wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 8 MARET 2015
MINGGU PRA-PASKAH 3
STOLA UNGU

 

Bacaan 1         : Keluaran 20 : 1 – 17
Bacaan 2         : I Korintus 1 : 22 – 25
Bacaan 3         : Yohanes 2 : 13 – 25

Tema bulanan : Melayani Perdamaian Sebagai Ibadah Kepada Allah.
Tema Pekan    :  Ibadah Kepada Allah Harus Disertai Rasa Hormat.

 

Keterangan Bacaan

1. Keluaran 20: 1-17

Dasa Firman yang diucapkan oleh suara Allah sendiri tanpa perantaraan siapapun juga, adalah suatu kesaksian tentang kekuasaanNya dan keabsahanNya yang tetap. Dengan Taurat ini tuntutan-tuntutan perjanjian teokratis diberitahukan dan dikenakan kepada bangsa itu. Prinsip-prinsip 20:2-17 diperluas dalam 20:22-23:33. Prinsip-prinsip ini memuat seluruh tata tertib kehidupan dalam hubungannya yang terarah kepada Allah dan kepada manusia, dan merangkum seluruh Taurat Allah dalam bentuk ikhtisar. Selebihnya bentuk negatif titah-titah itu adalah merupakan protes Allah terhadap dosa di tengah-tengah umatNya yang telah ditebus itu, tetapi juga merupakan petunjuk bagi kemenangan kasih karunia, karena protes itu menjadi peraturan hidup dan bukan menjadi perkakas maut. Dasa Firman ini merupakan tanda kasih dan pemeliharaan Allah terhadap umatNya.

2.    I Korintus 1 : 22 – 25

Tuntutan akan tanda (Bil 14:11, Mat 16:1-4) terkandung di dalamnya sikap tidak percaya kepada Allah, juga harapan palsu Yahudi tentang adanya Mesias yang menakjubkan. Pencarian hikmat menggambarkan usaha untuk menemukan Allah dengan melalui pemikiran manusia. Bagi yang menanggapi panggilan Allah, salib itu menyediakan kekuatan Allah untuk mengalahkan dosa, serta mengungkapkan hikmat Allah yang sejati dengan menawarkan kepada manusia satu-satunya rencana keselamatan mereka yang efektif. Segala usaha manusia untuk mengenal Allah atau untuk mengalahkan dosa tanpa pertolongan Allah terbukti tidak berhasil. Allah yang tampaknya lemah yang ditampakkan dalam membiarkan AnakNya disalibkan, adalah lebih kuat, lebih efektif, dibanding dengan segala usaha manusia (bnd. 2 Kor 13:4).

3.    Yohanes 2 : 13 – 25

Perincian peristiwa ini digambarkan secara hidup, dan dalam beberapa hal berbeda dari catatan tentang peristiwa itu dalam ketiga Injil sinoptis. Hanya Yohanes yang menyinggung bahwa Yesus mengusir lembu-lembu dan domba-domba. Para penukar uang adalah orang yang menukar mata uang lain untuk mata uang yang resmi di Bait Allah. Ini adalah usaha yang sah, tapi terbuka untuk penyalahgunaan, karena memungkinkan kurs valuta yang melampaui batas. Pemakaian Yesus akan cambuk dari tali merupakan tindakan yang simbolis, karena cemeti adalah lambang penghakiman. Tuntutan Yesus bahwa Bait Suci adalah rumah BapaNya cocok dengan jabatan mesianisNya. Yang ditantang oleh Yesus ialah gangguan dari pedagang penipu terhadap kebaktian yang sesungguhnya. Permintaan tanda di sini dipakai dalam arti umum mujizat dan bukan dalam arti khusus kepada Yohanes. Pengenaan kiasan Bait Allah kepada tubuh Yesus mempunyai arti yang dalam. Kedua-duanya adalah tempat kediaman Allah. Sejajar dengan ini tubuh juga ditafsirkan Gereja. Perikop ini berakhir dengan suatu pernyataan umum tentang peristiwa-peristiwa pada hari raya Paskah dan sekali lagi ditekankan hubungan dekat antara tanda dengan kepercayaan. Tanda-tanda ini dicatat agar para pembaca percaya kepada Yesus sebagai Kristus dan Anak Allah.

 

Benang merah 3 bacaan.

Tanda dipakai untuk meyakinkan sesuatu, bahwa sesuatu itu sesungguhnya benar adanya. Sehingga orang yang menghendaki tanda tersebut semakin yakin. Sebab permintaan tanda sebagai salah satu bukti bahwa sesungguhnya manusia kurang/ tidak percaya akan adanya sesuatu itu. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan beragama. Allah mengetahui bahwa manusia membutuhkan tanda terkait dengan keberadaan dan kemahakuasaanNya, karena ketidakpercayaan manusia kepadaNya. Allah berkenan memberikan tanda kepada manusia. Melalui Dasa Firman, Allah menunjukkan tanda kasih dan pemeliharaanNya terhadap manusia. Korban-korban yang dikorbankan manusia sebagai tanda penebusan dosa telah digantikan dengan korban Kristus, sebagai tanda kasihNya kepada dunia. Dengan kematian dan kebangkitan Kristus, sebagai tanda ke-Mesias-anNya, manusia tidak lagi beribadah di dalam Bait Suci buatan tangan manusia. Bahkan dunia dan manusia telah dijadikan Bait Suci, di mana manusia merasakan kehadiran Allah.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Dalam Pranata GKJW tentang ibadah, GKJW memahami bahwa ibadah adalah berhimpunnya warga untuk menghadap dan mewujudkan persekutuannya dengan Tuhan Allah. Kata ibadah menunjuk kepada arti khusus, yaitu mengacu kepada berhimpunnya persekutuan orang percaya untuk menghadap Tuhan Allah. Ini menekankan berlakunya hubungan vertikal antara persekutuan orang percaya dengan Tuhan Allah. Hubungan vertikal ini tidak dapat dilepaskan dari hubungan hotisontal, yaitu hubungan antara sesama orang percaya. Jadi ibadah adalah sebuah “pisowanan”. Allah hadir dan umat datang “sowan” (menghadap). Oleh karena itu ibadah harus disertai rasa hormat, sikap rendah hati, yang didasari takut akan Allah.

 

Isi

Yesus menjadi sangat marah karena adanya pemerasan terhadap para peziarah oleh orang-orang yang tak berhati-nurani. Tetapi di balik pembersihan Bait Allah itu ada hal-hal yang mendalam, alasan-alasan yang lebih mendalam bagi tindakan drastis Yesus. Paling tidak ada tiga alasan:

  1. Ia marah karena rumah Allah dinajiskan. Penghormatan, bagi  Yesus merupakan hal yang sangat instinktif. Dasa Friman diberikan oleh Allah (terutama hukum ke 1 s/d 4), dengan tujuan  antara lain supaya manusia memiliki rasa hormat kepada Allah dan menjaga kesucian Allah. Ibadah tanpa rasa hormat bisa menjadi suatu hal yang mengerikan, ibadah yang diformalkan dan dipaksakan. Doa-doa yang penuh hormat hanya dibaca seperti membaca daftar barang lelangan. Ibadah seperti itu bisa menjadi ibadah yang tidak menghayati kesucian Allah, di mana para yang beribadah seolah-olah “jemu terhadap yang Ilahi”. Ibadah seperti itu adalah ibadah yang terjadi tanpa adanya persiapan dari pihak jemaat maupun dari pihak pemimpin ibadah. Ibadah seperti itu bisa terjadi di dalam rumah Allah, kalau tujuan, penghormatan, serta fungsi yang sebenarnya dari rumah Allah itu dilupakan. Bentuk ketidak-hormatan seperti itu mungkin sekarang tidak umum. Namun tokh sekarang banyak cara lain yang terdapat di dalam ibadah kepada Allah yang juga tidak menunjukkan penghormatan kepadaNya.
  2. Yesus bertindak drastis seperti itu untuk menunjukkan, bahwa segala perlengkapan dan sarana hewan korban itu sama sekali tidak mempunyai makna yang pokok, bahwa tidak ada korban binatang yang dapat membuat manusia itu benar di hadapan Allah. Kita pada zaman sekarang sebenarnya tidak sama sekali bebas dari kecenderungan seperti itu. Memang benar bahwa kita tidak akan lagi mempersembahkan binatang korban kepada Allah. Tetapi kita ternyata telah menandai ibadah kita kepada Allah itu dengan kaca jendela yang berwarni-warni, membeli organ yang bagus-bagus, pemborosan uang untuk beli batu, cat tembok dan kayu-kayu ukiran, padahal ibadah yang sebenarnya tidak ada di situ. Bukannya barang-barang itu harus dikutuk, sama sekali bukan begitu. Kalau barang-barang itu merupakan sarana pembantu bagi ibadah yang benar, maka barang-barang itu tentu diberkati Allah. Tetapi kalau barang-barang itu menjadi pengganti terhadap ibadah yang benar, maka barang-barang itu tentu akan membuat Tuhan sakit hati.
  3. Ada satu alasan lagi mengapa Yesus bertindak drastis. Apa yang terjadi di halaman Bait Allah telah menutup kemungkinan bagi orang kafir yang datang mencari Allah. Hati Yesus tergerak secara mendalam oleh karena orang-orang yang hendak mencari Allah dihalang-halangi secara total. Dasa Firman (terutama hukum ke 5 s/d 10), diberikan oleh Allah kepada manusia antara lain dengan tujuan supaya manusia menghargai sesama manusia sebagai ciptaan Allah, yang mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam mencari Allah. Apakah di dalam kehidupan gereja kita juga ada hal-hal yang menghalang-halangi orang lain yang mencari Tuhan? Apakah di dalam kehidupan gereja kita ada kesombongan, ketertutupan, kesuaman, keacuh-acuhan terhadap orang lain, kecenderungan unruk menjadikan jemaat semacam kelompok eksklusif dan tertutup, gengsi, dan pilih kasih? Semua hal ini adalah penghalang bagi orang lain yang ingin mencari Tuhan. Marilah kita selalu ingat akan kutukan Yesus terhadap hal-hal yang telah menyebabkan orang lain sulit, bahkan tidak mungkin, untuk berhubungan dengan Allah.

Orang-orang Yahudi menanyakan hak Yesus untuk bertindak seperti itu, dan sekaligus menuntut agar Yesus menunjukkan tanda bagi hak dan kewibawaanNya itu. Kita ikuti apa yang ditulis oleh Markus 14:58 : “Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia.” Apa yang Yesus maksudkan ialah bahwa kedatanganNya telah mengakhiri cara ibadah kepada Allah yang dibuat dan diatur oleh tangan manusia, dan menggantinya dengan ibadah rohani. “Aku telah datang untuk merubuhkan Bait Suci di Yerusalem ini, dan menjadikan seluruh dunia Bait Suci di mana manusia dapat mengetahui kehadiran Allah.”

Kehadiran Kristus yang hidup dan yang bangkit itulah yang membuat dunia ini menjadi Bait Suci Allah yang sebenarnya. Di sini kita mempunyai kebenaran yang menakjubkan, yaitu bahwa hubungan kita dengan Allah, keberadaan kita di hadapanNya, dan pendekatan kita kepadaNya sama sekali tidak tergantung pada sesuatu apapun yang bisa dibuat oleh tangan manusia atau yang bisa direka-reka oleh pikiran manusia. Di jalan, di rumah, di tempat kerja, di gunung, di dalam gereja, dan di mana-mana, kita mempunyai bait suci di dalam diri kita, yaitu bahwa kehadiran Kristus yang bangkit itu menyertai kita di manapun kita berada.

 

Penutup

Ciri khas Yesus ialah bahwa Ia tidak menghendaki adanya pengikut-pengikut, kecuali kalau para pengikut itu mengerti dengan jelas dan menerima dengan pasti hal-hal yang bersangkutan dengan tindakan mengikut Yesus itu. Yesus menolak adanya murid-murid yang murahan. Yesus adalah seorang pemimpin yang tidak mau menerima pengikut, kecuali kalau orang mengerti apa arti mengikut Yesus. Yesus tidak ingin diterima oleh orang yang tidak mengerti apa arti menerima Yesus. Yesus sangat menekankan bahwa orang harus tahu apa yang ia lakukan.

Yesus mengetahui hakekat manusia. Ia mengetahui kegoyahan dan ketidak-tetapan hati manusia. Ia mengetahui bahwa manusia dapat hanyut dalam suatu emosi, tetapi dapat kembali sadar apabila manusia mengetahui arti keputusan yang diambil. Yesus mengetahui bahwa hati manusia selalu haus akan sensasi. Yesus tidak menginginkan adanya banyak orang yang bersukacita atas sesuatu yang tidak mereka ketahui. Yesus menginginkan sekelompok kecil yang benar-benar mengetahui apa yang mereka lakukan dan yang bersedia mengikut Dia sampai akhir dan akhir hayat, dengan penuh rasa takut dan hormat. Amin. (SS)

Nyanyian: Kidung Jemaat 2 : 2 – 4

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Wonten ing Pranatan GKJW bab Ibadah, GKJW ngugemi bilih ibadah i.p nyatunggilipun warga, sowan lan mujudaken patunggilanipun kaliyan Gusti Allah. Tembung ibadah menika ngemu teges ingkang maligi, i.p patunggilanipun para pitados saperlu sowan dhateng Gusti. Bab menika nengenaken sesambetan vertikal (manginggil)ing antawisipun patunggilanipun para pitados kaliyan Gusti Allah. Sesambetan vertical menika boten saged kapisahaken kaliyan sesambetan horizontal (jajar), i.p sesambetan ing antawisipun para pitados. Dados ibadah menika “pisowanan”. Gusti Allah rawuh lan manungsa “sowan”. Pramila saking menika ibadah kedah kinanthenan raos urmat, andhap asoring manah, ingkang kalambaran raos ajrih asih dhateng Gusti Allah.

 

Isi

Wonten ing waosan kita ingkang ka-3, Gusti Yesus duka sanget karana wontenipun pemerasan dhateng para peziarah dening tiyang-tiyang ingkang boten nggadhahi hati nurani. Ananging ing salebeting nyucekaken Padaleman Suci menika wonten bab-bab ingkang wigatos, ingkang murugaken kenging menapa Gusti Yesus tumindak mekaten. Ing antawisipun:

  1. Panjenenganipu duka sanget karana Padaleman Suci kanajisaken. Menggahing Gusti Yesus manungsa katimbalan tansah nucekaken Padaleman Suci. Angger-angger 10 prekawis ingkang kaparingaken dening Gusti Allah (mliginipun angka 1 ngantos 4), kanthi gegayuhan ing antawisipun supados manungsa anggadhahi raos urmat dhateng Gusti Allah lan tansah njagi kasucenipun. Ibadah tanpa raos urmat dados prekawis ingkang estu nggegirisi, ibadah ingkang namung netepi wajib, ibadah ingkang amargi kepeksa. Pandonga-pandonga ingkang kebak raos urmat namung kawaos kadosdene tiyang maos daftar barang lelengan. Ibadah ingkang mekaten menika saged dados ibadah ingkang tanpa ngaosi(menghayati) kasucenipun Gusti Allah, para tiyang ingkang ngibadah kados-kados sampun “waleh kaliyan bab-bab ingkang ilahi”. Ibadah ingkang kados mekaten menika ibadah ingkang kelampahan tanpa wontenipun pacawisan, menapa menika saking peladosing ibadah utawi para warga pasamuwan. Ibadah ingkang kados mekaten menika saged kelampahan wonten ing Padaleman Suci, menawi tujuan lan fungsi Padaleman Suci ingkang samesthinipun sampun dipun lirwakaken. Bokmenawi samangke tumindak ingkang mekaten menika boten umum. Ananging sajakipun samangke kathah cara sanes ingkang saged dipun panggihaken wonten ing salebeting ibadah dhateng Gusti Allah ingkang boten nedahaken raos urmat dhateng Gsuti Allah.
  2. Panjenenganipun duka sanget nedahaken bilih sedaya perkakas lan sarana kewan kurban boten nggadhahi teges ingkang wigatos malih, malah boten wonten kewan kurban ingkang ndadosaken manungsa kaleresaken wonten ing ngarsanipun Gusti Allah. Kula lan panjenengan sami ing zaman samangke sejatosipun boten kalis babar pisan saking tumindak ingkang kados mekaten menika. Pancen leres kita boten badhe ngurbanaken kewan malih dhateng Gusti Allah. Ananging pranyata kita sampun nengeri ibadah kita dhateng Gusti Allah kanthi kaca candela ingkang warni-warni, tumbas orgen ingkang sae-sae, lsp, kamangka ibadah ingkang samesthinipun boten wonten ing ngriku. Ananging boten ateges barang-barang menika kedah dipun ipat-ipati. Menawi barang-barang menika dados sarana kebabaring ibadah ingkang leres, barang-barang menika mesthi binarkahan dening Gusti. Ananging menawi barang-bartang menika dados sandhungan tumraping ibadah ingkang leres, tamtu barang-barang menika badhe ndadosaken Gusti Allah duka.
  3. Panjenenganipun duka sanget karana menapa ingkang kelampahan ing Padaleman Suci dados pambengan tiyang kapir umarek dhateng Gusti. Gusti Yesus trenyuh manahipun karana tiyang-tiyang ingkang badhe umarek dhateng Gusti Allah dipun alang-alangi. Angger-angger 10 prekawis (mliginipun angger-angger angka 5-10) kaparingaken dening Gusti Allah dhateng manungsa ing antawisipun kanthi gegayuhan supados manungsa ngurmati sesaminipun minangka sesamining tumitah, ingkang nggadhahi hak lan wewengan ingkang sami ing salebeting ngupadosi Gusti Allah. Menapa ing greja kita ugi wonten bab-bab ingkang ngalang-alangi tiyang sanes ngupadosi Gusti? Menapa ing greja kita wonten kesombongan, ketertutupan, kesuaman, keacuh-acuhan tiyang sanes, pepenginan ndadosaken pasamuan kita dados kelompok eksklusif, lan tertutup, gengsi tuwin pilih kasih? Sedaya menika dados pepalang kangge tiyang sanes ingkang kepengin ngupadosi Gusti. Sumangga kita sami enget dhateng ipat-ipatipun Gusti Yesus tumraping bab-bab ingkang murugaken tiyang sanes ewed, malah langka saged sesambetan kaliyan Gusti Allah.

Tiyang-tiyang Yahudi nuntut supados Gusti Yesus paring pratandha, kenging menapa Gusti Yesus tumindak mekaten (nyucekaken Padaleman Suci). Injil Markus 14:58 ndhawuhaken: “Padaleman Suci gaweaning manungsa iki arep Dakrubuhake, lan sajroning telung dina aku bakal ngadegake liyane, kang dudu gaweaning manungsa.” Ingkang dipun kersakaken dening Gusti Yesus i.p bilih rawuhipun ing donya menika sampun mungkasi cara ngabekti ingkang kadamel lan dipun atur dening manungsa, lan kagantos kaliyan ibadah rohani. Gusti Yesus sampun rawuh ngrubuhaken Padaleman Suci ing Yerualem, lan ndadosaken jagad dados Padaleman Suci, ing pundi manungsa saged ngraosaken rawuhipun Gusti.

Rawuhipun Gusti ingkang gesang lan wungu menika ingkang akarya jagad dados Padaleman Suci ingkang saleresipun. Wonten ing ngriki kita nggadhahi paugeran ingkang ngedab-edabi, inggih menika bilih sesambetan kita kaliyan Gusti Allah, kawontenan kita wonten ing ngarsanipun, caket lan rumaket kita kaliyan Panjenenganipun boten gumantung dening menapa kemawon ingkang kadamel dening manungsa, utawi saged dipun rekadaya dening pikiranipun manungsa. Wonten ing pundi kemawon: ing margi, ing griya, ing papan padamelan, ing redi, ing ngare, ing greja, lsp kita nggadhahi Padaleman Suci ing diri kita, inggih menika bilih rawuhipun Gusti ingkang sampun wungu nungggil kaliyan kita ing pundi kemawon dunung lan papan kita.

 

Panutup

Gusti Yesus boten ngersakaken para pandherek, anjawi para pandherek menika mangertos kanthi trawaca lan saestu bab-bab ingkang gegayutan kaliyan ndherek Gusti. Kanthi tembung sanes Gusti Yesus boten ngersakaken para pandherek ingkang murahan. Gusti Yesus boten ngersakaken para pandherek ingkang boten mangertos menapa artosipun ndherek Gusti. Gusti Yesus ngersakaken bilih tiyang kedah mangertos menapa ingkang katindakaken, kalebet ing salebeting nindakaken pangabekti, kedah kanthi raos ajrih asih lan urmat. Amin. (SS)

 

Pamuji: KPK 14 : 1,2

 

—-

Minggu, 15 Maret 2015
Minggu Pra Paskah 4
Stola Ungu

Bacaan 1 : 2 Tawarikh 36 : 14 – 16a, 22 – 23.
Bacaan 2 : Efesus 2 : 4 – 10.
Bacaan 3 : Yohanes 3 : 14 – 21.

Tema Bulanan : Melayani perdamaian sebagai ibadah kepada Allah.
Tema Pekan : Hidup dalam pengampunan Allah.

Keterangan Bacaan

2 Tawarikh 36 : 14 – 16a, 22 – 23.
Ketidak-setiaan bangsa Israel kepada Allah tidak lagi dapat ditolerir. Kata “berubah setia” di ayat 14 menunjukkan bahwa bangsa Israel juga beribadah kepada berhala-berhala sebagai mana dilakukan bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Bahkan para pemimpin dan para imam juga melakukannya. Hal ini dipandang sebagai kejahatan di mata Allah. Demikian juga dengan raja Zedekia ternyata juga tidak lebih baik. Dia juga tidak hormat kepada kepada nabi Yeremia selaku utusan Tuhan, apa lagi terhadap pemberitaannya (ayat 12). Rupanya kejahatan dan ketidak-setiaan Israel kepada Tuhan ini sudah menjadi semacam dosa kolektif yang dilakukan bersama-sama. Seorang pemimpin yang seharusnya menjadi teladan sesuai dengan kehendak Tuhan, ternyata sudah tidak berlaku di Israel pada saat itu. Hal seperti ini tentunya semakin memperparah keadaan.

Allah menghukum bangsa Israel dengan menggunakan kekuasaan raja orang Kasdim, yang akhirnya menghantar bangsa Israel ke negeri pembuangan di Babel. Namun demikian pada akhirnya pengampunan Tuhan dirasakan juga oleh bangsa Israel. Melalui Koresy, raja Persia, akhirnya bangsa Israel bisa kembali ke Yerusalem dari Babel. Pengampunan Allah ini sekaligus menjadi penggenapan bagi pemberitaan nabi Yeremia. Hukuman Allah terhadap umatnya juga bisa melalui kekuasaan bangsa lain. Tetapi dalam keadaan bagaimanapun juga, ternyata pintu pengampunan Allah tidak tertutup bagi umatNya.

Efesus 2 : 4 – 10.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Efesus akan kasih karunia Allah yang besar telah memberikan kehidupan kepada pengikut Kristus. Sesungguhnya kita telah mati karena dosa dan tidak mungkin bisa selamat. Tetapi anugerah Allah telah menyelamatkan kita sehingga Kristus sendiri yang membangkitkan kita dari kematian karena dosa untuk bangkit dan hidup bersama-sama Dia di sorga (ayat 6). Semua ini hanya pemberian, kasih karunia Allah, bukan karena usaha manusia. Hanya karena iman kepada Tuhan Yesus maka manusia diselamatkan. Jadi, keselamatan itu bukan karena usaha dan pekerjaan manusia tetapi murni anugerah Allah.

 

Anugerah adalah pemberian cuma-cuma yang sama sekali tidak mengharapkan imbalan apapun. Anugerah Allah yang berupa keselamatan ini diberikan kepada manusia karena Allah tahu bahwa dengan kemampuan sendiri, manusia tidak mungkin bisa mendapatkan keselamatan. Karena itu pemberian, maka tidak sepantasnya jika ada orang yang menyombongkan diri seolah-olah berusaha sendiri dalam mendapatkan keselamatan (ayat 9). Orang kristen diselamatkan bukan karena berbuat baik dan semacamnya, tetapi itu pemberian Allah secara cuma-cuma.

Sebagai orang yang telah diselamatkan, maka Allah juga menghendaki agar kita hidup dalam perbuatan baik (ayat 10). Perbuatan baik bukan dalam upaya untuk mendapatkan keselamatan, tetapi karena sudah diselamatkan, sudah seharusnya manusia hidup sesuai kehendak Allah yang menyelamatkannya. Dan kehendak Allah itu tidak ada lain adalah supaya tetap hidup dalam perbuatan baik. Itulah salah satu ciri dari orang-orang yang sudah diselamatkan. Mampu melakukan perbuatan baik, itu juga kekuatan pemberian Allah.

Yohanes 3 : 14 – 21.
Ayat 14 dan 15 mengingatkan apa yang pernah terjadi pada bangsa Israel di padang gurun. Pada saat itu barang siapa yang memandang “ular” yang dibuat dan ditinggikan oleh Musa, mereka akan selamat dari gigitan dan racun ular. Hal ini juga mengingatkan agar manusia dalam hidupnya hanya memandang kepada Tuhan Yesus supaya mereka selamat. Tuhan Yesus yang ditinggikan itulah yang mampu menyelamatkan dan menyembuhkan manusia dari segala “penyakit” dosa yang mematikan seperti gigitan ular di padang gurun.

 

Ayat 16 menunjukkan inti pemberitaan Injil, yaitu kasih Allah yang menyelamatkan ciptaannya. Allah mengasihi dunia (bukan hanya manusia, tetapi ciptaan lainnya juga dikasihi). Kasih Allah itu diwujudkan dengan prakarsa untuk menyelamatkan dunia supaya tidak binasa oleh belenggu dosa. Upaya Allah menyelamatkan dunia itu terwujud dengan kehadiran Yesus Kristus di tengah dunia. Tujuannya jelas bukan untuk menghukum dunia, melainkan untuk menyelamatkannya (ayat 17). Agar manusia selamat, tidak ada cara lain selain percaya kepada Yesus Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruslamatnya.

Ayat 20, 21 menyatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang tidak bersedia menerima kehadiran Yesus Kristus. Mereka inilah yang disebut dengan orang yang hidup dalam gelap. Dengan datang kepada Yesus Kristus yang adalah Sang Terang Dunia itu, mereka khawatir bahwa kejahatan mereka menjadi nyata. Itulah sebabnya mereka menolak Sang Terang itu. Sebaliknya, orang-orang yang memandang dan datang kepada Kristus dianggap sebagai orang benar. Tidak ada satupun perbuatan mereka yang perlu disembunyikan dalam keadaan terang, karena apa yang mereka perbuat dilakukan di dalam Tuhan. Artinya, melakukan perbuatan yang Tuhan kehendaki.

Benang merah 3 bacaan.
Kasih Allah terhadap manusia tiada batasnya. Sejak jaman Perjanjian Lama manusia yang cenderung memberontak itu tetap diterima dan diampuni oleh Tuhan. Penghukuman memang ada, tetapi itu lebih dalam upaya mendidik dan proses penyadaran. Semua itu tidaklah lepas dari kasih Allah yang selalu berupaya menyelamatkan manusia dari kebinasaan akibat dosa-dosanya. Pengampunan itu sepenuhnya anugerah Allah, bukan usaha manusia untuk mendapatkan pengampunan dan keselamatan. Manusia hanya perlu menerima anugerah keselamatan itu dengan beriman kepada Kristus, menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruslamat yang akhirnya membawa manusia mampu tetap hidup di dalam Tuhan. Keselamatan itu sepenuhnya anugerah Allah. Keselamatan diberikan karena cinta kasih Allah kepada manusia, bukan karena kebaikan manusia.

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

KEDATANGAN YANG MENYELAMATKAN
(nats : Yohanes 3 : 17)

Pendahuluan
Kedatangan seseorang biasanya membawa pertanyaan bagi yang didatangi. Apa tujuan kedatangannya? Kalau tujuan itu baik, pasti menggembirakan. Sebaliknya kalau tujuannya jelek pastilah mengkhawatirkan atau menakutkan. Demikian juga dengan maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini. Jika maksudnya untuk menghakimi (seperti pemahaman banyak orang selama ini), pastilah kedatangan itu menakutkan. Sebaliknya, jika kedatanganNya untuk menyelamatkan dunia (seperti tertulis dalam Yoh. 3: 17), pastilah hal ini menggembirakan. Jelas, maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan dunia supaya tidak binasa. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika semua orang menyambutNya dengan suka cita.

Isi
Tak bisa dipungkiri bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia pada saat keadaan dunia ini sedang tidak baik. Dalam Perjanjian Lama dituliskan bagaimana kejahatan manusia, ketidak-setiaan manusia kepada Tuhan, bahkan para pemimpin pemerintahan dan pemimpin agamapun melakukan hal yang sama. Kondisi ini menjadikan manusia berpikir bahwa kedatangan Allah ke dunia ini pasti akan menghakimi mereka dan membuat perhitungan dengan manusia atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan.

Kenyataannya kedatangan Tuhan Yesus tidaklah demikian. Prakarsa Allah untuk menyelamatkan manusia jelas tertulis dalam Yoh 3: 17. Prakarsa untuk menyelamatkan manusia ini diwujudkan dengan cara:

  • Memberitahu manusia bahwa keselamatan hanya akan didapat jika orang percaya kepada Tuhan Yesus (Yoh. 3 : 16, 18).
  • Hidup dalam kebenaran Allah (hidup dalam terang). Orang yang hidup benar pasti mendekat kepada Sang Terang, karena tidak khawatir akan diketahui kejahatannya sebab mereka tidak melakukan kejahatan.
  • Menyadarkan manusia bahwa keselamatan yang diberikan manusia itu murni karena anugerah/ pemberian Allah. Sejarah nenek moyang bangsa Israel telah membuktikan bahwa dengan upaya sendiri manusia selalu gagal menepati janjinya dengan Allah. Manusia selalu gagal melakukan kebaikan seperti yang Tuhan kehendaki.
  • Memberikan pengampunan kepada manusia atas segala dosa-dosanya.

Upaya Allah dalam menyelamatkan manusia ini lebih ditegaskan lagi oleh kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Kedatangan dalam wujud pribadi manusia ini tentunya akan menjadikan manusia lebih mudah mengerti dan memahami kehendak Allah tersebut. Kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang menyelamatkan ini dilakukan juga dalam sebuah keteladanan hidup. Tuhan Yesus memberi teladan bagaimana manusia hidup benar di hadapan Allah. Melakukan kebenaran di hadapan Allah bukan dalam upaya manusia agar diselamatkan. Tetapi dengan kebenaran yang dilakukan itu menjadikan manusia tidak menjauhkan diri dari hadapan Allah karena merasa tidak ada hal-hal yang perlu disembunyikan.

Melakukan kebenaran ini juga diteladankan oleh Tuhan Yesus supaya manusia merasa tidak ada penghalang hubungannya dengan Tuhan. Hal ini yang mengantar manusia dalam percaya penuh kepada Tuhan. Percaya penuh pada Tuhan berarti juga menerima kehadiran Tuhan Yesus dalam hidupnya. Dan menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya berarti termasuk orang yang diselamatkan.

Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia untuk menyelamatkan manusia ini seharusnya menyadarkan manusia (kita semua) bahwa tidak ada keselamatan di tempat lain. Tidak ada pihak lain yang bisa menyelamatkan manusia dan juga tidak ada perbuatan apapaun yang bisa menyelamatkan manusia. Adalah salah kalau ada yang berpikiran bahwa dengan perbuatan baiknya manusia dapat menyelamatkan hidupnya, atau karena ibadahnya maka manusia bisa diselamatkan (lihat bacaan II). Sepanjang sejarah menunjukkan bahwa manusia bisa diselamatkan hanya karena pengampunan Allah. Dan dari anugerah pengampunan inilah manusia diselamatkan. Itulah cinta kasih Allah yang tidak terbatas untuk manusia. Apapun yang terjadi dengan manusia, Allah tetap ingin menyelamatkan mereka. Oleh karena itu jangan mencari keselamatan pada pihak lain atau tempat lain selain Tuhan Yesus Kristus. Namun demikian, melakukan hal yang benar di hadapan Tuhan, yang baik, setia dalam peribadatan, dll tetap diperlukan sebagai perwujudan hidup dalam terang. Orang yang hidup dalam kebanaran Allah itulah yang berani datang kepada terang.

Penutup
Kini, jelaslah bagi kita bahwa kedatangan Tuhan Yesus adalah untuk menyelamatkan kita dengan memberikan pengampunan dan memberi teladan hidup benar di hadapan Allah. Kedatangan Kristus tidak menakut-nakuti, apalagi menakutkan. Oleh karena itu adalah tidak benar jika orang ditantang untuk bertobat dengan ancaman hukuman neraka. Sebab kenyataannya Tuhan Yesus datang ke dunia ini tujuan utamaNya bukanlah menghukum manusia atau membinasakan manusia. KedatanganNya justru untuk menyelamatkan mereka. Oleh karena itu, untuk apa kita takut? Keselamatan yang kita peroleh juga bukan karena pertobatan kita yang terjadi karena takut dengan ancaman neraka. Keselamatan kita hanya karena anugerah pemberian Allah. Jadi, mari kita kikis pemahaman bahwa Tuhan Yesus datang untuk menghukum kita. Sebaliknya, Tuhan Yesus datang adalah untuk menyelamatkan kita dari penghukuman kekal. Allah kita bukanlah Allah yang kejam, tetapi justru Allah yang penuh kasih dan pengampunan. Amin. (YM).

Nyanyian: KJ 39 : 1, 2.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
RAWUH KANGGE MILUJENGAKEN
(Jejer : Yokanan 3 : 17)

Pambuka
Rawuhipun tiyang sanes adatipun ndadosaken pitakenan tumprap tiyang ingkang dipun dhatengi. Punapa tujuanipun? Menawi tujuanipun sae, punika tamtu mbingahaken. Kosokwangsulipun menawi tujuanipun awon tamtu badhe ndadosaken was sumelang lan ndadosaken ajrih. Mekaten ugi ing bab rawuhipun Gusti Yesus ing alam donya punika. Menawi tujuanipun njegsani (kados dene ingkang dipun mangertosi tiyang kathah), tamtu rawuhipun Gusti punika ndadosaken raos ajrih. Kosokwangsulipun, menawi rawuhipun Gusti punika kangge milujengaken jagad (kados ingkang kaserat ing Yokanan 3 : 17), tamtu prekawis punika mbingahaken. Cetha sanget, bilih tujuan rawuhipun Gusti Yesus ing alam donya punika kangge milujengaken ndonya supados boten tumpes. Pramila sampun samesthinipun menawi sedaya tiyang kedah nampi rawuhipun kanthi suka bingah.

Isi
Boten saged dipun selaki bilih Gusti Yesus rawuh ing alam donya punika nalika kawontenaning jagad saweg boten sae. Ing Perjanjian Lami kaserat kados pundi durakaning manungsa, anggenipun nyingkur Gusti, mekaten ugi pangarsaning pemerintah lan agama ugi nindakaken prekawis ingkang sami. Kawontenan punika ndadosaken manungsa menggalih bilih rawuhipun Allah ing jagad tamtu badhe njegsani manungsa dan damel pitungan kaliyan manungsa awit saking dosa-dosanipun.
Nyatanipun, rawuhipun Gusti Yesus boten mekaten. Allah ingkang kagungan kersa milujengaken manungsa cetha kaserat ing Yokanan 3 : 17. Karsanipun Gusti kangge milujengaken manungsa punika kawujudaken kanthi cara:

  • Paring dhawuh dhateng manungsa bilih kawilujengan punika namung saged katampi dening tiyang ingkang pitados dhateng Gusti Yesus (Yok. 3 : 16, 18).
  • Gesang ing salebeting kayekten (gesang ing pepadhang). Tiyang ingkang leres tamtu kepingin tansah celak kaliyan Sang Pepadhang, awit boten kuwatos badhe kadenangan awonipun, jer para tiyang kalawau pancen boten nindakaken piawon.
  • Paring pangertosan dhateng manungsa bilih kawilujengan ingkang kaparingaken dhateng manungsa punika inggih namung kanugrahan/ peparingipun Allah. Ing sejarah leluhuripun bangsa Israel sampun kabukti bilih kanthi pambudidayanipun piyambak manungsa boten kasil nindakaken kayekten kados dene ingkang kakersakaken dening Gusti.
  • Paring pangapunten dhateng manungsa awit saking sedaya dosa-dosanipun.

Pambudidayanipun Allah kangge milujengaken manungsa punika langkung cetha malih kanthi rawuhipun Gusti Yesus Kristus. Rawuhipun Gusti ingkang awujud pribadining manungsa punika tamtu ndadosaken manungsa langkung gampil mangertos ing bab karsanipun Allah kalawau. Rawuhipun Gusti Yesus Kristus ingkang milujengaken jagad punika ugi katindakaken ing salebeting tuladha gesang. Gusti Yesus paring tuladha kados pundi gesang ingkang leres ing ngarsanipun Allah. Nindakaken gesang ingkang leres ing ngarsanipun Allah boten awit saking kepingin kawilujengaken. Ananging kanthi nindakaken punapa ingkang leres ing ngarsanipun Gusti punika ndadosaken manungsa boten nebihaken gesangipun saking ngarsanipun Gusti, awit manungsa rumaos boten ajrih kadenangan nindakaken piawon. Gusti Yesus sampun paring tuladha nindakaken kayekten supados manungsa boten ngraosaken wontenipun pepalang ing sesambetanipun kaliyan Gusti. Prekawis punika ndadosaken manungsa saged pitados saestu dhumateng Gusti. Pitados saestu dhumateng Gusti ugi ateges nampi rawuhipun Gusti Yesus ing salebeting gesangipun. Mekaten ugi saged nampi Gusti Yesus ing salebeting gesangipun ugi ateges kalebet ing para tiyang ingkang kawilujengaken dening Gusti.

Rawuhipun Gusti Yesus ing jagad kangge milujengaken manungsa punika kedahipun saged paring pangertosan dhumateng kita sami bilih boten wonten kawilujengan ing papan sanes. Boten wonten pihak sanes ingkang saged milujengaken manungsa lan ugi boten wonten tumindak ingkang saged milujengaken manungsa. Saestu lepat menawi wonten tiyang ingkang gadhah pamanggih bilih kanthi tumindak sae manungsa saged milujengaken gesangipun, utawi kanthi pangibadah manungsa saged wilujeng (mugi kapirsanan waosan II). Ing salebeting sejarah nedahaken bilih manungsa saged kawilujengaken inggih namung krana sih pangapuntenipun Allah. Lah awit saking kanugrahan awujud pangapuntening dosa punika manungsa saged wilujeng. Punika katresnanipun Allah ingkang tanpa winates tumrap manungsa. Kadosa pundi kawontenaning manungsa, Allah tansah kepingin milujengaken manungsa. Pramila sampun ngantos kita pados kawilujengan ing pihak sanes utawi papan sanes, kejawi namung ing Gusti Yesus Kristus. Ewasemanten, nindakaken kayekten, prekawis ingkang leres ing ngarsanipun Allah, setya tuhu ing pangabekti, lsp inggih tansah kabetahaken minangka wujud gesang ing salebeting pepadhang. Awit inggih namung tiyang ingkang gesang ing kayekten punika ingkang wantun sowan ing ngarsaning Sang Pepadhang.

Panutup
Samangke, saestu cetha tumrap kita bilih rawuhipun Gusti Yesus punika kangge milujengaken kita kanthi paring pangapuntening dosa lan ugi paring tuladha ing bab gesang ingkang leres ing ngarsanipun Allah. Rawuhipun Sang Kristus boten ngajrih-ajrihi. Pramila boten leres menawi wonten tiyang ingkang dipun tanting supados mratobat kanthi ancaman kaukum ing nraka. Kasunyatanipun Gusti Yesus rawuh ing jagad kanthi tujuan ingkang utami boten paring paukuman dhumateng manungsa utawi numpes manungsa. Rawuhipun Gusti malah kangge paring kawilujengan dhumateng manungsa. Pramila, kenging punapa kita ajrih? Kawilujengan ingkang kita tampi ugi boten awit saking pamratobat kita ingkang kita tindakaken awit saking ajrih dening paukuman nraka. Kawilujengan kita inggih namung awit saking sih kanugrahanipun Allah. Pramila, sumangga kita sirnakaken pamanggih bilih Gusti Yesus rawuh kangge paring paukuman dhateng kita. Kosokwangsulipun, Gusti Yesus rawuh inggih kangge milujengaken kita saking paukuman langgeng. Allah kita sanes Allah ingkang kejem, nanging Allah ingkang kebak ing katresnan lan pangapunten. Amin. (YM)

Pamuji: KPK 261 : 1, 2.

Kata Kunci Artikel Ini:

Comments are closed.