wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 26 JULI 2015
MINGGU BIASA
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : –
Bacaan 2         : Efesus 3:14-21
Bacaan 3         : Yohanes 6:1-21

Tema Bulanan            : Bertugas Sebagai Nabi Demi Makna Kehidupan
Tema Minggu : Doa dan Ucapan Syukur Menjadi Jalan Berkat bagi Kehidupan

 

Keterangan Bacaan

  1. Efesus 3:14-21

Paulus adalah seorang pendoa, ia hidup di dalam kehidupan doa. Sebab di dalam suratnya ia tidak hanya berdoa untuk jemaat di Efesus, tapi juga untuk jemaat di Filipi, Galatia, Kolose, Tesalonika dan sebagainya, bahkan dikatakan ia tiada henti-hentinya berdoa untuk mereka. Dan kalau kita perhatikan isi doa dari rasul Paulus, kita akan menemukan bahwa rasul Paulus tidak berdoa untuk hal-hal fisik atau segala sesuatu yang terkait dengan kebutuhan jasmani. Tapi doa-doanya itu hanya berpusat pada kebutuhan rohani mereka. Ada 3 hal yang sangat mendasar yang menjadi pokok doa dari rasul Paulus:

  1. Roh Kudus memberi kekuatan dan keteguhan supaya umat Tuhan bertumbuh dan berakar dalam kasih dan pengenalan akan Kristus Yesus (Ayat 16 dan 17). Hal ini menjadi sangat penting karena akan menjadi kekuatan bagi umat Tuhan untuk membentengi diri dari godaan setan (kuasa jahat) yang menggoncangkan iman.
  2. Kemampuan untuk memahami betapa panjang dan lebar dan dalam Kasih Tuhan itu (Ayat 18). Kasih Tuhanlah yang memampukan untuk tetap tekun dalam berharap. Dan, harapan itulah yang menjadikan umat percaya tetap semangat dan sukacita menjalani hidup.
  3. Dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah. Allah yang kita sembah di dalam Kristus adalah Allah yang penuh dengan segala hal yang baik. Dalam hal kebijaksanaan, kekudusan, keadilan, kasih, kedamaian, kebenaran. Maka, umat Tuhan yang percaya juga perlu berdoa mohon dipenuhi oleh kebijaksaan, kekudusan, keadilan, kasih dan sebagainya. Manusia tidak bisa memenuhinya sendiri dengan kekuatan kemanusiaannya. Hanya Tuhan yang akan mengisinya.

Tiga hal ini menjadi prinsip dan yang pertama masuk dalam kata-kata doa. Ketika memilikinya, maka akan mendatangkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup, termasuk di dalamnya kebutuhan-kebutuhan jasmani, mulai dari kebutuhan ekonomi, kesehatan, pendidikan, karir, keluarga, kebahagiaan, kehidupan yang damai, dan segala sesuatu yang kita idamkan dalam hidup, akan mengikuti setelahnya. Bahkan di ayat 20, menyebutkan Dia akan memberi dan melakukan jauh lebih banyak dari yang kita doakan dan pikirkan.

 

  1. Yohanes 6:1-21

Peristiwa lima ribu orang diberi makan merupakan mujizat satu-satunya yang dikisahkan dalam keempat Injil. Terjadi, tepatnya di sebuah gunung di seberang danau Galilea. Diceritakan ada banyak orang berbondong-bondong mengikuti dan mendatangi Yesus beserta para murid-Nya. Sejumlah lima ribu. Malahan lebih dari jumlah tersebut, sebab perempuan dan anak-anak belum dihitung pasti. Tentunya sebuah pemandangan dan sekaligus peristiwa yang luar biasa. Nampaknya yang menjadi alasan bagi rombongan tersebut oleh karena mereka telah melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.

Peristiwa ini mengingatkan pembaca pada peristiwa-peristiwa Paskah pertama, khususnya pemeliharaan Allah kepada umat Israel. Yakni ketika Allah memberi manna kepada umat Israel di padang gurun. Sebuah tindakan Allah yang membuktikan bahwa Dia akan tetap mengasihi dan menyelamatkan umat Israel. Jeda waktu yang sangat panjang, maupun konteks hidup yang berbeda tidak mengaburkan ataupun membatalkan kasih dan karya penyelamatan Allah, sampai kisah pemberian makan 5000 lebih orang. Allah konsisten dalam hakekatnya sebagai pemelihara dan penyelamat. Cuma masalahnya, para murid yang acapkali menjadi bagian sandungan atas penyataan-Nya itu. Apa yang dipikirkan para murid acapkali dihitung secara matematis. Lima roti jelai dan dua ikan, atau uang seharga dua ratus dinar,…mana cukup memberi makan lima ribu lebih orang? Yesus tahu, semua orang pun tahu lima roti dan dua ikan tak akan pernah cukup menyelesaikan masalah saat itu. Ayat 6, “Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.” Yesus perlu mengetahui seberapa besar kekuatan kepercayaan mereka terhadap diri Yesus. Yesus perlu mengetahui seberapa besar upaya yang dilakukan para murid sebagai wujud kepercayaanya kepada Yesus. Nyatanya tidak ada, para murid hanya bingung. Lupa bahwa Yesus bersama mereka dengan kesetiaan-Nya untuk memberi pemeliharaan. Ayat 11, suatu teladan yang dilakukan Yesus sendiri bahwa sesuatu yang tidak seberapa banyak, ketika disyukuri akan menjadi berkat bagi sejumlah besar orang. Itulah yang terjadi. Seperti inilah yang bisa mendatangkan mujizat. Itulah yang menjadi jalan berkat bagi sejumlah besar orang.

 

Benang merah 2 bacaan:

Doa menjadi cara atau sarana bagi orang percaya mengalami pemeliharaan Allah.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pembukaan

Dalam sebuah tulisan dalam harian Kompas, 29 April 2015 disebutkan bahwa dari berbagai survey yang mengukur kwalitas bangsa, Indonesia selalu berada di urutan tertinggi. Dari kemacetan, polusi hingga korupsi. Sebaliknya, dalam hal baik (sebagai Negara teraman, terbersih, dan sebagainya) kita selalu berada di urutan bawah. Semua perilaku buruk, tidak disiplin, mudah marah, tidak toleran, makin sering muncul belakangan ini. Itu artinya kita sedang mengalami degradasi karakter. Dengan latar sosial semacam inilah Presiden Jokowi, sejak masa kampanye menyuarakan “revolusi mental”. Hakekatnya adalah mengembangkan nilai-nilai. Kalau bangsa Korea dengan gerakan “Saemaul Undong” hanya memberi perhatian 3 nilai saja: kerjasama, kemandirian, dan kerja keras. Tidak demikian dengan revolusi mental, ada 6 nilai yang dikembangkan.(1), nilai kewargaan, yakni agar orang Indonesia tidak merasa hanya menjadi “penduduk”, tetapi warga negara yang punya hak dan kewajiban. (2), nilai bisa dipercaya, sebab banyak orang yang melakukan kebohongan publik. (3), nilai kemandirian, supaya tidak selalu bergantung pada bangsa lain. (4), nilai kreatifitas: sumberdaya alam boleh terbatas, namun kreatifitas tidak boleh terbatas. (5), nilai gotong royong. (6), nilai saling menghargai, sebab Indonesia adalah negara majemuk.

 

Isi

Ada sebuah pertanyaan demikian: jika dibuat peringkat tentang bobot/ kwalitas masalah dalam hidup ini, mana yang menjadi peringkat 1? Masalah apa yang paling berat? Permasalahan yang berhubungan materi/ fisik-kah? Semisal kurang duit, kurang kaya harta kekayaan, kurang makan, kurang sandang. Ataukah, perkara-perkara yang sifatnya non-jasmani: kurang sabar, kurang santun, kurang ajar? Hati-hati…banyak orang terkecoh! Banyak orang yang berpikir bahwa uang adalah segala-galanya. Ketika punya banyak uang, mereka berpikir semua akan beres. Untuk orang-orang semacam ini, masalah terberat dalam hidup adalah miskin harta.

Tidak demikian dengan Rasul Paulus. Bagi sang Rasul perkara-perkara yang berurusan dengan jasmani atau materi itu nomor kesekian. Yang serius, yang paling berat baginya justru masalah-masalah yang sifatnya non-jasmani. Orang-orang yang berpikir bahwa uang adalah segala-galanya, itulah orang yang sedang bermasalah berat dalam hidupnya. Itulah sebabnya Rasul Paulus dalam doanya tidak meminta pemenuhan kebutuhan yang jasmani, yang diminta dalam doanya adalah pemenuhan akan kebutuhan rohani. Ketika ini menjadi prinsip dalam setiap doa, maka semua yang dibutuhkan akan dipenuhi oleh Allah. Begitu dalam ayat 20 disebutkan.

Dalam bacaan yang ketiga, bagi Yesus, yang menjadi masalah bukanlah “rotinya hanya 5 dan ikannya hanya 2 ekor” atau “uangnya hanya dua ratus dinar” sementara yang harus dikenyangkan adalah 5000 lebih orang. Bukan ini masalah utamanya. Meski hal ini bisa menjadi masalah, namun ada masalah lain yang lebih serius. Ketika umat Tuhan tidak/ kurang percaya bahwa Yesus ada dengan segala kekuasaan-Nya, inilah yang menjadi masalah paling serius. Jalan keluar yang ditawarkan Yesus berupa ucapan syukur dalam doa (ayat 11) mestinya membelajari para murid bahwa doa dan ucapan syukur itu akan mendatangkan kebaikan hidup. Tentu bukan hanya doa sekadar rutinitas atau formalitas. Doa yang didasari kepercayaan bahwa semua masalah seijin Allah, yang dengannya melahirkan rasa syukur, maka doa semacam inilah yang akan mendatangkan berkat dalam hidup.

Jika demikian Yesus mengajar para murid, maka selayaknya setiap umat percaya menjadikan doa sebagai cara/ jalan yang pertama untuk mengalami pemeliharaan Allah. Ada kalanya, bahkan mungkin sering Tuhan terkesan tidak menjawab doa-doa kita atas permasalahan-permasalahan yang menghadang hidup. Namun kita harus ingat, bahwa doa itu sendiri sudah menjadi jawaban Tuhan atas masalah-masalah kita. Sebab doa itu memberi kekuatan untuk kita tetap setia dalam percaya dan berharap kepada Tuhan. Pemeliharaan Tuhan tidak sebatas materi, namun meliputi juga pemeliharaan rohani.

 

Penutup

Masih ingatkah saudara-saudari dengan masalah yang terakhir menyita seluruh waktu yang saudara miliki? Sebelum tidur dipikir, bangun tidur dipikir. Lalu seberapa kuat doa-doa saudara memberi pengaruh bagi hidup yang sedang berat tersebut? Menjadi lebih nyaman, semakin damai rasanya meski belum menemukan jalan keluar? Atau, serasa tetap menyesakkan? Semakin terasa menyesakkan? Bersyukurlah jika menjadi lebih nyaman. Sebab Tuhan sedang berkarya dan memberi jawaban bagi doa saudara, yaitu berupa kekuatan untuk melalui jalan yang tengah terjal. Jika masih terasa menyesakkan atau semakin sesak, waspadalah… mungkin saudara sedang memaksa Tuhan untuk menjawab sesuai dengan kemauan kita manusia. Mari kita jadikan doa sebagai gaya hidup kita sebagai orang percaya. Doa yang dipenuhi ucapan syukur, tertuju kepada Tuhan. Doa macam inilah yang akan memberi kekuatan bagi kita untuk melalui hidup yang berat, berat karena masalah pribadi maupun berat karena hidup di tengah konteks masyarakat yang sedang sakit mentalnya. ‘Revolusi mental’ hanya bisa dimulai dengan doa yang sungguh-sungguh oleh setiap pribadi. Amin. [ESW]

 

Nyanyian: Kidung Jemaat no. 374:1,3

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Ing salebeting seratan Harian Kompas, 29 April 2015, kasebataken bilih lumantar maneka warni survey kangge naker ‘kualitas’ bangsa, Indonesia tansah wonten ing urutan paling inggil: ing bab kemacetan, polusi ngantos korupsi. Kosokwangsulipun, ing bab kasaenan (negari paling aman, paling resik lan sapiturutipun), kita tansah wonten ing urutan ngandhap. Sadaya tumindak ala, boten disiplin, gampil muring, boten tepa selira, sansaya asring kalampahan ing dinten-dinten punika. Punika ateges kita saweg ngalami ingkang kasebat ‘degradasi karakter’ (kemunduran utawi risaking kasusilan). Adhedasar kawontenan masyarakat ingkang kados makaten, Presiden Jokowi, wiwit wekdal kampanye mempeng anggenipun mujudaken ‘revolusi mental’. Intinipun inggih punika kangge ningkataken nilai-nilai. Menawi bangsa Korea mawi gerakan “Saemaul Undong” namung paring kawigatosan ing tigang nilai: Kerjasama, kemandirian lan kerja keras. Ing ‘revolusi mental’, wonten 6 nilai ingkang dipun upadi: (1), nilai kewargaan, supados masyarakat Indonesia boten rumaos namung dados penduduk, nanging ugi rumaos gadhah hak lan kwajiban. (2), nilai bisa dipercaya, amargi kathah tiyang ingkang nindakaken kebohongan publik. (3), nilai kemandirian, supados boten namung gumantung dhateng bangsa sanes. (4), nilai kreatifitas, bilih sumberdaya alam saged winates, nanging kreatifitas boten winates. (5), nilai gotong royong. (6), nilai saling menghargai, amargi Indonesia punika negari majemuk.

 

Isi

Wonten pitakenan makaten: menawi dipun damel urutan ing bab bobot prakara ing salebeting gesang, pundi ingkang dados peringkat setunggal? Prakawis punapa ingkang paling awrat? Prakawis ingkang sesambetan kaliyan bab raga/ bandha? Upami: kirang arta, kirang sugih donya brana, kirang pangan, kirang sandhang? Utawi prakawis-prakawis ingkang sipatipun karohanen: kirang sabar, kirang duga, kirang sopan? Sami waspada…, kathah tiyang ingkang kecelek! Asring kathah tiyang ingkang nggadhahi pamanggih bilih arta punika dados sadayanipun. Nalika gadhah arta kathah, rumaos sadaya prakawisnipun lajeng saged beres. Kangge tiyang-tiyang ingkang kados makaten, prakawis paling awrat ing gesangipun inggih punika sekeng donya brana.

Boten makaten menggahing Rasul Paulus. Menggahing sang Rasul, prakawis-prakawis ingkang kajasmanen punika dados urutan paling wingking. Ingkang saestu wigatos, ingkang bobotipun paling awrat malahan prakawis-prakawis ingkang sipatipun rohani. Menawi makaten, tiyang ingkang nggadhahi pemanggih bilih arta dados sedayanipun, saged dipun wastani saweg ngalami prakawis paling awrat ing salebeting gesang. Pramila makaten, Rasul Paulus ing pandonganipun boten nyuwun kacekapan kangge kabetahan jasmani, ingkang dipun suwun inggih punika kacekapan kangge kabetahan rohani. Nalika bab punika dados wewatoning pandonga, sadaya ingkang dipun betahaken badhe dipun cekapi dening Allah. Makaten ing ayat 20 kasebataken.

Wonten ing waosan kaping tiga, menggahing Gusti Yesus, ingkang dados prakawis sanes “rotinipun namung gangsal lan ulamipun namung 2” utawi “artanipun namung kalih atus dinar” kamangka ingkang kedah tuwuk cacahipun wonten 5000 langkung tiyang. Sanes punika prakawis ingkang utami. Sanadyan bab punika saged dados prakawis, nanging wonten prakawis sanes ingkang langkung awrat. Nalika umatipun Gusti boten/ kirang pitados bilih Gusti Yesus wonten ing satengahing pigesangan kalayan sadaya panguwasanipun, punika ingkang sejatosipun prakawis ingkang serius. Margini pengluwaran ingkang dipun paringaken Gusti Yesus arupi panuwun sokur ing salebeting pandonga (ing ayat 11). Menika mestinipun saged dados pasinaon tumrap para sakabat, bilih pandonga lan panuwun sokur saged nuwuhaken kasaenaning gesang. Tamtunipun sanes donga saderma ‘rutinitas’ utawi ‘formalitas’. Pandonga adhedasar kapracayan bilih sadaya prakawis punika dipun idini dening Gusti, ingkang lajeng anglairaken raos sokur, lah punika jenising pandonga ingkang badhe nuwuhaken berkah salebeting gesang.

Menawi makaten anggenipun Gusti Yesus memulang para sakabat, kedahipun umat pitados ugi ndadosaken pandonga minangka cara ingkang utami kangge ngalami panggulawentahipun Allah. Mbokmenawi kita asring rumaos Gusti punika kados-kados boten mangsuli pandonga-pandonga kita. Nanging kita kedah enget, bilih pandonga punika piyambak sampun dados wangsulanipun Gusti kangge prakawis-prakawis kita. Amargi pandonga punika nuwuhaken kakiyatan kangge kita tetep setya ing kapitadosan, tetep setya ing pangajeng-ajeng dhumateng Gusti. Panggulawentahipun Gusti punika boten winates ing bab materi, nanging ugi kalebet ingkang rohani.

 

Panutup

Punapa para panjenengan taksih kengetan prakawis ingkang sampun mbeslah (menyita) sadaya wekdal kita? Saderengipun tilem dipun galih? Tangi melek dipun galih? Lajeng sapinten sawabing pandonga-pandonga panjenengan paring daya kangge gesang ingkang saweg awrat? Sansaya sekeca,…sansaya tentrem raosipun sanadyan dereng manggihi solusi? Utawi kosokwangsulipun: sansaya kraos awrat rupeking manah punika? Sami saosa puji, menawi langkung tentrem amargi Gusti saweg makarya lan paring wangsulan kangge pandonga panjenengan! Inggih punika arupi kakiyatan kangge nglangkungi margi gesang ingkang ewed. Nanging menawi kraos sansaya awrat rupeking manah, sami waspada…mbokmenawi panjenengan meksa Gusti paring wangsulan miturut kepenginan manungsa! Mangga kita dadosaken pandonga minangka ‘gaya hidup’ lan dayaning gesang kita. Pandonga kebak panuwun sokur konjuk dhumateng Allah, pandonga makaten ingkang badhe nuwuhaken kakiyatan ing gesang ingkang awrat, sae awrat amargi prakawis pribadi, makaten ugi awrat amargi gesang ing satengahing masyarakat ingkang sakit mental. ‘Revolusi Mental’ namung saged dipun wiwiti lumantar pandonga pribadi baka pribadi, lan katindakaken kanthi temen-temen. Amin. [ESW]

 

Nyanyian: Kidung Pasamuan Kristen no. 73

 

MINGGU, 02 Agustus 2015
PK PEMBANGUNAN GKJW
STOLA MERAH

 

Bacaan 1         : II Samuel 12:1-14
Bacaan 2         : Efesus 4:1-16
Bacaan 3         : Yohanes 6:25-35
Mazmur          : Mazmur 78:1-4

Tema Bulanan            : YESUS ROTI KEHIDUPAN
Tema Pekan    : Yesus Sumber Cinta Kasih

 

Keterangan Bacaan

II Samuel 12: 1-14

  • Nathan adalah Nabi, sementrara Daud adalah Raja sekaligus hakim di zamannya. Nabi bertugas menyampaikan Firman Allah, dan Nathan menyampaikannya mula-mula dengan perumpamaan.
  • Daud marah pada orang yang serakah seperti yang diceritakan oleh Nathan. Orang serakah yang dikisahkan Nathan adalah perumpamaan tentang Daud sendiri.
  • Daud mengakui kesalahannya dan bertobat. Daud juga menanggung akibat dari kesalahannya.

 

Efesus 4: 1-16

Ini mengenai nasehat tentang hidup bergereja. Gereja bukan kumpulan orang semata, melainkan terutama persekutuan – satu tubuh. Sebagai bagian dari satu tubuh, setiap anggota patut berperan sesuai panggilannya, memperhatikan kepentingan pihak lain, setia kepada tujuan bersama, terus tumbuh dan patuh pada satu pimpinan yaitu Sang Kepala.

 

Yohanes 6: 25-35

Pengikut Yesus salah fokus. Pengikut Yesus tidak faham arti mujizat. Bukan kesaktian yang lebih penting, melainkan cinta kasih. Orang Yahudi salah fokus, karena ternyata kasih juga lebih penting dari sekedar taat. Yesus Sang Juruselamat adalah kebutuhan nyata semua manusia / ciptaan.

 

Benang merah 3 bacaan:

Salah fokus itu yang banyak terjadi dalam kehidupan. Kehebatan dalam berbagai hal sering menjadi idaman banyak orang, namun Allah berkenan justru pada pertobatan (1), hidup bersama sebagai satu tubuh (2) dan menghayati cinta kasih sebagai alasan untuk hidup (3).

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Kalau seseorang suatu saat mengalami keuntungan di dalam hidupnya, maka dia mengharapkan hal itu akan terjadi lagi pada dirinya. Sebaliknya jika seseorang suatu saat mengalami kerugian di dalam hidupnya, maka dia tidak mengharapkan hal itu terjadi lagi padanya. Begitulah pola dasar umum manusia di dalam menjalani kehidupannya, mengupayakan keuntungan (kesenangan, kebahagiaan) dan menghindari kerugian (kesusahan dan hal yang tidak menyenangkan lainnya). Di dalam prakteknya sering hal demikian ini tidak lagi perlu waktu lama untuk dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Secara naluriah manusia senang dengan yang menguntungkan dan menghindari ketidaksenangan. Hal ini berlangsung dengan serta merta (otomatis).

 

Isi

Orang-orang mencari Tuhan Yesus dan bertanya: “Rabi (guru), bilamana Engkau tiba di sini?” Menurut Tuhan Yesus, pertanyaan itu tidak tepat, tidak sesuai dengan isi hati mereka yang terdalam. Orang-orang mencari Tuhan Yesus bukan karena memikirkan Tuhan Yesus, melainkan karena memikirkan diri sendiri. Naluri mereka menuntun untuk mencari keuntungan dari Tuhan Yesus. Sesudah mereka merasakan enaknya menikmati akibat dari mujizat, mereka ingin mengulang peristiwa menguntungkan itu sekali lagi, atau terus menerus. Orang-orang itu salah fokus. Tuhan Yesus tidak mengajarkan orang untuk mencari keuntungan semata dari hubungan antar manusia, melainkan kerjasama mengatasi permasalahan bersama. Sifat sekedar mencari keuntungan diri sendiri bukan saja tidak baik bagi sesama, namun tidak baik juga bagi diri sendiri. Hal ini sama dengan hukum yang mengatakan, mengasihi orang lain pada hakikatnya sama dengan mengasihi diri sendiri.

Para pengikut Tuhan Yesus tidak sadar akan hukum alam ini. Kalau mereka hanya mencari keuntungan (subyektif) diri sendiri dalam mengikut Tuhan Yesus, mereka akan kecewa. Bahkan mereka akan merugikan diri sendiri pada akhirnya. Ajaran Tuhan Yesus sama sekali asing bagi orang yang tidak percaya kepadaNya. Tuhan Yesus tidak pernah bermotivasi mencari keuntungan dalam hubunganNya dengan manusia. Alasan Tuhan Yesus hanya satu dalam berhubungan dengan manusia, yaitu begitu besar kasihNya (Yohanes 3:16). Jadi kita tidak perlu bertanya “apa untungnya Tuhan Yesus mengasihi manusia?” Jawaban untuk pertanyaan semacam itu bisa “Tuhan Yesus rugi mengasihi manusia!” (Ulangan 7:7).

Ajaran Tuhan Yesus juga mengandung arti berpikir jauh ke depan. Tuhan Yesus mengajarkan pengelihatan (visi), suatu kemampuan mempertimbangan masa depan yang baik bagi semua kehidupan (ayat 27). Orang yang memikirkan diri sendiri, adalah orang yang bepikir hanya dalam jangka pendek. Orang itu tidak sadar bahwa dalam hidup bersama, kesenangan dan kesusahan orang lain adalah kesenangan dan kesusahan kita juga. Kita tercipta secara bersama, bukan hanya dengan sesama manusia melainkan juga dengan sesama ciptaan. Sungguh tidak aneh kalau hukum kasih itu juga mengatakan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.

Dalam menyiapkan masa depan manusia, Tuhan Yesus bekerja secara penuh dan menyeluruh (total), dengan menyerahkan diri seutuhnya demi keselamatan manusia. Tidak ada yang tersisa dari milikNya untuk dipersembahkan demi masa depan manusia yang cerah. Lambang kasihNya itu selalu diingat umatNya dalam Perjamuan Kudus. Kasih yang dilambangkan dengan roti (tubuh) dan anggur (darah) itu menunjukkan bagaimana besarnya hasrat hati Tuhan Yesus untuk selalu bersama dan menyatu dengan umat manusia. Dalam pemandangan para murid (dulu), Tuhan Yesus sudah naik ke surga. Namun sesungguhNya Dia tetap bersama manusia saat ini (di dalam RohNya), dan terus bersabda: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.”

 

Penutup

Mengulang hal-hal yang menguntungkan dan menghindari hal-hal yang merugikan adalah pola pikir manusia dalam mempertahankan kehidupannya. Naluri seperti itu sudah berlangsung turun-temurun selama berabad-abad. Hal itu nampak wajar namun tidak cukup untuk menyiapkan masa depan yang baik bagi semua ciptaan. Tuhan Yesus membawa kabar baik dengan cinta kasihNya. Hukum yang diajarkanNya adalah hukum yang menyiapkan manusia menyongsong masa depan yang cerah.

Ketika Nuh (Kejadian 6-9) membuat perahu besarnya, ia melakukan suatu pekerjaan aneh yang tidak dilakukan orang lain. Namun iman dan kasihnya menuntun Nuh menyiapkan masa depan yang baik. Iman dan kasih itu kadang aneh, dan tidak semua orang memahaminya. Tuhan Yesus menawarkan pencerahanNya (ayat 29). Dunia membutuhkan Tuhan Yesus Juruselamat. Kalau tubuh Tuhan Yesus adalah tubuh kita, dan darah Tuhan Yesus adalah darah kita, maka tahulah kita betapa indahnya hidup kita dan betapa cerahnya masa depan dunia. Amin. [DLS]

 

Nyanyian: KJ 178:12

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

 

Pambuka

Tiyang kathah sami kecelik nalika sowan ing ngarsanipun Gusti Yesus. Tiyang kalawau ngaturaken pitakenan dhumateng Gusti, kapan anggenipun rawuh ing papan ngriku. Nanging Gusti ingkang pirsa manah lan pikiranipun tiyang kathah lajeng ngendikan bilih sejatosipn tiyang-tiyang punika perlunipun namung nguber roti. Gusti ingkang nembe nindakaken mukjijat paring roti, dipun ajeng-ajeng nindakaken mukjijat malih supados tiyang sami nampi roti malih tanpa mbayar. Pancen makaten sajatining pratingkahipun manungsa, remen nampi kasaenanipun Gusti utawi tiyang sanes tanpa mbayar. Menawi ngalami kasaenan, tiyang lajeng kepingin prekawis punika kelampahan malih –wongsal-wangsul. Kosokwangsulipun menawi ngalami kasisahan utawi kerepotan, tyang lajeng nggresula –sambat lan ngudi supados prekawis ingkang kados makaten mboten dipun alami malih. Kathah tiyang namung nggatosaken keperluanipun piyambak. Miturut Gusti sifat ingkang makaten kalawau mboten sae, mboten namung kangge tiyang sanes nanging ugi kangge badanipun piyambak.

 

Isi

Miturut tiyang kathah, mukjijatipun Gusti Yesus ingkang nyekecakaken manungsa, punika ingkang utami. Miturut Gusti Yesus, sanes mukjijat ingkang utami nanging dhasar katresnan ing tumindakipun Gusti punika ingkang utami. Pancen limrahipun tiyang punika remen nampi kauntungan tanpa migatosaken punapa prekawis punika lumampah kanthi leres utawi lepat. Sawatawis tiyang pitados bilih sipat dhasaring manungsa punika namung migatosaken kepentinganipun piyambak. Menawi kabetahanipun piyambak sampun kacekapan, ateges tujuan gesang sampun kacandhak. Migatosaken tiyang sanes punika namung saperlunipun kemawon, mboten kepara penting.

Gusti paring pitedah bilih manungsa asring salah kaprah. Sawatawis tiyang nggadhah pemanggih, ngudi kauntungan kangge diri pribadi mesthi ndadosken karahayon. Pemanggih punika lepat! Saben manungsa mboten saged kapisahaken saking manungsa sanes. Sipatipun manungsa ingkang tansah mbetahaken pihak sanes punika tumurun saking sipatipun Allah. Gusti Allah ing salebeting katresnanipun mboten saged (mboten ngersakaken) pisah saking manungsa. Inggih awit katresnanipun, Allah lajeng rawuh ing alam donya wonten ing pribadinipun Gusti Yesus. Mila manungsa ingkang namung migatosaken badanipun piyambak, malah badhe kecuwan. Salah kaprahipun manungsa sampun kelampahan dangu, mila mboten gampang dipun ewahi. Rahayu tiyang ingkang pinanggih kaliyan Gusti Yesus lan ngugemi pangandikanipun, “sira tresnaa ing sapepadanira!”

Mukjijat punika sae, nanging sanes ingkang utami. Roti punika penting, nanging sanes ingkang utami. Bandha punika sae, nanging ingkang kelangkung sae lan penting punika namung Gusti Yesus. Gusti paring pasemon bilih Panjenenganipun punika roti ingkang sejati, kabetahan ingkang utami kangge manungsa, inggih kangge sedaya titah.

 

Panutup

Yokanan 3:16 ngemutaken kita sadaya bilih dhasaring Gusti Allah makarya kawilujenganipun manungsa mboten sanes inggih namung awit katresnanipun dhumateng manungsa (mboten wonten dhasar sanes). Anggen kita nglampahi punapa kemawon, prayogi inggih ngangge dhasar katresnan kita dhumateng Gusti Allah. Amin. [DLS]

 

Pamuji: KPK 65

 

Kata Kunci Artikel Ini:

khotbah minggu, kotbah minggu, rancangan khotbah gkjw, khotbah minggu ini, rancangan kotbah, khotbah minggu sengsara, kotbah gkjw, YEHEZKIEL 17:22-24, khotbah kenaikan tuhan yesus, amsal 9:1-6

Comments are closed.