Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 29 MEI 2016
MINGGU BIASA
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1         : 1 Raja-raja 8:22-23, 41-43
Bacaan 2         : Galatia 1:1-12
Bacaan 3         : Lukas 7:1-10

Tema Liturgis  : Roh kudus Memberdayakan Umat Untuk Menjadi Berkat
Tema Khotbah : Taat dan setia kepada Tuhan

 

Keterangan Bacaan

1 Raja-raja 8:22-23, 41-43

Bacaan ini merupakan bagian dari doa Salomo. Dalam doa ini terdapat sebuah pengakuan bahwa TUHAN Allah Israel tidak ada yang membandingi. Di langit dan di bumi tidak ada yang seperti Dia. Ia memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Nya yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Nya. Salomo mengharapkan bahwa kasih setia TUHAN tidak hanya berlaku bagi umatNya saja, tetapi juga orang asing, yang tidak termasuk umat-Nya, Israel. Orang asing yang mendengar tentang nama-Nya yang besar dan tentang tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung, dan yang datang berdoa di bait-Nya. Salomo memohon agar TUHAN bertindak sesuai dengan yang diserukan kepada-Nya sehingga mereka takut akan Dia  sama seperti umat-Nya Israel.

 

Galatia 1:1-12

Di bagian ini Rasul Paulus menekankan adanya ketaatan Kristus yang diwujudkan dengan cara menyerahkan diri-Nya dan menjadi korban untuk dosa-dosa manusia supaya manusia mendapatkan keselamatan. Hal tersebut ditekankan Rasul Paulus sebagai dasar untuk mengingatkan jemaat Galatia yang telah membelakangi Allah dan mengikuti Injil lain. Ia mengingatkan jemaat Galatia bahwa ada orang yang mengacaukan mereka dan bermaksud memutarbalikkan Injil Kristus. Ia mengatakan bahwa orang yang memberitakan Injil lain terkutuk. Injil yang diberitakan Rasul Pauluslah yang harus dianut. Injil yang diberitakan Rasul Paulus itu bukanlah injil manusia. Karena ia bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadanya, tetapi ia menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. Dengan demikian Rasul Paulus mengharapkan jemaat Galatia tetap taat pada ajaran yang benar, seperti dalam ajaran Injil yang diberitakan Rasul Paulus, dan tidak membelakangi Allah lagi.

 

Lukas 7:1-10

Dalam kisah ini diceritakan bahwa Yesus sedang berada di Kapernaum.  Di kota ini Yesus melakukan mujizat-Nya. Mujizat itu dirasakan oleh seorang perwira, orang non Yahudi, yakni kesembuhan hambanya yang sedang sakit keras dan hampir mati. Ia telah mendengar tentang Yesus. Ini berarti bahwa ia mengetahui karya-karya Yesus. Menurut tua-tua Yahudi, perwira ini adalah orang yang mengasihi bangsa Yahudi dan menanggung pembangunan rumah ibadah mereka. Hal menarik dari kisah ini adalah iman seorang perwira (bukan orang Yahudi) yang besar, yang tidak pernah dijumpai Yesus, sekalipun di antara orang Israel. Ia menunjukkan iman yang besar itu ketika seorang hamba yang sangat dihargainya sedang sakit keras dan hampir mati. Memang, dia tidak secara langsung bertemu dan mengungkapkan keinginannya kepada Yesus, tetapi melalui tua-tua Yahudi. Ia meminta kepada Yesus supaya Yesus datang dan menyembuhkan hambanya. Demikian juga ketika Yesus sudah berada di dekat rumahnya, ia juga tidak secara langsung bertemu dengan Yesus. Tindakan perwira tidak ingin bertemu langsung dengan Yesus karena ia merasa tidak layak bertemu dengan Yesus. Sampai dua kali ia mengatakan bahwa ia tidak layak. Tetapi ia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan hambanya.

 

Benang merah 3 bacaan

Tuhan Allah memang tidak tertandingi oleh siapapun juga. Kasih setia Tuhan tidak hanya dirasakan oleh umat-Nya saja (Israel), tetapi juga orang asing. Kasih Tuhan itu nyata bagi orang asing seperti yang dirasakan oleh seorang perwira yang hambanya sedang sakit keras dan hampir mati. Hal yang diharapakan Tuhan Allah dari orang yang mendapatkan kasih-Nya adalah taat dan setia kepada-Nya, dengan cara meneladani kesetiaan dan ketaatan yang diwujudnyatakan Kristus. Meski Kristus harus berkorban dan menderita tetapi Ia tetap taat dan setia. Setiap orang percaya diharapkan untuk senantiasa kuat dan tidak membelakangi Kristus, serta mempunyai iman yang besar.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan  

Suatu hari ada seorang anak kecil yang sedang bermain di lapangan dekat rumah. Anak kecil itu sedang melihat-lihat sekeliling dan membelakangi matahari, lalu tiba-tiba dia tertarik melihat bayangannya sendiri. Dia berjalan mengikuti bayangannya dengan harapan dia bisa berlari mendahului bayangannya.  Semakin jauh dia berjalan, semakin jauh pula bayangan tubuhnya menjauh darinya. Semakin berlari sampai dia kecapekan tapi tak bisa-bisa dia meraih bayangannya itu. Saat itu ayahnya yang sedang mengamatinya menegurnya, “nak, apa yang kamu lakukan?” Jawab sang anak “aku ingin mendahului bayanganku, yah.” Tegur ayah lagi “jika kamu ingin mendahului bayanganmu, maka berlarilah menuju matahari, maka bukan kamu yang mengejar bayanganmu, melainkan bayanganmu yang mengejar kamu.”

Cerita ini mengajak kita untuk merefleksikan kehidupan kita. Bayangan kita ilustrasikan sebagai angan-angan, nilai-nilai duniawi yang ingin kita raih. Sedangkan matahari adalah Tuhan. Saat kita berusaha mengejar keinginan-keinginan kita (jodoh, rejeki maupun kebahagiaan), tanpa disadari kita malah berlari meninggalkan Tuhan. Apa yang terjadi? Hal-hal yang kita inginkan itu malah semakin menjauh dari diri kita. Hal yang perlu kita lakukan adalah “berbalik arah menuju matahari”, yaitu kembali mengejar Tuhan, mengabdi kepada-Nya dan selalu taat akan segala perintahNya maka semua apa yang kita inginkan tanpa kita sadari akan datang dengan sendirinya mengikuti kita.

 

Isi 

Apakah kita juga sering seperti anak kecil tadi? Bukan tidak mungkin godaan yang kita hadapi menjadikan kita berbalik dari Allah. Hal ini yang terjadi dalam kehidupan jemaat Galatia. Sebagai orang yang  sudah mendapatkan anugerah Allah, mereka tidak dapat mempertahankan itu. Mereka telah berbalik dari Allah dan mengikuti Injil lain. Ia mengingatkan jemaat Galatia bahwa ada orang yang mengacaukan mereka dan bermaksud memutarbalikkan Injil Kristus. Ia mengatakan bahwa orang yang memberitakan Injil lain terkutuk. Dengan demikian Rasul Paulus mengharapkan jemaat Galatia tetap taat pada ajaran yang benar, seperti dalam ajaran Injil yang diberitakan Rasul Paulus, dan tidak membelakangi Allah lagi, akibat ajaran yang lain.

Rasul Paulus menekankan adanya ketaatan Kristus yang diwujudkan dengan cara menyerahkan diri-Nya dan menjadi korban untuk dosa-dosa manusia supaya manusia mendapatkan keselamatan. Itulah berita Injil yang diberitakan Rasul Paulus. Rasul Paulus ingin menunjukkan bahwa Kristus sudah bertindak dengan luar biasa. Karya-Nya tidak tertandingi oleh apa dan siapapun juga. Untuk menjadi seorang Kristen yang sejati tidak harus mentaati hukum agama Yahudi. Ia menegaskan bahwa bahwa sesungguhnya satu-satunya dasar yang baik untuk kehidupan Kristen adalah percaya kepada Kristus. Dengan kepercayaan itu hubungan manusia dengan Allah menjadi baik kembali. Dengan memahami karya Kristus itu diharapkan iman jemaat Galatia tidak dikotori dengan pemahaman yang salah tentang Injil, tetapi mereka setia, seperti Kristus juga setia.

Untuk menunjukkan kesetiaan kepada Kristus diperlukan iman yang besar. Dengan mendengar karya-karya Kristus diharapkan dapat menumbuhkan iman yang besar. Seperti halnya orang asing (bukan Israel) yang mendengar tentang nama-Nya yang besar dan tentang tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung — dan yang datang berdoa di bait-Nya. Doa Salomo berisi permohonan kepada TUHAN, agar  bertindak sesuai dengan segala yang diserukan kepada-Nya sehingga mereka takut (hormat) akan Dia.

Demikian juga kisah seorang perwira, orang non Yahudi, menarik untuk kita perhatikan. Karena imannya hambanya yang sedang sakit keras dan hampir mati sembuh. Hal menarik dari kisah ini adalah iman seorang perwira (bukan orang Yahudi) yang besar, yang tidak pernah dijumpai Yesus, sekalipun di antara orang Israel. Keberadaannya sebagai orang bukan Yahudi tidak menghalangi rasa percayanya kepada Yesus, yang dapat menyembuhkan hambanya. Ia menunjukkan iman yang besar itu ketika seorang hamba yang sangat dihargainya sedang sakit keras dan hampir mati. Memang, Ia tidak secara langsung bertemu dan mengungkapkan keinginannya kepada Yesus, tetapi melalui tua-tua Yahudi. Ia meminta kepada Yesus supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Demikian juga ketika Yesus sudah berada di dekat rumahnya, ia juga tidak secara langsung bertemu dengan Yesus. Dengan ia tidak ingin bertemu Yesus bukan berati ia tidak hormat pada Yesus. Ia merasa tidak layak bertemu Dia. Justru dengan tindakannya yang tidak bertemu Yesus itulah menunjukkan kepercayaannya, bahwa imannya besar. Dengan imannya, hambanya yang sakit mendapatkan berkat berupa kesembuhan.

 

Penutup

Di tengah berbagai macam godaan yang ada, kita diajak untuk taat dan setia dan tidak meninggalkan-Nya. Iman percaya kita jangan sampai tergoda oleh pemahaman-pemahaman yang menyesatkan. Semangat perwira, biarlah menjadi semangat kita untuk tetap tertuju pada Kristus. Ketaatan yang didasari dengan iman yang besar akan menjadi modal bagi kita untuk menjadi berkat bagi orang lain. Di sekitar kita banyak orang yang membutuhkan pertolongan dan uluran tangan kita. Jika kita mengaku taat dan beriman kepada Kristus, berarti kita peduli dan menjadi berkat. (SWT)

 

Nyanyian: KJ 369a:1-2.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Salah satunggaling dinten wonten lare alit ingkang saweg dolanan ing lapangan sacelakipun griya. Lare punika saweg ningali sakiwa tengenipun lan nyingkuri srengenge, lajeng kepincut ningali ayang-ayangipun piyambak. Lare wau mlampah ngetutaken ayang-ayangipun, kanthi pangajeng-ajeng saged nguber lan ngrumiyini ayang-ayangipun. Saya tebih lare wau mlampah, saya tebih ayang-ayangipun nebih saking dirinipun. Senaosa mlajeng ngantos sayah, lare wau mboten saged nggayuh ayang-ayangipun. Bapakipun ingkang mangertos kedadosan punika lajeng ngedikan: “Le, apa kang mbok lakoni?” Wangsulanipun lare; “Kula pengin nglangkungi ayang-ayang kula, pak!” Bapakipun mangsuli: “Menawa kowe pengin ndhisiki ayag-ayangmu, mlayua tumuju srengenge.”

Cariyos punika ngajak niti priksa kawontenaning gesang kita. Ayang-ayang nggambaraken angen-angen, kadonyan, lan ugi panggodha ing sangajeng kita. Srengenge punika nggambaraken Gusti Allah. Rikala kita nggayuh pepinginan kita, mboten kita sadari, kita malah nilaraken lan nyingkur Gusti. Punapa ingkang kedadosan? Punapa ingkang kita pikajengaken malah sangsaya nebih saking kita. Perkawis ingkang kedah kita lampahi inggih punika, wangsul lan tumuju dhateng Gusti, ngabdi lan mbangunturut dhateng Panjenenganipun, nglampahi punapa ingkang dados karsanipun Gusti.

 

Isi

Punapa kita ugi kados lare alit kalawau? Panggodha lan momotaning gesang ingkang kita raosaken saged ndadosaken kita nyingkur Gusti. Perkawis punika ingkang kelampahan ing pasamuwan Galatia. Minangka umat ingkang nampi sih rahmatipun Allah, pasamuwan Galatia mboten saged njagi lestarining iman kapitadosan. Pasamuwan Galati nyingkur Gusti Allah lan ndherek injil sanes. Rasul Paulus ngengetaken pasamuwan Galati bilih wonten tiyang ingkang ndamel bingung lan ngewah-ewahi Injilipun Sang Kristus. Rasul Paulus ngandika bilih tiyang ingkang ngabaraken injil wau badhe nampi paukumanipun Allah. Ing ngriki Rasul Paulus nggadhahi pangajeng-ajeng pasamuwan Galatia tetep setya dhateng piwulang ingkang leres, kados Injil ingkang dipun wartosaken Rasul Paulus, mboten nyingkur Gusti malih sarta mboten dipun regedi kaliyan piwulang sanes.

Rasul Paulus ngegetaken bilih Sang Kristus punika tansah mbangun turut ing pakaryanipun, kanthi ngorbanaken sariranipun kangge nebus dosanipun manungsa, supados pikantuk kawilujengan. Punika Injil ingkang dipun wartosaken Rasul Paulus. Paulus ngarahaken bilih pakaryanipun Sang Kristus punika ngeram-eramaken. Mboten wonten ingkang saged nandhingi pakaryanipun Gusti. Dados tiyang Kristen ingkang sejati, mboten kedah mbangun turut angger-anggeripun agami Yahudi. Rasul Paulus negesaken bilih dhasar ingkang sae kangge gesangipun tiyang Kristen namung setunggal, inggih  punika pitados dhateng Sang Kristus. Awit saking iman kapitadosan sesambetanipun manungsa lan Gusti dados sae malih. Kanthi mangertos pakaryanipun Sang Kristus, Rasul Paulus kagungan pangajeng-ajeng iman kapitadosanipun pasamuwan Galati mboten dipun regedi kaliyan pemanggih Injil ingkang klentu, mboten nyingkur Gusti, tetep setya dhateng Gusti, kados dene Gusti Yesus  tansah setya.

Kangge mujudaken kasetyan dhateng Sang Kristus dipun betahaken iman kapitadosan ingkang ageng. Kanthi mireng pakaryanipun Sang Kristus sageda nuwuhaken iman kapitadosan ingkang ageng. Kados dene tiyang manca (sanes Israel) ingkang mireng bab kamulyanipun Gusti sarta mukjijat-mukjijat ingkang katindakaken dening Gusti, lajeng sami dhateng ing Israel saos pangabekti dhateng Gusti sarta ndedonga ing Pedalemanipun. Kados pandonganipun Soleman ingkang isinipun nyuwun supados Sang Yehuwah kersa miyarsakaken pandonganipun sarta nyembadani panyuwunipun. Supados kados umat Israèl, sedaya bangsa ing bumi sami tepanga sarta mbangun-turut dhateng Panjenenganipun.

Mekaten ugi cariyosipun prawira prajurit Rum, tiyang sanes Yahudi, sae menawi kita gatosaken. Awit saking iman kapitadosanipun, abdinipun ingkang saweg sakit sanget lan meh kemawon pejah, saged saras. Cariyos punika ngemu suaraos ingkang sae, inggih punika iman kapitadosanipun prawira prajurit Rum ingkang ageng, ingkang mboten dipun panggihi Gusti Yesus, sanajan ing antawisipun tiyang Israel. Senaosa sanes tiyang Yahudi, mboten dados alangan kangge mujudaken kapitadosan dhumateng Gusti Yesus Kristus, ingkang saged nyarasaken abdinipun. Prawira prajurit Rum mujudaken iman kapitadosanipun, rikala abdi ingkang sanget dipun tresnani saweg sakit lan meh kemawon pejah. Pancen, prawira wau mboten sacara langsung pinanggih lan ngaturaken panyuwunipun dhateng Gusti Yesus, nanging lumantar pinisepuh Yahudi. Prawira wau nyuwun dhateng Gusti supados nyarasaken abdinipun. Mekaten ugi rikala Gusti Yesus sampun celak dalemipun, prawira wau mboten kersa manggihi Gusti Yesus. Mboten ateges, prawira mboten kersa atur urmat dhateng Gusti Yesus, nanging rumaos mboten pantes pepanggihan Gusti Yesus. Kanthi mboten kersa manggihi Gusti Yesus, awit rumaos mboten pantes, ngetingalaken imanipun ingkang ageng. Kanthi iman kaptadosanipun prawira, abdinipun pikantuk berkat arupi kesarasan.

 

Panutup

Ing satengahing panggodha ingkang kathah, kita kaajak mbangun turut lan setya dhateng Gusti. Iman kapitadosan kita sampun ngantos nyingkur Gusti. Kados dene prawira, mugia kita tansah gumregah tumuju dhateng Sang Kristus. Mbangun turut ing Gusti, kadhasaran iman kapitadosan ingkang ageng, dados bunci (modal) kita kangge nglantaraken berkah dhateng tiyang sanes. Matemah iman kapitadosan kita migunani dhateng tiyang sanes. Menawi kita rumaos mbangun turut ing Gusti, ateges kita perduli lan dados margining berkah. Amin. (SWT).

 

Pamuji: KPK 86:1-3

 

MINGGU, 05 JUNI  2016
MINGGU UEM DAN PENUTUPAN BULAN KESPEL
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1         : 1 Raja-raja 17:17-28
Bacaan 2         : Galatia 1:13-24
Bacaan 3         : Lukas 7:11-17

Tema Liturgis  : Roh kudus Memberdayakan Umat Untuk Menjadi Berkat
Tema Khotbah : Hadir Untuk Menjadi Berkat

 

Keterangan Bacaan

1 Raja-raja 17:17-28

Kedatangan Elia ke Sarfat bukanlah kebetulan. Ia datang ke Sarfat karena perintah dari TUHAN (17:7). Di Sarfat, ia bertemu dengan seorang janda. Janda itulah yang memberinya makan. Namun demikian ada peristiwa menyedihkan yang dialami oleh janda tersebut. Anak janda itu sakit sangat keras sampai tidak ada nyawanya lagi. Kedukaan telah menyelimuti janda anak satu ini. Hal tersebut membuat sang janda berpikiran negatif terhadap Elia. Ia curiga terhadap Elia dan seakan-akan kehadirannya membawa dampak buruk pada keluarganya. Hal tersebut nampak dari perkataan sang janda terhadap Elia. “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” Apakah kecurigaan sang janda terbukti? Ternyata tidak. Kehadiran Elia bukanlah berdampak buruk bagi keluarga sang janda. Kehadiran Elia bukanlah membawa bencana, tetapi membawa berkat. Elia berseru kepada Tuhan: “Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?” Ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya.” TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali. Dengan perantaraan Elia anak sang janda kembali hidup. Pikiran negatif sang janda kemudian berubah menjadi positif. Sang janda tidak lagi mencurigai Elia. Ia mengatakan “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.”

 

Galatia 1:13-24

Pada bagian ini Rasul Paulus ingin meyakinkan jemaat Galatia bahwa dirinya adalah orang yang dipanggil dan dipilih oleh  Yesus Kristus. Ia telah dipilih sejak di kandungan ibunya dan memanggil dirinya oleh kasih karunia-Nya. Ia mengakui bahwa pada mulanya ia bukanlah orang baik. Ia adalah orang yang jahat. Tanpa batas ia menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Perubahan terjadi ketika Ia dipanggil dan dipilih oleh Yesus Kristus dan menjadi rasul-Nya. Ia dipilih dan dipanggil untuk memberitkan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ia telah hadir di tanah Arab, Siria, dan Kilikia. Kehadiranya memang tidak dikenali oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. Meski demikian mereka memuliakan Allah karena Rasul Paulus. Dari pengkuan Rasul Paulus nampak bahwa kehadirannya telah menjadi berkat di antara bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa bukan Yahudi. Karena kehadiran Rasul Paulus, baik bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa bukan Yahudi mengenal Yesus Kristus. Ia hadir bukan sebagai orang jahat, tetapi orang yang sudah diubah oleh Yesus Kristus menjadi Rasul-Nya.

 

Lukas 7:11-17

Kehadiran Yesus ke kota Nain menjadikan berkat bagi seorang janda yang sedang mengalami kedukaan. Janda tersebut telah kehilangan seorang anak  laki-laki satu satunya. Anaknya mati  dan diusung keluar. Keberadaan anak laki-laki sangatlah penting. Dalam budaya Yahudi anak memberi arti teologis dan pedagogis. Anak dinilai sebagai warisan berharga yang diberikan turun-temurun dari Tuhan: “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka daripada Tuhan, dan buah kandungan adalah sesuatu upah” (Mzm 127:3). Konsep yang tinggi tentang anak disebabkan oleh keyakinan umat Israel sebagai umat pilihan, sehingga anak mempunyai fungsi meneruskan Taurat. Sebab itu anak perlu mendapat pendidikan yang baik agar hidup sesuai dengan Taurat. Sepanjang Perjanjian Lama ada benang merah yang menekankan perlunya orangtua mendidik anak: “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu…” (Ul 6:4-9). Janda tersebut akan sangat kehilangan jika ditinggal oleh anak laki-laki satu-satunya. Hal tersebut membuat Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan. Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Anak laki-lakinya bangun dan duduk. Yesus pun menyerahkan kepada ibunya. Suasana pun menjadi berubah. Suasana dukacita berubah menjadi sukacita. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” Karena kehadiran Yesus janda tersebur tidak mengalami kedukaan lagi.

 

Benang merah 3 bacaan

Kehadiran mereka, baik Elia, Rasul Paulus, maupun Yesus, di suatu tempat mendatangkan berkat. Kecurigaan, pikiran negatif dari orang lain ketika mereka (Elia dan Paulus) datang di suatu tempat merupakan tantangan yang harus dihadapi. Tetapi hal  yang penting adalah bahwa kehadiran mereka (Elia, Rasul Paulus dan Yesus) di suatu tempat menghasilkan suatu tindakan positif yang nyata dan konkrit. Sehingga orang lain dapat bersukacita dan memuliakan Allah.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan  

Kehadiran smartphone mulai mewarnai kehidupan kita sebagai masyarakat modern, rasanya hidup menjadi lebih praktis dan begitu canggih. Smartphone memang berkembang menjadi salah satu inovasi teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Beragam jenis smartphone dengan teknologi yang terus berkembang membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi teknologi tidak pernah berhenti berkembang. Selalu ada saja hal baru yang ditampilkan oleh para produsen smartphone dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para penggunanya. Sebuah riset yang dilakukan untuk meneliti penggunaan smartphone menyebutkan bahwa pada periode 2009-2013 intensitas penggunaan televisi menurun dari 45% menjadi 38%. Tak hanya itu saja intensitas penggunaan fasilitas online juga turun dari angka 25% ke 20%. Hal yang mengejutkan terjadi pada intensitas penggunaan perangkat mobile yang naik begitu pesat dari 4% menjadi 20%.

Penelitian lainnya menyebutkan bahwa rata-rata masyarakat di Inggris yang menggunakan smartphone bisa menggunakan perangkat teknologi tersebut sebanyak 36 kali selama sehari. Dan hal ini mulai menunjukkan gejala kecanduan teknologi yang dialami oleh sebagian besar masyarakat modern. Data ini juga didukung oleh sumber lainnya yang menyebutkan bahwa rata-rata orang mengecek smartphone-nya sebanyak 150 kali dalam sehari. Sejumlah pesan yang dikirimkan ke smartphone akan segera dibuka dalam waktu kurang dari 3 menit setelah dikirim. Sehingga hal ini membuat jumlah pecandu smartphone di dunia melesat ke angka 59% di tahun 2014. Orang jadi gusar tidak bisa mengakses smartphone kesukaannya selama beberapa jam saja. Sebab, merasa akan ketinggalan informasi update mengenai hal-hal penting yang biasanya ditahui dari smartphone.

Orang yang secara terus menerus menantikan informasi baru di smarphone-nya akan selalu tertarik membuka pesan baru yang mereka dapatkan. Banyak sekali orang yang betah berlama-lama menggunakan media sosial hanya untuk memandangi produk baru dengan ilustrasi yang menarik. Karena ada kepuasan tersendiri yang bisa didapatkan secara gratis saat mengetahui ragam infomasi terbaru. Hendaknya smartphone tidak membuat kita jadi merasa tergantung dengan informasi dan perkembangan teknologi. Masih banyak sekali hal-hal penting yang bisa kita lakukan tanpa mengandalkan smartphone.

 

Isi

Kehadiran smartphone membawa dampak yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Kehadirannya dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Jika kehadirannya bedampak positif, itu baik. Tetapi jika negatif, kita harus waspada. Jika kehadiran smartphone membawa dampak yang luarbiasa dalam kehidupan manusia, bagaimana dengan kehadiran kita sebagai para pengikut Kristus? Oleh karena itu marilah kita belajar dari kehadiran tiga tokoh seperti dalam bacaan kita saat ini, agar kehadiran kita berguna dan menjadi berkat:

1. Elia

Kedatangan Elia ke Sarfat bukanlah kebetulan. Ia datang ke Sarfat karena perintah dari TUHAN (17:7). Di Sarfat, ia bertemu dengan seorang janda. Janda itulah yang memberinya makan. Namun demikian ada peristiwa menyedihkan yang dialami oleh janda tersebut.  Anak janda itu jatuh sakit sangat keras sampai tidak ada nyawanya lagi. Kedukaan telah menyelimuti janda anak satu ini. Hal tersebut membuat sang janda berpikiran negatif terhadap Elia. Ia curiga terhadap Elia dan seakan-akan kehadirannya membawa dampak buruk pada keluarganya. Apakah kecurigaan sang janda terbukti? Ternyata tidak. Kehadiran Elia bukanlah berdampak buruk bagi keluarga sang janda. Kehadiran Elia bukanlah membawa bencana, tetapi membawa berkat. Dengan perantaraan Elia anak sang janda kembali hidup. Pikiran negatif sang janda kemudian berubah menjadi positif. Sang janda tidak lagi mencurigai Elia.

 

2. Rasul Paulus

Kehadirannya telah menjadi berkat di antara bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa bukan Yahudi. Karena kehadiran Rasul Paulus, baik bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa bukan Yahudi mengenal Yesus Kristus. Ia hadir bukan sebagai orang jahat, tetapi orang yang sudah diubah oleh Yesus Kristus menjadi Rasul-Nya. Ia meyakinkan jemaat Galatia bahwa dirinya adalah orang yang dipilih dan dipanggil oleh  Yesus Kristus. Ia telah dipilih sejak di kandungan ibunya dan memanggil dirinya oleh kasih karunia-Nya. Ia mengakui bahwa pada mulanya ia bukanlah orang baik. Ia adalah orang yang jahat. Tanpa batas ia menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Perubahan terjadi ketika Ia dipanggil dan dipilih oleh Yesus Kristus dan menjadi rasul-Nya. Ia dipilih dan dipanggil untuk memberitkan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ia telah hadir di tanah Arab, Siria, dan Kilikia. Kehadiranya memang tidak dikenali oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. Meski demikian mereka memuliakan Allah karena Rasul Paulus.

 

3. Tuhan Yesus

Kehadiran Tuhan Yesus di kota Nain juga menjadi berkat bagi orang lain. Adalah seorang janda yang sedang mengalami kedukaan. Janda tersebut telah kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Anaknya mati dan diusung keluar. Keberadaan anak laki-laki sangatlah penting. Dalam budaya Yahudi anak memberi arti teologis dan pedagogis. Anak dinilai sebagai warisan berharga yang diberikan turun-temurun dari Tuhan: “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka daripada Tuhan, dan buah kandungan adalah sesuatu upah” (Mzm 127:3). Konsep yang tinggi tentang anak disebabkan oleh keyakinan umat Israel sebagai umat pilihan, sehingga anak mempunyai fungsi meneruskan Taurat. Sebab itu anak perlu mendapat pendidikan yang baik agar hidup sesuai dengan Taurat. Sepanjang Perjanjian Lama ada benang merah yang menekankan perlunya orangtua mendidik anak: “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu…” (Ul 6:4-9). Janda tersebut akan sangat kehilangan jika ditinggal oleh anak laki-laki satu-satunya. Hal tersebut membuat Yesus tergerak hatiNYa oleh belas kasihan.  Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Anak laki-lakinya bangun dan duduk. Yesus pun menyerahkannya kepada ibunya. Suasana pun menjadi berubah. Suasana dukacita berubah menjadi sukacita. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah. Karena kehadiran Tuhan Yesus janda tersebut tidak mengalami kedukaan lagi.

 

Penutup

Bagaimana dengan kehadiran kita di tengah kehidupan masyarakat? Apakah kehadiran kita di tengah-tengah kehidupan masyarakat dapat menjadi berkat? Atau justru keberadaan kita justru menjadi trouble maker (menimbulkan masalah)? Marilah kita meneladani Elia, Rasul Paulus dan Yesus. Kita perlu mengembangkan kreatifitas diri, inovasi seperti program smartphone yang selalu berkembang, agar kehadiran kita menjadi bermakna dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut dapat kita wajudkan dengan cara menggunakan talenta yang kita miliki, agar berguna untuk orang lain. Mari kita lakukan. Amin. (SWT)

 

Nyanyian: KJ  424:1-2


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambukaan

Wontenipun smartphone dados salah satunggaling ciri gesang masyarakat modern, raosipun gesang dados langkung gampil lan canggih. Smartphone tuwuh dados salah satunggaling teknologi enggal ingkang njawab kabetahaning masyarakat. Smartphone kathah macemipun, kanthi teknologi ingkang terus majeng, kados-kados mbuktekaken bilih kemajenganing teknologi mboten nate mandheg. Tansah wonten perkawis enggal, ingkang dipun dalaken para produsen smartphone kanthi tujuan nyekapi kebetahanipun para tiyang ingkang ngginakaken. Wonten ingkang naliti, ngingingi tiyang ingkang ngginakaken smartphone. Ing ngriku dipun sebataken bilih taun 2009-2013 tiyang ingkang mirsani tv mandhap saking 45% dados 38%. Mboten namung punika, tiyang ingkang ngginakaken sarana online mandhap saking 25% dados 20%. Ingkang ngagetaken inggih punika tiyang ingkang ngginakaken sarana mobile minggah saking 4% dados 20%.

Lintunipun ugi wonten ingkang naliti, bilih rata-rata masyarakat Inggris saben dintenipun saged ngginakaken smartphone ngantos kaping 36. Punika ngetingalaken wontenipun kecanduan teknologi ingkang dipun alami dening masyarakat modern. Sumber lintunipun nyebataken bilih rata-rata tiyang mbikak smartphone-ipun ngantos kaping 150 saben dintenipun. Punika ndadosaken cacahipun pecandu smartphone ing donya minggah ngantos 59 % ing tahun 2014. Tiyang dados jengkel menawi smartphoneipun mboten saged nyambung  sawetawis jam kemawon. Sebab badhe mboten mangertos katrangan-katrangan enggal ngingingi perkawis-perkawis ingkang wigatos, ingkang biasanipun dipun mangertosi saking smartphone. Tiyang ingkang tansah ngrantos katrangan enggal ing smartphone-ipun badhe tansah mbikak katrangan enggal ingkang mlebet.

Kathah tiyang ingkang sami betah ngginakaken smartphone namung kangge mirsani produk enggal ingkang sae. Awit wonten perkawis mbingahaken ingkang saged dipun raosaken, inggih punika saged mirsani katrangan-katrangan ingkang enggal. Mugi smartphone mboten ndadosaken kita gumantung kaliyan katrangan lan majenging teknologi. Taksih kathah perkawis ingkang wigatos ingkang saged kita lampahi tanpa smartphone. 

 

Isi

Wontenipun smartphone mbekta daya ing pigesangan, ingkang sae lan awon. Tamtu mboten dados punapa, menawi smartphone mbekta daya ingkang sae lan migunani, nanging menawi mboten, kita kedah waspada. Menawi smartphone saged mbekta daya ingkang ngeram-eramaken sanget, kados pundi kaliyan daya kita minangka umat kagunganipun Gusti, ingkang wonten ing tengahing masyarakat? Punapa wontenipun para umat ing tengahing masyarakat ugi migunani? Utawi malah kosokwangsulipun? Sumangga sami sinau saking tokoh-tokoh ing waosan kita wau, supados ing tengahing masyarakat kita migunani lan dados margining berkah.

1. Elia

Rawuhipun Elia dhateng Sarfat mboten namung kleresan. Elia rawuh amargi kautus dening Sang Yehuwah (17:7). Ing Sarfat, Elia pepanggihan kaliyan mbok randha. Mbok randha punika ingkang maringi dhahar. Ananging wonten kedadosan ingkang nyedihaken dipun raosaken dhening mbok randha. Putranipun gerah sanget ngantos mboten wonten nyawanipun. Sedhih lan prihatos dipun raosaken dening mbok randha putra setunggal punika. Perkawis punika ndadosaken mbok randha nggadhahi pikiran ingkang awon dhateng Elia. Mbok randha sujana (curiga) dhateng Elia lan kados-kados rawuhipun mbekta perkawis ingkang awon dhateng brayatipun. Punapa anggenpun sujana punika kabukten? Nyatanipun mboten. Rawuhipun Elia mboten mbekta perkawis ingkang awon dhateng brayatipun mbok randha. Rawuhipun Elia mboten mbekta piala, nanging mbekta berkah. Lantaran Elia, putranipun mbok randha gesang malih. Pikiran ingkang awon mbok randha lajeng dados pikiran ingkang sae. Mbok randha mboten sujana malih dhateng Elia.

 

2. Rasul Paulus

Rawuhipun Rasul Paulus dados berkah ing antawisipun bangsa Yahudi lan sanes Yahudi. Rawuhipun Rasul Paulus ndadosaken, sae bangsa Yahudi mekaten ugi sanes Yahudi tepang kaliyan Gusti Yesus Kristus. Rasul Paulus rawuh sanes dados tiyang ingkang duraka, nanging tiyang ingkang sampun kaberkahan dening Gusti Yesus Kristus dados rasulipun. Rasul Paulus paring pitutur dhateng pasamuwan Galatia supados yakin bilih dirinipun punika tiyang ingkang dipun timbali lan dipun pilih dening Gusti Yesus. Rasul Paulus dipun pilih saderengipun lair lan dipun timbali miturut sih rahmatipun Gusti. Paulus dipun timbali lan dipun pilih supados martosaken Injil dhateng bangsa-bangsa sanes Yahudi. Rasul Paulus tindak dhateng Arab, Siria, lan Kilikia. Rawuhipun Rasul Paulus, pancen mboten dipun mangertosi dening pasamuwan-pasamuwan ing Yudea. Pasamuwan-pasamuwan wau namung mireng, bilih Rasul Paulus rumiyin nganiaya para pandherekipun Gusti, samangke martosaken iman dhateng Gusti Yesus Kristus. Senaosa mekaten pasamuwan-pasamuwan wau ngluhuraken Allah, awit saking Rasul Paulus.

 

3. Yesus

Rawuhipun Gusti Yesus ing kitha Nain ugi dados berkah. Tiyang ingkang nampi berkah punika, mbok randha ingkang saweg nandhang kasisahan. Mbok randha wau nembe kecalan putra jaler ontang-anting. Putranipun pejah lan layonipun dipun usung medal. Wontenipun putra jaler dados perkawis ingkang wigatos ing brayat. Ing kabudayan Yahudi anak gadhah pangaji teologis lan pedagogis. Tegesipun, anak minangka warisan ingkang aji, ingkang dipun paringaken dening Gusti turun-tumurun: “Anak-anak lanang kuwi peparingé Allah, wohing wetengan kuwi ganjarané.” (Mzm. 127:3). Pemanggih ingkang inggil ngingingi kawontenanipun putra dipun sebabaken keyakinanipun umat Israel minangka umat pilihan, awit putra punika ingkang nglajengaken Toret. Mila saking punika putra perlu pikantuk piwulang ingkang sae supados gesangipun manut Toret. Ing Prajanjian Lami wonten dhawuh supados tiyang sepuh paring piwulang dhateng para putra: “……….Wulangna marang anak-anakmu……….” (Pang. Tor. 6:4-9). Mbok randha wau kecalan sanget menawi katilar dening putra ontang-antingipun. Perkawis punika ndadosaken Gusti Yesus trenyuh ing panggalih. Nuli ngandika: Aja nangis, bu!” Gusti Yésus nyelaki bandhosanipun lan dipun demèk.  Gusti Yésus lajeng ngandika: “Nggèr, Aku dhawuh marang kowé: ‘Tangia!” Nem-neman ingkang sampun seda lajeng njenggèlèk, lenggah, lajeng caturan. Gusti Yésus lajeng masrahaken nem-neman wau dhateng ibunipun. Swasananipun dados benten, swasana sisah dados bingah. Sedaya tiyang ajrih lan mulyakaken asmanipun Allah. Rawuhipun Gusti Yesus ndadosaken mbok randha mboten ngraosaken kasedihan malih.

 

Panutup

Minangka umat kagunganipun Gusti, kados pundi daya kita ing satengahing masyarakat? Punapa kita saged dados berkah? Utawi malah dados sumbering masalah? Sumangga kita nuladhani Elia, Rasul Paulus lan ugi Gusti Yesus. Kita perlu ningkataken diri kados program-progam ing smartphone ingkang tansah enggal, supados kita saged dados margining berkah ing satengahing masyarakat. Perkawis punika saged kita wujudaken kanthi cara ngginakaken pinta-pinta (talenta), supados migunani kangge tiyang sanes. Sumangga kita lampahi. Amin.(SWT)

 

Pamuji: KPK 85:1-2