wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 14 PEBRUARI 2016
PRAPASKAH 1
STOLA UNGU

 

Bacaan 1 : Ulangan 26: 1-11 (Kid. Kontekstual 8: 1, 2)
Bacaan 2 : Roma 10: 8b-13
Bacaan 3 : Lukas 4: 1-13
Mazmur : Mazmur 91: 1-2, 9-16

Tema Liturgis : Mengosongkan diri dan makin mengenal Allah.
Tema Minggu : Mengosongkan diri adalah kekuatan.

Keterangan Bacaan
Ulangan 26: 1-11
Umat Israel diperintahkan untuk mempersembahkan buah sulung dari hasil panen pertama mereka setelah menduduki tanah perjanjian. Persembahan buah sulung diatur sedemikian rupa secara ritual, maksudnya mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari nenek moyang yang menderita penindasan dan penganiayaan sebelum Allah dalam kebaikan-Nya bertindak dan mengubah mereka dari kaum budak menjadi umat Allah yang bebas dan diberkati. Allah memberi mereka tanah perjanjian berlimpah susu dan madu. Dengan demikian persembahan hasil pertama itu keluar dari hati yang meluap dengan syukur atas kebaikan Tuhan dan pengakuan tentang hak Tuhan.

Roma 10: 8-13
Pengakuan dengan mulut dan kepercayaan di dalam hati mengacu kepada tanggapan lahiriah dan tanggapan batiniah orang percaya. Keyakinan batiniahnya harus terungkap secara lahiriah. Ketika dia mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, dia sedang menegaskan keilahian Kristus, dan kenyataan bahwa hidup orang percaya adalah milik-Nya. Kepercayaan seseorang akan kebangkitan menunjukkan bahwa dia mengetahui Allah bertindak dan menang di kayu salib. Orang yang mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan dan memiliki keyakinan itu akan memperoleh keselamatan.
Istilah Tuhan dipakai untuk “menterjemahkan” nama pribadi Tuhan Allah, yaitu Yahweh. Untuk mengalami “keselamatan” ini, orang harus mengaku bahwa Yesus adalah Yahweh, Tuhan Allah. Orang harus percaya dan mengaku Yesus sebagai Tuhan untuk diselamatkan. Jika kita mengaku Tuhan Yesus dengan mulut, dan percaya kepada Dia dengan hati, maka kita akan diselamatkan, atau diluputkan, dari murka Allah yang saat ini “sedang dinyatakan dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia” (Roma 1:18).

Lukas 4: 1-13
Yesus dipersiapkan dan diperlengkapi untuk menghadapi pencobaan itu. Ia penuh dengan Roh Kudus, yang turun ke atas-Nya dalam rupa burung merpati. Sekarang Ia memiliki karunia, anugerah, dan penghiburan yang lebih besar dari Roh Kudus dibanding sebelumnya.
Dengan dibawa ke padang gurun:

  • Kristus memberikan keuntungan kepada si pencoba, karena di sana Dia akan sendirian saja, tanpa ada yang membantu. Yesus memberi kesempatan yang menguntungkan kepada Iblis karena Dia mengenal kekuatannya sendiri.
  • Kristus memperoleh keuntungan bagi diri-Nya selama berpuasa empat puluh hari. Kita bisa menduga bahwa selama itu Ia telah melakukan perenungan yang sangat mendalam, dan memikirkan secara cermat semua tugas dan pekerjaan yang ada di hadapan-Nya. Ia menghabiskan segenap waktu-Nya untuk bercakap-cakap secara langsung dan akrab dengan Bapa.
  • Ia menunjukkan bahwa Ia sama sekali tidak tertarik pada dunia ini. Dengan berpuasa Ia menunjukkan bahwa Ia sama sekali tidak tertarik pada hal-hal duniawi.

Pada akhir puasa-Nya itu Iblis mendekati-Nya, ketika Ia merasa lapar (ay. 2). Mungkin saja, Yesus mulai melihat-lihat pepohonan yang ada, mencari-cari apakah ada sesuatu yang dapat dimakan. Dari situlah Iblis mengambil kesempatan untuk mengajukan berbagai usul berikut ini kepada-Nya:
1. Iblis mencobai Dia untuk tidak mempercayai pemeliharaan Bapa-Nya kepada-Nya dan mengusahakannya sendiri saja dengan cara-Nya sendiri yang tidak ditentukan Bapa bagi-Nya (ay. 3), Jika Engkau Anak Allah, seperti yang dinyatakan suara dari langit itu, suruhlah batu ini menjadi roti.
Kristus tidak tunduk pada pencobaan itu. Ia tidak mengubah batu itu jadi roti.

  • Pertama, Ia tidak mau melakukan mujizat yang diminta Iblis. Karena mujizat hanya dilakukan untuk meneguhkan iman, dan Iblis tidak memiliki iman yang perlu diteguhkan. Itulah sebabnya Ia tidak mau membuat mujizat bagi Iblis. Ia hanya membuat tanda-tanda di depan murid-murid-Nya (Yoh. 20:30). Tetapi di padang gurun ini, tidak seorang murid pun yang ada bersama-Nya.
  • Kedua, Ia tidak mau membuat mujizat bagi diri-Nya sendiri dan untuk memenuhi kebutuhan-Nya sendiri. Ia datang bukan untuk menyenangkan Diri sendiri, tetapi untuk menanggung kesengsaraan manusia.

Ia membalas dengan jawaban yang diambil dari Kitab Suci (ay. 4), Ada tertulis. Ini adalah kata pertama yang dicatat sebagai kata yang diucapkan Kristus setelah pelantikan-Nya dalam jabatan Nabi. Ayat-ayat yang diucapkan-Nya adalah kutipan dari Perjanjian Lama, untuk menunjukkan bahwa Ia datang untuk menegaskan dan memelihara wewenang (otoritas) Kitab Suci yang tidak dapat diperbantahkan, bahkan oleh Iblis sendiri. Meskipun Ia memiliki pengajaran sendiri untuk disampaikan sesuai dengan Kitab Suci.

2. Iblis mencobai Yesus untuk menerima kerajaan dari tangannya dan supaya Ia mau menyembah Iblis (ay. 5-7). Iblis memberikan penglihatan kepada-Nya tentang semua kerajaan dunia, Iblis meminta Kristus menyembah dia (Iblis) sendiri. Mungkin ia tidak bermaksud untuk melarang Yesus menyembah Allah, tetapi ia meminta-Nya menyembah dia dalam hubungannya dengan Allah.
Yesus melancarkan serangan menentukan yang berhasil memukul mundur Iblis, yaitu menolaknya (ay. 8), “Enyahlah Iblis!” Pencobaan seperti ini tidak perlu ditimbang-timbang lagi, tetapi harus segera ditolak. Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu; dan bukan itu saja, hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti, Dia.

3. Iblis mencobai Kristus untuk menjadi pembunuh diri-Nya sendiri, dengan menyuruh Dia mencobai perlindungan Bapa-Nya.“Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah (ay. 9)
Kristus mengalahkan Iblis dengan mengutip Ulangan 6:16 yang berbunyi, “Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu,” dengan menginginkan suatu tanda untuk membuktikan kuasa-Nya.

  • Kristus berhasil mempertahankan kedudukan-Nya dan tampil sebagai pemenang. Iblis kemudian meninggalkan medan pertempuran, Ia mundur dari pada-Nya. Ia menganggap sudah tidak ada gunanya lagi menyerang Yesus. Tidak ada pada-Nya bagian yang lemah atau yang tak terlindung. Maka Iblis menyerah kalah.
  • Namun, Iblis tetap melanjutkan kedengkiannya terhadap Kristus, dan mengundurkan diri dengan niat menyerang-Nya lagi. Iblis mengundurkan diri untuk sementara saja, achri kairou – sampai suatu masa, atau sampai suatu waktu ketika ia memiliki kesempatan lagi atas-Nya. Ia akan menyerang-Nya lagi, tetapi bukan sebagai seorang penggoda, ia akan berperan sebagai seorang penganiaya, untuk membuat-Nya menderita.

Benang merah 3 bacaan
Ketiga bacaan bisa menggambarkan pengosongan diri dari kuasa kenikmatan duniawi demi keselamatan kekal menjadi kekuatan mengalahkan pencobaan. Yesus melakukan puasa. Orang Israel diwajibkan menyerahkan persembahan syukur kepada Tuhan sebagai pengakuan akan Tuhan sebagai sumber berkat dan pembebasan dari perbudakan. Orang harus percaya kepada Yesus sebagai Tuhan.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan
Di dunia di manapun kita berada dan melakukan apapun selalu ada pencobaan. Apalagi bila kita sedang berada dalam kekurangan, kesulitan, penderitaan dan kepahitan, pecobaan akan segera mendatangi kita. Semua pencobaan itu menggoda kita untuk menghindarkan diri dari kesulitan, kesengsaraan dan untuk memperoleh kenikmatan. Contohnya, pergi berbelanja untuk kepentingan kantor, orang disodori kwitansi atau nota kosong untuk diisi sendiri sesuai yang dikehendaki sendiri, bukan sesuai dengan harga belanjaannya. (bisa menunjukkan kertas kwitansi atau nota dan pulpen). Dengan kertas dan pulpen begini orang digoda untuk melakukan korupsi. Masih sangat banyak, terlalu banyak untuk disebut, pencobaan yang menyerang hidup kekristenan kita. Intinya apapun yang kelihatan, bahkan yang di gereja sekalipun, dan juga yang tidak kelihatan bisa menjadi pencobaan terhadap kita. Jika tidak kuat mengalahkannya, kita bisa jatuh dan tidak “selamat”.

Kita membutuhkan kekuatan untuk menghadapi dan mengalahkan berbagai pencobaan dalam hidup kita. Bagaimana kekuatan itu bisa kita dapatkan? Mari kita lihat dan renungkan ketiga bacaan Alkitab kita hari ini!

Isi
Roh Kudus turun kepada Tuhan Yesus dalam rupa burung merpati ketika Dia dibaptis, sebelum peristiwa pencobaan di padang gurun ini. Dengan hikmat Roh Kudus Dia dapat memberi jawab dengan jitu atas semua pencobaan yang menyerangNya. Sehingga, Iblis kalah dalam pencobaannya.

Tuhan Yesus berpuasa selama 40 hari penuh di padang gurun. Selama puasa itu Dia tidak makan apa-apa. Kita bisa menduga bahwa selama itu Dia melakukan perenungan yang sangat mendalam. Dia memusatkan pikiran-Nya secara penuh dan cermat pada semua tugas dan pekerjaan yang ada di hadapan-Nya. Dia menghabiskan sepenuh waktu-Nya untuk bercakap-cakap secara langsung dan akrab dengan Bapa. Dia tidak memikirkan apapun tentang apa yang ada di sekitarNya. Dia tidak memikirkan kenikmatan ataupun kebutuhan fisik duniawiNya. Dia mengosongkan diriNya dari keinginan untuk memperoleh kenyamanan dan kenikmatan fisik dunia. Dengan puasa Dia bisa mengendalikan diri dari keinginan bahkan kebutuhan duniawiNya.

Tuhan Yesus diiming-imingi nikmatnya makanan yang dibutuhkanNya, mulianya kekuasaan sebagai raja, serta keamanan/ perlindungan dari bahaya. Tetapi Dia samasekali tidak tergoda, sekalipun Dia sadar bahwa Dia adalah Anak Allah yang dikasihi BapaNya. Dengan sepenuhnya Dia menyadari bahwa kedatanganNya di dunia ini bukan untuk mencari ataupun memperoleh kenikmatan, kemuliaan dan keamanan. Bahkan Dia rela mengorbankan semua itu. Sebaliknya, Dia datang untuk menanggung kesengsaraan, penghinaan dan kematian demi keselamatan umat manusia. Kenikmatan, kemuliaan dan keselamatan/ kehidupan itu memang menjadi hakNya. Tetapi semua itu akan diterimaNya dari Allah Bapa sendiri pada waktunya kelak, bukan dari Iblis pada saat ini di padang gurun.

Pengakuan bahwa Allah sebagai sumber segala anugerah bisa menjadi kekuatan menghadapi dan mengalahkan pencobaan. Orang Israel menghadapi pencobaan dari subur dan kayanya tanah Kanaan yang diberikan kepada mereka. Sebagai anugerah Tuhan, kesuburan dan kekayaan itu harus disyukuri dengan persembahan kepada Tuhan. Nikmatnya kesuburan dan kekayaan negeri itu tidak boleh menguasai kehidupan mereka, sehingga mereka melupakan Allah Sang sumber anugerah itu. Anugerah kesuburan dan kekayaan tanah itu merupakan tambahan anugerah fundamental yang sebelumnya, yakni keselamatan atau kebebasan dari perbudakan di Mesir.

Anugerah keselamatan kekal diberikan kepada setiap orang yang mengakui dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan. Pengakuan di mulut dan kepercayaan di hati kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan, sebagai Penguasa, akan memberi kekuatan menghadapi dan mengalahkan pecobaan yang menyerang orang percaya. Karena, keselamatan kekal itu adalah anugerah yang terutama. Dan itu hanya bisa diberikan oleh Tuhan Yesus. Menanggapi atau menerima pencobaan berarti akan kehilangan keselamatan kekal, anugerah yang melebihi segalanya itu.

Penutup
Kita akan mendapat kekuatan untuk menghadapi dan mengalahkan segala pencobaan yang menyerang hidup kita dengan:

  1. Memohon Roh Kudus selalu tinggal di dalam hati kita. Kita memohon Roh Kudus membimbing dan mengarahkan jiwa dan pikiran kita kepada kesadaran akan kebenaran, anugerah dan kekuasaan Tuhan atas hidup kita. Kita memohon Roh Kudus menyucikan dan memurnikan akal budi kita. Kita memohon Roh Kudus memberi kita hikmat untuk menemukan jawaban yang jitu atas segala macam pencobaan.
  2. Berlatih mengendalikan diri dari keinginan untuk selalu mendapat kenyamanan, kenikmatan, pujian, keamanan dan kedamaian. Latihan pengendalian diri ini bisa dilakukan dengan berpuasa: tidak makan apa-apa, mengurangi porsi makan pada waktu-waktu atau selama periode tertentu, sengaja memakan makanan yang tidak disukai paling sedikit seminggu sekali. Latihan ini juga bisa dilakukan dengan sengaja melakukan sesuatu yang tidak disukai tetapi berguna bagi diri sendiri atau bagi orang lain.
  3. Selalu menyediakan waktu khusus untuk berkomunikasi dengan akrab -secara pribadi atau bersama keluarga- dengan Tuhan setiap hari. Dalam komunikasi itu kita selalu menyadari tanggung jawab kita sebagai anak Bapa, dan selalu menyadari besarnya kasih Bapa kepada kita.
  4. Lebih sering mensyukuri segala wujud kasih dan karya Tuhan yang kita alami, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang ajaib maupun yang sangat sederhana. Untuk itu kita perlu mencari atau mengingat segala wujud kasih dan karya Tuhan dalam hidup kita setiap hari.
  5. Selalu menyadari dan mengakui bahwa keselamatan adalah kebutuhan yang utama. Keselamatan itu hanyalah anugerah pemberian Tuhan, hanya Dia yang bisa melakukannya untuk kita.
    Tuhan pasti membimbing dan menolong kita. Amin. [st]

Nyanyian: KJ 436: 1, 2/ 438: 1, 4.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Ing alam donya pundia kemawon kita mapan lan nindakaken samukawis mesthi tansah wonten pacoben. Menapa malih menawi kita saweg ngalami kacingkrangan, pakewet, kasangsaran lan rekaosing gesang, pacoben badhe enggal-enggal mrepegi kita. Sedaya pacoben menika nggodha kita nyingkiri pakewet, kasangsaran lan kangge nampeni kanikmatan. Upaminipun, menawi saweg blanja kangge kapentinganing kantor, tiyang dipun aturi kwitansi utawi nota ingkang dereng dipun serati, kapurih ngisi piyambak manut pikajengipun piyambak, boten cocog kaliyan regining blanjan. (prayogi dipun tedahaken kwitansi utawi nota lan pulpen). Klayan kertas lan pulpen menika tiyang kagodha nindakaken korupsi. Taksih kathah sanget, klangkung kathah saged kasebat, pacoben ingkang nempuh gesanging kekristenan kita. Wosipun, menapaa kemawon ingkang katon -kalebet ingkang wonten ing greja- lan ugi menapa ingkang boten katon gampil dados pacoben tumrap gesang kita. Menawi kita boten kiyat nelukaken, kita badhe dhumawah lan boten “slamet”.

Kita mbetahaken kakiyatan kangge ngadhepi lan nelukaken sedaya pacoben ing gesang kita. Kados pundi marginipun kita saged pikantuk kakiyatan menika? Mangga kita nggegilut tigang waosan Kitab Suci kita dinten menika!

Isi
Roh Suci tumedhak dhumateng Gusti Yesus awujud peksi dara nalika Panjenenganipun kabaptis, saderengipun cariyos pacoben ing ara-ara menika. Klayan wangsiting Sang Roh Suci menika Gusti Yesus saged pikantuk wangsulan ingkang maton sanget tumrap pacoben ingkang nempuh Panjenenganipun. Satemah, Iblis kasoran ing panggodhanipun.

Gusti Yesus nindakaken siyam sekawan dasa (40) dinten muput dangunipun ing ara-ara. Sadanguning siyam menika Gusti Yesus boten dhahar menapa-menapa. Sadanguning siyam menika Gusti Yesus mesthinipun nindakaken perenungan yang sangat mendalam. Panjenenganipun ngeningaken cipta, ngeneraken penggalihipun sawetah dhateng sedaya jejibahan lan pakaryan ingkang cumawis ing ngajeng kagem Panjenenganipun. Mesthinipun Gusti Yesus sesambetan lan wawan pangandikan kanthi raket kaliyan kang Rama. Panjenenganipun boten nggagas menapaa kemawon ingkang wonten ing sakiwa tengenipun. Panjenenganipun boten menggalih kanikmatan utawi malah kabetahaning raga kadonyanipun. Panjenenganipun ngrucat sedaya pepinginan kangge pikantuk kenyamanan lan kanikmataning donya. Srana siyam Panjenenganipun saged ngendhaleni dhiri saking pepinginan malah kabetahaning raga kadonyanipun.

Gusti Yesus dipun iming-imingi nikmating tetedhan ingkang dipun betahaken, mulyaning panguwasa minangka ratu, sarta keamanan saking bebaya. Nanging Panjenenganipun boten keguh, boten kepencut babar pisan, nadyan Gusti Yesus pirsa bilih Panjenenganipun menika Putraning Allah ingkang dipun tresnani dening Sang Rama. Kanthi sawetahipun Gusti Yesus nyadhari bilih rawuhipun ing jagad menika sanes kangge ngupadi utawi nampeni kanikmatan, kamulyan lan keamanan. Malah Panjenenganipun lila ngurbanaken sedayanipun menika. Kosokwangsulipun, Panjenganipun rawuh ing jagad saperlu nanggel kasangsaran, penghinaan lan seda kangge kawilujenganing umat manungsa. Kanikmatan, kamulyan lan kawilujengan/ gesang menika pancen badhe dipun tampeni. Nanging sedaya menika badhe kaparingaken dening Sang Rama ing titi mangsanipun, sanes saking Iblis samangke ing ara-ara samun.

Pengaken bilih Gusti Allah dados tuking sadaya kanugrahan saged dados kakiyatan ngadhepi lan nelukaken pacoben. Bangsa Israel ngadhepi pacoben saking negari ingkang gemah ripah loh jinawi, ingkang dipun paringaken dening Gusti Allah. Minangka peparingipun Gusti Allah, gemah lohing tanah Kenaan kedah dipun sukuri klayan nyaosaken pisungsung dhumateng Gusti. Nikmating negari ingkang gemah ripah loh jinawi menika sampun ngantos ngereh gesangipun bangsa Israel, sampun ngantos ndamel bangsa menika kesupen dhateng Gusti Allah minangka tuking kanugrahan. Kanugrahan gemah lan lohing negari menika dados wuwuhing kanugrahan ingkang adi piyambak saderengipun, nggih menika karahayon utawi pangluawaran saking pangawulan ing tanah Mesir.

Kanugrahan karahayon langgeng dipun paringaken dhateng saben tiyang ingkang ngaken lan pitados dhateng Yesus Kristus minangka Gusti. Pengaken ing tutuk lan kapitadosan ing manah dhumateng Gusti Yesus Kristus badhe ndhatengaken kakiyatan ngadhepi lan nelukaken pacoben ingkang nempuh tiyang pitados. Awit karahayon langgeng menika kanugrahan ingkang pinunjul piyambak. Kanugrahan menika namung saged dipun paringaken dening Gusti Yesus Kristus. Nampeni lan sarujuk kaliyan pacoben sami kaliyan kecalan karahayon langgeng, kanugrahan ingkang nglangkungi samukawis menika.

Penutup
Kita badhe pikantuk kakiyatan kangge ngadhepi lan nelukakaen sedaya pacoben ingkang nempuh gesang kita menawi kita:

  1. Nyuwun Roh Suci tansah dedalem ing manah kita. Kita nyuwun Roh Suci ngereh lan nuntun jiwa lan pikiran kita supados kita tansah nyadhari kayekten, kanugrahan lan panguwasanipun Gusti tumrap gesang kita. Kita nyuwun Roh Suci nucekaken lan memurnikan akal budi kita. Kita nyuwun Roh Suci paring kawicaksanan temah kita saged manggihaken wangsulan ingkang maton tumrap manekawarni pacoben.
  2. Nggladhi gesang kita ngendhaleni dhiri saking pepinginan kangge tansah pikantuk kenyamanan, kanikmatan, pangalembana, keamanan lan katentreman. Gladhen ngendhaleni dhiri menika saged katindakaken srana nindakaken siyam: boten dhahar menapa-menapa, nyuda tetedhan ing sawatawis wekdal, utawi sengaja nedha tetedhan ingkang boten dipun remeni sabotenipun seminggu sepisan. Gladhen ngendaleni dhiri menika ugi saged katindakan srana sengaja nindakaken prekawis ingkang boten kita remeni nanging piguna tumrap dhiri kita piyambak utawi kangge tiyang sanes.
  3. Tansah nyawisaken wekdal maligi kangge sesambetan kanthi raket kaliyan Gusti saben dinten, piyambakan utawi sesarengan kaliyan brayat. Ing sesambetan menika kita ngaosi tanggel jawab kita minangka putranipun Gusti, saha tansah ngaosi agunging sih katresnanipun Gusti dhateng kita.
  4. Langkung asring saos sokur atas sedaya wujuding sih katresnan lan pakaryanipun Gusti ingkang kita alami, dadosa ingkang ageng mekaten ugi ingkang alit, dadosa ingkang elok mekaten ugi ingkang prasaja. Ingkang menika kita prelu niteni, ngupadi sarta ngenget-enget sedaya wujuding sih katresnan lan pakaryanipun Gusti ing gesang kita saben dinten.
  5. Tansah ngrumaosi lan ngakeni bilih karahayon menika dados kabetahan ingkang pinunjul. Karahayon menika namung saged dipun paringaken dening Gusti. Namung Panjenenganipun ingkang saged nindakaken pakaryan karahayon menika kangge kita.

Saiba marem lan ayeming manah kita menawi kita saged nelukaken sedaya pacoben ingkang nempuh gesang kita. Pramila, mangga mbudidaya kakiyatan lair lan batos. Gusti tansah nuntun lan mitulungi kita. Amin. [st]

Pamuji: KPK 135: 1, 3/ Kid. Kontekstual 8: 1, 2.

 

MINGGU, 21 PEBRUARI 2016
PRAPASKAH 2
STOLA UNGU

 

Bacaan 1 : Kejadian 15: 1-12, 17-18
Bacaan 2 : Filipi 3: 17-4: 1
Bacaan 3 : Lukas 9: 28-36
Mazmur : Mazmur 27: 7-14

Tema Liturgis : Mengosongkan diri dan makin mengenal Allah.
Tema Minggu : Mengosongkan diri untuk siap menderita adalah kemuliaan.

Keterangan Bacaan
Kejadian 15: 1-12, 17-18
Dalam pasal ini kita mendapati sebuah perjanjian resmi yang diadakan antara Allah dan Abram perihal sebuah wasiat yang harus ditegakkan di antara kedua belah pihak. Di dalam pasal sebelumnya, kita telah membaca bahwa Abram tengah berada di medan perang bersama raja-raja, di sini kita mendapati Abram sedang berada di atas gunung bersama Allah. Meskipun di medan perang ia tampak agung, bagi penulis [Matthew Henry – pen.], tampaknya di sini ia jauh lebih agung lagi. Kehormatan dimiliki orang-orang besar di dunia ini, tetapi “kehormatan ini dimiliki oleh semua orang kudus.” Kovenan (perjanjian) yang harus dibangun antara Allah dan Abram adalah sebuah kovenan yang mengandung janji-janji. Inilah janji-janji itu,

  • Abram telah melakukan perbuatan baik yang terkenal dengan menyelamatkan sahabat-sahabat dan sesamanya dari bahaya. Sebuah perbuatan yang dilakukan tanpa bayaran dan suap. Setelah itu, Allah melakukan kunjungan kehormatan ini. Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan terhadap sesama manusia akan memperoleh kebaikan dari Allah.
  • Setelah kemenangan yang ia peroleh atas keempat raja itu, Allah datang mengunjunginya. Maksudnya supaya Abram tidak terlampau mabuk kemenangan, dan Allah ingin menyatakan bahwa Ia memiliki hal-hal yang lebih baik dalam perbendaharaan-Nya untuk diberikan kepada Abram. Perhatikanlah, percakapan penuh kepercayaan akan berkat-berkat rohani merupakan sarana istimewa untuk menjaga supaya kita tidak terlampau terseret oleh kesenangan-kesenangan dunia yang bersifat sementara. Anugerah-anugerah pemeliharaan ilahi yang diberikan secara umum tidak dapat dibandingkan dengan kovenan kasih itu.

    Allah menyatakan diri-Nya kepada Abram dalam suatu penglihatan, penglihatan dari kemuliaan hadirat Allah sebagaimana digambarkan dalam theologi Yudaisme, kemuliaan ilahi yang dapat dirasakan. Cara-cara pewahyuan ilahi diubah dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh pancaindra yang kita miliki untuk disesuaikan dengan keadaan kita.

    Allah memanggilnya dengan nama – Abram, sebuah panggilan kehormatan baginya. Panggilan itu membuat namanya agung, dan juga menjadi sebuah dorongan dan pertolongan besar bagi imannya.

    Allah memperingatkan keadaan hati Abram yang tidak tenang dan galau: Janganlah takut, Abram. Abram mungkin takut kalau-kalau keempat raja yang telah ia kalahkan akan kembali bersekutu, dan menghancurkannya. “Tidak,” Allah berfirman, “Janganlah takut. Jangan takut akan pembalasan mereka, juga akan iri hati sesamamu. Aku akan menjagamu.”

    Allah menjamin keselamatan dan kebahagiaan Abram: Akulah perisaimu. Berbahagia seperti Allah sendirilah yang membuat ia berbahagia: Aku akan menjadi upahmu yang sangat besar. Bukan saja sebagai pemberi upah kepadamu, melainkan menjadi upahmu. Abram telah menolak dengan sopan semua upah yang ditawarkan raja Sodom kepadanya, dan di sini Allah berkata kepadanya bahwa ia tidak akan rugi apa pun karena penolakannya itu.

Filipi 3: 17-4: 1
Kristen tidak lagi hidup secara daging. Rupanya di antara jemaat Filipi terdapat orang-orang yang memberi teladan salah. Mereka tidak menolak Injil dengan jalan mengandalkan usaha moral dan keagamaan mereka, sebaliknya mereka meniadakan kuasa Injil dengan menganjurkan kehidupan yang memenuhi nafsu tubuh (ayat 19). Dengan berbuat demikian, mereka hidup sebagai musuh salib Kristus (ayat 18). Lagi-lagi kehidupan Paulus adalah contoh tentang bagaimana hidup Kristen seharusnya.

Warganegara sorga. Dengan suatu kepastian yang kokoh, Paulus memberitahukan, bahwa jemaat Filipi adalah warga sorga yang tinggal di dunia ini (ayat 20). Keadaan jasmani kita kini bersifat sementara saja, sebab kelak kita akan diberikan tubuh surgawi yang mulia (ayat 21). Kita akan luput dari pengaruh keduniawian dengan hawa nafsunya yang membinasakan, bila kita ingat kedua kebenaran tersebut. Hiduplah sebagai warganegara sorga, bukan dunia ini.

Lukas 9: 28-36
Di sini diceritakan tentang pemuliaan (transfigurasi, “perubahan rupa”) Kristus, yang dirancang untuk memperlihatkan sekelumit kemuliaan-Nya yang di dalamnya Ia akan datang kelak untuk menghakimi dunia. Kemuliaan inilah yang akhir-akhir ini Ia bicarakan, supaya menjadi dorongan bagi murid-murid-Nya untuk bersedia menderita bagi-Nya, dan tidak usah merasa malu karena Dia.

Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah. Waktu Kristus merendahkan diri untuk berdoa, Ia pun dimuliakan. Wajah-Nya sangat bercahaya jauh melebihi Musa ketika turun dari gunung. Pakaian-Nya putih berkilau-kilauan hingga Ia tampak seperti berbajukan cahaya, terbungkus cahaya.

Di sini diceritakan tentang pembicaraan di antara Kristus dan kedua nabi besar itu. Mereka berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem, yang berarti kematian-Nya. Kematian Kristus disebutkan sebagai kepergian-Nya, hal Ia meninggalkan dunia. Musa dan Elia membicarakan kematian-Nya itu dengan memakai pengertian ini dengan maksud untuk memperdamaikan Dia dengan kematian-Nya, supaya Ia dapat menatapnya ke depan dengan lebih mudah bagi sifat manusia-Nya. Ia harus menggenapinya di Yerusalem, walaupun kebanyakan Ia tinggal di Galilea; sebab musuh-musuh yang sangat membenci-Nya ada di Yerusalem, dan di sanalah Mahkamah Agama (Sanhedrin), yang mengadili para nabi, berada.

Musa dan Elia membicarakan hal ini untuk menunjukkan bahwa segala penderitaan Kristus dan kemuliaan yang diperoleh-Nya itulah yang selama ini disebut-sebut oleh Musa dan segala kitab nabi-nabi (24:26-27; 1Ptr. 1:11). Bahkan ketika sedang berubah rupa pun, dalam kemuliaan pun Yesus bersedia berbicara mengenai kematian dan penderitaan-Nya.

Di sini diceritakan sesuatu yang sebelum ini tidak diberitahukan, yakni bahwa para murid telah tertidur (ay. 32). Waktu penglihatan itu mulai tampak, Petrus, Yakobus, dan Yohanes mengantuk dan ingin tidur. Boleh jadi ketika itu hari sudah malam, atau mereka letih.

Saat Musa dan Elia hendak meninggalkan Yesus Petrus berkata, “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah.” Manusia sering lalai dalam merasakan berharganya rahmat yang kita terima, dan baru sadar ketika akan kehilangan rahmat itu.

Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Orang-orang kudus itu tidak perlu dibuatkan tenda di bumi ini, karena mereka sudah memiliki istana-istana yang megah di sorga dan mereka lebih suka kembali ke sana.

Ketika masuk ke dalam awan itu, takutlah murid-murid itu. Awan ini secara lebih khusus menandai kehadiran Allah. Di dalam awanlah Allah dalam Perjanjian Lama menjadikan Kemah Suci dan Bait Suci sebagai milik-Nya, dan ketika awan itu menutupi Kemah Pertemuan, Musa tidak dapat memasukinya (Kel. 40:34-35). Ketika awan itu memenuhi Bait Suci, imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu (2Taw. 5:14). Awan seperti itulah yang tampak di sini. Jadi tidak mengherankan bila murid-murid juga takut masuk ke dalam awan itu.

Terakhir, dikatakan bahwa para rasul itu merahasiakan penglihatan ini. Pada masa itu, mereka tidak menceriterakan hal itu kepada siapa pun. Mereka menyimpannya untuk kesempatan lain, ketika bukti-bukti bahwa Kristus adalah Anak Allah telah digenapi.

Benang Merah 3 Bacaan
Salah satu hal yang ditunjukkan ketiga bacaan di atas adalah kemuliaan. Kesediaan Kristus menggenapi karya Allah dengan kematianNya di Yerusalem adalah suatu kemuliaan. Setelah menyelamatkan sahabat-sahabat dan sesamanya dari bahaya tanpa mau menerima upah, Abram menerima penglihatan kehadiran Allah dalam kemuliaan yang membawa janji baginya. Kesediaan meneladani Paulus yang rela menderita di dunia akan mendatangkan tubuh mulia ubahan Sang Kristus.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
Pendahuluan
Ada orang yang diagung-agungkan dan dimuliakan ketika mencapai jabatan tertentu untuk mengemban tugas besar. Contoh, Joko Widodo diagung-agungkan oleh masyarakat ketika dia dilantik menjadi Presiden Indonesia. Dia dilantik dan diagung-agungkan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab sangat besar sebagai presiden.

Isi
Pemuliaan Tuhan Yesus di atas gunung bersama nabi Musa dan nabi Elia adalah berkaitan dengan kematian yang akan dialamiNya untuk keselamatan umat manusia.

Pemuliaan itu terjadi ketika Dia berdoa di atas gunung. Ketika itu wajahNya berubah, bersinar, pakaianNya berkilau-kilauan. Dalam perubahan itu nampak kemuliaanNya yang sangat besar. Kemuliaan itu nampaknya tidak menyilaukan manusia. Sehingga, Petrus dkk bisa melihatnya. Kemuliaan Tuhan Yesus itu rupanya sangat menyenangkan. Sehingga, Petrus mau membuatkan tenda bagi Tuhan Yesus, Musa dan Elia. Petrus dkk maunya menikmati terus kemuliaan yang menyenangkan itu. Namun keinginan mereka tidak bisa dipenuhi. Tuhan Yesus dan mereka harus turun kembali dari gunung itu. Kemuliaan Tuhan Yesus itu tidak menakutkan. Memang Petrus dkk itu mengalami ketakutan. Tetapi yang menakutkan mereka bukanlah kemuliaan Tuhan Yesus itu, melainkan awan yang melimputi mereka.

Kemuliaan itu sangat besar bersama nabi Musa dan Elia. Kedua nabi besar ini adalah para pembebas umat Allah. Nabi Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Nabi Elia membebaskan bangsa Israel dari para berhala mereka. Untuk melakukan karya pembebasan itu, kedua nabi besar itu mengalami penderitaan yang sangat besar. Musa diberontak dan dibuat marah serta bersalah oleh bangsa Israel, sehingga dia tidak diijinkan masuk ke negeri perjanjian Tuhan. Elia ditolak oleh raja Ahab, bahkan dikejar-kejar hendak dibunuh sampai dia putus asa dan ingin mati saja. Tetapi pekerjaan sangat berat dan hebat itu membuahkan kemuliaan bagi mereka.

Dalam kemuliaan itu ketiganya membicarakan “kepergian” Tuhan Yesus yang akan digenapi di Yerusalem. KepergianNya ke Yerusalem itu tidak lain adalah untuk mengalami kesengsaraan, kematian dan kebangkitan untuk membebaskan umatNya dari perbudakan dosa yang mematikan. Tuhan Yesus berangkat dari kemuliaan bersama dua nabi besar itu untuk siap mengalami penderitaan menuju kepada kemuliaanNya kembali. Setelah pemuliaan di atas gunung itu Tuhan Yesus harus turun gunung untuk menggenapi kepergianNya ke dunia itu.

Demikianlah juga yang dialami oleh Abram dan orang-orang Kristen Filipi. Abram sesudah mebebaskan sahabat dan sesamanya dari Sodom (Kej. 14), dia harus mengalami pergumulan tentang siapa yang akan mewarisi kekayaannya. Tetapi Tuhan Allah menjanjikan berkat besar baginya. Orang-orang Kristen Filipi yang menjadi warga kerajaan sorga harus siap dan rela menderita seperti Paulus untuk memberitakan dan mewujudkan pembebasan dan kemuliaan Tuhan; toh penderitaan itu menuju perubahan tubuh mulia sorgawi.

Penutup
Kita semua adalah orang-orang yang sudah mendapat kemuliaan dari Tuhan. Kita mendapat kemuliaan karena kita telah dibebaskan dari kuasa dosa yang membinasakan oleh penderitaan, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

Sebagaimana Tuhan Yesus, Abram dan orang-orang Kristen Filipi, seharusnya kita siap mengalami penderitaan atau pergumulan melakukan karya pembebasanNya untuk menuju kepada kemuliaan yang kekal. Kita dibebaskan bukan hanya untuk menikmati kebebasan atau kemuliaan itu setiap saat sampai kekal. Setelah dimuliakan/ dibebaskan, kita diutus dan ditempatkan di dunia sementara ini. Kita diutus untuk memberitakan dan memperjuangkan karya pembebasan dan kemuliaan Kristus di dunia. Untuk itu, sangat mungkin kita akan mengalami penderitaan, kesengsaraan dan bahkan kematian. Tetapi pengutusan itu, juga jika mengalami penderitaan, adalah menuju kepada kemuliaan yang sempurna bagi kita. Karena itu, jika kita mengalami penderitaan dan kesengsaraan karena memenuhi pengutusan Tuhan itu, tidak perlu menyesal. Penderitaan dan kesengsaraan itu tidak perlu disesali, sebab kita akan diberi kemuliaan sempurna.

Demikian juga jika ada saudara kita harus mengalami penderitaan, kesengsaraan dan bahkan kematian karena memenuhi pengutusan itu, jangan terlalu disesali. Dimuliakanlah Tuhan di antara semua orang! Dimuliakanlah kita di hadapan Tuhan. Amin. [st]

Nyanyian: KJ 46: 1, 2, 5; Kid. Kontekstual 143; 45: 1-.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Wonten tiyang ingkang dipun mulyakaken karana nggayuh pangkat drajat inggil kangge netepi satunggaling jejibahan agung. Contonipun, Joko Widodo dipun subya-subya tuwin dipun mulyakaken dening tiyang kathah nalika dipun kepyakaken jumeneng Presiden Indonesia. Panjenenganipun dipun kepyakaken lan dipun mulyakaken kangge nindakaken jejibahan lan tanggel jawab agung minangka presiden ing negari kita.

Isi
Gusti Yesus kamulyakaken ing inggiling redi sesarengan kaliyan nabi Musa lan nabi Elia. Kamulyan menika gegayutan kaliyan sedanipun ingkang badhe dipun alami murih karahayoning umat manungsa.

Kamulyan menika kelampahan nalika Gusti Yesus ndedonga ing inggil redi. Nalika menika pasuryanipun ngalami ewah-ewahan lan agemanipun sumorot. Ing ewah-ewahaning pasuryanipun menika sumorot kamulyanipun ingkang agung. Kamulyanipun menika katingal boten damel manungsa ulap, temah Petrus lan sakabat sanesipun saged ningali. Kamulyanipun Gusti menika ketingalipun mbingahaken sanget, temah Petrus sakanca kepengin ngedegaken tarub kagem Gusti Yesus, nabi Musa lan Elia ing ngriku. Petrus sarencang kapengin tansah ngraosaken kamulyan ingkang mbingahaken menika saben wekdal. Nanging pepenginanipun boten saged kasembadan. Gusti Yesus lan para sekabat menika kedah mandhap malih saking redi menika. Kamulyanipun Gusti Yesus menika boten medèni. Pancen Petrus sarencang ngalami ajrih. Nanging ingkang murugaken ajrih menika sanes kamulyanipun Gusti. Piyambakipun ajrih nalika kalimputan ing mega.

Kamulyan menika saestu agung sesarengan kaliyan nabi Musa lan nabi Elia. Kekalihipun menika nabi ingkang ngluwari umatipun Allah. Nabi Musa ngluwari bangsa Israel saking pangawulan ing tanah Mesir. Nabi Elia ngluwari bangsanipun saking para brahalanipun. Kangge nindakaken pakaryan pangluwaran menika, nabi ageng kekalih menika ngalami kasangsaran ingkang ageng. Musa dipun tutuh (diberontak) lan kadamel duka sarta lepat dening bangsa Israel, temah boten dipun parengaken dening Allah lumebet ing tanah prajanjian. Nabi Elia dipun tampik dening raja Ahab, dipun oyak-oyak badhe kapejahan, ngantos panjenenganipun mupus lan kepengin pejah kemawon. Nanging pakaryan agung menika nuwuhaken kamulyan agung kagem kekalihipun.

Ing satengahing kamulyan menika tetiganipun ngrembag bab “tindakipun” Gusti Yesus dhateng kitha Yerusalem. Tindakipun Gusti Yesus dhateng Yerusalem menika boten sanes inggih badhe ngalami kasangsaran, seda lan wungu malih kangge ngluwari umatipun saking pangawulaning dosa. Gusti Yesus mangkat saking kamulyan sesarengan kaliyan kalih nabi ageng menika kangge cecawis sumadya ngalami kasangsaran ingkang tumuju dhateng kamulyan malih. Bakda kamulyakaken ing redi menika Gusti Yesus tedhak saking redi kangge netepi tindakipun dhateng jagad menika.

Mekaten ugi ingkang dipun alami dening Abram lan tiyang-tiyang Kristen ing Filipi. Abram sasampunipun ngluwari sedherek lan sesaminipun saking Sodom (Pur. 14), panjenenganipun ngalami sesanggening manah bab sinten ingkang badhe dados ahli warisipun. Nanging Gusti Allah prasetya paring berkah ageng kagem panjenenganipun. Tiyang-tiyang Kristen Filipi minangka warganing kraton swarga kedah cumadhang lan lila sangsara kados dene Rasul Paulus mawartosaken lan mujudaken pangluwaran lan kamulyanipun Gusti. Jer kasangsaran menika tumuju dhateng ewah-ewahaning raga ingkang mulya.

Panutup
Kita sedaya tiyang-tiyang ingkang sampun nampi kamulyan saking Gusti. Kita nampi kamulyan karana sampun kaluwaran saking dosa lumantar sangsara, seda lan wungunipun Gusti Yesus Kristus.

Kados dene Gusti Yesus, Abram lan tiyang-tiyang Kristen Filipi, kita kedahipun ugi cumadhang ngalami kasangsaran lan manggul salib nindakaken pakaryan pangluwaranipun Gusti kangge tumuju dhateng kamulyan langgeng. Kita kaluwaran boten namung supados menikmati pangluwaran lan kamulyan menika saben wekdal ngantos salaminipun. Sasampunipun dipun luwari lan dipun mulyakaken, kita kautus lan kapapanaken sawatawis ing jagad menika. Kita kautus kinen mawartosaken lan mujudaken pakaryan pangluwaran lan kamulyanipun Gusti Sang Kristus ing jagad menika. Satingkah polah lan kawontenaning gesang kita kedah dados pratandha kamulyanipun Gusti.

Ingkang menika, saged kemawon kita ngalami pakewed, kasangsaran lan malah kasedan. Nanging pengutusan menika, lan ugi kasangsaran menika, tumuju dhateng kamulyan ingkang sampurna kangge kita. Pramila saking menika, menawi kita ngalami pakewed lan kasangsaran karana netepi pengutusan menika, kita boten prelu getun. Awit pakewed lan kasangsaran ing salebeting pengutusan menika satunggaling kamulyan, eneripun tumuju dhateng kamulyan sampurna. Mekaten ugi menawi wonten sedherek kita ingkang kedah ngalami kasangsaran lan malah seda karana netepi pengutusan menika, boten prelu dipun getuni sanget-sanget. Kamulyakna asmanipun Gusti ing antawisipun sedaya tiyang! Kamulyakna kita ing ngarsanipun Gusti! Amin. [st]

Pamuji: KPK 20; 141; Kid. Kontekstual 143; 45: 1-.

Kata Kunci Artikel Ini:

khotbah minggu, kotbah minggu, rancangan khotbah gkjw, khotbah minggu ini, rancangan kotbah, khotbah minggu sengsara, kotbah gkjw, YEHEZKIEL 17:22-24, khotbah kenaikan tuhan yesus, amsal 9:1-6

Comments are closed.