wordpress com stats plugin
Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

 

PEBRUARI I

 

Bacaan              : Filipi 3: 17 – 4:1
Tema Bulan     : Mengosongkan Diri dan Makin Mengenal Allah

Tema PA          : Mewaspadai kuasa kedagingan
Tujuan             : Tertanamkannya nilai-nilai yang tersirat pada kata/ kalimat Alkitab ke dalam penghayatan dan praktik hidup orang percaya.

Metode           : Nggayemi (mengunyah berulang-ulang)

 

Langkah-langkah

  1. Pemimpin membagi peserta PA menjadi beberapa kelompok (jika memungkinkan). Tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang.
  2. Tiap kelompok memilih seorang menjadi pemandu jalannya PA
  3. Pemandu PA membaca teks pelan-pelan.
  4. Pemandu PA meminta setiap orang di dalam kelompok itu untuk membaca kembali di dalam hati teks itu secara utuh, tetapi pembacaan itu dilakukan secara pelan-pelan.
  5. Setelah dirasa cukup (selesai) masing-masing membaca, maka pemandu meminta setiap orang untuk mengutarakan tentang pengalamannya setelah membaca teks itu, dengan cara:
    1. Menyampaikan tentang “kata” atau “kalimat” mana dari teks itu yang paling menarik.
    2. Mengapa kata atau kalimat itu menarik hatinya? Ini perlu dijelaskan.
    3. Refleksi atas kalimat itu untuk rancangan hidup ke depan

Contoh.

  • Setelah membaca teks itu saya menjadi tertarik dengan kalimat, “. . . Tuhan mereka adalah perut mereka . . .” Pertama saya tersenyum ketika membaca kalimat itu, sebab “masak perut menjadi Tuhan?” Kemudian pikiran saya mulai mengembara dengan diterangi oleh kalimat “. . . Tuhan mereka adalah perut mereka . . .” sambil terus bertanya kepada diri sendiri, “apa ya maksud kalimat ini?”
  • Pengembaraan pikiran yang diterangi oleh kalimat itu pada akhirnya mempertemukan saya dengan berbagai realitas kehidupan di sekitar saya. Dua hari yang lalu saya baru saja membaca berita di koran bahwa ada seorang kernet yang membunuh sesama kernet demi mendapatkan uang 5 ribu rupiah. Dan banyak contoh praktik kehidupan yang memuja uang dan kekayaan.
  • Ternyata sampai dengan hari ini kalimat, “. . . Tuhan mereka adalah perut mereka . . .” masih terjadi.
  • Refleksi: Mewaspadai kekuatan godaan daging.
  1. Setelah satu orang selesai mengutarakan pengalamannya dengan teks itu, yang lain bergantian menyampaikan.

 

Catatan:

  1. Sangat dianjurkan kelompok satu dengan lainnya tidak berdekatan, supaya: a) masing-masing lebih fokus pada kelompoknya, b) ada moment hening yang benar-benar bisa dimanfaatkan oleh peserta PA, terutama saat membaca di dalam hati teks yang akan dibicarakan agar bisa menemukan kata/ kalimat yang memikat hati.
  2. PA dengan metode Nggayemi ini lebih diarahkan pada proses internalisasi (pendalaman) ayat-ayat, bukan kognisi (pengetahuan).
  3. Pemandu menjalankan perannya untuk mempertajam pengalaman-pengalaman yang telah disampaikan oleh peserta.

-smdyn

PEBRUARI II

Bacaan              : Yesaya 55:1-13
Tema Liturgis  : Mengosongkan Diri dan Makin Mengenal Allah
Tema PA  : Mendengarkan suara Tuhan
Tujuan : Tertanamkannya nilai-nilai yang tersirat pada kata/ kalimat Alkitab ke dalam penghayatan dan praktik hidup orang percaya.
Metode : Nggayemi (mengunyah berulang-ulang)

 

Langkah-langkah

  1. Pemimpin membagi peserta PA menjadi beberapa kelompok (jika memungkinkan). Tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang.
  2. Tiap kelompok memilih seorang menjadi pemandu jalannya PA
  3. Pemandu PA membaca teks pelan-pelan.
  4. Pemandu PA meminta setiap orang di dalam kelompok itu untuk membaca kembali di dalam hati teks itu secara utuh, tetapi pembacaan itu dilakukan secara pelan-pelan.
  5. Setelah dirasa cukup (selesai) masing-masing membaca, maka pemandu meminta setiap orang untuk mengutarakan tentang pengalamannya setelah membaca teks itu, dengan cara:
    1. Menyampaikan tentang “kata” atau “kalimat” mana dari teks itu yang paling menarik.
    2. Mengapa kata atau kalimat itu menarik hatinya? Ini perlu dijelaskan.
    3. Refleksi atas kalimat itu untuk rancangan hidup ke depan
      Contoh.
      Setelah membaca teks itu secara teliti dan berusaha untuk menghayatinya, maka ada satu kalimat yang saat itu paling menarik perhatian saya, yaitu: “. . . Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup.” Kalimat ini saya simpan rapat-rapat di dalam pikiran saya sambil membayangkan bentuk telinga manusia. Kemudian menjadi jelas di benak saya bahwa kata “sendengkanlah” artinya a) bersedia membuka telinga lebar-lebar dan b) agar kita bisa mendengar dengan jelas suara yang masuk ke telinga, tidak samar-samar. Dalam kehidupan sehari-hari kata itu juga memiliki makna agar kita mau menyediakan waktu yang cukup untuk mendalami dan menggumuli kehendak Tuhan, supaya bisa secara tepat mengerti kehendak-Nya dan tidak salah dalam melakukannya.
      Lalu kata “…maka kamu akan hidup” saya pahami sebagai buah dari kesediaan untuk menyendengkan telinga. Makna kata “hidup” adalah keseharian yang mengikuti jalan Tuhan: tenang, tidak reaktif, mengendap, dewasa.
      Setelah memahami kalimat itu saya kemudian ingat keluarga Pak Drembo. Keluarga itu amat berkecukupan secara materi, tetapi selalu saja mengalami konflik di dalam keluarganya. Bahkan pernah terjadi Bu Drembo meninggalkan rumah sampai beberapa minggu, sementara anak-anaknya pun tak ada yang dapat menyelesaikan kuliahnya, bukan karena kekurangan biaya, tetapi karena hanya menggunakan waktunya untuk bersenang-senang. Saya hanya bisa membayangkan, andai saja Pak Drembo dengan istri dan anak-anaknya masing-masing mau menyendengkan telinganya dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara Tuhan, pastilah berbeda keadaannya.
      Refleksi: Di tengah dunia yang makin sulit ini kita perlu terus mengasah ketajaman telinga untuk mendengar suara Tuhan.
  1. Setelah satu orang selesai mengutarakan pengalamannya dengan teks itu, yang lain bergantian menyampaikan.

Catatan:

  1. Sangat dianjurkan kelompok satu dengan lainnya tidak berdekatan, supaya: a) masing-masing lebih fokus pada kelompoknya, b) ada moment hening yang benar-benar bisa dimanfaatkan oleh peserta PA, terutama saat membaca di dalam hati teks yang akan dibicarakan agar bisa menemukan kata/ kalimat yang memikat hati.
  2. PA dengan metode Nggayemi ini lebih diarahkan pada proses internalisasi (pendalaman) ayat-ayat, bukan kognisi (pengetahuan).
  3. Pemandu menjalankan perannya untuk mempertajam pengalaman-pengalaman yang telah disampaikan oleh peserta.

-smdyn-

MARET I

Bacaan : Yesaya 43:11–21
Tema : Tetap Taat Walaupun Menderita

Keterangan Teks/ Kitab
Kitab Yesaya terdiri dari bagian besar: pasal 1 – 39, pasal 40-55 (disebut sebagai Deutero Yesaya/ Yesaya kedua) dan pasal 56-66 (disebut Trito Yesaya/ Yesaya ketiga). Yesaya pasal 40 – 55 berasal dari masa pembuangan. Orang-orang dari Kerajaan Yehuda telah diboyong ke Babil. Harapan mereka telah hancur. Putus asa. Terhina. Tak berdaya. Dosa bangsa itu berbuah derita.

Nabi Deutero-Yesaya mengangkat bangsa pilihan yang telah terpuruk. Nabi Yesaya taat kepada TUHAN. Demi mengangkat bangsa terbuang, Nabi Yesaya membawakan kabar baik dari TUHAN. Kondisi mereka yang melemah, tak berdaya untuk menolong dirinya sendiri, ditolong oleh-Nya. Mereka yang hanya tahu mengeluh dan memohon pembebasan, kini diberitakan pembebasan. TUHAN hendak bertindak membebaskan umat-Nya. Dibawa-Nya mereka pulang ke Yerusalem, untuk memulai suatu hidup baru.

Hidup baru umat TUHAN pada era yang baru adalah hidup sebagai HAMBA TUHAN, Ebed Yahweh. Misi atau pengutusan terhadap bangsa pilihan, kini, diperbarui. Bukannya misi keteladanan yang menguasai, melainkan keteladanan yang melayani. Bukan lagi misi penguasaan atau penaklukan, melainkan misi melayani. Kalau harus menjadi pionir, haruslah menjadi orang/ bangsa yang paling-depan melayani. Bangsa pilihan dipanggil untuk tetap menjadi nomor satu, terdepan. Tetapi terdepan dalam hal melayani secara sadar, dengan rela.

Realitas Kehidupan Kini
1. Etos, spirit, atau semangat-juang, ada yang terbaru. Ialah semangat-juang menjadi ‘nomor satu’. Dasarnya adalah semangat-juang menjadi ‘tertinggi’, ‘tercepat’, dan ‘terjauh’.

  • Semangat-juang menjadi nomor satu bisa berbuah penindasan, ‘pengusiran’ atau ‘pembunuhan’ para kompetitor lainnya. Pesaing ditiadakan, dijauhkan. Mau-nya, semuanya harus menjadi nomor dua. Atau, kalau memungkinkan, mau-nya, semuanya dan segalanya di-hak-i sendiri.
  • Semangat-juang menjadi nomor satu bisa juga berbuah sangat hebat, terhebat bahkan. Terhebat dalam hal kerelaan melayani, dalam hal memberikan apa yang terbaik dari diri sendiri, memfasilitasi pihak lain. Orang lain masih bercita-cita, telah disediakan sumbangan berupa fasilitas ini dan itu agar cita-cita tersebut dapat segera terwujud. Dalam hal-hal demikian, semangat-juang nomor satu, kiranya, sangatlah patut dipuji.
  • Karena “kebaikan” pun berpotensi untuk menjadi baik atau menjadi sangat jahat, maka dibutuhkan alat kontrol diri sendiri. Kontrol diri sendiri itu dimaksudkan untuk menjadi setia pada pengutusan TUHAN. Apakah alat kontrol diri sendiri sebagai utusan TUHAN? Yaitu kesadaran, bahwa prestasi tertinggi, tercepat, terjauh, atau terhebat pada umumnya, adalah dalam kapasitas sebagai SAKSI (cf. Yesaya 43:12)
  • Menjadi orang hebat adalah patut diacungi jempol, dipuji dan diberi ucapan terima kasih, serta dikenang jasa baiknya. Kalau perlu, orang seperti itu dielu-elukan sebagai pahlawan yang berjasa besar. Pertanyaannya: apakah orang seperti itu tertarik pada istilah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’? Apakah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ itu hanya karena keterpaksaan? Lalu, bagaimana membuat keterpaksaan itu menjadi seperti ‘salib’ bagi seorang seperti Mesias di dalam bagian Deutero-Yesaya? Ataukah ‘salib’ itu hanya cerita masa lalu, yang tak patut dikembangkan pada zaman modern kini dan nanti?

2. Contoh kekinian, menderita tapi tetap setia:

  • Klasik: Pak pos tetap mengantar surat ke alamat walaupun hujan berhalilintar dan hanya ‘dibayar’ dengan pranko standard.
  • Hubungan Ibu – Anak: tetap menggendong anaknya dengan lembut walau si anak sedang monthah. Tetap berupaya memfasilitasi secukupnya kebutuhan si anak, walaupun diketahui, bahwa si anak lebih banyak menyakiti hati orang tuanya ketimbang membuat orang tuanya bersenandung bahagia.
  • Kekal-abadi: Matahari diterbitkan juga bagi penjahat yang sedang berjemur diri di pantai dan menghambur-hamburkan kekayaan dan masa mudanya hanya dengan bersenang-senang dan berkorupsi.
  • Ideal-mengharukan: seorang pegawai tetap menjalankan tugas mengajar siswa-siswi di pelosok terpencil, walaupun janji pemberian gaji per bulan dinaikkan 300 % , yang dari pemerintah pusat, bisa jadi jauh lebih sering tiba terlambat di pelosok tempat tinggalnya, atau bahkan sesekali tidak pernah utuh sejumlah yang dijanjikan’ yang harus ditandatanganinya.
  • Konteks Dauran di GKJW: seorang warga GKJW menjawab Ya, Bersedia; walaupun pemilihan dan penetapan status sebagai Penatua atau Diaken di Jemaat GKJW jauh lebih berarti menyerahkan diri untuk menjadi batur-rewang-pembantu bagi sesamanya.
  • Langka, tapi ada: Pasangannya tetap setia, walau diperlakukan tidak setia oleh pasangan hidupnya yang telah pernah berjanji-setia dalam suka maupun duka.

Pertanyaan teks Yesaya 43:11-21

  1. ‘Kamulah saksi-saksi-Ku’; siapakah yang dimaksud dengan ‘kamu’ di dalam ayat 12 ini (kalau dihubungkan dengan bacaan Yesaya 43:1-10)?
  2. (ayat 13): Apakah Anda memahami, bahwa yang dimaksud dengan ‘… Aku tetap Dia…’ itu adalah menunjuk pada TUHAN yang maha kuasa? Kemahakuasaan TUHAN dipergunakan untuk apa, menurut ayat 13?
  3. TUHAN Allah menyebut diri-Nya sebagai apa saja menurut ayat 14-15?
  4. Apakah Anda menangkap kesan yang agak lucu dari ayat 16-17, 19 (TUHAN mengumpamakan diri sebagai tukang buat jalan, meratakan jalan, atau seperti petugas PU yang mengaspal jalan? Masak-an, Tuhan adalah seperti petugas PU?
  5. Apakah Anda juga menangkap nuansa ‘humor’ ayat 20? (seolah-olah TUHAN Allah menjadikan diri-Nya ‘hanya’ setingkat/ sekelas dengan seorang jaga-tirta di areal persawahan? Atau seperti petugas penjaga dam-air yang bertugas untuk memutar ‘alat-kemudi’ agar aliran air bisa terkendalikan?
  6. (ayat 21): Umat yang diperbarui oleh TUHAN Allah akan memuliakan dirinya sendiri, ataukah akan memuliakan TUHAN Allah?

Penerapan

  1. Apakah Anda menangkap kesan, bahwa penyelamatan TUHAN Allah dilakukan dengan ‘mempertaruhkan’ segala sesuatu demi umat yang dikasihi-Nya?
    Padahal, umat pilihanNya berbuat jahat. Namun, TUHAN tidak tega. Diselamatkan-Nya umat-Nya.
  2. Kesetiaan dan cinta kasih TUHAN Allah menjadi sumber inspirasi-kah bagi Anda untuk tetap setia apapun yang terjadi?
  3. Pilih dan nyanyikan bersama 1 lagu Kid. Jemaat yang meneguhkan renungan PA ini! Kemudian berdoalah bagi para pejuang yang tetap setia walau menderita!

 

Pdt. Suwignyo.

MARET II

 

Bacaan : Filipi 2: 5-11
Tema Bulan : Tetap Taat Waupun Menderita
Tema PA : Peduli, rendah hati dan taat.
Tujuan : Warga jemaat paham dan terdorong menunjukkan kepedulian, kerendahan hati dan ketaatan secara nyata.

Pengantar
Bagian dari perikop ini merupakan sebuah nyanyian yang agung tentang Tuhan Yesus. Intisari isinya adalah bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan Allah sejati dan manusia sejati. Tujuan dari perikop ini adalah mengajarkan kepedulian, ketaatan, kerendahan hati dan penyangkalan diri yang total. Tujuan dari pesan perikop ini tentu dilatarbelakangi oleh keadaan dan sikap orang-orang Kristen di Filipi. Mereka adalah orang-orang Kristen yang mementingkan diri sendiri dan ambisius menjadi yang tertinggi.

Karena itu, Paulus memberikan keteladanan Yesus Kristus untuk mereka ikuti. Yesus yang adalah Allah rela meninggalkan kemuliaan ilahiNya, menjadi manusia bahkan memposisikan diriNya sebagai seorang hamba. Dia “mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (ay. 7) Ini adalah suatu pengorbanan dan penyangkalan diri yang luar biasa. Dia yang luar biasa mau menjadi biasa. Dia yang maha tinggi mau menjadi sangat rendah.

Memposisikan diri sebagai hamba berarti tidak memikirkan hidupnya sendiri, merendahkan diri serendah-rendahnya dan mentaati segala perintah betapa pun beratnya perintah itu. Tuhan Yesus hidup semata-mata demi kepentingan orang lain. Dia tidak mencari kehormatan. Dia tidak mencari kenyamanan. Karena itu Dia rela dihina, dicemooh, bahkan diludahi dan disiksa. Dia rela mati, bahkan dengan cara disalibkan, dalam membuktikan ketaatanNya. Dia rela mengorbankan nyawa, hidupNya demi keselamatan manusia.

Sikap seperti itulah yang ditunjukkan oleh Paulus supaya dimiliki oleh orang-orang Kristen di Filipi. Sikap mementingkan diri sendiri, sombong atau tinggi hati dan maunya sendiri harus digantung pada salib Kristus. Untuk itu, Paulus menyadarkan mereka bahwa Yesus Kristus bukan lagi manusia yang rendah, Dia ditinggikan, dia adalah Tuhan, artinya Penguasa dan Pemilik kehidupan. Karena itu, Dia harus disembah, dipuji-puji dan diataati.

Realitas kehidupan
Orang pada umumnya begitu sulit memerangi dan mengalahkan sikap mementingkan diri sendiri, tinggi hati dan maunya sendiri. Penyebabnya adalah karena orang pada umumnya, sadar atau tidak, mengikuti dan dikuasai oleh paham hedonisme, yaitu mengutamakan kenikmatan. Karena ingin menikmati segala sesuatu, maka segala sesuatu adalah untuk dirinya sendiri. Karena ingin menikmati nikmatnya pujian dan kehormatan, maka orang menyombongkan diri, memamerkan kehebatan/ kekayaan diri. Karena ingin menikmati nikmatnya kebebasan, maka orang berbuat semaunya sendiri tidak peduli akibatnya bagi orang lain. Karena itu, orang baru mau memperhatikan kepentingan orang lain jika itu diyakini pasti nikmat; orang mau merendahkan diri jika diyakini bahwa rendah hati itu nikmat; orang mau taat jika taat itu mudah dan nikmat. Orang enggan memperhatikan kepentingan orang lain, bersikap rendah hati dan taat, karena menganggap bahwa memperhatikan kepentingan orang lain itu merugikan diri sendiri, repot dan menyusahkan; merendahkan diri itu menurunkan harga diri dan memalukan; dan taat itu mengekang, kuno, tidak keren, tidak hebat. Rugi, repot, susah, malu dan terkekang itu adalah penderitaan, jauh dari kenikmatan. Jadi untuk bisa memperhatikan kepentingan orang lain, rendah hati dan taat, maka orang harus memerangi dan mengalahkan hedonisme.

Bahan diskusi

  1. Ingat-ingat dan sebutkanlah orang(-orang) lain dari warga jemaat atau masyarakat yang sedang membutuhkan kepedulian/ perhatian kita!
  2. Rencanakanlah suatu aksi bersama atau pribadi bagi mereka (jawaban perintah no 1) untuk membuktikan sikap memperhatikan kepentingan orang lain dan merendahkan diri, dalam rangka kegiatan Paskah 2016 ini! Lakukanlah rencana aksi itu!
  3. Dalam praktek kehidupan atau perbuatan yang bagaimanakah, dalam hubungan dengan Tuhan sekaligus hubungan dengan pemerintah, kita bisa menunjukkan sikap taat? Berikan contoh-contoh konkrit!

 

Pdt. Suko Tiyarno Ch.

Kata Kunci Artikel Ini:

pemahaman alkitab, Bahan Pemahaman Alkitab, pemahaman tentang alkitab, tafsiran yesaya pasal 15 dan 16, materi pemahaman alkitab, rancangan kbotbah gkjw, kuasa kristus memulihkan semua ciptaan nya, makna ayat alkitab matius 6:25-27 dalam kehidupan remaja, Mengenai pemahaman Alkitab, liturgi khotbah gkjw

3 Comments »

  • Muryo Djajadi said:

    terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati

  • TRI WIDODO said:

    Terima kasih atas tayangan PA yang rutin.

  • dwidjo ss said:

    maturnuwun. materi bermanfaat untuk pelayanan di KRW. Tuhan Yesus memberkati.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.