wordpress com stats plugin
Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

JULI I 2014

Bacaan            : Keluaran  13: 17-22
Tema              : Allah yang membawa damai
Sub Tema        : ALLAH MENGENAL UMATNYA

 

PENGANTAR

Perjalanan Bangsa Israel adalah pengembaraan berpuluh-puluh tahun lamanya. Jika kita bayangkan saat ini, tentu butuh waktu seumur hidup untuk menjalaninya. Bacaan hari ini menolong kita untuk memahami bahwa lamanya perjalanan bukan karena lokasi tujuan yaitu tanah Kananan yang jauh jaraknya dari Mesir. Sebenarnya jarak antara Mesir dan Kanaan hanya berkisar 240 mil, atau sekitar 11 hari perjalanan saja

Apa latar belakang Allah memilih jalan berputar-putar melewati padang gurun sehingga perjalanan Bangsa Israel sampai di tanah perjanjian selama 40 tahun perjalanan? Salah satu dampaknya adalah tidak semua orang Israel yang keluar dari Mesir saat itu, yang jumlahnya kira-kira dua juta orang bisa menikmati negri perjanjian. Bukankah dengan cepat sampai tanah perjanjian, Allah semakin menjadi idola dan sangat dipuja-puja atas pertolonganNya karena mereka segera tiba di negeri impian yang melimpah susu dan gandum serta madunya ini?

Tentu alasan perjalanan panjang ini bukan karena Allah dan Musa tidak mengerti geografis tanah yang akan dituju. Ada pertimbangan yang Allah lakukan untuk kebaikan dan kedewasaan umatNya. Ayat 17, sebagai kata kunci dari perjalanan panjang bangsa Israel, “jangan-jangan bangsa itu menyesal apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir”. Alasan utamanya adalah Allah sangat mengenal karakter umatNya Israel. Dan karena pengenalan yang mendalam itulah, berjalan dalam waktu yang lama sangat tepat dipilih oleh Allah untuk kebaikan Bangsa Israel.

Dalam perjalananya kita menyaksikan bagaimana bangsa ini berkali-kali jatuh bangun dalam kepercayaan dan bersungut-sungut kepada Tuhan. Semua dapat dipahami dalam kerangka sebuah bangsa yang beratus-ratus tahun tertindas dan menjadi budak. Tentu yang menjadi harapan terbesar adalah terbebas dengan sebebas-bebasnya dari setiap penderitaan dalam bentuk apapun dan sekecil apapun dan hidup dalam kenyamanan dan kebahagiaan.

Dalam perjalanan panjang itu, Allah sedang membentuk Israel untuk menjadi suatu bangsa yang besar. Allah mendidik Bangsa Israel supaya tidak bermental budak. Dan waktu 400 tahun menjadi budak di Mesir bukanlah hal yang mudah untuk kembali memurnikan karakter bangsa ini.

Melalui perjalanan yang panjang dan berliku, dengan sulitnya medan, banyaknya bangsa yang dihadapi, kurangnya sumber-sumber makanan, tentu diimbangi dengan banyaknya peristiwa yang menunjukkan kebesaran Allah. Terbelahnya Laut Teberau, Manna, burung puyuh, air segar, tiang awan, tiang api, menang atas bangsa-bangsa besar dan kuat dan masih banyak lagi adalah potret kasih dan pemeliharaan Allah yang luar biasa.

Dalam perjalanan panjang itu, Bangsa Israel diharapkan mampu mengenal Allah dengan baik, yang disaksikan dan dirasakan sebagai Allah yang mengasihi, memelihara, adil, bahkan mengenal Allah yang cemburu. Dalam segala persitiwa itulah Allah ingin Bangsa Israel menjadi Bangsa yang bergantung kepada Allah, taat dan rendah hati.

Setiap umat Allah memiliki perjalanan yang unik dan berliku. Setiap anak Tuhan pasti memiliki cerita jatuh bangun masing-masing dan selalu menarik untuk dibagikan. Mulai dari panggilannya menjadi pengikut Kristus, perjuangan untuk mendampingi putra-putri terkasih, mengatasi persoalan hidup, bangkit dari keterpurukan dan masih banyak lagi. Tentu di balik semua itu ada maksud indah Allah.

Pertanyaan untuk didiskusikan :

  1. Tentu perjalanan panjang dan berliku pernah kita alami dalam pergumulan kehidupan kita. Kira-kira apa yang Tuhan inginkan dari proses naik turun kehidupan pergumulan itu bagi kita masing-masing? (Refleksikan sesuai proses hidup pribadi! Contoh: Tuhan menginginkanku menjadi kuat! Tuhan mengajariku untuk sabar!)
  2. Apakah di dalam pilihan hidup yang tidak tepat (seperti memilih istri/suami lalu kemudian bercerai, terjerumus narkoba dan pergaulan bebas) di dalam kehidupan kita juga merupakan bagian dari rencana Allah untuk membentuk kita?

 

PKS

 —

JULI II 2014

Bacaan            : Roma 8: 35-39
Tema              : Allah yang membawa damai
Sub Tema        : KESULITAN BUKAN HALANGAN

 

Di awal tahun 2014, negara kita dihantam bertubi-tubi bencana alam yang saling sambung menyambung. Mulai dari bencana banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi. Dan warga jemaat GKJW pun ada yang terdampak dari letusan gunung Kelud, yaitu wilayah Blitar, Kediri, Malang dan disekitarnya. Letusan Kelud ini termasuk yang terbesar dalam kurun waktu dua puluh lima tahun terakhir. Meski himbauan untuk mengungsi hanya satu jam dari waktu erupsi, akan tetapi jatuhnya korban bisa diminimalisir. Hal tersebut bisa dilakukan karena adanya kesadaran bahwa mereka hidup di daerah rawan bencana. Sehingga sewaktu-waktu bencana bisa datang. Oleh karenanya mengenal tanda-tanda dan mengenal medan menjadi penting sekali.

Jemaat di Roma bukanlah jemaat yang didirikan oleh Rasul Paulus. Keadaan Jemaat di Roma diketahui oleh Rasul Paulus dari orang Kristen Roma yang datang ke Korintus. Ia sudah lama ingin pergi ke Roma dan ingin mengunjungi orang-orang Kristen di Roma. Jemaat Roma pada saat itu dalam situasi tertekan baik dari pihak orang Yahudi maupun dari pihak Roma. Belum lagi di tubuh jemaat Roma sendiri sedang berkonflik. Oleh karenanya, Rasul Paulus mengirimkan surat kepada Jemaat tersebut. Isi suratnya berupa nasehat, bagaimana seharusnya sikap jemaat Roma terhadap keadaan mereka dan bagaimana sikap mereka kepada pemerintah.

Secara khusus, Rasul Paulus menjelaskan pengertian tentang kekristenan itu  dan tuntutan-tuntutan yang harus dilakukan sebagai orang Kristen. Termasuk juga dalam Roma 8:35-39, Rasul Paulus menasehatkan supaya jemaat Roma menyadari betul akan keterpanggilannya dan tuntutan serta konsekuensi sebagai pengikut Kristus.

Kesulitan, tantangan, penganiayaan adalah hal yang pasti akan dihadapi sebagai konsekuensi mengikut Kristus. Ayat 36, “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan”. Artinya bahwa tantangan, kesulitan, penganiayaan bisa datang kapan saja, di mana saja dalam bentuk apapun bahkan nyawa yang menjadi taruhannya. Dengan kata lain konsekuensi menjadi pengikut Kristus seperti makanan yang diterima setiap hari.

Rasul Paulus juga memberikan penguatan, bahwa di dalam situasi serba berat tersebut kasih Allah akan senantiasa menyertai mereka. Jemaat Roma tidak boleh gentar menghadapi semuanya itu. Rasul Paulus mengingatkan juga bahwa tantangan sebesar apapun, tidak akan pernah mampu untuk memisahkan umat dengan Allah. Menderita karena menjadi pengikut Kristus bukan suatu kehinaan akan tetapi suatu kemenangan hidup yang sejati.

Menjadi orang Kristen berarti harus mampu menyadari diri akan posisinya berada. Menjadi orang Kristen bukan menjadi orang yang hidup tanpa persoalan ataupun kesulitan. Justru setelah menjadi pengikut Kristus mungkin tantangan hambatan dan persoalan dalam kehidupan menjadi semakin berat. Kesadaraan ini yang harus dibangun terus-menerus dan semakin dihayati dengan baik. Sama seperti saudara-saudara kita di kawasan Gunung kelud yang menyadari bahwa wilayahnya termasuk kawasan rawan bencana, dan senantiasa mengantisipasi, berjaga jika sewaktu-waktu Gunung Kelud menampakkan geliatnya, merekapun sudah siap sedia.

Keprihatinan inilah yang saat ini menimpa orang Kristen di jaman modern. Memang tantangan orang Kristen di Jemaat Roma saat itu tidak bisa kita perbandingan dengan tantangan yang terjadi di masa kini. Akan tetapi bagaimana mengatasi tantangan itulah yang perlu kita perbandingkan.

Dewasa ini banyak orang Kristen mudah menyerah dengan tantangan, persoalan yang dihadapi. Jalan keluar yang ditawarkan dunia serba praktis, serba cepat menjadi hal yang gampang dilirik oleh orang Kristen saat ini. Banyak sekali orang Kristen yang menaruh salib yang dipikulnya, karena merasa tidak kuat, merasa payah dan merasa tidak berdaya. Semua berawal dari ketidak pahaman akan jati dirinya sebagai orang Kristen. Harapannya setelah mengikut Kristus sebagai umat pilihan menjadi hidup tentram damai, dijauhkan dari kesulitan.

Memang kesulitan, hambatan, tantangan akan tetap menyertai perjalanan kita sebagai pengikut Kristus. Tetapi juga perlu kita teguhkan dalam hati kita bahwa kasih, penyertaan, pertolongan Tuhan tidak akan pernah terlambat membersamai hidup kita.

Pertanyaan untuk didiskusikan :

  1. Tantangan berat apakah yang pernah kita lalui sebagai wujud iman yang kokoh kepada Tuhan Yesus Kristus?
  2. Bagaimana cara kita bisa bertahan dari setiap tantangan yang kita hadapi dan tidak mudah untuk menyerah?

PKS

One Comment »

  • Muryo Djajadi said:

    terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.