Categories:

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 27 JULI 2014
MINGGU BIASA 17
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1         : Yesaya 55: 1-3
Bacaan 2         : Roma 8: 35, 37-39
Bacaan 3         : Matius 14: 13-21

Tema Bulanan            : Allah Yang Membawa Damai
Tema Mingguan: Kecil/ Sedikit + Tuhan = Cukup (Bahkan Wow!)

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

Betapa seringnya di gereja kita mendengar penolakan orang untuk terlibat dalam kegiatan, entah itu paduan suara, kebaktian ketegorial, kepanitiaan, dll. dengan alasan yang seringkali terdengar, “Saya tidak punya cukup …” Ada yang mengatakan, “Tidak punya cukup talenta”, “Tidak punya cukup dana”, “Tidak punya cukup waktu”, “Tidak punya cukup kompetensi dan kemampuan”, “Tidak punya keberanian” dan sejenisnya.  Hal ini kadang merembet sampai hal-hal lain yang lebih besar dari sekadar urusan gereja, bahkan kadang sampai urusan yang menyangkut perkara kemanusiaan. Ada yang bersedia didorong dan akhirnya mau. Ada yang sudah didorong, dipaksa halus, dipaksa kasar, dirasani, diumbreng-umbreng, tetapi tidak goyah, “Emoh!”

 

Kecil/ Sedikit

Ribuan orang itu didorong oleh antusiasme tinggi, mungkin atas penyembuhan dan pengajaran Tuhan Yesus, sampai rela ikut ke mana saja Tuhan Yesus melanglang buana. Ribuan orang itu punya semangat besar, bahkan mungkin untuk sekadar melihat “Piye to rupane?” Nama Yesus tampaknya sudah menjadi nama bagi ‘jagoan’ rakyat kecil. Bahkan para murid Yohanes sang Pembaptis itu pun sampai memberitakan kematian gurunya kepada Yesus (Mat 14:12). Kalau Yesus tokoh main-main jelas tidak sampai sedemikian penting. Bahkan ketika Yesus setelah menyingkir mendengar kabar tentang kematian Yohanes, orang-orang itu masih menguntitnya ke mana pun Dia pergi. Jelas bagi orang-orang kecil itu Yesus bukan tokoh main-main.

Para muridnya yang ngetut wingking ke mana pun Yesus pergi sampai dibuat kelabakan oleh orang-orang ini. Bukan karena mereka kesal, tapi karena mereka pun sama seperti Sang Guru, ikut memperhatikan mereka. Mereka bingung karena orang selapangan Istora Senayan itu mau makan apa di tempat yang sepi semacam itu, tidak ada warung apalagi pujasera (Istora Senayan menampung 15.000 orang, jumlah laki-laki 5000 orang, ditambah perempuan dan anak-anak bisa-bisa lapangan itu malah tidak cukup, seperti KKR massal saja). Ini tidak main-main! Mereka harus pulang! Atau mereka harus bertanggungjawab jika besok di koran muncul berita ribuan orang menderita karena ikut Sang Guru, Yesus Kristus. Bisa-bisa menjadi skandal.

Lebih parah lagi, Sang Guru menyampaikan sebuah perintah tidak masuk akal, “Kamu dong yang kasih mereka makan!” Apa-apaan ini! Bayangkan wajah para murid ketika Sang Guru mengatakan demikian. Menghitung orang sebanyak itu saja sudah pekerjaan agak mustahil, lha ini malah harus memberi makan. Mungkin para murid pada waktu itu berpikir, “Guru ini mikir apa? Lihat, kita ini hanya punya lima roti dan dua ikan! Mana mungkin!”

Bukankah kita yang selama ini mengatakan, “Tuhan, maaf ya saya ini bukan orang kaya”, “Tuhan, suara saya tidak bagus”, “Tuhan, saya ini gak ahli ini dan itu”, “Tuhan, saya gak punya waktu, pekerjaan dan keluarga saja sudah menyita waktu saya.” Sebenarnya punya semangat yang sama seperti para murid? Merasa kecil, merasa rendah, merasa tidak berdaya. Sedangkan di depan kita pekerjaan yang terhampar bagaikan alas gung lewang-lewung, jalma mara jalma mati. “Saya ini bisa apa?”

Semangat seperti ini mungkin beralasan, namun kadang membuat orang berpikir berat tapi tidak melakukan apa pun. Sudah melihat bahwa pekerjaan di depan terlalu berat. Belum lagi kalau ada pamaido-pamaido sukarela, tambah runyam. Belum melangkah saja sudah kalah. Balum bertempur sudah mundur. Lebih parah lagi kalau masih ditambah “Di luar sana ada orang yang lebih mampu, mereka diam saja tuh!” Mengangkat tangan kepada orang lain, seolah-olah merasa, “Saya tidak ikut bertanggung jawab”. Dijamin program atau proyek yang dirancang sehebat apa pun pupus di awal perjalanan. Hati-hati dengan semangat merasa kecil demikian! Bahaya!

 

+ Tuhan

Tuhan adalah angin segar bagi mereka yang kecil semacam ini. Yesaya 55: 1-3 menunjukkan bagaimana kasih Allah kepada umat-Nya yang tidak memiliki apapun, bahkan makan dan minum saja susah. Yesus pun berkarya selalu untuk mereka yang kecil-kecil ini. Yesus selalu menunjukkan keberpihakan mereka kepada yang kecil, lihat saja Khotbah di Bukit, lihat saja pernyataan Yesus yang menjadi dasar bagi diakonia gereja di seluruh dunia, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu melakukannya juga untuk Aku” (bdk. Mat 25:45).

Keberpihakan ini menular kepada Paulus nanti dalam surat-suratnya, bahwa ketika kita memberikan sesuatu bukan supaya orang lain mendapatkan keringanan tetapi supaya ada keseimbangan (2 Kor 8: 13), termasuk dalam bacaan kedua tentang mereka yang dianiaya, menderita, kelaparan (Rm 8: 35), bahwa mereka lebih dari pemenang (Rm 8: 37). Hal ini seolah menandaskan, kalau ada orang yang melakukan penekanan/ represi kepada mereka yang kecil, mereka sebenarnya sedang tidak sejalan dengan karya Tuhan. Jadi hati-hati para anggota komisi pamaido sukarela, jangan-jangan anggota komisi ini sedang bersukarela melawan karya Tuhan.

Kepada para muridNya yang merasa kecil, Tuhan Yesus lantas seolah tersenyum dan mengatakan, “Tenang! Bersama Tuhan selalu ada jalan!” “Bawalah ke mari kepada-Ku (roti dan ikan itu).”

 

= Cukup (Bahkan Wow!)

Yesus menengadah ke langit dan membagikan roti-roti itu. Ajaib! Sungguh ajaib! Ketika roti itu dibagikan, dari sesuatu yang kecil bisa tumbuh hal besar yang tidak masuk akal secara manusiawi. Orang se-Istora Senayan itu bisa makan semuanya sampai kenyang hanya dengan modal lima roti dan dua ikan. Dan masih ada sisanya 12 bakul. Wow! Yang wow bukan lima roti dan dua ikannya, yang wow adalah ketika yang sedikit itu dengan sukacita dan rela hati diserahkan kepada Tuhan. Tafsiran atas bagian ini beragam, tapi kuncinya tidak berubah, kuncinya serahkan kepada Tuhan dengan sukacita dan rela hari. Itu kuncinya! Tuhan itu tan kena kinaya ngapa (tidak bisa digambarkan).

Tahukah kita, bahwa dalam setiap rumus matematis, fisika, kimia apa pun ada simbol “i” yang kerap tidak dituliskan. “i” ini melambangkan “imaginary units” (unit imajiner). Jadi sederhananya seperti 2+2=4, sebenarnya adalah 2+2=4+i. Unit imajiner ini adalah unit matematika yang dipakai untuk menjelaskan hal-hal yang tidak terjelaskan, atau juga digunakan untuk menjelaskan konteks, situasi yang tidak serta merta ideal. Jadi 2 + 2 adalah 4 kalau i tidak berubah, kalau i berubah maka 2 + 2 tidak lagi menjadi 4. Dan beberapa matematikawan, fisikawan, kimiawan percaya bahwa “i” adalah lambang dari kehadiran Tuhan. Dalam hitungan manusia, kecil adalah tetap kecil, tapi ketika yang kecil itu ditambah dengan Tuhan (sang i) hitungan matematika bisa berbeda hasilnya. Kisah pemberian makan orang se-Istora Senayan ini membuktikannya.

 

Penutup

Merasa kecil, tidak mampu? Tambahkan Tuhan dalam hidup Saudara. Berserahlah kepadaNya dengan sukarela. Kita percaya Gusti boten sare. Tapi berserahnya yang sungguh-sungguh, bukan coba-coba. Iman kok coba-coba, wong minyak telon saja tidak coba-coba kok. [gide]

 

Nyanyian: KJ 184: 1

 

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Basa Jawi

 

Pambuka

Asring sanget ing greja kita nampi panampik (penolakan) tiyang lelabet wonten ing kegiatan, paduan suara, ibadat kategorial, kepanitiaan, lsp kanthi alesan “Kula boten gadhah cekap …” Wonten ingkang ngendika “Boten gadhah cekap talenta, dana, wekdal, kemampuan, boten wantun” lan sanes-sanesipun. Kadhang prekawis punika mrembet boten namung prekawis gereja, nanging ugi prekawis kamanungsan. Wonten ingkang purun disurung lan pungkasanipun nggih purun, ingkang sanesipun dipun surung, alon, alus, dipun peksa kasar, dipun raosi, diumbreng-umbreng, nanging tetap teguh, “Emoh!”

 

Alit/ Sekedhik

Tiyang ewon punika gadhah raos antusias (krenteg) ingkang ageng, bokbilih awit penyembuhan lan piwucalipun Gusti Yesus, ngantos lila ndherek Gusti Yesus nglanglang bawana dhateng pundi kemawon. Tiyang ewon punika gadha semangat ageng, bokbilih namung kepingin pirsa, “Piye ta rupane?” Asma Yesus punika sampun kados-kados dados jagoan kawula alit (rakyat). Malah muridipun sang Yokanan Pambaptis ngantos nyariyosaken sedanipun sang guru dhumateng Gusti Yesus (Mat 14: 12). Menawi Gusti Yesus punika tiyang ingkang baen-baen, tamtu boten badhe ngantos mekaten. Malah ngantos nalika Gusti Yesus nyingkir lan nyingkur awit mireng kabar sedanipun Yokanan, tiyang-tiyang taksih nginthil kemawon dhateng pundi Panjenenganipun tindak. Tamtu kangge tiyang-tiyang alit punika, sosok Gusti Yesus sanes tokoh baen-baen.

Para murid ingkang ngetut wingking dhateng pundi Gusti tindak, ngantos dipun damel kelabakan dening tiyang-tiyang punika. Boten awit jengkel lan kesel, nanging awit para murid, kados Sang Guru, ugi nggadhahi kawigatosan dhumateng tiyang-tiyang punika. Kados pundi tiyang sa-Istora Senayan punika saged dhahar, awit papan panyingkiripun Sang Guru punika papan sepen, boten wonten warung punapa malih mall lan pujasera (Istora Senayan saged nampung 15.000 tiyang, ingkang kakung kemawon 5000, kaetang kaliyan ingkang putri lan para anak saged-saged lapangan punika boten cekap, kok kados KKR massal kemawon). Punika boten baen-baen. Tiyang-tiyang punika kedhah kondur, utawi para murid kedah tanggeljawab menawi benjangipun wonten koran kasebar berita, ewon tiyang keluwen berjamaah awit ndherek Gusti Yesus. Malah mangke dados skandal.

Langkung awon malih, Sang Guru ngjunjukaken pitedah ingkang boten masuk akal, “Kowe sing kudu paring dhaharan wong iki kabeh!” Mangga mbayangaken kados pundi menawi kita dados para murid nalika punika. Apa-apaan ini? Ngetang cacahipun tiyang samanten kathahipun kemawon sampun meh mokal, punapa malih paring dhaharan. Bokbilih para murid nalika mekaten mikir, “Gusti punika mikir punapa? Kula namung gadhah roti gangsal lan ulam kalih! Punapa saged?”

Kita ingkang asring paring wangsulan dhumateng timbalanipun Gusti, “Gusti, kula sanes tiyang sugih!” “Gusti, swanten kula boten sae!” “Gusti, kula boten ahli punika lan punika!” “Gusti, wekdal kula sampun telas, pagaweyan lan brayat kemawon sampun nyedhot waktu kula.” Mangga dipun raosaken punapa semangat kita boten sami kemawon kaliyan para murid nalika mekaten? Rumaos alit, andhap, tidak berdaya. Mangka ing ngajeng kita gumelar pakaryanipun Gusti ingkang kados alas gung lewang-lewung, jalma mara jalma mati. “Kula punika saged punapa?”

Semangat kados mekaten bokbilih nggadhahi alesan, nanging kadhang ndadosaken tiyang mikir abot lajeng boten nindakaken punapa-punapa. Dereng-dereng kados sampun mengertos kados pundi ewedipun pakaryan ing ngajeng. Dereng malih menawi wonten pamaido-pamaido sukarela, tan saya runyam. Dereng nglangkah sampun kalah. Dereng tempur sampun mundur. Tambah malih menawi dipun tambah sambat, “Dhateng njawi ngriku kathah tiyang ingkang langkung saged, nanging kok nggih mendel kemawon?” Nuding tiyang sanes, kados-kados rumaos, “Kula boten ndherek tanggel jawab!” Menawi mekaten, dijamin program utawi proyek ingkang karancang kados pundia hebat lan saenipun badhe pupus ing wiwitaning margi. Semangat alit kados mekaten mbebayani!

 

+ Gusti

Gusti punika angin seger kangge ingkang rumaos alit kados mekaten. Yesaya 55: 1-3 nedahaken kados pundi katresnanipun Gusti Allah dhumateng umatipun ingkang boten gadhah punapa-punapa, malah kangge dhahar lan omben kemawon kewedan. Gusti Yesus ugi makarya wonten lan kangge tiyang ingkang alit-alit mekaten. Gusti Yesus tansah nedahaken kaprihatosanipun kangge tiyang alit kados mekaten. Sabdanipun Gusti ingkang dados dhasar diakonia greja sajagad memihak dhumateng tiyang alit, “Satemene pituturingSun marang sira, samubarang kabeh kang ora sira tindakna kanggo salah sawijining wong kang asor dhewe iki, iku iya ora tindakake kagem Ingsun.” (Mat 25:45)

Pambela (keberpihakan) dhumateng ingkang alit punika nular dhumateng Paulus wonten ing serat-seratipun, kados dhawuhipun bilih nalika kita maringaken ingkang kita gadhahi dhumateng tiyang sanes boten supados dados entheng nanging imbang (2 Kor 8: 13), lumebet waosan kita ingkang kaping kalih babagan para kang kaaniaya, kebal lara cintraka, rupek ing ati, kinuya-kuya, saha keluwen (Rm 8: 35). Paulus ngendika bilih tiyang-tiyang ingkang kados mekaten punika ngungkuli para pamenang (Rm 8:37). Prekawis punika kados-kados kanthi teges ngandikan bilih tekanan dhumateng ingkang alit punika boten lumampah selaras kaliyan marginipun Gusti. Dados nggih ngatos-atos kemawon para komisi pamaido sukarela rumaos tanpa dosa, jangan-jangan sedang bersukarela nglawan pakaryanipun Gusti.

Dhumateng para muridipun ingkang rumaos alit, Gusti Yesus kados-kados mesem lan ngendikan, “Tenang, sareng kaliyan Gusti mesthi wonten marginipun!” “Gawanen marang aku roti lan iwak mau!”

 

= Cekap (Malah Wow!)

Gusti Yesus ngunjukaken pandonga dhateng Sang Rama lajeng ngedum roti lan ulam kala wau. Nalika roti lan ulang ingkang namung kalih kala wau kaedum, maujud mukjijat ingkang boten manggih nalar miturut kamanungsan. Tiyang ewon sa-Istora Senayan kala wau saged dhahar sesarengan kanthi sabek (wareg). Lan langkung malih, malah taksih sesa 12 wakul. Wow! Ingkang wow punika sanes 5 roti lan 2 ulam, nanging ingkang wow punika nalika ingkang sekedhik kapasrahaken dhumateng Gusti kanti manah sukarena lan lila ikhlas. Tafsiran dhumateng bagian punika mawarni-warni, nanging kuncinipun sami, kuncinipun mangga dipun pasrahaken dhumateng Gusti kanthi manah sukarena lan lila ikhlas. Gusti punika tan kena kinaya ngapa.

Punapa kita mangertos menawi wonten ing itungan rumus matematika, fisika, kimia, wonten ingkang naminipun simbul “i” ingkang asring boten kaserat. “i” punika imaginery units (unit imajiner/ ingkang kabayangaken). Sacara sederhana kados mekaten 2 + 2 = 4, sejatosipun 2 + 2 = 4 + i. Unit imajiner punika kaginaken kangge nerangaken ingkang boten jelas, ugi kangge nerangkaen konteks, situasi (kawontenan) ingkang saged malih lan boten mesthi ideal. Dados 2 + 2 punika 4 menawi i boten owah, nanging menawi i punika owah 2 + 2 boten 4 malih. Tumrap samukawis matematikawan, fisikawan, kimiawan pitados bilih i punika lambang rawuh lan cawe-cawenipun Gusti. Wonten ing etanganipun manungsa alit punika tetep kemawon alit. Nanging nalika ingkang alit kalawau ditambah kaliyan Gusti (sang i) etangan matematika saged benten asilipun. Cariyos Gusti Yesus maringi dhahar tiyang sa-Istora Senayan kala wau salah satunggal buktinipun.

 

Panutup

Rumaos alit, boten saged? Mangga tambah Gusti wonten ing gesang panjenengan! Sumangga masrahaken sedayanipun dhumateng Gusti kanthi sukarena lan manah ikhlas. Kita pitados Gusti boten sare. Nanging pasrah punika pasrah ingkang saestu, boten namung coba-coba. Minyak telon kemawon “Buat anak pakai coba-coba!” punapa malih iman, sampun namung coba-coba. [gide]

 

Pamuji: KPK 79: 1, 3

 

MINGGU, 03 AGUSTUS 2014
MINGGU BIASA  18
STOLA PUTIH

 

 

Bacaan  1  :  I Raja-Raja 19 : 9 – 13a
Bacaan  2  :  Roma 9 : 1 – 5
Bacaan  3  :  Matius 14 : 22 – 33

 

Tema  Bulanan    :  Alam sebagai tanda kehadiran Allah.
Tema Pekan         :  Kehadiran Tuhan itu meneduhkan ciptaan-Nya.

 

Rancangan Khotbah :  Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan.

Kita tentu sering mendengar seseorang yang bersyukur dan berucap “Puji Tuhan” manakala dia sedang dalam kondisi yang membahagiakannya atau sukacitanya. Tetapi apakah yang akan dilakukan seseorang ketika dia sedang kecewa atau dalam keadaan “Terancam Kemapanannya”? atau ketika dia sedang menghadapi sebuah “Tantangan” yang mengancam dirinya? (Biarkan sejenak umat merenungkan jawaban pertanyaan ini!)

 

Isi

Seseorang akan mengalami kekecewaan, karena situasi yang dialaminya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya, seperti situasi yang dialami oleh nabi Elia. Seharusnya semua jerih payahnya atau “keberhasilannya” menaklukkan nabi-nabi Baal di hadapan mata bangsa Israel dan Raja Ahab itu akan membuahkan pertobatan bagi seluruh bangsa. Tetapi kenyataan yang dihadapi Elia justru sebaliknya yaitu bahwa ratu Izebel mengancam akan membunuh Elia. Sebab dia telah membunuh nabi-nabi Baal yang dianut oleh Izebel. Maka sangat kecewalah Elia dan dia lari menyelamatkan diri sampai ingin bunuh diri. Untunglah Allah senantiasa berkenan datang menghampiri Elia untuk meneduhkan dan menjernihkan kembali hati Elia sehingga Elia mampu menikmati dan menghayati kehadiran Allah yang memulihkan kembali semangat  juangnya.

Memang menghadapi sebuah tantangan dalam kehidupan ini tidaklah mudah. Tantangan adalah sebuah kondisi di mana umat Tuhan harus memilih dan mengambil keputusan untuk melakukan kemauan sendiri ataukah kehendak Allah. Tantangan itu bisa berada di dalam semua kondisi kehidupan manusia, baik itu dalam kondisi sukacita ataupun dukacita. Dari kedua kondisi itu bila manusia tidak waspada dan salah pilih maka bisa saja dia jatuh dan keluar dari jalan yang dikehendaki Tuhan.

Ketika murid-murid Tuhan Yesus masih dalam kondisi sukacita karena menyaksikan Tuhan yang mampu membuat keajaiban memberi makan 5000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan, Tuhan kemudian mengutus mereka untuk menyeberangi danau sedangkan Yesus tidak bersama mereka karena akan berdoa di atas bukit. Rupanya peristiwa yang dialami dengan sukacita karena menyaksikan dan mengagumi kekuasaan Tuhan itu belum menyentuh hati mereka, baru sebatas menyenangkan mata mereka saja.

Karena itu ketika mereka menghadapi tantangan angin dan gelombang danau, mereka sudah tidak lagi mampu mengenal dengan jernih kehadiran Tuhan di dekat mereka, sehinga yang mereka lakukan adalah “sekenanya” dengan berteriak semaunya, ada hantu dan sebagainya.

Padahal tantangan yang terjadi di wilayah itu saat itu sesungguhnya bukanlah hal yang baru bagi mereka karena wilayah itu adalah wilayah pencarian ikan bagi sebagian murid yang dulunya adalah nelayan.

Jadi, Tuhan itu hanya bisa mereka lihat dengan jernih pada kondisi-kondisi teduh dan menyenangkan saja. Mereka belum bisa menyadari bahwa kehadiran Tuhan adalah sesungguhnya kehadiran yang meneduhkan dan menyejukkan hati. Jadi, bukan karena keadaan teduh dan sejuk Tuhan baru hadir. Oleh karena itu bila benar-benar kita merasakan Tuhan hadir di dalam hati dan perahu kehidupan kita, maka di tengah gelombang dan badai yang bagaimanapun juga pasti kita akan merasakan ketenangan, kesejukan dan penyertaan Tuhan, sehingga kita dapat menghadapi dan mengatasi setiap tantangan dengan mata hati yang jernih.

Menghadapi setiap tantangan dengan mata hati yang jernih bukan saja akan meneduhkan hati dan kehidupan kita, tetapi juga akan meneduhkan kondisi dan situasi di lingkungan dan sesama kita. Karena itu kita jangan menjadi orang yang kurang percaya dan bimbang seperti para murid pada saat itu. Tetapi marilah senantiasa kita dapat merasakan uluran tangan Tuhan Yesus yang memegang dan menuntun kita di dalam seluruh aspek kehidupan kita.

 

Penutup.

Ingatlah bahwa setiap tantangan bisa saja terjadi dan menenggelamkan kita, baik itu dalam situasi keberhasilan ataupun kegagalan yang kita alami. Dalam kondisi seperti itu janganlah kita lebih mengandalkan “aku” kita, tetapi marilah kita lebih memberikan tempat bagi Tuhan yang senantiasa berkenan datang dengan keteduhan-Nya, mengulurkan tangan-Nya untuk menyertai kita di dalam seluruh aspek kehidupan ataupun tantangan yang sedang kita hadapi. Ingatlah, karena sesungguhnya hidup ini adalah sebuah tantangan. Selamat berjuang saudaraku, Tuhan memberkati – Amin.  [AK]

 

Nyanyian : KJ. 409 : 1, 2.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

 

Pambuka

Kita tamtu asring mireng tiyang ingkang saos sokur lan ngucap “Puji Gusti” samangsa ngalami kawontenan ingkang mbingahaken lan sukarena. Nanging menapa ingkang dipun ucapaken lan dipun tindakaken menawi tiyang saweg kuciwa utawi ing salebeting kawontenan ingkang katentremanipun rumaos kaancam? Utawi saweg ngadhepi tantangan ingkang ngancam gesangipun? (Lerem sawatawis kagem nggegilut pados wangsulan tumrap pitakenan menika!)

 

Isi

Tiyang badhe ngalami kuciwa karana situasi ingkang dipun alami boten cundhuk kaliyan menapa ingkang pikajengaken, kados ingkang dipun alami dening nabi Elia. Kedahipun sedaya pambudidaya lan kaunggulanipun nabi Elia nelukaken nabi-nabi Baal ing ngajenging bangsa Israel lan Raja Ahab menika nuwuhaken pamratobatipun bangsa Israel. Nanging kasunyatan ingkang dipun adhepi nabi Elia malah kosokwangsulipun. Ratu Izebel malah ngancam pati dhateng nabi Elia, karena nabi Elia sampun mejahi nabi-nabi Baal ingkang dipun anut dening ratu Izebel. Pramila nabi Elia rumaos kuciwa sanget lan mlajeng nylametaken dhiri ngantos kepingin nganyut tuwuh (bunuh dhiri). Begja dene Gusti Allah tansah rawuh nyaketi nabi Elia saperlu nentremaken lan madhangi manahipun nabi Elia. Nabi Elia saged ngraosaken lan ngayati kehadiran Allah, temah pulih manahipun lan bangkit semangat juangipun.

Pancen ngadhepi tantangan wonten ing pigesangan menika pranyata boten gampil. Tantangan nggih menika satunggaling kawontenan ing pundi umatipun Gusti kedah milih lan mutusaken kangge nindakaken pikajengipun piyambak utawi karsanipun Gusti. Tantangan menika saged mapan wonten ing sedaya kawontenan gesanging manungsa, dadosa kawontenan bingah utawi sisah. Saking kalih kawontenan menika yen manungsa boten waspada lan dados salah pilih, tiyang saged dhawah lan ngglewar saking margi ingkang dipun kersakaken dening Gusti.

Nalika para muridipun Gusti Yesus taksih wonten ing swasana sukarena karana ningali Gusti Yesus kanthi ngedab-edabi maringi nedha 5000 tiyang klayan 5 roti lan 2 ulam,  Gusti Yesus ngutus para murid supados nyabran tlaga (danau) dene Gusti Yesus boten nunggil karana badhe ndedonga ing puthuk (bukit). Rupinipun lelampahan ingkang mbingahaken karana ningali panguwasanipun Gusti ingkang ngeramaken menika dereng nggepok (nyenggol) manahipun para murid, namung ngremenaken paningalipun kemawon.

Karana saking menika, nalika ngadhepi tantangan angin lan ombak wonten ing tlaga, para murid menika sampun boten saged nyipati kanthi wening kehadiran Tuhan ingkang nyaketi, temah ingkang saged dipun tindakaken nggih “sakeneke” kanthi mbengok sapikajengipun, “ana memedi”, lsp. Kamangka tantangan ingkang kedadosan ing wilayah menika sejatosipun sanes prekawis ingkang enggal tumrap para murid. Karana, ing wilayah menika para murid rumiyin kulina pados ulam.

Dados,  Gusti menika namung saged dipun tingali kanthi wening wonten ing kawontenan ingkang tentrem lan mbingahaken kemawon. Para murid menika dereng saged nyadhari bilih kehadiran Tuhan menika sejatosipun kehadiran ingkang nentremaken lan ngayemaken manah. Dados, boten namung ing kawontenan ingkang ayem tentrem kemawon Gusti rawuh. Ingkang menika, menawi kita estu saged ngraosaken kehadiran Tuhan wonten ing manah lan prauning gesang kita, nadyan wonten ombak ingkang nggengirisi, kita mesthi tetep saged ayem tentrem karana ngayati patunggilanipun Gusti. Srana mekaten kita saged saged ngadhepi lan mrantasi sedaya tantangan kanthi “mata ati” kang wening.

Ngadhepi saben tantangan kanthi “mata ati” kang wening boten namung ngayemaken manah lan gesang kita, nanging ugi nentremaken kawontenan ing sakiwa tengan lan sesami kita. Pramila, sampun dados tiyang ingkang kirang pracaya lan miyar-miyur kados para murid nalika samanten. Mangga tansah ngraosaken astanipun Gusti ingkang nyepengi lan nuntun kita ing saranduning pigesangan.

 

Panutup.

Sami engeta, bilih saben tantangan saged kemawon dumados lan ngeremaken kita, dadosa ing kawontenan berhasil utawi gagal ingkang kita alami. Ing kawontenan ingkang kados makaten sampun ngantos kita ngendelaken “aku” kita. Nanging mangga ngaturi papan kagem Gusti ingkang tansah kersa rawuh kalayan katentremanipun, nelungaken astanipun mitulungi kita ngadhepi sedaya tantanganing gesang. Sami engeta, gesang menika pancen tantangan. Sugeng berjuang, para sedherek! Gusti mberkahi. Amin. [terj. ST]

 

Pamuji: KPK 310