Quo Vadis Media GKJW?
Hingga usai memasuki bulan kelima ini, pembaca Majalah DUTA (dan RIA) khususnya, merasa bingung, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kedua media GKJW itu tidak bisa terbit di tahun 2009. Memang mereka telah menerima surat pemberitahuan dari MA No. 444/VII/12/2008 tertanggal 19 Desember 2008. Di sana tertulis, “Sehubungan dengan keputusan Sidang MA GKJW ke-99/2008 yang menugasi PHMA untuk mengkaji ulang keberadaan Majalah DUTA dan RIA, maka mulai bulan Januari 2009, Majalah DUTA dan Majalah RIA tidak terbit lagi sampai ada keputusan lain dari Majelis Agung GKJW.”
Tidak disebutkan dengan jelas hal apa atau pertimbangan apa yang menjadi dasar pengambilan keputusan tersebut. Begitupun langkah berikutnya (solusi) yang akan diambil sehubungan penghentian penerbitan kedua media tersebut. Oleh karena itu pertanyaan semacam, “Mas, kenapa DUTA kok ndak terbit?“, atau “Bagaimana kelanjutan DUTA?” masih saja kami terima hingga pertengahan Mei lalu. Bahkan diskusi-diskusi di mailing list yahoogroups dan situs jejaring sosial Facebook juga mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan serupa.
Dari beberapa masukan -kalaupun tidak tepat, dipersilahkan memberi tanggapan- sebetulnya hasil keputusan Sidang MA ke-99/2008 tetap memutuskan untuk menerbitkan Majalah DUTA dan RIA pada 2009. Memang, kedua terbitan ini dijadikan sebagai sarana uji coba proyek ‘kemandirian’ atas terbitan-terbitan GKJW yang lain, semacam Suluh, Bintang Timur dan lain-lain. Dengan kata lain, Majalah DUTA dan RIA tetap eksis di tahun 2009. Tetapi kenyataannya, PHMA kemudian memutuskan hal yang lain. Dengan alasan “kemandirian”, lantas “mencabut PKT” Majalah DUTA dan RIA sebagaimana yang sudah terbundel bersama Badan Pembantu Majelis Agung (BPMA) yang lain. Kami mepertanyakan keputusan mana yang lebih tinggi tingkatannya, hasil keputusan Sidang MA atau keputusan PHMA?
Selain itu ada hal yang barangkali jauh lebih penting bagi kami yaitu bagaimana para pelayan GKJW melihat pelayanan melalui media ini. Hingga tulisan ini dibuat, kami belum mendapatkan jawaban memuaskan atas hal ini. Tanpa mengecilkan arti dan bentuk-bentuk pelayanan yang lain, kami menganalogikan begini. Tidak bisa terbayangkan seandainya para penulis -dan penyalin Kitab Suci- itu tidak pernah ada. Mereka mendedikasikan diri dan hidupnya; mencatat [tentu, secara iman, kita menyakini bahwa hal itu bisa terjadi juga karena adanya pengilhaman Roh Kudus] peristiwa-peristiwa bersejarah itu, agar kelak dapat dipakai sebagai sarana pembelajaran bagi generasi-genarasi selanjutnya.
Demikian halnya, spirit yang sama itu terjadi pada sesepuh kita di tahun 1935. Mereka berjerih lelah, mengupayakan adanya sebuah media di kalangan Pasamuwan-Pasamuwan Kristen Djawi ing Tanah Djawi Wetan. Secara tersirat -minimal kami menangkap gagasan itu- mereka memiliki sebuah ‘visi dan misi’ yang sama. Sebuah cara pandang, keinginan, dan harapan yang bermuara pada titik yang sama. Perlu ada sebuah media sebagai salah satu sarana pewartaan/pembinaan iman, informasi serta komunikasi di antara warga dan jemaat.
Hal ini bisa dibaca dari bagian awal Serat Woelanan DOETA edisi perdana, Oktober 1935. Tertulis antara lain demikian, “…. Pramila ingkang koela saosaken ngiras dados seksinipun badan koela, poenika inggih isi pirantos-pirantos ingkang goenanipun kangge ngijataken tekad pandjenengan ing salebetipoen penggajoeh moerih saja raketipoen patoenggilan, poenapa dene tekad sedija ngelar djadjahaning keratonipoen Goesti Jesoes Kristoes. …”
Hal ini diulang kembali pada edisi No 5, Februari 1936. Pernyataan itu berbunyi, “…. Manoet ada-ada Madjelis Agoeng anggenipoen angwontenaken serat kabar poenika, soepados dadosa pirantos anenangi dateng gesanging manah Kristen, anggijataken tangsoeling pasaderekan toewin samboeng-raketipoen Pasamoean ing ngrika-ngriki, karana sami pikantoek wartos bab bingah-soesahing saderekipoen ingkang sami noenggil pangadjeng-adjeng. …”
Pada zaman pra kemerdekaan ini, jelas sekali tujuannya, mengapa GKJW ingin memiliki media sendiri. Berikut kutipannya, termuat pada edisi terakhir di tahun pertama (No 12, September 1936). “…. Doeh para saderek ! Ing djaman enggal poenika menawi kita boten maos serat kabar, tamtoe kapedjahan wawasan. Gredja Kristen Djawi [Wetan] betah sanget anggadahi serat kabar ingkang mitajani. Ingkang poenika, jen Gredja Kristen Djawi Wetan kepengin gadah kalawarti sae toer kijat, soewawi toemandang. …”
***
Sebelum melangkah lebih jauh, sebenarnya Akta Sidang No. VII/1935 tentang penerbitan media GKJW, yang kemudian disepakati bernama DOETA (dibaca duto), yang semestinya sebagai bahan rujukan. Namun karena faktor kesulitan pencarian data, mungkin dengan lembar-lembar sejarah ini kita juga bisa menemukan cercahan hikmat.
Hal ini sebenarnya juga menjadi masalah besar bagi kita. Kita tak terlalu hirau pada yang namanya sejarah. Entahlah, seakan kita tak mau dan tak mampu belajar darinya. Namun, satu yang pasti adalah bahwa media GKJW merupakan milik kita bersama. Bukan sekelompok orang atau golongan tertentu. Maju mundurnya juga tergantung pada kita sendiri.
Sebagai penutup, mungkin peringatan ini juga dapat menjadi bahan refleksi bersama. “…. Sarehne Doeta poenika serat kabaripoen Gredja Kristen Tanah Djawi Wetan ingkang toedjoenipoen boten bade ngoepados kaoentoengan ingkang awoedjoed jatra, kadjawi moerih kabangoening kabatosan Kristen, pramila ingkang wadjib mitoeloengi dateng toemindakipoen Doeta soepados saja madjeng lan angsal manahipoen saderek Pasamoean Oemoem, poenika boten ngamingaken para Correspondent lan para Agent, ananging ingkang langkoeng roemaket malih inggih poenika para Palados lan para Panoentoen, katerang-terangaken wonten ing saben pakempalan, padjagongan l.s.s. ….” (kutipan Serat Woelanan DOETA edisi No. 5, Februari 1936)
Bagi kami, ‘kesatuan hati’ semacam itulah, minimal sebagai langkah awal, hal yang bisa dilakukan, sebelum melangkah lebih jauh pada ‘proyek penghidupan kembali’ media GKJW. Mengapa demikian? Sebab selama ini secara realita, media GKJW sendiri justru amat terbatas pengenalannya. Gambaran umum, GKJW sudah memiliki 154 jemaat, warganya berjumlah sekitar 130.000. Berapa jumlah cetakan Majalah DUTA dan RIA? Hanya berkisar 1.850 dan 1.300 eksemplar. Nah, silakan hitung sendiri perbandingannya! Lalu, cek juga di jemaat masing-masing. Siapa saja yang berlangganan (dan yang membayar)? Lebih banyak mana, anggota majelis atau warganya? Lantas, apa artinya slogan yang tertera di bawah logo nama DUTA yang tertulis, “Memperluas Cakrawala Warga”?
***
Pertanyaan mendasar mengapa langkah media GKJW tidak bisa berjalan sebagaimana semestinya, perlu dijawab dengan sebuah persoalan yang paling dasar juga. Bagi kami, salah satunya adalah kita belum memiliki ‘visi dan misi’ yang sama, untuk kemudian dikerjakan secara bersama-sama. Kebanggaan dan rasa cinta terhadap media gereja sendiri, belum menyentuh pada “titik rasa” yang sama.
Jika sarasa itu ada, wis nyantol ning ati, tak akan mungkin apa yang kita miliki dan kembangkan itu -bukan cuma media, tapi pada banyak hal lain, seperti lembaga pendidikan dan kesehatan atau apapun yang lain- bakalan mundur apalagi mati!
Kita tentunya akan memperjuangkan dan mengupayakan secara bersama-sama, entah bagaimana caranya (yang tentu dilandasi pada iman dan percaya akan pertolongan yang daripadaNya).
Mari sehati dan sepikir, satu jiwa-satu tujuan dalam berkarya bagi Tuhan, dalam wadah yang sama di Greja Kristen Jawi Wetan.
SOLI CHRISTO DEO GLORIA
Hendra Setiawan & Wahyu Krisdiantoro
*) masih tercatat di redaksi Majalah DUTA periode daur 2005-?
e-mail artikel ini



(4.5 out of 5)
majalah duta memang sudah tamat
tapi kan ada versi onlinenya tho … ya tho …ya tho …ya tho …
29 June 2009 at 8:28 am