wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 03 MEI 2015
DOA SYUKUR YBPK
STOLA MERAH

 

Bacaan 1         : Kisah Para Rasul 9: 26-31
Bacaan 2         : 1 Yohanes 3: 19-24
Bacaan 3         : Yohanes 15: 1-8

Tema Bulanan : Roh Kudus Membangun Syalom Bagi Segala Bangsa
Tema Pekan    : Bersama Roh Kudus Berjuang Melawan Mitos Jaman

 

Keterangan Bacaan

Kisah Para Rasul 9: 26-31

Alur Kis. 9: 26-31 demikian:

  1. Saulus yang dahulu terlibat dalam penganiayaan para murid Yesus datang ke dalam persekutuan para murid yang dulu dianiaya oleh kelompoknya, reaksi pertama para murid adalah menolaknya karena ketakutan.
  2. Ada salah seorang dari para murid, yakni Barnabas yang mau menerima dia dan membawanya ke hadapan para rasul dan meyakinkan para rasul tentang Saulus.
  3. Saulus membuktikan dirinya dengan ikut berkarya, karyanya dalam nama Yesus ini membuatnya hampir terbunuh.
  4. Persekutuan para murid menyelamatkan dia dengan melarikan dia ke Kaisarea lalu ke Tarsus.
  5. Atas karya Roh Kudus jemaat bertumbuh di Yudea, Galilea, dan Samaria.

 

1 Yohanes 3: 19-24

Perikop ini memberikan kesaksian:

  1. Kita berasal dari kebenaran Allah, dan kebenaran itu yang menenangkan hati kita. Demikian seharusnya.
  2. Tetapi kadang hati kita menentang kebenaran dari Allah itu. Pertarungan dengan diri sendiri adalah hal yang pertama-tama harus dihadapi dan tidak boleh diabaikan oleh orang percaya. Pada saat itulah Allah menguatkan hati kita melalui Roh KudusNya.
  3. Roh Kudus inilah yang memampukan kita untuk menuruti kehendak Allah dengan keberanian. Keberanian ini tidak menuntun kita ke dalam perpecahan tetapi justru pada kasih.

 

Yohanes 15: 1-8

Kisah Pohon Anggur dalam Yoh 15: 1-8:

  1. Pohon anggur adalah gereja dengan Sang Bapa sebagai sang pengelola, Kristus pokoknya, dan seluruh gereja adalah rantingnya.
  2. Mereka yang percaya kepada pemberitaan Kristus adalah ranting yang dibersihkan melalui firman Tuhan.
  3. Ranting diharapkan mampu berbuah. Jika tidak berbuah ranting akan dipangkas, sedangkan ranting yang berbuah akan dibersihkan supaya berbuah lebih banyak.
  4. Ranting bisa berbuah jika dia tinggal di dalam Sang Pokok. Berbuahnya ranting bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk sang pengelola, Allah sendiri.

 

Benang merah 3 bacaan

Panggilan orang percaya adalah berkarya dan berbuah. Panggilan ini tidak mudah, karena bisa saja mereka mendapatkan tentangan dari dalam diri mereka sendiri dan dari luar. Tapi Tuhan tidak akan membiarkan seseorang yang sungguh-sungguh berkarya sendirian. Pertolongan Tuhan datang melalui sahabat (persekutuan) dan terutama Roh Kudus. Jangan menyerah/ berhenti dalam berkarya! Karya ini adalah karya kasih dan damai sejahtera bagi semua ciptaan.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan: Catatan dari Sebuah Masa

Salah dua kegiatan pelayanan dan kesaksian utama yang mendapatkan perhatian khusus gereja sejak semula adalah pendidikan dan kesehatan. Jemaat-jemaat awal GKJW adalah jemaat-jemaat yang tercatat memiliki rumah sakit (YK) dan terutama sekolah YBPK. Hal ini merupakan sebuah bentuk kesadaran sejak jaman para leluhur kita, bahwa teologi sosial dan kontekstual adalah panggilan gereja dalam berbuah mendatangkan kasih dan damai sejahtera bagi semuanya. Kesehatan adalah pangkal dari hidup, dan pendidikan adalah pangkal perubahan menuju tatanan masyarakat (perabadan) yang lebih baik lagi. Pangkal dari segala pangkal itu semata-mata adalah kasih Allah kepada seluruh ciptaanNya.

Ketika semuanya baik-baik saja, baik dari segi pendanaan, belum adanya tekanan dan persaingan dari luar, dukungan besar dari pemerintahan pada saat itu, serta pribadi-pribadi yang setia dalam panggilannya, Yayasan Kesehatan dan YBPK GKJW pernah menjadi sebuah cermin pada masanya. Katakanlah dengan bahasa yang agak kurang ajar: terpandang. Tetapi ketika satu per satu masalah datang, dari dalam dan dari luar, maka yang terpandang ini tergoyahkan. Bersama dengan waktu dan tekanan yang terus meringsek, khususnya YBPK semakin hilang dari peredaran. Mereka yang di dalam lupa atau memilih abai setelah berhitung dengan segala risiko yang mungkin dihadapi. Demikian di dalam, apalagi yang di luar. YBPK diragukan, bahkan dilupakan, semoga tidak dibenci dan dihindari. Satu per satu tutup usia, mengucapkan selamat tinggal dengan sisa kenangan yang menyisakan air mata bagi mereka yang dulu pernah ada di dalamnya. Pahit, ya, tetapi demikianlah kita mengingat sejarah hidup kita bersama dalam lintasan perjalanan sejarah Gereja Tuhan ini.

 

Isi: Sebuah Mitos

Secara sederhana, mari kita bertanya, hari ini berapa dari kita yang dengan bersukacita mau mempercayakan anak-anaknya bersekolah di YBPK ketimbang sekolah yang lain?

Sebuah mitos kadung terbentuk, bahwa sekolah yang bermutu adalah sekolah yang bisa menghasilkan generasi dengan nilai ujian dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan jaman. Generasi yang bisa diterima di perguruan tinggi dan bisa dibanggakan orang tua karena kepandaian mereka atau setidaknya diterima di sekolah dengan nama prestisius. Demi mitos itu orang rela membayar harga paling mahal. Demi mitos itu orang berhamburan berjuang masuk ke sana. Demi cerita memiliki penghidupan yang layak, demi jaminan-jaminan diri yang meyakinkan. Salah? Tidak sama sekali! Sangat bisa dimengerti dan wajar. Tapi kalau boleh menjadi terbuka dan jujur, ada satu cerita lain dilupakan. Sebuah cerita yang bersama dengan itu didengungkan oleh ketiga bacaan kita tadi. Kisah tentang perjuangan iman, bahwa baik bukan sekadar pintar sesuai tuntutan jaman tetapi juga menjadi berarti bagi yang lain.

Unit Sekolah YBPK hari ini kadang dianggap sekolah kelas dua, mohon tidak tersinggung, mari kita jujur. Hal itu sesungguhnya karena mitos tadi telah memakan kita bertubi-tubi. Padahal kalau kita lihat dari sisi lain, YBPK justru sekolah yang dengan rendah hati menerima siapa saja yang tidak diterima di mana-mana. YBPK adalah penyelamat bagi sebuah generasi yang hilang atau berusaha dilalaikan oleh mitos tadi. Jika sekolah-sekolah lain adalah sebuah kereta ekspres, YBPK memberikan sebuah tumpangan bagi mereka yang tidak mendapatkan tiket kereta ekspres tadi. YBPK adalah perwujudan kasih yang paling jelas. Masakan kita tidak terpanggil untuk ikut dalam karya mulia ini. Dan memilih timbang repot, timbang kakehan risiko. Bukankah perjuangan apa pun menuntut adanya risiko, apalagi ini perjuangan iman. Saulus hampir mati olehnya. Para murid Yesus sebelumnya sudah berapa yang rela mengorbankan dirinya, tidak hanya harta tetapi nyawa. Pada saat itu tampaknya sia-sia, tetapi bersama dengan waktu ketika semakin banyak orang percaya, kita tahu bahwa perjuangan itu ternyata berbuah. Tidak instan, tapi nyata. Jika selama ini harapan sepenuhnya kita alamatkan pada kesuksesan dan keberhasilan diri, apakah tidak lebih indah jika alamatnya sekarang pada karya Allah yang mendatangkan damai sejahtera/ syalom bagi semuanya.

 

Saulus-YBPK, dan Barnabas, dan Roh Kudus

Saulus dalam bacaan kita tadi tampak seperti YBPK, diragukan di mana-mana. Sejarah masa lalunya membuat para murid ketakutan. Mitos yang sudah terlanjur melekati YBPK seolah membuat orang-orang menolaknya tanpa mau memandang untuk kedua kalinya. Sebanyak apa pun usaha Saulus maupun YBPK untuk menunjukkan dirinya dalam karya kasih, selama mitos ini masih terus direngkuh dan ketakutan berisiko masih meliputi, maka mereka yang potensial itu akan tetap tidak bergaung dan didengarkan.

Tapi beruntung, dalam bacaan pertama kita tadi, kita menemukan seorang Barnabas yang mau menerima Saulus dan mengusahakannya untuk diterima di kalangan para murid. Para rasul pun terbuka. Butuh orang-orang seperti Barnabas dalam perjuangan iman ini. Orang-orang yang mau mengambil risiko, orang-orang yang mau berpikiran terbuka demi jalan mulia damai sejahtera bagi semuanya ini. YBPK butuh kita semua ikut serta menjadi Barnabas-Barnabas hari ini, yang berani sungguh-sungguh ikut memperjuangkannya, memberikan kesempatan yang dipupuskan oleh mitos jaman. Mau? Jika Barnabas-Barnabas baru itu sungguh-sungguh mau berjuang di GKJW tercinta ini, demi syalom bagi semua, demi kasih bagi semua, demi panggilan mulia dalam Tuhan, percayalah masa depan YBPK tidak akan sepahit cerita yang sudah lewat.

Tapi di sisi lain Saulus pun membuktikan dirinya, demikian juga yang ada di dalam YBPK, sekiranya juga penting untuk membuktikan dirinya. Mari kita yang ada di dalam YBPK juga berjuang dengan sungguh-sungguh supaya bukan hanya menunggu buah dari luar, tetapi kita sendiri pun berbuah nyata dan berani berisiko juga demi jalan syalom itu.

Kita ragu? Tidak masalah, bacaan kedua tadi juga menceritakan tentang keraguan hati ini. Takut? Boleh-boleh saja. Tapi mari juga melihat ini: bukankah kita yakin Gusti Allah boten sare, Dia akan menemani siapa saja yang mau berjuang dalam jalan mulia ini. Tidak tanggung-tanggung, Dia mengirimkan Roh KudusNya untuk menemani kita. Apa yang kurang kalau kita sudah menerima anugerah Roh Kudus? Kalau Roh Kudus mendampingi sepanjang waktu, bukankah itu anugerah yang lebih dari cukup untuk memperjuangkan kasih bagi semua ini?

 

Penutup: Ranting yang Berbuah

Kita dipanggil untuk berbuah, ranting yang berbuah. Bukan hanya berbuah untuk diri, tetapi berbuah bagi karya Sang Pengelola kebun anggur ini, Tuhan sendiri. Untuk berbuah, ikatkan diri kita terus-menerus pada pokok anggur kita, Tuhan Yesus Sang teladan kasih. Dia yang mau berisiko demi karya kasih dan syalom. Dia yang mencurahkan Roh KudusNya bagi yang percaya. Salah satunya ikut berjuang melalui dan demi YBPK, cara GKJW melayani dan bersaksi nyata.

Dalam tahun-tahun ini YBPK juga memiliki sebuah proyek besar, dengan kebutuhan dukungan tenaga, pemikiran, dan juga dana. Sebuah proyek mendirikan Sentra Pendidikan di Malang. Mari kita dukung dalam doa, supaya karya itu bisa mendatangkan manfaat bagi semua, mendatangkan kasih dan damai sejahtera yang kadang absen karena persaingan yang didengung-dengungkan oleh mitos jaman ini. Amin. [Gide]

 

Nyanyian: KJ 356 ; KJ 400; KJ 237

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
(MOHON DIKHOTBAHKAN DENGAN RENDAH HATI)

 

Pambuka: Catetan Saking Mangsa Ingkang Lami

Kalih prekawis ingkang dados wujuding peladosan lan paseksi wiwit mulaning GKJW inggih punika peladosan kesehatan lan pendidikan. Saking pamanggih ingkang kados mekaten, kathah pasamuwan sepuh ingkang kagungan griya sakit (YK) lan maligi malih sekolah YBPK. Punika kesadharan saking para tiyang sepuh kita kala semanten bilih teologi sosial lan kontekstualipun gereja punika timbalan kangge mujudaken katresnan lan tentrem rahayu (syalom) kangge sedaya ingkang katitahaken. Kesehatan punika poking (pangkal) gesang, pendidikan poking ewah-ewahanipun masyarakat. Pangkal saking sedaya pangkal inggih punika katresnanipun Gusti Allah.

Nalika sedaya saweg sae, saking dana, dereng wontenipun panindhes lan persaingan saking jawi, wontenipun panyengkuyung saking pamarintah, sarta pribadi-pribadi ingkang tansah setya dhumateng timbalanipun, YK lan YBPK kala rumiyin dados kaca pangilon lan pambandhing ingkang sae kangge peladosan kesehatan lan pendidikan. Nanging nalikaning sedaya tantangan lan masalah lajeng dumugi, YBPK mliginipun lajeng ical saking peredaran. Kathah ingkang bokbilih ajrih kaliyan risiko lan milih mundur. Kathah ingkang mangu-mangu tumrap YBPK, lan boten sepinten dangu malih lajeng kesupen. Setunggal baka setunggal unit/ sekolahipun pamit mati, nilar luh kangge ingkang rumiyin ndherek lelados saha umyek ing lebetipun. Pait, estu, nanging kados mekaten kita ngenget-enget sejarah gesang kita sesarengan ing lampahipun Grejaning Gusti punika.

 

Isi: Mitos Jaman

Menawi kepareng, kula nyuwun pirsa, pinten ing antawis kita ingkang kanthi manah bingah karsa nyekolahaken putra-putrinipun ing sekolah YBPK?

Wonten mitos ingkang sampun kadhung kawangun, bilih sekolah ingkang sae saha bermutu punika sekolah ingkang saged ngasilaken nilai ujian lan keterampilan ingkang selaras kaliyan tuntutan jaman. Lare-lare pinter. Ingkang saged nyithak generasi ingkang saged gampil lumebet ing perguruan tinggi, ingkang saged ndadosaken tiyang sepuh bangga. Mitos punika ndadosaken tiyang lila mbayar kados pundi larangipun. Kathah tiyang ingkang kepingin lumebet dhateng ngrika, kangge penghidupan layak saha jaminan dhiri ing tembe. Limrah, saged dipun mangertosi. Nanging menawi jujur, wonten satunggaling cariyos ingkang dereng kaparingan wangsulan. Cariyos bab perjuangan iman, bilih sae punika boten namung dados pinter nanging ugi dados migunani kangge tiyang sanes.

Unit sekolah YBPK dinten punika kadhang kaangep sekolah nomer kalih, nuwunsewu sampun gela lo nggih, punika menawi kita purun jujur. Sejatosipun mboten sanes awit mitos kala wau sampun rumesep ing manah kita kados virus. Kamangka menawi kita purun mirsani saking sisih sanes, YBPK justru kanthi andhap asor nampi sinten kewaton ingkang boten katampi ing sekolah sanes. Juru wilujeng kangge generasi ingkang ical, utawi dipun lilakaken ical dening mitos jaman kala wau. Menawi sekolah-sekolah sanes punika sepur ekspres kangge ingkang mbetahaken efektif lan efisien, YBPK maringaken dhirinipun dados tumpangan kangge ingkang ketinggalan sepur. YBPK dados wujuding katresnan ingkang paling nyata. Menawi nilik prekawis punika, mosok nggih kita boten katimbalan wonten ing timbalan mulya punika lan milih timbang repot, timbang kakean risiko.

Perjuangan punapa kemawon ngemu risiko, Saulus meh kemawon kapegat nyawa, para muridipun Gusti Yesus ingkang sanesipun ugi mekaten, ingkang dipun kurbanaken boten namung raja brana nanging ugi nyawa. Wekdal samanten katingalipun nglaha, nanging sesarengan kaliyan wekdal ingkang kalampahan, nalika sangsaya kathah tiyang pikantuk kapitadosan, nyatanipun perjuangan punika ngasilaken woh. Pancen mboten instan (sanalika), nanging nyata. Menawi rumiyin pangajeng-ajeng namung dipun tujokaken kangge kesuksesan lan keberhasilan dhiri, punapa boten langkung endah menawi katujokaken dhateng pakaryanipun Allah ingkang mbekta tentrem rahayu/ syalom kangge sedaya ingkang katitahaken.

 

Saulus-YBPK, lan Barnabas, lan Roh Suci

Saulus wonten ing waosan kita kalawau katingal kados YBPK, kathah tiyang ingkang boten pitados dhateng piyambakipun. Sejarah dhirinipun ingkang kepengker ndadosaken para murid ajrih. Kados mekaten ugi, mitos ingkang kadhung sumrambah ndadosaken tiyang nampik YBPK. Usaha kados pundi kemawon, Saulus utawi YBPK anggenipun mbuktekaken dhirinipun wonten ing peladosan katresnan, menawi mitos punika taksih njajah pamanggihipun tiyang lan ndadosaken tiyang ajrih dhateng risiko, paseksinipun Saulus utawi YBPK badhe namung dados angin.

Nanging begja, wonten ing waosan kita ingkang kapisan kalawau, kita kepanggih kaliyan Barnabas ingkang purun nampi Saulus lan ngupadi supados piyambakipun katampi dening para murid. Para rasul ugi nggadhahi manah ingkang tinarbuka. Perjuangan punika mbetahaken tiyang-tiyang kados Barnabas, tiyang ingkang purun tinarbuka lan kandel manahipun dhateng risiko murih mulyaning Gusti punika. YBPK betah kita sedaya dados Barnabas-Barnabas enggal. Barnabas enggal ingkang purun berjuang paring wewengan (kesempatan) nalika jaman sampun mupus mawi mitosipun. Menawi Barnabas-Barnabas enggal punika purun ndherek lelados lan nyambut damel, kita pitados bilih masa depan YBPK ingkang dados margi peladosan lan paseksi bab katresnanipun Gusti boten badhe pait malih, nanging sumunar. Kados pundi? Kersa?

Ing sisih sanes Saulus ugi mbuktekaken dhirinipun. Kados mekaten ugi kita ingkan wonten ing YBPK, kita katimbalan ugi mbuktekaken dhiri kita. Mangga kita ingkang wonten ing lebetipun sampun ngantos nengga woh ingkang saking jawi, kita ugi ngasilaken woh ingkang nyata, mundhut risiko kangge margi syalom punika.

Boten dados punapa menawi samangke kita mangu-mangu. Waosan kaping kalih kalawau ugi nyariyosaken kados pundi menawi manah kita mangu-mangu. Ajrih? Boten punapa. Nanging mangga sami mirsani prekawis punika: Kita pitados Gusti Allah boten sare, Gusti badhe tansah njalari, ngrimati, ngamping-ampingi sedaya ingkang purun berjuang kangge margi mulya punika. Boten baen-baen, Gusti badhe ngutus Roh Sucipun njangkung lan ngrencangi kita. Punapa malih ingkang kita kuwatosaken menawi kita sampun nampi berkah Roh Suci? Roh Suci punika berkah ingkang sampun kalangkung-langkung kangge kita ingkang purun berjuang kangge margi mulya punika.

 

Panutup: Pang Kang Ngasilaken Woh

Kita katimbalan ngasilaken woh. Boten namung nguwoh kangge dhiri kita, nanging nguwoh kangge ingkang kagungan kebon anggur punika, Gusti piyambak. Supados tansah saged ngasilaken woh, mangga tansah dumunung wonten ing wit anggur kita, Gusti Yesus, tuladha katresnan kangge kita sami. Gusti Yesus kersa maringaken dhirinipun berisiko kangge katresnan lan syalom. Panjenenganipun badhe maringaken Roh Suci dhumateng ingkang pitados. Salah satunggaling margi kita berjuang punika kalebet lumantar YBPK, caranipun GKJW lelados lan paring paseksi ingkang nyata.

Wonten ing tahun-tahun punika, YBPK ugi kagungan proyek ageng ingkang mbetahaken panyengkuyung tenaga, pamikir, ugi dana. Proyek mangun Sentra Pendhidikan ing Malang. Mangga kita sengkuyung ing pandonga supados pakaryan punika saged munpangati kangge sedaya, ndhatengaken katresnan lan tentrem rahayu ingkang kadhang absen awit persaingan ingkang terus-terusan dipun cariyosaken dening mitosing jaman punika. Amin. [Gide]

Pamuji: KPK 86, KPK 284, KPK 297

 

—-

MINGGU, 10 MEI 2015
MINGGU PASKAH 6
STOLA MERAH

Bacaan 1         : Kisah Para Rasul 10: 25-26, 34-48
Bacaan 2         : 1 Yohanes 4: 7-12
Bacaan 3         : Yohanes 15: 9-17

Tema Bulanan : Roh Kudus Membangun Syalom Bagi Segala Bangsa
Tema Pekan    : Yesus Cinta ‘Ku, ‘Ku Cinta Kau, Kau Cinta Dia

 
Keterangan Bacaan

Kis 10: 25-26, 34-38 (Perjumpaan Petrus dan Kornelius)

  1. Seorang bukan Yahudi, Kornelius, dipilih oleh Allah untuk mendapat penglihatan dariNya. Perintahnya adalah untuk bertemu dengan Petrus.
  2. Petrus selama ini menolak orang bukan Yahudi, karena menyamakannya dengan sesuatu yang haram dan tidak tahir. Tetapi Allah memberikan dia penglihatan bahwa haram dan halal itu adalah hak sepenuhnya Allah. Petrus menyadari hal ini dan kemudian menjadi rendah hati dan menerima.
  3. Petrus mengatakan kepada Kornelius bahwa yang memilih Kornelius yang bukan Yahudi semata-mata adalah Allah. Panggilan itu membukakan mata semua orang bahwa hak prerogatif pemilihan adalah pada Allah. Allahlah yang berhak menurunkan Roh KudusNya kepada siapa yang dipilihNya, bukan kita manusia.
  4. Mereka yang dipilih oleh Allah dan dikaruniai Roh KudusNya memiliki tugas yang sama untuk menjadi saksi kasih, kehidupan, karya, dan penebusan Yesus Kristus.

 

1 Yohanes 4: 7-12 (Allah dan Kasih)

Orang yang mengasihi Allah, lahir dari Allah, dan mengenal Allah pasti akan mengasihi sesamanya. Tidak ada yang pernah melihat Allah tetapi bukti dari kehadiran Allah adalah kasih itu.

 

Yohanes 15: 9-17 (Dipanggil untuk Mengasihi)

  1. Bapa mengasihi Yesus, dan Yesus dipanggil untuk mengasihi para muridNya. Para murid dipanggil dan dikasihi oleh Yesus. Maka mereka yang dikasihi oleh Yesus juga harus mengasihi yang lain.
  2. Demi kasih itu orang harus rela mengorbankan apa pun bahkan nyawanya. Orang harus berani melawan dirinya sendiri demi mengasihi.
  3. Panggilan orang percaya adalah semata-mata untuk mengasihi. Kasih inilah yang menjadikan sukacita menjadi utuh penuh.

 

Benang merah 3 bacaan

Ada beberapa hal yang menghubungkan ketiga bacaan tadi:

  1. Mengasihi itu bukan pilihan kita orang percaya, tetapi justru adalah hal yang mutlak perlu dilakukan, karena kita dipanggil untuk mengasihi.
  2. Kita tidak bisa pilih-pilih mengasihi, karena Roh Kudus bisa datang dan memilih siapa pun. Kita harus mengasihi semuanya (seperti Petrus kepada Kornelius), karena memang itulah panggilan kita.
  3. Kita mengasihi karena kita telah dikasihi, dan itu yang kemudian diajarkan baik oleh Yesus dalam Injil Yohanes, maupun oleh sang penulis surat Yohanes yang pertama.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan: Nilai dan Sarana

Kenapa D lagi D lagi D lagi kok nggak RR RR*
Kenapa D lagi D lagi D lagi kok nggak RR RR
Kenapa tiba tiba tiba tiba kamu berbeda beda
Apakah ada yang salah dari apa yang kubilang
Jika bisa kuputar waktu takkan ku ping ping kamu melulu
Berikanlah aku kesempatan untuk menjawab BB ku

 *(D= delivered/terkirim, R=read/ diterima dan dibaca)

Lirik tersebut adalah penggalan dari lagu yang dipopulerkan oleh sebuah kelompok penyanyi anak-anak hari ini yang berjudul “Kenapa Mengapa.” Lagu tersebut menceritakan tentang kedekatan generasi anak-anak dengan teknologi. Generasi hari ini seringkali disebut Generasi Z, generasi yang sudah sejak kecil mengenal dan hidup dengan teknologi. Sangat mungkin jika kemudian anak-anak lebih banyak belajar dari perangkat teknologi ini daripada keluarga. Bersama dengan proses belajar itu, mereka juga belajar tentang nilai hidup.

Tampaknya lirik lagu di atas lucu apalagi dikemas dalam musik yang riang. Tetapi jika diperhatikan ada sesuatu yang perlu dijaga. Bukan sekadar masalah anak yang menjadi dewasa sedari dini, yang sudah menjadi gejala umum hari ini. Tetapi nilai yang berkembang bersama dengan lirik pada lagu populer tadi ketika dikunyah begitu saja, bisa saja menyebabkan sakit parah. Bagaimana tidak, seorang anak sejak kecil diajarkan untuk mengasihi dengan berbalas, dan jika tidak berbalas dia berharap untuk memutar waktu dan merasa menyesal telah mengasihi orang tersebut. Jika hal ini kita bandingkan dengan firman Tuhan hari ini, jelas tidak ketemu.

Ternyata tidak semua yang dipelajari anak dari perangkat teknologi mereka bisa mendatangkan kesehatan. Mungkin hanya sedikit orang tua yang mengajak anak berdiskusi mengenai lirik lagu itu. Alih-alih begitu, malah banyak orang tua yang kemudian membatasi anak supaya tidak banyak menggunakan internet, menonton TV, atau bermain handphone/ tablet. Tampaknya ada salah paham di sini, karena yang melenceng adalah nilainya, tetapi yang dibatasi justru sarananya. Bisa-bisa anak kemudian malah tidak berterima kasih karena komunikasi anak dan orang tua yang kurang jangkep (lengkap). Dan sayang sekali jika orang tua yang membatasi anak demikian ternyata dalam hidupnya juga memilih untuk memusuhi orang yang membenci mereka.

Sejenak mari kita bandingkan lagu tersebut dengan lagu “Yesus Pokok” yang salah satu bagian liriknya, “Yesus cinta ku, ku cinta kau, kau cinta dia” jelas ada nilai yang sama sekali berbeda. Dalam lagu “Yesus Pokok” kasih itu menular. Entah ‘kau dan dia’ yang kukasihi tadi awalnya baik atau jahat, tetapi tetap dikasihi karena Yesus telah mengasihi terlebih dulu. Dan mereka yang dikasihi, entah awalnya baik atau jahat sekalipun, juga akan belajar mengasihi karena dikasihi. Kesadaran mengasihi tidak pilih-pilih, karena sudah terlebih dahulu dikasihi oleh Tuhan, menjadi tema utama dalam lagu “Yesus Pokok.”

Isi: Teori Matematika danTeori Mengasihi

Sejak TK kita diajari bahwa 1+1=2, dan kita akan terus menerus mengingat hal itu bahkan sampai kita dewasa dan menjadi lanjut usia. Tetapi anehnya ada hal yang agak berbeda dengan urusan mengasihi. Sejak kecil kita diajari untuk mengasihi tanpa batas, tetapi tidak selalu hal ini kemudian kita pegang sebagai pandu hidup. Kita yang sudah diajar mengasihi tanpa batas saja kadang gagal melakukan hal itu, apalagi kalau sejak dini seorang anak diajar untuk mengasihi secara terbatas, hanya mengasihi kalau balas dikasihi, kalau tidak malah menyesal telah mengasihi.

Tampaknya belajar mengasihi bukan seperti belajar matematika. Bahkan mungkin belajar apapun mengenai iman tidak cukup sekadar tahu. Lihat saja misalnya matematika iman sangat berbeda dengan matematika di sekolah, “Jan jane kalau dihitung dari gaji bulanan ya kurang, tapi kok ya ada saja cara Allah mencukupkan, malah bisa menabung dan untuk saudara-saudara juga ada.” Hal itu sering kita dengar di gereja. Aneh ‘kan kalau sekadar dilihat dari cara hitung matematika yang biasanya. Ada hal yang kemudian perlu ditambahkan supaya tidak sebatas tahu, tetapi menjadikannya jalan hidup (way of life). Hal ini yang seringkali juga menjadi kegagalan pendidikan budi pekerti dan etika di sekolah, karena etika dan budi pekerti diajarkan sekadar teoritis dengan penilaian yang teoritis seperti pelajaran sekolah yang lain. Padahal kita tahu bahwa budi pekerti, dan etika sama seperti mengasihi tidak cukup dengan teori. Pantas saja kalau kemudian muncul komentar, “Ah… teori!”

Postulat* Mengasihi

(*Postulat: rumusan yang dianggap berharga dan diterima terbukti dengan sendirinya, meskipun ada harapan pada suatu saat bisa dibuktikan secara matematis)

Ada beberapa hal yang kita dapatkan dari bacaan kita hari ini berkaitan dengan upaya kita belajar mengasihi. Beberapa hal tersebut adalah:

  1. Semakin mengasihi semakin rendah hati

Hari ini banyak anak diajak berbangga atas capaian prestasi belajarnya. Tidak jarang banyak anak yang kemudian menjadi sombong karena prestasinya. Hal ini tanpa sadar kadang terbawa sampai besar, ada saja orang-orang dewasa yang merasa hebat karena sudah berhasil mencapai sesuatu, “Aku kok!” “Ini yang bisa cuma aku!” Lah kalau virus demikian menjangkit sampai di gereja, ‘kan bahaya. Mari mengintip Petrus dalam bacaan kita tadi, ketika Kornelius tersungkur di kakinya, Petrus tidak mendadak jumawa, kayak-kayak’a, tetapi dia dengan rendah hati mengangkat Kornelius dan menyatakan “Bangunlah, aku hanya manusia saja.” Kerendahhatian Petrus tampaknya bukan kepura-puraan, tetapi hal itu tulus dari dalam hatinya. Kerendahhatian ini tampaknya muncul karena hal kedua berikut.

  1. Belajar dari Perjumpaan, Belajar yang Dialami

Sebelum bertemu dengan Kornelius, sebelumnya Petrus telah mendapatkan penglihatan dari Tuhan tentang makanan haram dan halal. Dan dia sadar bahwa hal yang selama ini dianggapnya haram ternyata bisa saja halal di hadapan Tuhan. Dia diajari bahwa pengetahuannya tentang Allah baru seujung jari. Dan itu menjadikannya rumangsa (merasa) bahwa di hadapan Allah pengetahuannya tidak ada apa-apanya. Hal itu juga tampaknya muncul dari pengalamannya hidup bersama Sang Guru, Tuhan Yesus. Yesus adalah Guru yang tidak hanya mengajar tentang mengasihi tetapi juga melakukan apa yang diajarkanNya. Dan ternyata hal ini juga muncul dari pengalaman Yesus bersama Sang Bapa. Yesus merasa telah begitu dikasihi oleh BapaNya (Yoh 15: 9). Pelajaran iman butuh teladan bukan hanya teori, teladan yang membuat orang merasakan perjumpaan dan pengalaman.

  1. “Mengasihi karena” bukan “Mengasihi supaya”

Inilah yang menjadi catatan penting dalam ketiga bacaan kita hari ini. Kita mengasihi bukan supaya dikasihi. Kita mengasihi karena sebenarnya telah dikasihi oleh Allah. Itu juga yang menjadi inti lagu “Yesus Pokok”, “Aku mengasihimu karena aku telah dikasihi oleh Yesus, dan kau mengasihi karena kau telah terlebih dahulu mendapatkan kasih dariku yang telah dikasihi oleh Yesus ini.” Mengasihi supaya dapat untung, berbaik-baik kepada orang karena ada udang di balik cap jay tidak berlaku bagi orang percaya. Dan untuk ini butuh ilmunya nenek moyang kita: rumangsa. Kalau kita tidak mau rumangsa dikasihi sebesar apa pun ya tetap tidak terasa. Tapi kalau kita mau rumangsa, melihat matahari pagi, merasakan angin semilir, bangun di sebelah dia yang kita kasihi, menyaksikan tawa anak-anak kita, bisa menggerakkan jari-jari kaki, bisa tertawa bersama para sahabat, dan lebih lagi mendapatkan janji keselamatan adalah berkat tidak terkira luar biasanya. Kasih itu menular, itu yang membuat Petrus mengasihi Kornelius, membuat penulis I Yohanes mengajak setiap orang untuk mengasihi. Tularkanlah kasih ini, termasuk tularkanlah juga kepada anak-anak dan generasi kita dengan perjumpaan dan teladan.

  1. Dipilih untuk Mengasihi

Tuhan menepis pandangan Petrus dan menjadikannya sadar bahwa ternyata selama ini pandangannya -bahwa orang bukan Yahudi seperti Kornelius adalah kafir dan haram- adalah salah. Terbukti orang-orang demikian juga mendapat karunia Roh Kudus. Roh Kudus membuka pintu bagi damai sejahtera dan kasih bagi semua hingga orang-orang demikian pun dibaptiskan. Yang memilih bukan kita tetapi Yesus sendiri -yang dengan hak prerogatifNya- telah memilih kita. Bukan untuk berperang melawan mereka yang jahat dan menghancurkan mereka berkeping-keping. Biar saja apabila dunia melakukan itu kepada kita, karena dunia pun telah melakukannya kepada Yesus. Tapi panggilan kita atas pilihan ini adalah dipilih untuk mengasihi. Biar anjing menggonggong, orang Kristen tetap mengasihi. Mengasihi semuanya, tidak berbatas.

 

Penutup

Jadi kalau lagu anak-anak tentang mengasihi berpamrih tadi berkumandang di luar sana dengan merdeka, maka kita, keluarga kita, gereja, mari kumandangkan kasih yang tulus, bagi semuanya tanpa batas. Bukan untuk saingan tapi biar seimbang lah. “Yesus cinta ‘ku, ‘ku cinta kau, kau cinta dia.”Roh Kudus kiranya memampukan kita senantiasa. Amin. [Gide]

 

Pujian: PKJ 275, Yesus Pokok, KJ 185, KJ 426

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka: Nilai lan Sarana

Kenapa D lagi D lagi D lagi kok nggak RR RR*
Kenapa D lagi D lagi D lagi kok nggak RR RR
Kenapa tiba tiba tiba tiba kamu berbeda beda
Apakah ada yang salah dari apa yang kubilang
Jika bisa kuputar waktu takkan ku ping ping kamu melulu
Berikanlah aku kesempatan untuk menjawab BB ku

*(D= delivered/kakintun, R=read/ kawaos)

Cakepan punika saking salah satunggaling lagu ingkang kasuwuraken dening salah satunggaling kelompok penyanyi anak-anak ingkang kaparingan irah-irahan “Kenapa Mengapa.” Lagu punika nyariyosaken kados pundi generasi samangke celak sanget kaliyan teknologi. Generasi samangke ingkang kawastanan generasi Z punika nalika lair procot langsung tepang lan gesang kaliyan teknologi. Kadhang anak sinau langkung kathah saking teknologi katimbang saking brayat. Sareng kaliyan proses pasinaon punika, anak-anak lajeng ugi sinau prekawis nilai/ wewaton wonten ing gesang.

Kadosipun cakepan lagu punika lucu, punapa malih kabungkus kanthi musik ingkang sigrak. Nanging menawi dipun gatosaken wonten prekawis ingkang prelu kajagi. Prekawis kapisan punika kados pundi anak-anak punika dados diwasa wiwit alit mula, punika sampun dados gejala umum ing pundi kemawon samangke. Nanging langkung mbebayani malih menawi cakepan lagu punika katampi mekaten kemawon, wonten masalah ageng prekawis katresnan. Kacariyosaken kados pundi anak-anak namung nresnani nalika katresnanipun kawales, nalika katresnanipun boten winales, piyambakipun rumaos gela sampun nresnani lan kepingin ndadosaken wekdal mundur malih, wurung anggenipun nresnani. Menawi prekawis punika kita gathukaken kaliyan sabdanipun Gusti, tamtu boten gumathok.

Boten sedaya ingkang dipun sinaoni anak-anak saking perangkat teknologi punika sae lan sehat. Bokbilih boten kathah tiyang sepuh ingkang ngajak anak-anak diskusi prekawis isi lagu punika, nanging kathah tiyang sepuh lajeng membatasi anak saking internet, TV, HP, tablet lan sanes-sanesipun. Ketingalipun wonten salah paham ing ngriki. Ingkang melenceng punika nilainipun, nanging ingkang dipun batasi sarananipun. Bokbilih wonten lare ingkang boten saged nampi, awit komunikasi anak kaliyan tiyang sepuh ingkang boten jangkep. Lan langkung eman malih bilih tiyang sepuh membatasi anak saking pirantos punika, nanging wonten ing gesang paring tuladha dhumateng anak nalika piyambakipun sengit lan dadosaken tiyang sanes mengsah.

Sumangga sekedhap kita bandingaken sedaya punika kaliyan lagu anak-anak “Yesus Pokok” ingkang salah satunggal tembungipun “Yesus cinta ku, ku cinta kau, kau cinta dia”. Ing pamuji punika katresnan punika nular. Boten perduli “kau” lan “dia” punika sae punapa boten, nanging tetep dipun tresnani. Sedaya kala wau kawangun awit rumaos sampun dipun tresnani dening Gusti. Kesadharan nresnani tanpa pilih-pilih awit sampun rumaos dipun tresnani dening Gusti dados tema utami lagu “Yesus Pokok.”

 

Isi: Teori Matematika lan Teori Katresnan

Wiwit nalika TK kita dipun wucal bilih 1+1=2, lan kita badhe terus ngugemi prekawis punika ngantos kita diwasa lan adi yuswa. Punika teori matematika. Ingkang aneh, wonten prekawis sanes kaliyan teori katresnan. Wiwit alit mula kita dipun wucal supados kita saged nresnani tanpa winates, tanpa pilih-pilih. Nanging sanadyan mekaten kita boten badhe tansah ngugemi prekawis katresnan punika. Kita ingkang sampun pikantuk piwucal katresnan tanpa winates kemawon kadhang gagal anggenipun ngugemi lan nindakaken, kados pundi menawi anak-anak sampun nampi piwucal wiwit alit kados saking lagu kala wau?

Ketingalipun sinau katresnan punika benten kaliyan sinau matematika. Malah-malah sinau prekawis iman benten kaliyan sinau matematika, boten namung cekap mangertos kemawon. Mangga dipun pirsani matematika iman punika benten sanget kaliyan matematika ing sekolahan, “Jan-jane nek diitung saka gaji bulanane ya kurang, tapi kok ya isa cukup, malah isa nabung lan dinggo dulur-dulure barang?” Prekawis mekaten asring kita pireng ing gereja. Punika ingkang benten antawisipun sinau teori matematika kaliyan nresnani. Nresnani punika boten namung prekawis teori nanging lampah gesang. Punika ingkang asring dados kegagalan pendidikan etika dan budi pekerti ing sekolahan, awit ingkang dipun wucalaken namung teori. Kamangka prekawis etika lan budi pekerti punika boten namunng cekap teori. Pramila pantes menawi wonten ingkang cluluk, “Ah… teori!”

 

Postulat* Katresnan

(*Postulat: rumusan yang dianggap berharga dan diterima terbukti dengan sendirinya, meskipun ada harapan pada suatu saat bisa dibuktikan secara matematis)

Wonten prekawis-prekawis ing waosan kita kala wau gandheng kaliyan pasinaon katresnan, inggih punika:

  1. Tansaya nresnani, tansaya andhap asor

Dinten punika kathah lare alit kaajak bangga saking prestasinipun. Kebanggaan punika dados cikal bakalipun watak kumenthus, sombong. Prekawis punika asring boten dipun sadhari kabekta ngantos diwasa, tiyang rumaos hebat menawi sampun nindakaken salah satunggaling prekawis, “Aku kok!’ “Iki nek gak gara-gara aku, ya gak isa!” “Iki sing isa mung aku!” Menawi “virus” punika sampun lumebet ing greja, bahaya.

Mangga sami nilik ingkang dipun tindakaken dening Petrus ing waosan kita. Nalika Kornelius sujud ing sukunipun, Petrus boten lajeng jumawa, nanging kanthi andhap asor ngangkat Kornelius kanthi ngendikan, “Tangia, aku iki manungsa biasa.” Tansaya mangertos babagan katresnan, Petrus boten tansaya rumaos inggil, nanging tansaya mangertosi kawontenanipun.

  1. Sinau saking pepanggihan lan pengalaman

Saderengipun pepanggihan kaliyan Kornelius, Patrus sampun nampi paningal saking Gusti babagan prekawis haram lan halal. Punapa ingkang dados pamanggihipun Petrus saking gesangipun dipun rombak dening Gusti, punapa ingkang dipun anggep haram kasebat halal dening Gusti. Petrus lajeng sadhar bilih pangertosanipun menawi kabandhingaken kaliyan Gusti namung sakuku ireng. Prekawis katrenan ugi dipun sinaoni dening Petrus, awit piyambakipun sampun gesang dangu kaliyan Gurunipun, Gusti Yesus Kristus. Guru ingkang boten namung mucal prekawis katresnan nanging ugi dados tuladha katresnan. Prekawis punika dipun tindakaken dening Gusti Yesus awit Gusti Yesus ugi sampun ngalami katresnanipun Sang Rama. Piwucal iman punika boten namung teori, nanging tuladha ingkang ndadosaken tiyang ngraosaken pepanggihan lan pengalaman.

  1. ‘Nresnani awit’ sanes ‘Nresnani supados’

Punika ingkang dados cathetan penting saking tiga waosan kita. Kita nresnani boten supados dipun tresnani, nanging awit sampun dipun tresnani dening Allah. Punika ingkang kala wau ugi dados intinipun lagu “Yesus Pokok”: kita nresnani awit Gusti Yesus “cinta ku.” “Kau” nresnani awit “ku cinta kau”, mekaten salajengipun. Nresnani mawi pamrih, supados pikantuk kauntungan boten pajeng (berlaku) kanggenipun tiyang Kristen.

Kangge punika kita betah elmunipun nenek moyang: rumangsa. Menawi kita boten purun rumaos, dipun tresnani kados pundi kemawon kita boten badhe rumaos katresnanan. Nanging menawi kita purun rumaos, nalika ningali srengenge ing wayah enjing, nalika angin sumilir, nalika tangi ing sisih wonten tiyang ingkang kinasih, nalika saged mirsani para putra guyon lan gujengan, nalika saged gesang sesarengan sedherek lan brayat, langkung-langkung malih saged nampi karaharjan saking Gusti lumantar Gusti Yesus Kristus, punika berkah ingkang boten saged kaetang agengipun. Katresnan punika nular, katresnanipun Gusti dhumateng Petrus nular dhumateng Kornelius. Ing I Yokanan kita ungi katimbalan nularaken katresnan punika. Mangga kita tularkan katresnan punika, ugi dhumateng anak-anak lan generasi kita mawi pepanggihan lan tuladha pengalaman.

  1. Dipilih kangge nresnani

Gusti nedahaken dhateng Petrus bilih piyambakipun klentu prekawis tiyang sanes Yahudi punika kafir lan haram. Para murid ugi dados seksi bilih tiyang-tiyang mekaten ugi nampi Roh Suci. Roh Suci mbikakaken kori lan margi kangge tentrem rahayu lan katresnan kangge sedaya tiyang, tiyang-tiyang punika lajeng ugi kabaptisaken. Ingkang milih punika sanes kita, nanging Gusti Yesus piyambak lumantar Sang Roh Suci. Kita kapilih sanes kangge perang nglawan ingkang jahat lan ngremuk-remuk. Bilih jagad punika nindakaken prekawis punika, kersanipun, awit jagad sampun nindakaken prekawis punika dhumateng Gusti Yesus. Nanging timbalan kita boten sanes punika timbalan nresnani. Wonten paribasan “Biar anjing menggonggong, orang Kristen tetap mengasihi.” Nresnani sedayanipun tanpa mawang punapa-punapa.

 

Panutup

Dados menawi lagu anak-anak ing wiwitan nyariyosaken pamrih ing katresnan, sumangga kita, brayat kita, gereja, kita memuji kanthi tulus, “Yesus cinta kau, ku cinta, kau, kau cinta dia.” Roh Suci mugi ngiyataken kita. Amin. [Gide]

 

Pamuji: KPK 165, KPK 176

Kata Kunci Artikel Ini:

khotbah minggu, kotbah minggu, rancangan khotbah gkjw, khotbah minggu ini, rancangan kotbah, khotbah minggu sengsara, kotbah gkjw, YEHEZKIEL 17:22-24, khotbah kenaikan tuhan yesus, amsal 9:1-6

Comments are closed.