Categories:

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 27 APRIL 2014
Minggu Paskah 2
Stola Merah

 

Bacaan  1  : Kisah Para Rasul 2: 41-47
Bacaan  2  : 1 Petrus 1: 3-9
Bacaan  3  : Yohanes 20: 19-29

Tema  Bulanan : Kekuatan Roh Mengajak Manusia Hidup Mulia.
Tema Pekan      : Bergembira membagikan damai sejahtera.

 

Keteraangan Bacaan

Kisah Para Rasul 2: 41-47

Penyebutan jumlah tiga ribu orang menunjukkan bahwa keselamatan dari Tuhan adalah baik secara individual maupun kolektif. Ini juga menunjukkan bahwa persekutuan orang percaya itu menjadi kelanjutan dari umat perjanjian Allah. Persekutuan mereka menggambarkan relasi persaudaraan dan persahabatan yang ideal. Semua kebutuhan warga jemaat dicukupi, tidak ada orang yang menyimpan harta bagi dirinya sendiri sementara membiarkan yang lain kekurangan. Orang-orang kristen pertama itu tetap setia kepada agama Yahudi, dihormati oleh orang-orang Yahudi yang lain, dan terus berkembang menambah warga baru dari orang-orang Yahudi.

 

1 Petrus 1: 3-9

Pujian di bagian awal surat menjadi tema pokok surat 1 Petrus ini. Pujian tema pokok ini didasarkan pada: 1) Allah memberikan kita kelahiran baru melalui iman kepada Injil, 2) kelahiran baru ini membawa pengharapan, 3) kelahiran baru ini berdasar pada kebangkitan Yesus dari kematian, dan 4) orang-orang Kristen  mendapatkan warisan ilahi yang tidak dapat hilang. Pengharapan masa depan dan warisan yang akan disingkapkan pada zaman akhir menuntut ketekunan orang percaya dalam pertobatan. Ketekunan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai pencobaan untuk memurnikan iman yang baru ini.

 

Yohanes 20: 19-29

Sukacita para murid ketika melihat Tuhan menjadi pemenuhan sabdaNya pada 16: 22 “…Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.”

Penyaliban Yesus, yang bekasnya ditunjukkan kepada para murid, memanisfestasikan hakekat Allah yang adalah kasih, yang mendatangkan damai sejatera. Pengutusan Allah atas Yesus untuk menyatakan kasih yang mendatangkan damai sejahtera itu menjadi pengutusan-Nya kepada para murid. Untuk melakukan karya pengutusan ini Yesus meletakkan tanganNya atas mereka dan menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Dalam karya pengutusan ini gereja diberi kuasa untuk menetapkan adanya dosa pada orang dan memberlakukan pengampunan Tuhan.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Kesejahteraan, atau damai sejahtera adalah kebutuhan batin manusia yang sangat mendasar. Sudah sangat terbukti bahwa harta benda yang berlimpah, pendidikan yang tinggi dan jabatan yang terhormat tidak menjamin atau menentukan kedamaian dan kesejahteraan manusia. Sebaliknya, orang yang hidup sederhana, tidak cerdas, orang rendahan dan pas-pasan, bahkan miskin (sedikit sekali hartanya) sekalipun, bisa hidup dalam damai sejahtera. Banyak orang mengumpulkan banyak harta, sangat cerdas dan sudah menduduki jabatan terhormat, ternyata malah kehilangan damai sejahtera. Tetapi banyak juga orang yang tidak mendapatkan harta cukup, berpendidikan sedang dan tidak punya jabatan apa-apa juga tidak memiliki damai sejahtera. Banyak orang hidupnya resah, gelisah dan susah, kuatir dan takut, atau sebaliknya malah mudah marah, karena kehilangan damai sejahtera.

(Bisa dan baik jika diberi contoh konkrit atau ilustrasi).

 

Isi

Tuhan Yesus tahu betul susahnya orang yang kehilangan damai sejahtera. Dia tahu betul betapa mendasar dan pentingnya kebutuhan damai sejahtera itu. Tuhan Yesus hidup untuk memberikan damai sejahtera itu, bahkan damai sejahtera yang sejati. Dia sangat ingin para muridNya, para pengikutNya benar-benar mengalami damai sejahtera itu. Karena itu, ketika Dia menampakkan diri dari kebangkitanNya, Dia mengatakan salam “Damai Sejahtera bagi kamu” itu sampai 2 kali. Ini menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya Dia memberikan damai sejahtera itu kepada para muridNya.

Damai sejahtera Kristus ini adalah warisan kekal yang tidak akan pernah usang, tidak akan pernah rusak, melainkan sempurna dan kekal adanya. Damai sejahtera Kristus yang hidup ini berkuasa membawa kelahiran baru dalam kehidupan orang yang menerimanya, yaitu yang percaya akan kebangkitanNya. Damai sejahtera Kristus membangkitkan pengharapan dan keyakinan yang teguh akan kehidupan kekal karena kebangkitanNya. Orang yang benar-benar mendapatkan damai sejahteraNya ini akan mengalami kegembiraan yang tidak bisa direbut atau diganggu oleh siapapun dan apapun. Orang yang menerimanya akan rela melakukan apapun yang menjadi kehendak Tuhan Sang Pemberi damai sejahtera ini. Orang yang menerima damai sejahtera Kristus tidak akan pernah merasa kehilangan harta benda yang dipersembahkan dan dibagi-bagikan kepada orang lain, seperti jemaat yang mula-mula itu. Orang yang menerimanya tidak akan merasa takut atau kuatir. Dia tetap tenang, tentram dan bisa bahagia (senyum bahkan tertawa) walau direndahkan dan dicemooh bahkan sekalipun diancam orang lain, walau suatu ketika usahanya rugi, walau putus pacar, walau sakit, dsb. (Akan lebih menarik jika diberi contoh konkrit di konteks saudara).

Para murid Yesus bergembira karena mendapat damai sejahtera dari Tuhan Yesus yang hidup. Dukacita mereka lenyap ketika mereka melihat Tuhan. Sebelumnya mereka takut, resah, gelisah dan susah, sekarang mereka bahagia dan sukacita.

Bagaimana caranya bisa benar-benar menerima dan merasakan damai sejahtera Tuhan Yesus itu?

  1. Yakinilah bahwa Kristus benar-benar bangkit, dan hidup hingga kini.
  2. Yakinilah bahwa Dia yang hidup itu mempunyai segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28: 18).
  3. Yakinilah, karena itu, Dia berkuasa mengatasi segala masalah.
  4. Yakinilah bahwa Dia juga sangat mengasihi dan menyayangi saudara.
  5. Bukalah hatimu dan yakinilah bahwa Dia hidup di dalam hidup saudara, bukan hanya di sorga.

Setelah menerima damai sejahteraNya itu para murid, dan juga kita sekarang, diutus oleh Tuhan Yesus, sama seperti Bapa mengutus Dia ke dunia. Diutus untuk apa? Kristus diutus ke dunia untuk mendatangkan dan mewujudkan damai sejahtera bagi semua orang. Begitu juga kita diutus untuk mendatangkan dan mewujudkan damai sejahtera bagi semua orang. Untuk itu, Dia selalu memperhatikan orang-orang menderita: orang miskin, sakit, cacad, berduka dan bersalah (berdosa). Begitu juga kita diutus untuk mereka.

Orang-orang percaya yang mula-mula dalam Kitab Kisah Para Rasul itu justru hidup penuh damai sejahtera karena mereka semua saling memperhatikan dan berbagi satu sama lain.

 

Penutup

Tuhan Yesus hidup menyejahterakan kita. Kita benar-benar hidup jika kita menyejahterakan orang lain. Damai sejahtera kita akan bertambah ketika kita membagikan damai sejahtera Tuhan ini kepada orang lain, lebih-lebih kepada mereka yang susah hidupnya. Amin. [ST]

 

Nyanyian: KJ 246: 2, 3  / 437: 2, 3  / 287a: 1-  /  163: 1.

 —

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi.

Pambuka

Tentrem rahayu dados kabetahaning batos manungsa ingkang dhasariyah. Sampun cetha kasunyatan bilih bandha donya nadyan mubra-mubru, pendidikan utawi kapinteran ingkang inggil lan drajat pangkat ingkang luhur boten njamin utawi namtokaken tentrem rahayu. Kosokwangsulipun, tiyang ingkang gesang sarwi prasaja, boten pinter, tiyang asor, malah tiyang miskin (bandhanipun sekedhik) saged ngalami tentrem rahayu. Kathah tiyang ingkang numpuk raja brana, pinter sanget lan sampun apilenggah ing pangkat ingkang luhur, jebul malah kecalan tentrem rahayu. Nanging ugi kathah tiyang ingkang boten pikantuk bandha cekap, pendidikanipun pas-pasan kemawon lan boten nggadhahi pangkat napa-napa ugi boten ngalami tentrem rahayu. Kathah tiyang ingkang manahipun sisah, bingung, was sumelang lan ajrih, utawi malah gampil sanget nesu, karana kecalan tentrem rahayu. (Mangga yen badhe dipun paringi conto utawi ilustrasi)

 

Isi

Gusti Yesus pirsa saestu kasisahan lan nlangsanipun tiyang ingkang kecalan tentrem rahayu. Gusti Yesus pirsa saiba wigatosipun kabetahan tentrem rahayu tumrap manungsa. Gusti Yesus wungu gesang malih kagem paring tentrem rahayu menika, malah tentrem rahayu ingkang sejatos. Panjenganipun ngersakaken para sekabatipun, lan ugi sedaya para pendherekipun sami estu-estu ngalami tentrem rahayu ingkang sejatos menika. Ingkang menika, nalika Panjenenganipun ngetingalaken dhiri bakda wungu saking kasedan, Panjenenganipun ngucapaken salam “Tentrem rahayu anaa ing kowe kabeh” menika ngantos kaping kalih. Menika mratelakaken bilih Gusti Yesus estu-estu maringaken tentrem rahayu menika dhateng para muridipun.

Tentrem rahayunipun Sang Kristus menika dados warisan langgeng ingkang boten badhe reged, utawi alum utawi risak, nanging menika sampurna lan langgeng sipatipun. Tentrem rahayu saking Gusti Yesus ingkang gesang menika kwaos nuwuhaken kalairan enggal tumrap tiyang ingkang nampeni, inggih menika tiyang ingkang pitados dhateng wungunipun Gusti Yesus. Tentrem rahayu menika nuwuhaken pangajeng-ajeng lan kapitadosan ingkang bakuh tumrap gesang langgeng awit wungunipun Sang Kristus. Tiyang ingkang saestu nampeni tentrem rahayunipun Gusti Yesus menika mesthi ngalami kabingahan ingkang boten saged dipun rebat utawi dipun ganggu dening sintena utawi menapaa kemawon. Tiyang ingkang saestu nampeni tentrem rahayunipun Gusti Yesus mesthi remen nindakaken menapaa kemawon ingkang dados karsanipun Gusti ingkang paring tentrem rahayu menika. Tiyang ingkang saestu nampeni tentrem rahayunipun Gusti Yesus menika boten badhe nate rumaos kecalan bandha ingkang dipun pisungsungaken lan dipun dum-dumaken dhateng tiyang sanes, kados pasamuwan ingkang wiwitan. Tiyang ingkang saestu nampeni tentrem rahayunipun Gusti Yesus menika boten badhe ngraosaken ajrih lan kuatos. Piyambakipun mesthi tetep  tenang, ayem lan saged bebingah (mesem lan nggujeng) nadyan dipun remehaken, dipun asoraken lan dipun paido, nadyan ugi dipun ancam dening tiyang sanes, lan kadhang usahanipun rugi, diputus pacar, nadyan sakit.

Para sekabatipun Gusti Yesus menika sami bingah sanget karana nampi tentrem rahayu saking Gusti Yesus ingkang gesang. Saderengipun, para sekabat menika sami ngalami ajrih, sedhih, sisah lan nlangsa. Samangke sedaya sami bingah sanget lan sukarena. Kasedhihanipun sirna sareng ningali Gusti.

Kados pundi marginipun supados estu-estu saged nampeni lan ngraosaken tentrem rahayunipun Gusti Yesus menika?

  1. Sami yakina bilih Gusti Yesus saestu wungu, lan gesang ngantos sapriki.
  2. Sami yakina bilih Gusti Yesus ingkang gesang menika kagungan sagunging pangwasa ing swarga lan ing bumi (Mat. 28: 18).
  3. Ingkang menika, sami yakina bilih Panjenenganipun kagungan pangwasa mrantasi sedaya prekasih, masalah.
  4. Sami yakina bilih Gusti sanget nresnani panjenengan sedaya.
  5. Kula aturi mbikak manah lan yakin bilih Panjenenganipun ingkang gesang menika gesang lan dedalem wonten ing gesang panjenengan, boten namung ing swarga.

Sasampunipun nampeni tentrem rahayu sejati menika para sekabat, lan ugi kita samangke, sami dipun utus dening Gusti Yesus, kados dene Sang Rama anggenipun ngutus Kang Putra mring jagad. Lajeng dipun utus kangge menapa? Gusti Yesus kautus dhateng jagad supados ndhatengaken lan mujudaken tentrem rahayu kagem sedaya titah. Lah makaten ugi kita kautus ndhatengaken lan mujudaken tentrem rahayu menika kagem sedaya titahipun Gusti ing jagad. Ingkang menika Gusti Yesus tansah nggatosaken gesangipun tiyang-tiyang ingkang nandhang sangsara: tiyang miskin, sakit, cacad, sisah lan salah (dosa). Kita ugi kautus kagem tiyang-tiyang menika.

Tiyang-tiyang pitados (pasamuwan) ingkang wiwitan ing kitab Para Rasul malah gesang kebak tentrem rahayu karana sedaya sami nggatosaken lan andum berkah satunggal-satunggalipun.

 

Panutup

Gusti Yesus gesang menyejahterakan kita, paring tentrem rahayu dhateng kita. Kita estu-estu gesang menawi kita menyejahterakan tiyang sanes. Tentrem rahayu kita badhe saya wuwuh (bertambah) menawi kita ngedum tentrem rahayunipun Gusti menika dhateng tiyang sanes, langkung-langkung ingkang nandhang sangsara lan sisah gesangipun. Amin. [ST]

 

Pamuji: KPK 8: 2, 4, 5, 6.

 

***

MINGGU, 4 MEI 2014

MINGGU PASKAH 3 —STOLA MERAH

 

Bacan 1           : Kisah 2 : 22-23
Bacaan 2         : 1 Petrus 1 : 17-21
Bacaan 3         : Lukas 24 : 13-35

Tema Bulan    : Gereja Yang Berziarah
Tema Pekan    : Mempercakapkan Tuhan Dalam Hidup

 

Keterangan Bacaan

Kisah Para Rasul 2 : 22-23

Bacaan ini merupakan rentetan dari peristiwa Pentakosta, yakni turunnya Roh Kudus kepada para murid yang memampukan para murid berbicara dalam berbagai bahasa yang sebelumnya tidak diketahui. Kemampuan itu satu sisi membawa ketakjuban ( ay. 12), di sisi lain menimbulkan sinisme yang menyindir “mereka mungkin sedang mabuk anggur manis” (ay. 13). Dalam situasi seperti itulah Petrus berkotbah dan memberitakan Injil Yesus Kristus. Pertama, Petrus menjelaskan bahwa murid-murid tidak mabuk oleh anggur karena peristiwa itu terjadi pada pukul 9 pagi(ay. 15). Sudah menjadi hal yang umum, mabuk terjadi pada malam hari, pada saat undangan pesta perjamuan atau tempat hiburan ramai pada malam hari. Siang hari adalah waktu untuk bekerja. Kedua, mengingatkan kembali apa yang sudah  dinubuatkan oleh Nabi Yoel (ay. 17-20), bahwa hari-hari ini adalah hari akhir, dimana Allah akan menghakimi dunia ini dan Tuhan akan membuat segala sesuatunya menjadi baru. Pencurahan Roh Kudus sebagaimana yang dialami para murid  menjadi tanda juga bahwa saatnya semakin dekat dan memanggil orang untuk berseru dan percaya kepada Tuhan agar mendapat keselamatan. Ketiga, memberitakan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Yesus adalah pribadi yang ditentukan Allah dan hadir dalam perjalanan hidup manusia dengan berbagai mujizat dan tanda. Ia telah hadir di tengah-tengah manusia. Penambahan kata Nazaret di belakang kata Yesus, untuk membedakan Yesus Sang Juruselamat dengan nama Yesus lain yang umum dalam masyarakat Yahudi.

 

1 Petrus 1 : 17-21

Surat Petrus ditujukan kepada jemaat Kristen yang tersebar di wilayah Asia Kecil di bagian utara (1:1) dengan tujuan untuk membangkitkan semangat, pengharapan serta tetap hidup dalam kesalehan meski mereka akan memanggung penderitaan karena iman mereka. Mereka diyakinkan agar mampu menang dalam penderitaan karena Kristus sendiri telah menang atas penderitaan. Dapat dikatakan bahwa jemaat saat itu sudah menyebut Tuhan sebagai Bapa dalam doanya. Berangkat  dari pemahaman sebagai Bapa ini, jemaat didorong untuk hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia ini (ay.  17). Ada yang menarik di sini. Pertama, jemaat dipanggil untuk hidup takut akan Tuhan. Takut di sini bermakna  hormat dan segan terhadap Tuhan. (Yun. phobos =ketakutan, rasa ngeri; ketakutan, hormat, keseganan (terhadap Allah). Orang bijaksana dan saleh, dikenal dari siapa yang ditakuti dan dihormati. Kedua, jemaat juga disadarkan bahwa kita ini adalah orang-orang asing, peziarah kehidupan yang menumpang di dunia ini. Hidup kita ada dalam perjalanan. (“menumpang”, Yun. Paroikia : tinggal berdekatan, menumpang, orang asing, orang yang sedang singgah). Jadi sebagai orang asing maka kita harus hidup dalam takut akan Tuhan.

Ajakan agar jemaat hidup takut akan Tuhan didasarkan oleh penderitaan dan penebusan yang telah dilakukan oleh Yesus.  Dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus. Istilah “yang mahal” (Yun., timios) merupakan istilah yang khas dari Petrus. Ketidakberdosaan sempurna dari Sang Anak Domba, penderitaan-Nya yang seharusnya ditanggung oleh manusia, merupakan landasan bagi suatu cara menilai yang baru dan surgawi. Jadi pengorbanan Yesus yang tak dapat dibandingkan dengan apapun di dunia ini menjadi landasan bagi hidup Kristen untuk hidup “tidak murahan”.

 

Lukas 24 : 13-35

Bacaan ini menceritakan kehadiran Yesus yang bangkit dan menampakkan diri kepada dua orang murid Yesus dalam perjalanan ke Emaus. Seorang  dari mereka bernama Kleopas. Hanya disebut sekali dalam Alkitab, yakni dalam kisah ini. Selebihnya tidak disebutkan lagi. Emaus adalah sebuah desa kecil 7 mil jauhnya dari Yerusalem. Hingga saat ini, di mana letak Emaus khususnya di era modern ini masih menjadi perdebatan. Dari beberapa alternatif, maka ada 3 kemungkinan yang ada, yakni Amwas (Nicopolis) sekitar 20 mil bagian barat dari Yerusalem. Koliniyeh, sekitar 5 mil dari Yerusalem dan Kubeibeh, sekitar 7 mil.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

Hidup orang Kristen dapat disebut sebuah perziarahan. Apa artinya?  Arti kamus,  ziarah dalam KKBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti berkunjung ke tempat keramat (makam) atau tempat mulia. Arti kamus ini, mengingatkan kita tentang tradisi kebanyakan masyarakat yang berkunjung ke makam leluhur atau keluarga pada hari-hari khusus untuk melakukan peringatan atau ritual. Juga mengingatkan kita akan perjalanan bangsa Israel yang pada hari raya tertentu, seperti Paskah pergi dan beribadah ke Yerusalem, ke Bait Allah tempat Tuhan hadir. Atau mengingatkan kita pada masa kini, banyak orang Kristen yang melakukan ziarah ke Israel mengunjungi tempat-tempat historis berkaitan dengan kehidupan Yesus. Berangkat dari arti ini kita dapat mengambil makna spiritual bahwa perziarahan hidup Kristen adalah perjalanan untuk terus mewujudkan kehidupan yang tertuju bagi kemuliaan Tuhan. Allah sungguh-sungguh meraja dalam kehidupan kita. Tuhan tetap dipermuliakan di manapun kita berada, dalam segala waktu dan apapun yang kita lakukan. Arah pergerakan kehidupan Kristen adalah ikut dalam rencana dan kehendak Tuhan. Hanya dengan itu kehidupan kita akan menjadi berkat bagi sesama. Adakah  hal ini menjadi orientasi kehidupan kita?

Orientasi hidup yang tertuju kepada kemuliaan Tuhan rupanya perlu terus menerus untuk  didengungkan. Mengapa demikian? Bukankah kenyataan hidup masa kini, seperti korupsi, pembunuhan keji terencana, perselingkuhan, perceraian, makin marak dan sering kita jumpai. Hal ini membuat kita bertanya, apa sebenarnya tujuan hidup mereka. Kemana hidup ini hendak dibawa? Sungguh, sebenarnya kita berada pada masyarakat yang makin kehilangan kendali, atas arah dan tujuan kehidupan ini. Banyak orang di jaman sekarang yang jatuh dan kehilangan arah hidup, karena kuatnya godaan kekayaan, kenikmatan, kedudukan dsb. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh ikut larut dalam kehidupan yang tanpa arah dan tujuan. Kita perlu meletakkan tujuan hidup kita pada tujuanNya!

 

Isi Khotbah

Titik hitam dalam perziarahan hidup

(….Kotbah dilanjutkan ilustrasi dengan sebuah alat peraga sederhana. Sediakan kertas putih yang agak besar. Berilah titik hitam (noktah) pada kertas tersebut pada posisi agak di tengah. Kemudian perlihatkanlah pada jemaat. Berilah pertanyaan kepada mereka: Apa yang saudara lihat pada kertas ini? Berikan kesempatan kepada mereka agar berkomentar. Berbagai kemungkinan pasti muncul. Salah satu yang paling dominan kemungkinannya adalah mereka akan menjawab: titik (noktah) hitam. Ingatkanlah bahwa kertas itu tidak hanya berisi titik warna hitam, tetapi juga ada hamparan warna putih yang lebih banyak.)

Hidup yang terus mengarah pada tujuan bagi kemuliaan Tuhan memang tidak mudah.  Hidup kita seringkali dibelokkan oleh berbagai masalah dalam hidup. Masalah itu begitu menguasai hidup, sehingga kita kehilangan rasionalitas, harapan, semangat bahkan iman. Tindakan-tindakan yang diambil seringkali jauh dari kehendakNya. Bacaan ketiga hari ini, yang mengisahkan perjalanan dua orang murid menuju Emaus dapat disebut perjalanan yang yang dipandu titik hitam sehingga mereka lupa akan Tuhan dan mereka menempuh perjalanan yang salah. Kedua murid tersebut nampak mengalami kesedihan sekaligus kebingungan untuk harus berbuat apa. Rona kesedihan nampak pada raut muka mereka yang muram. Tak hanya itu, mereka tak mampu mengenali lagi siapa yang berjalan bersama mereka (Yesus) karena ada sesuatu yang menghalangi mereka. Yesus yang hadir bersamanya dipandang sebagai “orang asing”. Mereka sedih karena harapan pemulihan bagi Israel seolah sirna, karena Yesus telah ditangkap dan mati. Lebih membingungkan lagi ketika mereka mendengar kesaksian para perempuan yang pergi ke kubur telah melihat bahwa mayat Yesus tidak ada. Kubur itu telah kosong.  Bisa jadi, kepergian ke Emaus untuk pulang dan kembali kepada kehidupan semula karena harapannya tidak terpenuhi. Bisa juga, mereka menyendiri dari beban “perkara Yesus”. Hal itu nampak pada raut muka mereka yang muram. Bisa juga mereka pergi ke Emaus untuk menyingkir, mengingat sebagai murid Yesus, untuk tetap tinggal di Yerusalem sangat beresiko dalam hal keamanan. Jika murid lain berani  tinggal di Yerusalem, itupun dengan pintu rumah yang terkunci.

Dari perjalanan mereka, Emaus tidak saja berarti desa kecil  yang letaknya 7 mil dari Yerusalem. Emaus dalam kisah perjalanan Kleopas dan temannya itu menjadi sebuah “tempat pelarian” dari apa yang seharusnya dilakukan murid-murid itu. Memang, jika kita fokus pada masalah, maka kita akan fokus pada diri sendiri,  bisa lupa kepada Tuhan dan sesama. Seperti jika kita melihat titik hitam, lupa bahwa sebenarnya ada hamparan kertas putih yang lebih banyak. Memang, hingga saat ini para ahli belum sepakat tentang lokasi Emaus secara tepat. Namun Emaus masa kini dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Emaus masa kini, bisa jadi “seorang mualaf” (meninggalkan Kristus) karena tekanan (titik hitam) kekasih atau jabatan! Korupsi karena tekanan kenikmatan, kedudukan dan prestise! Narkoba karena tekanan stress pekerjaan dan target! Perceraian dan perselingkuhan karena tekanan nafsu!

 

Mempercakapkan Yesus yang bangkit dalam perziarahan hidup.

Apa yang menggerakkan dan mengarahkan perziarahan hidup Kristen? Ya, yang menggerakkan dan mengarahkan adalah kuasa kebangkitan Tuhan Yesus sendiri. Kebangkitan Yesus adalah titik pijak perarakan perjalanan hidup kita menuju hidup yang memuliakan Tuhan. Bahkan kebangkitan Yesus adalah dasar kekristenan itu sendiri. Kekristenan akan layu dan akhirnya mati jika tidak didasari dengan kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus bukanlah sebuah cerita masa lalu saja, tetapi dasar iman yang menghidupi  iman itu kristiani. Dia sungguh-sungguh menjadi dasar kehidupan dan pengalaman hidup sepanjang jaman. Jika dulu Tuhan Yesus bertanya kepada Kleopas “apa yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” (Lukas 24: 17). Pada masa kini, Tuhan juga bertanya kepada kita, apa yang kita percakapkan? Apakah Yesus yang bangkit atau Yesus yang mati. Para murid Yesus, memiliki arah yang salah dalam hidup karena awalnya mereka mempercakapkan Yesus yang mati. Kleopas dan teman seperjalananya menjadi salah arah, katanya, “Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (ay. 21). Mereka pergi ke Emaus, meninggalkan Yerusalem. Demikian pula Petrus, penyangkal Yesus  tiga kali dan  kembali ke Galilea melakukan aktivitas seperti sebelum menjadi murid Yesus. Namun pengalaman perjumpaan dengan Yesus mengubah kehidupan mereka menuju arah yang benar.

Mempercakapan Yesus yang bangkit pada masa kini berarti hidup oleh iman akan kebangkitan dan hidup dihidupi oleh iman akan kebangkitanNya. Iman akan kebangkitan ini menjadikan kita teguh memegang prinsip dan berani menyuarakan keadilan dan kebenaran hidup. Pada akhirnya kita menjadi tidak tanggung-tanggung menjadi seorang Kristen. Rasul Petrus dalam bacaan kedua, mengatakan bahwa  hendaklah kita hidup dalam takut akan Tuhan selama menumpang di dunia ini.Takut di sini bermakna  hormat dan segan terhadap Tuhan.  (Yun. phobos =ketakutan, rasa ngeri; ketakutan, hormat, keseganan (terhadap Allah). Disebutkan bahwa kita adalah orang asing di dunia ini. Hidup kita ada dalam perjalanan. (“menumpang”, Yun. paroikia : tinggal berdekatan, menumpang, orang asing, orang yang sedang singgah). Seorang yang menumpang atau singgah artinya tidak punya kekuasaan. Yang berkuasa atas hidup adalah Tuhan sendiri, sehingga hidup ini kita letakkan dalam kuasaNya. Seperti orang yang sedang singgah atau menumpang di rumah orang lain, dia tidak boleh “macam-macam”, harus tunduk kepada yang punya rumah. Tuhan adalah yang berkuasa atas hidup ini. Terlebih, karena kita telah ditebus dengan darah Kristus yang tak ternilai harganya (1 Petrus 1 : 17-21). Hal ini mendorong kita untuk hidup secara “mahal”, ”tidak murahan”. Hidup kristen menjadi tidak mudah terobang-ambing arus dunia sehingga menenggelamkan perahu iman. Jadi, mempercakapkan Yesus yang bangkit bukan saja juga kita setuju  dengan fakta iman bahwa Yesus telah bangkit, tetapi juga sekaligus bersedia memikul salib setiap hari dan mengikuti-Nya.

Mempercakapkan Yesus di tengah kehidupan masa kini tidak mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Terlebih orang modern lebih terobsesi oleh sesuatu yang terukur (tangible). Kita senantiasa takjub dan terheran-heran ketika menyimak misalnya ranking orang terkaya di dunia misalnya, rekor-rekor dalam dunia olah raga, buku-buku bestseller. Gengsi dalam dunia ini hanya disematkan pada orang orang yang memiliki pencapaian prestasi terukur. Lupa akan pencapaian tak terukur (intangible), yakni integritas, dedikasi dan kedisiplinan. Hal-hal ini rupanya sering terpinggirkan dalam kehidupan. Orang lebih fokus pada prestasi daripada karakter. Hal ini tentu sangat memprihatinkan dalam kehidupan kita.

 

Penutup

Melanjutkan perziarahan ini, dari titik hitam ke….?

Marilah terus kita lanjutkan perziarahan ini. Terus tertuju pada kemuliaan Tuhan. Janganlah kita merasa sendiri dalam hidup ini. Penyertaan Tuhan menuntun kita. Jika pada saat ini seperti ada titik hitam dalam hidup kita, mari kita ubah!!! Titik hitam itu menjadi: Titik Balik… Titik Terang… Titik Pijak… dst! Karena penyertaanNya pada kita…. seperti lirik dalam lagu KJ No. 383 bait 5 :

Waktu murid ke Emaus

            Yesus beserta

            Kitapun dijalan hidup disertaiNya

            Yang terangkat dan kembali, Yesus Inilah

            Kita kan melihat Dia datang segera

Reff…….

Amin. [kris]

 

Nyanyian: KJ 383: 4, 5.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Lampahing gesangipun tiyang Kristen saged kasebut minangka pejiarahan. Menapa artosipun? Miturut kamus Basa Indonesia, ziarah tegesipun tindak dhateng papan ingkang wingit (kados kuburan) utawi papan mulya. Menika ngengetaken kita bab adatipun tiyang kathah ing masyarakat ingkang nyekar utawi tindak dhateng pesareanipun para leluhur ing dinten-dinten ingkang mirunggan. Ugi ngengetaken kita dhateng lelampahanipun bangsa Israel ingkang ing riyadin tartamtu, kados Paskah, sami tidak lan ngabekti ing Yerusalem, ing Pedaleman Suci papan dunungipun Gusti. Nanging ugi ngengetaken kita ing jaman samangke dhateng kathahipun tiyang Kristen ingkang nindakaken jiarah dhateng Israel dhateng papan-papan bersejarah gegayutan kaliyan lelampahanipun Gusti Yesus. Saking pangertosan ingkang makaten, maknaning pejiarahan gesang Kristen sacara rohani inggih menika lelampahan ingkang tansah mujudaken pigesangan ingkang ngener kagem kamulyanipun Gusti. Allah saestu ngereh gesang kita. Gusti tansah kamulyakaken ing pundia kemawon dunung kita, saben wanci lan menapaa kemawon ingkang kita lampahi. Enering pigesangan Kristen nggih menika ndherek ing rancangan lan karsanipun Gusti. Namung srana makaten pigesangan kita badhe saged dados berkah tumrap sesami. Menapa inggih menika ingkang dados enering gesang kita?

Enering gesang ingkang tumuju dhateng kamulyanipun Gusti perlu terus kita kumandhangaken. Kenging menapa? Rak nggih cetha kasunyataning gesang jaman samangke, kados korupsi, pembunuhan keji terencana, perselingkuhan, pegatan saya kathah lan saya asring kita prangguli. Menika nuwuhaken pitakenan, menapa ta sejatosipun enering gesangipun tiyang-tiyang menika? Dhateng pundi gesang menika kabekta? Dados, kita saestu mapan wonten ing tengahing masyarakat ingkang saya kecalan kendhalining arah lan tujuaning pigesangan menika. Kathah tiyang ing jaman samangke ingkang dhawah lan kecalan enering gesang karana dayaning panggodha kasugihan, kanikmatan, kalenggahan, lsp. Selaku tiyang Kristen, kita boten pareng katut wonten ing pigesangan ingkang  tanpa arah lan tujuan menika. Kita perlu mapanaken enering gesang kita wonten ing tujuanipun.

 

Isining Khotbah

Titik cemeng ing pejiarahan gesang

(…Khotbah kalajengna mawi alat paraga sawatawis gampil. Kacawisna kertas pethak radi ageng. Kertas menika kaparingana titik cemeng ing tengahipun. Lajeng ketedahna dhateng sadaya warganing pasamuwan, mawi pitakenan: menapa ingkang panjenengan pirsani ing kertas menika? Kaaturana warganing pasamuwan sami wangsulan. Tamtu badhe wonten manekawarni wangsulan. Mbokmenawi umumipun sami wangsulan: titik cemeng. Kaengetna bilih kertas menika boten namung isi titik warni cemeng, nanging ugi wonten warni pethak ingkang wiyar.)

Gesang ingkang ngener dhateng tujuan kagem kamulyanipun Gusti pancen boten gampil. Gesang kita asring dipun enggokaken dening masalah ing pigesangan. Masalah asring nguwasani gesang, temah kita saged kecalan nalar, pangajeng-ajeng, semangat malah kapitadosan. Temah tindak-tandukipun tebih saking karsanipun Gusti. Waosan kita ingkang kaping 3 nyariyosaken lelampahanipun 2 muridipun Gusti tumuju dhateng Emaus ingkang saged kasebut minangka lelampahan ingkang katuntun dening titik cemeng, temah tiyang kekalih menika kesupen dhateng Gusti lan lumampah dhateng papan ingkang lepat. Kekalihipun ketingal ngalami kasisahan lan bingung kedah tumindak menapa. Tiyang-tiyang menika boten saged nepangi sinten (Gusti Yesus) ingkang lumampah sesarengan kaliyan kekalihipun, karana wonten prekawis ingkang ngaling-alingi. Gusti Yesus dipun wastani tiyang manca (orang asing). Kekalihipun sedhih karana pangajeng-ajeng bab pulihing bangsa Israel sampun sirna, karana Gsuti Yesus kacepeng lan dipun sedani. Ingkang langkung nggempungaken penggalihipun nggih menika nalika mireng paseksinipun para wanita ingkang tindak dhateng pesarean boten manggihaken layonipun Gusti Yesus. Kuburipun suwung. Mbokmenawi kekalihipun lumampah dhateng Emaus menika arsa kondur lan wangsul dhateng pigesanganipun ingkang sakawit karana pangajeng-ajengipun boten kinabulan. Utawi badhe menyendiri (nyimpang) saking sesanggening “perkawisipun Gusti Yesus.” Utawi, kekalihipun kepingin nebih saking bebaya Yerusalem tumrap para muridipun Gusti Yesus. Pramila, para murid sanesipun ingkang tetep mapan ing Yerusalem sami sesingidan ing griya ingkang dipun kancingi sedaya.

Emaus boten namung dhusun alit 5 kiloan tebihipun saking Yeruslaem, nanging ugi dados “tempat pelarian” saking menapa ingkang kedah katindakaken dening para muridipun Gusti. Pancen, menawi kita fokus (namung nggatosaken) dhateng masalah, kita dados fokus dhateng dhiri pribadi kita piyambak, kesupen dhateng Gusti lan sesami. Kados dene yen kita ningali titik cemeng kalawau, kita kesupen wontenipun warni pethak ingkang wiyar kalawau. Pancen para winasis (ahli) sami dereng sarujuk menggah papanipun dhusun Emaus menika. Nanging Emaus ing kawontenan samenika gampil kita panggihi ing pigesangan sadinten-dinten. Emaus ing kawontenan samangke saged kemawon “tiyang mualaf” (nilaraken iman Kristen) karana kadhesek (titik cemeng) kekasih (pacar) utawi jabatan; korupsi karana kadhesek dayaning kanikmatan, kalenggahan lan kaurmatan; narkoba karana kadhesek awrating pedamelan lan target; pegatan lan perselingkuhan karana kadhesek nafsu.

 

Ngrembag Gusti Yesus ingkang wungu wonten ing pejiarahaning gesang

Menapa ingkang mbereg lan ngarahaken pejiarahan gesang Kristen? Ingkang mbereg lan ngarahaken nggih menika sawabing wungunipun Gusti Yesus Kristus. Wungunipun Sang Kristus dados titik jangkahing arak-arakan lelampahaning gesang kita tumuju gesang ingkang mulyakaken Gusti. Wungunipun Sang Kristus malah dados landhesaning kekristenan menika. Kekristenan badhe alum lan wusananipun pejah menawi boten kalandhesan wungunipun Sang Kristus. Wungunipun Sang Kristu boten namung cariyos ing wekdal ingkang sampun kepengker kemawon, nanging tetalesing iman ingkang nggegesang kapitdosan Kristen. Panjenenganipun saestu dados landhesaning gesang lan lelampahaning gesang salaminipun. Menawi rumiyin Gusti Yesus ndangu Kleopas “Kowé kuwi lagi padha ngrembug apa?” (Luk. 24: 17), jaman samangke Gusti ugi ndangu kita: “Kowé kuwi lagi padha ngrembug apa?” Gusti Yesus ingkang wungu menapa ingkang seda? Para murid nalika semanten ngalami enering gesang ingkang lepat karana wiwitanipun sami ngembag bab Gusti Yesus ingkang seda. Kleopas lan rencangipun, nilaraken Yerusalem. Makate ugi Petrus wangsul dhateng Galilea nindakaken pedamelan kados saderengipun ndherek Gusti Yesus. Nanging lelampahan pepanggihanipun kaliyan Gusti Yesus ingkang gesang ngowahi pigesanganipun tumuju dhateng arah ingkang leres.

Ngrebag baba Gusti Yesus ingkang wungu ing kawontenan jaman samangke ateges gesang dening kapitadosan dhateng wungunipun Gusti lan gesang ingakng dipun uripi dening iman dhateng wungunipun Sang Kristus. Kapitadosan dhateng wungunipun Gusti ndadosaken gesang kita teguh lan wantun nywantenaken kaadilan lan kayekten (kebenaran). Menika ndadosaken kita boten mangu-mangu dados tiyang Kristen. Rasul Petrus ing waosan ingkang kaping kalih ngandika bilih kedahipun kita gesang ajrih-asih dhateng Gusti samangsa kita nunut manggen ing donya menika. Ajrih-asih ing ngriki tegesipun urmat lan manut dhateng Gusti. Minangka tiyang ingkang nunut manggen, kita menika tiyang manca ing donya menika. Ingkang kita nunuti nggih menika ingkang kagungan donya menika, boten sanes namung Gusti Allah piyambak. Dados, minangka tiyang ingkang nunut, kita boten pareng neka-neka. Kita kedah manut dhateng ing kagungan dalem (donya) menika.

Ngrembag bab Gusti Yesus ing tengahing gesang ing jaman samangke saestu boten gampil. Kathah tantangan ingkang kedah dipun adhepi. Langkung-langkung tiyang modern samenika langkung terobsesi (keranjingan) dhateng bab-bab ingkang saged dipun ukur. Tiyang sami gumun lan kaget sareng nyumurpi tiyang ingkang paling sugi sadonya, rekor-rekor  olah raga, buku-buku bestseller. Pakurmatan namung dipun paringaken dhateng tiyang-tiyang ingkang saged nggayuh prestasi ingkang saged dipun ukur; kesupen dhateng gegayuhan ingkang boten kaukur, kados integritas (bawa leksana), pangabdi utawi lelabuhan lan kedisiplinan. Bab-bab menika asring dipun singkiraken saking pigesangan. Tiyang langkung nengenaken prestasi tinimbang karakter (budi luhur). Menika tamtu mrihatosaken.

 

Panutup

Nglajengaken pejiarahan menika, saking titik cemeng dhateng …?

Sumangga kita lajengaken jiarah menika! Terus ngener dhateng kamulyanipun Gusti! Sampu  rumaos piyambakan wonten ing pigesangan menika! Gusti tansah nunggil lan nuntun kita. Menawi ing gesang kita samangke wonten titik cemeng, manga kita owahi titik cemeng menika dados: Titik Balik…, Titik Padhang…, Titik Jangkah…, lsj. Amin. [terj. ST]

 

Pamuji: KPK 268: 2, 3.