wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 19 JUNI 2016
PEKAN ANAK
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : Yesaya 65 : 1 – 9.
Bacaan 2         : Galatia 3 : 23 – 29.
Bacaan 3         : Lukas 8 : 26 – 39.

Tema Liturgis  : Menjadi Anak Tuhan Yang Setia.
Tema Khotbah : Menceritakan karya Tuhan.

 

Keterangan Bacaan.

Yesaya 65 : 1 – 9.

Pada zaman itu, Israel secara umum merasa bahwa hanya mereka yang menjadi umat Allah. Tetapi di ayat 1 Tuhan menyatakan bahwa Dia juga berkenan memberikan petunjuk kepada bangsa-bangsa yang dianggap tidak mengenal Allah. Allah bukan hanya milik bangsa Israel. Ada kalanya, bangsa-bangsa lain yang dianggap kafir, tidak mengenal Allah, melakukan hal-hal yang dianggap najis, dsb, tetapi pada saatnya mereka justru lebih baik dan lebih kudus dari pada Israel yang menyatakan sebagai umat Allah. Itulah sebabnya bangsa Israel tidak berhak untuk “menghakimi” bangsa-bangsa lain. Sessungguhnya hanya Allah yang berhak memberikan penilaian dan “penghakiman” (ayat 6).

Ayat 8,9 lebih jelas lagi Allah menyatakan bahwa tetap ada pengharapan bagi siapapun yang dianggap najis dan kafir untuk menyatakan pertobatannya dan menjadi umat Allah. Dalam hal ini Allah terus berharap dan memberikan pengharapan kepada siapapun untuk menjadi umatNya. Sesuai dengan janji Allah kepada para leluhur Israel, maka Allah tidak akan begitu saja menghukum mereka. Memang penghakiman akan terjadi, tetapi itu adalah otoritas Allah utk melaksanakannya. Namun demikian, peristiwa penghakiman ini tidak akan menghapus atau mengurangi sifat Allah yang penuh cinta kasih kepada manusia.

 

Galatia 3 : 23 – 29.

Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus mengingatkan bahwa setiap pengikut Kristus adalah umat Allah dan layak disebut sebagai keturunan Abraham. Keturunan Abraham dalam hal ini memang bukan keturunan secara biologis, tetapi secara iman, karena hanya Abraham yang mendapat sebutan sebagai bapa orang beriman. Iman kepada Tuhan Yesus Kristus itu jugalah yang kini menjadi penuntun bagi kehidupan orang percaya.

Sebelum kedatangan Tuhan Yesus sebagai Sang Penuntun, maka kehidupan umat Allah dituntun dengan melakukan Hukum Taurat. Tetapi, pada kenyataannya, memenuhi tuntutan hukum Taurat justru menjadikan manusia terkungkung, jauh dari kebebasan (ayat 23). Melakukan peraturan apapun selalu di bawah ancaman hukuman dosa. Manusia tidak bisa merasakan kebebasan dan kemerdekaan sebagai umat Allah. Semua perilakunya selalu diatur oleh hukum-hukum dengan ancaman penghukuman. Hal ini sangat berbeda dengan berita yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Apapun yang dilakukan selalu ditawarkan untuk dilakukan oleh orang yang merdeka mengambil keputusan untuk melaksanakannya. Orang yang melaksanakan hukum-hukum Tuhan bukan lagi karena takut dihukum, tetapi karena kemerdekaannya yang memilih untuk melakukannya.

Inilah anugerah dan berkat Allah sebagaimana telah dijanjikan kepada Abraham mengenai keturunan Abraham. Anugerah ini benar-benar membebaskan. Siapapun bisa menjadi “keturunan Abraham” secara iman, tidak lagi dibatasi pada bangsa tertentu, status sosial atau jenis kelamin tertentu sebagaimana pemahaman orang Yahudi saat itu (ayat 28). Zaman dulu, para laki-laki Yahudi punya “tradisi” untuk berdoa setiap pagi yang menyatakan: “aku bersyukur karena tidak menjadi perempuan, hamba, dll, tetapi Engkau menciptakan aku sebagai laki-laki”. Hukum-hukum Tuhan Yesus benar-benar membebaskan dan membahagiakan, memberikan kesetaraan di hadapan Tuhan. Berbeda dengan hukum Taurat yang membuat manusia seperti dikurung oleh peraturan.

 

Lukas 8 : 26 – 39.

Orang-orang Gerasa tinggal di tenggara danau Galilea. Ada kejadian menarik di sana, yaitu ketika ada orang yang kerasukan setan datang menemui Tuhan Yesus dan terjadi dialog. Setelah ditanya oleh Tuhan Yesus, setan yang merasuki orang tersebut mengaku bernama Legion. Sebenarnya Legion adalah sebutan bagi tentara Romawi yang beranggotakan antara 3.000 – 6.000 tentara. Dengan demikian jika setan itu mengaku bernama Legion, itu artinya jumlahnya tidak satu. Legion memiliki kekuatan yang luar biasa dan cenderung bersifat “merusak”. Tetapi setan inipun mengakui kemaha-kuasaan Tuhan Yesus yang diungkapkan dengan permohonannya supaya Tuhan Yesus tidak menyiksanya (ayat 28). Jelas sekali bahwa setanpun mengakui kemaha-kuasaan Tuhan Yesus dan ketidak-mampuannya menolak perintahNya. Setan itu memang memiliki kuasa atas manusia yang dirasukinya, tetapi dia mengakui tidak berdaya berhadapan dengan kuasa Tuhan Yesus.

Ada semacam “tawar-menawar” antara Tuhan Yesus dengan Legion. Saat itu karya Tuhan Yesus memang lebih tertuju pada upaya penyelamatan manusia (menyembuhkan dari sakit, mengampuni dosa, mengusir setan, dll) dari pada memusnahkan setan. Belumlah saatnya untuk memusnahkan setan-setan itu. Hal ini juga jelas dari sikap Tuhan Yesus yang mengijinkan Legion untuk memasuki tubuh babi-babi. Bagi Tuhan Yesus nyawa manusia jauh lebih penting dari pada kerugian materi akibat babi-babi itu mati. Itulah tujuan Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dan membebaskan mereka dari segala belenggu, termasuk belenggu kuasa iblis. Hal ini sulit dipahami oleh penduduk, sehingga mereka meminta Tuhan Yesus meninggalkan daerah itu karena mereka ketakutan dengan kuasa Yesus yang jauh melebihi kuasa setan (ayat 37).

Ada hal menarik yang terjadi ketika laki-laki yang telah disembuhkan dari kerasukan setan itu. Ada perubahan  drastis atau 180 derajat dari laki-laki yang kerasukan setan itu. Dari kebiasaan tidak berpakaian, sekarang menjadi berpakaian. Dari kebiasaan “keluyuran” di kuburan, memutuskan segala pengikat, sekarang menjadi duduk diam, mendengarkan di kaki Tuhan Yesus (ayat 35). Perubahan hidup ini bisa dilihat oleh orang banyak. Lebih menarik lagi, saat laki-laki yang telah disembuhkan dari kerasukan setan itu ingin mengikuti perjalanan Tuhan Yesus beserta para murid, ternyata Tuhan Yesus menolaknya. Tuhan Yesus menyuruhnya pulang dan menceritakan pada orang banyak tentang segala karya Tuhan yang dialaminya. Tuhan Yesus menyadarkan orang ini bahwa dia punya tugas bersaksi tentang karya Tuhan yang telah menyelamatkannya. Dia bersaksi bukan karena kata orang, tetapi karena dia sendiri ngalami dan merasakan kasih Tuhan itu. Ini adalah kesaksian yang lebih efektif sebagai wujud nyata dari “hidup baru” juga. Hidup sebagai orang yang telah diselamatkan memang tidak lepas dari kesediaan bersaksi. Dan itu dibuktikan oleh laki-laki itu dengan mengelilingi kota menceritakan karya Tuhan Yesus atas hidupnya.

 

Benang merah 3 bacaan

Anugerah dan karya keselamatan Allah diberikan kepada siapapun, segala bangsa, yang menerima Tuhan Yesus. Anugerah ini sungguh membebaskan dari segala belenggu, dan Allah tetap berharap dan memberi kesempatan kepada siapapun untuk menerima karya keselamatan itu.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia

PULANGLAH, CERITALAH!
(Nats : Lukas 8 : 39)

Pendahuluan

Metode bercerita pada umumnya disukai semua orang. Bukan hanya anak-anak yang suka mendengarkan cerita, tetapi orang dewasa pun sangat banyak yang menyukainya. Hal ini dikarenakan sebelum kita mengenal dan mengerti tradisi tulis (dengan mengenal huruf-huruf), terlebih dahulu kita mengenal tradisi lisan (dengan bercerita secara turun-temurun). Memang tidak heran kalau hampir semua orang mengenal “dicritani” itu sejak masa kecilnya. Sayangnya, kebiasaan bercerita ini mulai terkikis seiring dengan berbagai kesibukan orang tua, atau adanya berbagai “mainan” yang dianggap menghibur bagi anak-anak tanpa perlu keterlibatan orang tua secara langsung. Namun, betapapun menariknya sebuah mainan, tetap tidak bisa mengalahkan manfaat kebiasaan bercerita. Orang tua di negara-negara Eropa sampai sekarang tetap selalu bercerita (dengan membacakan buku) kepada anaknya setiap sebelum mereka pergi tidur, sekalipun anak-anak mereka juga mempunyai “mainan” yang tidak kalah banyaknya dengan anak-anak kita. Dengan cerita, baik yang bercerita maupun yang mendengarkan cerita dilatih untuk berimajinasi, lebih mudah mengingat, kreatif dan memiliki kepekaan tertentu sebagai respon atas cerita. Itulah sebabnya, bercerita  dianggap efektif untuk menyampaikan “pesan” tertentu.

 

Isi

Mungkin hal di atas juga disadari oleh Tuhan Yesus, sehingga memberikan tugas kepada orang yang baru sembuh dari kerasukan setan untuk bercerita kepada keluarganya, dari pada mengikuti perjalanan Tuhan Yesus beserta para muridNya. Tak bisa dipungkiri bahwa orang yang telah disembuhkan dari kerasukan setan itu sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyembuhkannya. Tentunya dia juga ingin untuk selalu bersama dengan Tuhan Yesus. Itulah kebahagiaannya. Dengan mengikuti perjalanan Tuhan Yesus tentunya dia akan bisa melakukan “sesuatu” untuk Tuhan Yesus dan para pengikutNya. Keputusan ini tentunya didasari atas kesadaran penuh sebagai orang yang merasa telah menerima keselamatan dari Tuhan. Itulah wujud syukur dan hidup baru baginya.

Keputusan yang diambil oleh orang yang telah disembuhkan dari kerasukan setan itu tidaklah salah. Tetapi Tuhan Yesus melihat sisi yang berbeda. Tuhan Yesus mengetahui bahwa sesungguhnya ada “sesuatu” yang lain yang bisa dilakukan orang tersebut. “Sesuatu” yang lain itu lebih efektif dan berarti bagi banyak orang, yaitu ketika orang tersebut bercerita/ bersaksi kepada keluarganya dan orang banyak tentang keselamatan (penyembuhan) yang dia alaminya.

Ketika orang yang baru disembuhkan dari kerasukan setan itu bercerita kepada keluarganya dan orang banyak tentang bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkannya, maka itu menjadi kesaksian yang hidup dan sangat efektif. Dia bersaksi tentang penyembuhan dan keselamatan yang dibawa Tuhan Yesus bukan berdasarkan kata orang, tetapi karena dia mengalami sendiri secara langsung kasih Allah dan anugerah keselamatan Allah. Dia bisa menceritakan proses demi proses yang dialami, bagaimana perasaannya, bagaimana Tuhan Yesus mengusir setan dari dirinya, dsb. Terlebih lagi, yang bercerita adalah orang yang mengalami sendiri.

Tuhan Yesus sesungguhnya tidak menghalang-halangi siapapun, bangsa apapun dan bagaimanapun latar belakangnya untuk mengikut Dia, ambil bagian dalam pelayanan sebagai wujud nyata dari rasa syukur dan hidup barunya. Siapapun berhak menerima kasihNya dan menjadi menjadi umatNya (bandingkan dengan bacaan 1).  Tetapi Tuhan Yesus melihat ada peluang yang lebih besar dan lebih efektif untuk menceritakan kemurahan Tuhan, kasih Tuhan yang membebaskan manusia dari segala belenggu, yaitu dengan bersaksi. Bercerita secara nyata tentang apa yang dialami kepada anggota keluarganya. Mengapa kepada keluarga? Karena keluargalah yang paling tahu keadaan orang ini ketika masih dibelenggu kuasa setan (tinggal di kuburan, telanjang dan mampu memutuskan segala pengikatnya), bagaimana juga dengan perubahan hidupnya kini setelah disembuhkan dan diselamatkan Tuhan Yesus. Ada perubahan drastis dari yang dulunya menjadi “anak setan”, kini menjadi “anak Tuhan”.

Siapapun yang mendengarkan ceritanya (bahkan keluarganya) pasti juga akan bercerita kepada orang lainya lagi. Dengan demikian berita keselamatan ini akan semakin tersebar melalui cerita dari mulut ke mulut itu. Lebih hebat lagi, ternyata orang yang telah disembuhkan ini melakukan perbuatan bercerita/ bersaksi itu melebihi dari yang diperintahkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menyuruhnya pulang dan bercerita kepada keluarganya, tetapi ternyata dia mengelilingi seluruh kota memberitahukan segala yang diperbuat Tuhan Yesus kepadanya (ayat 39). Semangat dan suka cita sebagai orang yang telah diselamatkan dan dibebaskan dari belenggu setan menjadikannya juga memiliki semangat yang luar biasa untuk menceritakan apa yang telah dialaminya. Dia ingin berbagi sukacita supaya makin banyak orang mendengarkan berita kemaha-kuasaan Tuhan Yesus itu dan kasih yang membebaskan yang Ia bawa (bandingkan dengan bacaan 2).

Bercerita tentang Tuhan Yesus ternyata tidak hanya membawa kabar gembira bagi orang yang mendengarkan cerita tersebut, tetapi juga bagi yang bercerita. Biasanya, orang yang mengalami hal yang luar biasa seperti itu sulit dicegah untuk bersaksi. Ternyata untuk bersaksi tentang kasih Tuhan yang dirasakan dalam hidup ini tidak selalu membutuhkan keahlian khusus. Apakah latar belakang, bangsa dan pendidikan orang yang disembuhkan dari kerasukan setan itu? Tuhan Yesus tidak mempersoalkan hal itu. Yang jelas, ada perubahan hidup yang sangat drastis dari orang tersebut. Dari hidup yang dibelenggu dan dikuasai setan, menjadi hidup bebas yang memberitakan kasih Allah. Dari hidup yang hanya mengikuti kemauan setan, berubah menjadi hidup yang taat pada perintah Tuhan, bahkan melakukan lebih banyak dari apa yang Tuhan perintahkan. Buktinya, orang ini tidak memaksakan kehendak untuk ikut dalam perjalanan Yesus, tetapi patuh pada perintahNya yaitu untuk pulang dan bersaksi.

 

Penutup

Dengan bercerita kita juga bisa bersaksi tentang kemaha-kuasaan dan cinta kasih Tuhan kepada umatNya. Cinta kasih Tuhan yang membebaskan, yang tidak diskriminatif, bahkan yang penuh dengan mujizat kapanpun dan untuk siapapun (termasuk untuk orang yang kerasukan setan). Alangkah indahnya jika berita sukacita ini juga diterima dan dipamahami oleh anak-anak dan anggota keluarga lainnya semenjak mereka masih kecil.

Pekan Anak dalam minggu ini kiranya mengingatkan kita semua tentang pentingnya bercerita tentang kasih Tuhan kepada anak-anak. Kitapun diajak untuk menyadari bahwa tradisi bercerita yang begitu kaya manfaat ini ternyata telah makin ditinggalkan, tergeser oleh berbagai kesibukan.

Kisah orang kerasukan setan yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus ini menyadarkan kita bahwa bercerita/ bersaksi tentang apa yang kita alami bersama Tuhan bukanlah hal yang remeh. Tuhan Yesus juga memberikan tugas agar kita bercerita tentang cinta kasihNya yang menyelamatkan itu, tentunya tak terkecuali kepada anak-anak. Anak-anakpun berhak untuk mengetahui bahwa merekapun dikasihi Tuhan Yesus dan berhak menjadi milikNya. Jika bukan kita yang bercerita kepada anak-anak itu, siapa lagi? Jika bukan sekarang kita bercerita tentang Tuhan Yesus, kapan lagi?  Amin. (YM)

Nyanyian  : Kidung Jemaat 68 : 1, 2, 3/ 427.

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

MULIHA, LAN CRITAKNA!
(Nats : Lukas 8 : 39)

Pambuka

Adatipun kathah tiyang ingkang remen crita utawi ndongeng. Boten namung para lare ingkang remen mirengaken crita utawi dongeng, nanging kathah ugi tiyang dewasa ingkang remen mirengaken crita. Saderengipun kita tepang kaliyan tradisi tulis (kanthi wontenipun aksara), langkung rumiyin kita tepang kaliyan tradisi lesan (kanthi crita turun-tumurun). Pramila boten eram menawi meh sedaya tiyang remen dipun critani wiwit alit. Emanipun, samangke bab crita punika awis-awis katindakaken awit saking kathahing karepotan ingkang kedah katindakaken dening tiyang sepuh, utawi wontenipun “dolanan” ingkang ngremenaken para lare lan tiyang sepuh boten perlu “repot”. Nanging, nadyan “dolanan” punika ngremenaken, tetep boten saged ngawonaken manfaatipun crita. Tiyang sepuh ing negari-negari Eropa ngantos sepriki tetep tansah ndongengi (kanthi maosaken buku) anakipun saben badhe mangkat tilem, senadyan anak-anak ing ngrika ugi gadhah dolanan ingkang kathah kados anak-anak kita. Kanthi crita, sae ingkang nyritani lan ugi ingkang mirengaken crita dipun gladhi supados berimajinasi, ngenget-enget, kreatif lan gadhah pangraos kangge nanggapi critanipun. Pramila, crita utawi ndongeng dipun wastani kathah ginanipun utawi efektif kangge paring piwulang.

 

Isi

Mbokbilih prekawis ing inggil ugi kapirsanan dening Gusti Yesus, pramila Gusti lajeng ngutus tiyang ingkang nembe kasarasaken saking kerasukan dhemit supados crita dhateng brayatipun, tinimbang ndherek Gusti Yesus lan para sakabatipun. Boten saged dipun selaki bilih tiyang ingkang sampun kasarasaken saking kepanjingan dhemit pancen saestu ngucap sokur dhateng Gusti Yesus ingkang sampun paring kesarasan. Tamtunipun tiyang kalawau ugi kepengin tansah sesarengan kaliyan Gusti Yesus. Punika dados kabingahanipun. Kanthi tumut ing rombonganipun Gusti Yesus, piyambakipun badhe saged lelados kagem Gusti lan para sakabatipun. Pepenginan punika tamtunipun adhedhasar kesadharan minangka tiyang ingkang sampun nampi kawilujengan saking Gusti. Punika dados wujuding saos sokur lan gesang enggalipun.

Keputusan punika tamtunipun boten lepat tumrap tiyang ingkang nembe kasarasaken saking kepanjingan setan. Ananging Gusti Yesus mirsani prekawis ingkang benten. Gusti Yesus pirsa bilih estunipun wonten prekawis sanesipun ingkang saged katindakaken dening tiyang punika. Ingkang dipun wastani “prekawis sanes” punika tamtunipun langkung migunani tumrap tiyang kathah, inggih punika menawi tiyang kalawau crita utawi paring paseksi dhateng brayatipun lan tiyang sanes ing bab kawilujengan (kesarasan) ingkang sampun dipun tampi saking Gusti.

Nalika tiyang ingkang nembe kasarasaken saking kepanjingan setan punika crita dhateng brayatipun lan tiyang sanes ing bab kados pundi anggenipun Gusti Yesus nyarasaken piyambakipun, punika tamtu badhe dados paseksi ingkang gesang lan saestu migunani. Piyambakipun paring paseksi ing bab kesarasan lan kawilujengan ingkang kaasta dening Gusti Yesus boten awit saking pangucapipun tiyang sanes, ananging piyambakipun ngalami piyambak secara langsung ing bab katresnanipun Allah lan kawilujengan peparingipun Allah. Piyambakipun saged crita ing bab kados pundi kedadosan ingkang dipun alami, kados pundi raosing manahipun, kados pundi anggenipun Gusti Yesus nundhung dhemit, lsp. Punapa malih ingkang crita punika tiyang ingkang pancen ngalami piyambak.

Estunipun Gusti Yesus boten ngalang-alangi sinten kemawon, bangsa punapa kemawon, lan kados pundi kemawon asal-usulipun kangge dados pandherekipun, ndherek lelados minangka wujuding saos sokur lan gesang enggalipun. Sinten kemawon gadhah karep (hak) nampi katresnanipun Gusti lan dados umat kagunganipun (mugi kapirsanan waosan 1). Ananging Gusti Yesus mirsani bilih wonten prekawis ingkang langkung ageng lan migunani kangge nyariyosaken kanugrahanipun Gusti, katresnanipun Gusti ingkang paring pangluwaran dhateng manungsa saking sedaya panguwaos, inggih punika kanthi cara paring paseksi. Crita bab punapa ingkang sampun dipun alami dhateng brayatipun. Kenging punapa dhateng brayatipun? Awit brayatipun ingkang saestu mangertos kawontenanipun tiyang punika nalika taksih karangket ing panguwaosing dhemit (kluyuran ing pakuburan, wuda lan ugi saged mbedhat blenggunipun), mekaten ugi kados pundi wontenipun ewah-ewahan gesang ing samangke sasampunipun kasarasaken lan kawilujengaken dening Gusti Yesus. Wonten ewah-ewahan ingkang ageng sanget saking gesang saderengipun ingkang dados “anak setan” lan samangke dados “putranipun Gusti”.

Sinten kemawon ingkang mirengaken cariyosipun (kalebet brayatipun) mesthi ugi badhe crita dhateng tiyang sanesipun malih. Kanthi mekaten pawartos rahayu punika badhe langkung sumebar lumantar crita dari mulut ke mulut. Langkung-langkung, tiyang ingkang sampun kasarasaken dening Gusti Yesus punika ugi nindakaken prekawis ingkang nglangkungi punapa ingkang sampun kautus dening Gusti Yesus. Gusti Yesus ngutus supados tiyang kalawau wangsul lan nyariyosaken dhateng brayatipun punapa ingkang sampun katindakaken dening Gusti Yesus, ananging nyatanipun tiyang kalawau ngantos njlajah kitha martosaken pakaryanipun Gusti punika (ayat 39). Wontenipun kekiyatan lan kabingahan minangka tiyang ingkang sampun kawilujengaken lan kaluwaran saking panguwaosing dhemit ndadosaken piyambakipun ugi nggadhahi semangat ingkang ageng kangge nyariyosaken bab punapa ingkang nembe dipun alami. Piyambakipun kepengin andum kabingahan supados langkung kathah tiyang ingkang mirengaken panguwaosing Gusti Yesus lan katresnan ingkang paring pangluwaran ingkang kaasta dening Panjenenganipun (mugi kapirsanan waosan 2).

Crita bab Gusti Yesus nyatanipun boten namung paring kabingahan tumrap sinten kemawon ingkang dipun critani, nanging ugi tumrap tiyang ingkang crita. Adatipun, tiyang ingkang ngalami prekawis ingkang ngedab-edabi kados mekaten ewet kapenggak menawi badhe paring paseksi. Nyatanipun kangge paring paseksi bab panguwaosipun Gusti boten tamtu mbetahaken kaprigelan ingkang maligi. Punapa asal-usulipun, bangsanipun, lan sekolahipun tiyang ingkang nembe kasarasaken saking kepanjingan dhemit punika? Punika boten dados prekawis tumrap Gusti. Ingkang cetha, wonten ewah-ewahaning gesang ingkang ageng sanget saking tiyang punika. Saking gesang ingkang kajiret lan wonten salebeting panguwaosipun dhemit, samangke dados gesang ingkang merdika kangge martosaken katresnanipun Allah. Saking gesang ingkang namung nuruti pikajengipun dhemit, samangke dados gesang ingkang setya tuhu nindakaken kersanipun Gusti, kepara nindakaken ingkang langkung kathah tinimbang ingkang kadhawuhaken dening Gusti. Nyatanipun, tiyang punika boten meksa supados ndherek ing tindakipun Gusti Yesus, ananging langkung mbangun turut ing dhawuhipun Gusti supados wangsul paring paseksi.

 

Panutup

Kanthi crita, kita ugi saged paring paseksi bab panguwaosipun Gusti lan katresnanipun Gusti dhumateng umat kagunganipun. Katresnanipun Gusti ingkang paring pangluwaran, boten pilih-kasih, mekaten ugi kebak ing mukjijat ing saben wekdal lan tumrap sinten kemawon (kalebet tiyang ingkang kepanjingan dhemit). Iba endahipun menawi pawartos kabingahan punika ugi dipun mangertosi dening para lare lan brayat sanesipun wiwit alit mila. Pekan Anak ing salebeting minggu punika mugi ngengetaken kita menggah wigatosing crita bab katresnanipun Gusti tumrap para lare. Kita ugi dipun ajak supados sadhar bilih nyatanipun tradisi crita ingkang saestu ageng sanget ginanipun punika sampun wiwit katilaraken, kagantos dening kerepotan kita.

Cariyos bab tiyang ingkang kepanjingan dhemit lan kasarasaken dening Gusti Yesus punika ngengetaken kita bilih estunipun crita utawi paring paseksi bab punapa ingkang kita alami sesarengan kaliyan Gusti Yesus punika sanes prekawis ingkang remeh. Gusti Yesus kepara ugi ngutus kita supados nyariyosaken bab katresnanipun Gusti ingkang paring kawilujengan punika, boten kekilapan ugi dhateng para lare. Para lare ugi gadhah karep (hak) kangge mangertosi bilih para lare ugi dipun tresnani dening Gusti Yesus lan para lare ugi gadhah karep (hak) kangge dados umat kagunganipun Gusti. Menawi sanes kita ingkang crita dhateng para lare, lajeng sinten ingkang badhe crita? Menawi boten samangke kita crita  bab Gusti Yesus, lajeng badhe kapan malih? Amin. (YM)

 

Pamuji : Kidung Pasamuwan Kristen 93 : 1, 2, 3.

 

MINGGU, 26 JUNI 2016
MINGGU BIASA
(Bulan Keluarga – Pekan Anak)
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : I Raja-raja 19 : 15 – 16, 19 – 21
Bacaan 2         : Galatia 5 : 1, 13 – 25
Bacaan 3         : Lukas 9 : 51 – 62

Tema   liturgis  : Menjadi Anak Tuhan yang setia
Judul    kotbah : Membangun keluarga yang bahagia dan setia

Keterangan Bacaan

I Raja-raja 19 : 15 – 16, 19 – 21

Kesetiaan Elia kepada Tuhan sebagai seorang nabi dan pelayan sungguh nyata. Bacaan kita hari ini merupakan bagian dari pergumulan batin seorang Nabi Tuhan yang berusaha setia melakukan kebenaran Tuhan, namun di sisi lain berhadapan dengan kekuatan jahat yang menentang Tuhan dan bayang-bayang kematian yang diwakili oleh Ahab dan Izebel. Dalam pelariannya, Elia tetap menyadari akan kesetiaan Tuhan. Ia tidak saja hadir dalam perbuatan yang kuat dan perkasa seperti angin besar, gempa bumi dan api, namun Allah justru hadir dalam angin yang sepoi. Peristiwa ini menjadikan Elia menyadari bahwa Tuhan terus berkarya, bergerak dan maju senantiasa dengan setia.

Dalam kesetiaan Allah itu Elia sadar bahwa panggilan Allah atas dirinya juga harus dilakukan dengan setia. Karya Allah melalui dirinya tidak boleh berhenti sekalipun usianya akan berhenti. Oleh karena itu, Elia bangkit untuk meneruskan karya Allah melalui dirinya yang harus kembali ke Damsyik, jalan yang pernah dilaluinya dengan melakukan tiga hal:

  1. Mengurapi Hazael menjadi Raja Aram
  2. Mengurapi Yehu sebagai Raja Israel
  3. Mengurapi Elisa, sebagai nabi pengganti dirinya.

Elia meletakkan jubahnya kepada Elisa sebagai simbol pemberian wewenang kepada Elisa. Tindakan itu disambut dengan kesediaan Elisa untuk mengikuti Elia sebagai pelayanNya. Elisa telah menyelesaikan segala tugasnya terlebih dahulu.

 

Galatia 5 : 1, 13 – 25

Paulus mengingatkan jemaat di Galatia supaya setia hidup bersama dengan Allah. Roh Allah akan menuntun mereka memasuki tahap baru kehidupan, yaitu hidup di bawah pimpinan Roh-Nya dan kemudian menghasilkan buah-buah roh.

Di hadapan mereka sebagai anak Allah, terpapar godaan hidup yang nyata dan dekat dengan mereka. Bahkan justru semua itu adalah perbuatan yang tidak asing lagi atau akrab dengan mereka di waktu lalu. Namun sekarang, kondisinya berbeda. Posisi hidup mereka tidak sama. Sekarang mereka adalah orang yang sudah dimerdekakan oleh Tuhan. Dengan posisi yang baru ini tidak seharusnya mereka kembali pada posisi lama mereka.

Mereka dipanggil untuk menunjukkan diri sebagai orang merdeka dengan jalan melayani oleh kasih. Inilah hukum baru yang menunjukkan bahwa mereka berbeda. Bukan lagi hidup dalam belenggu dosa yang hidup hanya untuk keselamatannya. Sekarang mereka sudah dimerdekakan oleh Kristus. Gunakan kemerdekaan itu dalam jalan kasih seperti yang diungkapkan pada ayat 22-23a.

Keinginan daging yang ada pada manusia adalah kelemahan manusiawi jika tidak dikendalikan oleh Roh Kudus, itu akan muncul menjadi perbuatan daging seperti yang Paulus daftarkan dalam Gal 5:19-21. Dan itu semua gambaran hidup yang tidak mau menerima kemerdekaan Kristus.

 

Lukas 9 : 51 – 62

Perjalanan Yesus melewati kampung orang Samaria bertemu dengan orang-orang yang seolah menampilkan dirinya sebagai seorang yang setia. Awalnya, niatnya begitu besar untuk mengikuti Yesus. Namun ketika Yesus menjelaskan bahwa mengikut Dia tidak selalu menyenangkan, karena mungkin serigala dan burung jauh lebih baik dan beruntung daripada diri-Nya, maka kemudian, kesetiaan mereka itu mulai berguguran. Mereka memakai alasan yang tidak mungkin ditolak, dan lazim dilakukan oleh banyak orang. Mengantarkan orang tua ke pemakaman adalah persoalan penting yang tidak mungkin ditolak. Namun, justru perbuatan ini seringkali menjadi alasan banyak orang yang ingin menghindari sebuah perbuatan lain. “Biarkanlah aku menguburkan ayahku dahulu..” merupakan alasan umum yang biasa dipakai orang untuk menghindar.

Karena Yesus tahu bahwa itu hanyalah alasan mereka saja, maka jabawannya bukan mengijinkan namun justru mengatakan bahwa perkara kerajaan Sorga jauh lebih penting di atas segalanya. Tuhan Yesus hendak mengingatkan bahwa selagi ada kesempatan seharusnya dipakai untuk melakukan tugas pelayanan dengan setia.

 

Benang Merah 3 Bacaan 

Keluarga Kristen adalah pelayan Allah yang telah dimerdekakan oleh Kristus dan dipimpin oleh Roh-Nya untuk melakukan segala hal yang baik. Kesadaran ini akan membangun kesetiaan hidup dan iman yang sungguh dan murni dalam menjalankan perannya. Karena hidup itu sendiri terbatas, maka keluarga Kristen dipanggil untuk mewariskan semangat kesetiaan seorang pelayan sebagai nilai hidup yang tinggi kepada gerenasi berikutnya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Biasanya masing-masing keluarga itu memiliki tempat favorit. Tempat yang menjadi kesukaan bagi keluarga itu untuk bersama, bercerita, berbagi, atau sekedar bercanda. Bagi keluarga saudara, di manakah tempat favorit itu?

Ada yang tempat favoritnya di sebuah restoran mahal dan enak. Ada yang di sebuah villa indah dan asri. Sebagian mungkin di warung lesehan kaki lima, di kampung halaman, atau bahkan tidak sedikit orang yang menemukan tempat favorit itu justru di sudut rumahnya. Mungkin di teras rumah, di ruang tengah atau di taman. Yang pasti bahwa di tempat-tempat itu mereka merasa ada kebutuhan diri mereka yang terpenuhi. Ya, kebutuhan sebagai bagian dari hidup berkeluarga. Di tempat itu mereka mendapatkan rasa nyaman, aman, dan penerimaan yang membahagiakan. Di tempat itu mereka bisa merasakan kehangatan yang menguatkan. Dan jika suasana itu sudah didapatkan, maka semua pesan akan tersampaikan dalam damai, bukan menggurui.

Karena itu, tempat favorit sebenarnya bukan soal harga, bukan soal jarak, bukan soal ukuran dan juga bukan soal bentuk. Tempat favorit keluarga adalah soal di mana hati dan jiwa mendapatkan kehangatan dan penerimaan. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, di manapun tempatnya akan tetap membahagiakan. Orang yang bahagia adalah orang yang akan mampu menjadi pribadi yang setia. Tidak ada syarat apapun yang mendorongnya untuk setia selain karena menjadi setia itu membahagiakan.

Isi

Mengapa sekarang ini banyak orang sulit setia? Mengapa suami atau istri sulit untuk setia dengan janjinya? Jangan-jangan itu karena mereka lupa betapa bahagianya mereka menjadi penerima berkat Tuhan dalam perkawinan. Mengapa anak-anak sulit untuk setia kepada orang tua dan keluarganya? Jangan-jangan mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan di rumahnya. Kebahagiaan yang dirasakan akan mendorong orang untuk setia. Kebahagiaan itu yang dirasakan oleh nabi Elia sebagai utusan Allah. Kesulitan dan tantangan dalam pelayanan mungkin mendatangkan penderitaan bagi Elia, seperti ketika ia dikejar-kejar oleh Izebel dan Ahab. Pergumulan hidup Elia mungkin begitu menyesakkan. Namun, Elia menyaksikan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti berkarya dengan caraNya yang ajaib, seperti yang nampak dalam angin sepoi-sepoi basa. Dan hal apakah yang akan lebih membahagiakan lagi selain merasa bahwa hidupnya didampingi dan diberkati oleh Allah yang terus berkarya? Karena itu, ketika usianya sudah semakin tua dan hidupnya hampir berakhir, Elia tetap setia melakukan perintah Allah, yaitu mengurapi Hazael menjadi Raja Aram, Yehu sebagai Raja Israel dan Elisa sebagai nabi pengganti dirinya. Elia bahagia atas segala capaian hidup yang diterimanya, dan ia setia menjalankan tugas perutusannya sampai akhir. Kebahagiaan itu yang kemudian akan diwarisi oleh Elisa sebagai pengganti Elia kelak.

Kebahagiaan seperti ini yang diharapkan oleh Paulus dirasakan dan diakui oleh jemaat Kristen di Galatia. Ia mengajak, mari berbahagia. Karena kasih Yesus Kristuslah kita, yang dulu hidup dalam belenggu dosa, sekarang menjadi orang merdeka. Jika kebahagiaan itu sudah tumbuh, maka semua yang dipikir, dirasa dan dilakukan adalah hidup bersama sumber bahagia itu. Laku hidup yang demikian ini menurut Paulus adalah dengan jalan melayani oleh karena kasih.  Bukankah hal ini yang sudah dilakukan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus bagi kita? Kebahagiaan-Nya adalah ketika melayani, seperti yang berulang kali Yesus katakan dalam beberapa kesempatan. “Anak manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani” (Matius 20:28).

Kebahagiaan orang percaya adalah ketika setia hidup di dalam Roh Allah. Kesetiaannya hidup di jalan kemerdekaan itu akan menghasilkan buah-buah yang menularkan dan meneruskan kebahagiaan itu. Seperti yang terungkap dalam Galatia 5: 22-23a, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri adalah kebahagiaan yang akan menciptakan lingkaran kebahagiaan baru. Karena dengan perbuatan itu kerajaan Allah dirasakan. Kerajaan Allah itu kebahagiaan. Sebaliknya, Paulus mengingatkan supaya orang percaya di Galatia menjauhi segala perbuatan seperti: “…percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.”( ayat 19-21a). Karena semua itu penghancur kebahagiaan. Demikian juga keluarga yang hidup dalam Kristus dan dipimpin oleh Roh-Nya akan mengupayakan buah-buah Roh itu dengan setia.

Kebahagiaan ini telah menjadi pilihan dan jalan hidup Sang Kristus, sehingga Ia setia sampai akhir. Dan tidak banyak orang yang memilih mengikutiNya dengan setia di jalan itu. Banyak orang masih menganggap bahwa BAHAGIA itu hanya sebatas pada perkara MENERIMA. Jika saya menerima banyak, enak dan indah, maka saya bahagia. Oleh karena itu dalam perjalanan dari kampung Samaria, beberapa orang berkeinginan “saya akan pergi mengikuti Engkau”. Namun, ketika Yesus mengatakan sisi yang berbeda, bahwa kebahagiaan hidupnya terletak juga pada kesediaan dan kesetiaan untuk memberi, karena tidak selalu ada tempat bagiNya, mereka mulai beralasan dan mundur. Mereka tidak layak bagi kerajaan Allah. Karena kebahagiaan kerajaan Allah pada perkara memberi dengan setia.

Penutup

Bagaimana dengan keluarga kita? Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk:

  1. Menyadari satu hal: keluarga kita dibentuk oleh Allah untuk BAHAGIA. Jika Tuhan memberkati keluarga dengan materi yang cukup atau bahkan berlebih, dengan anak dan cucu, dan hal lain yang menambah kebahagiaan, itu adalah bonus yang ditambahkan. Bagaimana jika semua itu tidak ditambahkan? Kebahagiaan keluarga tidak boleh hancur. Karena kebahagiaan penghuni kerajaan Allah bukan saat mendapatkan, melainkan ketika setia memberi.
  2. Menjadi keluarga yang setia. Menjadi suami yang setia, isteri yang setia, orang tua yang setia, anak-anak dan saudara yang setia. Kesetiaan yang tidak tergantung pada suasana dan situasi. Namun, setialah dengan panggilan sebagai orang yang bahagia. Setialah di mana pun berada. Setialah saat bersama maupun sendiri, saat dilihat orang lain maupun tanpa dilihat orang lain. Tuhan Yesus telah terlebih dahulu setia pada panggilan-Nya. Kesulitan hidup dalam pelayanan tidak membuat-Nya menyerah. Setialah dalam menjalani hidup yang sudah dimerdekakan. Paulus mengajak jemaat di Galatia setia dalam segala perbuatan baik, karena itulah identitas hidup yang dikuasai oleh Roh Allah.

Seminggu berlalu kita diajak menghayati Pekan Anak di GKJW. Mari menjadikan moment ini penyemangat kita untuk bertumbuh bersama dengan anak-anak dalam kesetiaan. Sebagaimana Elia menyiapkan Elisa, mari menyiapkan anak-anak menjadi pewarna kehidupan yang dipenuhi kebahagiaan dan kesetiaan. Anak-anak membutuhkan suasana keluarga yang bahagia untuk bertumbuh menjadi pribadi yang setia. Sekali lagi, mari menghayati bulan keluarga ini dengan satu pengakuan “Tuhan telah memberkati keluarga kita dengan kebahagiaan. Maka marilah SETIA berjalan di jalan bahagia itu, dengan cara bersedia dipimpin oleh Roh-Nya.” Amin. [KR]

Nyanyian: KJ 446: 1,3.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Limrahipun saben brayat nggadhahi panggenan klangenan, utawi favorit. Panggenan menika dados karemenanipun brayat, karana ing ngrika saged andum cariyos, andum berkah utawi namung gegojegan. Kangge brayat panjenengan, wonten pundi panggenan favorit menika?

Wonten saperangan brayat ingkang mastani bilih panggenan favoritipun menika restoran awis lan eca. Utawi wonten ing villa endah lan asri. Saperangan malih wonten ing warung lesehan pinggir margi. Utawi wonten ing ndesa asalipun. Nanging boten sekedhik tiyang ingkang mastani bilih panggenan favoritipun inggih wonten ing griyanipun piyambak. Wonten ing teras, ruang tengah utawi ing taman. Ingkang baken, wonten ing panggenan-panggenan kalawau menapa ingkang dados kabetahanipun saged kacekapan. Inggih menika kabetahan tumrap raos nyaman, aman, lan saged katampi kanthi bingah. Wonten ing panggenan menika, sedaya tiyang saged ngraosaken “kehangatan” ingkang ngiyataken. Lan nalika swasana ingkang kados mekaten sampun kagayuh, pramila bab menapa kemawon badhe saged karembag kanthi tentrem.

Karana mekaten, panggenan favorit menika boten gumantung ing bab rega, sanes ing bab jarak, sanes ugi bab ukuran menapa dene wujudipun. Panggenan favorit brayat gumantung ing manah ingkang ngraoskaen “kehangatan” lan katampi. Nalika kabetahan menika kasembadan, ing pundi kemawon panggenanipun, tansah mbingahaken. Tiyang menawi sampun kebak bingah menika, inggih tiyang ingkang saged dados pribadi ingkang setya tuhu. Boten wonten satunggaling sarat ingkang nyurung piyambakipun tumindak setya, kajawi pangrasa bilih dados tiyang ingkang setya menika saestu mbingahaken.

Isi

Kenging menapa jaman samangke kathah tiyang boten saged tumindak setya? Kenging menapa kathah semah boten saged setya tumrap janjinipun? Mbokbilih, pancen kathah tiyang sampun kesupen kados pundi bingahipun dados tiyang ingkang nampeni berkahipun Gusti. Kenging menapa para putra inggih rekaos tumindak setya dhumateng tiyang sepuh lan brayatipun? Mbokbilih para putra boten nate ngraosaken kabingahan wonten ing griyanipun. Kabingahan ingkang dipun raosaken menika saged murugaken tiyang tumindak setya.

Kabingahan menika ingkang karaosaken dening Nabi Elia minangka utusanipun Gusti Allah. Kangelan lan reribet ing satengahing peladosan mbokmenawi murugaken panandhang tumraping Elia, kados nalika dipun oyak-oyak dening Izebel lan Ahab. Lelampahaning gesangipun Elia saestu awrat. Nanging, Nabi Elia nekseni bilih Gusti boten kendel anggenipun makarya mawi cara ingkang ngedab-edabi, kados ingkang katingal ing satengahing angin semilir. Lan, sejatosipun, bab menapa ta ingkang langkung mbingahaken kejawi rumaos yen gesang menika binerkahan lan kinanthi dening Gusti ingkang boten kendel anggenipun makarya? Pramila, nalika rumaos bilih yuswanipun sampun sepuh, Elia tansah setya nindakaken dhawuhipun Gusti, kados ing waosan kita dinten menika, njebati Hazael dados raja Aram, Yehu minangka Raja Israel lan Elisa dados nabi ingkang nggantos panjenenganipun. Elia ngraosaken kabingahan karana sedaya ingkang sampun katampi, lan ugi saestu setya anggenipun nindakaken timbalanipun ngantos purna. Kabingahan menika ingkang lajeng dipun warisi dening Elisa ingkang badhe nggantos panjenenganipun.

Kabingahan menika ugi kaajeng-ajeng dening Rasul Paulus lan dipun raosaken dening pasamuwan Kristen ing Galati. Paulus ngatag: Sumangga abebungah karana katresnanipun Yesus Kristus. Kita ingkang rumiyin gesang ing bebenduning dosa, samangke dados tiyang mardika. Menawi kabingahan sampun tuwuh ngrembaka, mila sedaya ingkang dipun pikir, dipun raosaken lan dipun lampahi namung kabingahan karana gesang sinarengan kaliyan sumbering bingah kalawau. Lelampahaning gesang ingkang kados mekaten punika miturut Paulus karengkuh mawi leladi karana katresnan. Rak nggih tumindak menika ta ingkang sampun katuladhakaken dening Gusti Yesus kangge kita? Kabingahanipun Sang Kristus inggih nalika leladi, kados ingkang wongsal-wangsul dipun dhawuhaken. “Anggenipun Sang Kristus rawuh menika boten supados dipun ladosi nanging malah ngladosi” (Mat 20:28).

Kabingahanipun tiyang pitados ing Gusti Allah inggih nalika gesang setya ing panguwasanipun Rohipun Gusti Allah. Kasetyan menika badhe ngedalaken woh-wohan ingkang sae, ingkang nular lan sumrambah mujudaken kabingahan. Kados dene ingkang kaserat wonten ing Galatia 5: 22-23a, “Katresnan, kabungahan, katentreman, sabar, sarèh, sumlondhoh, kabecikan, setya, andhap-asor lan ngwasani awaké dhéwé.” Menika wujuding kabingahan ingkang badhe nglairaken kabingahan enggal.

Nalika bab menika kalampahan, badhe wujudaken kabingahan-kabingahan enggal ingkang ndadosaken kratoning Allah karaosaken. Kratoning Allah menika kabingahan. Swalikipun, Rasul Paulus ngengetaken supados tiyang pitados ing Galatia nebihi sedaya tumindak awon: “laku jina, kotor, murang-tata, nyembah brahala, ilmu sihir, memungsuhan, seneng padu, mèri, brangasan, gumunggung, seneng gawé crah, lan tukar padu, padha sengit-sinengitan, endem-endeman, jibar-jibur, lan sapanunggalané (ayat 19-21a). Menika sedaya ngrisak kabingahan.

Kabingahan menika sampun dados pilihan lan margining gesangipun Sang Kristus, satemah Panjenenganipun setya dumugi pungkasan. Boten kathah tiyang ingkang ngetut wingking Panjenenganipun kanthi setya ing margi menika. Kathah tiyang sami mastani bilih KABINGAHAN menika namung winates ing perkawis ANAMPI. “Yen aku nampa akeh, apik lan kepenak, mula aku kaaran bungah.” Pramila, nalika ing kekesahan saking kampung Samaria, sawatawis tiyang nggadhahi pepenginan “kula kepengin ndherek Paduka”. Nanging, nalika Gusti Yesus dhawuh kaanan ingkang benten, bilih kabingahan ugi linambaran manah ingkang purun lan setya ANDUM kanthi LILA, karana boten tamtu wonten panggenan kagem Panjenenganipun, wusananipun lajeng sami mundur kanthi maneka warni alesan. Tiyang ingkang kados mekaten menika, boten pantes kagem kratoning Allah. Karana kabingahan ing Kratoning Allah kajurung ing perkawis andum kanthi setya.

Panutup

Kadospundi brayat kita? Lumantar pangandika menika kita kaatag sinau bab:

  1. Ngugemi bilih: brayat kita menika kayasa dening Gusti Allah murih abebungah. Menawi Gusti mberkahi brayat kanthi kacekapan bandha malah kepara linuwih, lumantar putra lan wayah, lan maneka warni bab, sedaya menika IMBUH. Kadospundi yen nyatanipun Gusti mboten ngimbuhi? KABINGAHANing brayat boten pareng ajur. Karana kabingahanipun putaning Allah boten gumantung nalika anampi, nanging nalika purun andum lan weweh.
  2. Dados brayat ingkang setya tuhu. Sumangga dados semah ingkang setya tuhu, sae nalika sesarengan menapa dene nalika piyambakan. Sumangga dados tiyang sepuh, putra lan brayat ingkang setya. Kasetyan menika boten gumantung dhateng kaanan, nanging dhateng timbalan dados tiyang ingkang nampeni kabingahan. Gusti Yesus sampun langkung rumiyin setya tuhu kaliyan timbalanipun. Reribeding gesang ing peladosanipun boten ndadosaken semplah. Pramila sumangga setya nindakaken gesang ingkang sampun kaparingan kamardikan. Rasul Paulus ngatag pasamuwan ing Galati setya ing sadhengah panggawe becik, karana menika wujuding tetengering gesang ingkang dipun kuwaosi dening Rohipun Gusti Yesus.

Seminggu kepengker menika kita nglampahi Pekan Anak ing GKJW. Sumangga ndadosaken kegiatan menika dados pangatag kita nggulawenthah anak-anak (wayah) kanthi kasetyan. Kadosdene Elia nyawisaken Elisa, sumangga kita ugi nyawisaken anak-anak (wayah) dados pribadi ingkang kebak kabingahan lan kasetyan. Anak-anak betah swasana brayat ingkang kebak bungah kangge nuwuhaken raos setya. Sepisan malih, sumangga kita ngugemi wulan keluarga menika kanthi pangaken “Gusti Allah sampun paring berkah ing brayat kita kanthi kabingahan. Sumangga tansah SETYA lumampah ing margi kabingahan menika kanthi tansah sumadya kapimpin dening Roh-ipun. Amin. [KR]

Pamuji: KPK 31: 3/ 78: 1, 2.

 

Kata Kunci Artikel Ini:

khotbah minggu, kotbah minggu, rancangan khotbah gkjw, khotbah minggu ini, rancangan kotbah, khotbah minggu sengsara, kotbah gkjw, YEHEZKIEL 17:22-24, khotbah kenaikan tuhan yesus, amsal 9:1-6

Comments are closed.