Pemahaman Alkitab
September I
Kuasa Yang Mengubah
Bacaan: Yesaya 33:1-22
Oleh para ahli Perjanjian Lama, bacaan kita kali ini masuk dalam bagian pertama kitab Yesaya atau yang disebut “Proto Yesaya” (Pasal 1—39). Menceritakan kerajaan Yehuda yaitu kerajaan selatan yang diancam oleh Asyur, negara tetangga yang sangat kuat. Cercaan celaka ditujukan kepada tentara Asyur (ayat 1). Di dalam tekanan tentara Asyur, bangsa Yehuda menaikkan pujian bagi Allah, karena Allah akan mengadakan keadilan bagi umat-Nya dengan menyediakan masa damai. Hal ini didapatkan umat Allah karena mereka memiliki “takut akan Tuhan” yang menimbulkan hikmat dan pengetahuan (ayat 5-6). Allah akan “bangkit” untuk melenyapkan manusia yang mengingkari perjanjian-Nya (ayat 7-9). Orang berdosa dan murtad, suku bangsa dan bangsa-bangsa gemetar oleh karena keperkasaan-Nya (ayat 10-14).
Tetapi Yesaya menyadari, bahwa yang sesungguhnya mengancam kehidupan Yehuda bukanlah kekuatan Asyur, tetapi dosa bangsa Yehuda sendiri, karena bangsa itu tidak taat dan kurang percaya kepada Tuhan. Baik dengan kata-kata, maupun dengan perbuatan. Ia mengingatkan bahwa umat Tuhan akan celaka dan binasa kalau tidak mau mendengarkan Tuhan. Dalam ayat 15-16, Yesaya menggambarkan orang-orang di antara umat Allah yang akan lolos dari api hukuman-Nya. Perhatikan bahwa hanya orang yang menjalankan kehidupan saleh yang mengalir dari hati, dianggap benar di hadapan Allah. Orang saleh itu dilukiskan sebagai seorang yang:
- memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Allah,
- berbicara dengan tulus hati tanpa penipuan,
- menolak untuk mencari uang dengan cara tidak adil,
- menolak untuk terlibat dalam tindakan-tindakan kejahatan, dan
- menolak untuk menyenangi kejahatan atau bergembira dengan tindakan jahat orang lain.
Syarat yang tegas diberikan Yesaya kepada bangsa Yehuda jika ingin dekat dengan Allah. Karena Allah akan memberkati kediaman umat-Nya menjadi tempat yang kuat dan aman sehingga semua orang akan melihatnya sebagai tempat keselamatan, tempat nama Allah dimuliakan, tempat sukacita, tempat keadilan (ayat 17-24).
Dapatkah kita menyadari pertolongan Tuhan tatkala kesesakan terasa menghimpit? Pertolongan Tuhan pada umat-Nya tidak terbatas pada zaman Nabi Yesaya saja atau hanya diberikan bagi umat Israel pada waktu itu saja, tetapi juga dapat kita terima pada masa kini. Bagaimana caranya? Kita berseru memohon pertolongan Tuhan. Takut akan Tuhan karena hal ini mendatangkan hikmat dan pengetahuan yang memberikan penyelesaian bagi masalah. Tetap setia menjalankan firman Tuhan meski keadaan sekitar kita “rusak“. Api Tuhan menyeleksi yang murni dan yang palsu. Siapa yang tahan terhadap api Tuhan? Bukan pemeras, penindas, koruptor, pembunuh, melainkan umat yang hidup dalam kebenaran, jujur, setia, taat dan bertanggung jawa. Kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, kelaliman, keculasan dimusnahkan! Kuasa dan kedaulatan-Nya tidak saja mampu mempengaruhi dunia, tetapi juga mampu mengubah dunia menjadi damai dan sejahtera.
Pertanyaan:
- Ketika mengandalkan Tuhan dalam kesesakan. Bagaimana cara menjadikan kegelapan hidup bisa melahirkan pujian tentang kemuliaan Tuhan?
- Kalaupun di zaman sekarang ini berbagai ragam kejahatan semakin marak, bagaimana respons aktif orang percaya menghadapi situasi ini?
September II
Hidup Baru
Bacaan : Yehezkiel 18:1-32
Rupanya banyak orang Yahudi (mungkin juga orang-orang jaman sekarang) percaya bahwa mereka dihukum karena dosa-dosa para leluhur dan karena itu Allah tidak adil; mereka tidak sadar bahwa dosa-dosa mereka sendiri lebih parah daripada dosa para leluhur itu. Bacaan kita ini mengajarkan kebenaran dasar bahwa setiap orang bertanggung jawab kepada Allah atas hidupnya sendiri, dan bahwa setiap orang yang terus-menerus berbuat dosa akan mati secara rohani dan menderita hukuman kekal.
Berita-berita dari nabi Yehezkiel ditujukan pada sisa-sisa bangsa Yehuda sebagai orang buangan yang telah kehilangan moral. Penekanan berita dalam kitab ini adalah tanggung jawab moral pribadi, bukan lagi moral suatu bangsa. Sebagai wakil Allah, Yehezkiel menyatakan bahwa manusia secara perorangan. tidak terlibat dalam dosa dan nasib nenek moyangnya (ay. 1-4). Setiap pribadi bertanggung jawab atas dosanya sendiri. Dosa masing-masing pribadi telah menumpuk hingga menghancurkan perjanjian antara Allah dengan Israel. Kemudian sang nabi mengembangkan prinsip tanggung jawab pribadi setiap orang dengan contoh tiga generasi yang berurutan: seorang ayah yang benar, seorang anak yang fasik, dan seorang cucu yang benar (ay. 5-9, 10-13, 14-18). Ayat 5-9 melukiskan seorang yang memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan dan yang menunjukkan komitmen itu kepada Allah dengan mengasihi kebenaran dan keadilan. Orang semacam inilah yang akan hidup kekal di dalam persekutuan serta keakraban dengan Tuhan. Lain halnya dengan seorang anak yang fasik (ayat 10-13) meskipun lahir dari seorang ayah beriman akan diminta pertanggungjawaban tersendiri atas dosa-dosanya. Sebagai akibat dari perbuatan dan penolakannya untuk bertobat dan berbalik kepada Allah, ia akan mengalami kematian rohani yang kekal.
Lalu bangaimana dengan orang fasik yang bertobat? Allah menjanjikan keselamatan bagi semua orang fasik yang memilih untuk meninggalkan dosa-dosa mereka dan berbalik kepada Allah (ayat 21-23). Tidak seorang pun dipaksa untuk melanjutkan dosa keluarganya. Allah ingin membawa setiap orang berdosa ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan tidak pernah senang apabila seorang fasik mati di dalam dosa. Manusia tidak tertimpa oleh dosa-dosa nenek moyangnya dan bahkan dapat meluputkan diri dari hukuman atas dosa-dosanya sendiri yang dahulu hanya dengan melalui pertobatan. Pertobatan bukan perkara kelompok, tetapi perkara pribadi dan perorangan. Itulah yang ditekankan nabi Yehezkiel.
Akan tetapi jangan dikira orang benar yang mengandalkan Allah dan menaati Dia akan aman secara kekal jikalau mereka kemudian tidak setia dan memberontak terhadap Allah. Orang semacam itu juga akan mati, sebagaimana halnya orang yang senantiasa hidup di dalam dosa (ayat 24). Pengampunan Ilahi tersedia buat orang berdosa yang mau bertobat, tetapi bahwa orang yang murtad akan mati dalam dosanya. Di pasal ini Sang nabi mengakhiri dengan sebuah nasihat agar bertobat dan diselamatkan (ay. 30-32).
Sama seperti seorang penulis bisa mengubah jalan cerita dengan menambahkan materi baru ke dalam pasal-pasal sebuah buku yang ditulis sebelumnya, demikian juga kita, meskipun masa lalu kita buram, masa kini bisa menjadi peluang untuk perubahan total dan bisa menghasilkan masa depan yang berkemenangan. Pengampunan tidak menghilangkan masa lalu, tetapi dengan suatu cara yang baru menghubungkan masa lalu itu dengan Allah, sehingga kita bisa mengubahnya dari sebuah kutukan menjadi sumber berkat.
Pertanyaan
- Bagaimana cara kita mengatasi masa lalu yang buram, sehingga masa kini dan mendatang hidup kita bisa menjadi sumber berkat?
- Apa yang kita pahami, jika tiba-tiba sebuah musibah menerpa kehidupan kita?


Leave your response!