Pemahaman Alkitab

 

JULI I 2015

Bacaan            : Markus 6:1-13
Tema              : Bertugas sebagai Nabi Demi Makna Kehidupan

Keterangan Teks

Markus tidak menyebutkan tempat asal Yesus, namun dalam Lukas 4: 16, yang merupakan ayat pararel dari bacaan kita ini, disebutkan Yesus datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan. Kalau Yesus dibesarkan di Nazaret berarti penduduk Nazaret menyaksikan bagaimana Yesus dan keluarga-NYA hidup. Dalam budaya Yahudi pada waktu itu, anak seorang tukang kayu akan diajar untuk menjadi tukang kayu juga. Jadi, sepengetahuan penduduk Nazaret, Yesus adalah anak tukang kayu. Setelah pergi dari Nazaret, Yesus kembali sebagai seorang rabbi, lengkap dengan murid-murid. Saat Yesus mengajar di rumah ibadat pada hari sabat, mungkin itu merupakan kali pertama orang-orang Nazaret mendengar Yesus mengajar. Mereka heran dan bertanya-tanya, lalu kecewa dan menolak Yesus. Penolakan orang Nazaret untuk percaya, membuat Yesus tidak mengadakan banyak mujizat di tempat itu.

Penolakan orang banyak untuk mempercayai Yesus, tidak menghentikan Yesus dalam berkarya. Yesus kemudian mengajar dan melatih murid-muridNya. Sebagai bagian dari pelatihan, Yesus mengutus murid-murid-Nya pergi berdua-dua. Yesus memperlengkapi para murid dengan kuasa atas roh jahat. Para murid tidak boleh membawa perbekalan, tidak boleh pilih-pilih tempat tinggal, apalagi karena alasan ingin mencari tempat yang lebih nyaman. Yesus pun mengajar para murid tentang menyikapi penolakan orang terhadap mereka. Setelah Yesus mempersiapkan para murid, mereka pun pergi.

(sumber: Santapan Harian, Januari-Februari 2009, hal. 58 dan 60)

 

Realitas Kehidupan Kini

Dalam tema bulanan ‘Bertugas sebagai nabi demi makna kehidupan’, bacaan Markus 6:4 mengungkapkan pernyataan Yesus, bahwa ‘seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya’. Untuk lebih memahami tentang nabi, ada beberapa hal yang bisa kita diskusikan:

  1. Siapakah nabi itu?
  2. Seperti apa penampilannya?
  3. Apakah peran nabi itu penting?
  4. Masihkah kita membutuhkan nabi untuk zaman modern ini?

Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, nabi adalah pemimpin umat yang dipanggil Allah untuk memperingatkan umat agar tidak menyimpang dari perintah-perintah ALLAH. Di kalangan Gereja Kristen perdana, nabi-nabi masih memainkan peranan yang tampaknya cukup penting (1 Korintus 12:28-29), namun di kemudian hari agaknya peranan nabi semakin berkurang, khususnya ketika gereja semakin ditata. (sumber: wikipedia.org)

Dalam perjanjian lama, seorang yang digelari ‘nabi’ digelari juga ‘pelihat’. Istilah pelihat ini lebih secara jelas menunjukkan karakteristik seorang nabi. Yaitu seseorang yang mendapat penglihatan dan mendengar suara Allah dan diutus untuk menyampaikan kepada umat. Nabi juga bermakna orang yang diutus dan diilhami oleh ALLAH untuk menyatakan sesuatu yang tersembunyi, mengungkapkan suatu nubuat, menyatakan pikiran dan kehendak ilahi, dan juga untuk meramalkan masa depan.

Hubungan PB dengan amanat nabi-nabi PL terletak pada pemenuhan atau penggenapannya. Pada hari Pentakosta dan dalam sejarah Gereja, karunia kenabian diperbaharui oleh Roh Kudus, sehingga kini ada sebuah karunia bernubuat yang sungguh-sungguh nyata dalam Gereja pada kaum pria maupun kaum wanita. Peranan para nabi itu, ialah menyatakan rahasia-rahasia, mengajak, menghibur dan membangun.

Pada dasarnya setiap orang Kristen adalah nabi. Pencurahan Roh atas setiap manusia membuat ‘mereka akan bernubuat’ (Kisah 2:18). Paulus menghimbau jemaat di Korintus, supaya ‘mengusahakan dirinya memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat’ (1 Korintus 14:1). (Sumber: www.sarapanpagi.org)

Berangkat dari uraian di atas, kita bisa menghayati panggilan kita sebagai nabi pada jaman sekarang. Tuhan Yesus sudah mengungkapkan bahwa ‘seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya’. Namun bukan berarti bahwa ungkapan Tuhan Yesus ini untuk melemahkan kita menjalankan tugas sebagai nabi. Apalagi kita dipanggil menjalankan tugas sebagai nabi, bukan di tempat yang jauh dari tempat asal kita, melainkan di tempat tinggal kita masing-masing. Di tengah keluarga kita, di tengah persekutuan, dan di masyarakat tempat kita tinggal. Ini berarti kita harus siap menjalankan tugas sebagai nabi dan siap untuk ditolak. Kita perhatikan dalam bacaan kita, setelah ditolak oleh orang-orang tempat asalNya, Tuhan Yesus tidak berhenti berkarya. Tuhan Yesus mengutus murid-muridNya dengan terlebih dahulu memperlengkapi mereka agar bisa melakukan tugas pengutusan. Tuhan Yesus pun memberi tips dan trik kepada para murid kalau mereka harus menghadapi penolakan. Ketika kita dipanggil menjalankan tugas sebagai nabi, kita juga sudah diperlengkapi oleh Allah agar bisa menjalankan tugas kita.

 

Penerapan

  1. Bagaimana pengalaman saudara selama ini dalam menjalankan tugas sebagai nabi di tengah keluarga, persekutuan, dan masyarakat?
  2. Apa yang bisa saudara pelajari dari bahan Pemahaman Alkitab kita ini untuk melanjutkan dan menyelesaikan tugas kenabian saudara ?

(wati)

 

 

JULI II 2015

Bacaan            : 1 Samuel 1:1-20
Tema              : Bertugas sebagai Nabi Demi Makna Kehidupan

Keterangan Teks

Imam Eli dan Samuel adalah hakim-hakim terakhir. Keduanya memiliki jabatan rangkap. Eli, memiliki jabatan imam (1 Samuel 1:9). Sedangkan Samuel disebut sebagai nabi (1 Samuel 3:20). Samuel hidup pada masa transisi dari masa hakim-hakim ke masa kerajaan. Samuel diutus untuk mengurapi dua raja pertama Israel: Saul dan Daud. Sebagai nabi, Samuel memiliki tugas untuk mengingatkan umat Israel maupun para pemimpin Israel agar tetap setia kepada Perjanjian Allah dengan umat Israel di gunung Sinai.

(Sumber: Santapan Harian edisi Mei-Juni 2008, hal. 52)

Bacaan 1 Samuel 1:1-20 menceritakan tentang kelahiran nabi Samuel. Nama Samuel berarti aku telah memintanya dari pada Tuhan. Sesuai dengan arti namanya, nabi Samuel lahir atas permintaan ibu Hana kepada Tuhan. Ibu Hana adalah satu dari dua istri Bapak Elkana. Bertahun-tahun ibu Hana disakiti hatinya oleh ibu Penina, istri kedua Bapak Elkana. Ibu Hana mandul, sedangkan ibu Penina mempunyai banyak anak. Pada suatu kali, ketika pergi ke rumah Tuhan, ibu Hana berdoa kepada Tuhan sambil menangis. Ibu Hana bernazar bahwa kalau Tuhan memberi anak laki-laki kepadanya, dia akan memberikan anaknya kepada Tuhan. Doa ibu Hana didengar Tuhan. Seorang anak laki-laki lahir dari rahimnya, dan setelah disapih, Samuel diserahkan kepada Tuhan.

 

Realitas Kehidupan Kini

Setiap orang pasti menghadapi masalah dalam kehidupannya. Dalam bacaan ini, Elkana mendapat masalah tidak mempunyai keturunan, karena Hana mandul. Elkana menyelesaikan masalahnya dengan menikah lagi. Sekalipun tidak bisa memberi keturunan pada Elkana, Hana sangat dikasihi Elkana. Hal ini menjadi masalah bagi Penina, istri kedua Elkana yang sudah melahirkan banyak anak bagi Elkana. Penina mengatasi masalah iri hati dan cemburunya dengan terus menyakiti Hana. Bagi Hana, kemandulannya adalah masalah. Keputusan Elkana menikah lagi juga adalah masalah tersendiri bagi Hana. Selama bertahun-tahun, Hana pun harus menghadapi masalah sakit hati karena perlakuan Penina. Hana memilih mengatasi semua permasalahannya dengan mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Dalam kesedihannya, Hana disangka mabuk oleh Imam Eli yang juga sedang berada di bait suci. Hana tidak marah. Hana masih menghargai Imam Eli dengan menyebutnya ‘tuanku’, dan menjelaskan apa yang sedang dilakukannya. Tuhan memperhatikan kesedihan Hana yang diungkapkannya dalam doa, dan Tuhan memberikan anak laki-laki seperti yang diminta Hana.

Bercermin dari beberapa tokoh dalam cerita ini, apa yang sudah kita lakukan setiap kali kita menghadapi permasalahan?

Fakta menarik dari kisah kelahiran Nabi Samuel ini adalah bahwa kelahiran seorang nabi tidak selalu atas ketetapan ALLAH. Namun, bisa juga karena permintaan seseorang. Ini berarti bahwa tugas sebagai nabi sudah dijalankan oleh Samuel sejak Allah menempatkannya di rahim Hana. Kehadiran Nabi Samuel dalam kandungan Hana memang merupakan jawaban atas doa Hana. Tapi sekaligus juga mengingatkan kepada Elkana, Penina, serta seluruh umat Tuhan di berbagai jaman tentang kekuasaan Allah menjawab pergumulan umatNYA. Melalui kehadiran Nabi Samuel dalam kandungan Hana, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang selalu memperhatikan umat-Nya, Allah yang selalu ada di dekat dan di dalam umat-Nya, Allah yang mendengarkan setiap doa umat-Nya, serta Allah yang sanggup memberikan jalan keluar terhadap permasalahan umat-Nya.

Penerapan

  1. Bagaimana selama ini saudara menghayati peran sebagai nabi di tengah keluarga, persekutuan umat Tuhan maupun masyarakat?
  2. Apa yang bisa saudara pelajari dari bahan Pemahaman Alkitab kita ini untuk melanjutkan dan menyelesaikan tugas kenabian saudara ?

(wati)

—-

AGUSTUS I 2015

 

Bacaan           : Epesus 4: 1-6
Tema              : Yesus Roti Kehidupan

PENGANTAR

 

Bacaan ini menekankan kesatuan umat Allah. Umat Allah merupakan satu tubuh dan satu Roh, satu harapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah yang adalah Bapa semua orang.

 

Perikop ini merupakan pembukaan bagian baru, di mana Paulus menarik garis praktis bagi kehidupan Kristen. Sesudah pengajaran ditarik beberapa nasehat untuk “menghidupi” kebenaran Kristen. Ditekankan di dalam permulaan nasehat-nasehat terutama kesatuan dalam kasih dan perdamaian yang harus diusahakan di dalam Gereja. Nampaknya memang kedua hal tersebut merupakan kondisi yang pokok untuk menjamin penghayatan kebenaran Kristus.

 

Paulus terutama mau menghubungkan bagaimana iman dan perbuatan seharusnya saling mengembangkan. Dan dalam perikop ini keterangannya berjalan dalam dua tahap:

  • Kelembutan dan kasih yang sabar dalam membina kesatuan Gereja (ay. 1-3),
  • Dasar persekutuan itu (ay. 4-6).

 

Maksud pemberitaan:

  • Iman tanpa perbuatan yang selaras menjadi mandul (lih. Yak 2: 14 dst). Begitu juga iman Kristen menjadi subur kalau dibarengi dengan perbuatan Kristiani yang nyata. Hidup Kristen memang merupakan panggilan ilahi, kekuatan yang menuntut jawaban dan usaha. Maka Paulus kini mau membesarkan hati jemaat agar menyadari kembali dua hal tersebut.
  • Panggilan Kristen adalah mulia, baik karena siapa yang memanggil maupun apa tujuan panggilan tersebut. Dengan demikian panggilan merupakan harapan manusia (lih. 1: 18; 4: 4). Panggilan Kristen adalah agung, karena yang memanggil adalah pribadi yang agung, dengan demikian harapan akan panggilan tersebut juga luhur (lih. 1: 4). Panggilan Kristen itu agung, karena tujuan panggilan tersebut juga agung: keselamatan manusia dalam lingkup kasih ilahi, seperti dilakukan oleh Anak Allah (lih. 1: 7). Sedangkan jaminannya adalah kekuatan Roh. Pelaksanaan dari harapan yang luhur itu nampak dalam perbuatan yang lemah lembut, sabar, saling menerima dan mengampuni. Usaha ini sungguh demi persatuan yang menimbulkan perdamaian, karena akhirnya bertalikan kasih ilahi.
  • Dasar dari persatuan jemaat dalam kasih ini terdapat pada kesatuan Allah. Meskipun anggota tubuh Gereja itu banyak, namun anggota itu diikatkan di dalam kesatuan Roh Allah. Roh itulah yang menjadi pembangunan dan kehidupan tubuh. Dialah jaminan warisan kita. Persatuan berdasar pada satu Tuhan: Yesus Kristus yang menjadi iman Kristen. Inilah ikrar pokok iman Gereja: Satu Tuhan, Yesus Kristus (lih. Flp 2: 9-11). Baptisan merupakan tanda nyata dari iman yang hidup kepada Allah dalam Yesus Kristus. Dalam pembaptisan itu orang ditandai olehnya sebagai anggota keluarga. Kesatuan keluarga ini berlandaskan pada kasih Bapa yang satu, yang menghendaki satu keluarga yang menghayati satu kasih yang mesra.

 

Pertanyaan untuk digumuli.

  1. Orang Kristen mendapat kekuatan dan kuasa Allah dalam sabda dan karya-Nya dan bisa menjadi ”santapan” bagi sesamanya. Sabda dan karya Allah tadi menjagai jemaat agar selamat, tidak kekurangan bahkan berkelimpahan. Sudahkah hidup kita ini menjadi “santapan” bagi sesama?
  2. Bagaimanakah kehidupan dalam jemaat kita masing-masing selama ini, apakah selalu menampakkan kesatuan antara kita dengan Bapa dalam Yesus Kristus? Tolong dijelaskan!

 

Didik

AGUSTUS II 2015

 

Bacaan           : Yohanes 6: 51-59
Tema              : Yesus Roti Kehidupan

 

PENGANTAR

Kutipan dari Injil Yohanes ini justru berbicara tentang nilai Perjamuan Kudus, yang merupakan ibadah Kristen yang utama. Dalam Perjamuan Kudus, dikenangkan hidup Kristus, yang harus juga menjadi persembahan hidup kita. Dipersatukan dalam Tubuh dan Darah-Nya kita dipersembahkan kepada Allah. Maka hidup kita harus menjadi semakin “ilahi.”

 

Rudolf Schnackenburg menyebut Yohanes sebagai seorang yang paling besar perhatiannya terhadap liturgi, di antara para penulis Injil yang lain. Hal ini nampak dalam perikop-perikop ini, di mana kita dapat pemberitaan: Yesus sebagai Roti kehidupan yang turun dari sorga dan Roti kehidupan ini sekarang dimakan umat beriman dalam Perjamuan Kudus.

 

Pandangan teologis tentang penggandaan roti baru jelas jika dihubungkan dengan bagian-bagian yang lain, Yoh 6:16-21 yaitu Yesus yang berjalan di atas air, dan Yoh 6: 22-71 tentang Yesus yang berbicara tentang Perjamuan Kudus. Meskipun banyak memberikan data-data yang bersifat historis dan geografis, namun maksud Yohanes tidaklah menyajikan kisah yang bersifat sejarah. Berpijak pada situasi sesudah kebangkitan dan juga praktek-praktek liturgi pada zaman Gereja purba, ia menengok kembali ke masa hidup Yesus untuk mencari asal-usul dan saat timbulnya kehidupan sakramental dari umat Allah. Maka bila mujizat penggandaan roti ini dihubungkan dengan katekese tentang Perjamuan Kudus, barulah nampak bahwa pemaparan mujizat yang dialami para murid saat itu sangat dipengaruhi oleh pandangan Gereja purba.

 

Khotbah tentang Perjamuan Kudus dalam Yohanes 6: 22-59, bukanlah suatu urutan gagasan yang jelas dan terang. Melainkan lebih merupakan jalinan macam-macam gagasan, dihubungkan satu sama lain, sehingga menghasilkan suatu susunan yang harmonis. Seperti kata C.H. Dodd sewaktu mengadakan analisa bab 6 dari Injil Yohanes: “Bila kita memandang cara berpikir Yohanes, maka dapat kita konstatasi Yohanes pertama-tama mengutarakan suatu motif, ini diuraikan sampai satu titik tertentu: dikemukakan lagi motif yang kedua dan dihubungkan yang pertama, kemudian yang ketiga dan seterusnya … . Dapat terjadi satu motif ditinggalkan, kemudian diambil lagi dan dihubungan dengan motif lain … “.

 

Nilai Pemberitaan:

  • Daging dan darah menunjukkan pada korban. Perjamuan Kudus memiliki kekuatan untuk menyelamatkan, karena di dalamnya dihadirkan korban salib. Sangatlah mengherankan, bahwa orang-orang Kristen dalam Gereja purba sedemikian mudah berbicara tentang “minum darah”, karena orang-orang Yahudi melarang dengan keras minum darah.
  • Makan Tubuh dan minum Darah Kristus mempererat dan memperdalam hubungan kita dengan Kristus (Yoh 6: 56), di mana kehidupan sekarang telah dipenuhi dengan kehidupan kekal. Hidup kekal bukannya sesuatu janji yang berhubungan dengan masa depan, melainkan sudah merupakan realitas dalam dunia sekarang ini.
  • Teologi Yohanes tidaklah memisahkan masa sekarang dengan keabadian, antara Kristologi dan Eskatologi tidak ada tirai besi. Keabadian telah hadir di dunia ini, dan di segala tempat, di mana manusia membuka diri bagi karya Kristus dalam iman kepercayaan. Kehidupan kekal tidaklah mulai “besok”. Dengan dan oleh Yesus Kristus yang hadir di tengah-tengah kita, mengalirlah kehidupan kekal masuk dalam dunia dan mempersiapkan realitas yang disebut dalam Kitab Suci, sebagai “langit baru dan dunia baru”.
  • Hendaknya dalam rangka Pemahaman Alkitab tentang Pejamuan Kudus, ditekankan: kehadiran sekarang secara sakramental. Gereja purba tidaklah menengok kembali Perjamuan Kritus yang terakhir untuk mencari dasar bagi praktek perjamuan kudus mereka. Melainkan memperlihatkan aktualisasi dan kehadiran karya keselamatan di dalam Perjamuan Kudus Gereja purba dan dari situ disimpukan kesatuan mereka yang ditebus dengan Kristus.

 

Pertanyaan untuk digumuli.

  1. Tema kita Bulan ini adalah Yesus roti kehidupan. Sedangkan dalam hidup kita sebagai umat yang terpilih mempunyai keyakinan bahwa Allah tetap hadir dalam situasi apapun, maka iman mempunyai peranan. Bagaimana kita sekarang dalam menafsirkan langkah-langkah kehidupan kita dalam kehidupan sehari-hari berdasaraan Yoh 6: 51-59?

 

  1. Perjamuan Kudus adalah persekutuan dalam kehidupan dan sekaligus menjadi perjuangan. Bagaimana cara mengetrapkannya dalam kehidupan sehari-hari?

 

Didik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  1. terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati