wordpress com stats plugin
Home » Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab

JANUARI 2015  (I)

Bacaan                       : Ayub 12: 7-11
Tema Bulan    : Sabda Allah yang nyata dalam peristiwa kehidupan.
Tujuan PA        : Memperkaya pokok-pokok permenungan seputar Allah Sang Pemilik Hidup dalam rangka Minggu penciptaan.

 

Pengantar Umum

Kitab Ayub adalah salah satu kitab hikmat. Kitab Ayub bukanlah bagian dari kelompok kitab-kitab Taurat. Bukanlah pula kitab Ayub sebagai bagian dari kelompok kitab nabi-nabi. Bersama dengan Mazmur, Amsal, dan Pengkhotbah, kitab Ayub disebut kitab hikmat. Bisa juga disebut Sastra Hikmat.

Uraiannya memang berisi perdebatan antara Ayub dengan Elifas, Bildad, dan Zofar (pasal 3-31). Tetapi, uraian itu bersifat pergumulan. Uraian di dalam kitab Ayub, pada dasarnya, merupakan uraian teologis yang rumit. Kerumitan pergumulan atau uraian teologis itu disebabkan oleh adanya semacam ‘penyimpangan’. Ada sebuah ketentuan. Ketentuan itu telah menjadi keyakinan. Terutama keyakinan orang-orang beriman. Bagi orang-orang beriman, semakin beriman kepada Allah berarti semakin dekat dengan Dia. Semakin dekat dengan Dia berarti semakin terberkati hidupnya. Mengapa demikian? Ya. Sebab, Tuhan Allah adalah Sang Pencipta Yang Mahakuasa. Kehendak-Nya bisa diwujudkan dalam seketika, dalam hitungan detik. Nah, berdekatan dengan Tuhan Allah yang Mahakuasa, manusia pasti terlindung, pasti manusia aman, sentosa, damai-sejahtera, tidak kekurangan suatu apapun.

Ayub juga seorang yang dekat dengan Tuhan Allah. Karenanya, Ayub adalah seorang yang baik hidupnya, serba berkecukupan, tidak berkekurangan apa yang baik di dalam kehidupannya (lihatlah Ayub 1:1-5).

Lalu, keyakinan imaniah, bahwa orang yang setia pada Tuhan Allah pasti selalu beruntung itu mengalami penyimpangan. Digambarkan seorang tokoh Ayub. Ayub adalah seorang yang tanpa cacat secara imaniah. Ayub adalah seorang beragama yang benar-benar ideal. Tetapi penderitaan demi penderitaan menderanya.

Bagaimana memahami situasi itu secara masuk akal? Kehendak Tuhan seperti apakah yang sedang diberlakukan di dalam sejarah kehidupan seorang beriman: apakah penderitaan adalah ujian bagi orang beriman? Apakah penderitaan adalah kebaikan tertunda dari Allah bagi orang beriman? Kepada siapakah pertanyaan-pertanyaan orang beriman itu disampaikan?

 

Keterangan Teks / Bacaan

Anggapan yang istimewa terhadap manusia terletak pada kemampuan manusia untuk belajar. Manusia adalah makhluk yang istimewa karena kesanggupannya untuk belajar. Dari siapakah manusia belajar? Ya, sumber belajar bagi manusia adalah pengalaman hidupnya. Karena itulah maka semakin manusia berusia, mereka semakin berpengalaman; semakin berpengalaman, manusia semakin bijak, semakin memahami banyak hal (bandingkang Ayub 12:12).

Di samping itu, manusia dapat belajar dari alam. Antara lain, manusia dapat belajar dari binatang, burung di udara, atau kepada bumi. Ikan di laut pun dapat memberi pelajaran tentang kehidupan manusia (Ayub 12:7,8)

Tidak sampai memuliakan atau mendewakan alam. Tidak. Orang beriman tidak mendewakan alam atau bagian-bagian dari alam. Sebab, orang beriman dibatasi oleh hukum Tuhan (Keluaran 20:4-6). Bangsa-bangsa selain bangsa yang beriman, mungkin telah bersikap berlebihan, sampai menghubungkan dirinya atau bangsanya dengan binatang tertentu, tetapi orang beriman sama sekali dilarang melakukannya.

Kepada alam, manusia belajar tentang hikmat kehidupan. Hikmat apakah? Tidak lain dari hikmat tentang sumber kehidupan. Ayub 12:10 menegaskan, bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia. Dengan hikmat seperti itu, baik manusia maupun segala ciptaan bersumber dari Sang Pencipta. Apapun kondisinya, baik manusia maupun segala ciptaan berada di dalam ruang lingkup kemahakuasaan Sang Pencipta. Atau, kalau disusun sebuah tangga kehidupan, maka puncak tangga, sebagai penguasa adalah Sang Pencipta. Selebihnya hanyalah makhluk ciptaan.

 

Pertanyaan teks 

  1. Ayat 7-8: pengajaran, keterangan, dan cerita kehidupan seperti apakah yang dapat dipelajari oleh orang beriman? (bandingkan dengan ayat 9 dan 10)
  2. Ayat 9: siapakah penentu utama dinamika kehidupan? (dinamika= jatuh-bangun, pasang-surut)
  3. Ayat 10: siapakah sumber hidup bagi manusia dan ciptaan lainnya?

 

Pendalaman

  1. Bacalah secara bergiliran [atau berulang-ulang] Kejadian 1:28
  2. Apakah persamaan antara Kejadian 1:28 dengan Ayub 12:9-10?

 

Refleksi

Belajar dari alam. Belajar dari kehidupan sesama ciptaan. Yang patut digarisbawahi oleh kita adalah belajar dari kehidupan sesama ciptaan. Duka-suka, tangis-tawa, derita-bahagia pada manusia dapat diperkaya dengan belajar dari sesama ciptaan.

Lebih dari sekadar belajar, manusia dapat berkreasi lebih lanjut. Setelah belajar, manusia dapat mengembangkan kehidupannya sendiri. Manusia juga dapat mengembangkan kehidupan sesama ciptaan.

Yang pasti, kewenangan apapun yang dirasa dimiliki oleh manusia adalah kewenangan yang dipercayakan kepadanya oleh Sang Pencipta. Itu berarti, kewenangan itu berada di bawah kewenangan Sang Pencipta. Sejauh-jauhnya manusia berwenang, Sang Pencipta lebih lagi berwenang atas manusia dan seluruh dunia ciptaan.

 

Suwignyo

 —

JANUARI 2015 (II)

 

Bacaan            : 1 Korintus 7: 25-34.
Tema bulan    : Sabda Allah yang nyata dalam peristiwa kehidupan.
Tujuan             : menegaskan betapa penting keluarga (suami-isteri) bernaung di bawah payung Kerajaan Allah.

 

Pengantar Umum

Hukum, ada dua. Hukum alam bersifat alamiah. Yang lain adalah hukum Kerajaan Allah. Yang pertama, hukum alam. Menurut hukum alam, manusia berpasangan: lelaki dan perempuan. Pasangan itu bersifat tetap. Proses untuk menjadi pasangan yang harmonis diupayakan baik oleh lelaki maupun perempuan. Caranya, saling menyesuaikan diri, saling bertenggang rasa, dan atau saling membahagiakan pasangannya sedemikian rupa, sehingga keduanya tidak lagi dua, melainkan keduanya telah menjadi satu.

Yang kedua, hukum Kerajaan Allah. Menurut hukum Kerajaan Allah, manusia, tanpa kecuali adalah warga Kerajaan Allah. Manusia, karenanya, berkewajiban untuk memenuhi tuntutan atau kewajiban yang ditetapkan oleh Sang Raja dari Kerajaan Allah.

Apakah kedua hukum tersebut saling bertentangan? Tidak bertentangan. Di dalam Kerajaan Allah terdapat manusia laki-laki. Di dalamnya juga terdapat manusia perempuan. Bahwa manusia laki-laki dan manusia perempuan menyatu sebagai suami isteri, maka mereka menjadi warga Kerajaan Allah. Kebahagiaan mereka adalah berkat sebagai warga Kerajaan Allah. Tetapi bersyarat. Syaratnya adalah sama-sama menjadi warga Kerajaan Allah. Sejauh suami dan atau isteri menempatkan diri sebagai warga Kerajaan Allah, maka kesatuan mereka terberkati. Sekiranya terdapat perbedaan yang tidak mudah atau bahkan tidak bisa disamakan, masing-masing terpanggil untuk menempatkan wibawa Sang Raja Kehidupan di atas segalanya. Dengan demikian, hukum Kerajaan Allah memayungi atau menopang kesatuan suami-isteri. Dengan kata lain, apa yang bersifat alamiah dipayungi atau ditopang oleh apa yang bersifat ilahi.

 

Keterangan Teks / Bacaan

I Korintus pasal 5-7 bertutur tentang lelaki dan perempuan. Konteksnya adalah Jemaat di kota metropolis Korintus. Apakah yang terjadi di Jemaat tersebut? Ya, apa yang terjadi adalah kehidupan lelaki dan perempuan yang kacau-balau. Terdapat penyimpangan perilaku di antara lelaki dan perempuan. Di antaranya adalah hidup dengan isteri ayahnya ( I Korintus 5:1). Betapa mengerikan kehidupan seperti itu.

Kecuali di dalam I Korintus 5, Paulus juga menyebut-nyebut sebuah konteks kehidupan Jemaat Korintus di dalam I Korintus 6. Di dalam I Korintus 6 disebut-sebut oleh Paulus tentang ‘percabulan’.

Agar sedikit lebih jelas memberikan gambaran tentang kemendesakan ajaran Paulus di dalam I Korintus 7, ada baiknya kita perhatikan penggunaan istilah di dalam I Korintus 6. Di dalam I Korintus 6: 18b, kata ‘percabulan’ dalam bahasa Indonesia itu ditulis dalam bahasa Yunani oleh Paulus. Istilah dalam bahasa Yunani untuk ‘percabulan’ menunjuk pada kata kerja porneuo (baca: porneuo), artinya: melacurkan atau menyalahgunakan tubuh demi syahwat / berahi kepada orang lain; memberikan diri pada hubungan suami-isteri yang tidak sah. Sedangkan di dalam I Korintus 6: 18a dipergunakan kata benda porneia (baca: porneia), artinya bersetubuh secara tidak sah atau haram, seperti: berzinah, homoseks, lesbian, bersetubuh dengan binatang, bersetubuh dengan keluarga dekat, bersetubuh dengan laki-laki atau perempuan yang bercerai.

Demikianlah konteks kehidupan Jemaat di kota metropolis Korintus. Karenanya, Paulus menasihati Jemaat di Korintus dengan nasihat yang khas Paulus. Dalam hal itu, Paulus secara jujur menulis bahwa nasihatnya untuk hal yang satu ini, Paulus tidak mendapatkannya dari Tuhan secara langsung, melainkan berdasarkan penghayatan Paulus sebagai seorang Rasul Yesus Kristus. Apakah nasihat Paulus? Nasihatnya terbagi atas 3 bagian. Bagian pertama adalah dasarnya. Ditegaskan oleh Paulus, bahwa tubuh adalah Bait Roh Kudus. Dan, tubuh yang demikian itu telah dibeli dengan harga mahal oleh Yesus Kristus. Karenanya, tubuh kita bukan lagi milik kita, melainkan milik Kristus (I Korintus 6:19-20)

Bagian kedua adalah nasihat dengan mutu yang tertinggi. Mutu nasihat tertinggi adalah nasihat sekelas kehidupan Rasul Paulus, yaitu: Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, … Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. (I Korintus 7:1,8). Jemaat di Korintus didorong agar menjalani hidup seorang diri seperti Paulus.

Bagian ketiga adalah nasihat dengan mutu sedikit di bawah yang tertinggi, yaitu: Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu. (I Korintus 7:9)

 

Pertanyaan teks

  1. Ayat 25: atas dasar apakah Paulus menganggap dirinya berwibawa, lalu memberi nasihat untuk para gadis?
  2. Ayat 26-27: mengapa Paulus menasihati agar lelaki dan atau perempuan memilih hidup sendiri, atau ‘tetap dalam keadaannya’?
  3. Ayat 28-29: apakah hidup di dunia ini cukup panjang rentangannya? Sikap apakah yang sebaiknya dikembangkan oleh orang percaya dalam hal kehidupan suami-isteri?

 

Pendalaman

  1. Dalam kesadaran budaya tertentu, keberadaan seseorang dianggap belum lengkap atau belum sempurna jika tidak hidup dalam kesatuan suami-isteri. Pada pihak lain, keluarga-keluarga orang percaya tidak sepi dari godaan, cacat cela, atau malah tidak memberi kesaksian / teladan yang baik di dalam kehidupan bersama orang lain. Bagaimana pandangan yang sebaik-baiknya dalam penghayatan Anda?
  2. Apakah syarat-syarat yang sebaiknya kita penuhi, agar keluarga-keluarga (suami-isteri) orang percaya terus-menerus berada di bawah payung Kerajaan Allah?
  3. Apakah yang ingin lebih Anda doakan sebagai suami?
  4. Apakah yang ingin lebih Anda doakan sebagai isteri?
  5. Apakah yang ingin lebih Anda doakan sebagai anak terhadap ayah dan ibu Anda?

 

Refleksi

Injil Matius 6: 33 memberi nasihat abadi yang sangat jelas: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Hanya kalau perjuangan kita mempunyai prioritas (apa yang paling penting), maka keluarga kita lestari terberkati. Gelombang dan prahara bisa saja begitu dahsyat dan berbahaya bagi biduk keluarga kita yang kecil. Semogalah perjalanan biduk-biduk keluarga kita lestari terberkati oleh Tuhan yang merancang dan mempersatukan suami-isteri.

Suwignyo

—-

PEBRUARI 2015  (I)

Bacaan            : Yesaya 40: 21-31
Tema Bulan    : Berbahagiah yang sedih.
Tema PA         : Allah yang tak tertandingi .

 

Pengantar

Tiga bagian nubuat yang tertulis dalam ay. 12-31 mengikuti secara wajar pernyataan “lihat itu Allahmu” dalam ay. 9. Dalam bait pertama (ay. 12-17) diajukan pertanyaan-pertanyaan retoris yang mengingatkan pada Ayub 38: 41, jawabannya implisit ialah bahwa Yahwe saja yang menciptakan dunia ini. Bangsa-bangsa di dunia ini bukanlah apa-apa di hadapan Allah, karena seluruh bumi ada di tangan-Nya.

Bait kedua (ay. 18-24) dimulai dengan pertanyaan retoris yang lain: dengan siapakah Allah dapat dibandingkan? Yesaya mengejek para pembuat patung, seperti akan ia lakukan dengan panjang lebar dalam pasal 44. Pertanyaannya: “Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar?” (40: 21). Apa yang telah dikatakan sejak permulaan adalah kekuasaan Allah yang membuat para pangeran tidak berdaya dan membuat para pemimpin tidak berguna (40: 23), bdk. Maz. 107). Kemampuan Yahweh (Yehuwah) untuk mengalahkan orang Babel adalah kenyataan bahwa Yahwehlah yang menciptakan bumi, seperti telah lama diyakini demikian dalam ibadah di Yerusalem (misalnya Mzm.  93, 95).

Bait yang ketiga, bentuknya sangat mirip dengan bait yang kedua. Pertanyaan pembukaan: “dengan siapa hendak kamu samakan Aku?” (40: 25), diikuti dengan perintah untuk memandang kepada bintang-bintang, yang sering disembah sebagai ilah oleh orang-orang Babel. Nabi mempunyai keyakinan umum bahwa bintang-bintang adalah penghuni sorgawi yang adikodrati, tetapi menekankan bahwa mereka tunduk kepada Yahweh, yang mengatur mereka. Dalam hal ini, nabi secara langsung memarahi orang-orang Israel yang putus asa karena merasa ditinggalkan oleh Allah mereka. Bagian kedua dari bait ini: “tidakkah kamu tahu, tidakkah kamu dengar?”, menjawab secara langsung keputusasaan mereka. Sang Pencipta adalah kekal. Allah adalah sumber kekuatan bagi yang meperhatikan kehendak ilahi. Pengharapan tidaklah mudah bagi orang Yahudi dalam pembuangan. Itu hanya mungkin bagi mereka yang percaya secara mendalam, bahwa Allah mereka adalah Allah yang Mahatinggi.

Pertanyaan untuk digumuli

  1. Bagaimanakah bentuk penghiburan yang dapat kita peroleh apabila kita mendapatkan musibah atau bencana yang menimpa hidup kita?
  2. Bagaimanakah Gereja memberikan bentuk penghiburan kepada yang susah dan sedih?

 

 Didik

  —

PEBRUARI 2015 (II)

 

Bacaan             : 1Petrus 3: 13-24
Tema Bulan    : Berbahagiah yang sedih.
Tema PA         : Kesabaran Kristen.

 

Pengantar

Perikop ini dalam konteks dekatnya diambil dari bagian yang berbicara tentang kesabaran Kristen dalam menghadapi penganiayaan (1Petrus 3: 13-22).

Pertama, ditekankan bahwa dalam penganiayaan yang menimpa, orang tidak boleh putus harapan. Bahkan orang masih harus bertanggung jawab di dalam penderitaan (ay. 14-15). Dalam situasi seperti itu orang tidak boleh berhenti berbuat kebaikan (ay. 16), di sanalah orang tetap melaksanakan kehendak Allah (ay. 17). Dasar dari pengharapan tersebut dinyatakan dalam bagian kedua (ay. 18-22). Kristus menjadi pengikat dan teladan janji pembaptisan. Kristus sendiri menjadi “korban” penderitaan (ay. 18). Penderitaan itu merupakan kesaksian pemberitaan-Nya (ay. 19-20). Ia berani berkorban habis-habisan, karena kasih Allah memang layak dibela habis-habisan.

Maka orang yang mengikuti Yesus dan dinyatakan dalam “pembaptisan” juga menerima nasib yang sama, yaitu ikut menderita bersama-sama Kristus. Tetapi juga untuk kemuliaan bersama-sama dengan-Nya (ay 22).

 

Maksud Pemberitaan

  • Penderitaan dan kesengsaraan di dalam hidup manusia tetap ada. Hanya tergantung dari sikap manusia dalam menghadapi penderitaan dan kesengsaraan itu yang menentukan nilai hidup manusia yang menderita dan sengsara. Kristus dijadikan pola sikap Kristen. Sikap itu juga dilukiskan dengan kata-kata. Yesaya 53: 5-9, Kristus mau menderita untuk menghantar manusia kepada Allah yang menjadi sumber kehidupan. Yohanes mencatat sikap Kristen itu dengan kata-kata yang lain lagi: “Bila biji gandum tidak jatuh di tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi bila ia mati, ia menghasilkan buah” (Yohanes 12: 24). Penderitaan dan kesengsaraan dapat menyuburkan hidup manusia.
  • Kekuatan sikap Kristus itu paling nampak dalam menerima kematian-Nya. Kematian Kristus adalah kematian seorang martir atau seorang saksi.  Itu membawa berita bahwa kematian-Nya bukan akhir kehidupan, melainkan awal dari kehidupan rohani. Dengan demikian Kristus membawa berita baru dalam kematian: Allah tetap mencintai manusia dalam kematianNya, maka tidak membiarkan manusia hilang lenyap, putus asa.
  • Peristiwa air bah yang dulu dialami oleh Nuh sekeluarga merupakan prespektif yang baru bagi keluarga. Mereka akhirnya bisa bebas dari air bah, di atas air. Gambaran ini digunakan untuk menjelaskan bahwa orang Kristen diselamatkan di dalam air baptisan. Orang Kristen, berkat air masuk dalam bahtera keselamatan yaitu Gereja.
  • Bahtera kayu Nuh menyelamatkan. Kristus juga menyelamatkan lewat kayu, yaitu kayu salib. Di kayu itulah Yesus menunjukkan ketataan-Nya kepada Sang Bapa. Dalam kesengsaraan, orang Kristen seharusnya juga mampu menunjukkan ketaatannya secara penuh kepada kehendak Sang Bapa. Masa Prapaskah justru merenungkan nilai-nilai kesengsaaran yang dialami manusia dalam hidupnya.

 

Pertanyaan untuk digumuli

  1. Seorang Kristen harus mengikuti Kristus sebagai pemenang. Menurut anda, sikap yang bagaimana yang harus ditunjukkan bahwa seorang Kristen sebagai pemenang!

 

Didik

One Comment »

  • Muryo Djajadi said:

    terima kasih, sudah menampilkan matery PA. menjadi amat baik bila penampilan PA secara rutin setiap bulan langsung dua matery. Tuhan memberkati

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.