wordpress com stats plugin
Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

SEPTEMBER I 2014

Bacaan              : Yehezkiel 33:1-20.
Tema Bulan    : Allah tidak berpangku tangan di dalam Bait Suci-Nya.
Tema PA         : Apakah aku penjaga sesamaku?

Tujuan             :

  1. Agar warga jemaat tetap percaya bahwa Allah berkarya di setiap waktu dan di setiap keadaan.
  2. Agar warga jemaat sadar bahwa dirinya sebagai alat dalam karya Allah.
  3. Agar warga jemaat tahu bahwa sebagai ‘penjaga’ merupakan cara memenuhi tugas sebagai alat-Nya.

 

Keterangan Teks

Perikop ini merupakan bagian dari dinamika kehidupan umat Allah yang berpengharapan. Di saat ‘jatuh’ hendaknya umat-Nya segera berusaha ‘bangkit’ dan ‘merestorasi’ diri. Untuk menolong seseorang bangkit kembali dibutuhkan seorang penolong, yakni seorang penjaga. Yehezkiel ditunjuk sebagai penjaga. Allah akan mengingat dan memberkati mereka, baik yang berusaha bangkit dan beriman penuh kepada-Nya maupun yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai penjaga.

Kita harus memperhatikan kedua aspek isi berita Yehezkiel, yakni peringatan dan janji. Mereka yang terus-menerus memberontak melawan Allah diperingatkan dan mereka yang beriman penuh kepada Allah akan memperoleh dukungan dan harapan.

 

Ayat 10-12: Di ayat-ayat ini, umat-Nya merasa berdosa besar sebab melakukan pemberontakan melawan Allah dalam jangka waktu yang lama dan mereka merasa patut mengalami kehancuran. Tetapi Allah menjamin mereka dengan pengampunan, apabila mereka menyesali dosa-dosa mereka.

Allah ingin setiap orang berbalik kepada-Nya. Allah melihat pada proses hidup kita (apa yang sedang kita alami dan akan menjadi apa kita?) dan bukan pada apa yang kita miliki. Allah memberi kita kesempatan untuk berbalik kembali kepada-Nya. Bersungguh-sungguhlah mengikut Allah dan mohon pengampunan-Nya jika kita jatuh!

 

Ayat 13: Perilaku baik di masa lalu tidak akan menyelamatkan seseorang yang memutuskan kembali pada kehidupan dosa.

Ada orang yang berpikir bahwa mereka telah cukup melakukan hal-hal baik, jadi tak apalah jika suatu saat melakukan dosa. Pemikiran seperti itu tidak membawa manfaat, sebab seseorang tidak dapat menjadi pribadi yang baik di suatu segi/saat tetapi dengan sengaja menjadi pribadi yang buruk di segi/saat yang lain. Allah menghendaki keseluruhan hati dan ketaatan kita.

 

Ayat 15: Penyesalan harus diikuti dengan melakukan apa yang terbaik dan benar (Efesus 2:10; Jakobus 2:14-17). Ingat tentang apa yang terbaik dan benar yang dilakukan oleh Zakheus (Lukas 19:1-10, ia menyerahkan setengah dari miliknya untuk orang miskin dan mengembalikan 4 kali lipat bagi orang yang pernah dirugikannya). Ya, ada semacam ganti untung (bukan ganti rugi!).

 

Realitas kehidupan kini dan penerapan

Dalam Tata Ibadah Pemberkatan Perkawinan tercantum sebuah pertanyaan kepada warga jemaat:

Jemaat yang kekasih, apakah saudara-saudara juga bersedia dan berjanji untuk saling mengingatkan, saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kehendak Kristus menjadi nyata dalam kehidupan rumah tangga kita, khususnya bagi mempelai sekalian ini?

Biasanya dijawab dengan ‘Iya, saya bersedia!’

 

Dalam Tata Ibadah Baptis Suci Anak tercantum sebuah pertanyaan kepada warga jemaat:

Saudara-saudara, apakah saudara-saudara juga bersedia untuk saling membantu dan mengingatkan para orang tua ini apabila mereka lupa dalam melaksanakan janjinya kepada Tuhan?

Biasanya dijawab dengan ‘Iya, saya bersedia’.

 

Dalam Tata Ibadah Baptis Suci Dewasa tercantum sebuah pertanyaan kepada warga jemaat:

Jemaat yang dikasihi Tuhan, apakah saudara-saudara juga bersedia untuk saling membimbing, mengingatkan dalam segala hal, sehingga nama Tuhan dipermuliakan?

Biasanya dijawab dengan ‘Iya, saya bersedia’.

 

Metode

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas, maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Menurut saudara, apa arti Allah berkarya di setiap waktu dan keadaan?
  2. Dalam Tata Ibadah Pemberkatan Perkawinan, Baptis Anak, dan Baptis Dewasa tercantum sebuah pertanyaan kepada warga jemaat seperti yang tertulis di ‘Realitas kehidupan kini dan penerapan’ tersebut di atas.

Apakah saudara sudah merealisasikan jawaban atas pertanyaan tersebut? (berperan sebagai penjaga dan bagaimana saudara memerankannya?).

  1. Apakah saudara dapat membedakan antara peran sebagai ‘penjaga’ dan peran ‘orang yang suka ikut campur urusan orang’?

 

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

***

 SEPTEMBER II 2014

 

Bacaan              : Filipi 4:2-9.
Tema Bulan    : Allah tidak berpangku tangan di dalam Bait Suci-Nya
Tema PA         : Rekonsiliasi (= perbuatan memulihkan hubungan persahabatan ke keadaan semula).

Tujuan             :

  1. Agar warga jemaat mengetahui bahwa karya Allah adalah sebuah rekonsiliasi bagi manusia.
  2. Agar warga jemaat sadar bahwa rekonsiliasi merupakan jalan keluar paling elegan (anggun, elok), damai, meneduhkan, dan melegakan.
  3. Agar warga jemaat melatih diri untuk selalu mencari solusi terbaik dengan cara rekonsiliasi dan menjauhi sikap balas dendam.

 

Keterangan Teks

Ayat 2-3: Paulus menunjuk persoalan yang terjadi pada diri dua temannya, yakni Euodia dan Sintikhe, yang sedang tidak kompak. Bagi Paulus retaknya hubungan keduanya bukan hal yang remeh, sebab kekompakan mereka dalam berkarya menghasilkan banyak orang menjadi percaya. Untuk itulah perlu dicarikan jalan keluar, dan Paulus meminta bantuan kawannya yang lain yaitu Sunsugos.

Perpecahan di antara orang yang percaya pada Kristus, yang bekerjasama dengan keras bagi kerajaan-Nya, dan yang kemudian hubungan mereka retak, merupakan persoalan serius. Diperlukan rekonsiliasi.

Inginkah saudara rekonsiliasi dengan seseorang pada hari ini?

Ayat 3: Dalam mengabarkan Injil-Nya, Paulus bekerja bersama kawan-kawannya. Dan persahabatan seperti itu membantu keberhasilan tugasnya.

Mereka yang nama-namanya ada di buku kehidupan adalah mereka yang telah melaksanakan tugas pemberian-Nya dengan sempurna berdasarkan iman mereka kepada Kristus (Lukas 10:17-20; Wahyu 20:11-15).

Ayat 4: Merupakan hal yang tidak biasa, ketika seseorang yang sedang dalam penjara (Paulus sebagai narapidana ketika itu) dapat memberi semangat kepada orang di luar penjara (gereja di Filipi) untuk bersukacita. Paulus mengajar kita sebuah pelajaran penting, yakni apa yang terjadi di dalam diri kita perlu dipantulkan atau dipancarkan ke luar/ lingkungan kita. Paulus penuh dengan sukacita sebab ia tahu bahwa baginya tidak menjadi masalah apa yang sedang terjadi padanya, yang membuatnya bersukacita adalah Yesus Kristus besertanya. Beberapa kali dalam suratnya ini, Paulus mendorong orang-orang Filipi untuk bersukacita, mungkin karena mereka membutuhkan dukungan dan ajakan ini.

Seringkali lebih mudah pesimis/ kecil hati karena lingkungan yang kita anggap tak menyenangkan. Jika saudara tidak bisa bersukacita, hal itu mungkin karena saudara tidak melihat kehidupan ini dari perspektif (sudut pandang) yang benar.

Ayat 4-5: Sukacita yang sesungguhnya adalah karena Kristus tinggal dengan kita (Imanuel). Pada kedatangan-Nya yang kedua kita akan mengalami penuh sukacita ini. Ia yang hidup bersama kita akan memenuhi kehendak-Nya yang terakhir bagi kita.

Ayat 5: Paulus menganjurkan agar kebaikan hati kita (layak, jujur, dan murah hati) berlaku juga bagi mereka yang berada di luar gereja dan tidak hanya bagi mereka yang ada di dalam gereja (orang beriman). Hal ini berarti bahwa kita dididik untuk tidak mencari balas dendam bagi mereka yang memperlakukan kita dengan tidak adil dan tidak mendasarkan hanya pada kebenaran pribadi kita saja.

Ayat 6-7: Bayangkan ‘saudara sebagai pribadi yang tidak memiliki kekhawatiran’. Sepertinya hal itu tidak mungkin. Kita semua memiliki kekhawatiran, misalnya khawatir tentang pekerjaan, keluarga, studi, masa depan, dll. Paulus menasihati agar kekhawatiran kita itu dibawa dalam doa.

Inginkah kekhawatiran saudara berkurang? Berdoalah lebih banyak! Bilamana saudara mulai takut, gelisah, cemas atau khawatir, ambilah saat teduh dan berdoa.

Ayat 7: Damai sejahtera Allah beda dengan damai sejahtera dunia (Yohanes 14:27). Damai sejahtera yang sejati tidak ditemukan di dalam kita berpikir negatif, tidak juga di dalam ketidak-hadiran konflik, atau di dalam perasaan baik. Damai sejahtera datang dari pengetahuan dan keyakinan bahwa Allah berkuasa. Kewargaan kita dalam kerajaan Kristus sudah pasti, tujuan hidup kita sudah jelas, dan kita dapat menang atas dosa. Biarkan damai sejahtera Allah membimbing hati saudara melawan kegelisahan atau kekhawatiran.

Ayat 8: Apa yang ada dalam pikiran kita menentukan apa yang keluar dalam kata-kata dan tindakan kita. Paulus memberitahu kita untuk memprogram pikiran kita dengan apa yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan, dan pujian.

Apakah saudara mempunyai masalah-masalah dengan pikiran atau angan-angan yang kotor? Lihat ulang, apa yang saudara peroleh dari tv, buku, percakapan, bioskop, majalah, dll. Tempatkan ulang segala masukan tadi dengan seluruh materinya dan di atas segalanya bacalah Firman Allah dan berdoa. Mohon Allah menolongmu untuk dapat fokus pada apa yang baik dan suci.

Ayat 9: Tidak cukup hanya mendengar atau membaca Firman Allah, kita harus juga mempraktekkannya. Mudah untuk mendengarkan khotbah tetapi cepat lupa tentang apa yang pengkhotbah katakan. Mudah untuk membaca Alkitab tetapi tidak pernah berpikir bagaimana seharusnya hidup kita berubah dan menjadi beda (baik). Mudah untuk berdebat tentang isi Alkitab, tetapi kita justru tidak hidup dari makna, isi, dan artinya. Menjelajahi Firman Allah tidak cukup. Pengetahuan akan Firman Allah itu harus membimbing kita pada kepatuhan.

 

Realitas kehidupan kini dan penerapan

Di Jakarta, di bulan Maret 2014, seorang ibu dan suaminya secara spontan memberi maaf kepada pembunuh anak gadisnya, ketika ia tahu si pembunuh adalah mantan kekasih anaknya, meski melalui pemberitaan ia tahu bahwa pembunuhan tersebut dilakukan secara sadis. Si ibu masih bisa memberi keterangan bahwa selama menjadi pacar anaknya, perilakunya baik.

Di Iran, di bulan April 2014, seorang ibu dan dibantu oleh suaminya membuka tali pengikat leher pembunuh anak laki-lakinya di tiang gantungan. Peristiwa kenakalan remaja di jalanan berujung pembunuhan tersebut terjadi di tahun 2007. Pembunuhnya hendak dieksekusi di tiang gantungan. Tiba-tiba ibu si korban mendatangi dan menampar anaknya. Si ibu merasa tenang setelah menampar pembunuh anaknya tersebut dan kemudian memaafkannya. Ibu si korban itu membuka tali yang akan menjerat si pembunuh.

 

Metode

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas, maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Menurut saudara, apa makna rekonsiliasi bagi kehidupan ini?
  2. Cara apa yang kita butuhkan agar kita dapat melakukan seperti di dua peristiwa di ‘Realitas kehidupan kini dan penerapan’ tersebut di atas?
  3. Apakah saudara pernah melakukan/ mengalami rekonsiliasi? Hari ini rekonsiliasi dengan siapa?

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

 

 ***

 

OKTOBER I 2014

Bacaan              : Yesaya 25:6-12
Tema Bukan   : Kegagalan manusia, wajarkah?
Tema PA         : Kegagalan pun dijalani dengan sikap bersyukur.

 

Keterangan Teks

Bagian ini (Yesaya 25:6-12) bisa dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah ayat 6-8 berisi tentang ‘pesta kerajaan bagi bangsa-bangsa’. Kelompok kedua, ayat 9-10a, menggambarkan suasana ‘sukacita di dalam Tuhan’. Dan, kelompok ketiga, ayat 10b-12, adalah bahwa Moab akan dicampakkan ke dalam lobang kotoran.

Ayat-ayat di dalam kelompok pertama mengingatkan pembaca kitab Yesaya pada penggambaran sebuah era yang sangat harmonis. Era harmonis itu lazim disebut sebagai era atau zaman mesianis (zaman yang bersifat atau bersuasana khas, damai, karena Mesias menjadi raja pada zaman itu). Penggambaran zaman mesianis itu terdapat juga di dalam Yesaya 2:2-4. Intinya: pada zaman mesianis itu, kehidupan bangsa manusia sangatlah damai, tidak ada perang sama sekali, tidak ada konflik sama sekali. Karena kewibawaan sang raja mesias itu sedemikian besar; bukan kewibawaan layaknya seorang penguasa yang bengis dan mendominasi atau bersifat menguasai orang lain, melainkan kekuasaan yang didasari kasih-ilahi yang bersifat paripurna. Tidak akan ada lagi pengganggu kedamaian. Para pengganggu sudah tidak ada lagi. Mereka sudah dikalahkan sama sekali oleh Sang Raja Mesias. Di meja perjamuan besar, Sang Raja duduk. Di sebelah kanan dan kiri-Nya juga duduk umat-Nya yang setia. Di dalam perjamuan mesianis itu, hidangan berupa makanan dan minuman yang terbaik dihidangkan dalam jumlah yang berlimpah. Tidak ada seorang pun yang merasa berkekurangan.

Sedangkan ayat-ayat di kelompok kedua menggambarkan persekutuannya itu sendiri. Persekutuan antara umat Allah dan Allah mereka adalah persekutuan sorgawi. Di dalam persekutuan sorgawi itu, suasananya bukan seperti persekutuan di Taman Eden pada awal, sebelum manusia jatuh dosa; melainkan persekutuan mesianis yang diwarnai dengan suasana pertobatan. Di dalam persekutuan yang diwarnai pertobatan itu terdapat Bapa pada satu pihak dan anak-anak pada pihak lain. Bapa adalah Bapa yang penuh kasih. Anak-anak adalah anak-anak yang pernah hidup menjauh dari Bapanya, seperti seorang anak bungsu yang pernah hilang, lalu kembali di rumah Bapanya.

Pada bagian ketiga, intinya terletak pada perlindungan Tuhan. Tangan Tuhan melindungi, sebenarnya lebih tepat diartikan ‘berdiam di…’ Kata ‘melindungi’ memang sudah jelas, yakni membuat orang yang dilindungi itu aman dan nyaman. Tetapi, berapa lamakah? Bisa sebentar, bisa pula dalam waktu lama. Itulah makna ‘melindungi’. Tetapi makna ‘berdiam di….’ lebih menunjukkan satu bentuk perlindungan yang kekal-abadi. Artinya, perasaan umat Allah, bahwa mereka merasa aman dan nyaman itu berlangsung selama-lamanya, bukan hanya sesaat; bukan pula keamanan-kenyamanan yang berlangsung hanya beberapa waktu lamanya. Bagian ketiga ini mengisahkan sebuah kehidupan kekal yang definitif, kekal yang tidak berubah-ubah lagi.

 

Pendalaman

  1. Ayat 6-8: keadaan penuh damai-sejahtera (shalom) seperti apakah yang digambarkan di dalam ayat-ayat tersebut? Kata-kata kunci apakah yang mencerminkan shalom itu? Apakah Anda telah memberi garis bawah di Alkitab Anda, khususnya pada kata-kata kunci tersebut?
  2. Ayat 9-10a: sikap apakah pada umat Tuhan yang dinampakkannya, sebagai tanggapan terhadap rahmat Tuhan yang besar?
  3. Ayat 10b-12: bandingkan Kejadian 19:37, dan simpulkan: siapakah ‘Moab’ itu? Lihat pula Ulangan 12:9, lalu simpulkan: bagaimana sikap Moab terhadap Musa dan umat pilihan Tuhan (Israel)? Terakhir: lihatlah Bilangan 22-24 dan Yosua 24:9, lalu simpulkan: apakah yang dilakukan bangsa Moab kepada umat pilihan Tuhan? Mengapa Moab bersikap seperti itu?

 

Pertanyaan reflektif

  1. Damai sejahtera atau shalom berhadapan dengan penghalangnya atau lawannya, yakni Moab (kemarahan, kebencian, iri hati, sikap bermusuhan, hidup serong).  Bagaimana janji Tuhan dalam keadaan tegang dan berkonflik: berpihak pada apakah Tuhan Allah, yakni berpihak pada shalom ataukah berpihak pada Moab?
  2. Sikap apakah yang lebih baik dikembangkan oleh umat Tuhan: frustrasi karena banyak tantangan, ataukah bersikap bersyukur?

 

Realitas kehidupan kini / penerapan

  1. Hidup Anda lebih banyak diwarnai dengan frustrasi ataukah lebih banyak bersyukur?
  1. Bagaimana warna hidup Anda sebagai pribadi? Lebih banyak warna frustrai ataukah syukur?
  2. Bagaimana warna hidup keluarga Anda? Lebih banyak warna frustrai ataukah syukur?
  3. Bagaimana warna hidup jemaat Anda? Lebih banyak warna frustrai ataukah syukur?
  4. Bagaimana warna hidup lingkungan RT atau RW Anda? Lebih banyak warna frustrai ataukah syukur?
  1. Berbagilah cerita/ pengalaman kehidupan Anda yang positif (semakin banyak kisah positif adalah semakin baik. Kalau seorang mempunyai satu kisah kehidupannya yang positif ditambah dengan kisah positif dari 6 orang lainnya, maka kelompok kecil Anda telah mempunyai 7 cerita kehidupan yang positif. Kesimpulan: untuk menjalani hidup yang bersyukur, Anda akan memperbanyak cerita kehidupan yang positif-kah?
  2. Selamat bersyukur kepada Tuhan.

 

Pdt. Suwignyo

 

***

OKTOBER II 2014

 

Bacaan             : 1 Tesalonika 1:2-10
Tema Bulan    : Kegagalan manusia, wajarkah?
Tema PA         : Bersyukur atas kebaikan yang dijalankan oleh orang lain

Keterangan Teks

Perikop bacaan saat ini merupakan bagian awal dari serangkaian pasal-pasal awal di dalam I Tesalonika. Persisnya, I Tesalonika 1:1-3:13 merupakan satu kesatuan yang utuh. Kesatuan itu berisi uraian tentang ‘iman Jemaat Tesalonika dan Karya Paulus’ di wilayah itu. Yang dimaksud ‘wilayah itu’ adalah wilayah Makedonia (lihatlah di dalam peta Dunia Perjanjian Baru, pada bagian akhir dari Alkitab Anda). Wilayah Makedonia, sebenarnya, adalah sebuah povinsi dari wilayah kekaisaran Romawi yang luas pada Abad Pertama Masehi. Kota Tesalonika, seperti halnya Kota Filipi, merupakan sebuah kota yang berada di kawasan sebuah teluk, sebelah Barat Laut dari Laut Aegea. Letak provinsi tersebut berada di Benua Eropa-Tenggara.

Semua keterangan yang disebut di atas adalah penting untuk dicatat, untuk menjelaskan satu hal, paling tidak, yakni bahwa Paulus benar-benar telah melintasi batas benua. Dalam rangka memberitakan Injil, Paulus telah merambah ke dunia yang baru. Murid Tuhan Yesus yang pertama dan tercatat dengan baik, bahwa dia adalah seorang murid yang telah go international. Itulah Paulus. Artinya, tantangan terhadap iman Kristen sangatlah banyak. Tantangan-tantangan itu berasal dari alam berpikir Yunani-Romawi. Salah satu ciri khas dari alam berpikir itu adalah bahwa sebuah kebenaran harus bersifat rasional atau bersifat masuk akal. Iman pun harus bisa dijelaskan secara runtut.

Salah satu hal dalam kehidupan beriman adalah bersyukur. Itu harus bisa diuraikan: apakah artinya bersyukur, mengapa bersyukur. Paulus, dalam bagian awal suratnya, di dalam I Tesalonika, menjelaskan dengan tandas apakah beryukur dan alasan dia selalu bersyukur.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa ‘bersyukur’ merupakan salah satu sikap hidup yang bersifat positif. Berpikir positif. Berperasaan positif. Pikiran dan perasaan positif itu dalam rangka menjawab situasi umum kehidupan warga gereja. Situasi warga gereja di Tesalonika yang dimaksud, yang khas, adalah bahwa mereka sedang bertanya-tanya tentang kehidupan di seberang sana, hidup setelah kematian, dan untuk itu Paulus secara panjang lebar memberi penjelasan (I Tesalonika 4:13-18, 5:1-11).

Pendalaman

  1. Ayat 2, 4: Paulus bersyukur. Apakah alasan Paulus bersyukur?
  2. Ayat 3: bandingkan ayat 3 dengan I Korintus 13:13; ada tiga istilah pokok yang disebut-sebut oleh Paulus, kata apa sajakah itu?
  3. Ayat 5: Kabar Baik (atau ‘Injil’) bisa benar-benar menggerakkan hati orang karena dua hal, yaitu kalimat yang berisi hal-hal yang baik dan kekuatan Sang Roh; apakah Anda menangkap pengertian seperti itu dari ayat 5? Bagaimana penjelasannya?
  4. Ayat 6-7: apakah syarat seorang percaya menjadi teladan dalam iman?
  5. Ayat 8-10: apakah inti dari ketiga ayat tersebut?

 

Pertanyaan reflektif

  1. Seorang ‘besar’ seperti Paulus juga bersyukur, seperti kita. Tetapi alasan dari ungkapan syukur Paulus bukanlah karena Paulus terberkati, melainkan karena jemaat di Tesalonika terberkati. Berkat apakah yang diterima oleh jemaat di Tesalonika? Kata kunci apa (saja)-kah yang menunjukkan, bahwa jemaat di Tesalonika terberkati?
  2. Bandingkan II Tesalonika 3:7,9; apakah Paulus juga menjadi teladan bagi jemaat Tesalonika? Apakah keteladanan yang diberikan oleh Paulus kepada jemaat di Tesalonika?
  3. Bacalah I Tesalonika 1:6, berulang sampai dua atau tiga kali. Pembacaan dilakukan secara: (a) sendiri-sendiri – di dalam hati; (b) setelah selesai membaca ayat 6 di dalam hati masing-masing, lalu dibaca bersama-sama, sekali. Setelah pembacaan bersama, silahkan saling mengutarakan: apakah kesannya, dari pembacaan ayat 6 itu!

 

Realitas kehidupan kini / penerapan

  1. Ada tiga hal utama di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, yakni: pertama, iman; kedua, pengharapan; ketiga, kasih. Yang manakah dari ketiga kata itu yang sangat penting bagi hidup Anda?
  2. Bersyukur berlawanan dengan kata bersungut-sungut. Kalau Anda mengeluh, sekali-sekali atau kadangkala, keluhan itu merupakan ungkapan bersyukur ataukah ungkapan kurang bersyukur?
  3. Apakah yang perlu diperkuat/ diperbuat, agar Anda semakin bersyukur (apakah perlu memperkuat iman, memperkuat pengharapan, ataukah memperkuat kasih)?
  4. Sekali waktu, Anda sangat ingin mengkritik seseorang. Bagaimana cara mengkritik sesama, agar dalam mengkritik pun Anda tetap dalam suasana hati yang bersyukur? Kalau ada contoh pengalaman, boleh Anda berbagi pengalaman kepada Saudara-Saudari di sekeliling Anda yang sedang mengkikuti persekutuan saat ini.

 

Pdt. Suwignyo

One Comment »

  • Muryo Djajadi said:

    terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.