wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

Minggu, 19 Oktober 2014
MINGGU BIASA 29
STOLA  PUTIH

Bacaan 1         : Keluaran 22: 21-27
Bacaan 2         : 1 Tesalonika 1: 6-10
Bacaan 3         : Matius 22: 34-40

Tema Bulanan: Kegagalan Manusia, Wajarkah?
Tema Pekan    : Kasih

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

Keluaran 22: 27 menyebutkan “sebab Aku ini Pengasih.” Ayat ini menandaskan bahwa segala hal dalam hidup ini supaya menjadi baik maka harus meng-azas-kan kasih. Sebab Sang Pencipta kehidupan ini sendiri sudah menunjukkan identitasNya: “sebab Aku ini Pengasih.” Karena itu segala unsur yang terkait dengan penciptaan adalah kasih. Itu pula yang diluncurkan oleh Tuhan Yesus untuk menjawab pertanyaan hukum mana yang terutama? Jawabnya adalah Kasih.

 

Isi

Tuhan Yesus dapat menjawab dengan pasti hukum apa yang terutama dalam hukum Taurat? Yaitu mengasihi Tuhan dan Sesama. Titik temunya Kasih.

Keduanya digabungkan menjadi satu oleh Tuhan Yesus dari dua rumusan hukum, yakni hukum tentang mengasihi Tuhan dan hukum mengasihi sesama. Sebenarnya satu persatunya sudah diamalkan oleh orang Yahudi, namun untuk penggabungannya baru dilakukan oleh Tuhan Yesus saat Ia menjawab pertanyaan dari Ahli Taurat sebagaimana bacaan kita. Yang diangkat dari Ulangan 6: 5 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu”,  danImamat 19: 8 “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kedua hukum tersebut dapat dikatakan sebagai formula singkatan dari 10 Perintah Allah yang bisa dibaca di Keluaran 20: 1-17 dan Ulangan 5: 6-21. Yang butir-butir kongkritnya sebagai berikut; Hukum 1-4, berbicara tentang bagaimana mewujudkan kasih kepada Tuhan dan butir ke 5 – 10 tentang bagaimana mewujudkan sikap mengasihi sesama.

Singkat kata mengasihi Tuhan dengan segenap hati maksudnya ialah bahwa dalam berpikir hanya mengarah, berorientasi pada kehendak Tuhan, hatinya penuh diliputi perasaan kasih kepadaNya. Dengan “segenap jiwa” artinya dengan jujur  tanpa pamrih. “Segenap akal budi” yakni mengasihi Allah secara integritas yakni konsisten antara pikiran-perkataan-perbuatan semua mencerminkan kasihnya kepada Allah. Semua hal yang ada pada manusia itu, hati/budi, integritas, dikerahkan kepada Tuhan. Maka mengasihi Tuhan yang sedemikian rupa itu sesungguhnya sama  dengan mengutuhkan kemanusiaan kita.

Yang kedua “…Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…” ayat 39, oleh Tuhan Yesus diangkat dari  Imamat 19:18. Adalah berisi nilai kebersamaan, apa yang kita rasa dan perbuat untuk diri sendiri maka itu pula yang harus dihidangkan kepada sesama. Saling menerima, sebab sebagai sesama insan ciptaanNya, di dalam diri sendiri dan dalam diri mereka terkandung juga nilai keilahian, sesama itu juga gambar dan rupa Allah. Mengasihi sesama adalah cara yang paling membuat orang sungguh mengasihi Allah.

Maksud dari hukum-hukum tersebut diberikan oleh Allah dan adalah agar manusia selamat, sama seperti rambu-rambu lalu lintas adalah agar pengguna marka jalan mengalami keselamatan manakala mematuhinya. Bahwa kasih itu merupakan formula pembangunan kehidupan yang jitu, sesuai dengan rencana-kehendak dan hakikatNya.

Di Perjanjian Lama 10 Hukum diberikan khusus bagi orang Israel yang dimerdekakan oleh Allah dari penjajahan di Mesir (Kel. 20: 1-2). Di dalam Perjanjian Baru, Hukum kasih yang merupakan ringkasan dari 10 Hukum diberikan oleh Tuhan Yesus bagi umum, siapa saja yang bersedia menerima,  tidak  lagi terbatas pada bangsa tertentu, tetapi kepada semua orang, semua bangsa, ras, suku. Serta Pembebasan yang diberikan bukan saja penjajahan politik namun pembebasan dari dosa, kegelapan yakni akar dari segala penderitaan manusia. Demikian dapat kita simpulkan bahwa penebusan dosa di PL bagaikan miniatur atau pilot proyek dari keselamatan yang dicanangkan Allah, dan kini sudah digenapi dalam Diri Yesus Kristus. Inilah era kita.

Kasih Keselamatan itu memungkinkan kita untuk berkarya, mengukir sejarah ini. Mari menoleh ke salib Kristus, ia tidak hanya menjulang ke atas secara vertikal saja, tetapi juga kesamping. Kesamping adalah membangun kehidupan bersama dengan sesama, sebab dengan sesama  kita makin menemukan kasih kita kepada Allah. Itu akan semakin jelas nampak, mewarnai seluruh dimensi kehidupan kita: di relung hati, pikiran, perkataan inilah balok salibNya yang menjulang ke atas. Tiada terpisahkan, antara yang menjulang ke atas dan ke samping: mengasihi Allah dan mengasihi sesama, Kristus telah menyatukannya memungkinkan kita berkarya maksimal, karena kasihlah kerangkanya.

Allah Pengasih adanya (Ul. 22: 27). Dunia diciptakan dengan kasih, demikian kiranya kita, kasih menjadi kerangka karya hidup kita. Serangkai hukum itu dipaparkan bukan sebagai kewajiban-kewajiban belaka, melainkan sebagai kepedulian yang mendalam akan perkembangan peradaban. Menumbuhkan kepedulian serupa ini adalah juga rambu jalan ke arah sorga, hidup yang kekal.

 

Penutup

Saudaraku yang mengasihi Kristus.

Sekularisasi berbeda pengertian dengan sekularisme. Sekularisme adalah faham yang di dalamnya merupakan penolakan pada  yang ilahi.  Sekularisasi adalah sebuah proses alami biasa, yang melihat dunia dan zaman (dari bhs Latin: saeculum = hidup di dunia) sebagai sesuatu yang nyata, bukan fatamorgana atau lembah kutukan, ataupun layar dari wayang beber yang tinggal diputar secara otomatis langsung ada, akan tetapi sesuatu yang positif dan berharga, dan berproses di mana manusia ditugaskan membuat saeculum menjadi sejarah atau peradaban. Yang biasa menjadi bermakna.

Panggilannya adalah bahwa kita diajak untuk tidak perlu ragu−ragu,  tetapi aktif dan penuh prakarsa membuat dunia ini lebih baik, lebih berharga. Bahwa manakala rumusan hukum  kasih yang ajaib itu kita terapkan sebagai respon kasih kita kepada Allah dan sesama, seperti dalam bacaan ketiga kita: mengasihi Tuhan dan sesama menjadi bagian yang menyatu, maka hidup kita berganti nilai. Kita “naik kelas.”  Dalam diri ini terjadi transformasi,  bahwa kehidupan yang kita jalani  akan menjadi “pengukiran sejarah.” Hal−hal yang alami dapat kita bentuk menjadi kebudayaan, sebagai sumbangan bagi perputaran peradaban baru.

Kita semua dipanggil oleh Tuhan, untuk memungkinkan kemajuan ini lewat penerapan hukum kasih yang diberikanNya. Amin. [Evi]

 

Nyanyian: KJ 423 : 1- 4

Catatan Kamus: Arti kata : pemalut /pe·ma·lut/ n pembalut; pembungkus (KBBI), keluaran 22: 27

 —

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka                                                             

Pangentasan 22: 27 nyebataken “awit Ingsun iki asipat asih mirma.” Ayat menika nandhesaken bilih samukawis wonten ing gesang menika supados dados sae, pramila kedah adhedhasar katresnan. Karana Kang Akarya gesang menika sampun nendahaken jatidhirinipun: “Ingsun iki asipat asih mirma.” Ingkang menika, samukawis ingkang gegayutan kaliyan pakaryan penciptaan menika katresnan. Lah inggih menika ingkang dipun wedharaken dening Gusti Yesus kangge mangsuli pitakenan menggah pepaken pundi ingkang utami? Wangsulanipun nggih menika katresnan.

 

Isi

Gusti Yesus saged mangsuli kanthi yakin bilih pepaken ingkang utami wonten ing Toret nggih menika tresna dhateng Gusti lan sesami. Poking pepanggihan nggih menika katresnan.

Kekalihipun dipun dadosaken setunggal dening Gusti Yesus saking kalih reroncening pepaken, nggih menika pepaken bab nresnani Gusti lan pepaken nresnani sesamining manungsa. Sejatosipun, setunggal baka setunggal sampun dipun amalaken, dipun lampahi, dening tiyang Yahudi, nanging nyawijinipun nembe dipun tindakaken dening Gusti Yesus nalika mangsuli pitakenanipun para ahli Toret kados wonten ing waosan kita. Wangsulanipun menika kaangkat saking Pangandaring Toret 6: 5 “Tresnanana Gusti Allahmu kanthi gumolonging atimu, gumolonging nyawamu lan gumolonging budimu”, lan Kaimaman 19: 8 “Tresnanana pepadhamu manungsa di kaya marang awakmu dhewe.” Kalih pepaken menika saged kawastanan ringkesan saking 10 angger-anggeripun Allah ingkang saged kawaos ing Pangentasan 22: 1-17 lan Pangandaring Toret 5: 6-21. Dene reroncenipun menkaten: angger-angger 1-4 ngandharaken kados pundi mujudaken katresnan dhumateng Gusti dene angger-angger 5-10 bab kados pundi mujudaken tresna dhateng sesami.

Cekakipun, nresnani Gusti kanthi gumolonging manah manknanipun nggih menika bilih penggalih kita namung ngener lan ngingingi bab karsananipun Gusti, manahipun dipun kebaki raos tresna dhumateng Gusti. “Kanthi gumolonging nyawa” tegesipun kanthi jujur lan tanpa pamrih. “Kanthi gumolonging budi” tegesipun nresnani Allah kanthi mujudaken pikiran-pitembungan-kalakuan nedahaken katresnanipun dhumateng Allah. Sedaya ingkang wonten manusa, ati-nyawa-budi manunggal dipun ketog dhumateng Gusti. Nresnani kanthi makaten menika sejatosipun sami kaliyan manunggalaken kamanungsan kita.

Ingkang kaping kalih “Tresnanana pepadhamu di kaya marang awakmu…” (ayat 39) dipun dening Gusti Yesus saking Kaimaman 19: 18. Menika isi patunggilan (kebersamaan), menapa ingkang kita raosaken lan kita  tindakaken inggih menika ugi ingkang kita segahaken dhateng sesami. Tampi-tinampi, awit minangka sesamining titahipun Gusti, wonten ing dhiri kita lan dhirinipun sesami kita wonten makna ilahi, sesami menika ugi pasemon lan citranipun Allah. Nresnani sesami dados cara ingkang saged ndamel tiyang saestu nresnani Gusti Allah.

Angger-angger menika kaparingaken dening Gusti Allah supados manungsa manggih wilujeng, sami kaliyan rambu-rambu (tandha-tandha) lalu lintas ing margi-margi supados tiyang-tiyang ingkang sami liwat saged manggih wilujeng menawi purun manut. Katresnan menika dados wewujudan pambanguning gesang ingkang utami cundhuk kaliyan rancangan, karsa lan hakekatipun Gusti.

Wonten ing Prajanjian Lami (PL) angger-angger 10 menika kaparingaken dhateng bangsa Israel ingkang kaluwaraken dening Allah saking pangawulan ing Mesir (Pang. 20: 1-2). Wonten ing Prajanjian enggal (PE) pepaken katresnan dados ringkesan saking angger-angger 10 ingkang dipun paringaken dening Gusti Yesus dhateng sintena kemawon ingkang purun nampeni, boten winates ing bangsa tartamtu, nanging dhateng sedaya tiyang, sedaya bangsa, suku lan ras. Sarta pangluwaran ingkang dipun paringaken boten namung saking penjajahan politik, naging saking pangluwaran saking dosa, pepeteng ingkang njalari manungsa sangsara. Dados panebusing dosa wonten ing PL kadya miniatur utawi wiwitaning karahayon ingkang karancang dening Allah, ingkang samangke kapenuhan wonten ing sarira Gusti Yesus Kristus. Lah menika jaman kita.

Sih kawilujengan menika ingkang nyagedaken kita kangge makarya, ngukir sejarah. Mangga noleh dhateng salib Kristus, salib menika boten namung ngener manginggil, nanging ugi ngiwa-nengen. Ngiwa-ngengen menika tegesipun mbangun gesang bebrayan kaliyan sesami, awit sesarengan sesami kita saya manggih katresnan kita dhumateng Allah. Menika saya cetha ngrasuki saranduning gesang kita: ing telenging kalbu, pikiran, pitembungan, menika kajeng salib ingkang ngener manginggil. Ingkang manginggil lan ingkang ngiwa-nengen menika dhaten pinisah: nresnani Allah lan nresnani sesami. Gusti Yesus nunggilaken menika ingkang nyagedaken kita makarya sakatogipun, karana katresnan ingkang dados rangkanipun.

Allah menika kebak ing katresnan (Pang. Toret 22: 17). Jagad menika katitahaken kanthi katresnan. Lah menkaten ugi kedahipun katresnan dados rangkaning pakaryan kita. Angger-angger menika kagelar boten namung minangka kuwajiban, nanging minangka kawigatosan ingkang lebet tumrap indhaking tatananing agesang. Nuwuhaken kawigatosan makaten menika ugi dados rambu-rambu margi ingkang tumuju kaswargan, gesang langgeng.

 

Panutup

Para sedherek ingkang nresnani Gusti lan sesami.

Sekularisasi  menika benten pangertosanipun kaliyan sekularisme. Sekularisme menika pemanggih ingkang nampik wontenipun ingkang ilahi. Sekularisasi proses alami ingkang limrah, ingkang nyawng jagad lan jaman minangka satunggaling kasunyatan, sanes kados fatamorgana (sesawangan ingkang boten nyata) utawi juranging wewelak, utawi kelir (keber) ringgit beber ingkang dipun gelar tumunten wonten sedayanipun. Ananging ingkang sae lan aji, lan ingkang berproses bilih manungsa kapurih mbudidaya gesanging jagad menika dados sejarah lan tatananing agesang. Ingkang prasaja dados aji.

Timbalanipun nggih menika kita kaajak supados boten mangu-mangu, nanging giyak lan kebak krenteg ngudi jagad dados langkung sae, langkung aji. Menawi angger-anggering katresnan ingkang elok menika kita cakaken minangka tangkeping katresnan kita dhumateng Allah lan sesami, kados waosan kita kang katiga: nresnani Gusti lan sesami dados perangan ingkang manunggal, mila gesang kita gantos pamawas. Kita kados minggah klas. Salebeting gesang kita wonten owah-owahan, bilih pigesangan ingkang kita lampahi menika dados “pengukiring sejarah.” Pakulinan kita bangun dados kabudayan minangka sumbang sih murih lampahing tatananing agesang ingkang enggal. Kita sedaya tinimbalan dening Gusti murih kemajuwan menika lumantar anggen kita ngetrapaken angger-anggering katresnan peparingipun Gusti menika. Amin. [terj. ST]

 

Pamuji: KPK 165 / 104

—-

MINGGU, 26 OKTOBER  2014
MINGGU BIASA 30
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1    : Maleakhi 2: 1-9
Bacaan  2   : 1 Tesalonika 2: 8-12
Bacaan 3    : Matius 23: 1-12

Tema Bulanan : Kegagalan Manusia, Wajarkah?
Tema Pekan    : Mewujudkan KehendakNya Secara Nyata

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Jemaat yang mengasihi Kristus.

Manakah yang saudara suka?

  1. Rajin ke gereja, aktifis gereja,  namun perilakunya dibolak-balik sulit ditemukan kekeristenannya. Mungkin Jemaat bisa menyebutkan apa salah satu ciri sikap perbuatan dari orang Kristen? (Biarkan jemaat menjawab: mungkin ada yang menjawab: Kasih, jujur, suka bergaul …).
  2. Sementara ada seorang pekerja keras di jalanan, dengan penghasilan yang hanya habis untuk sekedar kenyang, tidak pernah ke gereja entah mengapa, namun dua hari sekali istrinya nampak membawakan 3 kadang 4 nasi bungkus untuk dibagi ke yang terlantar dengan cuma-cuma. Katanya: “saya tidak sampai hati membiarkan perut mereka kosong berhari-hari. Karena saya tahu bagaimana sakitnya waktu lapar, wah… hanya nasi saja sekedar untuk ngganjel perut.” Ini kisah nyata, lho.

Yang satu aktifis gereja tetapi sikap sehari-harinya jauh dari kasih, sementara yang lain tidak pernah ke gereja, namun kesadaran untuk berbagi kasih tidak diragukan. Yang mana saya dan saudara? Dua-duanya? maksudnya… ya ke gerejanya tidak aktif, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya perilaku kasihnya juga buram … hampir tidak jelas… Ahhhhh maaf yang ini saya yakin bukan Bpk-ibu, Sdr warga jemaat.

 

Isi

Jemaat yang mengasihi Kristus.

Siapakah Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi? Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi merupakan Mahkamah Agama yang disebut Sanhedrin. Mereka adalah yang berwenang mengatur roda aktifitas keagamaan Bangsa Israel pada saat itu. Mereka menduduki kursi Musa (ay. 2). Mereka berdinas di kota-kota tertentu, tugas yang diembannya a.l.: memutuskan perkara kriminal, hukuman-hukuman khusus, atau mengeluarkan surat perintah keputusan pengadilan suatu perkara. Mereka menduduki kursi Musa, tetapi bukan sebagai pengantara antara Allah dan Bangsa Israel seperti Musa, melainkan hanya dalam kapasitas pemegang  jabatan pengadilan saja (Kel. 18:26).

Mereka juga bertugas menjelaskan hukum Taurat secara rinci dan mengajar orang banyak cara menerapkan hukum tersebut pada kasus tertentu. Mimbar kayu, seperti yang dibuat untuk nabi Ezra, ahli kitab yang mahir dalam hukum Taurat Allah (Neh. 8:5), hendak mengisyaratkan bahwa mereka juga mempunyai kemampuan layaknya Ezra. Kursi Musa, karena Musa memiliki kursi-kursi semacam itu di setiap kota (seperti yang dinyatakan dalam Kis. 15:21). Merekalah yang memberitakan hukum Taurat dari atas mimbar itu. Inilah jabatan mereka, sebuah jabatan yang sah dan terhormat menurut hukum.

Kesimpulan: mereka adalah pemegang peran penting sirkulasi peribadahan umat kepada Allah, bahkan disebut menduduki kursi Musa yang bertugas sebagai pengadilan bagi umat yang bermasalah.  Berbeda dengan realita kehidupan mereka, sikap perilaku mereka jauh dari harapan terkait dengan tugas dan tanggung jawab mereka tersebut. Mereka cenderung mencari ketenaran dan keunggulan, dan sangat menyombongkan diri dengan hal-hal Taurat, sehingga pada ayat 3, Tuhan Yesus memberi mereka peringatan  ”Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi jangan kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajar tetapi tidak melakukannya.” Jadi sikap hatinya yang tidak tepat maka perilakunya juga menjadi salah, bukan ajaran agamanya. Religiusitasnya yang menjadi kendalanya.

Marimengingat sosok multidimensi negeri kita, yakni Romo Mangunwijaya, biasa disebut Romo Mangun. Dia tokoh agama Katolik, hidupnya lebih banyak dihabiskan untuk masyarakat kecil. Sebagai pembela warga korban gusuran Waduk Kedungombo, yakni waduk terbesar di Jawa Tengah dan sebagai inspirator atas pemukiman kumuh di bantaran Kali Code Yogyakarta menjadi pemukiman yang artistik dan sehat. Berpakaian biasa saja layaknya rakyat kecil, tanpa atribut bahwa dia adalah pemimpin umat.

Dalam buku: Sastra dan Religiusitas yang ditulisnya dan mendapat penghargaan buku non-fiksi terbaik tahun 1982 di Indonesia, ia mengetengahkan tentang religiusitas, bahwa religiusitas itu berbeda dengan agama.

Agama atau religi Religiusitas
Tekanan pada kelembagaan, kebaktian kepada Tuhan secara resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya serta seluruh tatanan dan pedoman ajaran, maupun pedoman organisasi atas kehidupan bermasyarakat. Lebih dalam dan luas dari pada agama, lebih bergerak dari aspek yang “di dalam lubuk hati”, hati nurani; sikap personal yang terkait dengan hal intimitas jiwa. Kepekaan dalam hal mengamalkan ajaran agama.

 

 

Filsafat  fenomenologis menyatakan bahwa manusia itu adalah  tubuh – jiwa,  jiwa yang membentuk raga atau jiwa yang menubuh, bukan tubuh sebagai wadag yang diisi oleh jiwa. Dalam buku ini Rama Mangun memberikan apresiasi pada berbagai gerak dan sikap tubuh manusia, memahaminya dengan penuh kedalaman sehingga tubuh yang wadag dan terikat pada waktu itu menampakkan hakikat rohnya.

Benar, bahwa aktif saja masih kurang, harus dilengkapi dengan perilaku yang sesuai dengan ajaran atau nilai-nilai kekeristenan sebagai perwujudan dari kerohanian kita. Sebagaimana Kaum Farisi dan Ahli Taurat yang begitu aktif di ranah agama, tetapi masih lemah di perilaku, bahkan justru mereka mejadi batu sandungan (ayat 13).

Demikian juga religusitas atau kerohanian kita akan semakin kuat manakala kita menjadi umat yang taat bergereja melalui ibadah-ibadah, persekutuan dan aktifitas gereja lainnya. Yang diunduh di gereja adalah untuk membangun religiusitas /kerohanian.

 

Penutup

Panggilan bagi kita adalah jangan berhenti di altar dan halaman gereja, mari teruslah mengirimkan kabar sukacita Injil kepada semua orang. Jangan berhenti di berbuat baik saja, tetapi jadikan firmanNya pengarah perbuatan baik kita. [Evi]

Nyanyian: KJ 426

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi.

 —

Pambuka

Pasamuwan ingkang nresnani Gusti.

Pundi ingkang panjenengan remeni?

  1. Sregep dhateng greja, aktifis greja, nanging tindak-tandukipun boten ngristeni. Mbokmenawi pasamuwan saged nyebataken menapa titikanipun tiyang Kristen ing tindak-tandukipun? (Kersanipun pasamuwan mangsuli: menawi wonten ingkang mangsuli: tresna, jujur, remen srawung, lsp)
  2. Wonten pawongan ingkang sengkut panyambutdamelipun ing dalan-dalan. Asiling panyambutdamelipun namung telas angger wareg kemawon, boten nate dhateng greja duka kenging napa. Kalih dinten sepisan semahipun mbekta 3 utawi 4 wungkus sekul dipun paringaken dhateng tiyang ingkang terlantar (gelandhangan), dipun paringaken kanthi gratis. Ucapipun: “Kula boten mentala ngendelaken madharanipun tiyang-tiyang kothong ngantos pinten-pinten dinten. Krana kula ngertos kados pundi sakitipun yen dhong luwe; wah… namung sekul mawon kangge nggajel weteng.” Menika cariyos nyata, lho.

Ingkang setunggal aktifis greja nanging patrapipun sadinten-dinten tebih saking katresnan. Dene setunggalipun boten nate dhateng greja, nanging saestu nyata anggenipun andum katresnan. Kula lan panjenengan menika ingkang pundi? Kalih-kalihipun? Lho, pikajengipun…. “nyang greja ya ora aktif, ning kelakuanne saben dina ya ora pati ketok katresnane… ora jelas…” Ahhhh, ngapunten, kula yakin menika sanes Bapak, Ibu, Sedherek pasamuwan.

Isi

Pasamuwan ingkang nresnani Gusti lan tresna-tinresnan.

Sinten ta para ahli Toret lan tiyang Farisi menika? Ahli Toret lan tiyang Farisi menika Majelising Agami ingkang kasebat Sanhedrin. Tiyang-tiyang menika kagungan wewenang mranata sedaya kegiataning agami Israel nalika samanten. Tiyang-tiyang menika nglenggahi kursi Musa (ayat 2). Tiyang-tiyang menika dhines ing kitha-kitha ngemban jejibahan, antawisipun: mutusi prekawis kriminal (piawon), pidana-pidana mirunggan, utawi ngedalaken serat keputusan pangadilan bab saben prekawis. Tiyang-tiyang menika nglenggahi kursi Musa, nanging sanes minang pantawis antawisipun umat lan Allah kados nabi Musa, nanging namung nglenggahi kalenggahan pangadilan kemawon (Pang. 18: 26).

Tiyang-tiyang menika ugi kagungan jejibahan nerangaken angger-anggering Toret kanthi rinci lan memulang tiyang kathah bab margi ngecakaken angger-angger menika tumrap prekawis tartamtu. Mimbar kajeng, kados ingkang dipun damel dening nabi Ezra, ahli kitab ingkang wasis ing bab angger-angger Toreting Allah (Neh. 8: 5), mratandhani bilih tiyang-tiyang menika kagungan kemampuan kados Ezra. Kursi Musa, karana Musa kagungan kursi-kursi kados makaten ing saben kitha (Para Rasul 15: 21). Tiyang-tiyang menika ingkang medharaken angger-anggering Toret saking mimbar menika. Nggih menika kalenggahanipun, kalenggahan ingkang sah lan kinurmatan miturut hukum.

Cekakipun: tiyang-tiyang menika nyepeng peran penting bab samukawis pangibadah umat dhumateng Allah, malah kasebat nglenggahi kursi Musa ingkang kagungan jejibahan minangka pangadilan tumrap prakaranipun umat. Benten kaliyan kasunyataning pigesanganipun tiyang-tiyang menika, bilih tindak-tandukipun tebih saking luhuring tanggel jawab kados dipun ajeng-ajeng. Tiyang-tiyang menika namung pados kondhanging asma lan kaunggulan, lan sanget ngongasaken dhiri (sombong) ing bab Toret. Temahan, ing ayat 3 Gusti Yesus ngengetaken para murid: “Mulané padha lakonana lan padha turuten sakèhing piwulangé. Nanging kowé aja niru kelakuané, awit wong kuwi dhéwé ora padha nglakoni apa sing padha diwulangaké.” Dados, karana sikaping manahipun boten trep, pramila tidan-tandukipun ugi boten leres, boten selaras kaliyan piwulanging agaminipun. Relijiusitasipun dados pepalangipun.

Mangga ngengeti satunggaling tokoh multidimensi Romo Mangunwijaya, ingkang cekakipun kasebat Romo Mangun. Panjenenganipun menika tokoh Greja Katolik, gesangipun langkung kathah katelasaken kagem kawula alit. Panjenenganipun mbelani para warga kurban gusuran Waduk Kedungombo, waduk (dam) ingkang paling ageng ing Jawi Tengah lan dados inspirator atas pemukiman kumuh ing pinggiran Kali Code Yogyakarta kadadosaken papan pemukiman ingkang endah lan sehat. Agemanipun sarwi prasaja kados kawula alit, tanpa tandha-tandha bilih panjenenganipun menika pemimpin umat.

Wonten buku: Sastra dan Religiusitas ingkang dipun serat lan pikantuk penghargaan buku nonfiksi terbaik taun 1982 ing Indonesia, panjenenganipun njlentrehaken bab relijiusitas, bilih relijiusitas menika benten kaliyan agami.

Agama utawi religi Religiusitas
Nengenaken kelembagaan, pangabekti dhumateng Gusti sacara resmi/ hukum, pranatan-pranatan lan angger-angger sarta sedaya tatanan lan pedoman piwulang, lan ugi pedoman pedoman organisasi tumrap gesanging bebrayan ing bermasyarakat. Langkung lebet lan wiyar tinimbang agami, tumindak saking telenging kalbu, hati nurani; patrap pribadi gegayutan kaliyan raketing jiwa. Langkung rumaos tinimbalan ngamalaken piwulanging agami.

 

 

 

 

Filsafat (piwulang luhur) fenomenologi mulangaken bilih manungsa menika awujud badan-jiwa. Jiwa ingkang membentuk raga utawi jiwa yang menubuh, sanes raga utawi badan ingkang kaisi jiwa. Wonten buku menika Romo Mangun ngaosi sedaya obah musiking raganipun manungsa, mangertosi kanthi lebet temah badan wadhag menika ngetingalaken hakekat jiwanipun.

Leres pancen, bilih aktif  utawi sregep kemawon taksih kirang, kedah dipun jangkepi kanthi laku ingkang selaras kaliyan piwulang lan nilai-nilai kekristenan minangka wujuding karohanen kita. Kaum Farisi lan para ahli Toret ingkang aktif ing babagan agami, nanging miskin ing lampah, malah dados watu ingkang nyandhungi (ayat 13).

Makaten ugi relijiusitas utawi karohanen kita badhe saya teguh menawi kita dados umat taat bergereja lumantar ibadah-ibadah lan kegiatan-kegiatan greja sanesipun. Ingkang dipun undhuh ing greja nggih menika kangge mbangun relijiusitas utawi karohanen.

 

Panutup

Timbalan tumrap kita nggih menika sampun ngantos kita mandheg ing altar lan latar greja, mangga kita lajengaken nyebar kabar kabingahan Injil dhateng sedaya tiyang! Sampun ngantos kendel nindakaken laku utami, kita dadosaken sabdanipun Gusti minangka panuntun lampah utami kita. Amin. [tej. ST]

 

Pemuji: KPK 196 / 195.

 

Comments are closed.