wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 01 PEBRUARI 2015
MINGGU BIASA
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1         :  Ayub 7: 1-7
Bacaan 2         : 1 Korintus 9: 15-18
Bacaan 3         : Markus 1: 29-39

Tema Bulanan            : Berbahagialah Yang Sedih.
Tema Pekan    : Seluruh Karya Hidup Untuk KemuliaanNya.

 

Keterangan bacaan

  1. 1.        Ayub 7: 1-7

Ayub kini berpaling dari teman-temannya, yang rupanya tidak mengerti, dan berdoa kepada Tuhan. Perhatian Ayub yang terbesar selama semua percakapan adalah tentang Allah. Bahkan ketika ia berbicara tentang Allah dengan bentuk orang ketiga, Ayub senantiasa sadar akan kehadiran-Nya. Hati Ayub tidak pernah berpaling dari Allah yang dikasihinya.

Hari-harinya seperti hari-hari orang upahan. Kehidupan manusia, khususnya kehidupan Ayub, adalah bagaikan pertempuran berat untuk seorang prajurit atau ‘pekerjaan’ berat dan melelahkan untuk seorang petani. Kehidupan ini merupakan rangkaian hari-hari di mana manusia mengharapkan datangnya malam yang sejuk dan malam-malam penuh kegelisahan di mana manusia mengharapkan datangnya pagi, sebuah lingkaran kesedihan dan keputusasaan.

 

  1. 2.        1 Korintus 9: 15-18

Rasul Paulus kini menunjukkan bagaimana kasih berperan di dalam kasus dirinya, sekalipun dia memiliki hak sepenuhnya untuk mengharapkan sokongan dari jemaat di Korintus. Dengan demikian dia membedakan persembahan pribadinya dengan sikap mementingkan diri dari orang-orang yang memanfaatkan kebebasan mereka di dalam soal makanan untuk merugikan pihak yang lain. Tetapi menandai perbedaan tersebut, dan perubahan menjadi bentuk orang pertama menandai ilustrasi dari pengalaman pribadi itu, yaitu ilustrasi tentang pengetahuan yang dikendalikan oleh kasih.

Para pembaca dituntun kepada maksud Paulus ketika berkhotbah tanpa memperoleh bayaran – yaitu dia mengharapkan pahala. “Itu adalah keharusan bagiku”, mengacu kepada panggilan kepadanya di jalan menuju ke Damsyik, sebuah panggilan yang tidak dapat ditolak olehnya.

“Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri”, mengemukakan suatu pengandaian yang tidak mungkin dilakukan Paulus. Dengan demikian, di dalam hal Paulus tidak akan ada upah untuk pemberitaan Injil, sebab dia berkhotbah selaku keharusan. Kunci untuk memahami argumentasi Paulus dijumpai di dalam ungkapan, “tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.” Tugas sebagai penatalayan (tugas penyelenggaraan) adalah tugas yang diserahkan kepada seseorang oleh pemiliknya. Sang penatalayan karena itu termasuk golongan budak (bdg. Luk. 12:42, 43). Dan seorang budak tidak menerima upah: dia harus bekerja (bdg. Luk. 17:10). Sebab itu Paulus harus memperkenalkan gagasan tentang berkhotbah tanpa dibayar. Sebagaimana dikemukakan oleh Moffatt “Bayarannya adalah melakukan hal itu tanpa dibayar.” Inilah cara sang rasul memperoleh pahalanya. Jadi, terang dikendalikan oleh kasih.

 

  1. 3.        Markus 1: 29-39

Dalam pelayanan-Nya, Yesus tidak hanya mengajar banyak orang. Yesus juga menyembuhkan banyak orang, termasuk ibu mertua Simon, yang menderita sakit demam (ayat 30). Lazimnya orang yang baru sembuh dari sakit, badan terasa lemah, karena itu diperlukan waktu beberapa lama untuk beristirahat dan mengembalikan kondisi tubuh. Tetapi, tampaknya ini tidak berlaku bagi ibu mertua Simon. Segera setelah disembuhkan ia langsung melayani Yesus (ayat 31). Ini memberi indikasi bahwa penyembuhannya segera dan sempurna. Tidak hanya orang sakit, orang-orang yang kerasukan setan pun dibawa kepada Yesus untuk disembuhkan dan dilepaskan dari cengkeraman setan (ayat 32,34). Menarik untuk dicatat bahwa Yesus tidak memperbolehkan setan-setan untuk berbicara meski mereka mengenal Yesus.

Dalam 1:24, setan bahkan menyapa Yesus sebagai ‘Yang Kudus dari Allah’. Tetapi, Yesus membentaknya untuk tidak bicara. Yesus menolak kesaksian setan dan roh-roh jahat, karena kesaksian mereka tidak lahir dari kesadaran dan suka rela. Mereka mengenal siapa Yesus, tetapi mereka tidak mau hidup taat terhadap Yesus. Inilah iman model ala setan (Yak. 2:19): mengenal Yesus bahkan beribadah di rumah ibadat, tetapi tidak mau taat kepada kehendak Yesus; percaya pada Yesus, tetapi hidup menurut kehendak sendiri.

Di tengah kesibukan pelayanan, Yesus berdoa. Mengapa Yesus harus berdoa? Doa adalah komunikasi dengan Allah. Melalui doa, Yesus menyatakan dua hal. Pertama, relasi-Nya dengan Allah sangat intim. Kedua, Yesus menyatakan ketergantungan-Nya kepada Allah.

Rahasia kesuksesan pelayanan-Nya terletak pada ketergantungan-Nya pada Allah, dan doa merupakan ekspresi ketergantungan pada Allah.

Benang merah 3 bacaan: Menjalankan hidup dalam ketaatan sebagaimana panggilan mereka.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Jemaat yang dikasihi Kristus.

Dalam bacaan yang ketiga dipaparkan bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit dan membebaskan orang dari kerasukan setan. Ini artinya Tuhan Yesus menolong, membebaskan orang dari penderitaan.

Tempat di mana banyak orang yang menderita adalah rumah sakit. GKJW di mana kita bergereja, mempunyai 5 rumah sakit: RS Mojowarno di Mojowarno – Jombang; RS Reksa Waluya di Mojokerto; RS Griya Waluya di Ponorogo dan 2 rumah sakit ada di Malang yakni: RS Mardi Waloeja (berlokasi di Rampal dan di Kauman) dan RS Marsudi Waluyo. Kelima rumah sakit ini memberikan pelayanan kepada masyarakat umum, yakni semua yang membutuhkan pelayanannya, tidak memandang dari kalangan mana dan juga tidak memandang beragama apa, semua diberi pelayanan yang terbaik berdasarkan kasih.

Bagi rumah sakit GKJW ini pelayanan kesehatan, baik yang dilakukan oleh dokter, perawat, dan bagian-bagian lain di rumah sakit dihayati sebagai pelayanan cinta-kasih kepada sesama, yakni di mana mereka meneruskan kasih Allah kepada semua penderita yang mereka tolong, yang mereka rawat.

Menghayati kebaikan Allah dan mewujudkannya ternyata tidak hanya berlaku di area gereja saja atau dalam bentuk ceramah/ khotbah rohani saja supaya orang bertobat, mencari jiwa-jiwa baru…., tetapi saat menolong orang sakit, saat menjadi teman bagi yang ketakutan, yakni saat kita menyediakan diri bagi kebaikan mereka, kala orientasi  bukan pada diri sendiri, tetapi kepada kehidupan orang lain.

Maka inilah perbuatan baik yang sejati tanpa pamrih apapun! Perbuatan baik yang demikian inilah yang cocok diterapkan di Indonesia sebagai negara Pancasila. Perbuatan baik yang memungkinkan orang untuk bisa berjumpa satu dengan yang lain, tanpa diskriminasi dibebaskan dari kooptasi memungkinkan orang untuk tumbuh berkembang menjadi dirinya sendiri, dalam pembangunan kehidupan.

 

Isi

Dalam bacaan kita, Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit. Awalnya menyembuhkan ibu mertua Petrus yang sedang sakit demam. Penyembuhan itu sangat sempurna sehingga memungkinkan Ibu mertua Petrus bisa langsung bekerja melayani mereka, Tuhan Yesus dan yang hadir dalam rumah itu. Kemudian dilanjutkan oleh banyak orang yang berdatangan meminta disembuhkan, mereka semua sembuh, segala macam penyakit tiada yang tidak disembuhkan bahkan mereka yang kerasukan setan dibebaskan.

Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ini, yakni perbuatan baik membebaskan orang dari penderitaan sakitnya dan membebaskan orang dari belenggu iblis merupakan perwujudan dari kasih Allah kepada manusia. Itulah yang disebut Injil atau kabar kesukaan. Hal ini bagi Tuhan Yesus adalah penting, hal wajib dilakukan bahkan harus dilakukan secara luas-merata, ke tempat lain (ayat  38-39).

Adalah benar kala kebaikan-kebaikan kita bagi dan sebar luaskan kepada semua orang, dalam bentuk sikap dan perilaku hidup sesuai talenta, profesi masing-masing, itu adalah bagian dari pelaksanaan panggilan Kristiani kita sesuai bidang hidup masing-masing. Itulah cahaya dari terang hidup kita, kabar kebaikan Allah yang kita hadirkan di dunia. Mengapa kita harus ragu … bahwa kitapun terpilih, terpanggil mengerjakannya…? Jangan simpan kebaikan yang ada pada diri kita, teruskanlah kepada mereka yang membutuhkan! Sebagaimana Kristus melakukan hal itu, maka kitapun akan dimampukan untuk melakukannya. Tidak hanya mereka yang bekerja di rumah sakit seperti contoh di  atas. Tetapi semua orang dari berbagai latar belakang memiliki kemampuan untuk meneruskan kebaikan Allah.

Di ayat 35, 39 terlihat bagaimana sampai purna hari itu Ia bekerja keras mengerjakan panggilanNya dan sudah bangun untuk mengangkat doa  pada awal dari hari yang baru. Itu menunjukkan akan dedikasiNya yang tinggi dalam mengemban tugas dan tanggung jawab. Itu hendak pula menjelaskan bahwa relasi, kedekatanNya dengan Bapa dijadikan sebagai landasan untuk apa yang dikerjakanNya hari itu. Bukankah Ia adalah Allah itu sendiri yang mengambil rupa manusia, yang adalah satu, bukan yang berbeda dengan Bapa? Namun kebiasaan berdoa tetap menjadi bagian yang kental dari hidup dan pelayananNya menunjukkan sikap kerendahan hati yang tiada tara dari diriNya, bahwa Ia perlu membangun persekutuan, berkomunikasi dengan Bapa secara intensif, sebagai dasar kekuatan dan alasan dari keberhasilan pelayananNya. Baiklah kita mencatat hal ini  sebagai keteladanan yang ulung dari Kristus untuk semua orang percaya.

 

Penutup

Ranting tidak akan berbuah jika ia tidak menyatu dengan pohonnya, demikian pula kemampuan kita menghadirkan kebaikan Allah kepada sesama. Rahasianya terletak pada bagaimana hubungan kita dengan Allah itu sendiri. Kristus walaupun pamor tentang diriNya yang adalah Anak Allah tidak lagi dapat dipungkiri, sampai setan-setanpun tahu tentang hal itu, itulah sebabnya mereka bungkam dan taat padaNya, namun Kristus masih membina hubungan yang intensif dengan Allah Bapa. Panggilan demikian juga kepada kita, siapapun juga, sepandai apapun kita memerlukan kedekatan dengan Allah sebab yang kita wartakan adalah diriNya. Biarlah Ia sendiri menemukan kabaikan-kebaikanNya nyata diteruskan oleh hidup kita. Amin. [Evi]

Nyanyian: KJ 365.

 —

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi.

Pambuka

Ing waosan ingkang katiga kacariyosaken kados pundi Gusti Yesus nyarasaken tiyang sakit lan ngluwari tiyang ingkang kapanjingan dhemit. Menika nedahaken bilih Gusti Yesus tetulung, ngluwari tiyang saking panandhangipun.

Papaning tiyang kathah ingkang nandhang sakit nggih menika griya sakit. Greja kita GKJW nggadhahi 5 griya sakit: RS Mojowarno ing Mojowarno – Jombang; RS Reksa Waluya ing Mojokerto; RS Griya Waluya ing Ponorogo lan 2 griya sakit wonten ing Malang: RS Mardi Waloeja (ing Rampal dan di Kauman) sarta RS Marsudi Waluyo. 5 griya sakit menika nyawisaken peladosan dhateng masyarakat umum, sedaya ingkang mbetahaken peladosan, boten mawang golonganipun, bote mawang agaminipun, sedayanipun kaparingan peladosan ingkang sae dhedhasar katresnan.

Menggahing griya sakit GKJW menika peladosan kesehatan, ingkang katindakaken dening para dokter, jururawat lan sedaya ingkang nyambut damel ing ngriku, dipun ayati minangka pelayanan cinta-kasih (peladosaning sih katresnan) dhateng sesami, nggih menika mujudaken sih katresnanipun Gusti Allah dhateng sedaya ingkang nandhang sangsara ingkang sami dipun tulungi lan ladosi.

Ngayati lan mujudaken sih kasaenanipun Allah jebul boten namung kelampahan ing sakiwa tengenipun greja utawi ingkang arupi khotbah rohani supados tiyang sami mratobat, memenangkan jiwa-jiwa baru. Nanging ugi menawi kita nulungi tiyang sakit, “ngancani” ingkang ngalami ajrih lan sumelang, mbudidaya kasaenan kagem tiyang sangsara, lan menawi kita boten namung nggatosaken gesang kita piyambak, nanging nggatosaken gesangipun tiyang sanes.

Lah menika sejatining tumindak utami ingkang tanpa pamrih. Tumindak utami ingkang mekaten menika prayogi sanget dipun trepaken ing Indonesia minangka negari Pancasila. Tumindak utami ingkang murugaken tiyang sami pinanggih kaliyan sanesipun, tanpa diskriminasi (mawang tiyang), murugaken tiyang tuwuh dados dhiri pribadinipun anggenipun mangun pigesangan.

 

Isi

Ing waosan kita kacariyosaken Gusti Yesus nyarasaken tiyang sakit. Kawiwitan nyarasaken ibu marasepuhipun Petrus ingkang sakit benter. Pakaryan kasarasanipun Gusti Yesus menika ketingal sampurna, temah ibu marasepuhipun saged cancut ngladosi Gusti Yesus lan sedaya ingkang sami rawuh ing griyanipun. Pakaryanipun Gusti Yesus menika lajeng murugaken tiyang kathah sami sowan nyuwun kasarasan, lan sedayanipun sami saras. Boten wonten pisakit ingkang boten saged kasarasaken, malah ingkang kapanjingan dhemit ugi dipun luwari.

Menpa ingkang katindakaken dening Gusti Yesus, nggih menika tumindak utami nyarasaken tiyang sakit lan ngluwari tiyang ingkang kepanjingan dhemit menika dados wujud sih katresnanipun Allah dhateng manungsa. Lah menika ingkang kasebat Injil, kabari kabingahan. Menika wigatos sanget tumrap Gusti Yesus; menika wajib kedah dipun tindakaken kanthi wrata ing sedaya panggenan (ay. 38-30).

Pancen yektos bilih menawi kita ngecakaken lan nyebar kasaenan dhateng sedaya tiyang, lumantar sikap lan tindak-tanduk kita manut kasagedan profesi kita, menika dados peranganing tumindakipun timbalanipun Sang Kristus manut bidang pigesangan kita piyambak-piyambak. Lah menika sunaring cahya saking gesang kita, kabar kasaenanipun Allah ingkang kedah kita wujudaken dhateng jagad. Kenging menapa kita taksih mangu-mangu… bilih kita menika kapiji dening Allah supados kita lampahi? Sampun ngantos kiya nyimpen utawi ngumpetaken kasaenan ingkang wonten ing dhiri kita piyambak! Mangga kita wujudaken dhateng tiyang ingkang mbetahaken. Kados dene Gusti Yesus sampun nindakaken kasaenan menika, kita mesthi ugi kaparingan kekiyatan nindakaken. Boten namung tiyang-tiyang ingkang nyambut damel ing griya sakit, nanging ugi sedaya tiyang manut kasagedanipun piyambak-piyambak mujudaken kasaenanipun Allah.

Ing ayat 35 lan 39 katingal sanggenipun Gusti Yesus nyambut damel kanthi purnaning dinten lan ing wanci enjing umun-umun ndedonga dhateng Sang Rama. Menika mujudaken tanggel jawabipun Gusti Yesus ngemban timbalanipun. Menika ugi nedahaken sesambetanipun ingkang raket sanget kaliyan Sang Rama dados tetales tumrap sedaya tumindakipun. Pakulinanipun ndedonga nedahaken kanthi manteb watakipun ingakng andhap asor. Panjenenganipun prelu mangun tetunggilan lan sesambetan kaliyan Sang Rama kanthi tekun. Menika dados dhasar lan alesan kasiling peladosanipun. Prayogi kita nggatosaken menika kanthi saestu minangka patuladhan ingkang utami tumrap sedaya tiyang pitados.

 

Panutup

Pang boten badhe saged ngedalaken woh menawi boten nyatunggil kaliyan witipun. Mekaten ugi kekiyatan kita anggen kita mujudaken kasaenanipun Gusti Allah dhateng sesami. Wewadinipun mapan ing kados pundi sesambetan kita kaliyan Gusti Allah. Nadyan panguwaosipun ngedab-edabi, malah setan-setan ugi sumerep, blangkeman lan manut dhateng Panjenenganipun, Gusti Yesus tetep prelu mangun sesambetan raket kaliyan Kang Rama. Menapa malih kita, nadyan kita nggadhahi kapinteran ingkang pinunjul, kita tetep mbetahaken sesambetan raket kaliyan Allah, awit ingkang kita wartosaken menika nggih Gusti Allah pribadi. Gusti Allah piyambak ingkang nedahaken kasaenanipun dhateng kita supados kita wujudaken dhateng tiyang sanes. Amin. [terj. ST]

Pamuji: KPK 187.

MINGGU, 08 PEBRUARI 2015
MINGGU BIASA
STOLA  PUTIH

Bacaan 1   :  Yesaya 40: 21-31
Bacaan 2   : 1 Korintus 9: 19-23
Bacaan 3   : Markus 1: 40-45

Tema Bulanan : Berbahagialah Yang Sedih.
Tema Pekan    : Jadikan Belas Kasih Allah Dialami Oleh Semua Orang.

 

Keterangan bacaan

  1. 1.        Yesaya 40: 21-31

Kelepasan dari pembuangan adalah bukti nyata bahwa sesungguhnya Allah Israel jauh lebih berkuasa dari-pada ilah-ilah bangsa kafir yang tak lebih daripada patung tuangan atau pahatan buatan manusia. Allah tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Dia adalah Allah, Pencipta langit dan bumi. Benda-benda di langit pun adalah ciptaan-Nya. Segala sesuatu yang ada di alam ini adalah ciptaan-Nya, termasuk bangsa-bangsa besar seperti Babel. Bangsa Israel boleh merasa jeri dengan negara adikuasa seperti Babel, tetapi di mata Allah, Babel tak lebih daripada setetes air dalam timba atau sebutir debu pada neraca. Dalam sekejap, bila Allah menyatakan penghakiman-Nya, para penguasa dunia ini segera sirna.

Allah seperti itulah yang memiliki Israel. Kalau begitu mengapa Israel merasa tidak diperhatikan Tuhan? Pembuangan tidak membuktikan bahwa Allah tak berdaya. Pembuangan justru membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang adil, yang membalaskan dosa dengan penghukuman. Allah tetap Allah yang kekal, yang kuasa-Nya tidak berubah, dan pengertian-Nya jauh melampaui akal manusia. Manakala Israel di pembuangan mengakui semua ini, mereka tidak perlu putus asa. Justru dengan berpaling kepada Dia dan mengakui sekali lagi kedaulatan-Nya, Israel akan dikuatkan dan diteguhkan. Mereka tidak akan kecewa mengharapkan Tuhan.

 

  1. 2.        1 Korintus 9: 19-23

Prinsip Paulus dalam pelayanan ini bukan suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan. Memang lebih mudah dan aman untuk bersikap kaku sambil bersembunyi di balik alasan bahwa kita berbuat demikian demi mempertahankan prinsip. Atau kebalikannya, mudah sekali menjadikan pelayanan yang komunikatif sebagai alasan untuk menutupi keinginan kompromi. Yang Paulus maksudkan jelas bukan yang terakhir ini. Paulus juga tidak menerima sikap yang pertama. Paulus bukan sedang belajar menjadi bunglon, tetapi menjadi hamba Kristus. Ia menaklukkan semua kepentingan dirinya, kebebasan dan haknya dalam upaya mempersempit jurang pemisah antara dirinya dan orang-orang yang dilayaninya demi memenangkan mereka bagi Kristus.

Berjuang dan menguasai diri. Sikap dan prinsip pelayanan Paulus ini membutuhkan perjuangan yang berat dan penguasaan diri yang kokoh. Untuk itu ia mendisiplin dirinya. Paulus menguasai dirinya supaya tidak diperbudak oleh keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Paulus tidak ingin hidupnya menjadi sia-sia, karunia dan panggilan pelayanan yang Allah percayakan kepadanya tidak sampai sasaran. Tujuan Paulus ialah memperoleh mahkota abadi yang akan Tuhan karuniakan hanya bagi yang setia dan menang.

 

  1. 3.        Markus 1: 40-45

Pada masa Yesus hidup, sudah merupakan tradisi bila orang yang berpenyakit kusta diasingkan masyarakat. Selain takut tertular – - menurut hukum Musa — orang kusta itu najis dan dikutuk Allah (bdk. Im. 13:45-46). Bagaimana sikap Yesus ketika berhadapan dengan orang kusta? Yesus tidak mengusir atau menjauh. Yesus justru menggerakkan tangan-Nya ke arah orang kusta itu lalu menyentuhnya. Dapat kita bayangkan kegemparan yang terjadi karena reaksi orang-orang yang melihat perbuatan ini. Mengapa Yesus mau menyentuhnya? Karena belas kasihan (ayat 41). Belas kasihan Yesus menyembuhkan dan mengalahkan segala-galanya.

Ketika orang kusta sembuh Yesus memberikan dua bentuk perintah padanya. Pertama, ia harus melakukan hukum Musa, yaitu menghadap imam agar imam dapat menyatakannya sebagai orang sehat. Tanpa pernyataan resmi ini sulit baginya diterima masyarakat. Kemudian, ia harus memberikan persembahan syukur seperti yang diatur hukum Musa (Im. 14:1-32). Kedua, Yesus melarangnya untuk memberitakan kesembuhannya kepada orang lain. Sebenarnya orang yang mengenalnya, tanpa diberitahu pun menyadari perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Selain itu melakukan ritus seperti yang dituntut hukum Musa, sebenarnya merupakan pernyataan terbuka bahwa ia telah sembuh dan tahir. Jadi, mengapa harus dilarang? Karena Yesus tidak ingin dikenal sebagai tabib penyembuh. Yesus adalah Mesias dan Anak Allah. Namun, orang kusta ini tidak taat. Akibatnya pekerjaan dan pelayanan Yesus menjadi terhalang. Ketidaktaatan selalu menghambat pelayanan Yesus. (ayat 45).

 

Benang merah 3 bacaan:

Tuhan sebagai sumber kehidupan.

 

Pendahuluan

Penderita kusta yang kita baca di bacaan ketiga ini, menderita tidak hanya oleh penderitaan sakitnya saja, tetapi penderitaannya juga terkait dengan kehidupan sosialnya. Karena orang yang sakit kusta tidak diperkenan berada bebas di tempat umum karena akan mengganggu kekudusan lingkungan yang ada, sebab penderita sakit kusta menularkan kenajisannya kepada orang-orang sekitar. Itulah pemahaman mereka, yakni bahwa sakit kusta adalah penyakit yang tidak tahir, apalagi masuk ke areal bait suci, mereka tidak diizinkan karena tubuh mereka kotor, najis karena kusta.

Kusta di sini berbeda dengan penyakit kusta yang dipahami oleh ilmu kedokteran dewasa ini yaitu yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae, namun adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur yang membuat kulit berwarna merah karena melepuh.  Penderita nampak menyeramkan, sehingga banyak orang tidak suka mendekat.

 

Isi

Tuhan Yesus, menaruh belas kasihan kepadanya, dikatakan bahwa Yesus “tergerak hatinya” (Mrk 1:41). Kerap disebut bahwa Yesus iba hati bila melihat penderitaan atau kebutuhan orang yang tak terpenuhi. Ikut merasakan, itulah yang dimaksudkan Injil, dalam bahasa Yunani, “splagkhnistheis”, kata yang dijumpai dalam ay. 41 ini. Orang kusta ini bagaikan mengalami kematian dalam hidupnya. Tetapi belas kasih Kristus hadir untuk membawa kehidupan.

Maka Yesus menjawab, ayat 41: “Aku mau, jadilah engkau tahir”, kala Penderita kusta ini berlutut di hadapanNya dan memohon bantuanNya seraya berkata: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”, ayat 40. Sungguh sangat menarik adegan ini. Kata-kata permohonan yang sangat menghormati kedaulatan Kristus, tidak memaksa, melengkapi sikapnya yang merendah. Sikapnya itu telah menjadi kekuatan yang ampuh untuk menggerakkan rasa belas kasihan Yesus kepadanya, sehingga tanpa pertanyaan apapun  Yesus lalu mengulurkan tanganNya dan menjamahnya serta berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

Letak kekuatan permohonan ini pada sikap hatinya yang merendah di hadapan Allah, yang nampak dalam perkataannya, tidak mencoba agar Tuhan memperioritaskan dirinya. ”Kalau Engkau mau… Engkau dapat mentahirkan aku…” maksudnya memberi kesempatan kepada Allah mungkin ada perioritas yang lain yang lebih urgen dari dirinya.

Jemaat yang mengasihi Kristus, sikap dari penderita ini jarang ditemui di dunia kita sekarang ini. Banyak orang saling berlomba untuk menjadi yang utama, bahkan membolehkan dengan cara apapun. Asas penghormatan kepada Allah sebagai yang berwenang… dan menyilahkan kesempatan kepada sesama terlebih dahulu, dijunjungnya tinggi, walau sebenarnya dirinya sendiri sangat membutuhkan pentahiran terkait. “Biarlah… Tuhan memilih…“ memyembuhkan dirinya atau mungkin masih ada orang lain yang lebih tepat selain dirinya untuk disembuhkan. Hal inilah yang bisa kita kembangkan lagi dalam hidup kita.

Setelah orang ini tahir, sembuh… Yesus menyuruhnya segera memperlihatkan dirinya kepada imam, supaya diumumkan kepada masyarakat bahwa ia sudah sembuh dan dilayakkan beraktifitas sebagaimana umumnya orang sehat. Hanya imam yang bisa memutuskan ia sudah sembuh betul apa belum, sudah layak berada bebas di tengah masyarakat atau belum. Dan Tuhan  Yesus menyatakan jangan ceritakan bagaimana cara penyembuhannya (ay.44). Namun pada ayat 45 dinyatakan bahwa orang ini malah menyebar luaskan, menyiarkan bagaimana Tuhan Yesus telah menyembuhkan dirinya, sehingga oleh pemberitaannya itu tersebar luaslah berita kesembuhan tersebut. Kebahagiaan yang tidak terkatakan membuat ia lupa untuk taat. Sehingga, orang jadi semakin mencari-cari Yesus untuk memohon kesembuhan atau sekedar mau berjumpa dan melihat bagaimana rupa dari seorang yang mempunyai kemampuan menyembuhkan. Demikian sehingga Yesus tidak bisa lagi masuk dengan bebas ke dalam kota, karena akan menimbulkan kecemburuan besar bagi Para Imam dan Ahli Taurat yang ingin menyingkirkanNya. Jika kita menghubungkannya dengan ayat 45, kita diajak untuk turut menyelami perasaan Yesus agar paham dengan kesungguhan yang sedang diembanNya. Kita disadarkan, untuk berhati-hati akan adanya rintangan-rintangan yang membelenggu kebaikan.

 

Penutup

Jemaat yang kekasih,

Baiklah kita mengingat bahwa saat mengerjakan kebaikanpun kita membutuhkan untuk mendengar suaraNya, tetap taat kepadaNya… agar kehendakNya saja yang berlangsung dalam hidup ini. Dengan demikian, maka rencana Allah untuk mendatangkan damai sejahtera bagi semua dapat terlaksana. Amin. [Evi]

 

Nyanyian: KJ 357


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi.

Pambuka

Tiyang ingkang nandhang sakit kusta ing waosan Injil menika nandhang sangsara boten namung karana pisakitipun kemawon, nanging nandhang sangsara gegayutan kaliyan gesanging bebrayanipun (sosial). Awit tiyang ingkang nandhang sakit kusta boten dipun parengaken manggen ing papan umum, karana badhe ngganggu kasucening lingkungan, karana penyakit kusta menika nularaken kanajisan dhateng tiyang-tiyang ing ngriku. Menika pemanggihipun tiyang kathah, nggih menika penyakit kusta menika penyakit ingkang najis. Tiyang nandhang sakit kusta mesthi kemawon boten pareng mlebet ing sakiwa tengenipun Pedaleman Suci. Tiyang menika boten dipun parengaken mlebet karana badanipun reged, najis karana kusta.

Penyakit kusta ingkang kasebut menika benten kaliyan penyakit kusta ingkang dipun watani miturut ilmu kedokteran samangke nggih menika ingkang dipun sababaken dening bakteri mycobacterium leprae. Dene ingkang kasebut ing Injil menika dipun sababaken dening jamur ingkang murugaken kulit dados abrit lan mlepuh. Tiyang ingkang nandhang sakit kusta menika ketingal nggegilani, temah tiyang kathah boten remen cecaketan.

 

Isi

Gusti Yesus melasi tiyang ingkang nandhang kusta menika. Kaebataken “Gusti Yesus mesakake marang wong mau” (Mrk. 1: 41). Asring kasebataken bilih Gusti Yesus mesakaken saben mirsani tiyang ingkang nandhang sangsara utawi ingakng kabetahanipun boten kacekapan. Ndherek ngraosaken, menika ingkang dipun pikajengaken Injil wonten basa Yunani “splagkhnistheis”, tembung ingkang kaserat ing ayat 41 menika. Tiyang kusta menika prasasat ngalami pejah ing gesangipun. Nanging kawelasanipun Sang Kristus ndhatengaken pigesangan.

Lajeng Gusti Yesus dhawuh, ayat 41: “Aku kersa. Warasa!” nalika tiyang kusta menika sujud jengkeng ing ngarsanipun lan nyuwun pitulungan srana matur: “…menawi Panjenengan kersa, Panjenengan saged nyarasaken kula.” (ayt 40). Saestu elok lakon menika. Tembung panyuwunipun menika saestu ngurmati kedaulatanipun Sang Kristus, boten meksa, nedahaken sikapipun ingkang andhap asor.  Sikapipun menika dados kakiyatan ampuh ingkang nyurung raos welas asihipun Gusti Yesus dhateng piyambakipun, temah tanpa pitaken menapa-menapa tumunten Gusti Yesus nelungaken astanipun lan nggepok badanipun sarta ngandika: “Aku kersa. Warasa!”

Kekiyataning panyuwunipun menika mapan ing manahipun ingkang andhap asor ing ngarsanipun Allah, boten nyobi nyuwun supados Gusti memprioritaskan (ngrumiyinaken) piyambakipun. “Menawi Panjenengan kersa, Panjenengan saged nyarasaken kula” tegesipun ngaturi wewengan (kesempatan) dhateng Allah mbokmenawi wonten sanesipun ingkang langkung prioritas tinimbang piyambakipun.

Pasamuwan ingkang nresnani Gusti Yesus. Sikapipun tiyang kusta menika ewed kita panggihi ing donya menika samangke. Kathah tiyang ingkang sami jor-joran supados dados ingkang unggul piyambak, menapaa caranipun. Pakurmatan dhateng Allah ingkang wenang… lan ngaturi wewengan langkung rumiyin dhateng tiyang sanes, saestu dipun ajeni, nadyan piyambakipun mbetahaken sanget kesarasan. Kersanipun Gusti pribadi ingkang milih: nyarasaken piyambakipun utawi mbokmenawi wonten tiyang sanes ingakng langkung pantes kasarasaken rumiyin. Sikap lan patrap mekaten menika prayogi kita bangkitaken ing pigesangan kita.

Sareng sampun saras, Gusti Yesus ngutus tiyang menika enggal sowan dhateng imam, supados dipun wartosaken dhateng sedaya tiyang bilih piyambakipun sampun saras lan dipun parengaken nindakaken samukawis kados limrahipun tiyang waras. Namun imam ingkang wenang netepaken piyambakipun menika sampun saras utawi dereng, sampun pareng srawung ing tengahing masyarakat menapa dereng. Gusti Yesus wanti-wanti pesen supados boten nyariyosaken marginipun saged saras (ay. 44). Nanging ing ayat 45 kasebataken bilih tiyang menika malah mbiwaraken kados pundi anggenipun Gusti Yesus nyarasaken piyambakipun. Cariyos kesarasanipun menika ngumandhang dhateng sadhengah papan. Kabingahanipun ingkang linangkung menika ndamel tiyang menika kesupen dhateng pitungkasipun Gusti Yesus. Temahan, saya kathah tiyang ingkang madosi Gusti Yesus nyuwun kesarasan utawi namung kepingin pinanggih lan ningali kados pundi tiyangipun ingkang kagungan panguwasa nyarasaken menika. Temahan, Gusti Yesus boten saged lumebet ing kitha kanthi bebas, karana badhe nuwuhaken kecemburuan (raos meri) tumrap para Imam lan ahli Toret ingakng kepingin nyingkiraken Panjenenganipun. Menawi kita sambungaken kaliyan ayat 45, kita kaajak ndherek ngraosaken perasaanipun Gusti Yesus supados kita saged mangertos jejibahan ingkang dipun emban dening Panjenenganipun. Kita dipun sadharaken supados ngatos-atos dhateng samukawis ingkang ngalang-alangi kasaenan.

 

Panutup

Prayogi kita enget bilih salebeting nindakaken kasaenan kita prelu mirengaken suwantenipun Gusti, tetep mbangun turut dhateng Gusti… supados nggih namung karsanipun Gusti pribadi ingkang tumanduk ing pigesangan menika. Kanthi mekaten, rancanganipun Allah kagem mujudaken tentrem rahayu tumrap sedaya titah saged kelampahan. Amin. [terj. ST]

 

Pamuji: KPK 63.

Comments are closed.