Rancangan Khotbah Minggu
Minggu, 14 Maret 2010
Pra Paskah IV
Stola: Ungu
Tema Bulanan : Menghargai martabat hidup manusia sebagai Gambar Allah
Keselamatan Allah Bagi Seluruh Umat Manusia, Tanpa Kecuali
Bacaan I : Yosua.5:9-12
Bacaan II : II. Kor.5:17-21
Bacaan III : Lukas 15:1-3; 11-32
Sekilas Konteks Dan Makna Ketiga Bacaan
Bacaan I Yosua 5:9-12
Bacaan ini mengisahkan bagian perjalanan bangsa Israel memasuki Kanaan, dimana mereka atas pertolongan Tuhan telah berhasil menyeberangi Sungai Yordan dan memasuki wilayah Kanaan yang menjadi tujuan mereka sejak keluar dari Mesir (tanah perbudakan) 40 tahun sebelumnya. Mereka tiba di Gilgal. Salah satu arti nama Gilgal adalah menggelindingkan. Dalam konteks peristiwa itu dimaknai tempat dimana Allah menghapuskan cela Israel, yaitu dengan menuntunnya hingga di Kanaan menjadi bangsa yang merdeka dan memiliki tanah air sendiri.
Bagian ini ditutup dengan perayaan Paskah, sebuah hari besar yang merayakan keluaran (pembebasan Allah). Sesudah itu untuk pertamakalinya setelah 40 tahun mereka makan gandum (roti) lagi, di mana sebelumnya di padang gurun mereka makan manna. Mereka makan gandum bukan dalam suasana perbudakan seperti ketika di Mesir melainkan dalam suasana baru sebagai bangsa yang merdeka. Mereka makan gandum yang dihasilkan tanah Kanaan. Ini merupakan pemeliharaan Allah dan harapan akan kehidupan baru yang terjamin ditanah yang dijanjikan Tuhan sendiri.
II Korintus 5 : 17-21
Dalam bacaan ini, Rasul Paulus menekankan bahwa Kristus telah mati untuk semua orang. Kematian-Nya yang tidak bersalah menghasilkan pembebasan dan kehidupan bagi semua orang. Hidup baru adalah milik mereka yang telah mati bersama Kristus dalam baptisan. Dengan demikian, orang percaya hidup dalam kehidupan yang baru di dalam dan untuk Allah. Kehidupan Rasul Paulus sendiri merupakan sebuah contoh dari karya penyelamatan Allah tersebut. Dengan pembaruan yang dilakukan Allah di dalam Yesus Kristus, Rasul Paulus (dan semua orang percaya) terpanggil dalam kehidupan yang diteladankan Kristus yaitu menjadi pelayan pendamaian (pelayan rekonsiliasi), karena untuk itulah kita diperbarui.
Lukas 15:1-3; 11-32
Perumpamaan tentang anak yang hilang ini hanya terdapat dalam Injil Lukas.
Meski berjudul Anak Yang Hilang namun lewat perumpamaan ini Lukas menampilkan pribadi sang Ayah yang penuh kasih.
Teks dapat dibagi 3:
- Kritik terhadap Yesus (15:1-3.a)
- Perumpamaan tentang anak bungsu (15:11-24)
- Perumpamaan tentang anak sulung (15:25-32)
Kritik terhadap Yesus.
Pemungut cukai dan orang berdosa dalam Lukas dikumpulkan manjadi satu kelompok Mereka dianggap tidak bermoral, tidak beragama dan diperlakukan oleh pemuka agama Yahudi sebagai kelompok yang harus dihindari. Namun justru kelompok manusia buruk itulah yang mencari Yohanes pembabtis 3:12 dan mendekati Yesus untuk mendengarkan ajarannya.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut melihat Yesus dekat dengan orang-orang berdosa. Dalam menanggapi sikap mereka yang tidak setuju jika Yesus dekat dengan orang berdosa itulah perumpamaan ini disampaikan. Dua perumpamaan sebelumnya adalah perumpamaan yang memiliki makna yang serupa.
Perumpamaan tentang anak bungsu ( ay.11-24)
Ia digambarkan sebagai seorang yang tidak baik dan tidak bermoral, karena: Pertama Ia meninggalkan ayahnya sebelum ayahnya meninggal. Ke-dua, ia meminta bagian warisan semasa ayahnya masih hidup (meski itu merupakan bagiannya yaitu 1/3 dari harta ayahnya) karena 2/3 adalah hak anak sulung. Dan itupun merupakan harta yang bergerak sedangkan yang tidak bergerak seperti rumah dan tanah adalah tetap dalam kausa ayahnya. Ditambah lagi sikap hidup berfoya-foya menghabiskan harta pemberian ayahnya itu.
Dalam penderitaannya yang diakibatkan kehabisan hartanya, si bungsu telah berjuang untuk tetap hidup dengan bekerja sebagai orang upahan memelihara babi namun ia tetap sangat menderita kelaparan dan tidak ada orang yang menghiraukannya. Ia teringat rumah bapanya dimana hamba hidup lebih baik dan berkecukupan. Ia memutuskan untuk pulang.
Meskipun ia menyadari kesalahannya tetapi ia pulang bukan untuk meminta pengampunan supaya diterima sebagai anak lagi, karean ia sadar ia tak layak lagi untuk itu, melainkan melamar sebagai hamba di rumah ayahnya. Tetapi ayah yang penuh kasih itu menyambutnya dengan sukacita dan menerima sebagai anaknya yang telah hilang dan kini kembali, yang telah mati dan hidup lagi. Karenanya ayah itu menandai penerimaanya dengan: memberi jubah, sepatu, dan menyembelih lembu. Semua itu hanya diperlakukan seorang ayah kepada anaknya tidak kepada hamba. Dengan cara itu dimaksudkan juga supaya masyarakat juga dapat menerimanya sebagai seorang anak dalam keluarga itu dan bukan hamba.
Perumpamaan tentang anak sulung:
Anak sulung adalah gambaran anak yang sangat taat, setia dan mengasihi ayahnya Tidak mau meninggalkannya dan ia rajin bekerja di ladang).
Ia tidak dapat menerima apa yang dilakukan ayahnya terhadap adiknya yang telah berbuat dosa. Seharusnya adiknya tidak layak diterima kembali dirumah itu, tetapi sebaliknya, ayahnya malah menerinya dan menyambutnya dengan pesta yang tidak pernah dilakukan untuk dirinya sebagai anak sulung yang taat. Hal ini membuat anak sulung marah, cemburu dan irihati. Ia tidak menyebut adiknya sebagai adik tetapi sebaga anak Bapa. Ia tidak mau masuk ke rumahnya. Ini merupakan tanda bahwa ia hendak memutuskan relasi/hubngannya dengan keluarga atau ayahnya yang dianggap tidak adil itu. Namun dengan kasih saying ayahnya dating kepadanya dan membujuknya. Ayahnya menyapa dengan mesra: “anakku…” . Ayah yang baik itu juga tidak mencela anaknya yang sulung itu dan tidak menyatakan bersalah terhadap sikapnya melainkan menjelaskan mengapa ia melakukan semua itu. Ayahnya mengajak bersukacita bersama karena adiknya yang telah mati (dianggap hilang atau mati secara moral) telah hidup kembali.
Perumpaan ini tidak diakhiri dengan kejelasan sikap anak bungsu dalam menanggapi ajakan bapanya. Yang pasti sebagaimana terhadap sikap anak bungsu, di sini juga bapa yang penuh kasih.
Beberapa tekanan dari perumpamaan ini:
- Baik anak sulung maupun anak bungsu mempunyai pandangan yang keliru terhadap bapanya. Anak bungsu menganggap bapanya tidak akan mengampuninya dan anak sulung berpikir bapanya sungguh tidak adil.
- Isi perumpamaan ini bukan saja soal pertobatan bagi pendosa tetapi juga pertobatan bagi yang merasa saleh/taat yang memandang rendah orang lain.
Orang saleh yang tidak mau menerima orang lain yang dianggap telah berdosa, sebenarnya kurang memahami pribadi Allah Bapanya. Dengan kurang memahami sifat Bapanya maka sang anak tidak dapat mencerminkan kepribadian/sifat Bapanya tersebut.
RANCANGAN KHOTBAH:
PENGANTAR:
Pada suatu hari ada seorang Pendeta berjalan-jalan menyusuri sebuah desa bersama seorang sahabat lamanya. Tatkala mereka berjalan-jalan melalui ladang pertanian, pendeta itu melihat sebuah gudang dengan sebuah baling-baling udara yang ditancapkan di atasnya. Pada ujung baling-baling itu tertulis kata-kata : ALLAH ADALAH KASIH.
Pendeta itu mengatakan kepada temannya bahwa menurutnya tempat itu kurang tepat untuk pesan semacam itu. “Baling-baling udara berubah sejalan dengan angin,” jelasnya, “tetapi kasih Allah tetap selama-lamanya.”
Setelah berjalan sedikit lebih jauh, sahabatnya itu berkata: “Saya tidak sependapat dengan pendapatmu itu. Kamu salah memahmi artinya. Baling-baling udara menunjukkan kebenaran: Tidak peduli ke arah manapun angin bertiup, Allah adalah kasih, dan kasih itu tidak berubah.”
Demikianlah percakapan dua orang mengenai kasih Allah. Kita juga sering memiliki pandangan atau pendapat-pendapat yang berbeda mengenai kasih Allah. Banyak orang percaya memahami bahwa kasih Allah sangat dipengaruhi oleh keadaan manusia sebagai anak-anakNya. Kalau anakNya baik dan taat maka Allah sangat mengasihi mereka. Kalau anaknya mengalami/terkena godaan dan menjadi nakal, maka Allah layak untuk menghukumnya.
Demikian jugalah yang dipikirkan oleh orang-orang Farisi dan ahli ahli Taurat yang merasa hidupnya sangat baik, taat dan saleh. Mereka memandang orang yang tidak seperti mereka yaitu para pemungut cukai dan orang berdosa lainnya tidak layak dikasihi Allah atau didekati oleh Yesus.
Hal itu tampak dalam bacaan yang kita renungkan hari:
ISI/URAIAN BAHAN RENUNGAN
Dalam bacaan kita dikisahkan, sebagaimana biasa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa lainya datang kepada Yesus untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Tuhan Yesus tidak menolak mereka.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menyaksikan hal itu bersungut-sungut karena marasa hal itu tidak seharunya terjadi. Jika Yesus memang berasal dari Allah, Ia tidak layak dekat dengan orang berdosa.
Menanggapi sungut-sungut dan pemahaman mereka itu, Tuhan Yesus lalu memberikan perumpamaan.
Ada tida perumpamaan yang memiliki arti yang sama, yaitu Tentang domba yang hilang (ay. 4- 7); Tentang dirham yang hilang (ay. 8-10) dan yang menjadi bahan renungan kita, tentang Anak yang hilang (ay. 11-32).
Perumpamaan tentang Anak Yang hilang adalah perumpaan yang hanya dapat kita jumpai di dalam Kitab Injil Lukas.
Meskipun berjudul Anak Yang Hilang, namun kita dapat menangkap pesan dengan sangat jelas dari perumpamaan ini tentang sikap seorang Bapa yang penuh kasih.
Kasih Bapa itu tidak sama dengan kasih yang biasa terjadi dalam kehidupan yaitu: Bapa mengasihi anak-anaknya yang manis, sopan, taat dan setia serta menghukum atau tidak menerima anaknya kembali yang telah membuat malu dan menyakiti hatinya.
Dalam perumpamaan ini kedua anaknya (yaitu yang sulung dan yang bungsu) memiliki pandangan yang sama-sama keliru terhadap bapanya.
Anak bungsu menganggap bapanya tidak akan mengampuninya lagi, karena ia memang tidak layak diampuni. Ia telah membuat malu dan menyakiti hati bapanya dengan cara meninggalkan bapanya itu sebelum bapanya meninggal dunia. Padahal dalam adat Yahudi ini sikap yang tidak bermoral. Ditambah lagi ia meminta bagian warisannya semasa ayahnya masih hidup. Meskipun di sini yang dimaksud adalah warisan bagiannya yaitu 1/3 dari milik ayahnya sedangkan yang 2/3 adalah hak anak sulungnya. Dan ini hanya berupa benda bergerak, karena rumah dan tanah yang merupakan benda tidak bergerak tetap ada dalam kuasa bapanya selama ia masih hidup. Yang paling memalukan lagi adalah ia telah menghabiskan hartanya itu untuk berfoya-foya. Dan setelah menderita ia kembali ke rumah bapanya, meskipun ia hanya ingin menjadi hamba. Tetapi bapanya menyambut, merangkul dan mencium dia. Bapanya mengadakan pesta dan penerimaan kembali anak itu dalam keluarganya.
Atas sikap bapanya ini, anak sulung berfikir bahwa bapanya sungguh tidak adil.
Adiknya telah membuat malu keluarga, seharunya ia dihukum atau setidaknya tidak diterima kembali di rumah itu. Kenyataannya bapanya malah menyambutnya dengan pesta dan pemberian-pemberian: jubah yang bagus, sepatu dan cincin sebagai tanda bahwa ia diterima kembali sebagai anak bukan hamba di rumah itu. Atas sikap bapanya ini anak sulung marah karena ia merasa ialah yang seharusnya berhak untuk menerima pesta seperti itu, karena ia selama ini telah hidup taat, setia dan rajin. Ia tidak ingin masuk rumah. Tidak ingin menjadi bagian dari keluarga itu lagi.
Tetapi Bapa yang penuh kasih itu tidak menyalahkan anak sulungnya, tidak memarahinya melainkan, ayahnya keluar, menemui dia dan berbicara menjelaskan arti semua itu kepadanya dengan penuh kasih. Bapanya menjelaskan bahwa ia tidak kehilangan haknya sama sekali dengan kejadian itu, bahwa semua yang ada pada mereka adalah tetap miliknya serta ia juga patut bersukacita karena adiknya itu telah mati (terhilang atau mati secara rohani) dan hidup kembali, telah hilang dan di dapat kembali.
Tidak dijelaskan apakah anak sulung itu pada akhirnya mengerti dan mau menerima penjelasan bapanya, yang pasti bahwa melaui sikap bapanya hendak ditunjukkan sikap kasih Bapanya yang tidak membeda-bedakan anak-anaknya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Dihubungkan dengan munculnya perumpamaan ini sebagai tanggapan terhadap sikap orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut terhadap sikap Yesus yang dekat dengan orang berdosa, maka kita dapat memetik makna perumpamaan ini dari dua sisi yaitu:
- Pertama : Ajakan untuk bertobat bagi siapa saja yang berdosa kepada Tuhan. Dengan penuh kasih Ia menerima anak-anaknya.
- Kedua; Ajakan untuk bertobat bagi kita/siapa saja yang merasa saleh dan merasa lebih layak dikasihi Tuhan serta yang memandang orang lain rendah serta tidak layak dikasihi Tuhan.
Yang kedua inilah yang menjadi perhatian kita sesuai :
Tema bulanan/ bulan Maret: Menghargai martabat hidup manusia sebagai Gambar Allah dan tema pekan ini yaitu: Keselamatan Allah bagi seluruh umat manusia, tanpa kecuali.
PENUTUP
Dalam Bacaan pertama (Yosua 5:9-12) kita diajak untuk mengingat bagaimana pembebasan Allah bagi bangsa Israel perlu dirayakan dengan Paskah, suatu perayaan yaan mengandung nilai peringatan bahwa pembebasan hanya dari Allah serta mengandung suatu kebersamaan/solidaritas antar orang yang diselamatkan.
Dalam bacaan kita ke-dua, Rasul Paulus menekankan bagaimana penyelamatan Yesus Kristus menjadikan setiap orang percaya sebagai ciptaan baru. Tanda dari pembaruan atau sebagai ciptaan baru adalah hidup mencerminkan kasih dan tindakan Allah sendiri yaitu menjadi pelayan pendamaian. Untuk itu Rasul Paulus sendiri telah memberi contoh dari hidup yang meneladani Tuhan Yesus Kristus.
Dengan bacaan ke-tiga (yang menjadi bahan renungan kita): kita diingatkan: Sebagai orang-orang yang dikasihi Allah bukan karena kebaikan kita, kitapun dipanggil untuk memancarkan kasih Allah (Bapa kita) baik kepada orang-orang yang baik maupun kepada mereka yang kita anggap atau sering dianggap tidak baik oleh masyarakat. Misalnya bagi penderitan AIDS yang sering dikucilkan. (BAGI PENGKOTBAH BISA DIBERI CONTOH SENDIRI).
Marilah kita mempertajam kepekaan kita, untuk melihat, mendengar dan merasakan penderitaan, keterasingan saudara-saudara kita, sesama kita yang oleh karena telah dianggap berbuat dosa, maka mereka semakin dikucilkan, disingkirkan, diabaikan dan dikecam serta dihakimi.
Dibutuhkan pelayan pelayan pendamaian untuk membuka jalan dan ruang agar setiap orang (bukan hanya orang baik atau merasa baik) dapat berjumpa dan mengalami kasih Allah yang memulihkan martabat manusia.
Pelayan- pelayan pendamaian itu adalah setiap orang yang menyadari bahwa dirinya hina tetapi Kasih Allah telah menjadikan mulia.
Adakah kita telah termasuk didalamnya?

(4.5 out of 5)
(4 out of 5)