wordpress com stats plugin
Home » Rancangan Khotbah Minggu

Rancangan Khotbah Minggu

MINGGU, 29 MARET 2015
MINGGU PALMARUM
STOLA UNGU

 

Bacaan 1         : Yesaya 50 : 4 – 7.
Bacaan 2         : Filipi 2 : 5 – 11.
Bacaan 3         : Markus 15 : 1 – 20a.

Tema Bulanan: Melayani perdamaian sebagai ibadah kepada Allah.
Tema Pekan    : Pengorbanan yang berkenan di hadapan Allah.

 

Keterangan Bacaan

Yesaya 50 : 4 – 7.

Ayat 4: hamba Tuhan mengidentikkan dirinya dengan kehidupan seorang murid. Dalam hubungan itu ada kedekatan, bagaikan persekutuan Tuhan dengan hambaNya.

  • lidahnya diberi kemampuan untuk bicara memberikan semangat baru bagi orang lain.
  • pendengarannya dipakai untuk mendengarkan suara sang guru, mengikutinya, adalah hal yang utama bagi seorang murid. Dalam hal ini juga ditunjukkan adanya ketaatan dari kata “mendengarkan”.

Ayat 5, 6: murid yang baik itu adalah taat, tidak memberontak, fokus, mengarahkan perhatian hanya kepada gurunya, tidak berpaling dari gurunya. Murid itu juga tidak melawan meski diperlakukan tidak baik oleh orang lain. Memukul punggung, mencabut janggut, meludahi muka, adalah beberapa ciri perbuatan laki-laki di Timur Tengah. Semua perbuatan itu berarti menghina, bahkan menghukum seseorang dengan mempermalukan. Sang murid rela menanggung semua itu. Hal ini menunjukkan ketaatan pada tugas panggilan seorang hamba Tuhan sebagai murid.

Ayat 7 menyatakan bahwa sang hamba Tuhan itu tidak khawatir dan begitu yakin pada pertolongan Tuhan sehingga dia mampu menanggung segala penderitaan. Berbagai penderitaan pasti mampu ditanggung karena yakin bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam. Sang hamba Tuhan hanya perlu meneguhkan diri dan yakin pada pertolongan Tuhan. Tuhan tidak pernah membiarkan hambaNya menanggung penderitaan sendirian. Itulah wujud penyertaan Tuhan pada hambaNya yang setia.

 

Filipi 2 : 5 – 11.

Rasul Paulus menasehatkan agar jemaat di Filipi meneladani Kristus yang selalu merendahkan diri. Kristus memang Allah, tetapi Dia rela mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. “StatusNya” sebagai Allah “ditinggalkanNya” dan menghayati serta menjalani hidup sebagai manusia. Untuk bisa menjadi seperti itu sangat diperlukan kerendahan hati.

Menjadi seperti manusia dan hidup bersama manusia pada umumnya ternyata belum cukup. Hal ini mengharuskanNya juga berhadapan dengan penderitaan, bahkan sampai kematian di kayu salib. Satu hal yang luar biasa adalah bahwa dalam penderitaan itu Kristus taat sampai mati. Dia setia dengan komitment yang telah diambilNya. KetaatanNya membawaNya pada penderitaan, penghinaan dan kematian. Tetapi pada akhirnya hal ini tidak menjadikanNya direndahkan, melainkan justru ditinggikan. Allah BapaNya mengaruniakan nama di atas segala nama. Artinya tidak ada nama yang dimuliakan melebihi nama Kristus. Ketaatan dan kerendahan-hatiNya ini menjadikan orang mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan. Meskipun datang dalam rupa manusia, tetapi hingga akhir hidupNya membuktikan bahwa Dialah Tuhan. Hal ini diakui oleh segala bangsa.

 

Markus 15 : 1 – 20a.

Pilatus adalah penguasa Romawi. Para tua-tua, ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sesungguhnya telah sepakat agar Yesus menerima hukuman salib. Itulah sebabnya mereka mengirimkan kepada Pilatus, karena orang Yahudi tidak boleh melaksanakan hukuman salib. Sesungguhnya mereka tidak suka dengan Pilatus. Bagi mereka hukuman salib itu hanya layak dilakukan oleh orang “kafir”, dalam hal ini mereka menyerahkan kepada pemerintahan Romawi, yaitu Pilatus.

Tuduhan yang paling berat yang mereka tuduhkan adalah Yesus menyatakan diriNya sebagai raja orang Yahudi (selain juga tuduhan-tuduhan lainnya). Tuduhan ini tentunya sangat menyinggung Pilatus, mengingat saat itu penguasa tertinggi hanya diakui dipegang oleh pemerintahan Romawi. Dalam hal ini Yesus tidak menanggapi lebih lanjut tuduhan-tuduhan itu. Sebaliknya, para tua-tua, ahli Taurat dan orang-orang dari Mahkamah Agama itu telah menghasut orang banyak supaya mendesak Pilatus agar Pilatus membebaskan Barabas dan menyalibkan Yesus. Di ayat 7 dijelaskan bahwa Barabas ini adalah seorang pembunuh dan pemberontak. Dia jelas memiliki kesalahan, sedangkan Yesus tidak ditemukan kesalahanNya oleh Pilatus. Tetapi kenyataannya bisa berbalik: penjahat dibebaskan, Yesus yang tidak bersalah justru dihukum salib. Dalam hal ini kebencian kepada Yesus rupanya telah menumpulkan akal sehat mereka.

Berbeda dengan para tua-tua Yahudi yang bermotif kebencian hingga ingin menyalibkan Yesus, maka Pilatus ingin mendapatkan simpati dari orang banyak sehingga cenderung menuruti keinginan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya orang banyak itu juga tidak menyukai Pilatus. Adapun Pilatus ingin merebut hati orang banyak sehingga ingin memuaskan mereka, meskipun untuk itu Pilatus berani mengorbankan kebenaran (ayat 15). Dalam hal ini kebenaran telah dikalahkan (atau diabaikan), baik oleh tua-tua Yahudi maupun Pilatus. Kebencian dan keinginan menyenangkan orang lain telah mengalahkan kebenaran yang seharusnya ditegakkan oleh penguasa. Ternyata hal itu juga dilakukan oleh para serdadu (ayat 16). Siksaan yang mereka lakukan terhadap Yesus juga jelas mengabaikan kebenaran. Siksaan yang mereka lakukan bukan saja siksaan secara fisik, tetapi juga penghinaan yang mereka lakukan dengan meludahi Yesus dan mengenakannya jubah ungu sebagaimana biasa dikenakan para raja, lengkap dengan “mahkota”. Itulah siksaan lahir maupun batin yang diterima Yesus.

 

Benang merah 3 bacaan

Yesus menggenapi nubuat tentang hamba Tuhan yang menderita. Hamba Tuhan ini rela merendahkan dirinya, bahkan rela menanggung penderitaan fisik dan non fisik dengan ketaatannya. Penderitaan yang dialami seorang hamba Tuhan (Yesus) ini bukan karena kesalahannya. PengorbananNya yang luar biasa, mulai dari rela menanggalkan ke-Allah-anNya, taat dalam penderitaan, menjadikanNya dimuliakan oleh seluruh bangsa. Ketaatan menjalankan kehendak Bapa dilakukanNya dengan sempurna. Hal ini sungguh menjadi teladan bagi semua orang. Pengorbanan dan ketaatanNya adalah untuk menyelamatkan umat manusia yang dikasihiNya. Berbagai penderitaan (fisik dan non fisik) dan ketidak-adilan yang dialamiNya tidak menjadikanNya mundur dari visinya untuk menyelamatkan umat manusia.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

DENGKI BERUJUNG MAUT
(nats : Markus 15 : 10)

Pendahuluan

Dengki menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri hati yang amat sangat pada keberuntungan orang lain. Dengki bukanlah sikap yang bisa dianggap remeh ataupun khilaf. Dengki bisa bertahan dalam hati manusia bertahun-tahun. Rasa dengki pada seseorang ternyata bisa berakibat kematian bagi orang lain. Hal ini tampak jelas dalam bacaan 3, bahwa penangkapan, “pengadilan” dan penyiksaan terhadap Tuhan Yesus Kristus adalah akibat dari kedengkian para imam kepala, tua-tua Yahudi, para ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama (Mark. 15 : 1). Kedengkian yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kuasa dan pengaruh justru bisa berakibat lebih fatal lagi, yaitu penyiksaan dan pembunuhan.

Isi

Kedengkian dari para imam kepala, tua-tua Yahudi, ahli Taurat dan Mahkamah Agama, tidaklah lepas dari kekhawatiran mereka akan kehilangan pengaruh di tengah orang banyak. Orang-orang yang dulu begitu taat dan takut kepada mereka dengan segala peraturan keagamaan yang mereka buat dan menguntungkan mereka, kini berubah menjadi pengikut Kristus. Kenyataan ini menjadikan mereka benci kepada Tuhan Yesus dan akhirnya membawa mereka pada kedengkian. Belum lagi mereka juga sering kali tersinggung oleh pengajaran Tuhan Yesus yang mengkritik mereka dan menjadikan mereka berkurang pengaruhnya di antara orang banyak.

Kedengkian dari orang-orang yang punya “kuasa” ini akhirnya menggerakkan orang banyak untuk berbalik menentang Tuhan Yesus. Para “penguasa” agama Yahudi ini telah menghasut orang banyak agar meminta Pilatus menyalibkan Yesus dan membebaskan Barabas (Mark. 15 : 11). Dalam hal ini tampak bahwa para “penguasa” itu memanfaatkan orang banyak (rakyat) untuk melampiaskan rasa dengki mereka kepada Tuhan Yesus. Lebih celaka lagi, karena orang banyak (rakyat) itu tidak sadar bahwa diri mereka sedang dimanfaatkan oleh para “penguasa” agama Yahudi itu untuk melampiaskan kebencian dan kedengkian mereka kepada Tuhan Yesus.

Kedengkian membuat manusia berpikir dan berbuat di luar akal sehat. Bagaimana mungkin, Tuhan Yesus yang datang dengan maksud menyelamatkan manusia dari kebinasaan hukuman dosa ternyata harus menanggung siksaan dan hukuman salib. Demikian juga dengan Barabas yang adalah seorang pemberontak dan pembunuh justru diminta untuk dibebaskan. Dalam hal inilah “pengadilan” yang dilakukan oleh Pilatus itu sesungguhnya bukanlah pengadilan dalam arti yang sebenarnya, yaitu mencari keadilan dan menunjukkan mana yang salah dan mana yang benar. “Pengadilan” yang dilakukan oleh Pilatus ternyata juga tidak lepas dari maksud-maksud politis yang menguntungkannya, yaitu supaya bisa mengambil hati rakyat dengan memuaskan mereka (Mark. 15 : 15a). Pilatus tentunya berharap dengan keputusannya itu dia bisa semakin menanamkan pengaruhnya di antara orang Yahudi yang selama ini tidak menyukainya.

Kedengkian bisa membakar kemarahan dan menumpulkan akal sehat. Kedengkian juga membuat hidup manusia tidak tenteram karena diliputi kebencian dan keinginan untuk membalas dendam serta mencelakai pihak yang dibenci. Karena dengki, para memuka agama Yahudi telah lupa bahwa diri mereka adalah orang-orang yang seharusnya mengajarkan dan memberi teladan hidup dalam kebaikan, menuntun umat kepada jalan Tuhan. Kenyataannya, kedengkian dalam hati mereka menjadikan mereka hanya berpikir bagaimana caranya melenyapkan Yesus dari muka bumi.

Jika dipikir lebih dalam, Yesus tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum pemerintahan maupun hukum agama Yahudi. Tetapi kenyataanNya Dia “dipersalahkan”. Hal ini mengingatkan nubuat nabi Yesaya tentang hamba Tuhan yang menderita (lih. Bacaan 1). Sang Hamba yang menderita ini sangat yakin bahwa penderitaan yang dialaminya bukan akibat dari kesalahan yang dilakukan. Sebaliknya justru karena memberlakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Keyakinan inilah yang membawanya pada sebuah ketaatan. Yesus Kristus yang adalah Allah telah merendahkan diriNya sebagai seorang hamba yang taat sampai akhir hidupNya (lih. Bacaan 2). Kedengkian para pemimpin agama Yahudi tidak mampu melunturkan ketaatanNya pada kehendak BapaNya. Dia menjalani penderitaanNya sebagai seorang manusia yang taat. Dia tidak menggunakan kekuasaanNya untuk menangani kedengkian dan kejahatan manusia yang menghukumNya.

Peristiwa yang disaksikan dalam bacaan 3 ini menunjukkan kepada kita semua betapa berbahayanya sebuah kedengkian. Jika kedengkian ini tertanam di hati orang-orang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh (seperti para pemuka agama Yahudi dan Pilatus), akibatnya bisa lebih fatal yaitu kematian pihak lain (Yesus). Rasa benci yang tadinya menjadi sikap pribadi, akhirnya bisa menjadi kebencian secara kolektif (orang banyak yang dihasut untuk membeci Yesus). Kedengkian yang dipelihara dan akhirnya dibuahi hingga menuntut perbuatan nyata, akhirnya menjadikan seseorang tidak berpikir dengan akal sehatnya, bahkan mengabaikan hukum Tuhan (yaitu hukum jangan membunuh). Lebih mengerikan lagi, kedengkian ini juga menggerakkan orang banyak untuk juga melanggar hukum Tuhan sehingga mereka menjadi tidak mampu lagi membedakan mana yang benar, mana yang salah: Siapa Barabas, siapa Yesus, siapa yang harus dihukum salib, siapa yang harus dibebaskan. Ini sungguh mengerikan!

Penutup

Orang yang memelihara kedengkian dalam hatinya harus siap hidup dalam ketidak-tentraman. Kedengkian yang dipelihara akan mencelakai pihak lain yang tidak disukai, bahkan hingga berakibat kematian. Orang yang memelihara kedengkian tidak mampu berpikir dengan akal sehatnya, bahkan akhirnya mengabaikan hukum-hukum Tuhan maupun hukum pemerintah. Oleh karena itu waspadalah terhadap kedengkian, karena rasa dengki yang “dibuahi” bisa berakibat kematian bagi orang lain yang tidak bersalah. Rasa dengki bisa menjadi awal perbuatan membunuh sesama. Amin. (YM)

 

Nyanyian: KJ 160 : 1, 6.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

DRENGKI DADI PATI
(Jejer : Markus 15 : 10)

Pambuka

Drengki miturut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tegesipun rumaos nesu (sengit, boten remen) awit saking raos meri sanget tumrap karahayoning tiyang sanes. Drengki boten saged dipun wastani prekawis sepele utawi khilaf. Drengki punika saged tumanem ing batosing manungsa ngantos mataun-taun. Drengki tumrap tiyang sanes saged ndadosaken tiwasipun tiyang kalawau. Prekawis ingkang mekaten kalawau kacariyosaken ing waosan 3, bilih anggenipun Gusti Yesus kacepeng, “kaadili”, lan kasiksa, punika awit saking drengkinipun para imam, sesepuhing Yahudi, para ahli Toret lan Mahkamah Agama (Mark. 15 : 1). Raos drengki ingkang tumanem ing batosipun para tiyang ingkang gadhah panguwaos lan pengaruh, estunipun saged njalari patrap ingkang langkung awon, inggih punika panyiksa lan raja pati.

Isi

Raos drengkinipun para imam, para sesepuhing Yahudi, para ahli Toret lan Mahkamah Agama, karana kuwatos kecalan pengaruh ing satengahing tiyang kathah (rakyat). Tiyang kathah ingkang rumiyin sami nurut lan ajrih dhateng para sesepuh lan sedaya pepaken agami ingkang kadamel dening para sesepuh lan kangge kauntunganing para sesepuh punika, samangke dados pandherekipun Sang Kristus. Kasunyatan punika ndadosaken para sesepuh kalawau sengit dhateng Gusti Yesus lan wusananipun dados raos drengki. Kejawi saking punika para sesepuhing tiyang Yahudi punika ugi serik awit saking pamucalipun Gusti Yesus ingkang melehaken lan ndadosaken para sesepuhing tiyang Yahudi punika kekirangan pengaruh ing antawisipun tiyang kathah.

Raos drengki ingkang tumanem ing batosipun para tiyang ingkang gadhah “panguwaos” punika wusananipun saged dados pangatag-atag tumrap tiyang kathah supados nglawan Gusti Yesus. Para pangarsaning agami Yahudi punika ngojok-ojoki tiyang kathah supados nyuwun dhateng Pilatus kangge nyalib Gusti Yesus lan ngluwari Barabas (Mark. 15 : 11). Lah ing ngriku cetha bilih para “panguwaos” punika sampun migunakaken tiyang kathah (rakyat; tiyang golongan) supados mujudaken kedrengkian punika dhumateng Gusti Yesus. Langkung cilaka malih, dene para tiyang golongan (rakyat) punika boten rumaos bilih piyambakipun saweg kaginakaken minangka sarana dening para “panguwaos” agami Yahudi supados saged malesaken raos sengit lan drengkinipun dhumateng Gusti Yesus.

Raos drengki nyatanipun saged ndadosaken manungsa mikir lan tumindak ingkang boten nalar. Gusti Yesus ingkang rawuh ing jagad kanthi tujuan milujengaken manungsa saking paukumaning dosa nyatanipun kedah nanggel pasiksan lan kasalib. Dene Barabas sang pemberontak lan ugi mejahi tiyang sanes malah kasuwun nampi pangluwaran. Ing prekawis punika estunipun “pangadilan” ingkang katindakaken dening Pilatus punika sanes “pangadilan” ingkang samesthinipun, inggih punika nedahaken pundi ingkang lepat lan pundi ingkang leres. “Pangadilan” ingkang katindakaken dening Pilatus nyatanipun boten uwal saking kapentingan politis ingkang paring kauntungan dhateng Pilatus piyambak, inggih punika kangge milut manahipun tiyang golongan lan ugi ngremenaken manahipun (Mark. 15 : 15a). Pilatus tamtunipun ugi gadhah pangajeng-ajeng kanthi keputusan punika piyambakipun saged nanemaken panguwaosipun ing antawisipun para tiyang Yahudi ingkang pancen boten remen kaliyan piyambakipun.

Raos drengki saged ngobong hawa nepsu lan murugaken nalar dados kethul/ boten lantip malih. Raos drengki ugi ndadosaken gesanging manungsa boten tentrem awit kakebakan ing raos sengit lan pepinginan kangge males lan nyilakani tiyang ingkang dipun sengiti. Awit saking raos drengki, para sesepuhing agami Yahudi kesupen bilih piyambakipun punika minangka tiyang ingkang kedah paring pamucal lan tuladha supados gesang ing kabecikan, paring panuntun dhateng umat supados gesang miturut marginipun Gusti. Kasunyatanipun, raos drengki ing salebeting manah ndadosaken para sesepuhing tiyang Yahudi kalawau namung menggalih kados pundi caranipun supados saged nyirnakaken Gusti Yesus saking lumahing bumi.

Sejatosipun Gusti Yesus boten nindakaken prekawis ingkang nerak angger-anggering pemerintah utawi agama Yahudi. Nanging Panjenenganipun malah “dipun lepataken”. Prekawis punika ngengetaken kita dhateng pamecanipun nabi Yesaya inggih punika bab abdinipun Allah ingkang nandhang sangsara (mugi kapirsanan waosan 1). Abdinipun Allah ingkang nandhang sangsara punika pitados bilih panandhangipun punika boten awit saking nindakaken kalepatanipun. Kosokwangsulipun, panandhang punika katampi awit saking nindakaken kabecikan ing ngarsanipun Gusti. Kapitadosan punika ingkang ndadosaken pambangun turut. Gusti Yesus Kristus inggih punika Allah piyambak ingkang sampun ngasoraken sariranipun kados dene abdi ingkang setya tuhu ngantos dumugi pungkasaning gesang (mugi kapirsanan waosan 2). Raos drengki saking para sesepuhing tiyang Yahudi boten saged ngewahi kasetyanipun Sang Kristus dhumateng karsanipun Sang Rama. Panjenenganipun nglampahi kasangsaran minangka manungsa ingkang mbangun turut. Panjenenganipun boten ngginakaken panguwaosipun kangge ngadhepi raos drengki lan kadurakanipun manungsa ingkang paring paukuman dhateng Penjenenganipun.

Kasunyatan ingkang kacariyosaken ing waosan 3 punika nedahaken dhateng kita sami bilih raos drengki punika saestu mbebayani. Menawi raos drengki punika tumanem ing batosipun para tiyang ingkang gadhah panguwaos lan gadhah pengaruh (kados dene para sesepuhing tiyang Yahudi lan Pilatus), akibatipun saged langkung awon inggih punika tiwasipun tiyang sanes ingkang dipun sengiti (Gusti Yesus). Raos sengit ingkang suwaunipun dados sikap pribadi, wusananipun saged dados raos sengit secara kolektif (para tiyang golongan ingkang dipun ojok-ojoki supados sengit dhateng Gusti Yesus). Raos drengki ingkang karimat saged ndadosaken manungsa boten nalar malih, mekaten ugi saged nglirwakaken pepakenipun Gusti (inggih punika angger-angger: sira aja memateni!). Langkung nggegirisi, bilih raos drengki punika ndadosaken tiyang kathah ugi nerak angger-anggeripun Gusti. Wusananipun tiyang-tiyang kalawau boten saged malih mbentenaken pundi ingkang leres lan pundi ingkang lepat: Sinten Barabas punika lan sinten Yesus punika, sinten ingkang pantes nampi paukuman salib, lan sinten ingkang kedah nampi pangluwaran. Punika saestu nggegirisi!

Panutup

Tiyang ingkang ngrimati raos drengki ing manahipun, estunipun kedah purun gesang ing salebeting raos boten tentrem. Raos drengki saged nyilakani tiyang sanes ingkang dipun sengiti, malah wusananipun ngantos nemahi tiwas. Tiyang ingkang ngrimati raos drengki ugi kedah purun gesang kanthi boten saged nalar, lan wusananipun nglirwakaken angger-angger peparingipun Gusti utawi pemerintah. Pramila, sumangga kita sami waspada tumrap raos drengki, awit raos drengki ingkang kawujudaken, saged ndadosaken tiyang sanes ingkang boten lepat malah nemahi tiwas. Raos drengki punika saged dados wiwitaning tumindak mejahi utawi merjaya sesami. Amin. (YM)

Pamuji: KPK 251 : 1 – 3

—-

JUMAT, 03 APRIL 2015
JUMAT AGUNG
STOLA UNGU

 

Bacaan 1         : Yesaya 52: 13-53: 10
Bacaan 2         : Ibrani 4: 14-16
Bacaan 3         : Yohanes 18: 1-11

Tema bulanan    : Umat Tuhan sebagai Tanda Keselamatan
Tema mingguan : Belajar Bertumbuh dalam Iman

 

Keterangan Bacaan

Yesaya 52: 13-53: 10

Apa yang dilakukan oleh Sang Hamba demi menuntaskan panggilan-Nya menjadi terang bagi bangsa-bangsa? Perikop ini merupakan puncak dari sederetan Nyanyian hamba TUHAN (Yes. 40:1-7; 42:1-6; 50:4-6) yang mengungkapkan pengurbanan Sang Hamba. Perikop ini telah menjadi inspirasi bagi para penulis PB untuk memahami tindakan Allah berinkarnasi untuk menyelamatkan manusia.

Inkarnasi berarti Allah memilih menjadi manusia dan menjadikan penderitaan manusia sebagai “tempat kudus” kehadiran dan karya-Nya. Semenjak dilahirkan di bumi sebagai manusia, Kristus telah menjalani setiap bentuk rasa sakit seorang manusia: penolakan, kehausan, kelaparan, kemiskinan, menggelandang (tak punya rumah, bahkan kuburan), dipukuli, kehilangan orang yang dikasihi,

 

Ibrani 4: 14-16

Sama seperti peringatan ini dimulai dengan menyebut Imam Besar kita, peringatan ini juga diakhiri dengan menceritakan pelayananNya sebagai Imam Besar kita. Peringatan ini mengingatkan kita bahwa kita memang adalah “rumahNya,” yaitu bahwa kita boleh melayani sebagai imam-imamNya di dunia ini, asal kita pegang dengan teguh pada iman kita. Semua keperluan-keperluan kita sebagai imam-imam disediakan oleh Dia yang adalah Imam Besar kita. Imam-imamNya harus berharap kepada Dia yang adalah Imam Besar.

Dalam pasal-pasal yang berikut, si penulis akan menjelaskan secara rinci mengenai Imam Besar kita, tetapi sebelum penjelasan itu dimulai nats ini dicatat untuk mengetengahkan gunanya ajaran ini. Ini bukan teori saja, tetapi kita boleh memperoleh pertolongan yang tepat dari Imam Besar kita. Ini berguna sekali untuk menguatkan kehidupan rohani kita.

Imam Besar kita “telah melintasi semua langit,” menurut 4:14. Di dalam peringatan ini di atas ciptaan Allah disamakan dengan Bait Allah, sehingga Tempat yang Maha Suci bisa disamakan dengan sorga. Kalau begitu, maka “melintasi semua langit” mirip dengan tugas Imam Besar di Israel yang setiap tahun memasuki Tempat yang Maha Suci dengan darah binatang. Dulu, Imam Besar hanya memasuki Tempat yang Maha Suci di Yerusalem, tetapi Imam Besar kita lebih “Agung,” karena Dia “telah melintasi semua langit.” Dengan ditolong oleh “Imam Besar Agung,” maka kita

 

Yohanes 18: 1-11

Peristiwa penyaliban Yesus sudah di depan mata. Detik-detik penderitaan yang Dia tanggung sebagai akibat dosa manusia, segera dimulai. Permulaan drama itu berlangsung di suatu taman (ayat 1). Dengan disertai orang-orang yang dipersenjatai (ayat 3), para pemimpin agama Yahudi mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Mereka tentu mengira bahwa Yesus akan melawan atau melarikan diri. Oleh karena itu mereka tidak mau gagal. Namun dugaan mereka salah. Ia bahkan tidak menyembunyikan diri dari orang-orang yang bermaksud menangkap Dia (ayat 4). Jika mereka berharap tidak gagal menangkap Yesus, maka harapan mereka terwujud. Akan tetapi, itu terjadi bukan karena mereka telah merancang suatu strategi penangkapan yang brilian. Bukan juga karena jumlah orang-orang yang dipersiapkan untuk menangkap Yesus begitu banyak. Semua itu terjadi karena memang itulah waktu-Nya Tuhan.

Kisah penangkapan Yesus memperlihatkan bahwa Dia sepenuhnya memegang kendali atas situasi yang terjadi saat itu. Bukan tentara Roma, bukan pemimpin agama Yahudi, bukan Yudas, dan tentu saja bukan para murid. Yesus bukanlah korban situasi atau ketidakadilan. Hidup-Nya bukan dirampas dari-Nya, melainkan Ia sendiri yang menyerahkannya. Jelas bahwa penyerahan diri-Nya ke tangan musuh bukan merupakan kekalahan, melainkan ketaatan untuk melaksanakan kehendak Bapa (ayat 11). Ia bersedia tunduk meski sebelumnya meminta agar Allah melewatkan cawan derita itu (Mat 26:39; Mrk. 14:36; Luk. 22:42).

Ketaatan dan kerelaan Kristus meneguk cawan derita membuat manusia berdosa dapat menikmati anugerah keselamatan kekal. Bagaimana seharusnya sikap kita sebagai pengikut Dia? Yang jelas jangan seperti Petrus, yang ingin “membela” Tuhan tetapi tidak menyadari bahwa tindakannya tidak sejalan dengan rencana Allah. Petrus malah ingin menyingkirkan cawan yang harus Yesus

(Catatan: keterangan bacaan dikutip dari www.sabda.org/commentary)

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

  1. Ketika seseorang sedang panik acapkali pikiran normal tidak berfungsi dengan baik, bahkan kalut. Misalnya, ketika 100 orang sedang berada di dalam sebuah ruangan, tiba-tiba ada gempa bumi. Apa yang akan terjadi? Mereka akan berdesak-desakan karena akan keluar dari ruangan secara bersama, saling berebut pintu keluar. Akibatnya keadaan menjadi tidak teratur sama sekali, karena setiap orang ingin menjadi yang paling pertama keluar ruangan dan aman. Tidak banyak yang mau berdiam diri barang beberapa detik untuk berpikiran jernih, sehingga kemudian bisa memberi komando agar masing-masing antri supaya keluarnya 100 orang itu bisa berjalan lancar.
  2. Contoh lain tentang kepanikan. Beberapa tahun terakhir ini di masyarakat ada banyak model penipuan dengan cara menggunakan ilmu gendam, melumpuhkan kesadaran seseorang. Seorang ibu mengikuti saja perintah dari seseorang melalui pesawat telepon agar mentransfer sepuluh juta rupiah ke nomor rekening tertentu, setelah ibu tadi diberitahu bahwa anaknya sedang berada di ruang Gawat Darurat sebuah rumah sakit karena kecelakaan. Setelah uang sepuluh juta rupiah itu ditransfer, Sang Ibu bergegas menuju ke rumah sakit. Namun, ketika baru beberapa langkah berjalan dari pintu gerbang rumahnya dia berpapasan dengan anaknya yang diberitakan mengalami kecelakaan. Sang Ibu menjadi sadar bahwa dirinya telah tertipu!
  3. Pada bacaan ini kita berjumpa dengan kontras antara dua sosok. Sosok pertama tenang dan menguasai keadaan, sosok kedua reaktif dan gegabah. Ketika Yesus dikepung oleh para serdadu yang akan menangkap diri-Nya, Yesus tampak amat tenang. Ia bisa berkomunikasi dengan baik dengan para serdadu itu dan bahkan menyatakan dengan amat jelas bahwa memang diri-Nya yang mereka kehendaki untuk ditangkap. Yesus tidak berusaha untuk melarikan diri atau meminta para muridNya untuk melindungi diriNya dari bahaya pedang. Tetapi justru dengan tenang Dia melangkah mendekati para serdadu itu sambil mengatakan, “Siapakah yang kamu cari?” dan “Akulah Dia!” Risiko bahwa diriNya akan ditangkap dan bahkan akan dianiaya pastilah sudah diketahui oleh Yesus, tetapi Ia tidak mundur. Ia menempatkan diri sebagai sosok yang melindungi dan lebih senang para murid tidak mendapat persoalan dari para serdadu, sehingga Yesus mengambil risiko untuk berdiri berhadapan dengan para serdadu. Kedua adalah sosok Petrus. Keadaan panik menyebabkan ia kehilangan kemampuan untuk berpikir dan bertindak tenang terkendali. Secara spontan nalurinya bekerja, maka ditebaskannya pedang yang ada di tangannya ke telinga Malkhus. Petrus tidak mampu mempertahankan kejernihan akal budinya ketika mengalami keadaan yang secara tiba-tiba berubah, dari tenang menjadi penuh pasukan serdadu. Sehingga ia panik dan tidak mampu mengendalikan diri (“Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus”). Pikiran yang ada dalam keadaan panik membuka peluang terjadinya banyak kemungkinan buruk.
  4. Selama memasuki Minggu Prapaskah ada banyak cara yang dilakukan oleh orang-orang Kristen dalam mengisinya. Ada yang selama masa pra-Paskah menjalani laku puasa secara sungguh-sungguh. Ada juga yang menghayati penderitaan Yesus selama masa prapaskah dengan cara menulis tangan ayat-ayat Alkitab setiap pagi seusai bangun tidur. Ada juga yang menyiapkan celengan khusus untuk diisi uang selama hari-hari masa pra-Paskah. Dan jumlah yang diisikan ke dalam celengan itu pun jumlah istimewa, supaya ketika saat Paskah tiba dan celengan itu dipecah akan terkumpul jumlah yang besar, sehingga bisa diberikan kepada orang yang membutuhkan.
  5. Keberbagaian cara orang Kristen dalam mengisi dan memberi makna masa pra-Paskah bukanlah didorong oleh keinginan untuk mendapatkan pahala, tetapi itu semua dilakukan dalam rangka belajar mengendalikan diri secara disiplin. Disiplin untuk melakukan sesuatu yang berguna, dan disiplin untuk memikirkan bentuk tanggungjawab apa yang bisa disumbangkan untuk meringankan beban orang lain. Juga disiplin untuk belajar mengikis perilaku buruknya.
  6. Ketika kita mendengar ungkapan “supaya bisa meringankan beban orang lain” seringkali yang segera tertangkap di benak kita adalah masalah materi, padahal tidak selalu begitu! Ketika seorang istri menyaksikan perubahan perilaku dari suaminya -semula keras kepala dan pemarah kemudian berubah menjadi lembut dan penyabar- bagi Sang Istri hal ini merupakan sesuatu yang amat berharga, nilainya melebihi sejumlah harta benda! Inilah salah satu tujuan ketika banyak orang melakukan kegiatan khusus selama masa pra-Paskah. Bukankah kemampuan untuk semakin bisa menguasai diri, berperilaku suka menolong orang lain, tidak lamban dalam memuji orang lain bisa dilatih?
  7. Mengapa selalu saja kita jumpai ada banyak orang dewasa yang masih mudah marah, reaktif, mudah patah arang, sombong, kikir, penggosip, tak tahu diri, selalu merendahkan orang lain, selalu menyalahkan orang lain, suka menghina orang miskin, selalu menganggap diri paling benar, menyimpan dendam/ kebencian pada orang lain? Karena mereka tidak merawat imannya!!! Bisa jadi mereka amat rajin dalam berbagai kegiatan rohani, bahkan pengkhotbah atau donator pada berbagai kegiatan jemaat. Iman yang dirawat itu akan bertumbuh dan mengikis sedikit-demi sedikit hal-hal buruk yang malekat pada diri seseorang. Jika perawatan dilakukan secara terus menerus, bukankah bisa dipastikan akan dihasilkan sebuah perubahan/ pertumbuhan?
  8. Apakah selama Masa Pra-Paskah ini sudah kita manfaatkan waktu untuk melatih dan merawat iman secara istimewa? Amin. [_smdyn]

 

Nyanyian: KJ 453

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

  1. Nalika tiyang saweg gupuh (panik), asring pikiran boten saged nalar kanthi sae. Upaminipun, nalika 100 tiyang ing wonten lebeting wewangunan, ujug-ujug wonten lindhu. Punapa ingkang badhe kalampahan? Tiyang-tiyang temtu sami badhe suk-sukan medal. Temah kawontenan dados kisruh sanget. Saben tiyang namung kepingin enggal-enggal saged medal saking wangunan lan slamet! Boten kathah, malah boten wonten ingkang gadhah angen-angen kendel/ meneng sekedhap supados saged tumindak kanthi trep, supados saged katata lan sedaya saged medal kanthi lancar.
  2. Sawetawis taun pungkasan punika ing masyarakat kita kedadosan kathah warganing masyrakat ingkang asring kapusan awit kenging elmu gendham. Salah satunggaling ibu manut kemawon nalika kapurih ngintun arta langkung bank, sasampunipun nampi telepon ingkang isinipun pawartos bilih anakipun ngalami kacilakan lan samangke karimat ing UGD griya sakit. Sasampunipun ibu punika ngintun arta, lajeng enggal-enggal tindak dhateng griya sakit. Nalika nembe pinten jangkah saking regol, piyambakipun pnanggih kaliyan putranipun ingkang kawartosaken kacilakan. Ibu punika lajeng emut, “Wah, kapusan aku!”
  3. Ing waosan menika kita pinanggih kaliyan 2 (kalih) pribadi ingkang kontras. Pribadi ingkang sepisan menika reaktif (gupuhan) lan sembrana, pribadi satunggalipun punika anteng lan nguwaosi kawontenan. Nalika Gusti Yesus kakepung dening para prajurit Romawi, Panjenenganipun boten gupuh lan saged ngendhaleni dhiri. Malah saged wawan rembag kanthi sekeca kaliyan para prajurit. Gusti Yesus boten lajeng mlajar utawi ndhawuhi para sakabat supados mbiyantu Panjenenganipun, nanging malah tindak nyelaki para prajurit kaliyan ngandika, “Sapa sing padha kok golekki?…….Ya iki Aku…” Gusti Yesus mesthi sampun pirsa risikonipun nalika nyelaki para prajurit, inggih menika saged kacepeng lan kaaniaya. Nanging Gusti Yesus boten mundur. Panjenenganipun punika pribadi ingkang rumaos tanggel-jawab ngayomi. Pribadi sanesipun inggih punika Petrus. Kawontenan panik murugaken piyambakipun kecalan nalar normalipun! Kanthi spontan nalurinipun medal, lan tanganipun enggal mendhet pedhang lan talinganipun Malkhus kapapras. Petrus boten saged ngendhaleni dhiri. Ewah-ewahan ingkang ujug-ujug saking swasana ingkang sidhem ewah dados swasana tegang awit kathah prajuri, murugaken Petrus boten saged ngendhaleni emosinipun (“Simon Petrus kang sikep pedhang, banjur ngunus pedhange, disabetake marang abdine Imam Agung, kupinge kang tengen perung. Abdi mau jenenge Malkhus”). Nalar ingkang saweg kalut saged ndadosaken tumindak ingkang mbebayani.
  4. Salami wekdal pra-Paskah wonten kathah cara ingkang dipun lampahi dening para pitados. Wonten ingkang laku siyam/ pasa ingkang dipun lampahi kanthi temen. Wonten ugi ingkang sinau langkung disiplin ing babagan karohanen katimbang dinten-dinten saderengipun. Disiplin punika dipun cakaken lumantar kegiatan ajeg saben wungu saking sare, inggih punika nyerat mawi potlot utawi pulpen sawetawis ayat ing Kitab Suci. Wonten ugi ingkang nyawisaken celengan mirunggan ingkang dipun isi arta saben dinten salami wekdal pra-Paskah. Cacahipun arta ingkang kalebetaken ing celengan menika sanes angger nglebetaken, nanging saestu arta ingkang pancen dipun cawisaken (mirunggan), awit isi celengan punika badhe kaginakaken mitulungi tetanggipun ingkang mbetahaken arta kangge tumbas kabetahan sekolah putra-putranipun; kejawi punika ugi minangka tenger wujuding saos sokur dhumateng Gusti.
  5. Maneka warni cara lan margi anggenipun tiyang Kristen nglampahi pra-Paskah. Tamtu kemawon sedaya cara kalawau sami katindakaken boten supados pikantuk pituwas saking Gusti, nanging malah minangka pirantos kangge sinau ngendhaleni dhiri. Supados kanthi mekaten, tiyang pitados sami saged mujudaken tanggel-jawab dhateng sesami utawi saged tumindak ngenthengaken momotaning sesami; ugi saged dados pirantos kangge ngirangi watak serakah.
  6. Nalika kita mireng tembung, “supaya bisa ngenthengake momotaning liyan” asring sanget ingkang tuwuh ing batos kita inggih punika bab materi/ bandha, kamangka sanes! Nalika tiyang estri ningali lan ngraosaken bilih wonten ewah-ewahan cara gesanging semahipun: suwau wangkot lan gampil nesu, nanging samangke sabar lan lembah manah. Kangge tiyang estri menika, ewah-ewahan gesang punika “reginipun” ngungkuli raja brana ingkang kathah. Inggih, ewah-ewahan kados makaten ingkang dados salah satunggiling tujuan nalika kathah tiyang pitados ingkang temen nglampahi kegiatan mirunggan ing wekdal pra-Paskah. Wewatekan awon: gampang duka lan cethil upaminipun, punika saged dipun dandosi dados watak lembah manah lan loma.
  7. Kenging punapa tansah kemawon kita prangguli kathah tiyang ingkang sampun dewasa secara umur nanging taksih gampil duka, reaktif, gampil semplah, angkuh, cethil, remen rerasan, boten ningali githokipun, tansah ngremehaken liyan, gampil njeksani liyan, ngenyek dhateng ingkang mlarat, tansah rumaos paling leres, nyimpen sengit dhateng liyan? Amargi sami boten purun ngrimat imanipun! Saged ugi tiyang-tiyang kalawu sami sregep ing maneka warni kegiatan rohani, malah mbokbilih minangka pengkhotbah utawi donator ageng ing pasamuwan. Iman ingkang karimat mesthi badhe mekar lan sekedhik baka sekedhik badhe ngicali bab-bab awon ingkang wonten ing gesang kita. Menawi pangrimatan tansah katindakaken, mesthinipun rak badhe ngedalaken woh?
  8. Punapa ing wekdal pra-Paskah punika sampun kita dadosaken wekdal kangge nglatih lan ngrimati iman kanthi mirunggan? Amin. [_smdyn]

Nyanyian: KPK 123

—-

MINGGU, 05 APRIL 2015
HARI RAYA PASKAH
STOLA MERAH

 

Bacaan 1         : Yesaya 25: 6-8
Bacaan 2         : Kisah Rasul 10: 34-43
Bacaan 3         : Yohanes 20: 1-18

Tema bulanan            : Umat Tuhan sebagai Tanda Keselamatan.
Tema mingguan: Aku telah Melihat Tuhan.

 

Keterangan Bacaan

Yesaya 25: 6-8

Nubuatan Yesaya kepada bangsa-bangsa tentang janji pengharapan pembebasan dan penyelamatan, diwarnai penghakiman dan penghukuman Tuhan. Hal itu tepat dikatakan semacam saringan yang nantinya mampu menghasilkan suatu bangsa yang kuat dan memuliakan Allah, bangsa yang menyadari kelemahannya. Inilah gambaran suatu bangsa dan umat yang sejati di hadapan Allah.

Gereja harus dinamis dan optimis. Gereja Yesus Kristus merupakan perwujudan nubuatan Yesaya. Sepatutnyalah gereja melaksanakan tugas panggilannya, pantang mundur untuk mencapai sasaran isi dunia ini, supaya bangsa-bangsa memuliakan Allah. Tantangan harus dihadapi dengan sikap antusias dan percaya penuh kepada Tuhan. Dengan demikian kemenangan pasti dikaruniakan Allah dalam hidup gereja (ayat 9-10). Selain pertobatan terjadi, nubuatan firman Tuhan itu diberitakan dan diperdengarkan sepanjang sejarah, berjalan dalam sejarah dan menggenapi sejarah itu.

 

Kisah Rasul 10: 34-43

Yahudi pernah mengalami penderitaan dahsyat karena perlakuan rasialis dari bangsa Jerman. Namun banyak orang Yahudi pada masa Perjanjian Baru pun bersikap rasialis. Mereka merasa satu-satunya umat Allah yang berhak atas semua janji-Nya. Bangsa-bangsa lain tak lebih daripada binatang yang tak layak mendapat anugerah Allah.

Sikap rasis umat Yahudi disebabkan kekeliruan mereka memahami konsep umat pilihan. Bagi mereka, umat pilihan adalah semata-mata hak istimewa. Mereka lupa panggilan istimewa adalah untuk tugas/kewajiban mulia, membawa bangsa-bangsa lain kepada Allah. Khotbah Petrus kepada Kornelius dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Allah berkenan atas setiap orang dari bangsa manapun yang datang dengan tulus mencari-Nya termasuk Kornelius yang adalah seorang kafir. Rahasia perkenan Allah atas semua orang ini terletak pada diri Yesus Kristus (ayat 36-38). Yesus yang datang ke dunia ini mengerjakan karya keselamatan untuk membuat orang berkenan kepada Allah. Melalui kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus telah menyediakan jalan keselamatan untuk semua orang, semua bangsa.

Petrus, sebagai seorang Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis dan menerima Kornelius, seorang kafir sebagai sesama manusia yang dikasihi Allah (ayat 34). Bahkan Petrus menyadari bahwa panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang (ayat 42). Merenungkan ini apa respons kita, yang pada dasarnya bukan orang Yahudi melainkan sama seperti Kornelius yang termasuk dalam bilangan bangsa kafir? Kita patut bersyukur karena hanya oleh karya Kristuslah kita bisa datang kepada Allah dan layak disebut sebagai umat-Nya. Tugas kita sekarang adalah memberitakan anugerah itu kepada semua orang lintas ras, suku, bangsa, dan bahasa, juga status sosial.

 

Yohanes 20: 1-18

Kesimpulan apa lagi yang ada dalam benak Maria Magdalena ketika ia melihat kubur Yesus telah terbuka dan kosong, selain bahwa jasad-Nya telah diambil orang? Dalam situasi seperti itu, tentu saja tidak akan terpikir kemungkinan-kemungkinan lain. Maka kemungkinan itu pulalah yang dia sampaikan kepada Simon Petrus dan seorang murid Yesus yang lain (ayat 2).

Kemungkinan itu membuat kedua orang murid Yesus tidak sabar untuk memeriksa kebenaran berita yang disampaikan Maria Magdalena (ayat 3-4). Dan ternyata memang benar. Kubur terbuka! Namun kedua murid tidak hanya terpaku pada fakta itu. Mereka juga memperhatikan sesuatu yang aneh. Kain peluh, yang tadinya menutupi kepala Yesus, saat itu sudah tergulung dan terletak di tempat lain (ayat 7). Tentu telah terjadi sesuatu yang aneh. Akan tetapi, bila jasad Yesus memang dicuri, tentu pencurinya tidak akan menanggalkan kain yang dikenakan pada jasad Yesus. Keanehan tersebut mengingatkan murid-murid akan apa yang tertulis dalam Kitab Suci mengenai kebangkitan (ayat 9). Saat itu mereka menyaksikan bahwa apa yang tertulis dalam Kitab Suci telah digenapi. Mereka pun kemudian percaya bahwa Yesus telah bangkit (ayat 8). Mendengar firman Tuhan memang membangkitkan rasa percaya pada Tuhan.

Orang memang tidak mudah memercayai Yesus, karya salib-Nya, kebangkitan-Nya, atau segala perbuatan ajaib yang Dia lakukan. Padahal semua kisah itu telah ditulis, baik sebagai nubuat maupun sebagai fakta historis. Meski demikian, ada saja orang yang berusaha memberikan penjelasan-penjelasan logis untuk menerangkan semua itu agar mudah diterima akal. Namun bila orang pernah mendengar firman Tuhan, bukan tidak mungkin ingatan akan firman membangkitkan iman. Hal ini pun harus didasari dengan sikap yang mau terbuka menerima kebenaran Tuhan. Karena hanya dengan memiliki sikap demikianlah, orang akan mau percaya walau sulit memahami.

(Catatan: keterangan bacaan dikutip dari www.sabda.org/commentary)

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

  1. Konon suatu saat ketika Gagarin baru saja pulang dari angkasa luar ditemui oleh pemimpin besar Uni Soviet waktu itu, yaitu Nikita Kruschev; lalu ditanya, “Apakah Anda di sana bertemu dengan Dia?”Jawab Gagarin, “benar tuan, di sana saya bertemu dengan Dia.” Respon Kruschev, sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Gagarin dan berbisik, “Dalam hati saya, saya juga percaya bahwa Dia ada; tapi tolong jangan katakan hal ini kepada siapapun!” Kemudian Gagarin berkeliling dunia, di suatu tempat ia ditemui oleh rohaniawan. Yang bertanya persis seperti yang ditanyakan oleh Kruschev. Hanya jawaban Gagarin yang berbeda, “Apakah anda bertemu Dia di sana?” “Maaf tuan, di sana saya tidak bertemu Dia“ Respon rohaniawan tadi, “dalam hati kecil saya saya tidak percaya bahwa Dia ada, tapi tolong jangan katakan hal ini kepada siapapun!” Demikian yang tertulis dalam sebuah buku lama berjudul “Percakapan dengan Sydney Hook.”, ditulis oleh Harsja W. Bachtiar, Penerbit Djambatan, 1986.
  2. Dialog tadi menyampaikan pesan kepada kita bahwa perjumpaan dengan Tuhan itu pengalaman yang amat personal, yang tidak mudah dimengerti atau dilihat oleh orang lain. Kita tidak bisa dengan mudah menilai orang lain tentang imannya. Siapa tahu, yang kita sangka orang atheis (tidak percaya adanya Tuhan), ternyata justru amat dalam imannya. Sebaliknya yang kita sangka saleh, ternyata justru tak percaya kepada Tuhan di dalam batinnya. Sehingga aktivitas rohani tidak selalu merupakan ekspresi dari kelekatan hubungan dengan Tuhan atau dari pengalaman bergumul dengan kehendak Tuhan. Contoh sederhana. Suatu saat saya bertanya kepada seorang pemuda yang baru saja pulang dari gereja, “Mas, Pak pendeta tadi khotbah apa?” Dijawab, “Wah, nggak tahu, Pak. Saya asal duduk saja di gereja.” Dia melakukan aktivitas keagamaan tetapi sama sekali tak ada hubungannya dengan soal pengalaman batin yang intens tentang TUHAN. Sementara kita menyangka bahwa mereka yang datang ke gereja benar-benar merindukan perjumpaan dengan Tuhan, sebagaimana diungkapkan oleh juru Mazmur, “Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.” Padahal yang terjadi, orang hadir asal masuk-duduk-lalu pulang. Jangan-jangan tipe seperti ini yang lebih banyak?
  3. Oleh karena itu tak heran kalau Stephen Covey, dalam bukunya 7 Kebiasaan yang Efektif, menulis dari hasil pengamatannya, sbb.:

“…Saya menyadari bahwa hampir semua orang yang terlibat serius di gereja mana pun akan menyadari bahwa kedatangan ke gereja tidak sinonim dengan spiritualitas pribadi. Ada sebagian orang yang menjadi begitu sibuk dengan ibadah dan proyek gereja, sehingga menjadi tidak peka terhadap kebutuhan mendesak manusia yang ada di sekeliling mereka, dan ini bertentangan dengan ajaran yang mereka percayai secara mendalam…Anda dapat saja aktif di gereja, tetapi tidak aktif dalam menjalankan ajaranNya”

Kita jadi memahami mengapa sekalipun hampir semua tempat ibadah di masyarakat kita selalu semarak, tetapi nilai-nilai yang ditaburkan seperti hilang begitu saja tertiup angin.

  1. Pada pagi hari Maria Magdalena berjalan menuju ke kubur Yesus. Masih terbayang di benaknya peristiwa salib, peristiwa yang menorehkan pengalaman batin yang amat dalam baginya. Karena, bagi Maria Yesus adalah sosok yang telah mengubah hidupnya. Sehingga sekalipun Yesus sudah mati, Maria tetap memelihara rasa hormat kepada Yesus. Ketika ia berjalan menuju ke kubur, fokus Maria masih pada kematian Yesus. Kematian Yesus menyebabkan hatinya kosong, karena kehilangan sosok yang dikaguminya. Tibalah saatnya ia mendengar suara, “Ibu, mengapa engkau menangis. Siapakah yang engkau cari?” “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambilNya.” Maria tidak tahu bahwa yang berdialog dengan dirinya adalah Yesus yang telah bangkit. Tetapi rupanya Maria kemudian mempertajam penglihatan dan pendengarannya ketika orang itu memanggilnya, “Maria!” Setelah diperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka tak salah lagi, Dia adalah Yesus. Sehingga serta-merta Maria berseru, “Rabuni”

Suatu perjumpaan yang tak terduga dan perjumpaan yang membangkitkan kembali semangat Maria dalam menopang pekerjaan Yesus! Yesus juga mengerti kapasitas Maria, sehingga Ia segera meminta Maria untuk memberitakan apa yang disaksikan itu kepada orang lain. Dan pergilah Maria dengan semangat baru, kesaksian yang disampaikan adalah, “Aku telah melihat Tuhan.

  1. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan itu mampu mengubah cara hidup seseorang. Maria dibangkitkan keberaniannya untuk menceritakan tentang karya Kristus. Maria memberitakan pesan Paskah yaitu adanya kehidupan baru,
    • aku telah melihat Tuhan,
    • aku telah melihat kehidupan baru,
    • aku dibangkitkan keberanianku untuk melakukan kehendakNya.

Perjumpaan pribadi dengan Tuhan dapat dipastikan membawa perubahan yang radikal!

  • Saulus dalam perjumpaan mistisnya dengan Yesus membawa perubahan radikal; mengubah dari benci menjadi cinta;
  • Perjumpaan Zakheus dengan Yesus menyebabkan kerakusan Zakeus digantikan kemurahan hati.

Maria mengatakan, “Aku telah melihat Tuhan. Aku telah melihat kehidupan yang baru.” Apakah Yesus yang telah bangkit itu masih berkarya sampai saat ini? Billy Graham pernah mengatakan “secara akademis saya tidak bisa membuktikan bahwa Yesus bangkit dari kematian, tetapi saya mengalami bahwa Yesus mengubah hidupku.” (Scientifically I cannot prove that Jesus is risen but I experienced that HE transforms me!)

  1. Mereka yang melihat Tuhan adalah mereka yang mencintai kehidupan, menjaga ritme hidup yang menyebabkan kehidupan semakin semarak; nilai-nilai kemanusiaan semakin mendapat ruang yang cukup. Mereka yang melihat Tuhan adalah mereka yang memiliki keberanian untuk menolak budaya yang meredupkan nilai-nilai kemanusiaan..
  2. Menjadi tantangan tersendiri kondisi masyarakat kita bagi mereka yang telah melihat Tuhan. Masyarakat kita saat ini sedang sakit, para pemimpin juga sakit! Karena yang mereka lihat bukan Tuhan! Yang mereka lihat adalah gadis cantik yang namanya hedonisme[1] yang menawarkan segala kemudahan dan kesenangan yang rupanya lebih memikat banyak orang. Sehingga bukan budaya kehidupan yang dilakukan tetapi budaya kematian. Konon lebih dari 250 kepala daerah tersangkut masalah hukum, sebagian besar korupsi. Kue kesejahteraan yang dapat dinikmati rakyat menjadi semakin kecil. Bahkan dunia akademis yang konon menjadi mercu-suar hati nurani- karena mengedepankan akal budi yang jernih saat ini tak lagi imun terhadap pengaruh roh hedonisme.
  3. Semoga pesan Paskah pada saat ini semakin meneguhkan siapa pun, sehingga semakin mampu melihat Tuhan dalam menjalankan dan mengembangkan kiprahnya, tahan uji terhadap godaan gadis cantik yang namanya hedonisme. Amin. [_smdyn]

 

Nyanyian: KJ 217

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

  1. Ing satunggaling dinten, nalika Gagarin (astronot Rusia) nembe kemawon wangsul saking luar angkasa, piyambakipun lajeng dipun panggihi dening pemimpin agung Uni Soviet nalika semanten, inggih punika Nikita Kruschev (atheis). Piyambakipun lajeng taken dhateng Gagarin, “Apa ing kana kowe ketemu karo Panjenengane (Allah)?” Gagarin lajeng paring wangsulan, sinambi nyelakaken tutukipun dhateng talinganipun Kruschev, “Leres, ing ngrika kula pinanggih Penjenenganipun.” Kruschev lajeng nyelakaken tutukipun dhateng talinganipun Gagarin lan ngandika, “Ing batinku, sa’jane aku pracaya yen Gusti Allah iku ana; nanging bab iki aja kok critakake marang liyan ya!” Gagarin lajeng tindak ing negari-negari manca. Piyambakipun lajeng dipun panggihi dening rohaniwan (pitados dhateng Gusti). Rohaniwan punika taken persis sami kaliyan ingkang dipun takekaken dening Kruschev. Nanging, wangulanipun Gagarin ingkang benten, inggih punika, ”Ngapunten, ing ngrika kula boten pinanggih kaliyan Panjenenganipun (Allah).“ Rohaniwan kalawau lajeng mangsuli, “Ing batos kula, sajatosipun kula boten pitados yen Gusti Allah punika wonten! Nanging, kula suwun bab punika supados boten dipun critakaken dhateng liyan!” Makaten wawan pangandika ingkang wonten ing buku, judulipun “Percakapan dengan Sydney Hook” kaserat dening Harsja W. Bachtiar, Penerbit Djambatan, 1986.
  2. Wawan pangandika kalawau nyariyosaken dhateng kita bilih pepanggihan kaliyan Gusti punika minangka pengalaman ingkang pribadi sanget sipatipun, lan asring boten gampil dipun mangertosi dening tiyang sanes. Mila kita boten saged njegsani tiyang sanes bab iman. Sinten mangertos sedherek ingkang kita wastani atheis (boten pitados wontenipun Allah), jebulipun malah lebet piyandelipun dhateng Gusti, kosokwangsulipun ingkang kita wastani mursid/ saleh, jebul ing batosipun boten pitados dhateng Gusti? Makaten ugi kegiatan rohani dereng tamtu minangka ekspresi (kelairing) raketipun tiyang kaliyan Gusti utawi saking nggegilut/ nggayemi pangandikanipun Gusti. Conto prasaja, ing salah satunggiling dinten, kula taken dhateng nem-neman ingkang nembe wangsul saking greja, “Pak Pandhita mau khotbah apa?” Dipun wangsuli, “Boten ngertos, lha wong pokokipun kula lungguh ing greja, tumut mangabekti.” Nem-neman kalawau nglampahi kegiatan rohani (dhateng greja) nanging nyatanipun boten wonten babar pisan sesambetanipun kaliyan Gusti! Lha wong namung lungguh! Kamangka, kita nginten bilih para sedherek ingkang tindak greja mesthi temen anggenipun ngorong kepingin sesambetan kaliyan Gusti. Kados ingkang dipun lairaken dening jurumazmur, Nyawaku rempu margi kangen dhateng plataranipun Pangeran Yehuwah; manah kaliyan raga kawula sami asumyak-sumyak tumuju dhumateng Gusti Allah ingkang gesang.” Kamangka kasunyatanipun, tiyang namung mlebet, lenggah, lajeng wangsul. Sinten mangertos, ingkang kados mekaten punika ingkang wradin dipun lampahi dening warga pasamuwan?
  3. Mila boten gumun manawi Stephen Covey, ing buku karanganipun, 7 Kebiasaan yang Efektif, nyerat mekaten,

“…boten saben tiyang ingkang sregep tindak greja utawi aktif ing kegiatan greja ateges sae karohanenipun. Wonten sawetawis tiyang ingkang sibuk sanget ing babagan pangibadah lan proyek greja, nanging boten maelu dhateng kabetahaning sesami ing kiwa-tengenipun; kamangka bab menika kosokbalen kaliyan piwucaling greja. Panjenengan saged kemawon sregep ing greja, nanging boten sregep nindakaken piwucalipun Gusti.”

Kita lajeng mangertos kenging punapa meh sadaya papan pangibadah ing masyarakat kita tansah regeng, nanging piwucal saking mimbar kados ical musna sanalika.

  1. Enjing umun-umun Maryam Magdalena mlampah tumuju dhateng pasareanipun Gusti Yesus. Ingkang dipun angen-angen dening Maryam namung kedadosan ing redi Golgota, kedadosan ingkang saestu njangget ing manah, awit menggahing Maryam, Gusti Yesus punika pribadi ingkang sampun murugaken piyambakipun ngalami ewah-ewahan gesang. Pramila, sanadyan Yesus sampun seda, Maryam tetep gadhah raos urmat. Nalika mlampah tumuju ing pasarean, manahipun Maryam taksih ngangen-angen sedanipun Gusti Yesus. Sedanipun Gusti Yesus murugaken manahipun kothong, awit kecalan pribadi ingkang dipun puja. Nanging, ujug-ujug piyambakipun mireng wonten swanten, “Ibu, kena apa kowe nangis? Kowe nggoleki sapa?” “Bapak, manawi sampeyan ingkang mendhet Panjenenganipun, kula sampeyan criyosi wonten ing pundi anggen sampeyan nyarekaken, kula pendhetipun.” Maryam boten mangertos bilih piyambakipun saweg wawan rembag kaliyan Gusti Yesus ingkang sampun wungu. Nanging, rupinipun lajeng Maryam nggatosaken kanthi temen swanten kalawau. Sasampunipun dipun raos-raosaken kanthi temen, piyambakipun mangertos bilih swanten kalawau swantenipun Gusti Yesus. Mila, Maryam lajeng ngucap, “Rabuni”

Saestu punika pepanggihan ingkang tan kanyana lan pepanggihan ingkang nuwuhaken semangat enggal, lan mbereg piyambakipun nglajengaken anggenipun martosaken kabar kabingahan. Gusti Yesus pirsa, sinten ta Maryam punika, mila Gusti lajeng ndhawuhi Maryam supados purun martosaken punapa ingkang sampun dipun alami lan sekseni. Maryam lajeng kesah klayan semangat enggal: Aku wus deleng Gusti!

Pepanggihan sacara pribadi kaliyan Gusti estu ngewahi gesangipun tetiyang. Raos kendelipun Maryam ugi katangekaken kangge martosaken pakaryanipun Sang Kristus. Maryam maringi paseksi bab maknaning Paskah, inggih punika:

  • aku wus sumurup Gusti Allah,
  • aku wus sumurup urip anyar,
  • aku dadi kendel nindakake timbalane.

 Pepanggihan sacara pribadi kaliyan Gusti mesthi badhe mbekta ewah-ewahan ingkang ageng, upaminipun:

  • Saulus sasampunipun pepanggihan sacara pribadi kaliyan Gusti Yesus lajeng toh pati anggenipun martosaken pakaryanipun Sang Kristus; kamangka saderengipun piyambakipun sengit sanget kaliyan Gusti Yesus.
  • Pepanggihan sacara pribadi antawisipun Zakheus kaliyan Gusti Yesus murugaken Zakeus ngalami ewah-ewahan ageng, saking watak cethil dados loma.

Mayam ngucap, “Aku wus deleng Gusti! Aku wus deleng kauripan kang anyar.” Punapa Gusti Yesus taksih makarya ngantos ing dinten punika? Billy Graham nate nglairaken makaten, “Sacara akademis aku ora bisa buktekake yen Gusti Yesus iku wungu saka seda, nanging aku ngalami tenan yen Gusti Yesus ndadekake uripku luwih apik.” (Scientifically I cannot prove that Jesus is risen but I experienced that HE transforms me!)

  1. “Sapa sing temen deleng Gusti, iya iku kang padha tresna marang urip, gelem ngrumat piye carane urip sing apik, lan condong marang ungguling semangat kamanungsan. Sapa sing temen deleng Gusti, iku iya kang padha kendel nampik samubarang tumindak kang ndadekake asoring kamanungsan.”
  2. Boten gampil gesang minangka tiyang ingkang sampun deleng Gusti ing tengahing masyarakat kita samangke. Wonten ingkang mastani bilih masyarakat kita punika saweg sakit. Ingkang dipun sawang sanes Gusti. Ingkang sami dipun sawang punika prawan elok, naminipun hedonisme ingkang tansah ngulungaken dhateng kita sedaya prakawis ingkang nengsemaken. Langkung saking 250 kepala daerah kasrimpet masalah hukum, kathahipun sami dhawah amargi korupsi. Roti kemakmuran ingkang mesthinipun kaedum rata kangge rakyat, nyatanipun irisan ingkang ageng kangge para pemimpin, lan rakyat namung kedumen irisan alit kemawon. Malah ugi ing babagan universitas –papan wiyar kangge tukhulipun nalar budi ingkang wening lan resik- nyatanipun ugi klebetan roh hedonism
  3. Mugi-mugi pawartos bab Paskah ing dinten punika sangsaya ngiyataken anggen kita saged deleng Gusti lan saged nindakaken gesang ingkang tanggon, boten gampil kapincut dening prawan elok naminipun hedoisme. Amin. [_smdyn]

Nyanyian: KPK 65

[1] Sebuah faham tentang kehidupan yang mengejar dan memuja kenikmatan duniawi

Kata Kunci Artikel Ini:

khotbah minggu, kotbah minggu, rancangan khotbah gkjw, khotbah minggu ini, rancangan kotbah, khotbah minggu sengsara, kotbah gkjw, YEHEZKIEL 17:22-24, khotbah kenaikan tuhan yesus, amsal 9:1-6

Comments are closed.