wordpress com stats plugin
Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

OKTOBER I 2014

Bacaan              : Yesaya 25:6-12
Tema Bukan   : Kegagalan manusia, wajarkah?
Tema PA         : Kegagalan pun dijalani dengan sikap bersyukur.

 

Keterangan Teks

Bagian ini (Yesaya 25:6-12) bisa dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah ayat 6-8 berisi tentang ‘pesta kerajaan bagi bangsa-bangsa’. Kelompok kedua, ayat 9-10a, menggambarkan suasana ‘sukacita di dalam Tuhan’. Dan, kelompok ketiga, ayat 10b-12, adalah bahwa Moab akan dicampakkan ke dalam lobang kotoran.

Ayat-ayat di dalam kelompok pertama mengingatkan pembaca kitab Yesaya pada penggambaran sebuah era yang sangat harmonis. Era harmonis itu lazim disebut sebagai era atau zaman mesianis (zaman yang bersifat atau bersuasana khas, damai, karena Mesias menjadi raja pada zaman itu). Penggambaran zaman mesianis itu terdapat juga di dalam Yesaya 2:2-4. Intinya: pada zaman mesianis itu, kehidupan bangsa manusia sangatlah damai, tidak ada perang sama sekali, tidak ada konflik sama sekali. Karena kewibawaan sang raja mesias itu sedemikian besar; bukan kewibawaan layaknya seorang penguasa yang bengis dan mendominasi atau bersifat menguasai orang lain, melainkan kekuasaan yang didasari kasih-ilahi yang bersifat paripurna. Tidak akan ada lagi pengganggu kedamaian. Para pengganggu sudah tidak ada lagi. Mereka sudah dikalahkan sama sekali oleh Sang Raja Mesias. Di meja perjamuan besar, Sang Raja duduk. Di sebelah kanan dan kiri-Nya juga duduk umat-Nya yang setia. Di dalam perjamuan mesianis itu, hidangan berupa makanan dan minuman yang terbaik dihidangkan dalam jumlah yang berlimpah. Tidak ada seorang pun yang merasa berkekurangan.

Sedangkan ayat-ayat di kelompok kedua menggambarkan persekutuannya itu sendiri. Persekutuan antara umat Allah dan Allah mereka adalah persekutuan sorgawi. Di dalam persekutuan sorgawi itu, suasananya bukan seperti persekutuan di Taman Eden pada awal, sebelum manusia jatuh dosa; melainkan persekutuan mesianis yang diwarnai dengan suasana pertobatan. Di dalam persekutuan yang diwarnai pertobatan itu terdapat Bapa pada satu pihak dan anak-anak pada pihak lain. Bapa adalah Bapa yang penuh kasih. Anak-anak adalah anak-anak yang pernah hidup menjauh dari Bapanya, seperti seorang anak bungsu yang pernah hilang, lalu kembali di rumah Bapanya.

Pada bagian ketiga, intinya terletak pada perlindungan Tuhan. Tangan Tuhan melindungi, sebenarnya lebih tepat diartikan ‘berdiam di…’ Kata ‘melindungi’ memang sudah jelas, yakni membuat orang yang dilindungi itu aman dan nyaman. Tetapi, berapa lamakah? Bisa sebentar, bisa pula dalam waktu lama. Itulah makna ‘melindungi’. Tetapi makna ‘berdiam di….’ lebih menunjukkan satu bentuk perlindungan yang kekal-abadi. Artinya, perasaan umat Allah, bahwa mereka merasa aman dan nyaman itu berlangsung selama-lamanya, bukan hanya sesaat; bukan pula keamanan-kenyamanan yang berlangsung hanya beberapa waktu lamanya. Bagian ketiga ini mengisahkan sebuah kehidupan kekal yang definitif, kekal yang tidak berubah-ubah lagi.

 

Pendalaman

  1. Ayat 6-8: keadaan penuh damai-sejahtera (shalom) seperti apakah yang digambarkan di dalam ayat-ayat tersebut? Kata-kata kunci apakah yang mencerminkan shalom itu? Apakah Anda telah memberi garis bawah di Alkitab Anda, khususnya pada kata-kata kunci tersebut?
  2. Ayat 9-10a: sikap apakah pada umat Tuhan yang dinampakkannya, sebagai tanggapan terhadap rahmat Tuhan yang besar?
  3. Ayat 10b-12: bandingkan Kejadian 19:37, dan simpulkan: siapakah ‘Moab’ itu? Lihat pula Ulangan 12:9, lalu simpulkan: bagaimana sikap Moab terhadap Musa dan umat pilihan Tuhan (Israel)? Terakhir: lihatlah Bilangan 22-24 dan Yosua 24:9, lalu simpulkan: apakah yang dilakukan bangsa Moab kepada umat pilihan Tuhan? Mengapa Moab bersikap seperti itu?

 

Pertanyaan reflektif

  1. Damai sejahtera atau shalom berhadapan dengan penghalangnya atau lawannya, yakni Moab (kemarahan, kebencian, iri hati, sikap bermusuhan, hidup serong).  Bagaimana janji Tuhan dalam keadaan tegang dan berkonflik: berpihak pada apakah Tuhan Allah, yakni berpihak pada shalom ataukah berpihak pada Moab?
  2. Sikap apakah yang lebih baik dikembangkan oleh umat Tuhan: frustrasi karena banyak tantangan, ataukah bersikap bersyukur?

 

Realitas kehidupan kini / penerapan

  1. Hidup Anda lebih banyak diwarnai dengan frustrasi ataukah lebih banyak bersyukur?
  1. Bagaimana warna hidup Anda sebagai pribadi? Lebih banyak warna frustrai ataukah syukur?
  2. Bagaimana warna hidup keluarga Anda? Lebih banyak warna frustrai ataukah syukur?
  3. Bagaimana warna hidup jemaat Anda? Lebih banyak warna frustrai ataukah syukur?
  4. Bagaimana warna hidup lingkungan RT atau RW Anda? Lebih banyak warna frustrai ataukah syukur?
  1. Berbagilah cerita/ pengalaman kehidupan Anda yang positif (semakin banyak kisah positif adalah semakin baik. Kalau seorang mempunyai satu kisah kehidupannya yang positif ditambah dengan kisah positif dari 6 orang lainnya, maka kelompok kecil Anda telah mempunyai 7 cerita kehidupan yang positif. Kesimpulan: untuk menjalani hidup yang bersyukur, Anda akan memperbanyak cerita kehidupan yang positif-kah?
  2. Selamat bersyukur kepada Tuhan.

 

Pdt. Suwignyo

 

***

OKTOBER II 2014

 

Bacaan             : 1 Tesalonika 1:2-10
Tema Bulan    : Kegagalan manusia, wajarkah?
Tema PA         : Bersyukur atas kebaikan yang dijalankan oleh orang lain

Keterangan Teks

Perikop bacaan saat ini merupakan bagian awal dari serangkaian pasal-pasal awal di dalam I Tesalonika. Persisnya, I Tesalonika 1:1-3:13 merupakan satu kesatuan yang utuh. Kesatuan itu berisi uraian tentang ‘iman Jemaat Tesalonika dan Karya Paulus’ di wilayah itu. Yang dimaksud ‘wilayah itu’ adalah wilayah Makedonia (lihatlah di dalam peta Dunia Perjanjian Baru, pada bagian akhir dari Alkitab Anda). Wilayah Makedonia, sebenarnya, adalah sebuah povinsi dari wilayah kekaisaran Romawi yang luas pada Abad Pertama Masehi. Kota Tesalonika, seperti halnya Kota Filipi, merupakan sebuah kota yang berada di kawasan sebuah teluk, sebelah Barat Laut dari Laut Aegea. Letak provinsi tersebut berada di Benua Eropa-Tenggara.

Semua keterangan yang disebut di atas adalah penting untuk dicatat, untuk menjelaskan satu hal, paling tidak, yakni bahwa Paulus benar-benar telah melintasi batas benua. Dalam rangka memberitakan Injil, Paulus telah merambah ke dunia yang baru. Murid Tuhan Yesus yang pertama dan tercatat dengan baik, bahwa dia adalah seorang murid yang telah go international. Itulah Paulus. Artinya, tantangan terhadap iman Kristen sangatlah banyak. Tantangan-tantangan itu berasal dari alam berpikir Yunani-Romawi. Salah satu ciri khas dari alam berpikir itu adalah bahwa sebuah kebenaran harus bersifat rasional atau bersifat masuk akal. Iman pun harus bisa dijelaskan secara runtut.

Salah satu hal dalam kehidupan beriman adalah bersyukur. Itu harus bisa diuraikan: apakah artinya bersyukur, mengapa bersyukur. Paulus, dalam bagian awal suratnya, di dalam I Tesalonika, menjelaskan dengan tandas apakah beryukur dan alasan dia selalu bersyukur.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa ‘bersyukur’ merupakan salah satu sikap hidup yang bersifat positif. Berpikir positif. Berperasaan positif. Pikiran dan perasaan positif itu dalam rangka menjawab situasi umum kehidupan warga gereja. Situasi warga gereja di Tesalonika yang dimaksud, yang khas, adalah bahwa mereka sedang bertanya-tanya tentang kehidupan di seberang sana, hidup setelah kematian, dan untuk itu Paulus secara panjang lebar memberi penjelasan (I Tesalonika 4:13-18, 5:1-11).

Pendalaman

  1. Ayat 2, 4: Paulus bersyukur. Apakah alasan Paulus bersyukur?
  2. Ayat 3: bandingkan ayat 3 dengan I Korintus 13:13; ada tiga istilah pokok yang disebut-sebut oleh Paulus, kata apa sajakah itu?
  3. Ayat 5: Kabar Baik (atau ‘Injil’) bisa benar-benar menggerakkan hati orang karena dua hal, yaitu kalimat yang berisi hal-hal yang baik dan kekuatan Sang Roh; apakah Anda menangkap pengertian seperti itu dari ayat 5? Bagaimana penjelasannya?
  4. Ayat 6-7: apakah syarat seorang percaya menjadi teladan dalam iman?
  5. Ayat 8-10: apakah inti dari ketiga ayat tersebut?

 

Pertanyaan reflektif

  1. Seorang ‘besar’ seperti Paulus juga bersyukur, seperti kita. Tetapi alasan dari ungkapan syukur Paulus bukanlah karena Paulus terberkati, melainkan karena jemaat di Tesalonika terberkati. Berkat apakah yang diterima oleh jemaat di Tesalonika? Kata kunci apa (saja)-kah yang menunjukkan, bahwa jemaat di Tesalonika terberkati?
  2. Bandingkan II Tesalonika 3:7,9; apakah Paulus juga menjadi teladan bagi jemaat Tesalonika? Apakah keteladanan yang diberikan oleh Paulus kepada jemaat di Tesalonika?
  3. Bacalah I Tesalonika 1:6, berulang sampai dua atau tiga kali. Pembacaan dilakukan secara: (a) sendiri-sendiri – di dalam hati; (b) setelah selesai membaca ayat 6 di dalam hati masing-masing, lalu dibaca bersama-sama, sekali. Setelah pembacaan bersama, silahkan saling mengutarakan: apakah kesannya, dari pembacaan ayat 6 itu!

 

Realitas kehidupan kini / penerapan

  1. Ada tiga hal utama di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, yakni: pertama, iman; kedua, pengharapan; ketiga, kasih. Yang manakah dari ketiga kata itu yang sangat penting bagi hidup Anda?
  2. Bersyukur berlawanan dengan kata bersungut-sungut. Kalau Anda mengeluh, sekali-sekali atau kadangkala, keluhan itu merupakan ungkapan bersyukur ataukah ungkapan kurang bersyukur?
  3. Apakah yang perlu diperkuat/ diperbuat, agar Anda semakin bersyukur (apakah perlu memperkuat iman, memperkuat pengharapan, ataukah memperkuat kasih)?
  4. Sekali waktu, Anda sangat ingin mengkritik seseorang. Bagaimana cara mengkritik sesama, agar dalam mengkritik pun Anda tetap dalam suasana hati yang bersyukur? Kalau ada contoh pengalaman, boleh Anda berbagi pengalaman kepada Saudara-Saudari di sekeliling Anda yang sedang mengkikuti persekutuan saat ini.

 

Pdt. Suwignyo

NOPEMBER I 2014

 

Bacaan              : Amsal 31: 10-31
Tema Bulan    : Siapa mau mencari, menemukannya.

 

Keterangan Teks

Amsal 31: 1. Kata-kata Lemuel

Kata-kata pertama menimbulkan masalah. Apakah “Masa” berarti sebuah tempat di Arab atau “ramalan”? Alkitab bahasa Indonesia mengungkapkan keduanya: nama tempat dan “perkataan”. Masalah kedua ialah apakah judul ini meliputi ay. 1-9 dan ay 10-31? Kebanyaan para ahli menganggap puisi mengenai wanita cakap merupakan tambahan yang direkatkan pada akhir sebagai semacam kesimpulan dari keseluruhan kitab Amsal.

 

Amsal 31: 10-31

Amsal-amsal ini berakhir dengan puisi akrostik dari dua puluh dua baris, setiap baris mulai dengan huruf berikut abjad Ibrani. Ini membuatnya bernilai seni tinggi dan lebih mengesankan daripada urutan logis dalam pengaturan gagasanIstreri yang cakap merupakan tema penting dalam Amsal (11: 16; 12: 4; 18: 22; 19: 14). Maka tidak mengherankan bahwa kitab ini berakhir dengan contoh seorang wanita sebagai teladan orang bijak. Dalam beberapa hal, kwalitas yang bagus mirip dengan madah perkawinan tradisional dalam memuji pengantin putri, contoh yang terdapat dalam Kidung Agung 7: 1-10. Madah perkawinan ini melukiskan keindahan fisik wanita, dari kepala sampai unjung kaki, untuk menunjukkan kecantikan yang komplet. Di sini hikmatnya dan sifat-sifat baiknyalah yang komplet.

Namun, berdasarkan tema-tema yang terdapat dalam Amsal bab 1-9, mengenai Nyonya Hikmat melawan Nyonya Kebodohan, barangkali bagus melihat dalam bab ini sesuatu yang lebih daripada gambaran mengenai isteri yang sempurna. Ia adalah hikmat dalam segala tindakan. Model dari pengendalian diri, kewaspadaan, pengertian dan sikap yang benar. Lebih khusus lagi, hikmatlah yang berseru-seru di pintu-pintu gerbang kota kepada orang-orang supaya mendengarkan (1: 21; 8: 3), dan hikmat yang tampak dalam takut akan Tuhan (1: 7; 9: 10), seperi wanita ini ditandai oleh takut akan Tuhan dan puji-pujiannya dinyanyikan di gerbang kota (31: 30-31). Si suami dapat diidentifikasikan dengan sorang muda dalam bab 1-9, yang mendengarkan panggilan hikmat. Akibatnya, ia adalah orang yang terhormat dalam masyarakat.

Madah ini dimulai dengan sebuah pujian mengenai bagaimana seorang suami bergantung pada seorang istri yang cakap demi kemakmuran (ay. 10-12). Ayat-ayat yang lain berselang-seling mengenai kemampuannya sebagai wanita bisnis dan kebijaksanaannya dalam memperhatikan keluarganya. Tampaknya aneh bahwa wanita ini dipuji karena ketrampilannya berdagang, mengingat bahwa bidang ini dipegang pria dalam Perjanjian Lama. Tetapi, kita hendaknya memahami bahwa “dagang” dalam arti hikmat. Pertukaran hikmat di dunia Timur Dekat Kuno dianggap sebagai transaksi dagang. Israel hanya membeli yang terbaik, yang sesuai dengan theologinya. Wanita yang cakap bertolak belakang dengan wanita yang bodoh dan malas. Ia menyukai tanggung jawabnya untuk keluarganya, bekerja sampai larut malam, membuat benda-benda dengan keterampilannya, memperhatikan kebutuhan yang akan datang. Membuat pakaian adalah metafora utama dalam praktek hikmat. Pakaian menutupi seluruh tubuh dan memberinya bentuk, perlindungan, dan kehidupan dalam cara yang sama seperti hikmat membentuk, dan menjaga, dan memperkaya pikiran dan roh. Ayat 23 dan 25, itu menjanjikan balasan perkawinan dengan hikmat, yaitu: hormat dan kemuliaan (lih. Amsal 11: 16; 21: 21; 22: 4; 29: 23). Penyebutan gerbang kota dalam ay. 23, menekankan peranan suami yang mengadili dalam pembicaraan.

Pengajaran si wanita terdiri dari hikmat dan belas kasih. Ini mengatasi semua keutamaan yang dapat dicapai seseorang (ay. 29) dan dapat mengkombinasikan ideal nabi dan orang bijak menjadi satu, karena “belas kasih” adalah konsep sentral dari theologi perjanjian para nabi.

 

Pertanyaan untuk digumuli

  1. Peranan ibu dalam rumah tangga, dalam himpunan umat beriman sangatlah penting. Isteri yang cakap, menghayati iman, merumuskan kasih, tekun dalam karya, ini semua mempunyai tempat tersendiri dalam kehidupan. Bagaimanakah kita dalam memberi peran kepada kaum wanita dalam kegiatan dan dalam rumah tangga kita masing-masing?

 

Pdt. Didik Prasetyoadi Mestaka

 

NOPEMBER II 2014

 

Bacaan              : Mateus 25: 14-30
Tema Bulan    : Siapa mau mencari, menemukannya.

 

Keterangan Teks

Perumpamaan mengenai talenta mempunyai banyak unsur yang ditemukan dalam perumpamaan yang terdahulu. Tetapi perumpamaan ini terpusatkan pada adegan penghakiman (ay. 19-30). Majikan (Anak Manusia) akan pergi jauh. Karena itu, Ia membagikan sejumlah uang kepada tiga hambanya. Kata Yunani yang melukiskan sejumlah uang ini adalah “talenta”. Di sini talenta berarti bakat alam yang dapat dikembangkan dengan praktek yang tekun. Meskipun disebut tiga hamba dalam perumpamaan, tetapi mereka sebenarnya terdiri dari dua kelompok: dua yang menginvestasikan dan menggandakan sejumlah uangnya, dan yang seorang yang menanam uangnya di tanah. Majikannya, yang semula pergi jauh untuk waktu yang lama, tiba-tiba datang kembali dan melakukan perhitungan dengan hamba-hambanya. Perhitungan itu dengan jelas menunjuk pada penghakiman terakhir. Hal ini mencakup hadiah bagi kedua hamba yang menggandakan jumlah uang yang dipercayakan kepada mereka dan hukuman bagi hamba yang tidak melakukan apa-apa. Kesiapsediaan terus-menerus menuntut tindakan yang menghasilkan buah.

 

Nilai pemberitaan

  1. Perumpamaan ini berbicara tentang banyaknya dan berbedanya yang diberikan oleh Allah: “Masing-masing menurut kesanggupannya” (Mat 25: 15). Tuhan memberikan secara berbeda-beda, makanya juga menuntut berbeda-beda. Ia tidak menuntut lebih. Setiap orang diukur sesuai dengan usahanya dan ketekunannya, sesuai dengan kondisi dan situasinya.
  2. Mateus 25: 20-23, menguraikan dengan cukup jelas, bagaimana hamba-hamba ini mempertanggungjawabkan pemberian tuannya. Pemberian itu tidak sia-sia, bahkan menghasilkan buah yang lipat ganda. Atas jerih payah ini sudah tersedia pemberian yang lebih besar lagi: Berbahagia bersama tuanya. Antara pemberian tugas dan anugerah yang menanti: tidak seimbang. Namun demikianlah cara kerja Tuhan. Kelimpahan kasih-Nya jauh melebihi jasa pengabdian manusia. Dan toh tidak semua sadar akan hal ini. Dengan segala upaya mereka berusaha lari dari tanggungjawab dan mencari “kambing hitam”-nya.
  3. Hamba yang ketiga mengira, bahwa ia dapat memberikan alasan perbuatannya. Ia malahan mengecam tindakan tuannya: “Tuan adalah manusia yang kejam dan menuai di tempat di mana tuan tidak menabur, dan yang memungut di tempat di mana tuan tidak menanam” (Mat 25: 24). Jadi tuannya disamakan dengan kapitalis, yang mengenak-enak diri dan memeras tenaga serta keringat bawahannya.

 

Pertanyaan untuk digumuli

  1. Penghakiman eskatologis ini dapat dilihat secara eksistensial, artinya: Barangsiapa tidak menghargai pemberian Tuhan dalam bentuk apa pun juga di dunia di sini pun merasakan “kegelapan dan kertakan gigi”, kata lain dari penderitaan dan kesengsaraan.
    Apakah kita sudah memanfaatkan pemberian Tuhan, meskipun kelihatan sepele?
  2. Kira-kira sumbangan apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat di sekitar kita?

Pdt. Didik Prasetyoadi Mestaka

One Comment »

  • Muryo Djajadi said:

    terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.