Pemahaman Alkitab

JUNI I

 

Bacaan            : 2 Korintus 4: 16-18.
Tema bulan    : Dosa memutuskan hubungan dengan Allah.
Tema PA         : Membangun hubungan dekat dengan Allah.

 

Pengantar

Penderitaan dapat membuat batin (spiritualitas) orang semakin kuat dan mantap, sehingga hubungannya dengan Tuhan semakin dekat. Itu terutama kalau penderitaannya tidak terlalu panjang atau berlangsung lama. Namun, jika penderitaan fisiknya berkepanjangan, dalam waktu cukup lama tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, apalagi jika kondisinya semakin merosot, maka kehidupan batin atau kerohaniannya bisa atau bahkan mudah turut merosot pula. Jika ada orang yang mengalami penderitaan fisik yang berkepanjangan, bahkan kondisinya makin merosot namun tidak menunjukkan tanda-tanda kemorosotan batin (iman dan kerohaniannya) bahkan justru makin kuat, maka itu adalah mujizat.

Paulus juga mengalami kemerosotan kekuatan fisik dan bahkan penderitaan. Penderitaannya berlangsung lama. Berkali-kali dia mengalami penganiayaan dan siksaan. Namun dia tetap tabah hati dan berani menjalankan tugasnya, sebab ia tahu bahwa segala susah-payah itu menjelmakan kemuliaan abadi baginya dan bagi umat. Paulus tidak fokus pada apa yang kelihatan, tetapi pada apa yang tidak kelihatan. Yang kasat mata itu bersifat fana, sedang yang tidak kelihatan dari Tuhan itu bersifat kekal dan penuh kemuliaan.

Kata “lahiriah” menunjuk kepada tubuh jasmani yang mengalami kemerosotan dan menuju kematian karena mortalitas dan kesusahan hidup (2 Kor. 4:17). Kata “batiniah” menunjuk kepada roh manusia yang memiliki hidup rohani Kristus. Sekalipun tubuh semakin tua dan merosot, namun kehidupan rohani Paulus mengalami pembaharuan yang terus-menerus melalui pemberian hidup dan kuasa Kristus yang terus berlangsung. Pengaruh-Nya memungkinkan pikiran, perasaan, dan kehendak disesuaikan dan menjadi serupa dengan Dia dan tujuan kekal-Nya. Di sini ada perjalanan yang bersimpangan: jasmaninya menurun tapi rohaninya menanjak. Spiritualitas Paulus terus-menerus mengalami peningkatan, tidak mandheg pada satu titik. Spiritualitas itu adalah dekat, lekat dan taatnya batin seseorang dengan Tuhan, sehingga kekuatiran dan ketakutan semakin kecil bahkan lenyap. Di dalam spiritualitas yang dalam ada kerinduan untuk selalu dekat dan kontak dengan Tuhan, ada kesenangan mentaati kehendak-Nya.

Kesukaran yang dipikul oleh orang yang dekat lekat dan taat kepada Kristus adalah ringan dibandingkan dengan kelimpahan kemuliaan yang dimiliki dalam Kristus. Sebagian kemuliaan ini telah ada, tetapi akan dialami sepenuhnya pada masa yang akan datang (bd. Rom 8:18). Apabila sudah mencapai warisan sorgawi itu, maka kesengsaraan yang paling berat pun tidak berarti dibandingkan dengan kemuliaan kekal itu.

 

Panduan untuk diskusi

  1. Bagaimana caranya mengolah pikiran dan batin agar di tengah melemahnya fisik (karena penyakit, usia, cacat, dll), spiritualitas (kerohanian) kita tidak melemah, tetapi justru menguat?
  2. Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari kelihat berkilau yang mudah membuat spiritualitas meredup. Bagaimana caranya membangun spiritualitas menjadi semakin mantap/ mendalam di tengah gebyar kehidupan?

 

(Suko T)

 

JUNI II

 

Bacaan            : 1 Samuel 3:1-10
Tema bulan    : Dosa memutuskan hubungan dengan Allah.
Tema PA         : Membawa anak-anak semakin mengenal Allah.

 

Pengantar:

Mari kita perhatikan kecenderungan pola komunikasi orangtua dengan anak:

  1. Jika beberapa orang dewasa sedang berbicara, lalu anak-anak menyela pembicaraan, bagaimana biasanya respon orang dewasa kepada anak-anak?
  2. Jika orang dewasa sedang diam merenungkan sesuatu, tiba-tiba anak datang dan bertanya hal yang tidak penting bagi orang dewasa, bagaimana respon orang dewasa?
  3. Bagaimanakah respon orang dewasa ketika anak-anak tidak memberi respon meski sudah dipanggil beberapa kali?

Pada umumnya, orang dewasa menganggap banyak hal tidak penting yang dilakukan oleh anak-anak. Di dalam sebuah ibadah Minggu misalnya, atau dalam ibadah patuwen/ Kelompok/ Rumah Tangga, kehadiran anak-anak sering dianggap sebagai pengganggu kekhusukan ibadah. Ketika anak-anak mulai mengeluarkan suara keras, atau berlarian ke sana ke mari, maka pandangan orang dewasa mulai tertuju kepada mereka. Ada yang tersenyum melihat ulah anak-anak, tetapi tidak sedikit yang memandang dengan kesal, bahkan memberi isyarat kemarahan kepada anak-anak. Tanpa orang dewasa menyadari reaksi-reaksinya terhadap sikap anak-anak di tengah ibadah, jika tidak segera diolah dengan benar, pada akhirnya akan mengakibatkan terputusnya hubungan anak-anak dengan Allah.

Sesungguhnya, semua anak dengan tahapan usia masing-masing, mereka pasti memberi respon atas apa yang dirasakan dan dipahami. Hanya saja, respon anak-anak kadang kurang tepat. Maka di sinilah peran orang dewasa untuk mendampingi dengan penuh kasih agar anak-anak mampu memberi respon dengan baik apa yang sedang mereka rasakan. Demikian pula dalam kehidupan berelasi dengan Tuhan, orang dewasa bertugas mendampingi dan mengarahkan respon anak-anak agar hidup mereka makin mengenal Allah dengan baik.

 

Keterangan teks bacaan:

Ayat 4-6 merupakan gambaran bagaimana orang muda merespon apa yang sedang ia rasakan dan alami. Samuel merasa ada yang memanggilnya, tetapi ia tidak tahu bahwa yang memanggilnya adalah Allah. Hal ini terjadi karena Samuel belum mengenal Tuhan (ayat 7), sebab firman Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan mutlak diperlukan untuk sampai pada pengenalan akan Tuhan dan relasi yang dekat dengan Tuhan. Anak-anak pun perlu mengenal Firman Tuhan, supaya mereka hidup dekat dengan Tuhan.

Pada kondisi Samuel tertidur (ayat 3: lampu Bait Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur…) menunjukkan situasi bahwa Samuel tidak benar-benar berniat untuk tidur. Gambaran jelasnya adalah bahwa Samuel tertidur: tidak sengaja tidur. Tentu kondisi tertidur akan membuat seseorang akan mudah terbangun jika ada hal yang tiba-tiba mengusiknya. Ketika ada suara memanggil namanya, Samuel mengira bahwa suara itu adalah suara Eli yang membutuhkan pertolongannya. Eli pada saat itu sudah hampir buta (ayat 2), sehingga ketika tengah malam ada suara memanggil namanya, Samuel mengira itu adalah panggiilan yang datang dari Eli yang meminta pertolongannya atau membutuhkan pelayanannya (ayat 5). Hal ini menggambarkan bahwa sebenarnya anak-anak atau orang muda cepat memberikan respon tentang apa yang mereka rasakan. Khususnya anak-anak, mereka cepat sekali bereaksi atau memberi respon. Misalnya saja, ketika anak-anak tidak menyukai sesuatu, mereka cepat merespon dengan marah atau menangis atau merajuk atau bahkan melakukan hal-hal yang menjengkelkan. Di sinilah tugas orangtua untuk mengarahkan agar anak-anak mampu memberi respon dengan cara baik atas segala sesuatu yang sedang mereka rasakan.

Eli telah mengerjakan tugasnya sebagai orang dewasa yang bijaksana pada saat mendampingi Samuel sebagai orang muda. Awalnya Eli juga tidak menyadari bahwa yang telah memanggil Samuel adalah Allah. Untuk yang ke tiga kalinya Samuel dipanggil dan mengira bahwa itu adalah Eli, maka Eli menasehati Samuel bagaimana cara menjawab panggilan Tuhan. Perintah ini pun dilaksanakan oleh Samuel (ayat 9-10). Di sinilah letak peranan orangtua yang sangat penting dalam memberikan pengarahan kepada anak-anak agar anak-anak mulai mengenal Tuhan, dan hidup makin dekat dengan Tuhan.

 

Aplikasi

Bagaimanakah cara yang bisa dilakukan oleh orangtua agar anak-anak mampu mengenal Tuhan lebih dekat ketika ada dalam kegiatan:

  1. Ibadah Minggu di Gereja?
  2. Patuwen/ Ibadah Kelompok/ Rumah Tangga?
  3. Di rumah masing-masing?

Tips membina pengenalan anak akan Tuhan di rumah:

Orangtua bisa memulai dari sekarang untuk menciptakan kebiasaan baik bahwa Firman Tuhan itu menjadi dasar dari semua kegiatan lain dalam kehidupan anak. Misalnya saja:

  1. Untuk anak usia 2-5 tahun:
    Berikan anak 1 ayat hafalan yang sama di setiap minggu. Ayat hafalan ini akan diucapkan anak-anak pada pagi hari. Dan malam hari, orangtua meluangkan 5 menit waktunya untuk memberi cerita yang berkaitan dengan ayat hafalan sebagai pengantar tidur anak.
  2. Untuk anak usia 5-7 tahun (Playgroup – SD kelas 1)
    Berikan anak 1 ayat hafalan yang sama di setiap minggu. Ayat hafalan ini diucapkan anak-anak sebelum berangkat sekolah. Hal ini untuk memberikan pemahaman bahwa Firman Tuhan itu harus lebih penting daripada sekolah. Jika anak-anak gagal melakukan ayat hafalan ini, maka anak-anak tidak diijinkan untuk berangkat sekolah. Namun orangtua harus memberi pemahaman bahwa hal ini dilakukan agar anak-anak menyadari betapa pentingnya Firman Tuhan dalam kehidupan anak-anak. Jangan memberlakukan ini seolah-olah seperti hukuman, tetapi orangtua menciptakan suasana yang penuh kasih ketika anak-anak akan melakukan ayat hafalan sebelum berangkat sekolah. Pada akhirnya, kegiatan ini akan menjadi hal yang paling dinantikan oleh anak-anak.
  3. Untuk anak usia 8-12 tahun (kelas 2-6 SD)
    Berilah kebebasan kepada anak-anak untuk memilih sendiri ayat hafalan mereka. Boleh setiap hari berganti-ganti. Orangtua akan bertugas memberi makna dari ayat hafalan anak-anak untuk direlefansikan dalam kehidupan anak. Ayat hafalan ini dilakukan sebelum berangkat sekolah.
  4. Untuk usia sekolah SMP-SMA
    Mintalah anak membuat catatan di kertas kecil yang berisi ayat Alkitab sesaat sebelum berangkat sekolah. Sebelum tidur, minta dia menuliskan makna dari ayat Alkitab itu. Kertas itu akan diberikan kepada orangtua sebelum tidur. Baik jika orangtua berdoa bersama anak sebelum tidur. Catatan itu disimpan dan dikumpulkan dengan baik oleh orangtua. Ketika anak beranjak dewasa dan akan kuliah, semua catatan itu bisa diberikan lagi kepada anak dalam kotak khusus, supaya anak mengingat bahwa mereka tumbuh dengan dasar Firman Tuhan yang akan mengiring perjalanan kedewasaan iman mereka.

 

(Rini)

JULI I 2015

Bacaan            : Markus 6:1-13
Tema              : Bertugas sebagai Nabi Demi Makna Kehidupan

Keterangan Teks

Markus tidak menyebutkan tempat asal Yesus, namun dalam Lukas 4: 16, yang merupakan ayat pararel dari bacaan kita ini, disebutkan Yesus datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan. Kalau Yesus dibesarkan di Nazaret berarti penduduk Nazaret menyaksikan bagaimana Yesus dan keluarga-NYA hidup. Dalam budaya Yahudi pada waktu itu, anak seorang tukang kayu akan diajar untuk menjadi tukang kayu juga. Jadi, sepengetahuan penduduk Nazaret, Yesus adalah anak tukang kayu. Setelah pergi dari Nazaret, Yesus kembali sebagai seorang rabbi, lengkap dengan murid-murid. Saat Yesus mengajar di rumah ibadat pada hari sabat, mungkin itu merupakan kali pertama orang-orang Nazaret mendengar Yesus mengajar. Mereka heran dan bertanya-tanya, lalu kecewa dan menolak Yesus. Penolakan orang Nazaret untuk percaya, membuat Yesus tidak mengadakan banyak mujizat di tempat itu.

Penolakan orang banyak untuk mempercayai Yesus, tidak menghentikan Yesus dalam berkarya. Yesus kemudian mengajar dan melatih murid-muridNya. Sebagai bagian dari pelatihan, Yesus mengutus murid-murid-Nya pergi berdua-dua. Yesus memperlengkapi para murid dengan kuasa atas roh jahat. Para murid tidak boleh membawa perbekalan, tidak boleh pilih-pilih tempat tinggal, apalagi karena alasan ingin mencari tempat yang lebih nyaman. Yesus pun mengajar para murid tentang menyikapi penolakan orang terhadap mereka. Setelah Yesus mempersiapkan para murid, mereka pun pergi.

(sumber: Santapan Harian, Januari-Februari 2009, hal. 58 dan 60)

 

Realitas Kehidupan Kini

Dalam tema bulanan ‘Bertugas sebagai nabi demi makna kehidupan’, bacaan Markus 6:4 mengungkapkan pernyataan Yesus, bahwa ‘seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya’. Untuk lebih memahami tentang nabi, ada beberapa hal yang bisa kita diskusikan:

  1. Siapakah nabi itu?
  2. Seperti apa penampilannya?
  3. Apakah peran nabi itu penting?
  4. Masihkah kita membutuhkan nabi untuk zaman modern ini?

Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, nabi adalah pemimpin umat yang dipanggil Allah untuk memperingatkan umat agar tidak menyimpang dari perintah-perintah ALLAH. Di kalangan Gereja Kristen perdana, nabi-nabi masih memainkan peranan yang tampaknya cukup penting (1 Korintus 12:28-29), namun di kemudian hari agaknya peranan nabi semakin berkurang, khususnya ketika gereja semakin ditata. (sumber: wikipedia.org)

Dalam perjanjian lama, seorang yang digelari ‘nabi’ digelari juga ‘pelihat’. Istilah pelihat ini lebih secara jelas menunjukkan karakteristik seorang nabi. Yaitu seseorang yang mendapat penglihatan dan mendengar suara Allah dan diutus untuk menyampaikan kepada umat. Nabi juga bermakna orang yang diutus dan diilhami oleh ALLAH untuk menyatakan sesuatu yang tersembunyi, mengungkapkan suatu nubuat, menyatakan pikiran dan kehendak ilahi, dan juga untuk meramalkan masa depan.

Hubungan PB dengan amanat nabi-nabi PL terletak pada pemenuhan atau penggenapannya. Pada hari Pentakosta dan dalam sejarah Gereja, karunia kenabian diperbaharui oleh Roh Kudus, sehingga kini ada sebuah karunia bernubuat yang sungguh-sungguh nyata dalam Gereja pada kaum pria maupun kaum wanita. Peranan para nabi itu, ialah menyatakan rahasia-rahasia, mengajak, menghibur dan membangun.

Pada dasarnya setiap orang Kristen adalah nabi. Pencurahan Roh atas setiap manusia membuat ‘mereka akan bernubuat’ (Kisah 2:18). Paulus menghimbau jemaat di Korintus, supaya ‘mengusahakan dirinya memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat’ (1 Korintus 14:1). (Sumber: www.sarapanpagi.org)

Berangkat dari uraian di atas, kita bisa menghayati panggilan kita sebagai nabi pada jaman sekarang. Tuhan Yesus sudah mengungkapkan bahwa ‘seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya’. Namun bukan berarti bahwa ungkapan Tuhan Yesus ini untuk melemahkan kita menjalankan tugas sebagai nabi. Apalagi kita dipanggil menjalankan tugas sebagai nabi, bukan di tempat yang jauh dari tempat asal kita, melainkan di tempat tinggal kita masing-masing. Di tengah keluarga kita, di tengah persekutuan, dan di masyarakat tempat kita tinggal. Ini berarti kita harus siap menjalankan tugas sebagai nabi dan siap untuk ditolak. Kita perhatikan dalam bacaan kita, setelah ditolak oleh orang-orang tempat asalNya, Tuhan Yesus tidak berhenti berkarya. Tuhan Yesus mengutus murid-muridNya dengan terlebih dahulu memperlengkapi mereka agar bisa melakukan tugas pengutusan. Tuhan Yesus pun memberi tips dan trik kepada para murid kalau mereka harus menghadapi penolakan. Ketika kita dipanggil menjalankan tugas sebagai nabi, kita juga sudah diperlengkapi oleh Allah agar bisa menjalankan tugas kita.

 

Penerapan

  1. Bagaimana pengalaman saudara selama ini dalam menjalankan tugas sebagai nabi di tengah keluarga, persekutuan, dan masyarakat?
  2. Apa yang bisa saudara pelajari dari bahan Pemahaman Alkitab kita ini untuk melanjutkan dan menyelesaikan tugas kenabian saudara ?

(wati)

 

 

JULI II 2015

Bacaan            : 1 Samuel 1:1-20
Tema              : Bertugas sebagai Nabi Demi Makna Kehidupan

Keterangan Teks

Imam Eli dan Samuel adalah hakim-hakim terakhir. Keduanya memiliki jabatan rangkap. Eli, memiliki jabatan imam (1 Samuel 1:9). Sedangkan Samuel disebut sebagai nabi (1 Samuel 3:20). Samuel hidup pada masa transisi dari masa hakim-hakim ke masa kerajaan. Samuel diutus untuk mengurapi dua raja pertama Israel: Saul dan Daud. Sebagai nabi, Samuel memiliki tugas untuk mengingatkan umat Israel maupun para pemimpin Israel agar tetap setia kepada Perjanjian Allah dengan umat Israel di gunung Sinai.

(Sumber: Santapan Harian edisi Mei-Juni 2008, hal. 52)

Bacaan 1 Samuel 1:1-20 menceritakan tentang kelahiran nabi Samuel. Nama Samuel berarti aku telah memintanya dari pada Tuhan. Sesuai dengan arti namanya, nabi Samuel lahir atas permintaan ibu Hana kepada Tuhan. Ibu Hana adalah satu dari dua istri Bapak Elkana. Bertahun-tahun ibu Hana disakiti hatinya oleh ibu Penina, istri kedua Bapak Elkana. Ibu Hana mandul, sedangkan ibu Penina mempunyai banyak anak. Pada suatu kali, ketika pergi ke rumah Tuhan, ibu Hana berdoa kepada Tuhan sambil menangis. Ibu Hana bernazar bahwa kalau Tuhan memberi anak laki-laki kepadanya, dia akan memberikan anaknya kepada Tuhan. Doa ibu Hana didengar Tuhan. Seorang anak laki-laki lahir dari rahimnya, dan setelah disapih, Samuel diserahkan kepada Tuhan.

 

Realitas Kehidupan Kini

Setiap orang pasti menghadapi masalah dalam kehidupannya. Dalam bacaan ini, Elkana mendapat masalah tidak mempunyai keturunan, karena Hana mandul. Elkana menyelesaikan masalahnya dengan menikah lagi. Sekalipun tidak bisa memberi keturunan pada Elkana, Hana sangat dikasihi Elkana. Hal ini menjadi masalah bagi Penina, istri kedua Elkana yang sudah melahirkan banyak anak bagi Elkana. Penina mengatasi masalah iri hati dan cemburunya dengan terus menyakiti Hana. Bagi Hana, kemandulannya adalah masalah. Keputusan Elkana menikah lagi juga adalah masalah tersendiri bagi Hana. Selama bertahun-tahun, Hana pun harus menghadapi masalah sakit hati karena perlakuan Penina. Hana memilih mengatasi semua permasalahannya dengan mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Dalam kesedihannya, Hana disangka mabuk oleh Imam Eli yang juga sedang berada di bait suci. Hana tidak marah. Hana masih menghargai Imam Eli dengan menyebutnya ‘tuanku’, dan menjelaskan apa yang sedang dilakukannya. Tuhan memperhatikan kesedihan Hana yang diungkapkannya dalam doa, dan Tuhan memberikan anak laki-laki seperti yang diminta Hana.

Bercermin dari beberapa tokoh dalam cerita ini, apa yang sudah kita lakukan setiap kali kita menghadapi permasalahan?

Fakta menarik dari kisah kelahiran Nabi Samuel ini adalah bahwa kelahiran seorang nabi tidak selalu atas ketetapan ALLAH. Namun, bisa juga karena permintaan seseorang. Ini berarti bahwa tugas sebagai nabi sudah dijalankan oleh Samuel sejak Allah menempatkannya di rahim Hana. Kehadiran Nabi Samuel dalam kandungan Hana memang merupakan jawaban atas doa Hana. Tapi sekaligus juga mengingatkan kepada Elkana, Penina, serta seluruh umat Tuhan di berbagai jaman tentang kekuasaan Allah menjawab pergumulan umatNYA. Melalui kehadiran Nabi Samuel dalam kandungan Hana, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang selalu memperhatikan umat-Nya, Allah yang selalu ada di dekat dan di dalam umat-Nya, Allah yang mendengarkan setiap doa umat-Nya, serta Allah yang sanggup memberikan jalan keluar terhadap permasalahan umat-Nya.

Penerapan

  1. Bagaimana selama ini saudara menghayati peran sebagai nabi di tengah keluarga, persekutuan umat Tuhan maupun masyarakat?
  2. Apa yang bisa saudara pelajari dari bahan Pemahaman Alkitab kita ini untuk melanjutkan dan menyelesaikan tugas kenabian saudara ?

(wati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  1. terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati