Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab
Oktober 2009 (I)

HIDUP UNTUK TUHAN
Kejadian 7:1-24

PENGANTAR UMUM
Anak-anak Adam, Kain, Habil, dan Set. Kain adalah pembunuh adiknya. Jadi, Kain adalah jahat di mata Tuhan Allah. Habil mati. Anak Adam ke-3 adalah Set. Set sebagai kakek moyang orang yang dipandang orang benar oleh Tuhan Allah.

Bahwa Tuhan Allah menghendaki agar umat-Nya menjadi umat yang baik, berbuat baik dan benar, akhirnya Dia terkecewakan. Keturunan Set pun pada akhirnya berbuat jahat di mata Tuhan Allah. Di dalam Kejadian 6:5 disebutkan ‘… kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata’. Tak bersisa. Hampir semuanya menjadi manusia jahat. Lalu diteruskan di dalam Kejadian 6:6: ‘maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.’

Meski telah ditunda atau ditangguhkan selama 120 tahun, akhirnya Tuhan Allah berkeputusan untuk menenggelamkan bumi yang telah diciptakan-Nya.

Kisah tentang air bah dan latar belakang atau alasan air bah sampai diturunkan oleh Tuhan Allah terdapat di dalam Kejadian 6:1 - 8:20. Bagian pada Kejadian 7:1-24, karenanya, adalah bagian dari kisah panjang tentang apa dan mengapa air bah.

PENGANTAR KHUSUS
Nuh dibenarkan oleh Tuhan Allah: ‘engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini’ (ayat 1). Bukan manusia, pada akhirnya, penentu salah atau benar. Penilaian manusia tidak sanggup menembus sampai kedalaman terdalam, yaitu hati manusia. Artinya, orang yang berpura-pura baik tidak dapat dikenali seketika. Siapa yang terlihat baik, ternyata menyimpan niat yang tidak baik. Bahkan bisa bertahan sampai dalam kurun waktu begitu lama, berpura-pura baik, sehingga orang terdekat pun menyangkanya baik. Hanya karena orang itu begitu rapih menyimpan rahasia di dalam hatinya, maka tak seorang pun dapat menguak rahasia hatinya.

Nuh satu-satunya dinilai baik dan benar oleh Tuhan Allah. Apakah kriteria kebenaran Tuhan Allah? Tidak dijelaskan di dalam bacaan kita. kebenaran seperti apa yang dikehendaki oleh Tuhan Allah. Satu hal adalah pasti: sikap yang ditunjukkan oleh Nuh. Sikap Nuh itulah salah satu bukti sikap dan tindakan yang dinilai benar oleh Tuhan Allah. Disebutkan di dalam ayat 5: ‘Nuh melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya’. Jadi, pertama, faktor ‘melakukan’ itulah pertama-tama dijadikan kriteria pembenaran dari Tuhan terhadap Nuh. Bukannya ‘merenungkan’, ‘menghafal’, ‘memahami’, atau ‘mengajar’ dijadikan kriteria pembenaran. Hanya karena Nuh ‘melakukan’ maka dia dinyatakan benar. Bahkan di dalam Kejadian 6:22 disebutkan ‘Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya’.

Kedua, ‘segala yang diperintahkan Tuhan’. Antara lain, Nuh diperintahkan untuk membuat perahu (Kej.6:14). Setelah perahu siap, Tuhan memerintahkan Nuh membawa masuk segala binatang dan burung, baik yang halal, (bhs Ibraninya ‘tahor’, maupun yang haram, (bhs Ibraninya ‘lo-tahor’). Setelah semuanya masuk, Nuh diperintahkan supaya masuk ke dalam bahtera.

Semua perintah itu dikerjakan oleh Nuh. Tidak jelas, apakah terjadi dialog, bantahan, atau doa permohonan dari Nuh terhadap Tuhan. Yang pasti adalah bahwa Nuh melakukan perintah Tuhan Allah.

Akhirnya, Tuhan Allah sendiri menutup pintu bahtera (Kej. 7:16). Artinya, Tuhan Allah menyelamatkan Nuh. Tuhan Allah menghukum. Tuhan Allah juga menyelamatkan. Siapakah yang diselamatkan? Tidak lain dari beberapa orang terpilih.

PERTANYAAN PENDALAMAN

  1. Hidup di dalam Kristus dibebaskan dari hukum formal haram - halal. Baik binatang yang haram maupun yang halal diselamatkan ke dalam perahu Nuh. Kedua jenis itu pula yang ditenggelamkan ke dalam air bah. Apakah kita tidak harus menjaga kekudusan hidup di dalam Kristus? Jelaskan dan tunjukkan dasar Alkitabiahnya.
  2. Nuh diselamatkan karena Nuh ‘melakukan’. Artinya, perbuatan Nuh diperhitungkan oleh Tuhan sebagai kebenaran. Keselamatan Nuh ditentukan oleh Tuhan Allah. Faktor penentu penyelamatan terhadap Nuh adalah perbuatan Nuh, yaitu melakukan ‘segala yang diperintahkan TUHAN’. Kisah Nuh ini mirip dengan penekanan perbuatan tulisan Rasul Yakobus: ‘iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati’ (Yakobus 2:17). Bagaimana hubungan antara iman dan perbuatan, jika demikian? Jelaskan dan tunjukkan dasar Alkitabiah dari jawaban Anda.
  3. Apakah yang biasanya menggoda kita supaya kita menunda melakukan apa yang Tuhan firmankan di dalam Kitab Suci?
  4. Ceritakan pengalaman menarik Anda saat menuruti kehendak Tuhan, lebih daripada menuruti godaan untuk tidak taat kepada Tuhan. Dalam pengalaman Anda itu, apakah positifnya taat kepada Tuhan?
    Kita ini disebut sebagai umat pilihan. Dibandingkan dengan Nuh, kita terpilih dari antara apa? (SWY)

***

Pemahaman Alkitab
Oktober 2009 (II)

HIDUP UNTUK TUHAN
Yakobus 2:1-13

PENGANTAR
Ayat yang menjadi bahan PA kita tidak dapat dipisahkan dari ayat-ayat lain ataupun keseluruhan kisah Rut. Kitab Rut berawal dari kisah keluarga Elimelekh (Elimelekh, Naomi isterinya dan kedua anaknya Mahlon dan Kilyon) yang meninggalkan Betlehem pada masa kelaparan untuk mencari kehidupan baru di Moab. Kisah tragis di alami oleh Naomi, dimana suami dan kedua anak laki-lakinya meninggal dunia di tanah perantauan tersebut. Memang Naomi masih memiliki dua orang menantu, namun Naomi sadar betul, bahwa Ia harus melepaskan mereka, karena sesuai adat Yaduhi, mereka bisa /harus dinikahi oleh saudara laki-laki suaminya, sedangkan Naomi tidak memiliki anak lelaki lain dan tidak akan memiliki lagi untuk menikahi Orpa dan Rut. Karena Naomi mendengar bahwa keadaan di Betlehem membaik, maka Naomi memutuskan untuk kembali ke Betlehem. Untuk itu Naomi menasehati dan menyarankan agar kedua menantunya kembali ke rumah orang tua mereka masing-masing. Sesuai dengan nasehat Naomi, maka Orpa pergi meninggalkan Naomi dan pulang ke rumah orangtuanya . Berbeda dengan Orpa, Rut mengambil keputusan lain yaitu tetap berpaut pada Naomi. Ia tetap menyatakan tekadnya untuk menyertai atau mengikuti Naomi pulang kepada bangsanya (Israel) yaitu ke Betlehem. Walaupun Betlehem artinya rumah roti, dan walaupun keadaan ekonomi sudah lebih baik, tetapi bagi Rut dan Naomi keadaan yang dihadapi tidaklah mudah.

Mereka harus mengawali kehidupan baru di Betlehem. Lebih-lebih Naomi dan Rut berstatus janda. Janda dalam masyarakat pada waktu itu diposisikan “lebih rendah” dari para perempuan bersuami. Namun dalam keadaan yang sulit tersebut, Naomi dan terutama Rut tidak terjebak dalam kekecewaan dan sikap mengeluh. Sebaliknya, Rut dengan kekuatannya berusaha dan berjuang untuk mempertahankan hidupnya dan hidup Naomi, mertua yang dikasihinya. Ia memanfaatkan peluang yang ada, walaupun oleh orang lain pekerjaan tersebut dianggap rendah. Ia pergi ke ladang untuk memungut sisa-sisa jelai (ngasak) di sebuah ladang yang ternyata adalah milik salah seorang anggota keluarga Elimelekh, yaitu milik Boas.

Ia mendapat perlakuan baik, baik dari Boas maupun dari pengerja-pengerja ladang lainnya.

Memang menurut peraturan agama Yahudi, orang miskin dan orang asing berhak mengambil sisa bulir jelai sehabis dipanen, bahkan pemilik atau pengerja harus menyisakannya. Namun dalam hal ini Rut tidak saja menerima haknya, yaitu diperbolehkan mengambil sisa bulir jelai, melainkan lebih daripada itu, ia diterima dan dihormati sebagai saudara oleh Boas dan pada gilirannya juga oleh pekerja-pekerja Boas.

Boas melakukan kebaikan bukan semata-mata karena hukum atau undang-undang, tetapi karena kasih. Itu sebabnya ia tidak hanya berkata pada pekerjanya supaya tidak mengganggu Rut, melainkan ia menyapa Rut, ia menawarkan minuman dan ia mengajak Rut makan bersama sebagai tanda persekutuan. Ia menghargai Rut sebagai subyek dan bukan obyek dari perbuatan baik yang diharuskan oleh Undang-Undang atau peraturan.

Atas perlakuan ini Rut memberi hormat kepada Boas. Dan penuh heran Rut bertanya kepada Boas, mengapa Boas berbuat sebaik itu kepadanya, padahal dia seorang asing? (ayat10).

Boas menjelaskan bahwa semua itu tak lepas dari apa yang terlebih dahulu diperbuat Rut pada mertuanya. Rut layak untuk menuai buah buah dari perbuatan baiknya. (ay.11).

Tampaknya Rut sendiri tidak menyadari bagaimana benih-benih kebaikan yang ditaburkan mulai ditumbuhkan oleh Tuhan. Yang ia lakukan hanya mengasihi Naomi secara murni dan utuh, dan ia berjuang mewujudkan kasih itu dengan tindakan nyata yaitu memenuhi kebutuhan hidup.

Sangat menarik bahwa dalam hal ini Boas mengatakan bahwa “Tuhan kiranya membalas perbuatanmu” (ay.12). Boas menekankan perbuatan Tuhan, walaupun saat itu ia sendiri yang secara langsung menunjukkan kebaikan pada Rut. Hal ini dengan jelas menyatakan bahwa bagi orang-orang yang mengalami kasih Tuhan dengan sungguh-sungguh, akan melanjutkan kebaikan itu kepada sesamanya dengan menyadari bahwa itulah cerminan kasih Tuhan pada semua orang. Atau dengan kata lain, Boas berbuat baik kepada Rut, tidak semata-mata menganggap itu sebagai kebaikannya sendiri, melainkan dari Tuhan. Hal itu juga tampak ketika ia (Boas) sebagai saudara yang harus menebus tanah Naomi beserta Rut menjadi isterinya, ia tidak melakukan dengan paksa karena hukum, melainkan karena kerelaan dan cinta kasih.

Kisah yang menarik ini, tidak berakhir pada perkawinan Rut dan Boas, melainkan Alkitab menyaksikan bahwa: anugerah yang dialami Rut dan Boas, yang dipelihara dan dikembangkan dalam kehidupan mereka, pada akhirnya berbuahkan anugerah yang lebih besar lagi, yaitu mereka berdua merupakan bagian dari karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. (Injil Matius 1 : 1 dan yang bersangkutan). Rut dan Boas bagaikan ladang-ladang yang baik, yang telah menerima anugerah dari Tuhan dan menjadi tempat bertumbuh serta berkembangnya anugerah tersebut melalui berbagai kebaikan yang mereka lakukan secara murni dari dalam hati.

BAHAN PERGUMULAN:

1. Teladan apa sajakah yang dapat kita petik dari Rut dan Boas?
2. Bagaimanakah hubungan antara Anugerah Allah dengan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan manusia?
3. Apakah perbedaan antara berbuat baik karena Undang-Undang dan peraturan dengan berbuat baik karena kasih yang murni? (YA)