Rancangan Khotbah Minggu
Minggu, 23 Juni 2013
Minggu Biasa
Stola Putih
Bacaan I : 1 Raja-raja 19: 1-15
Bacaan II : Galatia 3: 23-29
Bacaan III : Lukas 8: 26-39
Tema bulan : ALLAH MEMBERI KEKUATAN MEMBANGUN
Tema minggu : Makanlah dan bangkitlah, perjalanan masih jauh dan banyak tugas menanti
PENJELASAN BACAAN
I Raja-raja 19:1-15
Karena imannya yang teguh, Nabi Elia mengalahkan imam-imam Baal dan Asyera. Setelah korban Elia terbakar habis, imam-imam Baal dibantai rakyat, segera hujan turun dengan lebatnya mengguyur tanah kering yang sudah lebih dari 3 tahun tidak pernah mendapatkan hujan.
Raja Akhab menceriterakan semuanya kepada isterinya Izebel. Izebel menjadi marah sekali dan mengutus seorang suruhan untuk mengancam akan membunuh Elia sebagaimana yang telah terjadi pada imam-imam Baal. Seketika itu Nabi Elia takut sekali dan ia melarikan diri ke Israel Selatan atau wilayah Kerajaan Yehuda yang pada waktu itu rajanya Josafat. Ia kehilangan harapan dan mengalami krisis. Bagaimana mungkin? Bukankah baru saja dengan gagah berani ia melakukan mujizat yang luar biasa mengalahkan imam-imam Baal?
Itulah manusia yang serba terbatas, segalanya dapat terjadi. Dalam hal ini dapat kita pahami karena: 1. Ia kehabisan tenaga, terkuras habis energi phisiknya dan batinnya sehingga jiwanya letih. 2. Dalam keletihan rohani jasmani ini ia merasakan sendiri. “Hanya saya nabi Tuhan” (19:10). 3. Keinginannya sukses begitu besar, karena itu ia berharap setelah ini semuanya beres dan dia akan dihormati sebagai nabi yang membangun kembali bangsanya. Namun kenyataannya tidak begitu, sehingga ia mengalami kekecewaan yang dalam. Ternyata semuanya sia-sia, benarkah ini? “Sudahlah Tuhan ambil nyawaku saja, aku tidak lebih baik daripada nenek moyangku.” 4. Di tengah padang gurun ketika posisinya, peranannya dan tanggung jawabnya seolah lepas, muncul rasa ditinggalkan. Ia merasa kosong, bahkan kehilangan dirinya.
Tuhan senantiasa memperhatikan hambaNya, melalui malaekatNya Ia memberi makan Elia. Bangunlah, makanlah! Sebab perjalanan masih panjang. 40 hari 40 malam sampailah ia di gunung Horeb. Semangatnya mulai bangkit kembali, sehingga ketika Tuhan bertanya: apakah kerjamu di sini Elia sampai dua kali? ia menjawab: “aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan semesta alam…..” Perintah Tuhan: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu….engkau harus mengurapi Hazael Raja Aram, Jehu cucu Nimsi menjadi Raja Israel dan Elisa untuk menjadi nabi penggantimu.”
Galatia 3:23-29
Kepada orang-orang Kristen di Galatia Paulus menjelaskan bahwa Hukum Taurat adalah janji kepada orang yang percaya yang menuntun sampai Kristus datang supaya kita dibenarkan karena iman. Karena sekarang iman itu telah datang maka kita tidak di bawah pengawasan penuntun. Dengan babtisan Kristus kita mengenakan Kristus, telah mati dan bangkit di dalam Kristus. Di dalam Kristus tidak ada pemisahan orang Yahudi atau Yunani, hamba atau merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan. Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus, milik Kristus sendiri. Maka secara rohani kamu adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
Lukas 8:26-39
Dari Kapernaum Tuhan Yesus menyeberang Danau Genesaret sampailah Ia di Gerasa. Datanglah orang yang dirasuki setan tidak berpakaian dan tempat tinggalnya di pekuburan. Begitulah setan-setan itu telah merusak hidupnya baik phisik maupun jiwanya. Ia berteriak tersungkur di hadapanNya: “Apa urusanMu dengan aku hai Yesus Anak Allah yang Maha Tinggi”. Ia mohon janganlah Yesus menyiksanya.
Ketika ditanya siapakah namamu, jawabnya Legion, artinya ia menunjukkan bahwa ada ribuan setan di dalamnya yang pastinya kekuatannya juga besar sekali. Mereka takut kepada Yesus dan memohon janganlah dimasukkan ke dalam jurang maut, tetapi ke dalam babi-babi yang sedang mencari makan di lereng gunung itu. Yesus menyetujuinya, lalu keluarlah setan-setan itu dari orang itu dan masuklah ke dalam babi-babi itu yang terus terjun ke danau hingga mati lemas. Jelas sekali dari kisah ini, betapa berharganya nyawa dan kehidupan manusia di mata Tuhan Yesus, jauh lebih berharga dibandingkan babi-babi walau jumlahnya ribuan. Agama diberikan Allah untuk kesejahteraan manusia, bukan manusia untuk agama.
Ada sikap pro dan kontra terhadap tindakan Yesus ini. Bagi penjaga dan pemilik babi-babi itu tentu sangat benci karena berapa ribu dinar kerugian hilangnya ribuan babi itu. Tetapi khususnya bagi orang yang dirasuki setan-setan itu bersukacita dan bersyukur karena telah diselamatkan. Ia ingin mengikut Yesus, tetapi Tuhan Yesus menunjukkan cara mengikut Yesus yang lain, yaitu dengan pulang ke rumah dan menceriterakan apa yang telah dilakukan Allah kepadanya. Benar itulah yang dilakukannya.
RANCANGAN KHOTBAH BAHASA INDONESIA
“Makanlah dan bangkitlah, perjalanan masih jauh dan banyak tugas menanti”
Pendahuluan
Saudaraku kekasih Tuhan Yesus Kristus, betapa sering kita menjadi kecewa dan putus asa ketika masalah yang kita atasi malah memunculkan masalah baru lagi yang tidak sederhana. Ada seorang warga jemaat yang mulanya sangat aktif, penuh dengan ide-ide segar untuk pembangunan jemaat, sehingga ia dipilih menjadi penatua di jemaatnya. Tetapi ketika di kemajelisan banyak ide-idenya ternyata tidak begitu saja diterima oleh teman-teman anggota majelis jemaat yang lain karena berbagai pertimbangan, ia sangat kecewa dan patah arang. Namanya tetap tercantum sebagai penatua jemaat, tetapi ia tidak pernah muncul, lebih-lebih aktif melayani. Ia mengalami krisis.
Isi
Krisis yang dialami Nabi Elia
Demikian juga kisah yang kita baca dari Alkitab saat ini. Nabi Elia mengalami krisis iman dan jati diri. Bagaimana mungkin? Bukankah baru saja dia dengan gagah berani melawan imam-imam Baal dan Asyera 850 jumlahnya, Raja Akhab, bahkan hampir seluruh rakyat Israel Utara yang berdiri dibelakangnya?
Ya itulah manusia yang serba terbatas, segalanya dapat terjadi. Nabi Eliapun juga manusia. Dalam hal ini dapat kita pahami karena: 1. Ia kehabisan tenaga, terkuras habis energi phisiknya, batinnya dalam perjuangannya itu sehingga jiwanya letih. 2. Dalam keletihan rohani jasmani ini ia merasakan sendiri. “Hanya saya nabi Tuhan” (19:10). 3. Keinginannya untuk sukses begitu besar. Karena itu ia berharap setelah ini semuanya beres dan dia akan dihormati sebagai nabi yang membangun kembali bangsanya. Namun kenyataannya tidak begitu, sehingga ia mengalami kekecewaan yang dalam. Ternyata semuanya sia-sia, benarkah ini? “Sudahlah Tuhan ambil nyawaku saja, aku tidak lebih baik daripada nenek moyangku.” 4. Di tengah padang gurun ketika posisinya, peranannya dan tanggung jawabnya seolah lepas, muncul rasa ditinggalkan. Ia merasa kosong, bahkan kehilangan dirinya.
Bukankah pengalaman itu sering kita alami? Seorang Kristen baru yang semula sangat bersemangat akhirnya menyerah mengapa realita kehidupan menjadi tidak seideal yang saya bayangkan? Seorang pengusaha Kristen karena merasa ditipu-tipu terus hingga bangkrut, akhirnya putus asa. Dia tidak mencari hikmah dan belajar dari kegagalannya, tetapi menyalahkan Tuhan, mengapa semua ini terjadi? Sehingga dia menjauh dari Tuhan. Betapa menyedihkan.
Akibat dari penyembuhan orang kerasukan setan di Gerasa
Demikian pula, tidak setiap penyembuhan, pengusiran dan tindakan baik yang dilakukan oleh Tuhan Yesus membawa satu sukacita bagi semua orang. Sebagaimana yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di kota Garasa diseberang Danau Genesaret ini. Ada seorang laki-laki yang sudah lama dirasuki ribuan setan. Ia tinggal di pekuburan dengan tidak memakai pakaian dan melakukan banyak hal yang menakutkan. Sungguh, setan-setan yang jumlahnya banyak sekali (Legion) itu telah merusak jiwa raga dan kehidupannya. Tidak ada lagi orang yang peduli dengan nasibnya.
Hingga ia bertemu Tuhan Yesus. Ia sujud tersungkur di hadapanNya sambil berteriak: “Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus Anak Allah yang maha Tinggi? Aku memohon kepadaMu supaya Engkau jangan menyiksa aku!” Ketika ditanya siapakah namamu, jawabnya Legion, artinya ia menunjukkan bahwa ada ribuan setan di dalamnya yang pastinya kekuatannya juga besar sekali. Mereka takut kepada Yesus dan memohon janganlah dimasukkan ke dalam jurang maut, tetapi ke dalam babi-babi yang sedang mencari makan di lereng gunung itu. Yesus menyetujuinya, lalu keluarlah setan-setan itu dari orang itu dan masuklah ke dalam babi-babi itu yang terus terjun ke danau hingga mati lemas. Ada sikap pro dan kontra terhadap tindakan Yesus ini. Bagi penjaga dan pemilik babi-babi itu tentu sangat benci karena berapa ribu dinar kerugian hilangnya ribuan babi itu. Mereka takut, karena itu mereka meminta tuhan Yesus untuk segera pergi meninggalkan kota itu, artinya berita keselamatan terhenti tidak dibagikan. Tetapi khususnya bagi orang yang dirasuki setan-setan itu bersukacita dan bersyukur karena telah diselamatkan. Ia ingin mengikut Yesus, tetapi Tuhan Yesus menunjukkan cara mengikut Yesus yang lain, yaitu dengan pulang ke rumah dan menceriterakan apa yang telah dilakukan Allah kepadanya. Benar itulah yang dilakukannya.
Jelas sekali dari kisah ini, betapa berharganya nyawa dan kehidupan manusia di mata Tuhan Yesus, jauh lebih berharga dibandingkan babi-babi walau jumlahnya ribuan. Satu nyawa, satu kehidupan manusiapun demikian berharga melebihi harta berapapun. Karena itulah Dia datang menyelamatkannya. Agama diberikan Allah untuk keselamatan dan kesejahteraan setiap manusia.
Perjalanan masih jauh, banyak tugas dan panggilan menanti
Ya, perjalanan masih jauh, tugas Elia masih banyak, karena itu Tuhan mengutus malaekatNya untuk memberi makan Elia, memberi energi kembali, tidak hanya jasmani, tetapi yang lebih penting rohaninya, imannya. Eliapun bangkit kembali dan melaksanakan kehendak Tuhan dalam pembangunan kembali bangsa Israel Utara, bahkan juga bangsa-bangsa lain.
Demikian juga Tuhan Yesus memang meninggalkan kota Gerasa, namun di sana telah bangkit orang yang telah dibebaskan dari kuasa roh jahat itu untuk terus memberitakan berita gembira, berita pembebasan dan keselamatan manusia. Hal ini jauh lebih berarti baginya dan bagi kotanya daripada ia mengikut ke mana saja Yesus pergi.
Penutup
Saudaraku, banyak sekali dalam realita kehidupan ini yang tidak sesuai dengan idealisme, mimpi dan harapan kita. Banyak sekali yang mengecewakan kita, usaha, anak-anak, suami, isteri, pekerjaan, teman-teman, gereja. Namun pernahkah kita dengan tenang dan jernih bertanya: mengapa? Adakah karena kita terlalu berambisi untuk kemuliaan dan kepentingan pribadi, energi terkuras, yang tersisa kekosongan. Ingat perjalanan masih jauh, banyak tugas masih menanti, karena itu bangkitlah, makanlah dan laksanakan tugas serta kehendakNya. Kita adalah milik Allah, pewaris janji Abraham. Amin. [BRU]
—-
RANCANGAN KHOTBAH BAHASA JAWA
Tema: Mangana lan tangia, lakumu isih adoh, tugasmu isih akeh
Pambuka
Sadherek kinasih, wonten warga pasamuan ingkang swaunipun aktif sanget, kathah usul-usulipun ingkang sae kangge peladosan pasamuan saengga piyambakipun kapilih dados pinisepuhing pasamuan. Sareng dados anggotaning Majelis Pasamuan ide-idenipun kathah ingkang katampik dening anggota Majelis sanesipun karana marupi-rupining tetimbangan. Piyambakipun kuciwa sanget, lajeng nglokro. Asmanipun kasebat minangka pinisepuhing pasamuwan, ananging piyambakipun sampun boten nate muncul lan aktif malih.
Isi
Krisis ingkang dipun alami dening Nabi Elia
Mekaten ugi para sadherek waoan Kitab suci ing wekdal punika. Nabi Elia ngalami krisis iman lan jati diri. Kados pundi saged kedadosan? Rak saweg kemawon Nabi Elia kanthi kendel lan prawira nglawan imam-imam Baal lan Asyera cacahipun 850, Sang Prabu Akhab lan meh sadaya rakyat Israel Ler?
Pancen mekaten para sadherek jejering manungsa sawantah, kalebet Nabi Elia. Bab punika saged kita mangertosi adhedhasar: Sepisan, Nabi Elia ketelasan tenaga jiwa lan raganipun karana kinuras tapis ing perjuanganipun. Kaping kalih, ing lungkrahing manah lan badhanipun ingkang mekaten piyambakipun rumaos ijen tanpa rowang. “Namung kawula piyambak nabi ingkang taksih gesang!” (19:10). Kaping tiga, pepinginanipun kasil (sukses) inggil sanget, mila piyambakipun nggadhahi pangajeng-ajeng sasampunipun punika sadaya dados beres, piyambakipun badhe kaurmati dening bangsanipun minangka nabi ingkang mbangun bangsanipun. Ananging pranyata kanyatan boten lumampah mekaten. Elia ngalami kuciwa ingkang lebet sanget, unjukipun: “Sampun semanten kemawon, sapunika dhuh Yehuwah, Paduka kersaa mulung nyawa kawula, sabab kawula punika boten langkung sae katimbang para leluhur kawula” (19:4). Kaping sekawan, ing tengahing ara-ara samun ingkang sunya-sepi, rikala sadaya posisi, peranan lan tanggel jawabipun uwal, tuwuh raos katilaraken. Piyambakipun rumaos suwung, malahan kecalan dhirinipun.
Pengalamanipun Nabi Elia punika rak inggih asring kita alami, langkung-langkung kita ingkang lelados Gusti. Satunggaling tiyang Kristen enggal ingkang swaunipun makantar-kantar semangatipun lajeng dados nglokro, semplah sareng mrangguli kanyatan awrat ingkang benten kaliyan bayanganipun ingkang sarwa endah sakderengipun. Satunggaling pengusaha Kristen dados semplah lan mupus karana rumaos kapusan terus ing jagading bisnis ingkang wengis. Tiyang-tiyang punika boten ngupadosi hikmah lan sinau saking kegagalanipun, ananging nglepataken Gusti, “Kenging punapa Gusti negakaken?” Pungkasanipun nebih saking Gusti, sangsaya kasepen, tanpa rowang, tanpa pangajeng-ajeng. Iba nyedhihaken?
Tiyang kepanjingan dhemit ing Gerasa ingkang kawaluyakaken
Mekaten ugi ingkang dipun adhepi dening Gusti Yesus nalika maluyakaken tiyang ingkang kapanjingan dhemit ing Gerasa. Tiyang punika sampun dangu tanpa klambi, badanipun kotor awut-awutan, padununganipun ing kuburan. Sareng ningali Gusti Yesus, dumadakan piyambakipun sumungkem sujud kanthi mbengok sora: “Punapa urusan Paduka kaliyan kawula dhuh Sang Yesus Putraning Allah ingkang Mahaluhur? Kawula nyuwun mugi Paduka sampun ngantos misakit kawula”. Rikala kadangu: “Sapa jenengmu”? “Legion” wangsulanipun karana kathahing dhemit ingkang nyurupi tiyang punika. Dhemit-dhemit punika nyuwun sampun ngantos kalebetaken ing juranging pati, ananging kaparengna lumebet ing babi-babi ingkang sami nedha ing ereng-erenging redi. Gusti Yesus sarujuk. Dhemit-dhemit punika lajeng sami manjing ing babi, lajeng babi-babi punika sami gumrudug ambyur ing seganten, pejah sanalika.
Tuwuh sikap pro (sarujuk) lan kontra (nglawan). Wonten tiyang-tiyang, utaminipun tiyang ingkang kesurupan punika bingah sanget karana kauwalaken saking pamengkunipun dhemit-dhemit, dados saras malih. Ananging tumrap ingkang nggadhahi lan njagi babi-babi punika rumaos karugekaken kathah sanget. Tuwuh raos sengit ngigit-igit. Tiyang-tiyang punika sami ajrih lan nyuwun supados Gusti Yesus enggal medal saking Gerasa, artosipun pawartos rahajeng kedah kaendheg.
Cetha sanget ing cariyos punika, iba ajinipun nyawa lan gesanging manungsa ing paningalipun Gusti Yesus. Satunggal manungsa saestu langkung aji katimbang ewonan babi lan raja brana pinten-pinten kathahipun. Karana punika Gusti rawuh ing jagad milujengaken manungsa. Agami kaparingaken dhumateng manungsa kangge kawilujengan lan karaharjaning manungsa. Agami kangge manungsa sanes manungsa kangge agami. Bab punika cengkah sanget kaliyan paningalipun manungsa, kalebet manungsa Ing zaman sapunika. Iba mirahipun regining nyawanipun manungsa. Dhemi kepentingan politik, ideologi, ekonomi, malahan “atas nami agami” pinten kathahing nyawanipun manungsa ingkang kinorbanaken.
Lampah taksih tebih, taksih kathah tugas lan timbalanipun Gusti
Sadherek kinasih, lelampahanipun Elia taksih tebih, ayahanipun taksih kathah, mila Gusti boten ngersakaken mundhut Elia. Gusti ngutus malaekatipun maringi tetedhan lan kakiyatan dhumateng Elia supados tenaganipun rohani-jasmani pulih matemah saged nindakaken tugas salajengipun. Elia tangi, nedha miwah jumangkah nindakaken kersanipun Gusti mbangun bangsa Israel Ler, malahan bangsa-bangsa sanes.
Gusti Yesus pancen nilaraken kitha Gerasa, ananging ing kitha punika sampun dumugi tiyang ingkang sampun kaluwaran saking panguwaosing dhemit, setan lan roh pepeteng. Tiyang punika kedah tangi, jumangkah nindakaken kersanipun Gusti ngabaraken pawartos rahajeng, pawartos pembebasan lan kawilujenganipun manungsa. Ngedum sihkatresnan miwah tentrem rahayunipun Gusti. Mila rikala tiyang punika kepengin dherek dhateng satindakipun Gusti Yesus, Gusti ngersakaken: “kowe muliha menyang ing omahmu lan martak-martakna kabeh apa kang wis katandukake dening Allah marang kowe”. Tiyang punika jumangkah nindakaken kersanipun Gusti, mekaten ugi kersanipun tumrap kita sami.
Panutup
Sadherek kinasih, ing kanyataning gesang punika iba kathahipun bab-bab ingkang benten kaliyan bayangan, idealisme lan pangajeng-ajeng kita ingkang sarwa endah. Kathah sanget bab-bab ingkang nguciwakaken kita, ndadosaken kita lungkrah, tanpa daya, semplah, matemah kita kecalan arah. Bab pendamelan, brayat, anak-anak, semah, mitra, kadang, malahan peladosan ing pasamuanipun Gusti lan bebrayan pisan. Ananging punapa kita saged kanthi wening pitaken, kenging punapa? Punapa karana ambisi pribadi kita ingkang sakelangkung inggil, rumaos sadaya namung perjuangan kita, saengga energi kita kinuras tapis, ingkang namung nyisakaken raos suwung. Punapa hikmah lan kersanipun Gusti? Kita sinau punapa?. Engeta lampah kita taksih tebih, tugas-tugas taksih kathah. Mila tangia, mangana lan tindakna timbalanipun. Kita punika kagunganipun Gusti Allah, ahli waris prajanjianipun bapa Abraham (Gal 3:29). Amin. [BRU]
—
Minggu, 30 Juni 2013
Minggu Biasa
Stola Putih
Bacaan I : 2 Raja-raja 2: 1-14
Bacaan II : Galatia 5: 13-25
Bacaan III : Lukas 9: 51-62
Tema bulan : ALLAH MEMBERI KEKUATAN MEMBANGUN
Tema minggu : Hidup oleh Roh, kesetiaan dan cinta kasih.
2 Raja-raja 2: 1-14
Setelah Elia diikuti Elisa mengunjungi sekolah nabi-nabi di Bethel dan Yerikho yang berada di seberang Barat Sungai Yordan, mereka lalu menyeberang ke Timur Sungai Yordan, daerah Gilead asal Elia. Waktunya sudah tiba Elia akan dipanggil Tuhan. Oleh karena itu ia berkata kepada Elisa (murid, hamba, pelayan)nya sampai 3 kali supaya Elisa tidak mengikutinya. Tetapi Elisa sadar sudah tidak banyak lagi waktunya bersama tuannya itu sehingga ia selalu menjawab bahwa ia tidak akan meninggalkan Elia (ay 1-6). Mereka diikuti oleh rombongan nabi yang berjalan dari jauh.
Setelah sampai di seberang Sungai Yordan, Elia berkata kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu sebelum aku terangkat daripadamu”. Lalu Elisa menjawab: “Biarlah aku mendapat dua bagian dari rohmu”. “Yang kamu minta itu sukar” kata Elia. Sebab memberikan roh (semangat, jiwa, kepribadian) adalah tidak seperti memberi barang, uang atau harta benda. Yang dapat memberikan roh itu hanya Tuhan sendiri. Elia tidak dapat memberinya. Tetapi Elia memberikan tanda: “jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah padamu seperti yang demikian (sesuai dengan permintaanmu), dan jika tidak, tidak akan terjadi” (ay 9,10).
Setelah itu tiba-tiba datanglah kereta dan kuda berapi dalam badai yang memisahkan mereka, dan terangkatlah Elia ke surga. “Bapaku, bapaku” teriak Elisa. Direnggutlah pakaiannya lalu dikoyakkan menjadi dua bagian sebagai tanda kedukaan yang dalam. Lalu dipungutnya jubah Elia yang jatuh. Dengan jubah itulah ia pukulkan ke sungai Yordan dan tersibaklah air Yordan menjadi dua, persis seperti ketika Elia memukulkan jubahnya waktu akan menyeberang sungai sebelumnya (11-14,8).
Ketika melihat semua itu, rombongan nabi itu berseru: “Roh Elia telah hinggap pada Elisa!” lalu mereka menemuinya dan sujud sampai ke tanah. Dua bagian roh Elia itu tidak lain adalah roh kesetiaan, keteguhan melakukan tugas dan cinta kasih, kelemah lembutan. Nyata sekali dua sifat ini hidup dalam pelayanan Elisa selanjutnya.
Galatia 5:13-25
Dalam suratnya kepada orang-orang Kristen di Galatia Rasul Paulus menekankan bahwa Kristus telah memerdekakan mereka. Karena itu hiduplah sebagai orang-orang merdeka dan gunakanlah kemerdekaan itu untuk melayani dalam kasih, bukan untuk saling memangsa, membinasakan dan kesempatan untuk hidup dalam dosa (ay 13-15).
Maka hiduplah dalam roh yang berbuahkan: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Untuk hidup dalam roh harus menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya (percabulan, kecemaran hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, pemecah belah, kedengkian, kemabukan dan pesta pora) dan hidup menurut pimpinan roh.
Lukas 9:51-62
Ketika hampir waktunya naik ke surga Tuhan Yesus mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem. Ia mengutus beberapa utusan mendahuluiNya. Tidak jelas siapa yang diutus. Sampailah mereka di sebuah desa Samaria, tugas mereka mempersiapkan segala sesuatu bagiNya. Namun orang-orang Samaria itu menolaknya, karena perjalanannya menuju ke Yerusalem. Ketika melihat itu Yohanes dan Yakobus bangkit amarahnya: Tuhan apakah Engkau mau kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka? Tuhan Yesus menegor mereka, lalu mereka lewat desa lain.
Di tengah jalan, ada orang yang mau mengikutNya, “aku akan mengikuti engkau kemanapun Engkau pergi”. Tetapi sabdaNya: “serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Yesus berkata kepada orang lainnya “ikutlah Aku!”, tetapi ia beralasan mau mengubur ayahnya. Ini merupakan alasan yang kuat bagi orang Timur sebagai penghormatan bagi orang tua. Jawab Yesus biarlah orang mati menguburkan orang mati, tetapi engkau pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana. Ada lagi yang berkata: “aku mau mengikut Engkau Tuhan, tetapi izinkanlah aku berpamitan dahulu dengan keluargaku”. Jawab Yesus: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Tuhan Yesus mengetahui hati mereka, bahwa semua itu hanya alasan belaka. Mengikut Yesus adalah memberikan kehidupan secara total kepadaNya, memusatkan perhatian kepadaNya dan hanya memandangNya saja. Ladang telah siap, bajak telah siap, kini waktunya tinggal jalan. Oleh karena itu segala perhatian harus difokuskan pada tugas itu. Tidak ada lagi waktu untuk menoleh, keraguan dan kembali.
RANCANGAN KHOTBAH BAHASA INDONESIA
Hidup dalam Roh kesetiaan dan cinta kasih
Pendahuluan
Roh dalam bahasa Iberani: ruakh, bahasa Yunani: Pneuma, bahasa latin: Anima, animus, bahasa Inggris: spirit, artinya semangat, nyawa, daya hidup. Roh ini memberikan inspirasi, motivasi, daya gerak, kekuatan dan harapan kepada seseorang sehingga sangat menentukan tindakan, kepribadian dan hidup seseorang.
Roh apakah yang menjiwai kehidupan kita berkeluarga, cara kerja dan pelayanan kita?
Isi
Roh mengikut Tuhan Yesus
Dalam Luk 9:51-62 dikisahkan tentang saat-saat akhir Tuhan Yesus. Seumpama hari, senja telah tiba, mentari meredup akan tenggelam, langit makin kelam, sebentar lagi malam tiba. Tuhan Yesus harus segera menuntaskan karya keselamatanNya bagi manusia. Tuhan Yesus mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem. Ia mengutus beberapa utusan mendahuluiNya untuk mempersiapkan segala sesuatu bagiNya. Sampailah mereka di desa wilayah Samaria. Namun orang-orang Samaria itu menolaknya. Tentu karena prasangka kebangsaan dan agama yang memisahkan antara orang Yahudi dan Samaria.
Ketika melihat penolakan itu Yohanes dan Yakobus bangkit amarahnya: Tuhan apakah Engkau mau kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka? Mereka yakin Tuhan Yesus tentu dapat melakukan hukuman itu. Tetapi Tuhan Yesus menegor mereka, lalu mereka lewat desa lain. Karena kedatanganNya memang bukan untuk menghancurkan, melainkan menyelamatkan, bukan melenyapkan melainkan membangun kembali, bukan mendatangkan kematian yang mengerikan, melainkan memberikan kehidupan. Itulah roh kedatangan Tuhan Yesus. Roh itu Ia kehendaki juga tinggal dalam diri para muridNya. Tetapi ternyata bukan roh itu yang hidup dalam hati Yohanes dan Yakobus. Bukankah dalam menghadapi penolakan, cemoohan dan penganiayaan dunia sering orang Kristen tidak sabar. Berapa lama lagi Tuhan? Mengapa Engkau tidak membinasakan mereka saja?
Roh apakah yang memotivasi dan menggerakkan kita dalam mengikut dan melayani Tuhan Yesus? Jika roh yang menggerakkan kita adalah roh yang mengandalkan kekuatan sendiri, roh materialisme, roh oportunis untuk mencari keuntungan diri sendiri maka kita akan kecewa. “Karena serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya”. Jika roh yang menyemangati kita adalah roh kebimbangan, roh mendua hati, jikalau agama mendatangkan keuntungan kita ikut, tetapi jika merugikan kita undur, maka kita tidak akan dapat mengikut dan melayaniNya dengan baik. Dibutuhkan roh totalitas, pengorbanan, kemampuan fokus hanya pada Dia dan ketaatan sepenuhnya. Tidak bisa sementara tangan sudah memegang bajak, mata menoleh kesana kemari.
Permohonan akan karunia roh dari Allah
Ternyata untuk menerima roh totalitas, pengorbanan dan ketaatan itu sungguh tidak gampang. Oleh karena itulah sebelum kenaikannya ke surga ketika Elia menawarkan kepada Elisa: “mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu sebelum aku terangkat daripadamu”. Lalu Elisa menjawab: “biarlah aku mendapat dua bagian dari rohmu”. Sebagai murid, pelayan dan kawan, Elisa tahu roh itulah yang memotivasi, menggerakkan, menginspirasi dan memberi kekuatan sehingga Elia dalam kesetiaanya kepada Tuhan berani berhadapan dengan Raja Akhab, Izebel, imam-imam Baal dan Asyera serta hampir seluruh orang Israel dalam memberitakan Firman dan melayani Tuhan. “Yang kamu minta itu sukar” kata Elia. Sebab memberikan roh (semangat, daya hidup, kepribadian) adalah tidak seperti memberi barang, uang atau harta benda. Yang dapat memberikan roh itu hanya Tuhan sendiri. Elia tidak dapat memberinya. Tetapi Elia memberikan tanda: “jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah padamu seperti yang demikian (sesuai dengan permintaanmu), dan jika tidak, tidak akan terjadi” (ay 9,10). Elisa kemudian dapat melihat Elia dibawa kereta kuda berapi terangkat ke surga.
Dua bagian roh Elia itu tidak lain adalah roh kesetiaan dan keteguhan melakukan tugas dan cinta kasih, kelemah lembutan. Nyata sekali dua sifat ini hidup dalam pelayanan Elisa selanjutnya. Ya memang tidak gampang untuk menerima dan tumbuh di dalam roh semacam itu. Karena tidak seperti orang menerima barang mati lalu tinggal digunakannya. Kalau orang Jawa mengatakan “ngelmu iku kelakone saka laku” demikian juga dengan roh karunia Tuhan ini ketika diterima orangpun harus hidup dari kuasanya.
Hidup dalam Roh kesetiaan dan cinta kasih
Orang Jawa juga mengatakan: “ngelmu iku angele yen durung ketemu”. Memang sulit jika belum ketemu kuncinya. Tetapi jika sudah ketemu menjadi tidak sulit. Dalam Gal 5: 13-15 Rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus telah membebaskan kita sehingga kita kini menjadi orang merdeka di dalam Kristus. Bahkan karena penebusan Kristus kita tidak disebut hamba, melainkan anak. Kita dikaruniai roh ke-anakan sehingga boleh menyebut Allah “Abba, Bapa” (Gal 4:5-6; Rm 8:15).
Karena itu hiduplah sebagai orang-orang merdeka yang dengan sukacita, keekhlasan dan syukur menggunakan kemerdekaan itu untuk melayani dalam kasih, bukan untuk saling memangsa, membinasakan dan kesempatan untuk hidup dalam dosa (ay 13-15).
Di dalam hati pusat hidup kita sudah ditanamkan roh ke-anakan, karena itu hiduplah dari roh anak yang melakukan kehendak Bapa dengan kebebasan, keekhlasan dan syukur, bukan dengan ketakutan, terpaksa dan memburu upah seperti hamba. Hidup dalam roh ke-anakan berbuahkan: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Untuk itu harus menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya: percabulan, kecemaran hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, pemecah belah, kedengkian, kemabukan dan pesta pora, secara terus menerus dan hidup menurut pimpinan roh.
Penutup
Elisa mendapatkan roh Elia dan selanjutnya membentuk kepribadiannya hidup seperti gurunya. Kitapun mendapatkan Roh Kristus dan siap dibentuk olehNya sehingga membentuk kepribadian kita makin serupa dengan Kristus Sang Gambar Allah yang sulung itu (Kol 1:15). Amin. [BRU]
—
RANCANGAN KHOTBAH BAHASA JAWA
Tema: Gesang saking rohing kasetyan miwah sih katresnan
Pambuka
Tembung roh ing basa Ibranipun: ruakh, basa Yunani: pneuma, basa Latin: Anima, animus, basa Inggris: spirit, artosipun semangat, nyawa, daya gesang. Roh punika ingkang maringi motivasi, daya gerak, kekiyatan miwah pangajeng-ajeng saengga namtokaken sanget tumindak, kapribaden miwah gesangipun tiyang.
Lajeng roh punapa estunipun ingkang nyemangati miwah nggegesang gesang kita bebrayatan, peladosan lan panyambut damel?
Isi
Roh pendherekipun Gusti
Ing Luk 9:51-62 kacariyosaken dinten-dinten pungkasanipun Gusti Yesus. Saupami dinten mekaten mangsa candhikala sampun prapta. Sang Surya sangsaya surem badhe angslup, langit sangsaya peteng, sekedhap malih rina ginantos dalu ingkang peteng. Gusti Yesus kedah enggal ngrampungaken pakaryan kawilujenganipun. Mila Panjenenganipun ngarahaken tindakipun dhateng Yerusalem. Panjenenganipun ngutus sawetawis utusan ngrumiyini tindakipun saperlu nyawisaken bab-bab ingkang perlu kacawisaken. Utusanipun punika dumugi ing satunggaling dhusun ing tlatah Samaria. Ananging tiyang-tiyang Samaria sami nolak rawuhipun, tamtu karana jurang prasangka kesukuan/kebangsaan ingkang lebet antawisipun Yahudi lan Samaria.
Nyumerepi kedadosan punika sakala Yokanan lan Yakobus muntab nepsunipun, lajeng munjuk dhumateng Gusti Yesus: “Gusti punapa Paduka ngersakaken kawula supados sami ndhatengaken latu saking langit, numpes tiyang-tiyang punika?” Ananging Gusti Yesus ndukani sakabat-sakabat punika, lajeng mlembar langkung dhusun sanesipun. Karana pancen rawuhipun Gusti boten kangge ngremuk, ananging milujengaken, sanes nyirnakaken, ananging mbangun, sanes ndhatengaken pepati ingkang nggegirisi, ananging maringi gesang. Mekaten rohing rawuhipun Gusti. Roh ingkang mekaten punika kinarsakaken dening Gusti ugi dados roh ingkang gesang ing gesanging para muridipun. Pranyata sanes roh ingkang mekaten ingkang gesang ing manahipun Yokanan lan Yakobus. Mila Gusti Yesus ndukani sakabat kekalih punika. Ananging iba asringipun roh ingkang makuwon ing manahipun murid kekalih punika ugi makuwon ing manah kita. Salebeting ngadhepi panyenges, sikap sengit, langkung-langkung daksiya ingkang katandukaken dhumateng kita, ndadosaken kita boten sabar. Ngantos pinten dangunipun Gusti? Kenging punapa Paduka boten nyirnakaken kemawon sadaya tiyang punika? Kita kecalan roh agami Kristen minangka agami tentrem rahayu lan sih katresnan.
Roh punapa saestunipun ingkang mbereg, nyemangati lan menggerakkan kita ndherek lan lumados Gusti Yesus? Menawi roh ingkang mbereg kita roh ingkang ngendelaken kekiyatan kita piyambak, roh ingkang ngegungaken keuntungan materi, roh namung ngupadosi kesempatan kangge ngupadosi keuntungan dhiri (oportunis), tamtu kita badhe asring kuciwa. Awit “asu ajag padha duwe rong lan manuk padha duwe susuh, nanging Putrane manungsa ora kagungan papan kagem nyelehake mustakane”. Menawi roh ingkang nyemangati kita roh mangro tingal, mangu-mangu, menawi agami ndhatengaken keuntungan kita ndherek, suwalikipun menawi ngrugekaken, kita mundur, tamtu kita boten badhe saged fokus ndherek lan lelados Gusti kanthi sae. Boten saged tangan sampun nyepengi waluku, kawigatosan lan mripat tolah-toleh ngrika-ngriki. Saestu kabetahaken roh totalitas, pangorbanan, fokus (ngener) namung dhumateng Panjenenganipun.
Panyuwun peparing rohing Allah
Pranyata nampeni roh totalitas, pengorbanan lan mbangun turut punika boten gampil. Mila saderengipun sumengka dhateng swarga Nabi Elia ndangu Elisa: “Kowe njaluk apa kang bakal daktandukake marang kowe, sakdurunge aku kapulung saka ngarepmu”. Lajeng Elisa matur: “Kula mugi kadunungana kalih bageaning roh panjenengan”. Minangka abdi, murid miwah sakabat, Elisa sumerep bilih roh punika saestunipun ingkang mbereg, menggerakkan lan maringi inspirasi (wangsit) miwah kekiyatan dhumateng Nabi Elia ing salebeting peladosanipun saengga ing kasetyanipun dhumateng Gusti Allah Nabi Elia wantun aben ajeng ngadhepi Sang Prabu Akhab, prameswari Izebel, para imam Baal lan Asyera sarta meh sadaya tiyang Israel Ler. “Kang kokjaluk iku prakara kang angel”, pangandikanipun Nabi Elia. Awit maringi roh (semangat, daya gesang, kapribaden) punika boten kadosdene maringi barang, arta utawi raja brana. Ingkang saged maringi bab mekaten punika namung Gusti Allah piyambak. Nabi Elia boten saged maringi. Nanging Elia maringi pratanda Elisa nampi panyuwunipun punika punapa boten, “Nanging menawa kowe bisa ndeleng anggonku kapulung saka ngarepmu, kowe mesthi bakal kelakon kaya mangkono, dene manawa ora, iya bakal ora kelakon” (ay 9,10). Saestunipun, salajengipun Elisa saged ningali Nabi Elia kaangkat kreta lan jaran murub dhateng swarga ing satengahing lesus.
Kalih bageaning rohipun Elia punika boten sanes inggih roh kasetyan lan keteguhan nindakaken tugas miwah sih katresnan, alusing budi. Kacihna, kalih bageaning rohipun Elia punika ugi mbereg, nyemangati miwah nggesangi peladosaning Elisa saklajengipun. Pancen boten gampil nampi lan tuwuh ngrembaka ing roh ingkang kados mekaten punika. Sabab boten kadosdene nampi barang mati ingkang kantun nampi lajeng ngginakaken, nanging kedah gesang saking roh punika lan nindakaken kersanipun. Kadosdene tiyang Jawi mucali: “ngelmu iku kelakone saka laku”. Mekaten ugi kanthi roh peparingipun Gusti punika rikala katampi, salajengipun kedah gesang saking panguwaosipun.
Gesang ing roh kasetyan lan sihkatresnan
Tiyang Jawi nyatakaken: “ngelmu iku angele yen durung ketemu”. Pancen angel menawi dereng ketemu, nanging menawi sampun ketemu saestu boten angel. Ingkang ngeramaken ing Gal 5:13-15, Rasul Paulus nyatakaken bilih Sang Kristus sampun mardikakaken kita, saengga kita sapunika dados tiyang ingkang mardika ing Sang Kristus. Malahan karana panebusing Sang Kristus, kita boten kasebat abdi malih, nanging putra. Kita kaparingan rohing kaputran lan kepareng nyebut Allah “Abba”, “Rama” (Gal 4:5-6; Rm 8:15).
Mila kita kedah gesang minangka tiyang-tiyang ingkang mardika kanthi kebak kabingahan, keekhlasan lan sokur miwah ngginakaken kamardikan kita kangge lelados ing sih katresnan. Sanes kangge gesang ing kadagingan, mangsa-minangsa, tumpes-tinumpes miwah nindakaken dosa (ay 13-15).
Ing manah punjering gesang kita sampun katanemaken roh kaputran, mila kita kedah gesang saking roh kaputran punika ing salebeting nindakaken kersanipun Sang Rama. Inggih punika kanthi kebak kebebasan, kabingahan, keekhlasan lan sokur. Sanes rohing abdi, buruh ingkang kebak raos ajrih, kepeksa, mburu opah. Roh kaputran punika nguwohaken: katresnan, kabungahan, tentrem rahayu, sabar-sareh, paramarta, kabecikan, setya, alusing bebuden, bisa ngemudheni dhiri. Gesang ing roh kaputran ugi ateges kedah gesang nyalibaken kadagingan kita: laku jina, laku rusuh, nguja hawa napsu, nyembah brahala, sihir, sesatron, pasulayan, meri, brangasan, mung mikir awake dhewe, cidra, roh kang memecah, drengki, mendem lan jibar-jibur (hedonistis).
Panutup
Elisa nampi rohipun Nabi Elia, salajengipun roh punika ngisi, nyemangati, menggerakkan miwah mbangun pribadinipun Elisa ing salebeting lelados dhateng Gusti. Kita ugi sampun kaparingan rohipun Sang Kristus, punapa kita ugi siap dipun semangati, dipun wangun lan gesang saking Panjenenganipun. Saengga kapribadhen kita sangsaya nulad dhateng Panjenenganipun. Amin. [BRU]
Bacaan 1 : Ams. 9: 1-6
Bacaan 2 : Ef. 5: 15-20
Bacaan 3 : Yoh. 6: 51-58 (Kidung Jemaat 356 : 1, 2.)
Introitus : Yohanes 6 : 51 (Kidung Jemaat 412 : 1)
Tema Bulan : Umat Allah Yang Berjuang Dalam Hidup Demi Kesejahteraan Bangsa
Tema Pekan : Berjuang dalam mempertahankan hidup kekal.
Penjelasan teks :
Amsal 9 : 1 – 6.
Secara umum, dalam kitab Amsal sangat banyak menjelaskan tentang hikmat. Pada perikop ini hikmat diperlawankan dengan kebodohan.
Ayat 1 : tujuh tiang sering disebut dalam perjanjian lama untuk menjadi lambang rumah orang kaya. Biasanya rumah orang kaya dilukiskan dengan halaman / pelataran yang luas, rumah yang besar dengan tujuh (7) tiang penyangganya.
Ayat 2 – 3 : juga menunjukkan kehidupan orang kaya yang memiliki ternak khusus untuk konsumsi sehari-hari keluarga itu. Dalam ayat itu disebutkan memotong ternaknya untuk dimakan, kemudian pelayan-pelayan perempuan menghidangkannya. Inipun menunjukkan kehidupan orang kaya dengan beberapa jumlah pelayan. Bahkan untuk makanpun harus dilayani.
Ayat 6 : ingin menjelaskan bahwa, adalah kebodohan jika orang hanya berpikir tentang makanan dan minuman secara jasmani. Pada saatnya orang akan lapar dan haus lagi. Dan kehidupan hanya akan dinikmati jika orang mau membuang kebodohan. Orang adalah bodoh jika dalam hidupnya hanya berorientasi pada makanan dan minuman, sebab semua itu tidak kekal sifatnya. Oleh karenanya dalam Amsal hal itu disebut sebagai sebuah kebodohan.
Nah, jika tidak mau menjadi orang bodoh, maka jangan menggantungkan hidup pada makanan dan minuman, meskipun tampak enak. Orang kayapun bisa menjadi orang yang bodoh jika mengandalkan hidupnya pada roti dan anggur (makanan dan minuman).
Efesus 5 : 15 – 21.
Ayat 15 – 16 : Paulus mengatakan bahwa masa ini adalah masa yang sulit. Menjaga sikap hidup itu penting (meski ini tidak mudah). Dengan begitu, orang lain jadi bisa memberikan penilaian dan membedakannya dengan orang bebal. Paulus juga menekankan perlunya mengatur waktu dan menghindari kemabukan serta sikap hidup buruk lainnya. Kemampuan menjaga sikap ini menjadi penanda kehidupan orang arif dan bukan orang bebal. Jika Paulus mengatakan bahwa waktu ini adalah waktu yang jahat, maka itu berarti akan ada kecenderungan orang untuk “jatuh”. Entah itu melalui sikap hidup maupun lainnya, misalnya ketidak-mampuannya mengatur dan memanfaatkan waktu.
Ayat 17 : kendali dari menjadi orang arif hanyalah pada pengertian pada kehendak Tuhan. Karenanya, jika ingin menjadi orang arif, maka belajarlah untuk semakin mengerti kehendak Tuhan dalam hidup masing-masing.
Ayat 18 : anggur dikatakan sebagai minuman yang memabukkan, dan itu menjadikan manusia hidup dalam hawa nafsu. Hidup dalam hawa nafsu ini dipertentangkan dengan hidup yang dipenuhi Roh. Hidup dalam hawa nafsu berarti manusia mengatur hidupnya sendiri dan memanuhi apa yang diinginkan. Sebaliknya hidup yang dipenuhi Roh adalah Roh Kudus yang mengatur dan menguasai hidup manusia. Apa yang dimakan / diminum juga bisa berpengaruh terhadap penilaian orang lain pada kita.
Ayat 20 : Mengucap syukur atas segala sesuatu bukan berarti bersyukur atas kesulitan / penderitaan yang diterima, tetapi atas kekuatan dan ketabahan yang Tuhan berikan sehingga mampu bertahan dalam segala situasi yang tidak menyenangkan. Mengucap syukur memang dalam segala situasi, baik situasi yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan. Ungkapan syukur tidak dipengaruhi oleh situasi. Apapun situasinya, orang percaya dimampukan bersyukur kepada Tuhan.
Yohanes 6 : 51 -58.
Ayat 51 – 53 : Tuhan Yesus menyatakan bahwa diriNya adalah roti dan anggur kehidupan. Artinya manusia harus makan tubuh dan minum darah Kristus. Dalam alam pemikiran Yahudi, darah selalu berarti kehidupan. Dan bagi orang Yahudi darah itu milik Allah, karena identik dengan kehidupan. Jika Tuhan Yesus mengatakan: “kamu harus minum darahKu” artinya kamu harus memasukkan hidupKu kedalam hidupmu. HidupKu adalah hidup milik Allah sendiri. Jika Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus minum darahNya, maka yang dimaksud adalah bahwa kita harus memasukkan hidup Yesus itu kedalam pusat hati kita. Menerima Dia untuk hidup dan tinggal bersama kita.
Ayat 54 : Hidup kekal dimiliki oleh orang yang makan tubuh dan minum darah Kristus. Artinya, hidup kekal bukan masalah makanan dan minuman secara jasmani, itu tidak memberikan jaminan hidup kekal. Orang yang makan tubuh dan minum darah Kristus berarti harus mengenyangkan / memenuhi segala kebutuhan jasmani, jiwani, kebutuhan batin, dan seluruh sisi kehidupan kita dipenuhi oleh kehendak Allah sendiri.
Ayat 55 – 56 : Mengakui tubuh dan darah Kristus sebagai benar-benar makanan dan minuman artinya juga mengakui bahwa manusia sungguh-sungguh membutuhkanNya, tak bisa “hidup” tanpa Dia, menjadikan Dia yang terpenting dalam hidup ini. Makan daging dan minum darah Kristus berarti selalu hidup bersama Kristus. Dan hidup di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita, itulah hidup kekal. Kristuslah pusat kehidupan.
Ayat 58 : Roti yang turun dari sorga (Kristus) itu kekal. Tidak dapat binasa, tidak dapat habis seperti roti yang pernah diterima nenek moyang bangsa Israel. Setelah makan, mereka lapar lagi dan butuh roti lagi. Tetapi Roti kehidupan (Kristus) tidak membuat manusia lapar lagi bahkan memberikan kehidupan kekal.
Rancangan khotbah :
KRISTUSLAH “MAKANAN” DAN “MINUMAN” DALAM HIDUPKU.
(Bacaan Yohanes 6 : 51 – 58. Nats : ayat 56)
Pembukaan
Semua orang butuh makan dan minum untuk kelangsungan hidupnya. Selama ini, sebagian besar orang berpikir bahwa untuk menjaga kelangsungan hidupnya orang hanya perlu makan dan minum secara jasmani. Ternyata tidak demikian. Makan dan minum memang perlu, tetapi tidak cukup dan tidak bisa menjaga kelangsungan hidup manusia dalam arti yang sesungguhnya. Orang yang tercukupi kebutuhan makan dan minumnya, apakah pasti bahagia dan selamat ? Belum tentu !
Isi.
Hidup dalam arti yang sesungguhnya adalah saat manusia menikmati kebersamaannya dengan Tuhan. Merasa bahagia dan bisa menikmati hidupnya. Dengan demikian dia tidak hanya merasakan terpenuhinya kebutuhan jasmani saja, tetapi kebutuhan batin dan rohani juga terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan batin dan kerohanian ini tidak mungkin terpuaskan dengan makan dan minum secara jasmani. Kebutuhan akan rasa aman, terhibur, jaminan keselamatan yang memberi kesempatan untuk menikmati hidup, sungguh tak tergantikan oleh makanan dan minuman apapun.
Bagi orang Yahudi, darah adalah lambang kehidupan. Tanpa darah manusia tidak hidup. Jika Tuhan Yesus memerintahkan untuk makan daging dan minum darahNya, itu berarti di dalam Dia ada kehidupan. Lepas dari Dia, tidak ada kehidupan dalam arti yang sesungguhnya. Demikian juga ketika Dia mengatakan sebagai roti hidup, maka Dialah sumber kehidupan. Sebagai makanan pokok, roti pasti dibutuhkan semua orang untuk memberi tenaga dan menjaga kelangsungan hidupnya. Roti hidup (Kristus) itu satu-satunya yang bisa memberikan hidup kekal pada manusia. Mereka tidak lapar lagi, dan bukan hanya menjaga kelangsungan hidup di dunia saja, tetapi juga memberikan hidup kekal setelah manusia meninggalkan dunia (hidup selamanya), seperti tertulis di ayat 51.
Lepas dari Roti hidup (Kristus) berarti lepas dari hidup kekal, artinya binasa. Kebersamaan dengan Kristus itulah kehidupan yang sesungguhnya. Itu berarti bahwa semua orang membutuhkan Kristus sebagai pusat kehidupan dan pemberi kehidupan kekal.
Apa arti tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita ?
Ketidak-berpisahan dengan Kristus menjadi ciri khas orang yang hidup di dalam Kristus. Ketidak-berpisahan itu menjadikan hidup manusia diisi oleh Kristus. Pusat kehidupannya adalah Kristus. Setiap hari, setiap saat. Melalui sikap hidup, tindakan dan pemikirannya, orang bisa melihat seperti itulah yang dikehendaki dan diperbuat Kristus. Kristus menjadi pengarah hidupnya. Dan manusia itu hanya melakukan dan berpikir tentang apa yang Tuhan kehendaki. Dan itu bukan dilakukan secara temporer (sementara), tetapi selalu dan selamanya. Ini memang tidak mudah, tetapi itulah yang harus dilakukan.
Kita tinggal di dalam Kristus menunjukkan kebergantungan kita yang luar biasa kepada Dia dan menundukkan diri sepenuhnya kepada Dia. Kita membiarkan diri kita diarahkan olehNya dalam keberserahan yang penuh (tanpa cadangan). Kita merasa tidak nyaman berada di luar persekutuan dengan Dia. Sedangkan jika Kristus di dalam kita, artinya apapun yang kita lakukan dan pikirkan bisa dilihat sebagai perbuatan dan pemikiran Kristus. Kita adalah “alat” atau “kepanjangan tangan” dari Dia. Orang lain bisa melihat dan merasakan kehadiran Kristus melalui hidup kita. Kristus menjadi tak terpisahkan dari hidup kita, apapun situasi yang dialami. Hidup kita menjadi “cerminan” dari kehidupan Kristus di masa kini.
Penutup.
Jemaat kekasih Tuhan Yesus Kristus,
Mari kita melihat kehidupan kita masing-masing saat ini, sudahkan kita hidup dalam arti yang sesungguhnya ? Mungkin kita masih berpendapat yang penting makan-minum terpenuhi, itu sudah cukup. Firman Tuhan hari ini menyatakan kepada kita bahwa tercukupi kebutuhan makan dan minum secara jasmani saja belumlah cukup, belum hidup dalam arti yang sesungguhnya. Kita masih membutuhkan kehidupan rohani yang bertumbuh dan berkembang juga, rasa aman, dan kepastian akan hidup kekal yang memberikan ketentraman hidup. Ternyata setiap orang juga membutuhkan perasaan dekat dengan Tuhan, dan hidup di dalam Tuhan. Ketidak-terpisahan dengan Tuhan Yesus bukan hanya kita rasakan saat kita beribadah di gereja saja, tetapi dalam seluruh kehidupan.
Beribadah di gereja atau kebaktian lainnya memang penting untuk memelihara persekutuan kita secara pribadi dengan Tuhan. Tetapi, di luar itu kita juga tetap perlu “makan tubuh dan minum darah Kristus” (sebagai kiasan yang menunjukkan ketidak-terpisahan) di setiap saat dan aktifitas kita. Kita membiarkan diri kita diarahkan secara penuh oleh Tuhan bukan hanya di hari minggu saja, tetapi di setiap hari dan setiap saat. Itulah hidup yang sesungguhnya. Amin. (YM)

