Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

Minggu, 1 Agustus 2010
Minggu Biasa
Stola:  Merah (Perjamuan Kudus Hari Pembangunan GKJW)
Tema Bulanan: Anugerah Allah Untuk Kesejahteraan Sesama
Tema pekan : Sejahteramu - Sejahteraku

Bacaan I: Pengkhotbah 1:2, 2:21-23
Bacaan II: Kolose 3:1-5, 9-11
Bacaan III: Lukas 12:13-21
Introitus: 1 Korintus 1:4-6
Setelah Introitus: KJ 433
Setelah Khotbah: KJ 417

Penjelasan Teks :

Pengkhotbah 1:2, 2:21-23

Sekalipun tidak mudah bagi kita untuk memahami apa yang terjadi dengan penulis Kitab Pengkhotbah hanya dari tulisannya saja, namun kita bisa merasakan betapa dalam perenungan penulis pengkhotbah ini akan hakikat kehidupan di dunia ini. Kalau kita menduga bahwa penulis Kitab Pengkhotbah ini adalah Raja Salomo, tentu kita akan heran dengan pernyataannya: “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” (1:2). Apa yang terjadi dengan Raja Salomo, hingga ia mengeluarkan pernyataan seperti itu ? Bukankah ia adalah seorang Raja yang memiliki segalanya di dunia ini? Apakah yang ia telah miliki semuanya itu adalah kesia-siaan? Padahal untuk mendapatkan kekayaan, kemuliaan, dan kehormatan sebagai raja seperti Salomo itu tentu tidak mudah bagi siapapun.

Jika hanya membaca pasal 2:21-23 tentu kita tidak akan menemukan argumen dan solusi Pengkhotbah akan pernyataan kesiaa-sian itu. Dalam pengamatan selama hidupnya (minimal sampai ia menulis Kitab Pengkhotbah ini), ia telah banyak melihat hal yang terjadi seperti pasal 2:21-23. Apalagi ia melihat kenyataan banyak cara yang harus ditempuh seseorang untuk mencapai keinginan hatinya itu. Namun menurut pengalamannya cara-cara itu justru tidak mendatangkan damai sejahtera (ketentraman). Intinya adalah cara-cara yang tidak berdasar pada hikmat yang dari Tuhan adalah sia-sia (pasal 1 sampai pasal 4:16). Hikmat dari Tuhan hanya didapat jika sesorang mau datang kepada Tuhan, merendahkan dirinya, dan bergaul akrab dengan Tuhan (pasal 4:17 sampai pasal 8:17). Hikmat itu adalah anugerah Tuhan yang tidak hanya digunakan untuk diri sendiri supaya tidak sia-sia, namun untuk kesejahteraan sesama.

Kolose 3:1-5, 9-11

Sehubungan dengan cara hidup di dunia ini bagi orang yang telah percaya kepada Kristus, Rasul Paulus menyatakan kepada jemaat di Kolose, intinya agar mereka meninggalkan segala-sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, agar memperoleh pengetahuan yang benar sesuai kehendak Sang Khalik (3:5,10). Cara hidup manusia baru yang merupakan anugerah Tuhan, tidak pernah membedakan dari mana dan bagaimana latar belakang manusia itu, yang penting Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu (3:11). Kristus telah hidup untuk semua dan mati untuk semua, supaya semuanya ada di dalam Dia.

Lukas 12:13-21

Ketamakan adalah sifat manusia yang berujung pada kesia-siaan, karena saat ia mati, ia tidak akan membawa hasil dari ketamakan itu. Pendapat saya ini ternyata didukung oleh ajaran Yesus yang terdapat dalam perikop ini. Pada ayat 15, Yesus mengingatkan orang yang hadir saat itu, agar waspada terhadap segala ketamakan. Apalagi di ayat 20-21, Yesus menyatakan bahwa kematian tidak akan menyertakan hasil ketamakan (baca juga sebagai: keegoisan yang berlebihan) itu. Justru kekayaan di dalam Tuhan-lah yang dapat menyejahterakan semua ciptaan. Kekayaan di dalam Tuhan tentu hanya dapat diperoleh sebagai anugerah dari Tuhan.

Benang Merah antar bacaan :

  1. Hidup  di dunia sebagai anugerah Tuhan, antara lain berupa hikmat dari Tuhan (berulang-ulang disampaikan dalam Pengkhotbah), cara hidup yang meninggalkan segala sesuatu yang duniawi (dalam Kolose), dan kekayaan di dalam Tuhan (dalam Lukas)
  2. Anugerah Tuhan itu harus dijauhkan dari sifat egois dan tamak, agar tidak sia-sia dan berguna bagi kesejahteraan semua.

Rancangan Khotbah

Seorang anak TK baru saja diajari cerita oleh gurunya tentang bagaimana harus berbagi. Demikian cerita gurunya: “Ada dua ekor anak monyet sedang berebut makanan, kemudian datanglah induk monyet itu untuk mengingatkan pada anak monyet yang lebih tua agar mau berbagi makanan dengan adiknya. Dengan penuh percaya diri karena telah mendapat dukungan dari induknya, monyet yang lebih tua mengambil makanan tersebut dan membaginya menjadi tiga bagian. Anak monyet yang lebih muda menjadi heran karena mereka hanya berdua koq makanannya dibagi tiga? Si tua menjelaskan bahwa bagian sisa yang lebih besar ini akan ditimbang sama beratnya. Saat ditimbang dengan alat timbang sederhana, ternyata bagian kiri lebih berat daripada bagian kanan. Maka si tua menjelaskan bahwa ini tidak adil, maka yang kiri harus dikurangi agar sama beratnya dengan yang kanan. Diambilnya makanan yang sebelah kiri lalu dimakannya sebagian. Dengan penuh harap, si muda memperhatikan apa yang dilakukan kakaknya. Saat makanan ditimbang kembali, ternyata bagian yang kanan menjadi lebih berat dari yang kiri, kembali si tua menjelaskan bahwa itu juga tidak adil. Maka diambil dan dimakannya sebagian dari yang kanan. Hal itu terus berlangsung sampai makanan di kiri dan di kanan habis, maka menangislah anak monyet yang lebih muda karena merasa kakaknya berbuat curang dan tidak mau berbagi dengan baik kepadanya.”

Sebagai manusia yang diberi akal dan budi yang berbeda dengan binatang sesama ciptaan Tuhan, tentu cerita guru TK kepada muridnya tersebut tidaklah mungkin terjadi dalam dunia binatang. Cerita itu menggunakan personifikasi monyet hanyalah sebagai alat bantu bagi anak-anak TK agar dapat menarik perhatian mereka karena binatang itu lebih mudah dikenalnya. Sekalipun demikian, jika kita bayangkan cerita itu nyata terjadi di dunia hewan, maka tentu kita sebagai manusia akan merasa prihatin dengan kenyataan bahwa di antara manusia pun masih banyak yang belum bisa berbagi dan berbuat adil seperti yang seharusnya dilakukan manusia sebagai gambaran Sang Khalik sendiri (Kolose 3:10). Mengapa itu bisa terjadi ?

Manusia bertumbuh di antara ketegangan sebagai makhluk egois dan sosial. Sebagai makhluk egois pada dirinya, manusia bukanlah monster yang menakutkan. Karena saat kepentingan pribadi (keegoisan) itu dipahami sebatas pemenuhan kebutuhan pokok (pangan, papan dan sandang), maka yang terjadi adalah manusia akan hidup seperti pada saat Tuhan menempatkan manusia dalam taman Eden. Masalahnya yang terjadi sekarang ini adalah meluasnya batasan kebutuhan pokok, tidak hanya pangan, papan, dan sandang, melainkan juga meliputi kebutuhan pendidikan, komunikasi, transportasi, dan rekreasi. Usaha manusia selama hidup di dunia dalam pemenuhan kebutuhan pokok ini seakan-akan menjadi yang utama bahkan mengalahkan usahanya mendekatkan diri pada Tuhan yang menganugerahkan kehidupan padanya. Bahkan gerejapun mendorong setiap warga gerejanya dapat hidup sejahtera dengan usaha/bekerja keras, dengan harapan warga gereja dapat bersyukur dan dengan sadar mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan melalui gerejaNya. Sekalipun sudah mengajak dan mengingatkan warganya demikian, ternyata masih banyak juga warga gereja yang menganggap bahwa kesejahteraannya sangat tergantung dari banyak dan lengkapnya kebutuhan duniawinya itu dapat terpenuhi. Masih banyak warga gereja yang belum bisa memahami ungkapan Pengkhotbah, bahwa segala sesuatunya adalah sia-sia (Pengkhotbah 1:2). Tentu segala sesuatu yang bersifat duniawi akan menjadi sia-sia jika kita tidak hidup sebagai makhluk sosial yang  berbagi dengan sesama. Karena bagi Tuhan Yesus dalam bacaan kita tadi, orang kaya sekalipun saat mati tidak akan membawa kekayaannya dalam kematiannya (Lukas 12:20-21). Justru dengan hidup yang mau berbagi itulah kita dijauhkan dari sifat ketamakan. Cara hidup yang bersumber dari sifat ketamakan itu tidak akan pernah mendatangkan ketentraman sebagaimana pengalaman pengkhotbah (pasal 2:21-23). Cara hidup manusia baru seperti yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat Kolose-lah (Kolose 3:12-15) yang justru dapat mendatangkan ketentraman dan kesejahteraan pribadi dan kesejahteraan orang lain.

Hidup di dunia sebagai anugerah Tuhan semakin nyata bila kita mau dan mampu mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Berbagi kasih sebagai wujud usaha mengurangi sifat tamak yang bersumber dari segala sesuatu yang duniawi, diantaranya percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, marah, geram, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut, menjadi syarat utama tercapainya kesejahteraan seseorang sekaligus kesejahteraan orang di sekelilingnya. Kesejahteraanmu adalah kesejahteraanku.

Amin. (Joshe)