wordpress com stats plugin
Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

 

SEPTEMBER I 2015

Bacaan             : Yakobus 2:1-4.
Tema Bulan    : “Gereja harus menjadi tanda kehidupan”.
Tema PA         : “Desa mawa cara, Negara mawa tata”  (Desa mempunyai adat sendiri, Negara memiliki tatanan, aturan, atau hukum tertentu).

Tujuan             :

  1. Agar warga jemaat mengetahui bahwa hidup kita diperkaya dengan adanya keanekaragaman.
  2. Agar warga jemaat memahami bahwa untuk menumbuh kembangkan keanekaragaman dibutuhkan sikap akomodatif dan bukan diskriminatif.
  3. Agar warga jemaat melatih diri untuk selalu mencari solusi terbaik agar dapat berfungsi dan berperan positif secara optimal dalam kehidupan yang aneka ragam ini.

Keterangan Teks

Ayat 1 dst.: Dalam bab 2 ini Yakobus berdebat untuk menentang sikap diskriminatif (membeda-bedakan atau pilih-pilih bulu) untuk memberlakukan perbuatan baik. Ia menawarkan tiga (3) prinsip iman:

  • Komitmen adalah hal pokok dalam iman. Anda tidak bisa menjadi seorang Kristen dengan meremehkan banyak hal ‘hanya’ karena doktrin yang benar (2:19). Anda harus berkomitmen bahwa pikiran dan hati anda untuk Kristus.
  • Perbuatan benar merupakan produk iman yang benar. Seorang Kristen yang sejati akan memiliki perubahan hidup (2:18).
  • Iman tanpa perbuatan baik adalah sia-sia (2:14-17).

Pengajaran Yakobus selaras dengan pengajaran Paulus yaitu bahwa kita menerima keselamatan hanya karena iman. Paulus menekankan tujuan iman – membawa ke keselamatan. Yakobus menekankan hasil iman – perubahan hidup.

Yakobus menyalahkan sikap diskriminatif (membeda-bedakan atau pilih-pilih bulu). Seringkali kita terpukau dengan penampilan bagus, keren, dan mengesankan daripada yang berpenampilan lusuh. Kita memperlakukan berbeda pada keduanya. Kita lebih menghormati penampilan bagus sebab kita anggap sebagai simbol kesuksesan seseorang; sebaliknya penampilan lusuh kita anggap simbol kegagalan.

Ayat 2-4: Kemakmuran boleh jadi indikasi kepandaian, keputusan bijaksana, dan hasil kerja keras. Pada pihak lain, mungkin itu hanya berarti bahwa seseorang memiliki nasib baik atau lahir di tengah keluarga kaya. Atau mungkin, itu merupakan pertanda ketamakan, ketidakjujuran, dan egois. Menghargai seseorang melalui pakaian atau tampilannya boleh-boleh saja, tetapi jangan kemudian kita menjadikan tampilan lebih penting daripada karakter. Kadang-kadang kita melakukannya, menghargai yang berpenampilan keren, sebab:

  • Kemiskinan membuat kita merasa risi (tak enak) dan ingin bertanggungjawab.
  • Kita ingin orang kaya terlibat di gereja dan membantu secara finansial.

Orang kaya atau orang miskin, sebagai manusia, butuh bersekutu. Jika kita berkata bahwa Kristus adalah Tuhan kita, maka kita harus hidup seperti yang Ia kehendaki, yakni tidak diskriminatif, dan mengasihi semua orang tanpa menghiraukan apakah mereka kaya atau miskin.

Kita seringkali memihak pada orang kaya sebab kita salah menduga bahwa kekayaan adalah sebuah tanda berkat Allah dan restu-Nya. Allah tidak menjanjikan ganjaran atau kekayaan duniawi; dalam kenyataannya Kristus memanggil kita untuk siap menderita bagi-Nya dan memberikan segala sesuatu agar supaya memiliki hidup kekal (Matius 6:19-21; Roma 8:15-21; I Timotius 6:17-19). Kita akan memiliki kekayaan-kekayaan yang tak ternilai dan kekal jika kita beriman dalam hidup kita kini (Lukas 6:35; Yohanes 12:23-25; Galatia 6:7-10).

Ayat 5: Bilamana Yakobus berbicara tentang kemiskinan, ia berbicara tentang mereka yang tidak memiliki uang, yang sederhana, yang dipandang hina. Tidak berarti bahwa orang miskin otomatis masuk sorga dan orang kaya masuk neraka. Orang miskin, bagaimanapun, seringkali lebih sadar akan ketidakmampuan mereka. Jadi lebih mudah bagi mereka untuk menyatakan kebutuhan mereka bagi keselamatan. Salah satu tantangan besar tentang keselamatan bagi orang kaya adalah rasa aman dan terjamin karena kekayaannya. Sedangkan bagi orang miskin, kepahitan dan kegetiran hidup dapat menghalanginya untuk menerima keselamatan.

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

  • Desa mawa cara, Negara mawa tata’, artinya: desa mawa cara (desa mempunyai adat sendiri), Negara mawa tata (Negara memiliki tatanan, aturan, atau hukum tertentu). Peribahasa ini memuat inti pandangan masyarakat Jawa yang menghargai adanya pluralitas dengan segala perbedaan adat kebiasaannya. Untuk itu, bagi para pendatang harus pandai-pandai memahami, menghormati, dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat. Jangan melecehkan apalagi mengubahnya sebab akan menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada konflik yang tidak diinginkan.
  • Hasil sebuah penelitian tentang kebhinekaan di SMP dan SMA di 10 kota dan kabupaten serta beberapa kota di Indonesia, a.l: responden/para siswa tidak setuju ada bangunan tempat ibadah agama lain, setuju untuk mengatasi masalah dengan kekerasan.

 

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apakah anda mudah terpesona dengan tampilan yang kelihatan bagus/keren dengan mengaitkannya pada status, kesuksesan, kemakmuran, dan popularitas?
  2. Apakah salah jika kita menghormati atau tidak menghormati seseorang karena status ekonominya (baik yang kaya atau pun yang miskin)?
  3. Apa komentar anda tentang:
  4. Desa mawa cara, Negara mawa tata’?
  5. Tidak setuju ada bangunan tempat ibadah agama lain; setuju untuk mengatasi masalah dengan kekerasan?

 

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

 

 

 

SEPTEMBER II 2015

 

Bacaan             : Markus 9: 30-37.
Tema Bulan    : “Gereja harus menjadi tanda kehidupan”
Tema PA         : “Bener ketenger, becik ketitik, ala ketara” (Benar ditandai, baik terbukti, buruk kelihatan sendiri).

Tujuan             :

  1. Agar warga jemaat mengetahui bahwa setiap orang Kristen memiliki fungsi dan peran untuk membangun hidup yang benar (menegakkan kebenaran).
  2. Agar warga jemaat paham bahwa untuk merealisasikan fungsi dan perannya tersebut dibutuhkan waktu untuk belajar, sebab hal itu tidak bisa dicapai secara instan.
  3. Agar warga jemaat melatih diri untuk selalu mencari solusi terbaik agar dapat berfungsi dan berperan positif secara optimal dalam kehidupan ini.

Keterangan Teks:

Ayat 30-31: Suatu waktu, Tuhan Yesus ingin hanya dengan para murid-Nya saja untuk melatih mereka secara mendalam agar dapat melaksanakan misi-Nya yang menyelamatkan melalui penderitaan dan kematian-Nya. Tuhan Yesus tahu apa yang penting, untuk memperlengkapi para murid bilamana Ia kembali ke sorga. Perlu waktu khusus bagi para murid untuk belajar. Pertumbuhan spiritual yang dalam dan berkualitas tidak bisa secara instan, tanpa memperhatikan kualitas pengalaman atau pengajaran. Kadang-kadang para murid harus mengesampingkan pekerjaan mereka secara periodik, agar bisa lebih fokus belajar dari Sang Guru. Kita juga membutuhkan waktu banyak untuk belajar beriman!

Ayat 32: Mengapa para murid segan bertanya kepada Tuhan Yesus tentang prediksi-Nya akan kematian-Nya? Barangkali karena mereka merasa bahwa Petrus pernah bereaksi keras atas kata-kata Tuhan Yesus tentang hal yang sama itu dan dimarahi oleh Tuhan Yesus (8:32-33). Menurut pikiran mereka, tidak benar dan tidak pada tempatnya Tuhan Yesus berbicara tentang kematian. Pada kenyataannya, para murid malah yang melakukan kesalahan, sebab mereka asyik berdiskusi (bertengkar) dan berpikir tentang kerajaan versi mereka, dan mereka berharap Tuhan Yesus akan memberi posisi dan jabatan istimewa (yang terbesar) bagi mereka di dalamnya. Jika Tuhan Yesus mati, kerajaan seperti yang mereka bayangkan dan harapkan tidak akan pernah terwujud. Konsekuensinya, mereka lebih suka diam dan tidak bertanya kepada Tuhan Yesus tentang prediksi atau ramalan kematian-Nya.

Ayat 34: Para murid, berambisi untuk mendapatkan posisi terbesar mereka, sebagai sebuah keberhasilan pribadi, sehingga mereka malu menjawab pertanyaan Tuhan Yesus. Seringkali tidak nyambung dan malah menyakitkan apabila kita membandingkan motivasi mereka dengan motivasi Kristus. Tidak salah bagi orang percaya memiliki ambisi. Tetapi jika ambisi menekan dan mengalahkan ketaatan serta pelayanan kita, hal itu menjadi sebuah kekeliruan dan kesalahan. Kebanggaan dan kegelisahan dapat menyebabkan kita menempatkan diri, posisi, dan prestise kita terlalu tinggi. Dalam kerajaan Allah, motivasi demikian merusak (destruktif). Ambisi yang benar adalah langsung tertuju kepada Kerajaan Kristus, bukan kepada kemajuan (untuk promosi) diri kita sendiri. Sebagaimana kesaksian Yohanes: ‘Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil’ (Yohanes 3:30).

Ayat 36-37: Tuhan Yesus mengajar para murid untuk menerima anak-anak. Ini adalah pendekatan baru dalam sebuah masyarakat, dimana anak-anak seringkali atau selalu diperlakukan sebagai warga masyarakat kelas dua atau terakhir. Hal ini penting, tidak hanya menerima atau memperlakukan anak-anak dengan baik, tetapi juga mengajar mereka tentang sikap Tuhan Yesus bagi anak-anak. Pengajaran iman dan penginjilan untuk anak-anak jangan pernah dianggap kurang penting dibanding dengan pengajaran iman dan penginjilan untuk orang dewasa. Ingat peringatan Tuhan Yesus yang cukup keras: ‘Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut’ (Markus 9:42).

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

Di masyarakat Jawa ada ungkapan: “Bener ketenger, becik ketitik, ala ketara”, artinya: bener ketenger (benar ditandai), becik ketitik (baik terbukti), ala ketara (buruk kelihatan sendiri). Peribahasa ini menjadi anjuran agar siapa pun tak takut berbuat baik. Meskipun awalnya belum tampak, pada saatnya pasti akan menemukan maknanya dan dihargai. Dan, manakala berbuat buruk, sepandai-pandainya menutupi, akhirnya akan ketahuan juga.

 

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas, maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Menurut pengalaman saudara, selama seminggu terakhir ini, perbuatan benar dan perbuatan tidak benar apa yang telah anda lakukan?
  2. Berikan contoh bahwa berperilaku benar (menegakkan kebenaran) itu tidak bisa terjadi/didapat secara instan!
  3. Pernahkah anda merasa lelah dan kesal mengingat lebih banyak perbuatan tidak benar yang terjadi dalam hidup ini? Apa komentar anda tentang “Bener ketenger, becik ketitik, ala ketara” ini?

 

Pdt. Em. Sri Hadijanto.

OKTOBER I 2015

 

Bacaan : Kisah Para Rasul 4 : 32 – 37
Tema Bukan : Ia harus menderita demi kepentingan orang lain
Tema PA  : “Ayo wujudkan!“
Tujuan : Menumbuh-kembangkan rasa persekutuan, rasa memiliki dan bertanggungjawab atas kehidupan Jemaat / gereja.
Metode           : Sharing group/ kelompok

 

Pengantar

Beberapa teolog membagi Kisah Para Rasul dalam 2 (Dua) kerangka besar:

  1. Pasal 1 – 12 menerangkan dampak yang luar biasa pasca para Rasul menerima “baptisan” Roh Kudus. Dampak tersebut nampak dalam diri para Rasul sendiri dan Kehidupan gereja perdana dimana tokoh yang terkemuka adalah Petrus. Dampak yang luar biasa akibat dari peristiwa “baptisan” Roh Kudus, yang membangkitkan motivasi positif baik yang dialami oleh para Rasul maupun warga jemaat dalam kehidupan bergereja, bukan tanpa tantangan. Bagian ini juga menunjukkan terjadinya pertentangan baik dari luar maupun dari dalam persekutuan orang percaya dan para Rasul itu sendiri.
  2. Pasal 13 – 28 secara garis besar menjelaskan tentang perjalanan pekabaran Injil ke “seluruh dunia” dimana tokoh utamanya adalah Paulus. Perjalanan pekabaran Injil yang dimotori oleh Paulus ini sangat diwarnai oleh penderitaan dan penganiayaan. Namun demikian, pekabaran Injil tetap berjalan dan tanpa terhentikan.

Kisah Para Rasul diakhiri tiba – tiba dengan cerita Paulus di Roma, sedang menunggu proses pengadilannya di hadapan Kaisar. (www.sabda.org)

Perikop bacaan kita, Kis. 4 : 32 – 37 tergolong dalam kerangka besar yang pertama, yaitu dampak yang ditunjukkan oleh peristiwa “baptisan” Roh Kudus, baik untuk para Rasul maupun untuk kehidupan gereja. Dicatat paling tidak ada 3 hal :

  1. Kumpulan orang percaya atau gereja menjadi hidup sehati dan sejiwa dalam kehidupan persekutuan mereka. (ay. 32)
  2. Para Rasul memiliki keberanian dan semangat yang luar biasa dalam bersaksi tentang Tuhan Yesus. (ay. 33)
  3. Gereja hidup dalam kelimpahan, karena masing-masing mau mengurbankan miliknya demi tercukupkannya kebutuhan bersama, dan bersemangat mempersembahkan untuk kepentingan pelayanan. (ay. 32b, 34 – 37)

Pergumulan

Membaca perikop Kis. 4 : 32 – 37 seolah seperti duduk mendengar cerita dari mbah Kakung tentang kehidupan bergerejanya di waktu beliau masih aktif dulu. Ada perkara-perkara yang indah tentang orang-orang kala itu dalam kehidupan mereka berjemaat. Semua warga jemaat memiliki rasa persekutuan yang kuat (sehati dan sejiwa). Semua rela berkorban untuk yang lain dengan iklas dan sukacita, supaya semua warga jemaat dapat tercukupi kebutuhannya, tidak hidup dalam kekurangan dan ketimpangan. Semua pelayan jemaat pun memiliki semangat melayani yang luar biasa. Mereka juga memiliki rasa handarbèni (rasa memiliki) dan hangrungkebi (bertanggungjawab) dalam pemenuhan keperluan pelayanan gereja. Dan disaksikan dalam cerita tersebut, bahwa semua itu dapat terjadi ketika Roh Kudus berkarya dan direspon dengan baik oleh setiap orang percaya, warga gereja.

Wah…….., betepa hebatnya jika kondisi seperti “cerita mbah Kung” itu dapat diwujudkan dalam kehidupan gereja kita saat ini. Betapa luar biasa gereja kita, jika semangat seperti itu dapat kita wujudkan dan tumbuh-kembangkan untuk semua warga jemaat, mulai dari anak remaja, kaum muda sampai adi yuswa… (dalam hati berucap “pingin banget….”).

Panduan Sharing

Setiap kita pasti menginginkan dapat mewujudkan kehidupan bergereja yang vital dan menarik (meminjam istilah Jan Hendriks) sebagaimana dikisahkan dalam perikop Kisah Para Rasul 4 : 32 – 37. Walaupun hal tersebut bukan perkara semudah membalik tangan, terlebih di tengah deras dan kerasnya pengaruh jaman ini. Dimana orang dituntut bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga waktu untuk memikirkan kehidupan persekutuan hanya merupakan “sisa” – kalau ada waktu senggang… kalau tidak sibuk… atau kalau sudah pensiun… – . Belum lagi gelora kencerungan orang hanya memikirkan diri sendiri, di tengah gencarnya pengaruh negatif teknologi, semakin menjadi penyumbat upaya untuk peduli kepada orang lain “Lha wong dimakan sendiri saja masih kurang, kok mikir orang lain..” Lalu, apakah idealisme kehidupan berjemaat sebagaimana yang dikisahkan dalam perikop kita tadi hanya merupakan “mimpi di siang bolong” di jaman ini? Tentu, kita dengan cepat akan menjawab “TIDAK”… Apalagi mengingat dan mengimani bahwa Roh Kudus sudah dicurahkan kepada kita setiap orang percaya. Dan Dia, terus berkarya di dalam kehidupan Gereja Tuhan di dunia ini.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan (sekali lagi yang dapat kita lakukan, bukan yang tidak dapat) untuk mewujudkan dan menumbuh-kembangkan semangat persekutuan yang kuat, rasa memiliki (handarbèni) dan bertanggungjawab (hangrungkebi) di dalam kehidupan gereja kita?

 

  • Sharing dapat dimulai dengan membagi kelompok (± 5 – 7 orang per kelompok, menyesuaikan) dan memilih pemimpin serta penulis kelompok.
  • Di dalam kelompok, masing-masing peserta bisa menyampaikan pendapatnya dan dicatat oleh penulis kelompok.
  • Setelah ± 20 menit, pemimpin PA mempersilahkan masing-masing kelompok menyampaikan hasil sharingnya, lalu memberikan kesimpulan dan didoakan.

 

Widi

   —

OKTOBER II 2015

 

Bacaan : Ayub 42 : 1 – 17
Tema Bulan : Ia harus menderita demi kepentingan orang lain
Tema PA : “Masih ada harapan… Maka bimbinglah dan jangan dilemahkan“
Tujuan : Membangun kesadaran bahwa permasalahan kaum muda perlu segera dan selalu harus dijawab. Mengingat kaum muda adalah bagian yang vital, khususnya dalam kehidupan gereja.
Metode           : Sharing group/ kelompok.

 

Pengantar

Secara garis besar kitab Ayub ingin menunjukkan tentang konsepsi bahwa penderitaan manusia bukan hanya karena akibat manusia “salah” atau “jahat”. Kitab Ayub bermaksud meluruskan konsepsi “jahat = dihukum = menderita, baik/ saleh = dikasihi = bahagia”. Melalui kisah Ayub ditunjukkan bahwa ternyata Ayub yang baik dan saleh juga mengalami penderitaan yang luar biasa di dalam hidupnya. Jelas, realita kisah Ayub ini mengoyak faham “jahat = dihukum = menderita, baik/ saleh = dikasihi = bahagia” yang menjadi pedoman umat kala itu. Dan justru kesetiaan Ayub dalam kebaikan dan kesalehan, walaupun penderitaan hebat mendera, membuahkan kebahagiaan yang luar biasa.

Ayub 42 merupakan pasal terakhir dalam kitab Ayub, dan pasal ini dibagi ke dalam 2 perikop. Secara garis besar menunjukkan :

  • ketika Ayub mengakui akan kebesaran dan kemahakuasaan TUHAN atas kehidupan (ay. 1 – 6), maka
  • TUHAN memulihkan keadaan Ayub dan mengembalikan kebahagiaannya dengan berlipat (ay. 7 – 17).

Dari sudut pandang tertentu perikop ini juga menunjukkan kepada kita bahwa TUHAN menempatkan DiriNya sebagai seorang Bapak yang sangat bijaksana. Ketika Ayub dalam posisi yang “lemah” dan bisa jatuh ke dalam kesalahan, TUHAN justru menyadarkannya akan kebenaran. TUHAN membimbing Ayub untuk sampai kepada kesadaran bahwa manusia tidak akan pernah mampu “menjangkau” kemahakuasaan TUHAN dalam penyataan kehendak-Nya. Dan tiada hal lain yang dapat dilakukan manusia kecuali menyerah kepada kehendak TUHAN di dalam kesetiaan.

Dari pendekatan-pendekatan di atas, kita dapat memahami, paling tidak, 2 hal :

  1. Secara operatif perikop ini memaparkan pemahaman teologis “TUHAN yang membimbing” bukan yang hanya melihat kelemahan. Sehingga Ayub sampai kepada kesadaran dan mengakui kemahakuasaan TUHAN dalam kehidupan segala ciptaan.
  2. Perikop ini -dalam keterkaitannya dengan seluruh kitab Ayub- juga memberikan motivasi serta pengharapan kepada setiap pembaca bahwa kesetiaan mewujudkan hidup baik dan saleh walaupun menderita, akan mendatangkan berkat dan kebahagiaan yang luar biasa.

Pergumulan

Membicarakan permasalahan kaum muda dalam kehidupan ini, terlebih dalam kaitannya dengan kehidupan gereja, tidak akan pernah ada habisnya. Ibaratnya seperti bumi yang tidak pernah puas dengan air, ibarat api yang tidak pernah berkata “cukup!” Apalagi di jaman yang sarat dengan pengaruh seperti di jaman ini. Permasalahan kaum muda begitu kompleksnya…. Mulai dari pergaulan bebas, masalah narkoba, pelecehan dan kekerasan seksual, serta seks bebas, pornografi, dan dampak negatif teknologi… Penemuan jati diri, psikologi yang masih labil, dan jiwa memberontaknya… Belum lagi adhem – ayemnya dalam bergereja, militansi keimanan, keterbatasan pengalaman, dan kesalah-pahaman dengan para tua… dan lain-lainnya, yang masih se-ambreg lagi.

Dan konon, gereja sebagai perpanjangan tangan TUHAN juga tidak pernah menyerah dalam menjawab permasalahan kaum mudanya. Dengan segala keterbatasan dan kemampuannya, gereja terus bergumul dengan geliat kaum muda di sepanjang jaman. Dan realitanya, permasalahan kaum muda masih terus dihadapi gereja, bahkan semakin waktu malah semakin rumit sampai hari ini.

Panduan Sharing

Masa-masa ini sedang dikampanyekan tiga prinsip nilai yang semestinya dimiliki oleh kaum muda GKJW, yaitu keberakaran dalam Sang Kristus Yesus (dadi manteb), mandiri dalam persekutuan yang menyatu (ngadeg-jejeg), serta kritis, bijak, peka dan solider (landhep). Memang, mewujudkan kaum muda yang dadi manteb, ngadeg jejeg, tur landhep, bukanlah perkara yang mudah.

Tetapi belajar dari teologi operatif “TUHAN yang membimbing” dan pengharapan yang terkandung dalam kesetiaan sebagaimana yang terjadi dengan Ayub, tentu ada bayangan akan apa yang harus kita lakukan dalam menjawab permasalahan kaum muda. Apa yang harus dilakukan oleh keluarga? dan, Apa yang harus dilakukan gereja sebagai lembaga?

  • Sharing dapat dimulai dengan membagi kelompok (± 5 – 7 orang per kelompok, menyesuaikan) dan memilih pemimpin serta penulis kelompok.
  • Di dalam kelompok, masing-masing peserta bisa menyampaikan pendapatnya dan dicatat oleh penulis kelompok.
  • Setelah ± 20 menit, pemimpin PA mempersilahkan masing – masing kelompok menyampaikan hasil sharingnya, lalu memberikan kesimpulan dan didoakan.

 

Kata Kunci Artikel Ini:

pemahaman alkitab, Bahan Pemahaman Alkitab, pemahaman tentang alkitab, tafsiran yesaya pasal 15 dan 16, materi pemahaman alkitab, khotbah mnggu 7 juni 2015 - gkjw, pemahaman alkitab kristen, khotbah markus 6:1-13, memahami pengertian yohanes 6:16-21, pendalaman alkitab kisah para rasul

2 Comments »

  • Muryo Djajadi said:

    terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati

  • TRI WIDODO said:

    Terima kasih atas tayangan PA yang rutin.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.