wordpress com stats plugin
Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

NOPEMBER I 2014

 

Bacaan              : Amsal 31: 10-31
Tema Bulan    : Siapa mau mencari, menemukannya.

 

Keterangan Teks

Amsal 31: 1. Kata-kata Lemuel

Kata-kata pertama menimbulkan masalah. Apakah “Masa” berarti sebuah tempat di Arab atau “ramalan”? Alkitab bahasa Indonesia mengungkapkan keduanya: nama tempat dan “perkataan”. Masalah kedua ialah apakah judul ini meliputi ay. 1-9 dan ay 10-31? Kebanyaan para ahli menganggap puisi mengenai wanita cakap merupakan tambahan yang direkatkan pada akhir sebagai semacam kesimpulan dari keseluruhan kitab Amsal.

 

Amsal 31: 10-31

Amsal-amsal ini berakhir dengan puisi akrostik dari dua puluh dua baris, setiap baris mulai dengan huruf berikut abjad Ibrani. Ini membuatnya bernilai seni tinggi dan lebih mengesankan daripada urutan logis dalam pengaturan gagasanIstreri yang cakap merupakan tema penting dalam Amsal (11: 16; 12: 4; 18: 22; 19: 14). Maka tidak mengherankan bahwa kitab ini berakhir dengan contoh seorang wanita sebagai teladan orang bijak. Dalam beberapa hal, kwalitas yang bagus mirip dengan madah perkawinan tradisional dalam memuji pengantin putri, contoh yang terdapat dalam Kidung Agung 7: 1-10. Madah perkawinan ini melukiskan keindahan fisik wanita, dari kepala sampai unjung kaki, untuk menunjukkan kecantikan yang komplet. Di sini hikmatnya dan sifat-sifat baiknyalah yang komplet.

Namun, berdasarkan tema-tema yang terdapat dalam Amsal bab 1-9, mengenai Nyonya Hikmat melawan Nyonya Kebodohan, barangkali bagus melihat dalam bab ini sesuatu yang lebih daripada gambaran mengenai isteri yang sempurna. Ia adalah hikmat dalam segala tindakan. Model dari pengendalian diri, kewaspadaan, pengertian dan sikap yang benar. Lebih khusus lagi, hikmatlah yang berseru-seru di pintu-pintu gerbang kota kepada orang-orang supaya mendengarkan (1: 21; 8: 3), dan hikmat yang tampak dalam takut akan Tuhan (1: 7; 9: 10), seperi wanita ini ditandai oleh takut akan Tuhan dan puji-pujiannya dinyanyikan di gerbang kota (31: 30-31). Si suami dapat diidentifikasikan dengan sorang muda dalam bab 1-9, yang mendengarkan panggilan hikmat. Akibatnya, ia adalah orang yang terhormat dalam masyarakat.

Madah ini dimulai dengan sebuah pujian mengenai bagaimana seorang suami bergantung pada seorang istri yang cakap demi kemakmuran (ay. 10-12). Ayat-ayat yang lain berselang-seling mengenai kemampuannya sebagai wanita bisnis dan kebijaksanaannya dalam memperhatikan keluarganya. Tampaknya aneh bahwa wanita ini dipuji karena ketrampilannya berdagang, mengingat bahwa bidang ini dipegang pria dalam Perjanjian Lama. Tetapi, kita hendaknya memahami bahwa “dagang” dalam arti hikmat. Pertukaran hikmat di dunia Timur Dekat Kuno dianggap sebagai transaksi dagang. Israel hanya membeli yang terbaik, yang sesuai dengan theologinya. Wanita yang cakap bertolak belakang dengan wanita yang bodoh dan malas. Ia menyukai tanggung jawabnya untuk keluarganya, bekerja sampai larut malam, membuat benda-benda dengan keterampilannya, memperhatikan kebutuhan yang akan datang. Membuat pakaian adalah metafora utama dalam praktek hikmat. Pakaian menutupi seluruh tubuh dan memberinya bentuk, perlindungan, dan kehidupan dalam cara yang sama seperti hikmat membentuk, dan menjaga, dan memperkaya pikiran dan roh. Ayat 23 dan 25, itu menjanjikan balasan perkawinan dengan hikmat, yaitu: hormat dan kemuliaan (lih. Amsal 11: 16; 21: 21; 22: 4; 29: 23). Penyebutan gerbang kota dalam ay. 23, menekankan peranan suami yang mengadili dalam pembicaraan.

Pengajaran si wanita terdiri dari hikmat dan belas kasih. Ini mengatasi semua keutamaan yang dapat dicapai seseorang (ay. 29) dan dapat mengkombinasikan ideal nabi dan orang bijak menjadi satu, karena “belas kasih” adalah konsep sentral dari theologi perjanjian para nabi.

 

Pertanyaan untuk digumuli

  1. Peranan ibu dalam rumah tangga, dalam himpunan umat beriman sangatlah penting. Isteri yang cakap, menghayati iman, merumuskan kasih, tekun dalam karya, ini semua mempunyai tempat tersendiri dalam kehidupan. Bagaimanakah kita dalam memberi peran kepada kaum wanita dalam kegiatan dan dalam rumah tangga kita masing-masing?

 

Pdt. Didik Prasetyoadi Mestaka

 

NOPEMBER II 2014

 

Bacaan              : Mateus 25: 14-30
Tema Bulan    : Siapa mau mencari, menemukannya.

 

Keterangan Teks

Perumpamaan mengenai talenta mempunyai banyak unsur yang ditemukan dalam perumpamaan yang terdahulu. Tetapi perumpamaan ini terpusatkan pada adegan penghakiman (ay. 19-30). Majikan (Anak Manusia) akan pergi jauh. Karena itu, Ia membagikan sejumlah uang kepada tiga hambanya. Kata Yunani yang melukiskan sejumlah uang ini adalah “talenta”. Di sini talenta berarti bakat alam yang dapat dikembangkan dengan praktek yang tekun. Meskipun disebut tiga hamba dalam perumpamaan, tetapi mereka sebenarnya terdiri dari dua kelompok: dua yang menginvestasikan dan menggandakan sejumlah uangnya, dan yang seorang yang menanam uangnya di tanah. Majikannya, yang semula pergi jauh untuk waktu yang lama, tiba-tiba datang kembali dan melakukan perhitungan dengan hamba-hambanya. Perhitungan itu dengan jelas menunjuk pada penghakiman terakhir. Hal ini mencakup hadiah bagi kedua hamba yang menggandakan jumlah uang yang dipercayakan kepada mereka dan hukuman bagi hamba yang tidak melakukan apa-apa. Kesiapsediaan terus-menerus menuntut tindakan yang menghasilkan buah.

 

Nilai pemberitaan

  1. Perumpamaan ini berbicara tentang banyaknya dan berbedanya yang diberikan oleh Allah: “Masing-masing menurut kesanggupannya” (Mat 25: 15). Tuhan memberikan secara berbeda-beda, makanya juga menuntut berbeda-beda. Ia tidak menuntut lebih. Setiap orang diukur sesuai dengan usahanya dan ketekunannya, sesuai dengan kondisi dan situasinya.
  2. Mateus 25: 20-23, menguraikan dengan cukup jelas, bagaimana hamba-hamba ini mempertanggungjawabkan pemberian tuannya. Pemberian itu tidak sia-sia, bahkan menghasilkan buah yang lipat ganda. Atas jerih payah ini sudah tersedia pemberian yang lebih besar lagi: Berbahagia bersama tuanya. Antara pemberian tugas dan anugerah yang menanti: tidak seimbang. Namun demikianlah cara kerja Tuhan. Kelimpahan kasih-Nya jauh melebihi jasa pengabdian manusia. Dan toh tidak semua sadar akan hal ini. Dengan segala upaya mereka berusaha lari dari tanggungjawab dan mencari “kambing hitam”-nya.
  3. Hamba yang ketiga mengira, bahwa ia dapat memberikan alasan perbuatannya. Ia malahan mengecam tindakan tuannya: “Tuan adalah manusia yang kejam dan menuai di tempat di mana tuan tidak menabur, dan yang memungut di tempat di mana tuan tidak menanam” (Mat 25: 24). Jadi tuannya disamakan dengan kapitalis, yang mengenak-enak diri dan memeras tenaga serta keringat bawahannya.

 

Pertanyaan untuk digumuli

  1. Penghakiman eskatologis ini dapat dilihat secara eksistensial, artinya: Barangsiapa tidak menghargai pemberian Tuhan dalam bentuk apa pun juga di dunia di sini pun merasakan “kegelapan dan kertakan gigi”, kata lain dari penderitaan dan kesengsaraan.
    Apakah kita sudah memanfaatkan pemberian Tuhan, meskipun kelihatan sepele?
  2. Kira-kira sumbangan apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat di sekitar kita?

Pdt. Didik Prasetyoadi Mestaka

DESEMBER  I   2014

Bacaan                       : Yesaya 40: 1-11
Tema Bulanan            : Pengakuan Dosa Menjadi Tanda Iman
Tema PA         : Pertobatan adalah Perubahan Hidup

 

PENDAHULUAN

Pada sebuah proses persidangan di pengadilan, kita akan menjumpai sosok hakim, jaksa, terdakwa, pengacara dan saksi. Hakim bertugas mengadili dengan seadil-adilnya berdasarkan undang-undang yang berlaku. Jaksa bertugas memberikan dakwaan dan sangsi kepada terdakwa sesuai dengan pelanggaran yang telah ia lakukan. Seorang terdakwa mendapat kesempatan menjawab setiap pertanyaan dari hakim, jaksa atau pengacara. Pengacara akan membela kliennya agar dia mendapatkan pembelaan secara hukum dan keringanan hukuman. Sedangkan para saksi, mereka akan menceritakan pengalaman, kejadian, fakta sesuai dengan apa yang mereka alami, lihat dan rasakan. Harapannya melalui proses pengadilan tersebut hakim dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan sebuah kebenaran dapat terungkap.

Yang menarik dalam jalannya sebuah persidangan tersebut, tidak semua terdakwa mengakui kesalahan dan kejahatannya secara terus terang. Mereka biasanya akan berupaya “mengkambinghitamkan” orang lain untuk bisa terlepas dari tuntutan dan hukuman yang berat. Demikian pula para saksi yang menceritakan kronologis kejadian bisa jadi memutar balikkan fakta yang sebenarnya. Tetapi bukti-bukti yang dibawa ke dalam persidangan akan menjadi media pendukung untuk mengungkapkan kebenaran.

Dalam kehidupan orang beriman tidak lepas dari jerat dosa. Apa yang terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari seringkali menyebabkan manusia itu jatuh ke dalam dosa. Persoalannya apakah ia menyadari kesalahan dan dosa yang ia perbuat atau tidak? Apakah dia mau mengakui dan menyesali dosa-dosanya dan bertobat kepada Tuhan?

 

PENJELASAN TEKS

Firman Tuhan dalam bacaan kita merupakan pengantar dari Deutro Yesaya. Bagian ini menyebutkan tentang nubuat pembebasan bangsa Israel dari pembuangan Babel. Ayat 2 memberikan pandangan bahwa pembuangan merupakan hukuman dari Tuhan atas dosa-dosa Israel dan atas ketidaksetiaan Israel. Sedangkan pembebasan Israel dari Babel dipandang sebagai penyataan anugerah Allah. Allah dalam kasih karunia-Nya berkenan mengampuni kesalahan dan dosa-dosa yang telah dilakukan Israel.

Dalam Kitab Keluaran, Allah menunjukkan kasih dan kuasa-Nya dengan membebaskan Israel dari bangsa Mesir. Allah menuntun dan menyertai mereka dalam perjalanan menuju Kanaan. Ia berjalan di depan bangsa Israel dalam tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Sedangkan pada ayat 6-8, sekali lagi Allah berkenan mengampuni dan membebaskan bangsa Israel dari bangsa Babel. Allah memerintahkan Yesaya untuk mewartakan perbedaan antara kekuatan manusia dan kekuatan Allah. Kekuatan bangsa Babel yang tampak begitu kokoh, mulai memudar laksana rumput kering di padang. Gambaran ini menjelaskan bahwa tidak selamanya bangsa Babel berkuasa atas Israel. Allah Israel lebih berkuasa atas Babel dan mampu meruntuhkan Babel seperti rumput yang menjadi kering dan bunga yang menjadi layu.

Ayat 9-11, Sion atau Yerusalem diperintahkan mewartakan kabar sukacita kepada kota-kota Yehuda. Yerusalem menjadi gambaran yang mewakili komunitas pembuangan yang akan kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali kota mereka. Perlu diingat bahwa tidak semua orang Yahudi di Babel kembali ke Yerusalem. Ada sebagian orang Yahudi yang memutuskan untuk lebih baik tinggal di Babel. Di sinilah Nabi Yesaya mewartakan jaminan bahwa Allah menyertai mereka dengan kuasa-Nya dan kasih-Nya. Digambarkan seperti seorang gembala yang menggembalakan kawanan ternak-Nya, yang menuntunnya dengan hati-hati. Demikianlah Allah memulihkan Yehuda seperti sediakala. Ada janji yang Tuhan berikan. Ada pertolongan yang Tuhan sediakan bagi orang-orang Yehuda yang kembali kepada Tuhan.

 

ISI DAN RELEVANSI

Memahami isi dari nubuat Yesaya ini memberikan pengertian bagi kita bahwa Tuhan Allah berkenan memberikan pengampunan pada umat-Nya. Allah menyelamatkan dan membebaskan umat-Nya untuk kesekian kalinya. Dan Allah menghendaki umat-Nya untuk hidup setia kepada-Nya. Yehuda menjadi gambaran tentang kehidupan umat percaya pada masa kini. Gambaran tentang ketidaktaatan dan pengabaian akan Allah, sekaligus gambaran tentang pentingnya pengakuan dosa dan pertobatan kepada Allah.

Dalam konsep keselamatan dalam PL dipahami taat dan setia kepada Allah mendatangkan berkat, sebaliknya ketidaktaatan dan ketidaksetiaan kepada Allah mendatangkan hukuman. Dari pandangan ini, kita mengetahui bahwa sebagian orang akan beranggapan bahwa sakit, kecelakaan, musibah merupakan hukuman Tuhan bagi mereka yang tidak setia. Sehingga mereka perlu mengakui dosa-dosa mereka. Mereka harus bertobat kepada Tuhan. Lantas bagaimana dengan hidup orang beriman dan setia yang mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup mereka? Apakah itu merupakan hukuman Allah ataukah ujian Allah kepada mereka?

Mengikut Yesus bukan berarti tanpa masalah dalam hidup ini. Justru dalam kesulitan dan penderitaan itu, iman percaya kita semakin dibangun dan dikuatkan. Yang kita lakukan adalah tetap percaya dan berserah bahwa apa pun yang kita alami, jangan pernah kita meninggalkan Tuhan. Ketaatan dan kesetiaan adalah wujud kasih kita kepada Tuhan. Sekiranya dalam hidup ini kita berbuat dosa dan kesalahan, segera kita datang kembali kepada Tuhan memohon pengampunan dan berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Guna memperdalam pemahaman kita, marilah kita pergumulkan pertanyaan-pertanyaan berikut :

  1. Apakah yang saudara pahami tentang pertobatan yang sejati?
  2. Sikap hidup yang bagaimanakah yang menunjukkan wujud dari pertobatan itu?
  3. Jelaskan pentingnya pengakuan dosa yang kita lakukan! (AR)

 —

DESEMBER  II   2014

Bacaan                       : Lukas 7: 36-50
Tema Bulanan         : Pengakuan Dosa Menjadi Tanda Iman
Tema PA                    : Saling Mengampuni Wujud Kasih Kepada Sesama

 

PENDAHULUAN

Saat seseorang berbuat kesalahan maka hal pertama yang harus ia lakukan adalah mau mengakui kesalahannya tersebut dan meminta maaf kepada orang yang ia sakiti itu. Dengan mengatakan maaf berarti dia mengakui kesalahannya dan berharap orang yang ia sakiti mau memaafkannya. Pada kenyataannya meminta maaf bukanlah hal yang mudah bagi seseorang. Ada yang menganggap meminta maaf berarti dia orang yang salah. Perasaan benar sendiri sering menjadi penghalang untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang lain. Di sinilah diperlukan kebesaran hati untuk berani mengakui kesalahan dan meminta maaf jika memang berbuat salah. Di sisi yang lain, tidak mudah seseorang memaafkan kesalahan orang lain. Terlebih jikalau dia sudah terlanjur sakit hati dan menyebabkan luka batin yang mendalam, yang ada hanya rasa dendam dan keinginan membalas rasa sakit hatinya. Seperti kertas putih yang telah dicoret, kendati telah dihapus akan tetapi tetap ada bekas coretan yang terlihat.

 

PENJELASAN TEKS

Teks bacaan kita mengisahkan tentang undangan seorang Farisi yang bernama Simon kepada Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus tidak menolak undangan dari orang Farisi tersebut. Di tengah suasana perjamuan makan itu, datanglah seorang perempuan berdosa ke rumah Simon. Sambil menangis ia mendekati Tuhan Yesus, membasahi kaki-Nya dengan air matanya, menyeka-Nya dengan rambutnya kemudian mencium kaki-Nya dan meminyaki-Nya dengan minyak wangi. Peristiwa ini merupakan sesuatu yang memalukan, baik bagi Simon maupun perempuan itu sendiri. Simon tidak pernah menyangka di rumahnya akan kedatangan seorang perempuan yang berdosa. Di sisi lain, perempuan berdosa ini mau merendahkan dirinya, dia tidak mempedulikan sikap dan kata-kata sindiran orang lain yang memandang rendah dirinya. Baginya yang penting adalah imannya kepada Yesus dan keyakinannya bahwa Yesus akan menerima dia dengan penuh belas kasih.

Bagi Simon, Yesus pastilah bukan nabi karena Ia membiarkan seorang perempuan berdosa menyentuh diri-Nya. Simon tidak melihat dosa pada dirinya sendiri. Dia lebih melihat dosa dari perempuan ini, yang menurutnya lebih besar dari dirinya. Yesus mengetahui siapa perempuan itu. Untuk membuka pandangan Simon, Yesus menceritakan perumpamaan seorang yang berhutang 500 dinar dan seorang yang berhutang 50 dinar. Dari perumpamaan ini Simon mengakui bahwa seorang yang berhutang 500 dinar yang akan lebih berterima kasih dan mengasihi daripada yang berhutang 50 dinar.

Dengan pengakuan Simon tadi, Yesus mengungkapkan perbandingan antara Simon dan perempuan berdosa ini. Simon tidak menyediakan air, tetapi perempuan ini membasuh kaki Yesus dengan air matanya. Simon tidak mencium Yesus ketika masuk ke dalam rumahnya, perempuan ini mencium kaki Yesus. Simon tidak meminyaki kepala Yesus, perempuan ini meminyaki kaki Yesus. Puncak pernyataan Yesus pada kisah ini terdapat pada ayat 47. Yesus berkata, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih”. Pernyataan Yesus ini hendak menunjukkan bahwa kasih yang besar kepada sesama membawa pengampunan dosa. Perempuan yang berdosa itu sudah diampuni karena kasihnya besar kepada Yesus. Dengan iman, ia percaya kepada Yesus dan menerima pengampunan dari Yesus. Dengan iman pula ia mengungkapkan kasihnya kepada Yesus.

Perkataan Yesus yang berikutnya, ”Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” Ini tidak berarti bahwa orang harus menjadi pendosa besar supaya mendapatkan pengampunan dosa dan dapat mengasihi secara besar. Kalimat ini hendak mengingatkan agar kita mampu berlaku kasih sepanjang hidup kita. Janganlah kita hanya melihat kesalahan ataupun kekurangan orang lain, melainkan kita juga harus menyadari bahwa kita juga seorang berdosa.

Pada akhirnya Yesus mengatakan, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”. Sebuah perkataan yang menguatkan dan meneguhkan bagi perempuan berdosa ini. Oleh imannya dia beroleh pengampunan dan keselamatan dari Tuhan. Pengampunan yang Yesus berikan mampu mengubahkan hidup perempuan ini. Pengharapannya kepada Yesus menjadi nyata melalui pengampunan dosanya. Dengan iman selalu ada kekuatan untuk melakukan kebenaran. Iman kepada Yesus pulalah yang menyelamatkan jiwa dan hidup kita.

 

ISI DAN RELEVANSI

Yesus datang sebagai Juru Selamat dan Penebus dosa manusia. Ia datang untuk memberikan pengharapan baru, pengampunan, dan keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Jika Yesus mampu mengampuni, bagaimana dengan kita? Sudah seharusnya kita hidup dengan saling mengampuni. Kita menyadari tidak ada manusia yang sempurna. Manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan. Oleh karena itu tidak seharusnya kita menyimpan kesalahan atau dendam terhadap orang lain dalam hidup kita.

Hidup bersama di tengah masyarakat tidak lepas dari konflik dan pertengkaran yang berakhir dengan permusuhan dan perpecahan. Maka dari itulah sebagai orang Kristen haruslah kita mampu menerangi dunia. Tuhan Yesus memberikan suatu teladan tentang pengampunan dosa. Itu pula yang harus kita hayati bersama selaku pengikut Kristus, hidup saling mengampuni sebagai wujud kasih kita kepada sesama.

Untuk semakin memperdalam pemahaman kita, marilah kita pergumulkan bersama pertanyaan berikut:

  1. Ketika saudara menemukan orang seperti Simon orang Farisi, yang merasa diri sebagai orang baik, kudus dan benar dan menganggap orang lain lebih berdosa dari dirinya, langkah apakah yang akan saudara lakukan terhadap orang tersebut?
  2. Apakah yang akan saudara perbuat setelah dosa-dosa saudara diampuni oleh Tuhan Yesus seperti perempuan yang berdosa?
  3. Upaya bagaimana yang saudara lakukan agar saudara mampu mengampuni sesama? (AR).

One Comment »

  • Muryo Djajadi said:

    terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.