wordpress com stats plugin
Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

MEI I

 

Bacaan               : Kisah Para Rasul 1: 1-11
Tema bulanan   : Roh Kudus Membangun Syalom Bagi Segala Bangsa.

Tema PA         : Besaksi, bersaksi dan bersaksi.
Tujuan             : Jemaat memahami makna bersaksi dan memiliki motivasi untuk senantiasa bersaksi.

 

Keterangan teks/kitab,

Kisah Para Rasul pasal 1:1-11 merupakan pengantar dari Kisah Para Rasul, yang dibagi dalam dua bagian yaitu Pembukaan (1:1-5) dan Yesus terangkat ke surga (1:6-11). Pada bagian pertama (1:1-5) Lukas memulai Kisah seperti ia memulai Injil dengan kata pembukaan kepada Teofilus. Di bagian ini Lukas menerangkan bahwa Yesus telah mempersiapkan para rasul untuk tugas perutusan dengan mengajar mereka selama Ia hidup. Ia juga menampakkan diri sekitar empat puluh hari sesudah wafat dan kebangkitan-Nya. Dengan banyak tanda Ia membuktikan bahwa Ia hidup. Di sinilah Lukas menekankan bahwa Yesus yang bangkit memberikan tanda-tanda berkat yang meyakinkan para rasul bahwa Ia tetap hidup sesudah kematian-Nya. Ia menampakan diri beberapa kali dan terus mengajar mereka mengenai apa arti Kerajaan Allah. Tujuannya adalah agar para rasul dapat menjadi saksi otentik dari kebangkitan-Nya. Tugas menjadi saksi diberikan kepada para rasul. Selain berbekal pengajaran dan pengetahuan para rasul juga akan menerima baptisan Roh Kudus, untuk memperlengkapi mereka menjadi saksi di dunia. Baptisan Roh Kudus itu mereka terima pada saat Pentakosta.

Kedua, pada bagian ini Lukas menceritakan tentang Yesus yang terangkat ke sorga. Hal menarik sebelum peristiwa terangkatnya Yesus ke sorga adalah pertanyaan para rasul kepada Yesus tentang pemulihan pemerintahan Israel. Pertanyan para rasul ini menunjukkan adanya kesalahpahaman yang berkelanjutan mengenai apa arti Kerajaan Allah. Larangan untuk menghitung saat akhir dimaksudkan untuk menasehati para rasul (dan kita) agar tidak menerka-nerka apa yang yang tidak dapat diketahui. Sebaliknya, mereka hendaknya memusatkan perhatian pada kuasa Roh sebagai tanda hidup dalam saat-saat terakhir yang dijanjikan. Di sini ada penekanan supaya mereka menggunakan kuasa, selama waktu masih ada, untuk memberi kesaksian tentang Yesus sampai akhir zaman. Mereka hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu yang ada dengan mencoba neggambarkan bagaimana kiranya akhir dunia. Peringatan dua orang berpakaian putih seperti yang tertulis di ayat 11: Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?, menunjukkan sebuah penekanan supaya para rasul tidak terpana, dan membuang-buang waktu, hendaknya mereka segera mempersiapkan diri melakukan tugas yaitu menjadi saksi tentang kabar syalom tentang Yesus Kristus.

 

Realitas kehidupan kini

“Kerja, kerja, dan kerja” adalah sebuah motto dan sekaligus kata-kata motivasi yang dilontarkan oleh seorang yang bernama Dahlan Iskan. Apakah maknanya? Dari kata-kata ini, kita diajak untuk bersemangat dan fokus dalam bekerja, tidak membuang-buang kesempatan yang ada. Semangat ini selalu ia kumandangkan setiap kali bertemu pimpinan perusahaan di lingkungan BUMN dan para karyawannya. Maksudnya adalah untuk mencapai target keberhasilan dalam mengelola perusahaan pelat merah itu, modalnya adalah semangat kerja yang tinggi. Dimulai dengan integritas, niat yang luhur, kejujuran dan kerja keras tanpa pamrih. Bagaimana jika kata-kata itu kita ganti dengan bersaksi, bersaksi, dan bersaksi? Mantab bukan? Hal ini berarti bahwa bersaksi juga diperlukan integritas, niat yang luhur, kejujuran dan kerja keras tanpa pamrih. Sama halnya dengan para rasul, kita sebagai pengikut Kristus juga mempunyai tugas untuk bersaksi di dunia ini. Salah satu tugas kita sebagai bagian dari gereja adalah bersaksi. Istilah yang dipakai untuk tugas ini adalah marturia. Kata marturia berasal dari bahasa Yunani : Marturia = kesaksian. Marturein dalam Perjanjian Baru memberi arti antara lain: 1) memberi kesaksian tentang fakta atau kebenaran (Lukas 24:48 : Matius 23:31) 2) memberi kesaksian baik tentang seseorang (Lukas 4:22; Ibr 2:4), dan 3) membawakan khotbah untuk pekabaran Injil (Kis 23:11) disini bersaksi sebagai istilah pengutusan/pekabaran Injil. Bersaksi tentang kabar damai sejahtera/ syalom yang dibawa Tuhan Yesus. Hal ini berarti kita dapat memberi kesaksian secara benar dan tepat tentang hal-hal yang pernah dilihat dan didengar; menceritakan realitas yang sebenarnya. Selain itu juga mempercakapkan kembali pengalaman-pengalaman dan peristiwa yang dialami sebelumnya. GKJW juga sudah mengatur kesaksian itu agar dapat dilakukan oleh seluruh warga jemaat, yang secara khusus diatur dalam pranata tentang kegiatan pelayanan di bidang kesaksian (lihat Tata dan Pranata 1996, hal. 268-273).

Bagaimana hal tersebut dapat kita wujudkan? Bersaksi dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang beriman baik itu di tempat kerja maupun di tengah masyarakat, ketika menjalin relasi dengan umat beriman lain, dan dalam relasi hidup bermasyarakat. Melalui tugas ini, umat beriman diharapkan dapat menjadi ragi, garam dan terang di tengah masyarakat sekitarnya. Sehingga mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

 

Penerapan

Untuk dapat mewujudnyatakan tugas bersaksi dalam kehidupan kita, maka pertanyaan-pertanyaan yang dapat kita gumuli bersama adalah:

  1. Apakah tugas kesaksian sudah kita lakukan secara maksimal? Bersaksi, bersaksi, dan bersaksi?
  2. Bagaimanakah model bersaksi yang tepat dalam kehidupan kita?

 Wito

 

 MEI II

Bacaan             : Galatia 5: 16-26
Tema bulan    : Roh Kudus Membangun Syalom Bagi Segala Bangsa.
Tema PA         : Menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

 

Pengantar

Galatia adalah suatu provinsi yang di dalamnya terdapat kota Antiocia, Ikonium, Listra, Derbe, yang pada jaman kunjungan Paulus kesana sekitar tahun 53-58 Masehi, penduduknya umumnya bangsa Geltik (kini Galatia termasuk bagian Turky). Dan banyak orang Galatia, karena Roh Tuhan melalui kesaksian dan pelayanan Paulus itu, mereka menerima Injil Yesus Kristus dan membentuk jemaat Kristen Galatia.

Surat Paulus ini merupakan surat penggembalaan kepada Jemaat tsb. Sebab semula beberapa orang Galatia telah menerima Injil dengan baik, percaya kepada Kristus, Sang Kasih Allah, tetapi kemudian datanglah orang Yahudi yang Torati, mereka menyusupkan ajaran Yudaisme yang legalistis ritualis, yang pengajarannya berpusatkan kepada perbuatan manusia dalam melakukan syariat atau ritual Torat. Maka terjadilah masalah. Salah satu masalah jemaat Kristen Galatia waktu itu adalah: “apakah untuk menjadi Kristen, orang harus memenuhi syariat Torat, atau ritual Yahudi, misalnya disunat?” Kalau ritual itu dijadikan dasar jaminan pulihnya hubungan dengan Tuhan, tentu itu meniadakan anugrah, maka jawaban Paulus: “… bagi orang yang dalam Kristus, hal bersunat atau tidak, itu tidak mempunyai sesuatu arti, yang penting iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6). Artinya iman dimatangkan oleh perbuatan kasih, juga sebaliknya, perbuatan kasih dimantapkan oleh iman. Itulah yang membuat seseorang berproses menjadi umat Tuhan.

Selain itu, penggembalaan Paulus bukan saja soal meluruskan iman dengan menangkal ajaran sesat, tetapi juga membina tabiat atau karakter jemaat Galatia, agar mereka meninggalkan tabiat buruk dan menghasilkan buah-buah Roh (ay. 19-23). Buah Roh itu penting bagi kehidupan persaudaraan berjemaat (koinonia), kesaksian (marturia) dan pelayanan (diakonia). Buah adalah suatu hasil dari proses, suatu produk, suatu konsekwensi yang dengan sendirinya terjadi, merupakan akibat bilamana carangnya itu melekat dengan baik pada batang pokok tanaman yang sehat. Buah Roh adalah berupa tabiat dan perbuatan: kasih, sukacita, damai sejahtra, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri. Tabiat ini bukan terjadi karena perintah yang dipaksakan, tetapi dengan sendirinya menjadi perilaku, menjadi tabiat dan kehidupan orang yang percaya dan yang bersukacita akan Kristus. Jadi, memusatkan diri pada Kristus dan memegahkan anugrah Allah, itu penting guna membangkitkan kesadaran etis seorang maupun jemaat Kristen. Karena itu sering diibaratkan bahwa Yesus itulah batang pokok, dan kita inilah carang-carangnya yang diharapkan menghasilkan buah.

Jadi suatu kebajikan di dalam kekristenan, itu merupakan buah Roh. Kita berbuat kebajikan kepada sesama bukan supaya mendapat kasih Tuhan, tetapi KARENA TUHAN ITU KASIH ADANYA. Dikasihi dan mengasihi Tuhan, itu membuahkan berbagai buah-buah Roh. Sikap dan prinsip etika Kristen membuat kita tidak ber-bisnis dengan Tuhan, yaitu kita tidak menghitung-hitung dan memegahkan kebaikan kita untuk kemudian merasa berhak mendapat pahala. Kita tidak membanggakan diri atas kebaikan kita, tetapi merendahkan diri kepada Tuhan Sang Sumber kasih itu. Kita diajak merespon Tuhan, menjalin hubungan kasih kekeluargaan yang akrab, bahkan menyapa Allah dengan penuh hormat sebagai Bapa, sehingga dengan sendirinya kita menghasilkan buah-buah Roh bagi sesama. Bandingkan dalam keluarga, yang para anggotanya saling mengasihi, setia dan bertanggungjawab, ada keinsyafan batin, inisatif dari dalam, kreatif intelektualnya, sadar untuk menyambut ranah kebahagiaan keluarga kerajaan Allah, maka pasti kebahagiaan itu menyusulnya. Tetapi kalau dalam keluarga masing-masing mendewakan nafsu sex, ketamakan materialistis, memuja gengsi, gila hormat, mau berkuasa dan menindas lainnya, maka celakalah keluarga itu.

Memang di dunia ini ada berbagai motivasi untuk melakukan perbuatan kebajikan, antara lain: dengan perasaan kemanusiaan, nasionalisme, emosi dan sentimental belas kasihan, rahmatan lil alamin, dengan motivasi mendapat pahala, dimotivasi mendapat karma yang lebih baik di kemudian hari, solidaritas, pembebasan dari peninasan, dll. Dan sebaliknya, untuk mencegah kejahatan maka umumnya tiap agama mengingatkan adanya ancaman: hukuman, karma buruk, aniaya, api neraka, seram, dan keabadian maut.

Di tengah pergaulan sosial yang bhineka agama, ajaran, nilai-nilai, norma moralitasnya, kita harus memegang iman dan prisip etika Kristen itu. Dalam kegiatan antar umat dan berlomba melakukan kebaikan di masyarakat, sumber kebajikan kita itu Kristus. Motivasi Jemaat Galatia, dan juga GKJW, memang bisa berbeda dengan kelompok lainnya di masyarakat, tetapi kita dipanggil untuk menggunakan peluang berbuat baik kepada sesama (Gal. 6:10). Kita dipanggil Tuhan untuk berperanan menjadi Saksi dan PelayanNya, mendatangkan berkat bagi sesama. Untuk peranan itu kita membutuhkan prinsip etika Kristen dan juga membutuhkan pertolongan Roh Tuhan.

Hal itu mengingatkan bahwa ada peranan pihak Roh Tuhan, dan ada peranan pihak manusia bilamana Roh Tuhan bekerja, menginsyafkan manusia, dan manusia bertobat dan setia kepada Tuhan, maka akan terjadi keakraban, manusia akan memasuki ranah relasi cintakasih dan berpotensi berbuahkan kebajikan dan berkat bagi bangsa-bangsa. Tetapi bilamana manusia menolak Roh itu, tidak me-respon-Nya, bahkan mendukakan Roh itu, maka Roh itu akan beranjak meninggalkan roh manusia tsb, akibatnya terjadi tragedi maut keterpisahan dengan sumber kasih itu.

Kini dalam bulan Kesaksian dan Pelayanan, kita merenungkan: apakah pelayanan dan kesaksian kita itu bersumber kepada Kristus. Apakah kita yakin Tuhan sudah ada di sana, Roh Tuhan memberi keinsyafan batin, hikmat, kebijaksanaan, ketrampilan, kecerdasan dalam perbuatan sosial kita? Jadi memegang teguh iman, memahami etika, melakukan praxis sosial Kristen, dan dengan rendah hati meminta pertolongan Roh Kudus, itulah dasar tabiat yang menjadikan berkat bagi bangsa-bangsa.

 

Bahan pergumulan

Sehubungan dengan kesaksian dan pelayanan:

  1. Bagaimanakah iman, etika, praxis kesaksian dan pelayanan sosial jemaat anda, apakah berpusat kepada Kristus yang memegahkan kasih Allah, atau terganggu ambisi memegahkan diri, atau hanya sekedar memenuhi PKT, tidak bergairah lagi, terpaksa, rutine saja?
  2. Jemaat-jemaat GKJW umumnya di pedesaan dan di perkotaan. Agar GKJW bisa bertumbuh, bersaksi maupun melayani sesama dengan baik, maka kita perlu juga menyadari konteks, mengetahui dan menganalisa situasi, mengenal sejarah, memahami realitas jaman, menghargai kebhinekaan masyarakat dan memilih fokus komitmen. Fokus atau prioritas dan kommitmen apa yang anda pilih dalam bersaksi dan melayani sesama? (mis. perkunjungan kepada yang sakit, mendampingi korban kekerasan, memperjuangkan keadilan dan perdamaian, memelihara lingkungan hidup, mewaspadai radikalisme, membina antar umat, membina generasi anak, pemuda,; peningkatan ekonomi, dll.).
  3. Terbuka untuk mengajukan pertanyaan dan sharing jawaban, asal sesuai thema dan waktu.

(Stn)


JUNI I

 

Bacaan            : 2 Korintus 4: 16-18.
Tema bulan    : Dosa memutuskan hubungan dengan Allah.
Tema PA         : Membangun hubungan dekat dengan Allah.

 

Pengantar

Penderitaan dapat membuat batin (spiritualitas) orang semakin kuat dan mantap, sehingga hubungannya dengan Tuhan semakin dekat. Itu terutama kalau penderitaannya tidak terlalu panjang atau berlangsung lama. Namun, jika penderitaan fisiknya berkepanjangan, dalam waktu cukup lama tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, apalagi jika kondisinya semakin merosot, maka kehidupan batin atau kerohaniannya bisa atau bahkan mudah turut merosot pula. Jika ada orang yang mengalami penderitaan fisik yang berkepanjangan, bahkan kondisinya makin merosot namun tidak menunjukkan tanda-tanda kemorosotan batin (iman dan kerohaniannya) bahkan justru makin kuat, maka itu adalah mujizat.

Paulus juga mengalami kemerosotan kekuatan fisik dan bahkan penderitaan. Penderitaannya berlangsung lama. Berkali-kali dia mengalami penganiayaan dan siksaan. Namun dia tetap tabah hati dan berani menjalankan tugasnya, sebab ia tahu bahwa segala susah-payah itu menjelmakan kemuliaan abadi baginya dan bagi umat. Paulus tidak fokus pada apa yang kelihatan, tetapi pada apa yang tidak kelihatan. Yang kasat mata itu bersifat fana, sedang yang tidak kelihatan dari Tuhan itu bersifat kekal dan penuh kemuliaan.

Kata “lahiriah” menunjuk kepada tubuh jasmani yang mengalami kemerosotan dan menuju kematian karena mortalitas dan kesusahan hidup (2 Kor. 4:17). Kata “batiniah” menunjuk kepada roh manusia yang memiliki hidup rohani Kristus. Sekalipun tubuh semakin tua dan merosot, namun kehidupan rohani Paulus mengalami pembaharuan yang terus-menerus melalui pemberian hidup dan kuasa Kristus yang terus berlangsung. Pengaruh-Nya memungkinkan pikiran, perasaan, dan kehendak disesuaikan dan menjadi serupa dengan Dia dan tujuan kekal-Nya. Di sini ada perjalanan yang bersimpangan: jasmaninya menurun tapi rohaninya menanjak. Spiritualitas Paulus terus-menerus mengalami peningkatan, tidak mandheg pada satu titik. Spiritualitas itu adalah dekat, lekat dan taatnya batin seseorang dengan Tuhan, sehingga kekuatiran dan ketakutan semakin kecil bahkan lenyap. Di dalam spiritualitas yang dalam ada kerinduan untuk selalu dekat dan kontak dengan Tuhan, ada kesenangan mentaati kehendak-Nya.

Kesukaran yang dipikul oleh orang yang dekat lekat dan taat kepada Kristus adalah ringan dibandingkan dengan kelimpahan kemuliaan yang dimiliki dalam Kristus. Sebagian kemuliaan ini telah ada, tetapi akan dialami sepenuhnya pada masa yang akan datang (bd. Rom 8:18). Apabila sudah mencapai warisan sorgawi itu, maka kesengsaraan yang paling berat pun tidak berarti dibandingkan dengan kemuliaan kekal itu.

 

Panduan untuk diskusi

  1. Bagaimana caranya mengolah pikiran dan batin agar di tengah melemahnya fisik (karena penyakit, usia, cacat, dll), spiritualitas (kerohanian) kita tidak melemah, tetapi justru menguat?
  2. Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari kelihat berkilau yang mudah membuat spiritualitas meredup. Bagaimana caranya membangun spiritualitas menjadi semakin mantap/ mendalam di tengah gebyar kehidupan?

 

(Suko T)

 

JUNI II

 

Bacaan            : 1 Samuel 3:1-10
Tema bulan    : Dosa memutuskan hubungan dengan Allah.
Tema PA         : Membawa anak-anak semakin mengenal Allah.

 

Pengantar:

Mari kita perhatikan kecenderungan pola komunikasi orangtua dengan anak:

  1. Jika beberapa orang dewasa sedang berbicara, lalu anak-anak menyela pembicaraan, bagaimana biasanya respon orang dewasa kepada anak-anak?
  2. Jika orang dewasa sedang diam merenungkan sesuatu, tiba-tiba anak datang dan bertanya hal yang tidak penting bagi orang dewasa, bagaimana respon orang dewasa?
  3. Bagaimanakah respon orang dewasa ketika anak-anak tidak memberi respon meski sudah dipanggil beberapa kali?

Pada umumnya, orang dewasa menganggap banyak hal tidak penting yang dilakukan oleh anak-anak. Di dalam sebuah ibadah Minggu misalnya, atau dalam ibadah patuwen/ Kelompok/ Rumah Tangga, kehadiran anak-anak sering dianggap sebagai pengganggu kekhusukan ibadah. Ketika anak-anak mulai mengeluarkan suara keras, atau berlarian ke sana ke mari, maka pandangan orang dewasa mulai tertuju kepada mereka. Ada yang tersenyum melihat ulah anak-anak, tetapi tidak sedikit yang memandang dengan kesal, bahkan memberi isyarat kemarahan kepada anak-anak. Tanpa orang dewasa menyadari reaksi-reaksinya terhadap sikap anak-anak di tengah ibadah, jika tidak segera diolah dengan benar, pada akhirnya akan mengakibatkan terputusnya hubungan anak-anak dengan Allah.

Sesungguhnya, semua anak dengan tahapan usia masing-masing, mereka pasti memberi respon atas apa yang dirasakan dan dipahami. Hanya saja, respon anak-anak kadang kurang tepat. Maka di sinilah peran orang dewasa untuk mendampingi dengan penuh kasih agar anak-anak mampu memberi respon dengan baik apa yang sedang mereka rasakan. Demikian pula dalam kehidupan berelasi dengan Tuhan, orang dewasa bertugas mendampingi dan mengarahkan respon anak-anak agar hidup mereka makin mengenal Allah dengan baik.

 

Keterangan teks bacaan:

Ayat 4-6 merupakan gambaran bagaimana orang muda merespon apa yang sedang ia rasakan dan alami. Samuel merasa ada yang memanggilnya, tetapi ia tidak tahu bahwa yang memanggilnya adalah Allah. Hal ini terjadi karena Samuel belum mengenal Tuhan (ayat 7), sebab firman Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan mutlak diperlukan untuk sampai pada pengenalan akan Tuhan dan relasi yang dekat dengan Tuhan. Anak-anak pun perlu mengenal Firman Tuhan, supaya mereka hidup dekat dengan Tuhan.

Pada kondisi Samuel tertidur (ayat 3: lampu Bait Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur…) menunjukkan situasi bahwa Samuel tidak benar-benar berniat untuk tidur. Gambaran jelasnya adalah bahwa Samuel tertidur: tidak sengaja tidur. Tentu kondisi tertidur akan membuat seseorang akan mudah terbangun jika ada hal yang tiba-tiba mengusiknya. Ketika ada suara memanggil namanya, Samuel mengira bahwa suara itu adalah suara Eli yang membutuhkan pertolongannya. Eli pada saat itu sudah hampir buta (ayat 2), sehingga ketika tengah malam ada suara memanggil namanya, Samuel mengira itu adalah panggiilan yang datang dari Eli yang meminta pertolongannya atau membutuhkan pelayanannya (ayat 5). Hal ini menggambarkan bahwa sebenarnya anak-anak atau orang muda cepat memberikan respon tentang apa yang mereka rasakan. Khususnya anak-anak, mereka cepat sekali bereaksi atau memberi respon. Misalnya saja, ketika anak-anak tidak menyukai sesuatu, mereka cepat merespon dengan marah atau menangis atau merajuk atau bahkan melakukan hal-hal yang menjengkelkan. Di sinilah tugas orangtua untuk mengarahkan agar anak-anak mampu memberi respon dengan cara baik atas segala sesuatu yang sedang mereka rasakan.

Eli telah mengerjakan tugasnya sebagai orang dewasa yang bijaksana pada saat mendampingi Samuel sebagai orang muda. Awalnya Eli juga tidak menyadari bahwa yang telah memanggil Samuel adalah Allah. Untuk yang ke tiga kalinya Samuel dipanggil dan mengira bahwa itu adalah Eli, maka Eli menasehati Samuel bagaimana cara menjawab panggilan Tuhan. Perintah ini pun dilaksanakan oleh Samuel (ayat 9-10). Di sinilah letak peranan orangtua yang sangat penting dalam memberikan pengarahan kepada anak-anak agar anak-anak mulai mengenal Tuhan, dan hidup makin dekat dengan Tuhan.

 

Aplikasi

Bagaimanakah cara yang bisa dilakukan oleh orangtua agar anak-anak mampu mengenal Tuhan lebih dekat ketika ada dalam kegiatan:

  1. Ibadah Minggu di Gereja?
  2. Patuwen/ Ibadah Kelompok/ Rumah Tangga?
  3. Di rumah masing-masing?

Tips membina pengenalan anak akan Tuhan di rumah:

Orangtua bisa memulai dari sekarang untuk menciptakan kebiasaan baik bahwa Firman Tuhan itu menjadi dasar dari semua kegiatan lain dalam kehidupan anak. Misalnya saja:

  1. Untuk anak usia 2-5 tahun:
    Berikan anak 1 ayat hafalan yang sama di setiap minggu. Ayat hafalan ini akan diucapkan anak-anak pada pagi hari. Dan malam hari, orangtua meluangkan 5 menit waktunya untuk memberi cerita yang berkaitan dengan ayat hafalan sebagai pengantar tidur anak.
  2. Untuk anak usia 5-7 tahun (Playgroup – SD kelas 1)
    Berikan anak 1 ayat hafalan yang sama di setiap minggu. Ayat hafalan ini diucapkan anak-anak sebelum berangkat sekolah. Hal ini untuk memberikan pemahaman bahwa Firman Tuhan itu harus lebih penting daripada sekolah. Jika anak-anak gagal melakukan ayat hafalan ini, maka anak-anak tidak diijinkan untuk berangkat sekolah. Namun orangtua harus memberi pemahaman bahwa hal ini dilakukan agar anak-anak menyadari betapa pentingnya Firman Tuhan dalam kehidupan anak-anak. Jangan memberlakukan ini seolah-olah seperti hukuman, tetapi orangtua menciptakan suasana yang penuh kasih ketika anak-anak akan melakukan ayat hafalan sebelum berangkat sekolah. Pada akhirnya, kegiatan ini akan menjadi hal yang paling dinantikan oleh anak-anak.
  3. Untuk anak usia 8-12 tahun (kelas 2-6 SD)
    Berilah kebebasan kepada anak-anak untuk memilih sendiri ayat hafalan mereka. Boleh setiap hari berganti-ganti. Orangtua akan bertugas memberi makna dari ayat hafalan anak-anak untuk direlefansikan dalam kehidupan anak. Ayat hafalan ini dilakukan sebelum berangkat sekolah.
  4. Untuk usia sekolah SMP-SMA
    Mintalah anak membuat catatan di kertas kecil yang berisi ayat Alkitab sesaat sebelum berangkat sekolah. Sebelum tidur, minta dia menuliskan makna dari ayat Alkitab itu. Kertas itu akan diberikan kepada orangtua sebelum tidur. Baik jika orangtua berdoa bersama anak sebelum tidur. Catatan itu disimpan dan dikumpulkan dengan baik oleh orangtua. Ketika anak beranjak dewasa dan akan kuliah, semua catatan itu bisa diberikan lagi kepada anak dalam kotak khusus, supaya anak mengingat bahwa mereka tumbuh dengan dasar Firman Tuhan yang akan mengiring perjalanan kedewasaan iman mereka.

 

(Rini)

Kata Kunci Artikel Ini:

pemahaman alkitab, Bahan Pemahaman Alkitab, pemahaman tentang alkitab, tafsiran yesaya pasal 15 dan 16, materi pemahaman alkitab, khotbah kisah para rasul 1:6-11, pemahaman alkitab kristen, pemahan alkitab kis 1:1-11, pemahaman alkitab bagi orang percaya, pehamahaman alkitab

One Comment »

  • Muryo Djajadi said:

    terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.