wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 20 APRIL 2014
Hari Raya Paskah
Stola Merah

 

Bacaan 1         : Kisah Para Rasul 10: 37-43
Bacaan 2         : 1 Korintus 5: 6-8
Bacaan 3         : Yohanes 20: 1-10

Tema Bulanan : Kekuatan Roh Mengajak Manusia Hidup Mulia
Tema Pekan    : Paskah adalah kebenaran Allah yang membebaskan dan memberi Hidup

 

Keterangan Bacaan

Kisah Para Rasul 10: 37-43

Ayat 39-41. Menarik untuk dicatat bahwa Petrus hampir tidak mengatakan apa-apa tentang makna kematian Kristus, dan bahwa ia tidak memberitakan doktrin pendamaian. Injil terdiri atas fakta-fakta tentang kematian dan kebangkitan Yesus.

Ayat 42, 43. Injil berisi juga pemberitaan tentang penghakiman pada masa mendatang atas orang yang hidup dan yang mati oleh Yesus yang telah bangkit, dan penawaran pengampunan dosa kepada semua orang yang percaya kepada-Nya.

Khotbah Petrus merupakan contoh pertama kita tentang pemberitaan Injil kepada orang bukan Yahudi. Di dalam khotbah tersebut terdapat sangat sedikit renungan mengenai makna Oknum Kristus, tidak ada penekanan atas masa pra-keberadaan-Nya, penjelmaan-Nya, dan keilahian-Nya, atau atas sifat mendamaikan yang terkandung dalam kematian-Nya. Khotbah itu sungguh-sungguh suatu “Kristologi kuno,” dan terutama terdiri dari pemberitaan tentang kematian, kehidupan dan kebangkitan Yesus, serta undangan untuk mempercayai Dia agar memperoleh pengampunan dosa.

 

1  Korintus 5: 6-8

Ayat 7 – Buanglah // Sebab kamu memang tidak beragi // Sebab // anak domba Paskah kita juga telah disembelih // karena itu marilah kita berpesta!

Diperlukan suatu tindakan yang tegas. Sebab kamu memang tidak beragi mengungkapkan keadaan orang-orang percaya, dan keadaan itulah yang harus mereka capai. Pembersihan mereka harus tampak di dalam kehidupan yang bersih. Sebab bersifat menjelaskan. Latar belakang dari ucapan sang rasul adalah hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi. Paskah (bdg. Kel. 12:1-28) melambangkan Kristus sebagai Anak Domba Allah yang akan menghapus dosa dunia melalui pengorbanan-Nya di Golgota (bdg. Yoh. 1:29). Hari Raya Roti Tidak Beragi (bdg. Kel. 12:15-20; 13:1-10). Hal ini sudah terjadi, karena itu Paulus menulis anak domba Paskah kita juga telah disembelih.

Hari Raya Roti Tidak Beragi melukiskan kehidupan kudus orang-orang percaya, sesuatu yang berlangsung terus-menerus, sehingga Paulus menulis karena itu marilah kita berpesta (ay. 8; waktu sekarang, tindakan berlanjut). Dan sebagaimana segumpal ragi di rumah seseorang Israel berarti hukuman (bdg. Kel. 12:15), demikian pula dosa di dalam hidup seorang percaya berarti hukuman. Karena itu diperlukan disiplin.

1 Kor 5: 8 – Karena itu

8. Kesimpulan (Karena itu) dari nasihat Paulus terdapat dalam ayat ini. Kemurnian dan kebenaran harus merupakan ciri orang percaya, bukan kejahatan manusia dan gereja sebagaimana halnya kasus perzinahan ini. Kebajikan-kebajikan inilah yang seharusnya menjadi makanan dalam pesta orang Kristen.

 

Yohanes 20: 1-10

Yoh. 20: 1 – Hari pertama minggu itu // Maria Magdalena // dengan // Batu telah diambil dari kubur.

Hari pertama minggu itu. Hari sesudah hari Sabat, atau hari ketiga sesudah penyaliban Yesus, menurut cara perhitungan Yahudi.  Maria Magdalena. Sudah diketahui bahwa beberapa orang perempuan pergi ke makam pagi-pagi sekali, tetapi Yohanes hanya bercerita mengenai Maria. Kehadiran yang lain ditunjukkan dalam ungkapan “kami tidak tahu” dalam ayat 2. Para perempuan itu bertujuan untuk meminyaki tubuh Yesus dengan lebih sempurna (Mrk. 16:1). Batu telah diambil dari kubur. Apabila batu itu masih ada Maria pasti menemui kesulitan untuk memindahkannya: tetapi dengan batu sudah disingkirkan persoalannya menjadi beda pula. Menurut pikiran Maria situasi sudah makin jelek.

Yoh 20:2 Maria teringat akan murid-murid terkemuka Yesus – Simon Petrus dan ‘murid yang dikasihi’ – lalu ia berlari-lari untuk memberitahukan hal itu kepada mereka.

Yoh 20:6-7 – Tergulung                                                                   

Dengan keberanian yang menjadi ciri khas dirinya, Petrus tidak berhenti di jalan masuk, tetapi langsung masuk sehingga ia mampu melihat dengan lebih jelas keadaan kain pembungkus mayat. Dia melihat bahwa kain itu tidak sepenuhnya tergeletak di tanah, tetapi bahwa penutup kepala tergulung rapi dan terletak di suatu tempat. Andaikata mayat itu dicuri, maka adalah aneh bahwa kain kafan ditinggalkan, dan bahkan lebih aneh lagi bahwa kain peluhnya ditinggalkan dalam keadaan rapi tergulung. Tergulung. Kata kerja ini dipakai untuk menunjuk pada tindakan membungkus mayat Yesus dengan kain kafan untuk dikubur (Mat. 27:59; Luk. 23:53). Itu bila berarti bahwa kepala Yesus keluar dari pembungkus tersebut dengan membiarkan bentuknya tetap tergulung, atau bahwa Yesus sengaja menggulungnya sebelum Ia meninggalkan kuburan. Fakta akan kebangkitan-Nya.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Jemaat yang kekasih. Pada perayaan Paskah ini hati diliputi sukacita dan rasa syukur yang mendalam. Mengapa? Karena memperingati Paskah adalah memperingati kemenangan Kristus, keberhasilan Kristus dari maut dalam rangka membela kita; kemenangan-Nya adalah kemenangan kita.

Di dalam bacaan dipaparkan bahwa kubur itu kosong, Kristus sudah tidak ada di sana, artinya sudah ke luar. Dan peristiwa itu tidak ada yang tahu, bagaimana caranya Dia ke luar dan kapan. Fakta  dipaparkan ketika pagi-pagi buta kala perempuan-perempuan murid-murid-Nya ke kubur untuk menyempurnakan perminyakan pada jenazah Yesus, yang mereka lihat adalah kain kafan yang tergulung. Tidak ada tanda pencurian, karena tidak mungkin pencuri meninggalkan jejak yang nenandakan kerapihan, ketidak tergesa-gesaan dari tempat itu. Lihat ayat  6 dan 7, tidak memperlihatkan ada tanda-tanda jenazah dicuri, semua perangkat yang dipakai ditinggal dalam keteraturan. Hal ini menjadi fakta bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian.

 

Isi

Kebangkitan Kristus adalah menjadi bagian yang penting, karena menyangkut keselamatan manusia dan dunia. Paskah bukan hanya membawa kemenangan atas Diri Yesus pribadi. Tetapi sebagaimana kematian-Nya yang merupakan simbol dari kematian semua orang yang percaya kepada-Nya, demikian juga pada Paskah, kebangkitan-Nya adalah juga mengait semua orang percaya ke atas, ke luar dari lobang kerajaan maut yang dikalahkan-Nya.

Mari kita kaitkan dengan Pengakuan Iman Rasuli: “Turun ke dalam kerajaan maut. Dan pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, …” Jadi selama berada di kubur, Ia  sedang melaksanakan prosesi turun ke dalam neraka,  ke dalam kerajaan maut untuk menghadapi maut, dan kemudian ke luar sebagai pemenang atas maut. Kemenangan-Nya itu milik kita, tentu, karena upaya itu dikalukan memang untuk menyelamatkan kita. Pertanyaannya, sudahkah kita hidup mewujudkan kemenangan ini?

Mari kita  menyorot lebih dekat Maria Magdalena (MM). Tema tersebut melekat dalam dirinya. Awal mulanya adalah ketika Yesus membebaskan dia dari penyakit gawat, yang dideritanya, yakni kerasukan tujuh setan, ketika sembuh maka langkah hidupnya tak jauh dari Yesus. Ia meninggalkan yang lama dan menjadi pengikut Kristus sebagai pemimpin perempuan-perempuan yang mengiringi perjalanan pelayanan Yesus.  Perjumpaannya dengan Yesus, yang membebaskannya dari kuasa tujuh setan yang mengacaukan hidupnya, menjadikannya menerima hidup baru, mengiring Yesus, Luk. 8:1-3, menjadi pemimpin atas perempuan-perempuan yang bersama-Nya berjalan di sepanjang pelayanan Yesus.

Betapa MM, merasakan hidupnya berharga bersama Yesus, ia tetap setia pada-Nya, pun pada saat penyaliban hadir berdiri di bawah salib Kristus sampai pada penguburan. Dan kala pagi menyeruak keesokan harinya, kegelapan tidak dapat menahannya, bersama teman-teman perempuannya ia berlarian ke kubur berpacu  jangan sampai kedahuluan fajar menyingsing. Hatinya semakin kacau manakala di dapati batu kubur sudah terguling, Yesus tidak ada  di tempat, hatinya yang sangat sensitif bereka-reka: “jangan-jangan itu ulah pencuri”, dia menangis. Sejauh ini kita mengartikan bahwa ia menangis untuk Yesus. Sebenarnya, MM juga sedang menangisi dirinya sendiri. Pada peristiwa kubur kosong itu, ia juga sedang mengkuatirkan dirinya, kala diperhadapkan pada kenyataan Yesus hilang.

Mengapa? Bagai mendapat permata yang paling berharga, hingga rela menjual, atau kehilangan semua milik yang lain demikian kehadiran Kristus untuknya. Selama ini, menjadikan dia bebas dan hidup, hingga  manakala Yesus “tidak ada” bahkan sekedar mayatnya saja tidak didapati, maka bersama itu hancur pula harapan hidupnya. MM membayangkan dirinya akan kembali pada pusaran “ketidak berartian hidup” seperti sebelum berjumpa dengan Yesus. Untuk itu dia menangis dan tidak terhiburkan kecuali oleh sapaan Yesus, sebab sapaan Yesus  menjadi bukti kehidupannya oleh kebangkitanNya.

Jemaat yang kekasih, pada Paskah ini, apa kita memiliki yang dimiliki MM ini? Karya pembebasan dan hidup yang baru, sebenarnya bukan dua rute yang bisa dipilih salah satunya sekehendak kita! Karena merupakan rangkaian yang menyatu, membentuk causa. Pembebasan atas kuasa maut selalu menerbitkan kehidupan baru, kehidupan yang berkualitas dengan parameter pada rencana-Nya sebagaimana MM telah dilepaskan dari belenggu kuasa setan yang kuat menuju hidup baru yang berarti dan mulia.

Berlaku untuk kita, cukup satu kali Kristus tersalib membebaskan mkita. Kini bagaimana mengupayakan  kehidupan yang baru itu semakin jelas lagi dan semakin jelas lagi? Paskah membangun ruang seluas-luasnya bagi manusia agar semakin menjadi makhluk yang mampu mengalami pengasihan Allah dan berbagi pengalaman ini dengan sesamanya dalam kehidupan nyata. Pernyataan ini menumbuhkan kesadaran bahwa kemenangan Paskah ternyata tidak hanya sekedar menjawab keinginan untuk selamat kelak di akhirat, tetapi juga panggilan untuk berkarya di dunia ini dalam kehendak-Nya yang sempurna.

 

Penutup

Allah tentu saja dapat menggunakan siapapun untuk menggenapi kehendak-Nya yang sempurna itu. Kita tidak perlu menjadi orang lain untuk turut serta berjalan dengan Allah membangun kehidupan ini. Selamat berkarya bagi-Nya! Mari berbekal penghayatan seperti yang dimiliki MM, Without God I am nothing (tanpa Allah aku bukan apa-apa). Mari tebarkan wajah Yesus dalam seluruh dimensi hidup kita. Amin. [Evi]

 

Nyanyian: KJ 194: 1, 3.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi.

Pambuka

Pasamuwan ingkang kinasih. Ing pahargyan Paskah menika manah kita kebak kabingahan lan panuwun syukur. Kenging menapa? Karana mahargya Paskah menika mahargya kamenanganipun Sang Kristus saking rehing pati anggenipun mbelani kita. Kamenanganipun Sang Kristus inggih dados kamenangan kita.

Ing waosan kita kasebataken bilih pesarean menika suwung, layonipun Gusti Yesus boten wonten ing ngriku, tegesipun sampun medal. Lelampahanipun boten ingkang nyumurupi, kados pundi caranipun Gusti Yesus medal lan kapan. Kasunyatan nedahaken bilih nalika enjing uput-uput para wanita muridipun Gusti Yesus tindak pesarean saperlu nyekar, ingkang dipun tingali namung kain mori ingkang sumeleh lan kacu ingkang kangge naleni mesatakanipun sampun kalempit ing ngriku. Boten wonten pratandha kemalingan, karana mokal maling nilaraken papan menika kanthi tumata, ketingal boten kesesa. Menika nedahaken kasunyatan bilih Gusti Yesus estu-estu wungu gesang malih saking pati.

 

Isi

Wungunipun Sang Kristus menika dados lelampahan ingkang wigatos sanget, karana menika gegayutan kaliyan kaslametaning manungsa lan jagad. Paskah boten namung mbekta kamenangan atas Dhiri Pribadinipun Gusti Yesus. Nanging, kados dene sedanipun dados pralambang pejahipun sedaya tiyang ingkang pitados dhateng Panjenenganipun, makaten ugi ing Paskah, wungunipun Sang Kristus nyaut mbekta sedaya tiyang pitados manginggil medal saking telenging kratonipun pati ingkang dipun telukaken.

Menika ingkang dados sahadat iman kita: “…tumedhak ing teleng palimengan; ing tigang dintenipun wungu malih saking antawisipun tiyang pejah..” Dados nalika wonten ing pasarean, Gusti Yesus nindakaken prosesi tumedhak dhateng naraka, ing lebetipun kratoning pati kangge ngadhepi pati, lajeng medal minangka ingkang menang atas pati. Kamenanganipun Gusti menika dados gadhahan kita, karana perjuangan menika katindakaken kangge nylametaken kita. Pitakenanipun, menapa gesang kita sampun mujudaken kamenengan menika?

Mangga kita nggegilut Maryam Magdalena (MM). Bab menika saestu rumesep ing gesangipun MM. Wiwitanipun, nalika Gusti Yesus nguwalaken piyambakipun saking sesakit ingkang kasandhang, inggih menika kapanjingan setan 7. Sareng sampun saras gesangipun boten nate tebih saking Gusti Yesus. Piyambakipun nilar gesang lami lan dados pendherekipun Sang Kristus minangka pimpinaning para wanita ingkang ndherek ing peladosanipun Gusti Yesis. Pepanggihanipun kaliyan Gusti Yesus, ingkang nguwalaken piyambakipun saking setan 7, ndadosaken piyambakipun ngalami gesang enggal, ndherek Gusti Yesus, dados pimpinaning para wanita ingkang ndherek ing lelampahanipun Gusti Yesus.

MM rumaos gesangipun dados aji sanget wonten ing Sang Kristus, pramila piyambakipun tansah setya dhateng Panjenenganipun. Nalika Gusti Yesus sinalib, piyambakipun ngetutaken ngantos ing papan penyaliban, malah ngantos dumugi pasarean. Nalika enjing umun-umun dinten candhakipun, pepeteng boten saged nyandheg piyambakipun lan rencang-rencangipun lumajeng dhateng pesarean balapan kaliyan bang-bang wetan, sampun ngantos kedhisikan padhang. Manahipun gempal nalika nyumerepi bilih sela tutupipun pesarean sampun gumlundhung, lan Gusti Yesu boten wonten ing ngriku. Manahipun ngreka-reka “gek-gek iki polahe maling.” Mesthi kemawon sanalika piyambakipun muwun, nangis sesenggukan. Miturut pangertosan kita, piyambakipun muwun nangisi Gusti Yesus. Sejatosipun, MM ugi nangisi dhirinipun piyambak. Sarean ingkang suwung menika nguwatosaken gesangipun piyambak, langkung-langkung layonipun Gusti Yesus ical. Rumaosipun, gesangipun badhe wangsul kados saderengipun pinanggih kaliyan Gusti Yesus, gesang tanpa aji. Karana menika, piyambakipun muwun tanpa saged kalipur, kejawi dening swantenipun Gusti Yesus piyambak ingkang minangka bukti wungu lan gesangipun malih.

Para kinasih kagunganipun Gusti. Menapa ing Paskah menika kita nggadhahi menapa ingkang dipun gadhahi MM?

Pangluwaran saking rehing pati nuwuhaken gesang enggal, gesang ingkang aji kanthi ukuran wonten ing rancanganipun Gusti, kados dene MM sampun kauwalaken rehing iblis ingkang rosa tumuju dhateng gesang enggal ingkang aji lan luhur.

Kangge ngluwari kita, Gusti Yesus cekap sepisan sinalib. Samangke kados pundi kita ngupayakaken gesang enggal kita menika saya nyata lan cetha? Paskah mangun kamardikan agung tumrap manungsa supados dados makluk ingkang saya saged ngalami kawelasanipun Allah lan andum lelamphan endah menika kaliyan sesami. Menika nedahaken bilih kamenangan Paskah menika boten namung ndhatengaken kaslametan ing akerat, nanging ugi timbalan supados makarya ing jagad manut karsanipun Gusti ingkang sampurna.

 

Panutup

Gusti Allah tamtu saged ngagem sintena kemawon kagem nindakaken karsanipun ingkang sampurna menika. Kita boten perlu dados kados tiyang sanes kangge ndherek ing pakaryanipun Allah mangun gesang menika. Sugeng makarya kagem Gusti! Sumangga ngantepi dhiri kita kalayan pangraosipun MM, “tanpa Gsuti Allah aku iki dudu apa-apa.” Swawi nyebar pasuryanipun Gusti Yesus ingkang gesang mulya menika srana saranduning gesang kita. Amin. [terj. ST]

Pamuji: KPK 269: 1, 2.

 

***

MINGGU, 27 APRIL 2014
Minggu Paskah 2
Stola Merah

 

Bacaan  1  : Kisah Para Rasul 2: 41-47
Bacaan  2  : 1 Petrus 1: 3-9
Bacaan  3  : Yohanes 20: 19-29

Tema  Bulanan : Kekuatan Roh Mengajak Manusia Hidup Mulia.
Tema Pekan      : Bergembira membagikan damai sejahtera.

 

Keteraangan Bacaan

Kisah Para Rasul 2: 41-47

Penyebutan jumlah tiga ribu orang menunjukkan bahwa keselamatan dari Tuhan adalah baik secara individual maupun kolektif. Ini juga menunjukkan bahwa persekutuan orang percaya itu menjadi kelanjutan dari umat perjanjian Allah. Persekutuan mereka menggambarkan relasi persaudaraan dan persahabatan yang ideal. Semua kebutuhan warga jemaat dicukupi, tidak ada orang yang menyimpan harta bagi dirinya sendiri sementara membiarkan yang lain kekurangan. Orang-orang kristen pertama itu tetap setia kepada agama Yahudi, dihormati oleh orang-orang Yahudi yang lain, dan terus berkembang menambah warga baru dari orang-orang Yahudi.

 

1 Petrus 1: 3-9

Pujian di bagian awal surat menjadi tema pokok surat 1 Petrus ini. Pujian tema pokok ini didasarkan pada: 1) Allah memberikan kita kelahiran baru melalui iman kepada Injil, 2) kelahiran baru ini membawa pengharapan, 3) kelahiran baru ini berdasar pada kebangkitan Yesus dari kematian, dan 4) orang-orang Kristen  mendapatkan warisan ilahi yang tidak dapat hilang. Pengharapan masa depan dan warisan yang akan disingkapkan pada zaman akhir menuntut ketekunan orang percaya dalam pertobatan. Ketekunan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai pencobaan untuk memurnikan iman yang baru ini.

 

Yohanes 20: 19-29

Sukacita para murid ketika melihat Tuhan menjadi pemenuhan sabdaNya pada 16: 22 “…Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.”

Penyaliban Yesus, yang bekasnya ditunjukkan kepada para murid, memanisfestasikan hakekat Allah yang adalah kasih, yang mendatangkan damai sejatera. Pengutusan Allah atas Yesus untuk menyatakan kasih yang mendatangkan damai sejahtera itu menjadi pengutusan-Nya kepada para murid. Untuk melakukan karya pengutusan ini Yesus meletakkan tanganNya atas mereka dan menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Dalam karya pengutusan ini gereja diberi kuasa untuk menetapkan adanya dosa pada orang dan memberlakukan pengampunan Tuhan.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Kesejahteraan, atau damai sejahtera adalah kebutuhan batin manusia yang sangat mendasar. Sudah sangat terbukti bahwa harta benda yang berlimpah, pendidikan yang tinggi dan jabatan yang terhormat tidak menjamin atau menentukan kedamaian dan kesejahteraan manusia. Sebaliknya, orang yang hidup sederhana, tidak cerdas, orang rendahan dan pas-pasan, bahkan miskin (sedikit sekali hartanya) sekalipun, bisa hidup dalam damai sejahtera. Banyak orang mengumpulkan banyak harta, sangat cerdas dan sudah menduduki jabatan terhormat, ternyata malah kehilangan damai sejahtera. Tetapi banyak juga orang yang tidak mendapatkan harta cukup, berpendidikan sedang dan tidak punya jabatan apa-apa juga tidak memiliki damai sejahtera. Banyak orang hidupnya resah, gelisah dan susah, kuatir dan takut, atau sebaliknya malah mudah marah, karena kehilangan damai sejahtera.

(Bisa dan baik jika diberi contoh konkrit atau ilustrasi).

 

Isi

Tuhan Yesus tahu betul susahnya orang yang kehilangan damai sejahtera. Dia tahu betul betapa mendasar dan pentingnya kebutuhan damai sejahtera itu. Tuhan Yesus hidup untuk memberikan damai sejahtera itu, bahkan damai sejahtera yang sejati. Dia sangat ingin para muridNya, para pengikutNya benar-benar mengalami damai sejahtera itu. Karena itu, ketika Dia menampakkan diri dari kebangkitanNya, Dia mengatakan salam “Damai Sejahtera bagi kamu” itu sampai 2 kali. Ini menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya Dia memberikan damai sejahtera itu kepada para muridNya.

Damai sejahtera Kristus ini adalah warisan kekal yang tidak akan pernah usang, tidak akan pernah rusak, melainkan sempurna dan kekal adanya. Damai sejahtera Kristus yang hidup ini berkuasa membawa kelahiran baru dalam kehidupan orang yang menerimanya, yaitu yang percaya akan kebangkitanNya. Damai sejahtera Kristus membangkitkan pengharapan dan keyakinan yang teguh akan kehidupan kekal karena kebangkitanNya. Orang yang benar-benar mendapatkan damai sejahteraNya ini akan mengalami kegembiraan yang tidak bisa direbut atau diganggu oleh siapapun dan apapun. Orang yang menerimanya akan rela melakukan apapun yang menjadi kehendak Tuhan Sang Pemberi damai sejahtera ini. Orang yang menerima damai sejahtera Kristus tidak akan pernah merasa kehilangan harta benda yang dipersembahkan dan dibagi-bagikan kepada orang lain, seperti jemaat yang mula-mula itu. Orang yang menerimanya tidak akan merasa takut atau kuatir. Dia tetap tenang, tentram dan bisa bahagia (senyum bahkan tertawa) walau direndahkan dan dicemooh bahkan sekalipun diancam orang lain, walau suatu ketika usahanya rugi, walau putus pacar, walau sakit, dsb. (Akan lebih menarik jika diberi contoh konkrit di konteks saudara).

Para murid Yesus bergembira karena mendapat damai sejahtera dari Tuhan Yesus yang hidup. Dukacita mereka lenyap ketika mereka melihat Tuhan. Sebelumnya mereka takut, resah, gelisah dan susah, sekarang mereka bahagia dan sukacita.

Bagaimana caranya bisa benar-benar menerima dan merasakan damai sejahtera Tuhan Yesus itu?

  1. Yakinilah bahwa Kristus benar-benar bangkit, dan hidup hingga kini.
  2. Yakinilah bahwa Dia yang hidup itu mempunyai segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28: 18).
  3. Yakinilah, karena itu, Dia berkuasa mengatasi segala masalah.
  4. Yakinilah bahwa Dia juga sangat mengasihi dan menyayangi saudara.
  5. Bukalah hatimu dan yakinilah bahwa Dia hidup di dalam hidup saudara, bukan hanya di sorga.

Setelah menerima damai sejahteraNya itu para murid, dan juga kita sekarang, diutus oleh Tuhan Yesus, sama seperti Bapa mengutus Dia ke dunia. Diutus untuk apa? Kristus diutus ke dunia untuk mendatangkan dan mewujudkan damai sejahtera bagi semua orang. Begitu juga kita diutus untuk mendatangkan dan mewujudkan damai sejahtera bagi semua orang. Untuk itu, Dia selalu memperhatikan orang-orang menderita: orang miskin, sakit, cacad, berduka dan bersalah (berdosa). Begitu juga kita diutus untuk mereka.

Orang-orang percaya yang mula-mula dalam Kitab Kisah Para Rasul itu justru hidup penuh damai sejahtera karena mereka semua saling memperhatikan dan berbagi satu sama lain.

 

Penutup

Tuhan Yesus hidup menyejahterakan kita. Kita benar-benar hidup jika kita menyejahterakan orang lain. Damai sejahtera kita akan bertambah ketika kita membagikan damai sejahtera Tuhan ini kepada orang lain, lebih-lebih kepada mereka yang susah hidupnya. Amin. [ST]

 

Nyanyian: KJ 246: 2, 3  / 437: 2, 3  / 287a: 1-  /  163: 1.

 —

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi.

Pambuka

Tentrem rahayu dados kabetahaning batos manungsa ingkang dhasariyah. Sampun cetha kasunyatan bilih bandha donya nadyan mubra-mubru, pendidikan utawi kapinteran ingkang inggil lan drajat pangkat ingkang luhur boten njamin utawi namtokaken tentrem rahayu. Kosokwangsulipun, tiyang ingkang gesang sarwi prasaja, boten pinter, tiyang asor, malah tiyang miskin (bandhanipun sekedhik) saged ngalami tentrem rahayu. Kathah tiyang ingkang numpuk raja brana, pinter sanget lan sampun apilenggah ing pangkat ingkang luhur, jebul malah kecalan tentrem rahayu. Nanging ugi kathah tiyang ingkang boten pikantuk bandha cekap, pendidikanipun pas-pasan kemawon lan boten nggadhahi pangkat napa-napa ugi boten ngalami tentrem rahayu. Kathah tiyang ingkang manahipun sisah, bingung, was sumelang lan ajrih, utawi malah gampil sanget nesu, karana kecalan tentrem rahayu. (Mangga yen badhe dipun paringi conto utawi ilustrasi)

 

Isi

Gusti Yesus pirsa saestu kasisahan lan nlangsanipun tiyang ingkang kecalan tentrem rahayu. Gusti Yesus pirsa saiba wigatosipun kabetahan tentrem rahayu tumrap manungsa. Gusti Yesus wungu gesang malih kagem paring tentrem rahayu menika, malah tentrem rahayu ingkang sejatos. Panjenganipun ngersakaken para sekabatipun, lan ugi sedaya para pendherekipun sami estu-estu ngalami tentrem rahayu ingkang sejatos menika. Ingkang menika, nalika Panjenenganipun ngetingalaken dhiri bakda wungu saking kasedan, Panjenenganipun ngucapaken salam “Tentrem rahayu anaa ing kowe kabeh” menika ngantos kaping kalih. Menika mratelakaken bilih Gusti Yesus estu-estu maringaken tentrem rahayu menika dhateng para muridipun.

Tentrem rahayunipun Sang Kristus menika dados warisan langgeng ingkang boten badhe reged, utawi alum utawi risak, nanging menika sampurna lan langgeng sipatipun. Tentrem rahayu saking Gusti Yesus ingkang gesang menika kwaos nuwuhaken kalairan enggal tumrap tiyang ingkang nampeni, inggih menika tiyang ingkang pitados dhateng wungunipun Gusti Yesus. Tentrem rahayu menika nuwuhaken pangajeng-ajeng lan kapitadosan ingkang bakuh tumrap gesang langgeng awit wungunipun Sang Kristus. Tiyang ingkang saestu nampeni tentrem rahayunipun Gusti Yesus menika mesthi ngalami kabingahan ingkang boten saged dipun rebat utawi dipun ganggu dening sintena utawi menapaa kemawon. Tiyang ingkang saestu nampeni tentrem rahayunipun Gusti Yesus mesthi remen nindakaken menapaa kemawon ingkang dados karsanipun Gusti ingkang paring tentrem rahayu menika. Tiyang ingkang saestu nampeni tentrem rahayunipun Gusti Yesus menika boten badhe nate rumaos kecalan bandha ingkang dipun pisungsungaken lan dipun dum-dumaken dhateng tiyang sanes, kados pasamuwan ingkang wiwitan. Tiyang ingkang saestu nampeni tentrem rahayunipun Gusti Yesus menika boten badhe ngraosaken ajrih lan kuatos. Piyambakipun mesthi tetep  tenang, ayem lan saged bebingah (mesem lan nggujeng) nadyan dipun remehaken, dipun asoraken lan dipun paido, nadyan ugi dipun ancam dening tiyang sanes, lan kadhang usahanipun rugi, diputus pacar, nadyan sakit.

Para sekabatipun Gusti Yesus menika sami bingah sanget karana nampi tentrem rahayu saking Gusti Yesus ingkang gesang. Saderengipun, para sekabat menika sami ngalami ajrih, sedhih, sisah lan nlangsa. Samangke sedaya sami bingah sanget lan sukarena. Kasedhihanipun sirna sareng ningali Gusti.

Kados pundi marginipun supados estu-estu saged nampeni lan ngraosaken tentrem rahayunipun Gusti Yesus menika?

  1. Sami yakina bilih Gusti Yesus saestu wungu, lan gesang ngantos sapriki.
  2. Sami yakina bilih Gusti Yesus ingkang gesang menika kagungan sagunging pangwasa ing swarga lan ing bumi (Mat. 28: 18).
  3. Ingkang menika, sami yakina bilih Panjenenganipun kagungan pangwasa mrantasi sedaya prekasih, masalah.
  4. Sami yakina bilih Gusti sanget nresnani panjenengan sedaya.
  5. Kula aturi mbikak manah lan yakin bilih Panjenenganipun ingkang gesang menika gesang lan dedalem wonten ing gesang panjenengan, boten namung ing swarga.

Sasampunipun nampeni tentrem rahayu sejati menika para sekabat, lan ugi kita samangke, sami dipun utus dening Gusti Yesus, kados dene Sang Rama anggenipun ngutus Kang Putra mring jagad. Lajeng dipun utus kangge menapa? Gusti Yesus kautus dhateng jagad supados ndhatengaken lan mujudaken tentrem rahayu kagem sedaya titah. Lah makaten ugi kita kautus ndhatengaken lan mujudaken tentrem rahayu menika kagem sedaya titahipun Gusti ing jagad. Ingkang menika Gusti Yesus tansah nggatosaken gesangipun tiyang-tiyang ingkang nandhang sangsara: tiyang miskin, sakit, cacad, sisah lan salah (dosa). Kita ugi kautus kagem tiyang-tiyang menika.

Tiyang-tiyang pitados (pasamuwan) ingkang wiwitan ing kitab Para Rasul malah gesang kebak tentrem rahayu karana sedaya sami nggatosaken lan andum berkah satunggal-satunggalipun.

 

Panutup

Gusti Yesus gesang menyejahterakan kita, paring tentrem rahayu dhateng kita. Kita estu-estu gesang menawi kita menyejahterakan tiyang sanes. Tentrem rahayu kita badhe saya wuwuh (bertambah) menawi kita ngedum tentrem rahayunipun Gusti menika dhateng tiyang sanes, langkung-langkung ingkang nandhang sangsara lan sisah gesangipun. Amin. [ST]

 

Pamuji: KPK 8: 2, 4, 5, 6.

 

Comments are closed.