya panguwaos, nanging jalaran ingkang paling ageng inggih: karana Panjenenganipun karsa makarya kagem kasaènanipun masyarakat, kagem kasaènanipun tiyang sanès. Panjenenganipun karsa mujudaken panguwaosipun arupi aksi/ pakaryan murih kasaènanipun tiyang kathah.

Inggih menika ugi ingkang kedah dipun tuladha déning saben tiyang Kristen ing jaman samangké: anggadhahi daya tarik dhiri ing satengahing masyarakatipun lantaran panyambut damel lan raos preduli tumrap karahayonanipun sesami. [BC]

Pamuji: KPK 174:1-2

 

 

MINGGU, 13 SEPTEMBER 2015
MINGGU BIASA
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1           : Kidung Agung 7:6-13
Bacaan 2           : Yakobus 3:1-12
Bacaan 3           : Markus 8:27-38

Tema Bulanan   : Gereja Harus Menjadi Tanda Kehidupan
Tema Pekan      : Berpijak di Bumi dengan Berani Menghadapi Kenyataan

 

Keterangan Bacaan

Kidung Agung 7:6-13

Kitab ini kita kenal dengan nama Kidung Agung, meski lebih banyak orang Kristen di dunia ini suka menyebutnya sebagai Kidung Salomo (Song of Solomon) sebab isinya diyakini merupakan puisi-puisi yang dikumpulkan oleh Raja Salomo pada abad 10 sM. Puisi-puisi ini memang jarang dibacakan dalam ibadah-ibadah gerejawi karena isinya dianggap agak cabul dan kurang patut. Padahal dari dulu orang Yahudi, ketika mendengar isi syair ini, langsung membayangkan dalamnya cinta kasih Allah terhadap umat-Nya yang diungkapkan melalui bahasa-bahasa kiasan. Dan khususnya, berkenaan dengan isi ps. 7:6-13, di sini hendak diungkapkan bahwa Allah sedang mengajak manusia, ciptaan-Nya yang juga merupakan kawan sekerja-Nya itu, untuk menatap dunia sebagai suatu tempat/ ladang yang penuh “harapan”:

Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga! Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu!” (7:12).

Tampak tegas dalam perikop ini bahwa Tuhan tidak menghendaki bila manusia memandang hidupnya di dunia ini sebagai hidup yang hanya penuh dengan masalah, hanya penuh dengan derita, namun sebaliknya: supaya manusia selalu berpandangan positif, bahwa kehidupan yang dilaluinya di dunia ini adalah hidup yang penuh pengharapan, hidup indah yang sungguh menyenangkan, sebab hidup itu tidak dialami manusia sendirian melainkan bersama Tuhan.

 

Yakobus 3:1-12

Perikop ini adalah sebuah peringatan dari Yakobus, ketua majelis jemaat di Yerusalem, kepada seluruh warga gereja di Yerusalem, pada paroh kedua abad pertama. Dalam peringatan ini ditegaskan bahwa seluruh orang Kristen hendaknya mampu menjaga diri, terutama menjaga perilakunya dan menjaga lidahnya agar tetap sejalan dengan kehendak Tuhan. Ketua majelis jemaat Gereja Yerusalem, yang sesungguhnya juga adik Tuhan Yesus ini, ingin menekankan bahwa seorang Kristen hendaknya mampu menjadi ‘tuan’ dan berkuasa, baik atas dirinya sendiri maupun atas segala persoalan hidup yang dihadapinya setiap hari. Janganlah sampai ada orang Kristen yang justru hidupnya dikendalikan oleh keinginan manusiawinya (lidahnya), atau bahkan menjadi korban dari permasalahan hidup yang tengah dihadapinya, namun sebaliknya: mereka seharusnya mampu menggunakan kekuasaan yang diberikan Tuhan untuk mengarahkan (menyetir) hidupnya agar sesuai dengan kehendak Tuhan, yakni menuju pada kebaikan, menuju pada damai sejahtera. Oleh sebab itu “tentu pohon ara tidak dapat menghasilkan buah zaitun dan pokok anggur tidak dapat menghasilkan buah ara”, artinya: manusia itu berasal dari Allah dan diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, bukan malah mengabdi kepada nafsu duniawinya sendiri. Mereka haruslah sejalan dengan Allah, seperti pohon ara yang berbuah ara juga, sebab demikianlah yang memang seharusnya terjadi.

 

Markus 8:27-38

Sudah menjadi harapan seluruh orang Yahudi, dari dulu hingga sekarang, bahwa seorang Mesias adalah sosok tokoh kehidupan (politik, ekonomi, sosial, budaya dan agama) yang dikirim oleh Allah untuk menyempurnakan kehidupan Israel. Maka Mesias itu setidaknya haruslah seperti Raja Daud, yang mampu membawa kemerdekaan politik, kejayaan bangsa dan negara, juga kesejahteraan ekonomi masyarakat Yahudi. Paradigma inilah yang dalam ilmu teologi biasa disebut sebagai: Pengharapan Mesianis. Oleh sebab itu ketika Tuhan Yesus –yang dianggap masyarakat sebagai seorang Mesias– justru bukannya mengumumkan kejayaan dan kemerdekaan tetapi malah memikul salib, bukannya mengumumkan kesejahteraan tetapi malah penderitaan dan penyangkalan diri (ay. 31 dan 34), wajarlah jika semua orang lalu menjadi heran dan mulai meragukan ke-Mesias-an-Nya. Maka, mumpung belum kebablasan, serta-merta Petrus langsung “menarik Yesus ke samping dan menegor Dia” (ay. 32). Baru saja murid pemberani ini mengakui ke-Mesias-an Yesus di hadapan orang banyak (ay. 29), namun tak lama kemudian Yesus sendiri justru terang-terangan menyangkalnya.

Tetapi memang itulah kenyataan tugas mesianik yang sedang diemban oleh Tuhan Yesus: menderita sengsara dan mati demi keselamatan (kemerdekaan) seluruh ciptaan. Dan semua orang yang mengikut-Nya pun pasti akan mengalami hal yang tak jauh beda dengan apa yang dialami Yesus, yakni: menanggung banyak penderitaan dan ditolak di mana-mana (ay. 31-32a).

Sekali lagi: inilah kenyataan yang harus dihadapi, baik oleh Tuhan Yesus maupun oleh seluruh pengikut-Nya. Maka janganlah sekali-kali lari dari kenyataan hidup yang seperti itu, sebab adalah justru lebih baik menghadapinya dengan ketegaran iman.

 

Benang merah 3 bacaan:

Ketiga bacaan ini sama-sama bermaksud menekankan perihal: keberanian menghadapi kenyataan. Memang, hidup di dunia ini tak akan pernah lepas dari berbagai masalah. Namun selama masih ada masalah, berarti juga masih ada pengharapan. Kalau hidup yang dijalani itu selalu berhadapan dengan yang baik-baik saja, maka pasti itu adalah hidup yang membosankan, dan yang membosankan itu takkan pernah memunculkan adanya pengharapan. Oleh sebab itu janganlah takut untuk berpengharapan, dan itu juga berarti janganlah takut untuk berhadapan dengan masalah hidup. Baiklah, segala masalah yang ada itu mampu dihadapi dengan ketegaran iman, dan oleh karena itu hidup ini haruslah sejalan dengan Allah, sejalan dengan kehendak-Nya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Hidup ini tak akan pernah terlepas dari masalah. Dari bangun tidur pagi, melaksanakan segala aktifitas, hingga berangkat tidur lagi di malam hari, tak ada satupun manusia yang tidak berurusan dengan yang namanya: masalah. Contoh sepele: Pergi ibadah minggu ke gereja itu pun bisa menjadi sebuah masalah:

  • Ketika bangun pagi, dan sadar bahwa ini hari Minggu, lalu menimbang-nimbang mau ikut ibadah jam berapa, seorang Kristen diperhadapkan dengan berbagai pilihan: saya sebetulnya senang yang bahasa Indonesia, tetapi itu rasanya terlalu pagi, padahal kalau ingin lebih santai ikut yang ibadah siang, tetapi itu pakai bahasa Jawa, dan saya tidak terlalu nyaman dengan bahasa Jawa.
  • Ketika sudah sampai di gereja, lalu mengambil lembaran berita jemaat, dan tahu siapa yang akan berkhotbah di hari itu, ia berpikir lagi: wah kok dia yang berkhotbah, pasti ibadahnya nanti lama dan isi khotbahnya gak jelas…

Itulah hidup: “hidup yang selalu penuh dengan masalah”, meski itu sesungguhnya adalah masalah pribadi kita sendiri, yang kadangkala hanya muncul karena disebabkan oleh pergumulan pemikiran kita sendiri.

Namun yang terpenting dari itu: Bagaimanakah seseorang seharusnya menjalani hidupnya yang ia rasakan sebagai hidup yang penuh dengan masalah itu?

  • Ada orang yang menghadapi masalahnya itu dengan perjuangan keras: berusaha tetap memahami isi Alkitab meski siapapun yang berkhotbah.
  • Ada yang hanya ikut arus (kèlu banyu), pokoknya dilewati saja: asal berangkat dan asal mendengar khotbah, soal mengerti atau tidak itu urusan belakang.
  • Namun ada juga yang menjalaninya dengan cara escapism: tidak ke gereja.

Escapism ini adalah: upaya melarikan diri dari kenyataan (masalah) hidup. Semakin terbiasa melakukan escapism, maka lama-kelamaan seseorang akan menderita penyakit: drapetomania, yakni semacam penyakit mental yang memunculkan dorongan kuat untuk melarikan diri, entah itu melarikan diri dari rumah, melarikan diri dari situasi dan kondisi yang tak enak, atau bahkan melarikan diri dari tanggung jawab.

Ada contoh menarik berkenaan dengan escapism ini, yakni mengenai kisah hidup seorang kaisar Kerajaan Romawi yang terkenal kejam, yaitu Kaisar Nero. Sejak kecil Nero suka berkuda, dan ketika dewasa ia kecanduan balapan kereta. Tetapi mereka semua yang berlomba dengan dia mengetahui bahwa sebaiknya mereka mengalah.

Pada suatu malam, ketika ia baru pulang dari arena balapan, Poppea (isterinya) menegurnya secara halus karena ia pulang terlalu larut. Karena teguran isterinya itu Nero lalu naik pitam dan menendang isterinya itu pada bagian perut. Dan karena Poppea saat itu sedang hamil, maka ia langsung meninggal. Dengan sangat menyesal Sang Kaisar kemudian memerintahkan suatu pemakaman kenegaraan dan mendirikan sebuah kuil untuk menghormati isterinya itu. Kabarnya, untuk melaksanakan upacara pemakaman itu Nero telah membakar kemenyan Siria sebanyak seluruh hasil 1 tahun di sisi jenazah isterinya. Tetapi tentu saja dupa itu tidak bisa menghidupkannya kembali.

Kaisar Nero sangat mencintai Poppea, dan oleh sebab itu tak lama kemudian ia segera terpikat oleh seseorang yang sangat mirip dengan mendiang isterinya, bernama Sporus, namun sayangnya Sporus ini adalah seorang lelaki. Namun Nero tidak peduli, ia segera memerintahkan untuk mengebiri Sporus, lalu menikahinya dengan upacara perkawinan yang resmi, dan memperlakukannya dalam segala hal seperti seorang wanita. Sehubungan dengan itu seorang bijaksana pernah berkata: “Alangkah baiknya apabila ayah Nero mempunyai seorang isteri semacam itu, sebab tentu tidak akan ada orang seperti Nero di muka bumi”.

Itulah kisah Nero, seorang kaisar yang lari dari kenyataan hidup, lari dari masalah. Ia merasa tidak mampu mengatasi masalah hidup yang sedang dihadapinya, yakni bahwa isterinya telah tiada, namun justru sebaliknya malah mengarahkan hidupnya pada semacam “pelarian”, dengan maksud untuk melupakan kepedihan hidup yakni dengan jalan bertindak di luar nalar.

Bukan hanya di zaman dulu saja, namun bahkan di zaman sekarang ini orang jauh lebih mudah untuk melarikan diri dari masalah. Malah, di zaman sekarang ini banyak sekali fasilitas yang dapat membantu manusia untuk melupakan masalah hidupnya: mulai dari film, game (bahkan hingga yang memacu adrenalin), hingga NAPZA (narkotika, psikotropika, zat aditif, dan alkohol).

Padahal dalam bacaan kita ini, Tuhan Yesus menghendaki agar umat-Nya tidak menjadi orang yang hidup dengan cara escapism.

Sejak awal Ia menerangkan bahwa hidup menjadi pengikut-Nya itu tidaklah mudah: sebab pengikut Yesus pasti akan mengalami hal yang tak jauh beda dengan apa yang dialami Yesus, yakni: menanggung banyak penderitaan dan ditolak di mana-mana (ay. 31-32a). Namun mendengar itu, Petrus segera menarik Yesus dan menegor Dia (ay. 32b). Maka Ia segera menghardik Petrus yang berusaha “menutup-nutupi” masa depan pengikut yang seperti itu (ay. 33).

Jika ingin menerima keselamatan kekal, maka janganlah takut tidak selamat ketika menjalani hidup di dunia. Hadapilah kenyataan hidup dengan tabah dan bersemangatlah! Itulah yang saat ini sedang difirmankan Tuhan.

Oleh sebab itu: The best way to escape from your problem is to solve it. (cara terbaik untuk lari dari masalah itu tak lain adalah dengan jalan: menyelesaikannya). [BC]

 

Nyanyian: KJ 439:1, 2, 4

—-

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Gesang menika mboten badhé saged uwal saking reribed (masalah). Wiwit énjing nalika nembé wungu, nindakaken panyambut damel, ngantos dumugi dalu badhé ngaso malih, mboten wonten satunggal manungsa ingkang mboten pepanggihan kaliyan reribed. Conto sepélé: tindak tumuju pangabekti minggu ing gréja menika ugi saged ndadosaken satunggal reribed:

  • Nalika wungu énjing, lan sadhar bilih menika dinten Minggu, lajeng ngupaya mancasi badhe tumut pangabekti jam pinten, tiyang Kristen manggihi sapèrangan pilihan: kula sejatosipun remen ingkang basa Indonesia, nanging kok pangabektinipun énjing sanget, mangka menawi kepéngin mboten kesusu saged ndherek pangabekti siang, nanging menika nganggé basa Jawi, lan kula mboten sreg mawi basa Jawi menika.
  • Nalika sampun dumugi ing gréja, lajeng mundhut layang pawartos pasamuwan, lan nguningani sinten ingkang badhé medhar khotbah ing dinten menika, piyambakipun menggalih: wah kok tiyang menika ingkang medhar khotbah, mesthi pangabektinipun mangké nemen dangunipun lan isinipun mboten cetha…

Inggih menika gesang: “gesang ingkang tansah kebak déning reribed”, senajan menika sejatosipun inggih masalah pribadi kita piyambak, ingkang kadhangkala namung karana pangraos saking pemanggih kita piyambak.

Nanging ingkang langkung wigatos saking menika: “Kedah kados pundi patrapipun tiyang ingkang nindakaken gesangipun ingkang kebak déning reribed?”

  • Wonten tiyang ingkang mrangguli reribed menika kanthi tumemen: tetep ngupaya ngraosaken isining Kitab Suci kanthi mboten pilih-pilih sinten ingkang saweg ngotbahaken.
  • Wonten tiyang ingkang namung kèlu banyu, inggih menika pokokipun namung bidhal lan namung mirengaken khotbah, prekawis ngertos menapa mboten menika urusan wingking.
  • Nanging, ugi wonten tiyang ingkang mrangguli reribedipun kanthi lampah èscapism: mboten tindak gréja.

Èscapism inggih menika: mlajeng saking kasunyatan lan reribeding gesang. Sangsaya kulina anggènipun nindakaken èscapism, dangu-dangu tiyang menika saged kénging penyakit: drapétomania, inggih menika penyakit mental ingkang nuwuhaken krenteg mlajeng, dadosa mlajeng saking dunungipun, mlajeng saking kawontenan ingkang mboten pènak, ugi mlajeng saking tanggel jawabipun.

Wonten conto wigatos ing bab èscapism menika, ingkang naté dipun alami déning Kaisar Karajan Rum ingkang paling kejem: Néro.

Wiwit alit Néro estu remen nitih turangga, lan nalika déwasa piyambakipun nyandu balapan kréta. Nanging para sekabatipun sami nitèni bilih langkung prayogi ngalah kemawon nalika ndhèrèk balapan sesarengan kaliyan Prabu Néro.

Satunggaling dalu, nalika Néro nembé kondur saking balapan kréta, Poppèa (sémahipun) ngémutaken piyambakipun kanthi alus supados mboten kondur dalu malih. Karana pepènget saking sémahipun, menika lajeng ndadosaken Prabu Néro muntap, lan tumuli njejeg madharaning sémahipun. Lan karana Poppèa ingkang kala semanten saweg ngandheg, piyambakipun lajeng nemahi seda. Kanthi gela Sang Prabu lajeng paring prèntah supados katindakaken upacara pametaking layon ingkang agung lan kayasa satunggiling tugu kagem ngurmati sémahipun menika. Kabaripun, kagem nindakaken upacara pametaking layon menika Prabu Néro sampun nelasaken menyan Siria kathahipun 1 taun panènan ing sasisihipun layoning sémahipun. Nanging tamtu dupa menika mboten saged mungokaken layoning sémahipun.

Prabu Néro estu tresna dhateng Poppèa, lan mila mboten dangu sasampunipun menika Sang Prabu lajeng kapincut déning satunggal piyantun ingkang memper sanget kaliyan swargi sémahipun, asmanipun Sporus, nanging èmanipun Sporus menika piyantun kakung. Nanging Sang Prabu mboten preduli, piyambakipun lajeng dhawahaken prèntah supados Sporus dipun kebiri, tumuli dipun nikahi sacara resmi, lan kaanggep minangka èstunipun wanita. Gandhèng kaliyan menika wonten satunggaling tiyang wicaksana ingkang dhawuh: “Becik temen menawa bapakné Néro kang duwé sandhingan kaya mangkono, sabab temtu bakal ora ana wong kaya Néro ing salumahing jagad”.

Kados mekaten cariyos bab Néro, satunggaling Kaisar tanah Rum ingkang ngupaya mlajeng saking kasunyataning gesang, mlajeng saking reribedipun. Piyambakipun rumaos mboten kuwagang nyanggi reribeding gesang ingkang saweg dipun prangguli, inggih menika bilih sémahipun sampun seda, nanging kosok wangsulipun malah tumuju ing “pelarian”, kanthi karep supados piyambakipun saged supé kaliyan masalahipun kanthi nuwuhaken tumindak ing sajawining nalar.

Boten namung ing jaman rumiyin kémawon, nanging malah ing jaman samangké tiyang langkung gampil mlajeng saking reribeding gesang. Wah malih, ing jaman samangké langkung kathah uba-rampé ingkang saged mbiyantu manungsa saged supé kaliyan masalah gesangipun, ing antawisipun: film, game (malah ingkang saged ‘memacu adrenalin’), ugi NAPZA (narkotika, psikotropika, zat aditif, dan alkohol).

Mangka ing waosan kita samangké, Gusti Yésus ngersakaken supados umat-Ipun mboten dados tiyang ingkang gesang kanthi patrap èscapism.

Gusti Yésus paring dhawuh bilih gesang tut wingking Panjenenganipun menika mboten gampil: amargi pandhèrèkipun Gusti menika tamtu badhé ngalami prekawis ingkang mboten tebih bèntenipun kaliyan ingkang dipun alami déning Gusti Yésus pribadi, inggih menika: kudu nglampahi sangsara akèh, sarta ditampik déning para pinituwa lan para pangareping imam tuwin para ahli Torèt, banjur disèdani…(ay. 31).

Nanging Pétrus banjur nggèrèd minggir Gusti Yésus lan ngaturi pepènget Panjenengané (ay. 32b). Mila Panjenenganipun lajeng duka dhumateng Pétrus ingkang ngupaya “nutup-nutupi” kasunyataning gesang ingkang badhé dipun lampahi déning para pandhèrèkipun Gusti.

Menawi kepéngin nampi kawilujengan sejatos, mila sampun ngantos ajrih mboten wilujeng nalika nindakaken gesang padintenan ing donya menika. Mangga sami tatag lan gumrégah anggènipun mrangguli kasunyataning gesang ing donya menika, amargi pancèn menika ingkang dipun karsakaken déning Gusti.

Pramila: The best way to escape from your problem is to solve it. (cara paling saé anggènipun saged mlajeng saking masalah menika mboten sanès inggih namung kanthi cara: ngrampungaken). [BC]

 

Pamuji: KPK 91:1 lan 3

Kata Kunci Artikel Ini:

khotbah minggu, kotbah minggu, rancangan khotbah gkjw, khotbah minggu ini, rancangan kotbah, khotbah minggu sengsara, kotbah gkjw, YEHEZKIEL 17:22-24, khotbah kenaikan tuhan yesus, amsal 9:1-6

Comments are closed.