wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 31 MEI 2015
MINGGU TRITUNGGAL KUDUS
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : Ulangan 4: 30-40
Bacaan 2         : Roma 8: 12-17
Bacaan 3         : Matius 28: 16-20

Tema Bulanan            : Roh Kudus membangun syalom bagi segala bangsa.
Tema Pekan    : Membagi syalom sampai kepelosok bumi.

 

Keterangan Bacaan

Ulangan 4:30-40

Perikop ini adalah bagian dari khotbah Musa yang diberikan sebelum ia meninggalkan Israel yang isinya mengingatkan kembali Israel akan apa yang dilakukan Tuhan Allah atas Israel. Allah telah melepaskan Israel dari kuasa Raja Firaun, raja Mesir yang kekuatannya jauh melebihi Israel. Ia telah memimpin Israel melewati padang gurun dan memilih Israel untuk menjadi umat perjanjianNya yang menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Mereka kini sudah sampai di Kades Barnea, daerah perbatasan dengan Tanah Kenaan. Sebelum mereka memasuki Tanah Perjanjian itu Musa berpesan supaya mereka tetap setia kepada Tuhan dan melakukan hukum-hukumNya, sehingga mereka dan anak cucu mereka dapat hidup sejahtera di Tanah PerjanjianNya itu.

Roma 8:12-17

Perikop ini adalah bagian dari surat Paulus kepada Jemaat Roma yang menyatakan bahwa di dalam Yesus Kristus kita telah dibebaskan dari hukuman dosa dan maut.  Kita tidak lagi berjalan menurut daging (nafsu kemanusiaan), tetapi menurut Roh.  Bagi yang berjalan menurut daging akan binasa, tetapi yang menurut Roh akan hidup.  Bahkan di dalam Roh itu kita disebut anak-anak Allah yang begitu dekat dan penuh kasih sehingga menyebut Allah “Abba” atau “Bapa”. Anak-anak Allah akan menerima warisan dari Allah, dan bersama Kristus jikalau kenyataannya sekarang kita menderita bersamaNya, kita juga akan dimuliakan bersamaNya pula.

Matius 28:16-20

Perikop ini merupakan pasal terakhir Injil Matius yang berisi Amanat Agung Tuhan Yesus setelah Ia menyelesaikan karya besarNya menyelamatkan manusia melalui kematianNya di atas salib dan kebangkitanNya. Ia telah memegang otoritas di surga dan di bumi.  Sebelum kenaikanNya, Ia berpesan kepada para muridNya supaya pergi; menjadikan semua bangsa murid Yesus; membaptis mereka dalam nama Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus; mengajar mereka untuk taat kepada perintahNya, dan Ia berjanji akan menyertai muridNya sampai akhir zaman.  Namun Amanat ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari tugas besar perintah membagi damai sejahteraNya secara utuh sebagaimana telah diungkapkan dalam Mat. 25:31-46 bahwa bangsa-bangsa nanti akan diadili, termasuk orang-orang Kristen.  Penilaian pengadilan itu didasarkan atas apa yang dilakukan orang terhadap Yesus yang mengidentifikasikan diri dengan mereka yang menderita, kecil seperti mereka yang lapar, haus, telanjang, terasing, sakit dan terpenjara.

Benang merah 3 bacaan

Di tengah kegagalan Israel untuk setia kepada Tuhan Allah, melalui kematian dan kebangkitanNya Yesus memperbarui perjanjianNya dengan umat Allah.  Bahkan Ia mengutus RohNya, sehingga para muridNya menyebut Allah “Abba” atau “Bapa”.  Dengan dijiwai roh keputraan itu para murid dipanggil untuk pergi ke segala bangsa untuk membagi damai sejahteraNya kepada yang menderita dan menjadikan mereka murid Kristus Sang Sabda yang setia.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Dengan perkembangan teknologi informatika, komunikasi dan transportasi, pelosok dunia manakah yang tidak dapat dijangkau?  Walaupun saya bersama isteri di Hongkong, tetapi setiap saat dapat berkomunikasi dan berbicara dengan anak-anak dan cucu di berbagai tempat di Indonesia melalui telepon, SMS, WhatsUp, Face Book, email.  Bahkan dapat berhadapan muka dengan muka berbicara dengan biaya yang sangat murah sekali melalui Skype.  Tidak masalah setiap hari saya dapat mengikuti berita dan menyalakan semua chanel TV di Indonesia melalui internet.  Namun belum semua penduduk dunia mendengarkan berita sukacita keselamatan Kristus dan betapa banyaknya yang masih menderita, tertindas, lapar, haus, telanjang, terasing, sakit dan terbelenggu, bahkan mereka yang berada di sekitar kita. Hal itu berarti bahwa amanat Tuhan Yesus ini masih sangat relevan dan penting.

Isi: Amanat Agung Kristus adalah membagi damai sejahtera melalui kehidupan

Banyak orang Kristen dan Gereja yang memahami bahwa Amanat agung  adalah pergi dan mengabarkan Injil.  Maka tidak heran  dengan semangat menggebu mereka pergi keluar gereja, keluar kota bahkan keluar negeri.  Karena “mengabarkan”, maka tindakan yang mendapatkan tekanan adalah kata-kata, bersifat verbal dan tujuannya adalah untuk menjadi muridku (anggota gerejaku), sehingga sasarannya bukan hanya orang-orang yang belum mengenal Kristus dan menikmati sejahtera, tetapi orang Kristen warga gereja lainpun diambil, diajari kembali dan dibabtis lagi.  Yang penting menjadi pengikut gerejaku atau pengikutku.  Akibatnya hubungan dengan umat beragama lain penuh ketegangan, bahkan dengan sesama orang Kristen dari Gereja lainpun memburuk, penuh kecurigaan dan ketegangan.

Pada hal Amanat Agung Tuhan Yesus itu adalah membagi Injil secara utuh.  Yakni tugas membagi damai sejahtera bagi bangsa-bangsa yang telah diamanatkan sejak pemilihan bangsa Israel.  Tetapi mereka gagal karena mereka menjadi begitu eksklusif atau tertutup dan kehilangan semangat untuk membagi damai sejahtera dengan mereka yang di luar Israel.  Dan amanat dalam Mat 28:16-20 tadi merupakan bagian dari Amanat Agung yang begitu besar bagi bangsa-bangsa dan siapapun yang kecil, menderita.  Tidak hanya verbal dengan kata-kata melulu, tetapi melalui keseluruhan hidup orang percaya.  Apa saja yang kita lakukan kepada yang terkecil, mederita, lapar, haus, telanjang, terasing, sakit dan terbelenggu, itulah yang kita lakukan kepada Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus mengidentifikasikan diri dengan mereka.

Sungguh tidak salah mengabarkan Injil, malahan itu amanat dari Tuhan Yesus sendiri, tetapi menjadi tidak benar ketika pekabaran injil itu menjadi eksklusif, tertutup hanya makin tertuju kepadaku, anggota kelompokku, muridku, bukan kepada Kristus untuk menjadi murid Tuhan Yesus.  Di GKJW telah dinyatakan bahwa tugas memberitakan Injil adalah tugas setiap warga gereja melalui kehidupan mereka sehari-hari secara utuh.

Roh pelaksanaan Amanat Agung

Orang dapat saja memberitakan tentang Tuhan Yesus dan berita sukacita dengan berbagai motivasi.  Ada yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan (Flp 1:15), karena kepentingan pribadi (Flp 1:17) dan ada yang memberitakan karena kasih dan maksud baik (Flp 1:15). Demikian pula ada berbagai roh yang menjiwai pemberitaan Injil! Roh materialisme, individualisme, self centris, konflik.

Apakah roh yang menjiwai pelaksanaan amanat Agung ini?  Untuk tugas yang agung ini sungguh dibutuhkan dasar dan spiritualitas yang agung pula. Dari Roma 8:12-17 bahwa kita  diberikan bukan roh perbudakan melainkan roh keputraan yang menyebut Allah ‘Bapa’.  Bukan roh buruh, orang upahan, tetapi roh anak yang mempunyai hubungan yang begitu dekat, akrab, penuh kasih mesra.
Sehingga kita melakukan tugas agung ini dengan rasa syukur, sukacita, keekhlasan.  Roh inilah yang seharusnya mendorong dan menjiwai kita.

Penutup

Adakah semangat pekabaran Injil dan roh keanakan ini masih menjiwai kita? Amin. [BRU]

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Sadherek kinasih, kanthi tuwuh lan ngrembakaning teknologi informasi, komunikasi lan transportasi, kados-kados sampun mboten wonten malih pojoking bumi ingkang mboten kasumerepan.  Contonipun, sanajan kula lan semah kula lelados wonten ing Hongkong, saben wekdal kula taksih saged sesambetan, rerembagan, gegojekan kaliyan anak putu ingkang dumunung ing benten-benten padununganipun anak bputu ing Indonesia lumantar tilpun, sms, WhatsUp, FaceBook, email. Malahan saged gegojekan adhep-adhepan, ningali saparipolahing putu ingkang nggemesaken lumantar Skype.  Saben ndinten kula saged maos pawartos Indonesia lan ningali sadaya chanel TV Indonesia.

Ananging ngantos sapriki pranyata taksih dereng sadaya tiyang ing jagad punika mirengaken pawartos rahajeng.  Ing pundi-pundi, malahan ing sakiwa tengen kita taksih kathah tiyang ingkang papa, kasingkir, keluwen, ngelak ngorong, kawudan, sakit, kabelenggu miwah katindhes. Sadaya punika negesaken bilih amanat Agung timbalanipun Gusti Yesus punika taksih kabetahaken sanget lan penting sanget kedah katindakaken.

Isi: Amanat Agung: ngedum tentrem rahayunipun Gusti

Kathah tiyang Kristen lan pasamuwanipun Gusti ingkang ngartosaken bilih Amanat Agung saking waosan kita punika namung kapunggel “lunga, martosaken Injil, mucal pangandikanipun Gusti lan mbaptis tiyang ndalem asmanipun Allah Sang Rama, Sang Putra lan Sang Roh Suci.  Mila mboten aneh menawi tiyang-tiyang ingkang nggadhahi keyakinan punika kanthi semangat ingkang makantar-kantar sami medal saking papan dunungipun, kithanipun malahan negarinipun sami martosaken Injil ing njaban rangkah.

Karana “martosaken” tumindak ingkang katandhesaken inggih kanthi pitembungan, lesan.  Tujuanipun ndadosaken muridipun (ndherek dados warga grejanipun). Saengga sasaranipun mboten namung tiyang-tiyang ingkang dereng pitados kemawon, nanging ugi tiyang-tiyang ingkang sampun pitados utawi tiyang-tiyang Kristen sanesipun. Tiyang-tiyang warga greja sanes punika dipun dhatengi, dipun lebetaken dhateng grejanipun lan dipun babtisi malih. Temahanipun sesambetan kaliyan warga agami sanes kebak cengkah lan sesambetan kaliyan greja sanes ugi kebak sujana, konflik lan crah.

Kamangka menawi wangsul dhateng waosan kita, Amanat Agung ing Mat. 28: 16-20 punika mboten saged kapisahaken kaliyan perangan sanesipun, inggih punika kuwajiban ngedum tentrem rahayunipun Gusti dhateng para bangsa.  Tugas punika saestunipun sampun kaamanataken dhateng bangsa Israel, malahan kawiwitan saking bapa Abraham. Minangka tedhak turunipun bapa Abraham, bangsa Israel kaluwaran saking Tanah Mesir, kapiji dados umat prajanjian supados tetep setya tuhu dhumateng Yehuwah Allah lan nindakaken prentahipun, inggih punika dados pepadhang lan berkah tumrap para bangsa. Nanging Israel pranyata mboten setya dhumateng Allah, malahan dados eksklusif, namung ngegungaken bangsanipun piyambak lan kecalan semangat ngedum karahayonipun Gusti dhateng para bangsa sanes.

Mat 28: 16-20 saestunipun minangka perangan saking Amanat Agungipun Gusti dhateng para bangsa ingkang sampun kawiwitan saking Mat 25:31-46.  Awit para bangsa, kalebet tiyang pitados ing dinten akhir mangke badhe kaadili.  Pengadilan punika ukuranipun inggih kados pundi sikap lan tindak tandukipun dhumateng Gusti Yesus. Ingkang penting katandhesaken bilih Gusti Yesus  nyamekaken dhirinipun (mengidentifikasikan diri) kaliyan para tiyang ingkang alit, kasingkir, papa cintraka kadosta ingkang keluwen, ngelak, kawudan, sakit, kinunjara, kabelenggu. Punapa ingkang kita tindakaken lan tandukaken dhateng sadherek kita ingkang paling alit lan papa punika saestunipun inggih ingkang kita tindakaken lan tandukaken dhumateng Gusti Yesus. Mila ngedum pawartos rahayu mboten namung ngabaraken Injil kanthi tembung kemawon, nanging kanthi tindak tanduk ing saranduning gesang dhumateng ingkang alit lan papa cintraka.

Saiba pentingipun nindakaken Amanat Agungipun Gusti punika. Timbalan punika sampun mboten saged kaanyang malih, kedah enggal lan terus katindakaken dening para kagunganipun. Tugas punika sampun kawiwitan ing pemilihanipun bangsa Israel, malahan wiwit bapa Abraham.  Mila mboten saged kaciyutaken lan kacethekaken namung awujud pitembungan ingkang kapisahaken saking pigesangan ingkang wetah tumindak ngedum gesang kaliyan para papa cintraka ingkang kasingkir, kaluwen, kawudan lan kabelenggu.

Roh ingkang ngrasuki tumindaking amanat Agung

Tiyang saged kemawon nindakaken timbalanipun Gusti kanthi marupi-rupi roh ingkang ngrasuki, motivasi lan tujuan.  Rasul Paulus piyambak ngakeni bilih wonten tiyang ingkang martosaken pawartos rahajeng karana drengki, cecongkrahan.  Wonten ingkang karana selfish (namung mbujeng kepentingan pribadi), keuntungan raja brana, popularitas (kondhanging asma).  Nanging ugi wonten ingkang kanthi pikajeng lan tujuan ingkang sae. Sadaya kapirsanan dening Gusti Allah (Flp 1:15-17).  Marupi-rupining roh lan motivasi ingkang namung mbujeng kepentingan lan keuntungan pribadi punika ingkang asring nyiyutaken lan nyethekaken tumindaking ngedum karahayoning Gusti.  Malah ndadosaken tiyang kuciwa lan mboten rahayu.

Saking Rum 8:1-17 lan mliginipun Rum 8:12-17, Rasul Paulus nyatakaken bilih roh ingkang kaparingaken dhateng kita sanes roh batur tukon, sanes roh berah ingkang namung mbujeng upah, sanes roh selfish ingkang namung mbujeng kepentingan lan keuntunganipun piyambak, sanes rohing kadagingan ingkang tumuju dhateng karisakan, ananging roh kaputran. Saengga, kita nindakaken amanat Agungipun Gusti ingkang saestu agung dhateng para bangsa punika mboten karana ajrih, sedhih lan kepeksa, ananging karana sih katresnan kita dhumateng Allah minangka sih katresnanipun para putraning Allah ingkang nindakaken kersanipun lan timbalanipun Allah punika kanthi kebak suka syukur, tulus ekhlas, sih katresnan miwah kabingahan.  Mboten woten sesembahan sanes kados dene Allah kita, ingkang ing Gusti Yesus sampun nimbali kita putra lan kita kepareng nguwuh Rama kanthi kebak sih katresnan lan raketing sesambetan.

Panutup

Ing jaman samangke kathah kasangsaran lan tindak degsiya sangsaya wradin. Pancen kathah sanget tantangan miwah alanganipun ngedum Amanat Agungipun Gusti punika sacara wetah. Gusti mirsani sadaya punika. Mila Gusti prasetya bilih badhe nganthi kita dumugi pungkasaning jaman. Amin. [BRU]

 

Pamuji: KPK 289.

—-

MINGGU, 07 JUNI 2015
MINGGU UEM
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : 1 Samuel 8: 4-18
Bacaan 2         : 2 Korintus 4: 16-18
Bacaan 3         : Markus 3: 20-35

Tema bulan    : Dosa memutuskan hubungan dengan Allah.
Tema pekan    : Pikiran yang keliru menjauhkan hubungan dengan Allah.

 

Keterangan bacaan

1 Samuel 8: 4-18

Pada zaman hakim-hakim memimpin Israel, mereka mengalami keamanan dan kemerdekaan. Namun begitu seorang hakim mati, terjadilah kekosongan kepemimpinan. Akibatnya, mereka kembali dikuasai musuh. Saat itu, Samuel sudah tua, sebentar lagi pensiun. Anak-anaknya tidak bisa diharapkan menggantikan dia (ayat 3). Israel menyadari bahwa tanpa dipimpin seorang raja, sebagaimana yang dimiliki bangsa-bangsa lain, mereka rentan untuk dijadikan bulan-bulanan musuh-musuh mereka. Maka mereka meminta raja untuk menggantikan Samuel menjadi hakim atas mereka (ayat 5-6). Mereka lupa bahwa kekalahan yang dialami Israel bukan karena tidak ada kepemimpinan politik yang bersistem, melainkan karena dosa-dosa mereka. Mereka lupa bahwa Allah adalah Raja, pemimpin sejati mereka. Sudah berulang kali Allah terbukti dapat diandalkan. Maka pilihan keliru, menolak Allah sebagai Raja dan menggantikan Dia dengan manusia, mengandung konsekuensi yang besar. Samuel menguraikan harga mahal yang harus mereka bayar kepada raja (ayat 10-18). Walau demikian, bangsa Israel bersikeras untuk mengambil jalannya sendiri.

 

2 Korintus 4: 16-18

Paulus tetap tabah hati dan berani menjalankan tugasnya, sebab ia tahu bahwa segala susah-payah itu menjelmakan kemuliaan abadi baginya dan bagi umat.

Ayat-ayat ini berisi nasehat-nasehat dan peringatan-peringatan bagi umat. Nasib umat sama dengan nasib Paulus. Sebab itu mereka harus berpikir dan bersikap seperti Paulus.

Kata “lahiriah” menunjuk kepada tubuh jasmani yang mengalami kemerosotan dan menuju kematian karena mortalitas dan kesusahan hidup (2 Kor. 4:17). “Batiniah” menunjuk kepada roh manusia yang memiliki hidup rohani Kristus. Sekalipun tubuh semakin tua dan merosot, namun kehidupan rohani mengalami pembaharuan yang terus-menerus melalui pemberian hidup dan kuasa Kristus yang terus berlangsung; pengaruh-Nya memungkinkan pikiran, perasaan, dan kehendak disesuaikan dan menjadi serupa dengan Dia dan tujuan kekal-Nya.

Kesukaran yang dipikul oleh orang yang tetap setia kepada Kristus adalah ringan dibandingkan dengan kelimpahan kemuliaan yang dimiliki dalam Kristus. Sebagian kemuliaan ini telah ada, tetapi akan dialami sepenuhnya pada masa yang akan datang (bd. Rm. 8:18). Apabila sudah mencapai warisan sorgawi itu, maka kesengsaraan yang paling berat pun tidak berarti dibandingkan dengan kemuliaan kekal itu.

 

Markus 3: 20-35

Ayat-ayat ini menunjukkan sikap musuh-musuh dan keluarga Yesus terhadap diri-Nya. Kedua kelompok ini keliru memahami Dia, sehingga mengakibatkan kaum keluarga-Nya secara berlebihan mencemaskan kesehatan-Nya, sedangkan para musuh-Nya melemparkan berbagai tuduhan kejam kepad-Nya.

Para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem melihat Yesus mengusir setan, lalu menyimpulkan bahwa Yesus kerasukan. Bagaimana respons Yesus? Yesus memberi peringatan keras dengan mengatakan bahwa tidak mungkin setan mengusir setan. Kerajaan setan tidak mungkin berlawanan dengan dirinya sendiri. Yang sesungguhnya adalah, yang kuat mengusir yang lemah. Jadi, jika Yesus mengusir setan, itu karena Yesus jauh lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada roh-roh jahat dan setan.

Melalui perbincangan Yesus dengan ahli Taurat ini, Markus mengarahkan kita pada satu peringatan tentang dosa yang tidak dapat diampuni, yaitu dosa menghujat Roh Kudus. Dosa ini adalah dengan kesadaran dan pengertian penuh menolak pengampunan dosa yang ditawarkan Yesus. Ini adalah dosa yang tidak dapat diampuni karena sama dengan melawan Roh Kudus dan tawaran pengampunan dari Yesus. Penolakan ini terlihat dari sikap ahli Taurat. Mereka menuduh pengampunan itu sendiri sebagai kejahatan. Yesus yang menawarkan pengampunan tidak hanya ditolak, bahkan dituduh sebagai orang kerasukan setan. Jika menolak pengampunan, maka tidak ada pengampunan lain karena hanya melalui Yesus ada pengampunan. Di luar Yesus tidak ada pengampunan dosa. Pengampunan dosa hanya ada dalam Yesus.

Keluarga Yesus belum dapat menerima dan percaya kepada-Nya. Mereka baru percaya kepada Yesus setelah peristiwa kebangkitan. Waktu itu, mereka cemas melihat Yesus. Cemas bukan karena khotbah dan ajaran-Nya, tetapi karena Dia tidak sempat memperhatikan kebutuhan fisikNya, yaitu makan. Bagi keluarga, keadaan seperti ini menunjukkan bahwa Yesus sudah tidak waras. Keluarga-Nya salah mengerti tindakan Yesus karena mereka belum mengenal Yesus.

Sikap kurang hormat diperlihatkan sanak keluarga Kristus, menurut hubungan daging, ketika mengetahui Ia sedang berkhotbah. Bukan saja berdiri di luar, tanpa hasrat untuk masuk dan mendengarkan Dia, mereka bahkan menyuruh orang untuk memanggil Dia (ay. 31-32), seolah-olah Dia harus mengindahkan kekurangajaran mereka dan meninggalkan pekerjaan-Nya. Mungkin saja saudara-saudara-Nya itu tidak memiliki urusan apa-apa dengan Dia, tetapi hanya untuk menyuruh-Nya berhenti, supaya Dia tidak membahayakan nyawa-Nya. Namun, Ia tahu sejauh mana kekuatan-Nya, dan lebih suka mendahulukan keselamatan banyak orang daripada nyawa-Nya sendiri, yang segera dibuktikan-Nya setelah itu. Oleh sebab itu sia-sia saja kalau mereka mau menghentikan Dia dengan alasan mau menyelamatkan-Nya.

Rasa hormat ditunjukkan Kristus kepada sanak keluarga rohani-Nya. Sekarang, seperti pada kesempatan-kesempatan lainnya, Dia nampak mengabaikan ibu-Nya dibandingkan dengan orang lain. Hal ini tampaknya sengaja dilakukan untuk menghindari dan mencegah penghormatan berlebihan yang diberikan orang kepada ibu-Nya. Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya, dan menyampaikan bahwa orang yang mendengarkan dan melakukan kehendak Allah-lah yang merupakan saudara-saudari dan ibu-Nya.

 

Benang merah 3 bacaan:

Ada banyak sebab yang bisa menjauhkan hubungan dengan Allah:

  1. Pandangan bahwa pemimpin sudah tua, seperti Israel terhadap Samuel.
  2. Kondisi fisik yang sudah menua dan lemah, seperti Paulus.
  3. Pikiran yang keliru terhadap pemimpin, seperti keluarga Yesus dan ahli Taurat terhadap Yesus.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Ada seorang ibu yang dengan setia merawat tetangganya, juga seorang wanita, yang sedang sakit parah sehingga tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring. Ibu ini melakukan perawatan dengan sebaik-baiknya, dengan pengorbanan waktu, tenaga, bahkan uang dengan tanpa pamrih. Apa yang dilakukannya ini juga didukung oleh suami dan anaknya sendiri. Dia juga mencarikan bantuan ke berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan si sakit. Namun ternyata ada yang berpikiran buruk terhadap dia. Ada yang mencurigai ibu ini mencari bantuan ke berbagai pihak untuk juga bisa dinikmati sendiri. Demikianlah kadang-kadang kita melakukan kebaikan, tetapi orang lain berpikiran keliru, bahkan buruk terhadap kita.

 

Isi

Bangsa Israel berpikiran keliru. Mereka berpikir bahwa yang menyebabkan mereka kalah dari musuh-musuh mereka adalah tidak adanya pemimpin atau pemimpinnya sudah terlalu tua, sehingga mereka tidak mampu atau tidak ada yang memimpin perang. Karena itu mereka meminta ada raja seperti bangsa-bangsa lain. Permintaan ini bertentangan dengan keyakinan yang seharusnya bahwa Allahlah yang menjadi Raja mereka, pemimpin mereka dalam segala keadaan (termasuk perang). Sebenarnya yang membuat mereka dikalahkan oleh musuh-musuh mereka adalah dosa-dosa mereka. Mereka tidak menempatkan Allah sebagai Raja, Pemimpin sejati mereka. Sikap mereka membuat mereka jauh dari Allah, yang menyebabkan keadaan mereka sulit, bahkan menderita.

Keluarga Yesus, ibu dan saudara-saudaraNya, serta para ahli Taurat juga memiliki pemikiran yang keliru tentang Tuhan Yesus. Keluarga Tuhan Yesus menganggap Dia tidak waras, bahasa kasarnya: gila. Mereka menganggapNya tidak waras karena mengetahui Tuhan Yesus tidak peduli pada kebutuhan fisik mereka, yaitu makan, serta mengusir roh jahat. Mereka ingin menghentikaNya dari kegiatanNya berkhotbah kepada banyak orang dan mengusir roh jahat. Walaupun mereka melihat Dia sedang berkhotbah, mereka hanya berdiri di luar. Mereka tidak masuk dan mendengarkanNya. Malah mereka menyuruh orang lain untuk memberitahu Dia bahwa mereka mencariNya. Mereka tidak menginginkanNya melanjutkan pekerjaanNya yang membahayakan nyawaNya sendiri, yaitu dipandang bersalah dan dihukum oleh para pemimpin Yahudi.

Mereka belum mengerti bahwa Tuhan Yesus memang harus memberitakan Injil di mana-mana dan membebaskan orang dari belenggu dosa dan roh jahat, apapun risikonya, bahkan harus mati sekalipun. Anggapan, pikiran dan sikap mereka yang keliru itu membuat mereka jauh dari kehendak Allah yang harus dilakukanNya. Tuhan Yesus, dengan segala pelayanan khotbah dan pembebasanNya, hendak menyambung hubungan manusia dengan Allah. Tetapi karya pelayanNya ini justru hendak dihentikan oleh keluargaNya sendiri. Anggapan, pikiran dan sikap mereka yang keliru justru cenderung menjauhkan hubungan orang dari Allah.

Di sisi lain, para ahli Taurat juga berpikiran keliru, bahkan buruk terhadap Tuhan Yesus. Mereka bukan hanya tidak mengakui atau bahkan menolak kuasa Tuhan Yesus untuk mengampuni dosa orang. Mereka bahkan menganggap Dia kerasukan Beelzebul, penghulu setan. Tuhan Yesus menunjukkan dua hal di sini:

  1. Dengan mengusir setan, Dia justru membuktikan bahwa Dia mempunyai kuasa yang jauh lebih tinggi dari segala setan. Setan tidak mungkin mengusir temannya sendiri yang sedang bekerja. Mereka justru akan bekerja sama merasuki manusia. Yang berkuasa mebbebaskan manusia dari kuasa setan hanyalah Tuhan Yesus. Dengan kuasaNya itu, Tuhan Yesus menyambung hubungan dekat manusia dengan Allah.
  2. Dengan kesadaran penuh, para ahli Taurat itu menolak kuasa Tuhan Yesus mengampuni dosa orang dan membebaskan orang dari belenggu dosa dan kuasa setan. Penolakannya yang dengan penuh kesadaran itulah perbuatan dosa menghujat Roh Kudus yang tidak dapat diampuni lagi. Kalau seseorang menolak pengampunan dosa dari Tuhan Yesus, maka orang itu tidak akan pernah mendapat pengampunan. Karena pengampunan dosa hanya ada dalam Tuhan Yesus saja. Tanpa pengampunan dosa, hubungan dengan Allah jadi putus.

 

Penutup

Pikiran yang keliru dan banyak hal lain bisa menjauhkan hubungan kita dari Allah. Salah satu hal lain itu adalah lemahnya fisik kita, yang disebabkan oleh penyakit, usia, cacat, dll. Seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam bacaan 2 Korintus 4 tadi, hendaknya kelemahan “lahiriah” (fisik) kita tidak menjadikan kita jauh dari Allah. Sebaliknya, makin melemahnya fisik kita hendaknya dibarengi dengan menguatnya batin kita, spiritualitas (kerohanian) kita. Jika batiniah kita semakin menguat, maka kelemahan dan bahkan penderitaan lahiriah kita terasa ringan saja.

Supaya batin atau spiritualitas kita semakin menguat, hubungan kita makin dekat dengan Allah, di tengah makin melemahnya fisik kita, kita harus fokus pada kemuliaan dan kebahagiaan kekal yang tidak kelihatan yang dijanjikanNya itu. Jangan hendaknya lebih fokus pada apa yang kelihatan, pada kelemahan dan penderitaan fisik kita. Jika kita lebih fokus pada apa yang kelihatan dan kelemahan kita, maka penderitaan akan terasa semakin berat, ketenangan dan kedamaian akan semakin jauh dari kita.

Mari kita ambil saat teduh: apakah batiniah atau spiritualitas kita semakin menguat di tengah melemahnya fisik kita? apakah hubungan kita dengan Allah makin dekat di tengah kehidupan yang kelihatan yang serba gemebyar? …?…?…? Amin. [ST]

 

Nyanyian: KJ 362.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

            Wonten satunggaling ibu ingkang kanthi setya ngrimati tetangginipun, ugi wanita, ingkang saweg nandhang sakit sanget ngantos boten saged menapa-menapa kejawi namung lemah-lemah ing patileman. Ibu menika nindakaken perawatan sasae-saenipun, kanthi pangurbanan wektu, tenaga, malah arta tanpa pamrih. Menapa ingkang dipun tindakaken ugi dipun sengkuyung dening semah lan putranipun piyambak. Piyambakipun ugi mbudidaya pados bantuan dhateng pundi-pundi kangge nyekapi kabetahaning ingkang sakit. Nanging jebul wonten ingkang nggadhahi penggalih awon tumrap ibu menika. Wonten ingkang sujana (mencurigai) ibu menika pados-pados bantuan dhateng pundi-pundi supados saged dipun nikmati piyambak. Lah mekaten, kadhang kala nindakaken kasaenan, nanging wonten tiyang ingkang nggadhahi penggalih ingkang klintu, malah penggalih awon tumrap kita.

 

Isi

Bangsa Israel ugi nggadhahi penggalih ingkang klintu. Tiyang-tiyang menika nginten bilih ingkang murugaken bangsa menika kawon saking mengsah-mengsahipun nggih menika karana boten wonten pimpinanipun utawi karana pimpinanipun sampun sepuh ing yuswa. Matemah pimpinanipun boten kwagang utawi boten wonten tiyang ingkang mimpin ing paprangan. Ingkang menika, lajeng bangsa Israel nyuwun adegipun ratu kados dene bangsa-bangsa sanes. Penyuwunan menika cengkah kaliyan kayakinan ingkang samesthinipun bilih namung Gusti Allah ing ajumeneng Ratuning Israel, ingkang mimpin bangsa menika ing sadhengah kawontenan, kalebet ing paprangan. Sejatosipun ingkang murugaken bangsa menika kawon saking mengsah-mengsahipun nggih menika dosa-dosanipun bangsa menika. Bangsa menika boten mapanaken Gusti Allah minangka Ratu, pimpinaning bangsa menika ingkang sayektos. Patrapipun bangsa Israel menika nebihaken sesambetanipun kaliyan Gusti Allah, ingkang nuwuhaken pakewed lan malah kasangsaran.

Brayatipun Gusti Yesus, ibu lan sedherek-sedherekipun, sarta para ahli Toret ugi nggadhahi penggalih ingkang klintu tumrap Gusti Yesus. Brayatipun Gusti Yesus nganggep Panjenenganipun menika boten waras, basa kasaripun: gendheng. Gusti Yesus kaanggep boten waras karana sami nyumurupi bilih Panjenenganipun boten maelu dhateng kabetahahning raganipun, nggih menika dhahar, sarta nundhung dhemit. Brayatipun menika arsa ngendheg (menghentikan) Gusti Yesus saking kegiatanipun kotbah dhateng tiyang kathah lan nundhung dhemit. Nadyan brayatipun ningali Panjenenganipun saweg nedheng-nedhengi kotbah, brayatipun namung ngadeg ing njawi, boten purun mlebet lan mirengaken. Brayat menika malah ngutus tiyang sanes kapurih ngaturi pirsa Gusti Yesus bilih brayatipun saweg madosi Panjenenganipun. Brayatipun boten ngersakaken Panjenenganipun nglajengaken pakaryanipun ingkang ngancam nyawanipun piyambak, nggih menika kadakwa lepat lan dipun pidana dening pimpinaning bangsa Yahudi.

Brayatipun, nalika semanten, dereng mangertos bilih Gusti Yesus kedah mawartosaken Injil ing pundi-pundi lan ngluwari manungsa saking belengguning dosa lan setan, menapaa kemawon risikonipun, nadyan tiwas kapisanan. Penggalih lan patraping barayatipun ingkang klintu menika ndamel sami tebih saking karsanipun Allah ingkang kedah dipun tindakaken dening Gusti Yesus. Gusti Yesus, kalayan sedaya peladosan kotbah lan pangluwaranipun, arsa nyambung sesambetanipun manungsa kaliyan Gusti Allah. Nanging pakaryan paladosanipun menika malah badhe dipun ndheg dening brayatipun piyambak. Penggalih lan patrapipun ingkang klintu menika malah nebihaken sesambetanipun manungsa saking Gusti Allah.

Ing sisih sanesipun, para ahli Toret ugi nggadhahi penggalih ingkang klintu, malah kapara awon tumrap Gusti Yesus. Tiyang-tiyang menika boten namung boten ngakeni utawi malah nampik pangwasanipun Gsuti Yesus ngapunten dosaning tiyang. Para ahli Toret malah nganggep Gusti Yesus kepanjingan Beelzebul, pimpinaning setan. Ing ngriki Gusti Yesus nedahaken kalih prekawis wigatos:

  1. Kalayan nundhung dhemit, Gusti Yesus malah mbuktekaken bilih Panjenenganipun kagungan pangwasa ingkang langkung inggil tinimbang sedaya setan. Setan boten badhe nundhung rencangipun piyambak ingkang saweg nyambut damel. Setan-setan mesthinipun malah makarya sesarengan ngganggu manungsa. Ingkang kuwaos ngluwari manungsa saking rehing setan nggih namung Gusti Yesus. Kalayan panguwaosipun, Gusti Yesus nyambung sesambetan raketipun manungsa kaliyan Allah.
  2. Kanthi kebak kesadharan, para ahli Toret menika nampik pangwasanipun Gusti Yesus ngapunten dosaning tiyang lan ngluwari manungsa saking belengguning dosa lan setan. Panampikipun ingkang kanthi kesadharan menika ingkang kawastanan dosa nyenyamah Roh Suci ingakng boten badhe kaapunten malih. Menawi tiyang nampik pangapuntening dosa saking Gusti Yesus, tiyang menika boten badhe saged pikantuk pangapunten. Karana pangapuntening dosa namung wonten ing Gusti Yesus. Tanpa pangapuntening dosa, sesambetan kaliyan Gusti Allah dados pendhot.

 

Panutup

Penggalih ingakng klintu lan kathah prekawis sanes ingkang saged nebihaken kita saking Gusti Allah. Salah satunggalipun nggih menika ringkihing badan kita, ingkang dipun sababaken dening pisakit, umur, cacat, lsp. Kados ingkang dipun dhawuhaken dening Rasul Paulus ing waosan 2 Korinta 4 kalawau, kedahipun karingkihaning badan menika boten ndamel kita tebih saking Allah. Kosokwangsulipun, saya ringkihing raga kita kedahipun sinarengan indhaking kakiyataning batos, karohanen kita. menawi batos utawi karohanen kita saya kukuh, karingkihan lan malah kasangsaran lair (badan) kita badhe karaos entheng kemawon.

Supados batos utawi karohanen kita saya kukuh, lan sesambetan kita kaliyan Allah saya rumaket, ing karingkihaning badan kita, kita kedah fokus (ngener) dhateng kamulyan lan kabingahan langgeng ingkang boten katon ingkang dipun janjekaken dening Gusti. Sampun ngantos kita langkung fokus dhateng menapa ingkang ketingal kemawon, dhateng karingkihan lan panandhanging badan kita! menawi kita langkung fokus dhateng menapa ingkang ketingal lan karingkihan kita, kasangsaran badhe kraos saya awrat, katentreman badhe saya tebih saking gesang kita.

Sumangga lumebet ing waktu sidhem sawatawis: menapa gesanging batos utawi karohanen kita saya kukuh ing tengahing karingkihaning badan kita? menapa sesambetan kita kaliyan Gusti Allah saya rumaket ing tengahing pigesangan ingkang ketingal gumebyar?…?…? Amin. [ST]

 

Pamuji: KPK 159.

Kata Kunci Artikel Ini:

khotbah minggu, kotbah minggu, rancangan khotbah gkjw, khotbah minggu ini, rancangan kotbah, khotbah minggu sengsara, kotbah gkjw, YEHEZKIEL 17:22-24, khotbah kenaikan tuhan yesus, amsal 9:1-6

Comments are closed.