Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU,  01 MEI 2016
MINGGU PASKAH  6 – (DOA SYUKUR YBPK)
STOLA MERAH

 

Bacaan  1        : Kisah Para Rasul 16 : 9 – 15.
Bacaan  2        : Wahyu 21:10, 22 – 22:5
Bacaan  3        : Yohanes 5 : 1 – 9

Mazmur          : 67: 2 – 8

Tema Liturgis   : Hidup Baru Yang Baik dan Penuh Damai.
Tema Khotbah : Menghayati Hidup Dalam Pengharapan.

 

Keterangan Bacaan

Kisah Para Rasul 16 : 9 – 15.

Penglihatan Paulus dari malaekat mengantar Paulus, Silas dan Timotius (kami) melakukan perjalanan ke Makedonia untuk memberitakan Injil. Dari penglihatan Paulus itu akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Allah menghendaki mereka memberitakan Injil di Makedonia, kepada bangsa-bangsa yang lebih luas (ayat 10). Tidak hanya kepada bangsa Yahudi saja.

Ternyata di Makedonia mereka berkesempatan memberitakan Injil kepada para perempuan yang sedang berkumpul di salah satu tempat sembahyang Yahudi, dan salah satu di antaranya adalah Lidia (ayat 13, 14). Di sanalah pemberitaan Injil makin meluas yang bukan hanya lintas bangsa, tetapi juga lintas gender. Di Makedonia itu Paulus dkk, tidak hanya mengajar para laki-laki, tetapi perempuan juga. Bahkan Lidia dan keluarganya juga dibaptis.  Hal ini tentunya merupakan sesuatu yang baru bagi mereka pada saat itu.

Lidia adalah seorang penjual kain ungu dan hidup sendiri (bisa seorang janda atau tidak menikah). Penjual kain ungu pastilah seorang yang kaya, karena pada saat itu kain ungu merupakan kain yang mahal harganya dan bahkan menunjuk pada kelas sosial tertentu. Tidak sembarang orang mampu membeli dan mengenakan kain ungu.

Lidia dan seisi rumahnya (Lidia merupakan pengambil keputusan – ayat 15) setelah bertobat dan dibaptis ternyata juga ambil bagian dalam pelayanan Paulus dan kawan-kawan. Lidia meminta Paulus dan kawan-kawan menginap di rumahnya. Menginap di rumahnya berarti Lidia juga menyediakan kebutuhan akan makanan, dll. Karya keselamatan yang diterima oleh Lidia dan keluarganya menjadikannya juga mau berbagi berkat dengan orang lain dan ambil bagian dalam pelayanan pemberitaan Injil melalui Paulus. Ternyata, dengan jelas perikop ini juga mengungkapkan peran serta seorang perempuan, seorang “bussiness woman”  yang kaya namun mau ambil bagian dalam pelayanan, yaitu menyokong kebutuhan Paulus dan kawan-kawan saat berada di Makedonia.

 

Wahyu 21:10, 22 – 22:5.

Gambaran tentang “Yerusalem Baru” sungguh menyenangkan. Keadaan dimana Allah bertahta menjadikan manusia tidak lagi memikirkan kebutuhan duniawi. Semua telah dipenuhi. Bahkan manusia tidak lagi berpikir untuk membutuhkan terang, matahari, pintu-pintu rumah, dsb. Semua telah dipenuhi dan diperolehnya dari Allah. Manusia hanya menikmati kehadiran dan kebersamaannya dengan Allah yang menjadikannya damai dan sukacita.

Keadaan dimana Allah bertahta sungguh jauh dari pikiran manusia yang cenderung hanya berpikir tentang keduniawian. Kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus ini (Anak Domba) juga bisa dirasakan oleh segala bangsa. Semua orang hanya mengabdi pada kehendak Allah dan bukan untuk pemenuhan kebutuhannya pribadi. Keadaan dimana Allah bertahta tidak mengenal kegelapan, kejahatan dan dukacita. Semua orang akan hidup di dalam terang, yang artinya perilaku yang berkenan di hadiratNya, serta hidup dalam kedamaian dan sukacita. Situasi seperti inilah yang menjadi impian setiap orang dan sekaligus memberikan pengharapan bagi kehidupan orang percaya, meski saat ini menghadapi situasi yang sulit.

 

Yohanes 5 : 1 – 9.

Dalam kehidupan orang Yahudi ada tiga hari raya yang mengharuskan para pria dewasa datang ke Yerusalem (untuk yang tinggal dalam jarak 20 km dari kota Yerusalem). Mereka merayakannya di Yerusalem yaitu saat perayaan Paskah (roti tidak beragi), Pentekosta dan Pondok Daun. Yesus dan para muridNya yang memang semuanya orang Yahudi juga ke Yerusalem untuk merayakannya. Mereka sampai juga ke sebuah kolam yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda (= rumah anugerah) di mana banyak orang sakit menantikan mujizat kesembuhan bila airnya bergoncang.

Tuhan Yesus menemui seorang yang sakit dan menanti kesembuhan selama 38 tahun (dalam teks tidak disebutkan jenis sakitnya, mungkin lumpuh karena Tuhan Yesus menyuruhnya bangun, mengangkat tilam dan berjalan). Adalah manusiawi jika orang ini kehilangan pengharapan untuk sembuh. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mula-mula bertanya: “maukah engkau sembuh?” Pengharapan akan kesembuhan ini amat penting bagi si sakit, meskipun dia sudah 38 tahun menunggu. Pengharapan akan kesembuhan ini berarti juga ada kerelaan untuk diubah oleh Tuhan Yesus. Bagaimana si sakit tidak lagi mengharapkan goncangan air kolam (karena mengharap masuk ke kolam saat air goncang ternyata sia-sia), tetapi berubah berharap pada kuasa Tuhan Yesus yang akan menyembuhkannya.

Perintah Tuhan Yesus agar si sakit itu bangun, mengangkat tilam dan berjalan, tentunya merupakan hal yang mustahil bagi si sakit. Inilah sebuah tantangan. Apakah si sakit akan melakukannya yang berarti membuktikan bahwa dia tidak kehilangan pengharapan, atau sebaliknya mengabaikannya karena menganggap perintah itu tidak mungkin dilakukannya. Kenyataannya si sakit tunduk pada perintah Tuhan Yesus, dan sekaligus itu membuktikan bahwa dirinya tidak kehilangan pengharapan, meskipun sudah sakit 38 tahun lamanya.

Peristiwa penyembuhan itu terjadi pada hari Sabat. Ini bagi orang Yahudi merupakan pelanggaran terhadap peraturan tentang Sabat. Demikian juga ketika orang yang baru disembuhkan itu berjalan dengan mengangkat tilamnya. Namun, bagi Tuhan Yesus, kasihnya kepada sesama yang menderita (sakit) jauh lebih besar dari pada peraturan Sabat yang dibuat oleh manusia. Keinginan untuk menolong orang yang menderita dan memberikan kelepasan dari penderitaan (penyakit) menjadi bukti kasihNya kepada semua orang. Bukan hanya orang sehat yang dikasihi, tetapi orang sakit juga.

 

Benang Merah 3 Bacaan

Kasih Allah dalam memberikan keselamatan kepada manusia memang tidak memandang bangsanya, jenis kelaminnya, maupun keadaan kesehatan fisiknya. Semua orang layak menerima pemberitaan Injil dan menerima karya keselamatan Allah. Salah satu wujud pembaharuan yang Tuhan berikan adalah mengangkat penderitaan manusia dan mengubahnya menjadi sukacita dan kedamaian.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia

PENGHARAPAN YANG TAK PERNAH PADAM
(Nats : Yohanes 5 : 9)

 

Pendahuluan

Situasi yang sulit, kesedihan yang mendalam, atau sakit yang berkepanjangan, bisa menjadikan seseorang kehilangan pengharapan dan putus asa. Pengharapan sangat menentukan bagaimana seseorang menghadapi situasi yang dialami. Orang bisa bekerja keras dengan penuh semangat dan terus berusaha, ketika dia memiliki pengharapan akan situasi yang lebih baik di hari esok. Sebaliknya, orang bisa tidak melakukan apa-apa, apatis, bahkan bunuh diri di saat tidak lagi memiliki harapan. Dengan kata lain, betapa pentingnya sebuah pengharapan bagi kehidupan manusia dalam menjalani hidupnya.

 

Isi

Adalah hal yang sangat luar biasa ketika kita tahu bahwa ada orang yang tetap memiliki pengharapan untuk sembuh dan terus berusaha sembuh meski sudah menderita sakit 38 tahun lamanya. Itu masa yang panjang bagi seseorang yang dalam penderitaan karena penyakit. Orang itu ingin sembuh dan berada di sekitar kolam Betesda membuktikan betapa dia masih berharap untuk sembuh melalui mujizat Tuhan. Dia terus menunggu goncangan air kolam yang diyakini akan memberi kesembuhan atas penyakitnya. Dia tetap berharap menjadi orang pertama yang bisa menceburkan diri ke kolam Betesda di saat airnya goncang.

Pengharapan si sakit bukanlah hal mudah untuk diwujudkan. Mungkin juga keluarganya sudah kehilangan pengharapan, sehingga tidak ada seorangpun keluarganya yang menolongnya untuk menceburkan diri ke kolam sementara si sakit tidak bisa melakukannya sendirian. 38 tahun adalah masa yang sangat lama untuk tetap mempertahankan pengharapan untuk sembuh, dan bahkan disertai dengan keyakinan bahwa dia akan sembuh.

Pengharapan dan keyakinan inilah yang dilihat oleh Tuhan Yesus. Itulah sebabnya di ayat 6 Tuhan Yesus mula-mula bertanya : “Maukah engkau sembuh?” Pengharapan akan kesembuhan ini amatlah penting. Ketika seseorang masih memiliki pengharapan, maka besar kemungkinan bagi dia untuk mau berusaha, melakukan sesuatu yang diyakini bisa menyembuhkannya. Sebaliknya, jika si sakit sudah kehilangan pengharapan, maka untuk melakukan hal yang sederhana sekalipun untuk kesembuhannya dia mungkin tidak mau.

Orang sakit di sekitar kolam Betesda itu masih tetap berharap untuk sembuh, meskipun secara perhitungan manusia tidak mungkin. Ini tampak dari jawaban dia kepada Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa dia tidak mampu dan tidak ada orang yang menolongnya menceburkan diri ke kolam ketika airnya bergoncang. Di satu sisi dia mengakui keterbatasannya untuk sembuh, tetapi di sisi lain dia tetap memiliki pengharapan untuk sembuh. Hal ini diwujudkan dengan tindakannya untuk tetap berada di sekitar kolam itu.

Orang yang memiliki pengharapan biasanya rela melakukan apa saja demi terwujudnya pengharapan itu (dalam hal ini adalah sembuh dari sakit). Tuhan Yesus melihat adanya pengharapan yang besar itu. Oleh karenanya Tuhan Yesus memerintahkan : “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah!” Perintah ini bisa menjadi sebuah tantangan bagi si sakit. Orang sakit itu melaksanakan perintah Tuhan Yesus,  meskipun secara akal mungkin sulit diterima. Bagaimana mungkin dia akan bangun, mengangkat tilam dan berjalan, sementara untuk mendekat dan menceburkan diri ke kolam saja dia tidak mampu. Pengharapannya untuk mendapat kesembuhan telah menghilangkan berbagai pikiran yang dianggap mustahil oleh manusia. Berbekal pengharapan yang dimiliki, si sakit ini memiliki keyakinan bahwa dia bisa melakukan apa yang Tuhan Yesus perintahkan itu. Dia hadapi tantangan itu berbekal pengharapannya untuk sembuh. Sembuh dari sakit berarti menerima kehidupan yang lebih baik dan bahagia. Saat itulah Tuhan Yesus merubah pemahaman orang sakit tersebut. Bahwa sesungguhnya bukan goncangan air kolam Betesda itu yang bisa menyembuhkan sakit-penyakitnya, melainkan karena kuasa Tuhan. Dengan keyakinan pada kuasa Tuhan itulah dia melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Kuasa Tuhan bisa mengubah keadaan yang menurut manusia mustahil menjadi kenyataan. Itulah pentingnya sebuah pengharapan yang tak pernah padam.

Kuasa Tuhan yang membebaskan manusia dari berbagai penderitaan (dalam hal ini penderitaan karena penyakit) benar-benar membahagiakan. Siapapun bisa menerima kebahagiaan itu, termasuk orang-orang yang punya keterbatasan secara fisik (pada saat itu orang Yahudi memahami bahwa cacat fisik, sakit-penyakit itu merupakan akibat dosa). Apapun keadaan dan latar belakangnya, mereka bisa merasakan kasih Allah. Injil kerajaan Allah terbuka bagi siapapun yang mau menerimanya, apapun bangsanya (lihat bacaan 1).

Keadaan yang serba membahagiakan, yang sakit disembuhkan, yang terabaikan diperhatikan, yang putus asa diberi pengharapan, yang sedih dihiburkan, yang lapar dikenyangkan, dll adalah isi berita Injil yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Ada harapan agar siapapun bisa merasakan kehadiran Allah dalam hidup mereka yang memberikan kedamaian dan sukacita. Biarlah semua orang merasakannya bagaikan di “Yerusalem Baru” (lihat bacaan 2). Tuhan Yesus hadir ke dunia untuk mewujudkannya. Dia menjadikan manusia sebagai mitra kerjaNya untuk bersama-sama mewujudkannya (antara lain dilakukan oleh Lidia dalam bacaan 1). Jika semua orang mau ambil bagian dalam hal ini, maka kebahagiaan dan kedamaian akan terwujud di muka bumi ini dan siapapun bisa merasakan berkat Tuhan ini.

 

Penutup

Pengharapan memang bisa memompa semangat untuk terus berjuang mewujudkan kehidupan yang lebih baik di hari esok. Hari ini kita juga mengucap syukur kepada Tuhan atas keberadaan Yayasan Badan Pendidikan Kristen Greja Kristen Jawi Wetan (YBPK GKJW). Situasi yang dialami YBPK saat ini memang jauh berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Mungkin bisa dikatakan “sedang sakit”. Hari ini juga kita diingatkan pentingnya pengharapan untuk hari esok yang lebih baik, sebagaimana pengharapan si sakit di dekat kolam Betesda. Pengharapan adalah dorongan semangat yang tiada tara untuk merespon kuasa Tuhan. YBPK juga bisa tetap memiliki pengharapan seperti itu. Bukan goncangan air kolam Betesda yang menyembuhkan si sakit, melainkan kuasa Tuhan. Juga bukan keajaiban alam yang bisa mengubah keadaan YBPK, melainkan kuasa Tuhan. Karena itu, janganlah berhenti untuk berharap akan keadaan yang lebih baik di hari esok. Sebab dengan pengharapan itulah seseorang akan terus berjuang dan berbuat. Amin.  (YM)

 

Nyanyian Kidung Jemaat 445 : 1, 2, 3.

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Jawi

PANGAJENG-AJENG TANPA PUPUS
(Jejer : Yokanan 5 : 9)

Pambuka

Kawontenan ingkang sarwi ewed, salebeting kasisahan, utawi nandhang sakit ingkang dangu sanget, saged ndadosaken manungsa kecalan pangajeng-ajeng lan semplah. Wontenipun pangajeng-ajeng saestu nemtokaken kados pundi tiyang punika badhe mrantasi kawontenan ingkang dipun adhepi. Manungsa saged kemawon nyambut damel kanthi sengkut lan tansah mbudidaya, nalika tiyang kalawau gadhah pangajeng-ajeng ing bab kawontenan ingkang langkung sae ing dinten salejengipun. Kosokwangsulipun, tiyang ugi saged kemawon boten tumindak punapa-punapa, apatis, kepara bunuh diri nalika kecalan pangajeng-ajeng. Kanthi tembung sanes, pangajeng-ajeng punika saestu wigatos ing gesanging manungsa lan kados pundi manungsa nglampahi gesangipun.

 

Isi

Saestu  ngedab-edabi menawi wonten satunggaling tiyang ingkang tansah gadhah pangajeng-ajeng kangge saras senadyan sampun ngupadi lan ngalami sakit 38 taun laminipun. Punika sanes wekdal ingkang sekedhap tumrap manungsa ing salebeting panandhang sakit. Tiyang punika kepengin saras lan wonten ing sacelaking blumbang Betesdha paring bukti bilih tiyang kalawau saestu ngajeng-ajeng kesarasan lumantar mukjijatipun Gusti. Tiyang punika tansah ngrantos toyaning blumbang kocak, lah punika kapitados saged paring kesarasan tumrap sakitipun. Piyambakipun tansah ngajeng-ajeng supados saged dados tiyang ingkang wiwitan nyemplung ing blumbang Betesdha manawi toyanipun kocak.

Pangajeng-ajengipun tiyang sakit punika sanes prekawis ingkang gampil kawujudaken. Saged ugi brayatipun sampun kecalan pangajeng-ajeng, pramila boten wonten satunggal kemawon ingkang paring pambiyantu kangge nyemplungaken tiyang sakit punika dhateng blumbang. Dene tiyang sakit punika boten saged mlampah piyambak lan nyemplung mbumbang. 38 taun saestu dangu sanget kangge tansah nggondheli pangajeng-ajeng supados saged saras, punapa malih kanthi kapitadosan piyambakipun mesthi saged saras.

Pangajeng-ajeng lan kapitadosan punika ingkang dipun pirsani dening Gusti Yesus. Pramila Gusti Yesus ndangu: “Kowe apa kepengin waras?” Pangajeng-ajeng saged saras punika saestu wigatos sanget. Nalika manungsa taksih gadhah pangajeng-ajeng, tamtunipun tiyang punika badhe mbudidaya, tumindak punapa kemawon ingkang kapitados saged nyarasaken pisakitipun. Kosokwangsulipun, menawi tiyang sakit punika sampun kecalan pangajeng-ajeng, nindakaken prekawis ingkang remeh kemawon boten badhe purun, nadyan punika kangge kesarasanipun piyambak. Dene tiyang ingkang sampun sakit 38 taun ing pinggir blumbang Betesdha punika tansah gadhah pangajeng-ajeng kangge saras, nadyan mokal miturut etanganing manungsa limrah. Punika cetha saking wangsulanipun dhumateng Gusti Yesus ingkang mratelakaken bilih piyambakipun boten saged nyemplung piyambak dhateng blumbang menawi toyanipun saweg kocak. Ing sasisih, estunipun tiyang kalawau ngakeni bilih kawontenanipun winates, nanging ing sisih sanesipun, piyambakipun gadhah pangajeng-ajeng supados saged saras. Punika kawujudaken srana tansah mapan ing sacelakipun blumbang Betesdha. Piyambakipun tansah gadhah pangajeng-ajeng saged saras.

Tiyang ingkang gadhah pangajeng-ajeng adatipun purun nindakaken punapa kemawon angger pangejeng-ajengipun saged kawujudaken (ing ngriki bab saras saking sakitipun). Gusti Yesus mirsani wontenipun pangajeng-ajeng ingkang ageng punika. Pramila lajeng Gusti Yesus ngandika: “Tangia, paturonmu angkaten, lan lumakua!” Prentah punika saged dados satunggaling tantangan tumrap tiyang punika. Piyambakipun nindakaken pangandikanipun Gusti, senadyan mokal miturut akal. Kados pundi piyambakipun badhe tangi, ngangkat paturon lan mlampah, dene nyelak lan nyemplung blumbang piyambakan kemawon boten saged. Pangajeng-ajengipun supados saged saras saestu ngicalaken pikiran ingkang dipun wastani mokal dening tiyang sanes. Kanthi wontenipun pangajeng-ajeng, tiyang punika gadhah kapitadosan  bilih piyambakipun tamtu saged nindakaken prentahipun Gusti Yesus punika. Tiyang sakit punika ngadhepi tantangan kalawau kanthi sangu awujud pangajeng-ajeng saged saras.

Saras saking sakitipun ateges nampeni pigesangan ingkang langkung sae lan mbingahaken. Lah ing wekdal punika Gusti Yesus ngewahi pangertosanipun tiyang ingkang sakit punika, bilih estunipun sanes kocaking blumbang Betesdha ingkang saged paring kesarasan, ananging panguwaosipun Gusti. Kanthi pitados dhumateng panguwaosipun Gusti, piyambakipun badhe saged nindakaken punapa kemawon ingkang dados pangandikanipun Gusti. Panguwaosipun Gusti saged ngowahi kawontenan ingkang mokal miturut manungsa, nanging saged dados kasunyatan. Lah ing ngriku wigatosipun pangajeng-ajeng ingkang tanpa pupus.

Panguwaosipun Gusti ingkang paring pangluwaran dhateng manungsa saking sedaya panandhang (ing ngriki kacetha panandhang saking penyakit) saestu mbingahaken. Sinten kemawon saged nampeni kabingahan punika, kalebet para tiyang ingkang winates ing bab raganipun (nalika semanten tiyang Yahudi gadhah pamanggih bilih cacat fisik, sakit-penyakit punika awit saking tumindak dosa). Kados pundia asal-usulipun, sintena kemawon saged ngraosaken katresnanipun Gusti. Injil Kratoning Allah kaparingaken kangge sintena kemawon ingkang cumadhang nampi, punapaa kemawon bangsanipun (mugi kapirsanan waosan 1).

Kawontenan ingkang sarwi mbingahaken, ingkang sakit kasarasaken, ingkang ngorong pamarsudi kagatosaken, ingkang semplah kaparingan pangajeng-ajeng, ingkang sisah kalipur, ingkang luwe kaparingan tedhan, lsp, lah punika wosing pawartos Injil ingkang kaasta dening Gusti Yesus. Tansah wonten pangajeng-ajeng sinten kemawon saged ngraosaken rawuhipun Gusti ing salebeting gesangipun ingkang paring katentreman lan kabingahan. Kanti mekaten sedaya tiyang badhe ngraosaken “Yerusalem Enggal” (mugi kapirsanan waosan 2). Gusti Yesus rawuh ing donya kangge mujudaken kawontenan punika. Gusti miji manungsa dados rencang-damel-Ipun supados sesarengan mujudaken kawontenan punika (ing antawisipun katindakaken dening Lidia, ing waosan 1). Menawi sedaya tiyang purun dados rencang-damel-Ipun Gusti, kabingahan lan katentreman badhe kawujudaken ing salumahing bumi, lan sedaya saged ngraosaken berkahipun Gusti punika.

 

Panutup

Pangajeng-ajeng pancen saged dados kekiyatan supados tansah mbudidaya mujudaken pegesangan ingkang langkung sae dinten salajengipun (kados dene tiyang sakit ingkang kasarasaken dening Gusti Yesus). Ing dinten punika kita ugi saos syukur dhumateng Gusti kanthi wontenipun Yayasan Badan Pendidikan Kristen Greja Kristen Jawi Wetan (YBPK GKJW). Kawontenan ingkang dipun alami YBPK samangke pancen saestu benten kaliyan pinten-pinten taun kepengker. Mbokbilih saged dipun wastani “saweg nandhang sakit”. Ing dinten punika kita sami kaengetaken bab wigatosipun tansah gadhah pangajeng-ajeng kangge dinten ingkang langkung sae, kados dene pangajeng-ajengipun tiyang ingkang sakit ing pinggiring blumbang Betesdha. Pangajeng-ajeng punika estu dados pangatag ingkang ageng kangge nindakaken lan atur wangsulan dhateng panguwaosipun Gusti. YBPK ugi saged gadhah pangajeng-ajeng ingkang mekaten. Sanes kocaking toya blumbang Betesdha ingkang paring kesarasan, ananging panguwaosipun Gusti. Mekaten ugi sanes eloking kawontenan ingkang saged paring ewah-ewahan tumrap kawontenanipun YBPK, ananging panguwaosipun Gusti. Pramila, sampun ngantos kecalan pangajeng-ajeng ing bab kawontenan ingkang langkung sae lan mbingahaken ing dinten salajengipun. Awit inggih kanthi pangajeng-ajeng punika manungsa badhe tansah mbudidaya lan tumindak. Amin . (YM)

 

Pamuji: KPK 158 : 1, 2, 3.

 

KAMIS, 05 MEI 2016
Kenaikan Yesus Kristus (Asensi)
Pembukaan Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Merah

 

Bacaan 1         : Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11
Bacaan 2         : Efesus 1 : 15 – 23
Bacaan 3         : Lukas 24 : 44 – 53

Mazmur          : 93
Thema Liturgis: Roh Kudus memberdayakan umat untuk menjadi berkat

 

Keterangan Bacaan

Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11

Melalui perikop ini kita mengetahui bahwa Kisah Para Rasul dituliskan untuk Teofilus. Tujuan dari penulisannya adalah supaya Teofilus tahu dengan jelas tentang Yesus dan pelayananNya. Kisah Para Rasul adalah kelanjutan dari buku perdana tulisan Lukas, yaitu Injil Lukas.

Kisah Para Rasul dibuka dengan kisah sebelum Yesus naik ke sorga. Sebelum Tuhan Yesus naik ke sorga, Dia memberi pesan terakhir kepada murid-muridNya yaitu:

  1. Para murid dilarang ke luar kota Yerusalem,
  2. Tuhan Yesus berjanji untuk memberikan kuasa Roh Kudus,
  3. Para murid diutus untuk menjadi saksi Kristus ke seluruh penjuru dunia.

Setelah memberi pesan kepada mereka Tuhan Yesus naik ke sorga dengan disaksikan oleh para murid.

 

Efesus 1 : 15 – 23

Perikop ini berisi doa Rasul Paulus untuk jemaat di Efesus. Dalam doanya Rasul Paulus memohon:

  • Supaya jemaat Efesus diberi Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Tuhan dengan benar.
  • Supaya jemaat memahami maksud panggilan mereka yang berharga, hebat dan penuh kuasa.
  • Jemaat adalah tubuh Kristus, Yesus adalah kepala.

 

Lukas 24 : 44 – 53

Perikop ini berisi pesan Tuhan Yesus sebelum terangkat ke sorga. Pesan ini didahului dengan penjelasan bahwa tentang diriNya yang tertulis dalam Kitab Taurat, kitab nabi-nabi, dan kitab Mazmur harus digenapi. Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga. Di dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa, harus dinyatakan kepada segala bangsa. Para murid adalah saksi Kristus.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia

 

Saudara-saudara yang kekasih, Bulan Kesaksian dan Pelayanan (KESPEL) secara resmi dibuka bertepatan dengan hari raya Asensi atau kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga. Pada bulan KESPEL ini segala kegiatan dilakukan dalam rangka bersaksi dan melayani. Penetapan kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga untuk pembukaan bulan kesaksian dan pelayanan karena:

  1. Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga merupakan babak baru bagi perjalanan pelayanan para murid. Diawali dengan para murid yang tidak lagi bersama-sama dengan Tuhan Yesus secara fisik tentu. Kenyataan yang baru ini tentu bukan hal yang mudah bagi mereka.
    1. Para murid harus mandiri, berdaya, punya kekuatan, visi dan misi. Mereka tidak bisa lagi hanya sekedar mengikut tanpa mengerti arah dan tujuan. Selama ini mereka sangat bergantung pada Tuhan Yesus. Mereka lemah dan tidak berdaya tanpa kehadiran dan pertolongan Tuhan Yesus. Mereka belum mengetahui dengan jelas apa tujuan hidup dan panggilan Tuhan Yesus kepada mereka masing-masing dan bersama. Kebersamaan dengan Tuhan Yesus selama 3 tahun belumlah cukup bagi mereka untuk bisa mandiri, berdaya, kuat serta memiliki visi dan misi. Tetapi sekarang mereka ditantang untuk itu.
    2. Dalam babak baru perjalanan pelayanan ini para murid akan diperlengkapi dengan Roh Kudus yang memberi kuasa sehingga para murid mampu berperan sesuai panggilan mereka. Roh Kudus juga memperlengkapi mereka untuk makin mengenal Tuhan. Para murid tentu sangat terbatas kemampuannya untuk dapat melanjutkan pekerjaan Tuhas Yesus, untuk mengingat semua ajaran Tuhan Yesus yang disampaikan dalam waktu 3 tahun itu, serta untuk mengenal Tuhan dalam waktu 3 tahun itu. Tetapi dengan kuasa Roh Kudus mereka akan mampu melakukan semua itu.
  1. Roh Kuduslah yang menguatkan dan menghibur sehingga para murid dan seluruh umat Tuhan dalam menghadapi segala tantangan mampu bertahan. Bahkan terus bertumbuh tanpa kenal takut atau putus asa. Bagi para murid tantangan memang luar biasa, tetapi Tuhan menguatkan mereka dan menghibur mereka. Tantangan tidak menyurutkan langkah dan daya juang mereka. Ini luar biasa, padahal sebelumnya mereka takut, bersembunyi. Roh Kudus mengubah ketakutan menjadi keberanian yang luar biasa.
  1. Roh kudus yang berkarya menjadi bukti penyertaan dan kasih Tuhan. Saat mereka tidak lagi bersama dengan Tuhan Yesus, bukan berarti para murid kemudian hidup sendirian. Para murid tidak ditinggal sendirian. Roh Kudus menyertai mereka.
  1. Para murid menjadi saksi.
    1. Di tengah berbagai persoalan nyata. Peran sebagai saksi Kristus merupakan tantangan luar bisa. Sebab saksi yang efektif adalah saksi yang dapat dipercaya. Ini tentu harus mulai dari kwalitas hidup yang istimewa.
    2. Kehadiran orang percaya dengan demikian punya peran, membawa dampak, menjadi berkat. Inilah maksud panggilan kepada orang percaya. Mereka tidak hidup untuk dirinya sendiri tapi dipanggil menjadi berkat bagi sesamanya.
    3. Para murid dipanggil menjadi saksi bukan untuk kalangan sendiri. Mereka harus menjadi saksi di mana-mana, sampai ujung bumi, di seluruh dunia. Mereka diutus menjadi saksi Kristus bukan hanya bagi orang-orang yang mau menerima Tuhan Yesus, tetapi bahkan di antara orang-orang yang membenci Tuhan Yesus dan membenci mereka.

Kita semua, sebagai pengikut Kristus, juga dipanggil menjadi saksi Kristus bukan hanya untuk kalangan sendiri. Di manapun kita berada seharusnya kita bisa dan berani menjadi saksiNya, termasuk di antara orang-orang yang membenci dan memusuhi Tuhan Yesus dan kita sebagai pengikutNya. Jangan takut bersaksi dan melayani! Asal kita mau, kita pasti bisa dan berani. Sebab, Roh Kudus akan memberi kuasa kepada kita untuk itu. Tuhan memberkati kita semua. Tuhan memberkati memberkati semua orang dan ciptaanNya melalui kita. Amin. [ACW]

 

Nyanyian: KJ 426: 4, 3, 1. / Kid. Kontekstual 150.

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Para sadherek ingkang kinasih, wulan kesaksian lan pelayanan (KESPEL) sacara resmi dipun wiwiti sesarengan ing dinten riyadin mekratipun Gusti Yesus dhateng swarga. Ing wulan KESPEL punika mawerni-werni kegiatan dipun tindakaken sesarengan. Dinten mekratipun Gusti katetepaken kangge miwiti kesaksian lan pelayanan ngemu werdi:

  1. Mekratipun Gusti Yesus dhateng swarga mujudaken babak enggal kangge lampah gesang lan peladosanipun para murid. Kawiwitan nalika para murid mboten sesarengan malih kaliyan Gusti Yesus menika mujudaken kawontenan ingkang awrat kangge para murid.
    1. Para murid kedah mandiri, ngadhahi kekiyatan, visi misi. Para murid mboten saged malih waton nderek Gusti tanpa mangertos pundi papan tujuanipun. Sadangunipun 3 taun para murid tansah gumantung dhumateng Gusti Yesus. Para murid menika sekeng tanpa daya menawi boten tinunggil lan kapitulungan dening Gusti Yesus. Para murid menika dereng mangertos kanthi gamblang menggah tujuan lan timbalanipun Gusti Yesus dhateng para murid. Tetunggilanipun Gusti Yesus kaliyan para murid dangunipun 3 taun dereng saged ndamel para murid menika mandiri, teguh, santosa lan nggadhahi visi lan misi. Nanging samangke para murid dipun tantang mekaten.
    2. Ing babak enggal lampah peladosanipun menika, para murid badhe dipun jangkepi klayan Roh Suci, ingkang paring daya kekiyatan enggal temah sami saged nglampahi ayahan timbalanipun. Roh Suci njangkepi anggenipun saya wanuh dhumateng Gusti. Kasagedanipun para murid nalika semanten tamtu winates kangge nglajengaken pakaryanipun Gusti Yesus, kangge ngenget-enget sedaya piwulangipun Gusti, sarta kangge saestu tepang kaliyan Gusti. Nanging klayan panguwaosipun Sang Roh Suci, para murid mesthi badhe saged nglampahi sedayanipun.
  1. Roh Suci, nggih Rohipun Gusti Yesus ingkang ngiyataken lan paring panglipur enggal dhateng para murid lan sedaya umat kagunganipun Gusti kiyat aben ajeng kaliyan mawerni-wernining pambengan. Malah sangsaya tuwuh, tanpa rumaos ajrih lan semplah. Kangge para murid pambengan saestu nggegirisi, nanging Gusti ngiyataken lan paring panglipur. Pambengan mboten ngrendeti lan ndadosaken kèndel lan mè Ingkang kelampahan punika ndadosaken gawok ngemuti ing saderengipun Roh Suci makarya para murid ajrih lan sesingidan. Roh Suci ngowahi raos ajrih sanget dados wantun lan kendel sanget.
  1. Roh Suci ingkang makarya dados bukti pangreksa lan katresnanipun Gusti. Malah ugi dados bukti bilih Gusti saestu gesang. Wegdal para murid boten sesarengan malih kaliyan Gusti Yesus, mboten ateges para murid dados lola. Roh Suci makarya lan gesang ing gesangipun para murid.
  1. Para murid dados seksi.
    1. Ing satengahing pambenganing gesang ingkang estu nyata, timbalan minangka seksinipun Sang Kristus mujudaken tantangan awrat. Krana seksi ingkang saestu efektif nggih punika seksi ingkang saged pinitados. Punika tamtu kedah kawiwitan saking kwalitas/ ajining gesang ingkang sae.
    2. Kanthi mekaten para pitados nggadhahi peran, kedah dodos berkat. Nggih menika ingkang dados tujuan, para murid mboten gesang kangge diri pribadhi nanging dados berkah kangge sesami.
    3. Para muridipun Gusti dipun timbali dados seksinipun Gusti Yesus sanes kangge kalangan sendiri. Para murid kapatah dados seksi ing sadhengah papan, ing pundia kemawon, ing saindhenging jagad. Para murid kautus dados seksi boten namung kagem tiyang-tiyang ingkang purun nampeni Gusti Yesus, nanging ugi ing antawisipun tiyang-tiyang ingkang sengit dhateng Gusti Yesus lan sengit dhateng para murid.

Kita sedaya, minangka pendherekipun Sang Kristus, ugi dipun timbali dados seksinipun Gusti Yesus boten namung kangge kalangan sendiri. Ing pundia kemawon kita mapan, kedahipun kita saged lan wantun dados seksinipun Gusti, kalebet ing antawisipun tiyang-tiyang ingkang sengit lan memengsahi Gusti Yesus lan kita minangka pendherekipun. Sampun ajrih nekseni lan lelados! Sauger kita purun, nggadhahi niyat, kita mesthi badhe saged lan wantun. Awit Roh Suci badhe paring kasekten dhateng kita. Gusti mberkahi kita sedaya! Gusti mberkahi sedaya tiyang lan titahipun lumantar kita! Amin. [ACW]

Pamuji: KPK 281: 1, 4. / Kid. Kontekstual 73: 1, 2.

MINGGU, 08 MEI 2016
Minggu Paskah 7
Stola Merah

Bacaan I          : Kisah Para Rasul 16 : 16 – 34
Bacaan 2         : Wahyu 22 : 12 – 14, 16 – 17, 20 – 21
Bacaan 3         : Yohanes 17 : 20 – 26

Mazmur          : Mazmur 148 : 1 – 14

Tema Bulanan : Roh Kudus Memberdayakan Umat Untuk Menjadi Berkat
Tema Pekan    : Menjadi berkat bagi dunia melalui kesatuan dan kemuliaan umat.

 

Keterangan Bacaan

Kisah Para Rasul 16 : 16 – 24

  1. Kuasa-kuasa setan dapat bersaksi bahwa Para Rasul adalah hamba Allah Yang Mahatinggi, pemberita jalan keselamatan.
  2. Paulus merasa terganggu oleh kuasa-kuasa roh itu, diusir keluar dalam Nama Tuhan Yesus.
  3. Orang-orang yang merasa dirugikan oleh tindakan Paulus, membenci Paulus dan Silas, menuduh mereka dengan tuduhan palsu, pakaiannya dikoyakkan, didera berkali-kali dan dipenjarakan.
  4. Paulus dan Silas menderita karena melakukan hal yang benar dan baik, menderita karena Yesus, tetapi bagi mereka penderitaan yang harus diderita merupakan kemuliaan.
  5. Allah tidak membiarkan orang benar menderita, Allah berkarya memberikan kelepasan.
  6. Kuasa Allah yang membebaskan Paulus dan Silas dari penjara, dan sikap mereka yang tidak mencelakakan kepala penjara Fillipi, membuat Kepala penjara Fillipi percaya kepada Yesus dan diselamatkan.

 

 

Wahyu 22 : 12-14, 16 – 17, 20 – 21

  1. Keadaan manusia pada zaman akhir, karena waktunya sudah dekat: yang jahat biarlah meneruskan kejahatannya, mereka akan segera menemui penghakimannya. Yang benar dan kudus, supaya berjaga-jaga, sehingga tidak jatuh ke dalam kesalahan dari yang jahat. Tuhan akan segera datang demi penebusan dan upah mereka.
  2. Roh Kudus yang aktif bekerja pada nabi-nabi (19:10) bergabung dengan gereja dalam memanggil Kristus untuk datang ke bumi sesuai dengan janjiNya (7,12). Orang-orang berdosa yang bertobat diundang mengambil bagian bersama-sama dengan orang Kudus dalam kehidupan kekal yang diberikan oleh Kristus.
  3. Bagi orang-orang yang berpegang pada janji-janjiNya dan membuka jubahnya, artinya menundukkan dirinya, pasti berkata: Maranata, datanglah Tuhan Yesus!

 

 

Yohanes 17 : 20 – 26

  1. Doa Tuhan Yesus untuk kesatuan gereja, yang selanjutnya diperluas kepada orang-orang yang akan menjadi percaya oleh pemberitaan para murid. Kesatuan itu diteladankan dalam keesaan Bapa dengan Anak dan dipertahankan dengan tinggal tetap dalam Bapa dan Anak.
  2. Tujuan dari kesatuan, seperti dikatakan supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Terdapat suatu lingkaran di sini: iman menuntun kepada kesatuan yang membawa orang lain pada iman.
  3. Kristus memberikan kemuliaan kepada orang-orang percaya dan apabila orang-orang percaya menyatakan kemuliaan Kristus, menghasilkan kesatuan yang asasi.

 

Benang merah 3 bacaan

Allah di dalam Yesus Kristus mengawali dan mengakhiri proses penyelamatan dunia dengan segala isinya melalui penderitaanNya di kayu salib, yang adalah kemuliaan bagiNya, hal itu dilakukan-Nya demi bersekutunya kembali manusia dengan Allah dan manusia dengan sesama serta lingkungannya.

 

 

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

Bersatu dan dimuliakan adalah kerinduan kita bersama. Tetapi ternyata tidak semudah itu untuk mewujudkannya. Karena pada dasarnya manusia sulit untuk dipersatukan dan cenderung hidup mementingkan diri sendiri, tidak mempedulikan orang lain, cenderung menciptakan benih-benih permusuhan di antara mereka. Dan kondisi ini yang menyebabkan kita tidak dapat menjadi berkat bagi orang lain. Dengan perkataan lain kita akan menjadi berkat bagi yang lain kalau kita mau bersatu dan dimuliakan.

Untuk itu Allah ambil prakarsa dan berkarya untuk menyatukan kembali manusia dengan Allah dan sesama serta lingkungannya. Yesus Kristus berdoa untuk kesatuan dan kemuliaan umatNya. Kesatuan dan kemuliaan yang bagaimana yang diharapkan oleh Yesus?

 

Isi

Bacaan kita yang ke 3 bisa dibagi menjadi 2 bagian: Ayat 20 – 21 berbicara tentang kesatuan gereja, dan Ayat 22 – 26 berbicara tentang kemuliaan umat

1. Kesatuan apakah yang dimaksud oleh Yesus?

Jika Yesus berdoa untuk kesatuan gereja yang dimaksudkan bukan kesatuan administrasi atau organisasi; dan bukan sekali-kali dimaksudkan kesatuan gerejawi. Yang dimaksudkan ialah kesatuan dalam hubungan pribadi. Kita telah melihat bahwa kesatuan antara Yesus dan Allah ialah kesatuan kasih dan kepatuhan. Kesatuan dalam kasih itulah yang didoakan oleh Yesus, suatu kesatuan di mana orang saling mengasihi karena mereka mengasihi Dia. Suatu kesatuan yang seluruhnya didasarkan atas hubungan hati dengan hati.

Kesatuan gereja/orang Kristen dewasa ini dan sesungguhnya sepanjang sejarah, telah dirugikan dan dirintangi, karena manusia lebih mencintai organisasi gerejawinya sendiri, pengakuan imannya sindiri, cara ibadatnya sendiri, daripada saling mengasihi. Kalau kita sungguh-sungguh saling mengasihi dan sungguh-sungguh mengasihi Kristus, tidak ada gereja yang mengucilkan seorang yang adalah murid Kristus. Hanya kasih yang ditanamkan oleh Kristus dalam hati manusia yang dapat meruntuhkan rintangan-rintangan yang telah mereka dirikan di antara mereka sendiri dan di antara gereja-gereja mereka.

Selanjutnya, seperti Yesus melihatnya dan mendoakannya, justru kesatuan itulah yang akan meyakinkan dunia mengenai kebenaran kekristenan dan kebenaran mengenai kedudukan kekristenan. Kesatuan yang sejati antara semua orang Kristen akan merupakan “fakta supranatural, yang membutuhkan keterangan supranatural.” Adalah suatu kenyataan yang tragis bahwa front kesatuan itulah yang belum pernah dinampakan oleh orang-orang Kristen kepada manusia. Melihat tidak adanya kesatuan Kristen itu, maka dunia tidak bisa melihat nilai tertinggi dari iman Kristen, tidak dapat melihat dan merasakan berkat keberadaan orang Kristen. Adalah kewajiban/ panggilan kita bersama untuk menampakkan kesatuan kasih itu kepada sesama kita, yang adalah jawaban atas doa Tuhan Yesus.

 

2. Kemuliaan apakah yang dimaksud oleh Yesus?

Begel seorang penafsir Alkitab berseru: “Betapa besar kemuliaan orang Kristen itu.” Yesus mengatakan bahwa Dia telah memberikan kepada murid-muridNya kemuliaan yang telah diberikan Bapa-Nya kepada-Nya. Apakah kemuliaan Yesus itu? Dia membicarakan itu dengan tiga cara:

  1. Salib adalah kemuliaan-Nya. Yesus tidak bicara bahwa Ia disalibkan; Dia berbicara bahwa Dia dimuliakan. Maka, pertama dan terutama, kemuliaan orang Kristen ialah salib yang ia pikul. Adalah suatu kehormatan untuk menderita bagi Kristus, sebagaimana yang dialami oleh Paulus dan Silas (bacaan 1). Kita jangan berpikir bahwa salib itu sebagai hukuman bagi kita; kita harus memandangnya sebagai kemuliaan. Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat, semakin berat tugas yang diberikan kepada seorang kesatria, semakin besar dipandang kemuliaannya. Semakin berat tugas yang diberikan kepada seorang mahasiswa, semakin besar hormat kita kepadanya. Karenanya, bila ada saat-saat kita merasa berat menjadi seorang Kristen, kita harus memandangnya sebagai kemuliaan yang diberikan Allah kepada kita.
  2. Kepatuhan Kristus yang sempurna kepada kehendak Allah adalah kemuliaan-Nya. Kita mendapatkan kemuliaan kita bukan dalam berbuat apa yang sesuai dengan keinginan kita, melainkan dalam berbuat sesuai dengan kehendak Allah. Jika kita mencoba berbuat sesuai dengan keinginan kita, pasti mendapatkan dukacita dan malapetaka, baik bagi kita sendiri maupun bagi orang lain. Kita mendapatkan kemuliaan hidup yang sesungguhnya dalam melakukan kehendak Allah; semakin besar kepatuhan kita semakin besar kemuliaan kita , seperti yang telah dinikmati Paulus dan Silas (bacaan 1).
  3. Kemuliaan Kristus terletak pada kenyataan bahwa dari hidup-Nya manusia melihat hubungan-Nya yang khusus dengan Allah. Mereka akan melihat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat hidup seperti Dia kecuali kalau orang itu secara unik dekat dengan Allah. Sama seperti Kristus, adalah kemuliaan bagi kita kalau orang melihat pantulan Allah pada diri kita.

 

3. Yesus menghendaki supaya murid-murid-Nya nanti melihat kemuliaan-Nya di Sorga. Merupakan keyakinan kita bersama bahwa kita nanti akan mendapat bagian dalam semua pengalaman Kristus. Kalau orang Kristen harus mendapat bagian dalam salib Kristus, maka ia juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan-Nya (II Tim 2:11,12, I Kor 13:12). Sukacita yang kita miliki sekarang adalah pendahuluan dari sukacita yang akan datang. Kristus menjanjikan bahwa jika kita mengambil bagian dalam kemuliaan dan penderitaan-Nya di bumi, kita juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan dan kemenangan nanti bila kehidupan di bumi ini telah berakhir.

 

Penutup

Kesatuan dan kemuliaan yang dialami oleh gereja dan orang Kristen semata-mata adalah anugerah Allah. Gereja dan orang Kristen dapat bersatu dan dimuliakan itu bukan hasil usahanya sendiri, tapi Roh Kudus yang memampukannya. Kalau kesatuan dan kemuliaan gereja dan orang Kristen menjadi berkat bagi dunia, maka kita semua harus tetap memohon dan berdoa kepada Tuhan supaya kita tetap dikaruniai kemampuan untuk bersatu dan dimuliakan. Amin. (SS)

 

Nyanyian: KJ 252 : 1,2

—-

 

 

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Gesang rukun lan kamulyakaken mujudaken pepenginan kita sami. Ananging pranyata boten gampil kawujudaken. Karana kita ewet karukunaken lan tansah gesang mentingaken diri kita piyambak boten maelu dhateng asanes, malah kepara kita rumaos remen lan marem menawi saged nuwuhaken memengsahan ing antawis kita. Kawontenan ingkang kados mekaten menika ingkang ndadosaken kita boten saged dados berkah tumraping jagad. Kanthi tembung sanes kita badhe dados berkah kangge asanes menawi kita purun rukun lan kamulyakaken.

Pramila saking menika Gusti Allah wonten ing Yesus Kristus, makarya nunggilaken malih manungsa kaliyan Allah, manungsa kaliyan sesaminipun lan alam sakiwa tengenipun. Gusti Yesus Kristus ndedonga kangge karukunan lan kamulyanipun umat kagunganipun. Karukunan lan kamulyan ingkang kados pundi ingkang kakarsakaken dening Gusti Yesus?

 

Isi

Waosan kita ingkang kaping 3 kaperang dados 2 perangan: Ayat 20 – 21 nyariyosaken bab karukunanipun greja; Ayat 22 – 26 nyariyosaken bab kamulyanipun umat.

 

1. Karukunan bab menapa ingkang kakarsakaken dening Gusti Yesus?

Menawi Gusti Yesus ndedonga kangge karukunanipun greja, ingkang kakarsakaken sanes bab karukunan administrasi utawi organisasi; lan ugi sanes bab karukunan grejawi. Ingkang kakarsakaken karukunan ing sesambetan pribadi setunggal lan satunggalipun. Kita sampun ningali bilih karukunan ing antawisipun Gusti Yesus lan Gusti Allah karukunan ing babagan katresnan lan pambangunturut. Karukunan ing babagan katresnan menika ingkang dipun dongakaken dening Gusti Yesus, karukunan ing pundi tiyang sami tersna-tinresnan karana sami nresnani Gusti Yesus. Karukunan ingkang sedayanipun kalambaran sesambetan ing antawisipun manah setunggal lan satunggalipun.

Karukunanipun greja/ tiyang Kristen wekdal-wekdal samangke, malah kepara ing sauruting sejarah, ngalami pepalang karana manungsa langkung nresnani organisasi grejanipun piyambak, sahadatipun piyambak, tata cara pangabektinipun piyambak, katimbang gesang tresna-tinresnan. Menawi kita estu-estu tresna-tinresnan lan saestu nresnani Gusti Yesus, boten badhe wonten greja ingkang nyiwak tiyang ingkang dados muridipun Kristus. Inggih namung katresnan ingkang sampun katanem dening Sang Kristus ing manahipun manungsa ingkang saged ngicali sedaya pepalang ingkang kawangun ing antawisipun manungsa lan ing antawisipun greja.

Kados ingkang sampun kapirsanan lan kadongakaken dening Gusti Yesus, karukunan ing antawisipun umat menika ingkang badhe dados sarana jagad sangsaya kadadosaken pitados bab kayektening kekristenan lan kayektening kalenggahanipun kekristenan. Saestu dados kawontenan ingkang mrihatosaken dene karukunan prasasat dereng nate katedahaken dening tiyang Kristen dhateng sesaminipun. Ningali boten wontenipun pirukun ing antawisipun tiyang Kristen jagad boten saged ningali ajinipun iman Kristen, boten saged ngraosaken berkah karana wontenipun tiyang Kristen. Mujudaken timbalan kita sedaya ngatingalaken lan mbabaraken karukunan awit katresnan menika dhateng sesami, ingkang minangka wangsulan kita dhateng pandonganipun Gusti Yesus.

 

2. Kamulyan ing bab menapa ingkang kakarsakaken dening Gusti Yesus?

Begel, juru tafsir Kitab Suci, ngunandika: “Saiba agengipun kamulyanipun tiyang Kristen menika.” Gusti Yesus dhawuh bilih Panjenenganipun sampun maringaken kamulyan dhateng para muridipun kamulyan ingkang sampun kaparingaken dening Ramanipun dhateng Panjenganipun. Menapa ta kamulyanipun Gusti Yesus menika? Panjenenganipun ngrembag bab menika kanthi 3 cara:

  1. Salib mujudaken kamulyanipun. Gusti Yesus boten dhawuh bilih Panjenenganipun dipun salib, ananging kamulyakaken. Pramila saking menika, swawi sami enget bilih kamulyanipun tiyang Kristen menika salib ingkang kedah dipun pikul. Dados salah satunggaling kaurmatan menawi kita nandhang sangsara krana Gusti, kados ingkang dipun alami dening Paulus lan Silas (waosan 1). Kita sampun ngantos menggalih bilih salib menika paukuman; salib menika kamulyan tumraping kita. Ing gesang padintenan kita ningali, sangsaya awrat tugas ingkang kaparingaken dhateng prajurit, sangsaya ageng kamulyanipun. Sangsaya awrat tugas ingkang kaparingaken dhateng mahasiswa, sangsaya kinurmatan. Pramila saking menika, menawi ing wekdal-wekdal tartamtu kita rumaos awrat dados tiyang Kristen, kita kedah mawas minangka kamulyan ingkang kaparingaken dening Gusti dhateng kita.
  2. Sumuyuding Sang Kristus kanthi sampurna dhateng kersanipun Allah menika dados kamulyanipun. Kita nampi kamulyan boten awit nindakaken menapa ingkang cundhuk kaliyan pepinginan kita, ananging ing salebeting nindakaken menapa ingkang dados kersanipun Gusti. Menawi kita nyobi nindakaken menapa ingkang cundhuk kaliyan pepenginan kita, mesthi nampi kasisahan lan kasangsaran, boten namung kangge kita piyambak, ananging ugi kange tiyang sanes. Kita nampi kamulyaning gesang ingkang estu-estu menawi kita nindakaken kersanipun Gusti. Menawi kita sangsaya sumuyud dhateng Gusti, sangsaya ageng kamulyan ingkang kita tampi, kados ingkang sampun karaosaken dening Paulus lan Silas (waosan 1).
  3. Kamulyanipun Sang Kristus kacihna bilih srana sugengipun tiyang ningali sesambetanipun ingkang maligi kaliyan Allah Rama. Tiyang badhe ningali bilih boten wonten tiyang ingkang saged gesang kados Panjenenganipun anjawi tiyang menika nggadhahi sesambetan ingkang celak/unik kaliyan Gusti Allah. Kadosdene Sang Kristus, dados kamulyan kangge kita menawi tiyang ningali gambar lan citranipun Gusti Allah wonten ing gesang kita.

 

3. Gusti Yesus ngersakaken supados para sekabatipun saged ningali kamulyanipun Gusti Yesus benjang wonten ing swarga. Kita sami pitados bilih kita benjang badhe nampi bagean saking sedaya pengalamanipun Sang Kristus. Menawi tiyang Kristen kedah nampi bagean salibing Sang Kristus, mesthi ugi badhe nampi bagean saking kamulyanipun Gusti (II Tim 2:11,12, II Kor 13:12). Kabingahan ingkang kita tampi samangke dados wiwitaning kabingahan ingkang badhe kelampahan. Gusti Yesus prajanji menawi kita ndherek ing kamulyan lan kasangsaranipun Gusti ing donya, kita ugi badhe nampi bagean kamulyan lan ndherek mimpang ing benjang menawi gesang ing donya menika nemahi wekasanipun.

 

Panutup

Karukunan lan kamulyan ingkang dipun tampi lan dipun alami dening greja/  tiyang Kristen sanes pambudidayanipun manungsa, ananging peparingipun Allah. Greja/ tiyang Kristen saged rukun lan kamulyakaken amargi pakaryanipun Sang Roh Suci ingkang paring kasagedan. Supados karukunan lan kamulyanipun greja/ tiyang Kristen dados berkah kangge jagad menika, mila tiyang Kristen, kita sedaya kedah tansah nyenyuwun lan ndedonga dhateng Gusti supados kita tetep kaparingan kasagedan gaesang rukun lan kamulyakaken. Amin.(SS)

 

Pamuji: KPK 319: 1 – 3