wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 05 Juli 2015
MINGGU BIASA
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1        : 2 Samuel 5: 1-5, 910
Bacaan 2        : 2 Korintus 12: 1-10
Bacaan 3        : Markus 6: 1-13

Mazmur          : Mazmur 123: 1-4

Tema Bulan   : Bertugas sebagai nabi demi makna kehidupan.
Tema Pekan    : Membagi makna kehidupan tidak selalu disambut dengan baik.

 

Keterangan Bacaan

2 Samuel 5: 1-5, 9-10

Daud mendengar kematian Saul dan anak-anaknya dan dia menangisinya. Seluruh suku-suku Israel datang kepada Daud untuk memintanya menjadi gembala atau raja atas Israel. Maka seluruh tua-tua Israel datang dan mengurapi Daud sebagai raja Israel. Pada waktu itu Daud berusia 30 tahun dan ia memerintah atas Jehuda di Hebron 7 tahun 6 bulan dan atas seluruh Israel dan Jehuda di Jerusalem selama 33 tahun.

 

2 Korintus 12: 1-10

Dalam 2 Kor ini kita jumpai banyak kritik terhadap Paulus, misalnya dia tidak mempunyai surat rekomendasi (2 Kor 3:1), bukan pembicara terlatih (2 Kor 11:6), tidak mempunyai pribadi yang mengesankan (2 Kor 10:10), tidak menangani sumbangan untuk jemaat Jerusalem dengan benar (2 Kor 12:16), tidak melakukan tanda-tanda mujizat sebagai rasul. Dalam 2 Kor 11-12 ini Paulus menjawab dengan rendah hati dan melawan harapan tentang “rasul super”. Sebenarnya banyak penglihatan yang diterima Paulus baik tentang orang lain maupun diri sendiri, tetapi dia tidak akan memegahkan diri. Justru dia bermegah akan kelemahannya yang dikatakannya “duri” (mungkin penyakit matanya). Karena dalam kelemahannya itu kuasa Allah dinyatakan atasnya.

 

Markus 6: 1-13

Markus 6: 1-13 menceriterakan Tuhan Jesus datang dan mengajar serta melakukan mujizat-mujizat di rumah ibadat di kampung halamanNya, desa Nazareth. Mula-mula banyak orang takjub, tetapi kemudian setelah tahu bahwa Dia berasal dari Nazareth, anak tukang kayu, anak Maria dan saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon, mereka kecewa dan menolakNya.

 

Benang Merah 3 bacaan:

Daud disambut sebagai Raja baru pengganti Saul. Tuhan Yesus semula juga disambut hebat di Nazareth, namun kemudian ditolak oleh orang-orang sekampungnya. Menjadi pembawa Firman kebenaran tidak selalu disambut sukacita, bahkan oleh warga jemaat sendiri seperti Paulus.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

Saudaraku kekasih, betapa tidak mudahnya membagi kasih dan makna kehidupan yang sebenarnya. Banyak orang percaya yang kecewa berat, karena apa yang semula dianggapnya akan diterima dengan penuh sukacita dan syukur oleh orang-orang yang dijumpai dan dilayaninyanya, ternyata diterima dengan penuh curiga, iri dan dicampakkan. Betapa menyakitkan perasaan ditolak. Karena perasaan ditolak orang dapat menjadi patah arang, apatis, merasa tak berguna, geram, bahkan dendam. Kenyataan itu juga dialami oleh Tuhan Jesus sendiri ketika Ia pulang kampung mengajar di rumah ibadat Nazareth dan Paulus hambaNya di tengah Jemaat Korintus.

 

Isi

Mengapa orang-orang Nazareth menolak Dia?

Tuhan Jesus datang bersama murid-muridNya ke rumah ibadat di Nazareth. Ia mengajar dengan penuh kuasa dan melakukan mujizat serta menyembuhkan banyak orang sakit. Orang-orangpun takjub mendengarkan pengajaran yang penuh hikmat dan mujizat-mujizat yang penuh kuasa itu. Merekapun mulai bertanya-tanya: Dari manakah diterima semua kuasa dan hikmat itu? Semuanya begitu mencengangkan.

Namun kemudian mereka tahu bahwa Dia adalah Yesus anak Yusuf si tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas, Simon, bahkan saudara-saudaraNya yang perempuan masih di sana. Seketika merekapun kecewa dan menolak Dia. Dia bersama para muridNyapun pergi tidak meneruskan karyaNya di sana. Alangkah sayangnya. O… andaikata Ia tidak pergi, akan ada berapa pengajaran yang penuh hikmat lagi yang diterima dan akan ada berapa orang sakit lagi yang disembuhkan?

Namun bukankah sikap semacam itu juga sering dialami oleh para hamba Tuhan? Daudpun yang semula diterima oleh seluruh orang Israel, kemudian juga diragukan kepemimpinannya, malahan dibrontak oleh anak yang dikasihinya sendiri, Absalom. Paulus, salah seorang rasul yang begitu hebat, penuh cinta kasih, hikmat, pengetahuan dan memberikan dirinya dalam pelayanan Tuhan, ternyata di tengah Jemaat Korintus pun juga tidak selalu disambut dengan sepenuh hati oleh setiap warga. Sehingga dalam suratnya 2 Korintus ini dapat kita baca bahwa oleh beberapa orang ia disangsikan sebagai rasul Tuhan, karena tidak membawa surat rekomendasi (2 Kor 3:1), tidak terlatih kemampuan bicaranya (2 Kor 11:6), tidak banyak melakukan mujizat, bahkan tidak benar dalam mengelola sumbangan jemaat-jemaat ke Jemaat Yerusalem (2 Kor 12:16).

Bukankah juga demikian sering terjadi dalam jemaat-jemaat kita? Bagaimana sikap warga jemaat terhadap pelayan-pelayan kita? Apalagi jikalau pelayan itu kita ketahui latar belakang keluarganya yang ternyata orang-orang biasa saja, tidak lebih hebat dari kita. Bahkan juga di antara pelayan-pelayan kita di GKJW, betapa mudahnya kita mengidap penyakit “inferiority syndrome”, kalau yang berbicara orang asing kita begitu memujanya, tetapi ketika orang sendiri, teman sendiri kita begitu menyepelekannya dan tidak menghargainya. Padahal yang dibicarakan dan dilakukan jauh lebih baik daripada yang berasal dari pendeta lain atau orang asing tersebut. Kita sering bukan menilai dari apa yang dibicarakan dan dilakukannya, melainkan dari siapa yang berbicara dan melakukannya. Akibatnya kita tidak dapat belajar apa-apa.

 

Bukan memegahkan diri, tetapi tetap melayani dengan kerendahan hati.

Paulus dengan kerendahan hati menulis suratnya kepada jemaat di Korintus dan menjelaskan satu per satu dengan segala kesabarannya. Bahkan tanpa ragu ia mengakui semua kelemahannya. Namun justru dalam kelemahannya itu kuasa dan kemuliaan Kristus dinyatakan. Mungkin orang-orang Korintus masih meragukannya, sulit untuk menerimanya. Namun dengan tetap menjelaskan melalui perkataan dan membagikan semua makna hidup itu melalui perbuatan, orang-orangpun akhirnya mengetahui akan kebenaran, ketulus ekhlasan, kebaikan dan berkat dari apa yang dikatakan dan dilakukannya. Sejarah mencatatnya. Semua itu terbukti, surat-surat Paulus dipandang menyaksikan Firman dan karya Tuhan oleh jemaat-jemaat purba hingga sekarang ini.

Betapa sulitnya mengubah pandangan orang, anggapan orang, penilaian orang, lebih-lebih jikalau semua itu tercampur dengan rasa iri, dengki, sombong dan merasa diri sebagai pusat yang lebih dari segalanya. Belajar dari para hamba Tuhan, khususnya Paulus, tidak ada gunanya kita memegahkan semua kebolehan kita, merendahkan orang lain, lebih-lebih ganti menyerangnya. Jikalau memang ada kelemahan, kita akui kelemahan itu dan kita berusaha memperbaikinya secara terus menerus. Dengan demikian kita tetap dapat belajar dari kekurangan kita dan mengembangkan kelebihan yang ada demi makin bertumbuh membagi makna hidup sejati yang menjadi berkat bagi semuanya. Amin. [BRU]

 

Nyanyian: KJ 441

 

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

 

Pambuka

Para sadherek kinasih, saestu mboten gampil andum sih katresnan miwah maknaning gesang ingkang leres punika. Kathah tiyang pitados ingkang kuciwa sanget karana nganggep bilih punapa ingkang sae ingkang kaedum kaliyan tiyang ingkang dipun prangguli lan ladosi tamtu badhe katampi kanthi sukarena miwah syukur. Kasunyatanipun malah katampi kanthi kebak sujana, meri, dhengki. Saiba awratipun raos katampik punika. Karana katampik, kathah ingkang lajeng mutung, apatis, rumaos tanpa gina, mangkel, malahan dendam. Kanyatan katampik punika ugi dipun raosaken dening Gusti Yesus rikala penjenenganipun ngrawuhi lan memulang miwah nindakaken mukjijat nyarasaken tiyang-tiyang sakit.

 

Isi

Kenging punapa tiyang-tiyang Nazareth nolah Gusti Yesus?

Kala semanten Gusti Yesus sesarengan para muridipun ngrawuhi papan pangibadah ing Nazareth. Penjenenganipun lajeng memulang lan nindakaken mukjijat-mukjijat nyarasaken tiyang sakit. Tiyang-tiyang sami ngungun mirengaken piwulangipun ingkang kebak panguwaos lan mukjijat-mukjijatipun ingkang ngeram-eramaken sanget. Tiyang-tiyang punika sami pitaken: “saka ngendi sakabehing panguwasa iku? Kabeh sarwa ngeram-ngeramake!”

Nanging salajengipun sareng tiyang-tiyang punika sumerep bilih tiyang ingkang mulang punika inggih Yesus anakipun Yusuf si tukang kayu, anake ibu Maryam, sadulure Yakobus, Yoses, Yudas lan Simon, malahan sadherek-sadherekipun wadon taksih wonten dhusun punika, sakala tiyang-tiyang kalawau dados kuciwa sanget lan nundhung Gusti Yesus. Gusti Yesus kaliyan para muridipun lajeng nilaraken Nazareth. Saiba emanipun! Saupami Gusti mboten nilaraken dhusunipun tamtu taksih kathah malih piwulang-piwulangipun ingkang kebak panguwaos. Saupami Gusti mboten tindak, tamtu taksih kathah malih tiyang-tiyang sakit ingkang kasarasaken.

Manawi kita taliti, sikapipun tiyang-tiyang Nazareth punika rak ugi asring katampi dening para abdinipun Gusti? Sang Prabu Dawud ingkang wiwitanipun katampi sadaya tiyang Israel salajengipun ugi diragukan kasagedanipun mimpin dening sawatawis tiyang Israel, malahan dipun brontak kaliyan Absalom putranipun kinasih? Rasul Paulus, minangka rasul ingkang peng-pengan, kebak sih katresnan, kawicaksanan, seserepan miwah masrahaken gesangipun kangge lumados dhumateng Gusti ing tengahing pasamuwanipun, pranyata ing tengahing pasamuan Korintus ugi mboten katampi kanthi gumolonging manah dening saben warga Korintus. Temahan, ing seratipun 2 Korintus saged kita sumurupi wonten sawetawis warga ingkang mangu-mangu dhateng kerasulanipun Paulus amargi piyambakipun mboten ambekta serat rekomendasi (2 Kor 3:1), mboten prigel olah wicara (2 Kor 11:6), mboten nindakaken kathah mukjijat, malahan wonten ingkang ndakwa bilih Paulus mboten leres anggenipun ngatur pisungsungipun pasamuwan-pasamuwan dhateng pasamuwan Yerusalem (2 Kor 12:16).

Kawontenan ingkang mekaten saestunipun ugi sok kedadosan ing pasamuan kita. Kados pundi sikap kita warganing pasamuwan dhumateng para peladosipun? Punapa malih sareng pelados punika kasumerepi asal-usuling brayatipun, leluhuripun saking warga limrah kemawon, sanes tedhaking kusuma lan rembesing madu (tiyang utama) saking brayat-brayat oyoting GKJW. Kalebet ugi ing tengahing para peladosing GKJW, saiba gampilipun kita nandhang penyakit “inferiority syndrome” (minder). Tiyang manca kita puja-puji, ananging kanca piyambak, sesamining pelados GKJW kita sepelekaken. Kamangka punapa ingkang dipun rembag lan dipun tindakaken saestu langkung sae katimbang tiyang manca kalawau. Kita mbiji sanes saking punapa makna ingkang dipun wicantenaken, ananging saking sinten ingkang wicanten.

 

Sanes ngegungaken dhiri, ananging tetep lelados kanthi andhap asoring manah.

Paulus kanthi andhap asoring manah nyerat seratipun dhumateng pasamuwan Korintus lan nerangaken satunggal mbaka satunggal prekawisipun. Malahan tanpa mangu-mangu piyambakipun ugi ngakeni sadaya kekirangan lan kasekenganipun. Inggih wonten ing kasekengan lan kaapesanipun punika panguwaos miwah kamulyanipun Sang Kristus dados kasunyatan. Mbokmenawi sawetawis tiyang Korintus punika taksih mangu-mangu lan angel nampi. Ananging Rasul Paulus mboten bosen-bosen nerangaken miwah mbabaraken sadaya maknaning gesang punika lumantar pitembungan lan tumindakipun. Ngantos tiyang-tiyang punika saged mangertos lan ngraosaken kaleresan, tulus eklasing, kasaenan miwah berkah saking pangandika lan peladosanipun Sang Rasul. Kabukti serat-seratipun Rasul Paulus katampi dening pasamuwan-pasamuwan minangka paseksi bab pangandika miwah pakaryanipun Gusti wiwit pasamuwan-pasamuwan kawitan dumugi pasamuwanipun Gusti samangke.

Saiba ewedipun ngowahi pamanggih miwah panganggepipun tiyang, langkung-langkung menawi sadaya punika campur-adhuk kaliyan raos meri, dhengki, sombong lan dhiri pribadi minangka pusat saking sadayanipun. Sinau saking Rasul Paulus, saestu mboten wonten ginanipun kita ngegungaken dhiri kita, kesagedan kita, kaluwihan kita ingkang nglangkungi tiyang sanes punapa malih lajeng ngesoraken lan nyerang kaapesanipun tiyang sanes. Malahan menawi kita nggadhahi kaapesan, kita kedah wantun ngakeni sadaya kaapesan kita punika, lan namung ngegungaken panguwaosipun Gusti kanthi tanpa kendhat ngupaya mbangun dhiri. Kanthi mekaten kita ngalami, ing kaapesan kita punika, panguwaos miwah kamulyanipun Gusti kanyatakaken. Malah kita tansah saged sinau saking kekirangan kita lan ningkataken kaluwihan kita kinen terus tuwuh ngrembaka andum maknaning gesang sejatos miwah dados berkah tumrah tiyang kathah.   Amin. [BRU]

 

 

MINGGU, 12 Juli 2015
MINGGU BIASA
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1  : 2 Samuel 6: 11-19
Bacaan 2  : Efesus 1: 13-14
Bacaan 3  : Markus 6: 14-29
Mazmur    : Mazmur 35: 9-14

Tema Bulanan : Bertugas sebagai nabi demi makna kehidupan.
Tema Pekan      : Risiko membagi makna kehidupan yang benar.

 

Keterangan Bacaan

2 Samuel 6: 11-19

2 Sam 6:11-19 merupakan bagian dari kisah Raja Daud memindahkan Tabut Perjanjian dari rumah Abinadab yang di atas bukit itu ke Yerusalem. Anak-anak Abinadab, Uzza dan Ahyo mengantarkannya, Ahyo di depan, sedangkan Uzza di samping Tabut. Namun ketika sampai di pengirikan Nakhon, tiba-tiba lembu penarik kereta itu tergelincir dan seketika Uza yang berada di sampingnya memegang tabut itu, matilah ia seketika. Sehingga Tabut itu untuk sementara ditempatkan di rumah Obed Edom. Selama 3 bulan di rumah Obed Edom, ia dan keluarganya diberkati. Akhirnya Daud mengangkatnya lagi dibawa ke kota Daud. Daud besukacita, berjalan di depan Tabut sambil menari-nari bersama orang-orang lainnya. Mikhal anak perempuan Saul yang menjenguk dari jendela demikian merendahkan Daud dan mengatakan: “seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya.”

 

Efesus 1: 13-14

Ef 1:13-14: dalam tema hidup baru berdasarkan karunia Tuhan. Di dalam Kristus Jemaat Efesus dimeteraikan dalam Roh Kudus, artinya suatu jaminan yang sangat kuat sekali. Sebab jaminan itu berasal dari Allah sendiri. Jaminan itu berlaku sampai kita memperoleh keseluruhan janjiNya, penebusanNya. Oleh karena itu hidup kita hendaknya menjadi puji-pujian bagi kemuliaan Tuhan.

 

Markus 6: 14-29

Mk 6:14-29: Ketika banyak orang membicarakan Yesus dengan segala kuasanya: Adakah Dia Elia, seorang nabi? Herodes yang juga telah mendengar tentang kemunculan Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Yohanes Pembabtis yang sudah dipenggal kepalanya bangkit lagi. Masalahnya, Yohanes Pembabtis menegor Herodes karena menikahi Herodias isteri Filipus saudaranya. Herodes masih terombang-ambing, sehingga ia menahan Yohanes dipenjara, tetapi Herodias menyimpan dendam. Melalui anaknya yang menari dan memukau semua tamu, hingga ditawari oleh ayahnya, Herodes, supaya mengajukan permintaan apapun kepada ayahnya. Herodias membisikkan untuk meminta kepala Yohanes Pembabtis. Maka dipenggallah kepala Yohanes.

 

Benang merah 3 bacaan:

Ada bermacam risiko memberitakan dan membagi sukacita dan keselamatan Tuhan, misalnya Daud yang direndahkan, Yohanes Pembabtis dibunuh. Namun Paulus menyatakan supaya kita tetap membaginya dan memuji Tuhan. Karena kita telah mendapat jaminan yang sangat kuat dari Tuhan sendiri.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

Saudaraku kekasih Tuhan Yesus Kristus, setiap kata, keputusan dan tindakan ada risikonya. Walaupun kata-kata dan tindakan itu kita pandang sangat baik, indah dan dapat menjadi berkat bagi orang banyak. Itulah yang dialami oleh Raja Daud ketika ia bersukacita memindahkan Tabut Perjanjian sebagai simbol kehadiran Allah di tengah umatNya dari rumah Abinadab, Obed Edom ke Yerusalem. Tabut Perjanjian yang telah lama di tangan orang-orang Philistin, kini telah kembali. Bahkan Yohanes Pembabtis menanggung risiko yang jauh lebih berat lagi.

 

Isi

Tidak setiap kata dan tingkah laku sukacita kita dalam Tuhan diterima orang dengan suka cita pula.

Perlahan-lahan Tabut itu dibawa dari rumah Obed Edom menuruni perbukitan dengan diiringi suara gambus dan kecapi berkumandang pantul-memantul di antara bukit-bukit nyaring sekali. Di depan kereta Tabut, Daud bersama rakyatnya menari-nari dengan sekuat tenaga saking senang dan bahagianya. “Tuhan bersama kita! Tuhan bersama kita! Halleluyah!” Terdengar nyaring suara nyanyiannya, hingga memasuki gerbang kota Yerusalem. Orang-orang di Yerusalempun berlarian menyambut di jalan-jalan ikut bernyanyi, bersorak dan menari sehingga suaranya makin membahana memenuhi kota.

Namun, dari balik jendela Mikhal anak perempuan Saul yang melihat sang Raja bersama rakyatnya menari-nari dan meloncat kesana kemari itu sangat muak dan merendahkan Daud. Bagaimana mungkin Raja agung bisa bersama perempuan dan rakyat jelata menari-nari? Maka ketika Daud sudah meletakkan Tabut tersebut pada tempatnya, mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, membagikan roti bundar, sekerat daging dan kue kismis kepada rakyatnya serta orang-orang sudah kembali ke rumahnya masing-masing, iapun pulang memberi salam kepada seisi rumahnya. Mikhalpun keluar, katanya: “Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya.”

Jawab Daud: “… di hadapan Tuhan aku menari-nari, bahkan aku akan menghinakan diriku lebih daripada itu; engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang kau katakan itu, bersama-sama merekalah aku akan dihormati. Apalah artinya kebesaranku di hadapan kebesaran Allah?” Daud ingin meluapkan syukurnya dan dia tidak khawatir bahwa itu akan menurunkan derajatnya. Di hadapan Allah semua manusia sama. Justru bersama merekalah ia akan dihormati.

 

Ketika membagi kebenaran Allah tidak selalu diterima orang dengan senang

Tidak hanya sukacita dan syukur, tugas seorang nabi adalah memperingatkan umat tentang kebenaran Allah. Kemudian memberitahukan jalan yang dikehendaki Allah demi keselamatan dan kesejahteraan umat, memberi contoh tentang bagaimana hidup dalam kebenaran dan damai sejahtera Allah tersebut dan membangun masyarakat berdasarkan cinta kasih Allah untuk kesejahteraan bersama. Itulah salah satu tugas yang diemban Yohanes Pembabtis. Ia memperingatkan, menegor dan memanggil-manggil orang untuk bertobat supaya selamat. Ia juga memperingatkan Herodes ketika ia mengambil Herodias isteri adiknya yang bernama Filipus sebagai isterinya.

Herodes memasukkan Yohanes ke dalam penjara. Hatinya masih terombang-ambing, ia masih segan terhadap Yohanes, karena Yohanes adalah orang benar dan suci. Tetapi Herodias menyimpan dendam membara, ia terus mencari kesempatan untuk membunuh Yohanes. Kesempatan itu pun tiba ketika anaknya menari dan memukau banyak tamu dan pembesar-pembesar, hingga Herodes berkata: “Mintalah daripadaku apa saja yang kau ingini, maka akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku.” Ketika si anak bertanya kepada ibunya, cepat-cepat Herodias membisikkan ke telinga anaknya yang masih polos itu, dan iapun minta kepala Yohanes Pembabtis. Kepala Yohanes pun dipenggal. Begitulah betapa dendam telah menggerogoti hidup manusia, merusak pikiran anak yang masih polos dan melahirkan tindakan keji.

Alangkah besarnya risiko membawa kabar baik dan membagi makna hidup kepada manusia, padahal semua itu demi kebaikan dan keselamatan mereka sendiri. Ternyata banyak orang tidak suka untuk diluruskan, diperingatkan untuk kebaikannya. Di sini tidak hanya cibiran atau cemoohan saja, tetapi bisa dibenci, didendam, bahkan dibunuh. Entah sudah tidak terhitung lagi berapa korbannya. Cemoohan, kebencian dan dendam itu juga bisa terjadi di tengah gereja, di dalam pelayanan kita yang memang dipanggil untuk saling memperingatkan dan menasihati antara satu dengan yang lain sebagai tanda komunitas yang terus diperbarui demi kebaikan dan keselamatan bersama. Adakah kita juga termasuk orang-orang seperti itu?

 

Bagaimana seharusnya?

Karena berbagai risiko tsb di atas banyak orang percaya memilih lebih baik diam. Akibatnya tindakan yang salah bahkan merugikan diri sendiri dan orang lain terus berkembang, komunitas tidak bisa dibangun untuk lebih baik dan kekudusan umat tidak dapat dijaga. Bahkan kesaksian orang-orang percaya di tengah masyarakat juga menjadi cemoohan.

Dalam suratnya Ef 1:13 dan 14 ini Rasul Paulus mengingatkan bahwa di dalam Kristus kita orang percaya telah dimeteraikan dalam Roh Kudus. Meterai adalah alat untuk menguatkan dan mengesahkan. Surat dengan meterai, kuitansi dengan meterai artinya sah dan kuat. Sehingga jikalau kita dimeteraikan di dalam Roh Kudus, artinya penebusan dan keselamatan kita sah dan kuat sekali. Kita tentu akan menerima keseluruhan janjiNya. Sebab penguatnya dan dasarnya bukan dunia, tetapi dari Allah sendiri.

Oleh karena itu dalam keadaan apapun kita tetap bersyukur dan memuji kemuliaan Allah. Di manapun kita tetap membagi makna hidup baru karuniaNya itu dan mengungkapkan kasih dan keselamatanNya yang agung, yang tidak dapat diberikan oleh dunia itu. Memang, selain tujuannya baik, caranyapun harus bijak, dengan penuh syukur, lemah lembut, tidak perlu mempermalukan orang di depan umum. Yang penting hatinya tersentuh dan dari sana akan mengalir perubahan yang makin baik yang pada gilirannya akan membawa perubahan keluarga dan masyarakat. Orang Jawa mengatakan: “kena iwake ora susah buthek banyune.” Amin. [BRU]

 

Nyanyian: KJ 426

 

RANCANGAN KHOTAB: Basa Jawi

 

Pambuka

Sadherek kinasih ndalem asmanipun Gusti Yesus Kristus, Saben pitembungan, keputusan miwah tumindak punika wonten risikonipun. Malahan pitembungan lan tindak-tanduk ingkang kita anggep sae, endah lan ambekta berkah pisan dereng tamtu katampi sadaya tiyang kanthi sae. Contonipun ingkang dipun alami dening Sang Prabu Dawud rikala suka bingah mindhahaken Pethi Prajanjian minangka pralambang rawuhipun Gusti ing tengahing umatipun. Ugi piwelehipun Yohanes Pambabtis dhumateng Herodes.

 

Isi

Mboten saben tembung lan tumindak kanthi tujuan sae katampi dening sadaya tiyang kanthi sae.

Len-lenan Pethi Prajanjian katumpakaken kreta kanthi kairing suwantenipun gambus lan kecapi mandhap saking griyanipun Obed Edom nglangkungi lengkehing redi. Ing sangajengipun Pethi, Sang Prabu Dawud lan rakyatipun sami jejogedan saking bingahing manahipun. “Yehuwah Allah nunggil lan kita! Yehuwah Allah nunggil lan kita! Halleluyah!” Mekaten kapireng sorakipun tiyang-tiyang punika mawantu-wantu ngantos lumebet ing gapuraning kitha Yerusalem. Tiyang-tiyang ing salebeting kitha lajeng sami mlajeng jèjèr-jèjèr ing sauruting margi mapag praptaning iring-iringan kalawau, malahan kathah ingkang sami ambyur pisan ndherek ngidung lan jejogedan saengga suwantenipun sangsaya sora mawurahan.

Mireng rame-rame punika saking wingkinging cendhela, Mikhal, putrinipun Sang Prabu Saul nginceng punapa estunipun ingkang saweg kedadosan. Sareng nyumerepi Sang Prabu Dawud ngidung lan jejogedan sesarengan tiyang kathah sakala manahipun neg lan ngasoraken Sang Prabu. Kadospundi, Sang ratu agung binathara saged jejogedan ngleter sesarengan marupi-rupining tiyang kados mekaten? Sasampunipun Sang Prabu Dawud mapanaken Pethi Prajanjian punika ing papan ingkang sampun kacawisaken lan ngrampungaken upacara korban lan sanes-sanesipun, panjenenganipun ugi lajeng kondur lan ngulukaken salam dhumateng kulawangsanipun. Mikhal sampun mboten saged ngempet mrongkoling manahipun, mila lajeng brebet medal lan ndhamprat Sang Prabu. Kados pundi Ratuning Israel mwudani dhirinipun piyambak ing ngajenging wanita-wanita rucah, batur tukon-batur tukon abdinipun, rumaos kinurmatan dinten punika kados dene tiyang nistha tanpa isin mwudani dhirinipun piyambak!

Sang Prabu ngendika bilih saestunipun sadaya kamulyanipun punika mboten wonten artosipun ing sangajenging kamulyanipun Yehuwah Allah. Mila ing sangajengipun Yehuwah Allah ingkang sampun paring sadaya kanugrahan punika penjenenganipun badhe ngasoraken badanipun ingkang langkung asor malih. Panjenenganipun mboten kuwatos kecalan kamulyanipun. Sang putri Mikhal saged kemawon nganggep asor lan nistha, ananging sesarengan para wanita batur tukon punika Sang Prabu badhe kaurmatan.

 

Andum kaleresanipun Gusti Allah mboten tansah katampi kanthi legawa

Rikala mbabaraken kaleresanipun Gusti, Yokanan Pembabtis boten namung nampi cemoohan kemawon, ananging nyawanipun dados kurban. Tugasipun nabi punika ngengetaken manungsa dhumateng kaleresanipun Gusti. Sasampunipun enget, lajeng nedahaken margi ingkang kinarsakaken dening Gusti murih kawilujengan miwah karahayoning umat. Nabi ugi maringi conto kadospundi gesang miturut kaleresan miwah tentrem rahayunipun Gusti punika lan mbangun bebrayan adhedhasar sih katresnan kangge karaharjaning masyarakat. Mekaten ugi salah satunggaling tugasipun Yokanan Pembabtis. Mila Yokanan ngengetaken miwah nimbali tiyang supados sami mratobat lan nampi kawilujenganipun Gusti. Piyambakipun ugi ngengetaken Sang Prabu Herodes kala Sang Prabu ngrabi Herodias semahipun Philipus, adhinipun.

Yokanan lajeng kacepenglan kinunjara. Ananging manahipun Herodes taksih miyar-miyur. Piyambakipun taksih sungkan dhumateng Yokanan, awit piyambakipun nganggep bilih Yokanan punika tiyang leres lan suci. Ananging Herodias semahipun saestu nyimpen dendam (igit-igit) lan tansah ngantos-antos wekdal saged mrejaya Yokanan. Nalika dinten ulang taun anakipun kapèstakaken, anakipun njoged endah sanget ngantos ndadosaken gawoking para tamu. Saking keprananipun, lajeng Herodes nari anakipun supados nyuwun punapa kemawon dhumateng bapakipun, sanajanta separoning negari tamtu badhe kaparingaken. Rikala anakipun pitaken dhumateng Herodias ibunipun, si ibu lajeng mbisiki putrinipun supados nyuwun sirahipun Yokanan. Yokanan katugel mustakanipun, kapapanaken ing talam lajeng kaaturaken. Saestu nggegirisi sanget. Dendam mboten namung nggrogoti manahipun Herodias kemawon, ananging ugi ngrisak pikiran lan manahipun si anak ingkang polos ingkang dereng mangertos punapa-punapa punika.

Saestu ageng sanget risiko mbabaraken pawartos rahajeng lan andum maknaning gesang ingkang sejatos dhumateng manungsa murih kasaenan miwah kawilujenganipun punika. Pranyata kathah tiyang ingkang mboten remen kaengetaken kangge kasaenanipun piyambak. Ing ngriki mboten namung encepan, wewada kemawon, ananging malah dipun sengiti, kaigit-igit, kaancam, malahan kapejahan pisan. Duka sampun pinten korbanipun? Sadaya encepan, cemoohan, pangigit-igit utawi dendam punika ugi saged kedadosan ing tengahing pasamuan lan peladosan kita ingkang saestunipun katimbalan supados enget-ingengetaken, lipur-linipur, tutur-tinutur, ajar-ingajar lan kiyat-kiniyataken antawisipun satunggal lan satunggalipun, matemah pasamuwan punika saged terus kabangun lan kaenggalaken murih kesaenan miwah kawilujenganipun sadaya. Punapa kita ugi kadosdene tiyang-tiyang ingkang angel nampi pepenget punika?

 

Kados pundi sakleresipun?

Karana risiko ingkang kathah punika, pramila mboten aneh menawi kathah tiyang pitados lan para pelados ingkang lajeng milih mendel kemawon. Temahanipun, tumindak ingkang lepat ingkang mitunani (merugikan) dhiri pribadi lan tiyang sanes saya ndadra, pasamuwan mboten saged kabangun tumuju ingkang langkung sae lan kasucening umat mboten saged kajagi. Malahan paseksinipun tiyang pitados dados cecèngèsan ing tengahing masyarakat.

Ing seratipun Ef 1:13 lan 14 punika Rasul Paulus ngengetaken bilih kita para pitados punika ing Sang Kristus sampun kaecap (dimeteraikan). Meterai punika alat kangge ngiyataken lan ngesahaken. Serat kanthi meterai, kuitansi kanthi meterai artosipun sampun sah lan kiyat. Mila menawi kita punika sampun dipun meterai-aken ing Sang Roh Suci, artosipun panebusan lan kawilujengan kita punika sampun sah lan kiyat. Kita tamtu badhe nampi sadaya prasetyanipun Gusti Allah. Sabab dhasaring kekiyatanipun sanes saking ndonya ingkang saged owah gingsir, ananging saking Yehuwah Allah piyambak ingkang teguh prakosa.

 

Panutup

Mila wonten ing kawontenan ingkang kados punapa kemawon kita kedah tetep remen saos sokur mulyakaken asmanipun Allah kanthi tetep mbabaraken gesang enggal kanugrahanipun, maujudaken sih katresnani-pun miwah andum kawilujenganipun ingkang agung ingkang mboten saged kaparingaken dening jagad punika. Pancen tujuan ingkang endah lan sae punika caranipun ugi kedah kebak kawicaksanan, syukur, lemah lembut, mboten nglingsemaken tiyang sanes ing satengahing tiyang kathah, tujuanipun kangge kasaenanipun tiyang punika. Ingkang penting manahipun kepranan, lan saking telenging manah punika mili ewah-ewahan tumuju kasaenan ingkang sangsaya dangu sangsaya luber, mboten namung ngluberi pribadinipun piyambak, ananging ugi brayatipun, malahan pasamuwan lan masyarakatipun. Tiyang Jawi nggadhahi unen-unen: “kena iwake ora susah buthek banyune.” Amin. [BRU]

 

Nyanyian: KPK 194: 2,3.

 

 

Kata Kunci Artikel Ini:

khotbah minggu, kotbah minggu, rancangan khotbah gkjw, khotbah minggu ini, rancangan kotbah, khotbah minggu sengsara, kotbah gkjw, YEHEZKIEL 17:22-24, khotbah kenaikan tuhan yesus, amsal 9:1-6

Comments are closed.