wordpress com stats plugin
Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

APRIL I

Bacaan  : Kisah Para Rasul 4 : 32-37
Tema   : Umat Tuhan Sebagai Tanda Keselamatan.

Keterangan Teks

Kebangkitan Kristus membawa dampak yang besar terhadap para rasul, sehingga mereka disebut sebagai saksi kebangkitan Kristus (Kis. 1:22). Pada hari Pentakosta, turunlah Roh Kudus sesuai dengan janji Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya (Kis.1:8). Murid-murid yang dipenuhi Roh Kudus dengan berani menyaksikan Kristus yang telah mati dan bangkit, sehingga pada hari itu 3000 orang bertobat dan menerima Kristus sebagai Juruslamat (Kis.2:41), tiap hari Tuhan menambahkan jumlah orang yang diselamatkan (Kis.2:47), bahkan beberapa minggu kemudian bertambah pula 5 ribu orang laki-laki, belum termasuk wanita dan anak-anak (Kis.4:4). Dalam waktu singkat gereja telah menjadi “umat Allah Perjanjian Baru” yang menjadi tanda keselamatan (Kis.4:32-37).

Beberapa hal yang menjadi ciri pokok umat perjanjian baru ini antara lain:

  1. Kehidupan doa yang intens dengan Tuhan. Buah dari persekutuan doa yang benar adalah semangat dan keberanian memberitakan Firman Allah (Kis 4 : 31), bukan pada pemuasan keinginan dan pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
  2. Kesatuan hati para pengikut Kristus dengan tidak mencari kesenangan dan kepentingan diri sendiri melahirkan solidaritas yang diwujudkan dengan perubahan cara pandang terhadap sarana-sarana penunjang kehidupan bersama sebagai milik bersama (Kis 4 : 32).
  3. Tanda dan mujizat senantiasa menyertai kesaksian para rasul dan hidup Jemaat semakin bertumbuh dalam kasih karunia.
  4. Pemberlakuan keadilan melahirkan kesejahteraan bagi seluruh anggota persekutuan. Tidak ada satupun yang berkekurangan (ayat 34) dan setiap orang sesuai dengan keperluannya (ayat 35). (Bdk. Ul 15 : 4)
  5. 4: 31-37 memberi teladan satu cara hidup tertentu yang dijalani pada masa itu ketika Roh Kudus hadir dengan penuh kuasa, namun demikian kita tidak begitu saja dapat menerapkan dalam berbagai situasi. Namun semangat berbagi dan memberi dari para murid menjadi sebuah kebiasaan yang terus dilakukan. Sistem sedekah Yahudi yang diatur oleh rasul-rasul penataannya memang menjadi semakin baik. (bdk. dua contoh bersedekah : yang “positif” yang dilakukan Barnabas dan contoh bersedekah “negatif” oleh Ananias )

 

Pekabaran Injil Coolen di Ngoro

Tumbuh kembang Jemaat GKJW tidak dapat dilepaskan dari cikal bakal persekutuan orang-orang kristen Jawa di Ngoro yang di pimpin oleh C. L. Coolen. Ada hal-hal yang dapat dikatakan sebagai keadaan/konteks masyarakat Jawa Timur yang kemudian merindukan pemulihan dan itu kemudian dipenuhi dengan kehadiran Coolen yang notabene membawa nilai-nilai kekristenan yang nyata dalam tindakan dan kepemimpinannya:

  1. Keadaan umum yang dialami masyarakat kecil di pedesaan yang buruk akibat tekanan ekonomi yang berat dari penerapan tanam paksa.
  2. Struktur sosial masyarakat Jawa Tradisional –yang berlandaskan pola hubungan hierarkhis antara golongan ningrat/ priyayi dan wong cilik- mengalami keretakan akibat politik indirekt Belanda dalam memungut hasil tanam paksa dari rakyat.
  3. Krisis sosok pemimpin ideal yang dapat menjaga keselarasan kosmis sehingga membawa masyarakat dalam situasi “slamet” lahir dan batin.

Disengaja/ direncanakan ataupun tidak, keinginan Coolen untuk membuka lahan di Ngoro yang diinspirasikan anaknya ”Damar” dalam perjumpaan dengan Ki Gede Ngoro dalam sebuah mimpi menjadi jalan lahirnya sebuah kelompok masyarakat baru yang kemudian menerima Injil Yesus Kristus. Dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin masyarakat oleh legitimasi kekuasaan kolonial, Coolen melakukan tindakan-tindakan yang memenuhi harapan masyarakat baru tersebut. Tindakan itu antara lain:

  1. Tidak memberlakukan sistem tanam paksa itu kepada para pengikutnya di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
  2. Memberikan kemudahan dalam kepemilikan lahan, memberi bantuan yang diperlukan untuk mengelola lahan pertanian dan memberikan aturan-aturan baru yang lebih ringan bagi pemilik lahan dalam membayarkan kewajibannya kepada penguasa.
  3. Memberi ruang kebebasan/ toleransi kepada para pengikutnya untuk tetap berkeyakinan berbeda (Muslim dan Kejawen), dengan tidak memaksakan kehendak kepada pengikutnya untuk ikut menjadi Kristen sehingga tetap terjadi keharmonisan di masyarakat.
  4. Menghadirkan sosok pemimpin yang membawa masyarakat dalam situasi “slamet” dengan kapasitas sebagai pemimpin masyarakat yang meningkatkan kesejahteraaan materi dan pelindung rohani masyarakat dari daya-daya magis yang mengancam keselamatan hidup mereka.

Meski tidak sama persis, terbentuknya persekutuan orang-orang Kristen Jawa dengan cara hidup yang khas hasil dari pekabaran Injil ala Coolen ini dapat sedikit disejajarkan dengan cara hidup Jemaat Kristen perdana di Yerusalem, antara lain:

  1. Budaya dzikir setiap malam yang dapat disejajarkan dengan tradisi memecah-mecahkan roti pada jemaat perdana.
  2. Ibadah Minggu yang tertib untuk menumbuhkan kesadaran semua pengikutnya pentingnya ibadah dan bahkan meninggalkan segala pekerjaan untuk beribadah bersama.
  3. Pengajaran Iman dan pengetahuan Kristen yang kuat dan intens dalam bahasa yang mudah dipahami sesuai kultur dan cara pandang masyarakat.
  4. Bahwa peningkatan kesejahteraan sosial menjadi suatu hal yang penting dalam penghayatan keselamatan yang utuh (holistik) dan tidak hanya dalam hal kerohanian semata.

Pertanyaan diskusi:

  1. Bagaimana upaya gereja untuk mendorong warga jemaat memelihara hubungan pribadi yang intens dengan Tuhan sebagai sumber motivasi dalam melaksanakan panggilan?

Misalnya:

  • Bagaimana pelaksanaan himbauan untuk tekun melaksanakan Doa dan Ibadat harian dalam keluarga?
  • Apakah langkah konkret yang perlu diambil agar terjadi pem”biasaan” hal yang baik itu?
  1. Apa upaya gereja agar sungguh-sungguh panggilan Pemberitaan Injil ini dapat dihayati sebagai pembebasan manusia secara utuh lahir dan batin?
  • Sudakah kesadaran tanggung jawab sosial dimiliki oleh orang Kristen sebagai bagian yang utuh dari pemberitaan Injil?
  • Apa wujud konkretnya bila gereja/orang percaya sungguh-sungguh melihat bahwa peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat luas adalah juga bagian dari upaya pemberitaan Injil?
  1. Bagaimana kesatuan panggilan dan persaudaraan dalam Kristus ini dihayati dalam kehidupan berjemaat?
  2. Apa pendapat anda dengan ungkapan “Londo wurung, Jawa nanggung”?

Apa yang khas dari cara hidup warga gereja GKJW yang mengindikasikan dihayatinya panggilan Tuhan Allah?

Yusak

APRIL II

Bacaan              : 1 Yohanes 3:1 – 10
Tema Bulanan : Umat Tuhan sebagai Tanda Keselamatan.
Tema PA         : Katakan “Tidak…!!!” pada dosa!

 

Pengantar

Kita ini adalah manusia berdosa sedangkan Allah adalah Maha Kudus. Kalaupun kita mencintai Allah dan ingin selalu bersamanya, sesungguhnya kita tidak akan berdaya jikalau masih hidup dan mengambil rupa dosa. Namun bersyukur kepada Tuhan Allah yang karena besarnya kasih dan anugerahnya sehingga kita ditebus dari dosa.

Penebusan dalam Kristus itulah kasih karunia yang terbesar dalam kehidupan kita. Lebih istimewa lagi adalah kita memiliki posisi penting di hati Tuhan Allah karena kita disebut sebagai anak Allah (ay 1). Kita ditebus bukan supaya kita menjadi hamba atau budak Tuhan Allah, tetapi penebusan itu dilakukan karena Tuhan Allah menginginkan kita menjadi anak-anaknya. Sebagai anak tentu kita memiliki posisi istimewa di hati Tuhan Allah. Bahkan seorang anak memiliki hak waris dan segala yang dimiliki Bapa juga dimiliki anaknya (Lukas 15:31). Sungguh inilah kasih karunia yang besar bagi kita sebagai anak-anak Allah.

Penghayatan akan besarnya kasih karunia Allah inilah yang ditekankan oleh surat Yohanes kepada para pembacanya. Namun kasih karunia itu bukan tanpa resiko sebab dunia yaitu habitat asal kita sebelum mengenal dan menjadi anak Tuhan Allah tidak akan mengenali kita sebab dunia asal kita tidak juga mengenal Allah. Jadi, menjadi anak Allah berarti dipindahkan dari dunia asal kita yaitu habitat asal kita yang adalah dosa kepada kehidupan dan habitat yang baru yaitu warga kerajaan Allah karena kita adalah anak-anak Allah.

Namun patutlah diingat bahwa menjadi anak Allah juga mengandung resiko yang tidak ringan sebab:

  1. Dunia – tempat asal kita sebelum menerima kasih karunia – tidak akan mengenali kita karena dunia asal kita juga tidak pernah mengenal Tuhan Allah. Ini menekankan bahwa menjadi anak Allah dan dipindahkan dalam “dunia” milik Allah adalah sepenuhnya anugerah dan bukan usaha manusia. Tuhan yang berinisiatif menebus dan menjadikan kita anak-anakNya. Karena itulah kita yang sudah menerima kasih anugerah Tuhan Allah ini adalah orang-orang pilihan. Pertanyaannya, mengapa aku dipilih Allah? Di situlah kita akan berjumpa dan merasakan kita adalah orang-orang beja karena kita tidak pernah tahu alasan Tuhan memilih kita, tetapi yang pasti bahwa kita ini istimewa di hati Allah.
    Keterpilihan kita sebagai anak Allah ini harusnya menyemangati kita jika saat ini dalam perjuangan hidup kita merasa disingkirkan, dihambat dan bahkan dikucilkan. Sebab dunia ini tidak mengenal Tuhan Allah kita yang kasih karuniaNya besar bagi kita. Haruskah kita dikalahkan oleh dunia ini? Jikalau kita putus asa karena menjadi orang jujur di antara banyak orang curang dianggap tidak baik dan kemudian tergoda menjadi orang curang, maka kita menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan Allah itu. Karena itu jangan serupa dengan dunia ini karena kini kita bukan orang-orang dunia tetapi tetap hidup di dunia.
  1. Menjadi Anak Allah tidak sama dengan Allah. Ini patut kita sadari, sebab kita ini hanya seorang anak. Anak dengan bapak sangat berbeda, demikian juga dalam keputusan-keputusan yang diambil. Tetapi yakinlah bahwa apa yang diputuskan Bapak bagi anaknya akan mendatangkan kebaikan bagi anaknya. Mengapa? Setidaknya karena bapak pernah menjadi anak tetapi anak masih belajar mempersiapkan diri menjadi bapak. Demikian juga Tuhan Allah dengan umat pilihanNya. Rancangan yang dibuat oleh manusia memang baik jikalau dilihat dari sudut pandang manusia, tetapi belum tentu baik jikalau dilihat dari sudut pandang Allah. Namun yakinlah bahwa Allah tahu persis apa yang terbaik bagi kehidupan kita karena Tuhan Allah mampu melihat setiap hal jauh di depan kita.
    Jadi, dengan menyadari bahwa kita adalah anak Allah maka menjadikan diri kita semakin ingin dekat kepada Bapa supaya menjadi anak yang baik dan benar di hadapan Bapa. Dengan meletakkan diri senantiasa butuh dekat terus dengan Bapa, maka yakinlah bahwa saatnya nanti ketika Tuhan Yesus menyatakan diri maka keberadaan kita akan sama seperti Bapa (ay 2). Ini artinya sampai dengan saatnya nanti Tuhan Yesus menyatakan diri kita harus terus berjuang dan berusaha mendekat dan hidup bersama dengan Tuhan. Perjuangan inilah yang disebut sebagai pengharapan kita. Dan pengharapan itulah yang menjadikan kita tetap berusaha hidup suci dan tidak kembali hidup dalam dosa (ay 3).
  1. Anak Allah tidak hidup dalam dosa (ay 4 – 6). Permasalahannya adalah: apakah anak-anak Allah yang hidup dalam dosa? Jikalau anak-anak Allah masih suka berbuat dosa maka sesungguhnya wujudnya saja anak Allah tetapi tabiatnya masih tabiat manusia yang diperhamba dosa. Sampai di sini maka sesunggunya kunci menjadi anak Allah adalah bersedia lahir baru. Lahir baru berarti terlahir kembali dari Allah. Dan setiap orang yang terlahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi, sebab anak-anak Allah adalah benih ilahi (ay 9).

Pembeda yang sangat jelas antara anak Allah dengan anak Iblis menurut surat Yohanes ini adalah terletak kepada satu kata kunci yaitu: DOSA. Jikalau seseorang berbuat dosa dan suka melakukan dosa maka walaupun dia adalah orang Kristen maka dia dapat dipastikan sebagai anak Iblis. Ada dua tanda dari anak Iblis menurut surat Yohanes (ay 10) ini yaitu:

  1. Orang yang hidupnya tidak melakukan kebenaran.
  2. Orang yang tidak mengasihi saudaranya.

Jikalau kita menyebut diri sebagai anak Allah maka pasti kita hidup dalam kebenaran dan kita senantiasa mengasihi sesama kita. Jadi, anak Allah adalah manusia yang mampu dalam pikiran, perkataan dan perbuatnya mengatakan “TIDAK….!!! “ kepada dosa.

Panduan Diskusi

  1. Mulai kapankah saudara-saudara mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan mengalami lahir baru?
  2. Tantangan apakah yang sering menjadikan kita tergoda untuk kembali kepada manusia lama kita?
  3. Bagaimanakah sikap yang harus kita lakukan supaya sebagai anak-anak Allah dapat menjadi tanda keselamatan Allah?

 (to2k)

MEI I

 

Bacaan               : Kisah Para Rasul 1: 1-11
Tema bulanan   : Roh Kudus Membangun Syalom Bagi Segala Bangsa.

Tema PA         : Besaksi, bersaksi dan bersaksi.
Tujuan             : Jemaat memahami makna bersaksi dan memiliki motivasi untuk senantiasa bersaksi.

 

Keterangan teks/kitab,

Kisah Para Rasul pasal 1:1-11 merupakan pengantar dari Kisah Para Rasul, yang dibagi dalam dua bagian yaitu Pembukaan (1:1-5) dan Yesus terangkat ke surga (1:6-11). Pada bagian pertama (1:1-5) Lukas memulai Kisah seperti ia memulai Injil dengan kata pembukaan kepada Teofilus. Di bagian ini Lukas menerangkan bahwa Yesus telah mempersiapkan para rasul untuk tugas perutusan dengan mengajar mereka selama Ia hidup. Ia juga menampakkan diri sekitar empat puluh hari sesudah wafat dan kebangkitan-Nya. Dengan banyak tanda Ia membuktikan bahwa Ia hidup. Di sinilah Lukas menekankan bahwa Yesus yang bangkit memberikan tanda-tanda berkat yang meyakinkan para rasul bahwa Ia tetap hidup sesudah kematian-Nya. Ia menampakan diri beberapa kali dan terus mengajar mereka mengenai apa arti Kerajaan Allah. Tujuannya adalah agar para rasul dapat menjadi saksi otentik dari kebangkitan-Nya. Tugas menjadi saksi diberikan kepada para rasul. Selain berbekal pengajaran dan pengetahuan para rasul juga akan menerima baptisan Roh Kudus, untuk memperlengkapi mereka menjadi saksi di dunia. Baptisan Roh Kudus itu mereka terima pada saat Pentakosta.

Kedua, pada bagian ini Lukas menceritakan tentang Yesus yang terangkat ke sorga. Hal menarik sebelum peristiwa terangkatnya Yesus ke sorga adalah pertanyaan para rasul kepada Yesus tentang pemulihan pemerintahan Israel. Pertanyan para rasul ini menunjukkan adanya kesalahpahaman yang berkelanjutan mengenai apa arti Kerajaan Allah. Larangan untuk menghitung saat akhir dimaksudkan untuk menasehati para rasul (dan kita) agar tidak menerka-nerka apa yang yang tidak dapat diketahui. Sebaliknya, mereka hendaknya memusatkan perhatian pada kuasa Roh sebagai tanda hidup dalam saat-saat terakhir yang dijanjikan. Di sini ada penekanan supaya mereka menggunakan kuasa, selama waktu masih ada, untuk memberi kesaksian tentang Yesus sampai akhir zaman. Mereka hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu yang ada dengan mencoba neggambarkan bagaimana kiranya akhir dunia. Peringatan dua orang berpakaian putih seperti yang tertulis di ayat 11: Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?, menunjukkan sebuah penekanan supaya para rasul tidak terpana, dan membuang-buang waktu, hendaknya mereka segera mempersiapkan diri melakukan tugas yaitu menjadi saksi tentang kabar syalom tentang Yesus Kristus.

 

Realitas kehidupan kini

“Kerja, kerja, dan kerja” adalah sebuah motto dan sekaligus kata-kata motivasi yang dilontarkan oleh seorang yang bernama Dahlan Iskan. Apakah maknanya? Dari kata-kata ini, kita diajak untuk bersemangat dan fokus dalam bekerja, tidak membuang-buang kesempatan yang ada. Semangat ini selalu ia kumandangkan setiap kali bertemu pimpinan perusahaan di lingkungan BUMN dan para karyawannya. Maksudnya adalah untuk mencapai target keberhasilan dalam mengelola perusahaan pelat merah itu, modalnya adalah semangat kerja yang tinggi. Dimulai dengan integritas, niat yang luhur, kejujuran dan kerja keras tanpa pamrih. Bagaimana jika kata-kata itu kita ganti dengan bersaksi, bersaksi, dan bersaksi? Mantab bukan? Hal ini berarti bahwa bersaksi juga diperlukan integritas, niat yang luhur, kejujuran dan kerja keras tanpa pamrih. Sama halnya dengan para rasul, kita sebagai pengikut Kristus juga mempunyai tugas untuk bersaksi di dunia ini. Salah satu tugas kita sebagai bagian dari gereja adalah bersaksi. Istilah yang dipakai untuk tugas ini adalah marturia. Kata marturia berasal dari bahasa Yunani : Marturia = kesaksian. Marturein dalam Perjanjian Baru memberi arti antara lain: 1) memberi kesaksian tentang fakta atau kebenaran (Lukas 24:48 : Matius 23:31) 2) memberi kesaksian baik tentang seseorang (Lukas 4:22; Ibr 2:4), dan 3) membawakan khotbah untuk pekabaran Injil (Kis 23:11) disini bersaksi sebagai istilah pengutusan/pekabaran Injil. Bersaksi tentang kabar damai sejahtera/ syalom yang dibawa Tuhan Yesus. Hal ini berarti kita dapat memberi kesaksian secara benar dan tepat tentang hal-hal yang pernah dilihat dan didengar; menceritakan realitas yang sebenarnya. Selain itu juga mempercakapkan kembali pengalaman-pengalaman dan peristiwa yang dialami sebelumnya. GKJW juga sudah mengatur kesaksian itu agar dapat dilakukan oleh seluruh warga jemaat, yang secara khusus diatur dalam pranata tentang kegiatan pelayanan di bidang kesaksian (lihat Tata dan Pranata 1996, hal. 268-273).

Bagaimana hal tersebut dapat kita wujudkan? Bersaksi dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang beriman baik itu di tempat kerja maupun di tengah masyarakat, ketika menjalin relasi dengan umat beriman lain, dan dalam relasi hidup bermasyarakat. Melalui tugas ini, umat beriman diharapkan dapat menjadi ragi, garam dan terang di tengah masyarakat sekitarnya. Sehingga mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

 

Penerapan

Untuk dapat mewujudnyatakan tugas bersaksi dalam kehidupan kita, maka pertanyaan-pertanyaan yang dapat kita gumuli bersama adalah:

  1. Apakah tugas kesaksian sudah kita lakukan secara maksimal? Bersaksi, bersaksi, dan bersaksi?
  2. Bagaimanakah model bersaksi yang tepat dalam kehidupan kita?

 Wito

 

 MEI II

Bacaan             : Galatia 5: 16-26
Tema bulan    : Roh Kudus Membangun Syalom Bagi Segala Bangsa.
Tema PA         : Menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

 

Pengantar

Galatia adalah suatu provinsi yang di dalamnya terdapat kota Antiocia, Ikonium, Listra, Derbe, yang pada jaman kunjungan Paulus kesana sekitar tahun 53-58 Masehi, penduduknya umumnya bangsa Geltik (kini Galatia termasuk bagian Turky). Dan banyak orang Galatia, karena Roh Tuhan melalui kesaksian dan pelayanan Paulus itu, mereka menerima Injil Yesus Kristus dan membentuk jemaat Kristen Galatia.

Surat Paulus ini merupakan surat penggembalaan kepada Jemaat tsb. Sebab semula beberapa orang Galatia telah menerima Injil dengan baik, percaya kepada Kristus, Sang Kasih Allah, tetapi kemudian datanglah orang Yahudi yang Torati, mereka menyusupkan ajaran Yudaisme yang legalistis ritualis, yang pengajarannya berpusatkan kepada perbuatan manusia dalam melakukan syariat atau ritual Torat. Maka terjadilah masalah. Salah satu masalah jemaat Kristen Galatia waktu itu adalah: “apakah untuk menjadi Kristen, orang harus memenuhi syariat Torat, atau ritual Yahudi, misalnya disunat?” Kalau ritual itu dijadikan dasar jaminan pulihnya hubungan dengan Tuhan, tentu itu meniadakan anugrah, maka jawaban Paulus: “… bagi orang yang dalam Kristus, hal bersunat atau tidak, itu tidak mempunyai sesuatu arti, yang penting iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6). Artinya iman dimatangkan oleh perbuatan kasih, juga sebaliknya, perbuatan kasih dimantapkan oleh iman. Itulah yang membuat seseorang berproses menjadi umat Tuhan.

Selain itu, penggembalaan Paulus bukan saja soal meluruskan iman dengan menangkal ajaran sesat, tetapi juga membina tabiat atau karakter jemaat Galatia, agar mereka meninggalkan tabiat buruk dan menghasilkan buah-buah Roh (ay. 19-23). Buah Roh itu penting bagi kehidupan persaudaraan berjemaat (koinonia), kesaksian (marturia) dan pelayanan (diakonia). Buah adalah suatu hasil dari proses, suatu produk, suatu konsekwensi yang dengan sendirinya terjadi, merupakan akibat bilamana carangnya itu melekat dengan baik pada batang pokok tanaman yang sehat. Buah Roh adalah berupa tabiat dan perbuatan: kasih, sukacita, damai sejahtra, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri. Tabiat ini bukan terjadi karena perintah yang dipaksakan, tetapi dengan sendirinya menjadi perilaku, menjadi tabiat dan kehidupan orang yang percaya dan yang bersukacita akan Kristus. Jadi, memusatkan diri pada Kristus dan memegahkan anugrah Allah, itu penting guna membangkitkan kesadaran etis seorang maupun jemaat Kristen. Karena itu sering diibaratkan bahwa Yesus itulah batang pokok, dan kita inilah carang-carangnya yang diharapkan menghasilkan buah.

Jadi suatu kebajikan di dalam kekristenan, itu merupakan buah Roh. Kita berbuat kebajikan kepada sesama bukan supaya mendapat kasih Tuhan, tetapi KARENA TUHAN ITU KASIH ADANYA. Dikasihi dan mengasihi Tuhan, itu membuahkan berbagai buah-buah Roh. Sikap dan prinsip etika Kristen membuat kita tidak ber-bisnis dengan Tuhan, yaitu kita tidak menghitung-hitung dan memegahkan kebaikan kita untuk kemudian merasa berhak mendapat pahala. Kita tidak membanggakan diri atas kebaikan kita, tetapi merendahkan diri kepada Tuhan Sang Sumber kasih itu. Kita diajak merespon Tuhan, menjalin hubungan kasih kekeluargaan yang akrab, bahkan menyapa Allah dengan penuh hormat sebagai Bapa, sehingga dengan sendirinya kita menghasilkan buah-buah Roh bagi sesama. Bandingkan dalam keluarga, yang para anggotanya saling mengasihi, setia dan bertanggungjawab, ada keinsyafan batin, inisatif dari dalam, kreatif intelektualnya, sadar untuk menyambut ranah kebahagiaan keluarga kerajaan Allah, maka pasti kebahagiaan itu menyusulnya. Tetapi kalau dalam keluarga masing-masing mendewakan nafsu sex, ketamakan materialistis, memuja gengsi, gila hormat, mau berkuasa dan menindas lainnya, maka celakalah keluarga itu.

Memang di dunia ini ada berbagai motivasi untuk melakukan perbuatan kebajikan, antara lain: dengan perasaan kemanusiaan, nasionalisme, emosi dan sentimental belas kasihan, rahmatan lil alamin, dengan motivasi mendapat pahala, dimotivasi mendapat karma yang lebih baik di kemudian hari, solidaritas, pembebasan dari peninasan, dll. Dan sebaliknya, untuk mencegah kejahatan maka umumnya tiap agama mengingatkan adanya ancaman: hukuman, karma buruk, aniaya, api neraka, seram, dan keabadian maut.

Di tengah pergaulan sosial yang bhineka agama, ajaran, nilai-nilai, norma moralitasnya, kita harus memegang iman dan prisip etika Kristen itu. Dalam kegiatan antar umat dan berlomba melakukan kebaikan di masyarakat, sumber kebajikan kita itu Kristus. Motivasi Jemaat Galatia, dan juga GKJW, memang bisa berbeda dengan kelompok lainnya di masyarakat, tetapi kita dipanggil untuk menggunakan peluang berbuat baik kepada sesama (Gal. 6:10). Kita dipanggil Tuhan untuk berperanan menjadi Saksi dan PelayanNya, mendatangkan berkat bagi sesama. Untuk peranan itu kita membutuhkan prinsip etika Kristen dan juga membutuhkan pertolongan Roh Tuhan.

Hal itu mengingatkan bahwa ada peranan pihak Roh Tuhan, dan ada peranan pihak manusia bilamana Roh Tuhan bekerja, menginsyafkan manusia, dan manusia bertobat dan setia kepada Tuhan, maka akan terjadi keakraban, manusia akan memasuki ranah relasi cintakasih dan berpotensi berbuahkan kebajikan dan berkat bagi bangsa-bangsa. Tetapi bilamana manusia menolak Roh itu, tidak me-respon-Nya, bahkan mendukakan Roh itu, maka Roh itu akan beranjak meninggalkan roh manusia tsb, akibatnya terjadi tragedi maut keterpisahan dengan sumber kasih itu.

Kini dalam bulan Kesaksian dan Pelayanan, kita merenungkan: apakah pelayanan dan kesaksian kita itu bersumber kepada Kristus. Apakah kita yakin Tuhan sudah ada di sana, Roh Tuhan memberi keinsyafan batin, hikmat, kebijaksanaan, ketrampilan, kecerdasan dalam perbuatan sosial kita? Jadi memegang teguh iman, memahami etika, melakukan praxis sosial Kristen, dan dengan rendah hati meminta pertolongan Roh Kudus, itulah dasar tabiat yang menjadikan berkat bagi bangsa-bangsa.

 

Bahan pergumulan

Sehubungan dengan kesaksian dan pelayanan:

  1. Bagaimanakah iman, etika, praxis kesaksian dan pelayanan sosial jemaat anda, apakah berpusat kepada Kristus yang memegahkan kasih Allah, atau terganggu ambisi memegahkan diri, atau hanya sekedar memenuhi PKT, tidak bergairah lagi, terpaksa, rutine saja?
  2. Jemaat-jemaat GKJW umumnya di pedesaan dan di perkotaan. Agar GKJW bisa bertumbuh, bersaksi maupun melayani sesama dengan baik, maka kita perlu juga menyadari konteks, mengetahui dan menganalisa situasi, mengenal sejarah, memahami realitas jaman, menghargai kebhinekaan masyarakat dan memilih fokus komitmen. Fokus atau prioritas dan kommitmen apa yang anda pilih dalam bersaksi dan melayani sesama? (mis. perkunjungan kepada yang sakit, mendampingi korban kekerasan, memperjuangkan keadilan dan perdamaian, memelihara lingkungan hidup, mewaspadai radikalisme, membina antar umat, membina generasi anak, pemuda,; peningkatan ekonomi, dll.).
  3. Terbuka untuk mengajukan pertanyaan dan sharing jawaban, asal sesuai thema dan waktu.

(Stn)

 

Kata Kunci Artikel Ini:

pemahaman alkitab, Bahan Pemahaman Alkitab, pemahaman tentang alkitab, tafsiran yesaya pasal 15 dan 16, materi pemahaman alkitab, pemahaman alkitab kristen, pehamahaman alkitab, PA dalam kristen, metode Penelaahan alkitab ayub, pemahaman alkitab ninggu sengsara

One Comment »

  • Muryo Djajadi said:

    terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.