Punakawan Meriahkan Operet Natal di GKJW
SURABAYA - Jenaka, tapi tak mengurangi nuansa religius. Itulah acara kebaktian perayaan Natal di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Surabaya, Jalan Prof Dr Moestopo 25-27, Surabaya, tadi malam. Tokoh wayang Jawa Punakawan yang terdiri atas Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dihadirkan untuk memeriahkan Operet Natal yang dimulai sejak pukul 18.30 itu.
Gembala Gereja GKJW Pendeta Sri Hadijanto menyatakan, operet yang ditampilkan tadi malam bertema Hiduplah dalam Perdamaian dengan Semua Orang. Menurut dia, tema tersebut mengisahkan cerita klasik pemaknaan kelahiran Yesus ke dunia, namun dengan setting masyarakat Jawa.
”Sebagai gereja yang tumbuh dalam adat Jawa, GKJW ingin selalu melestarikan budaya. Kami ingin umat tidak melupakan tradisi dan budaya mereka,” jelas pria yang akrab disapa Sri Hadi tersebut.
Karena itulah, tokoh Punakawan yang merupakan ikon budaya dihadirkan untuk membawakan makna Natal. Meski tidak berhubungan langsung dengan kelahiran Yesus, keempat tokoh tersebut dianggap mewakili orang Jawa sebagai salah satu umat-Nya.
Sri Hadi menjelaskan, Operet Natal tersebut menceritakan suasana menyambut Natal di sebuah kota. Uniknya, warga kota tersebut memiliki konflik dan pergulatan batin sendiri-sendiri. ”Ada yang hamil muda, ada yang pemabuk, juga ada Pak Slamet yang merupakan tokoh pendamai dalam operet itu,” ungkapnya.
Kondisi tersebut sesuai realita sosial akhir-akhir ini. Masyarakat hampir selalu terkekang dalam ketegangan dan kecenderungan untuk mementingkan diri serta kelompok sendiri. ”Peristiwa Natal mampu menjadi petunjuk bagi mereka yang rindu untuk hidup damai. Damai dengan semua orang, bukan hanya dengan sesama umat Kristen,” tegasnya.
Dalam kebaktian tadi malam, Pendeta Sri tidak memberikan khotbah secara langsung seperti kebaktian-kebaktian biasanya. Dia justru ikut berperan dalam Operet Natal. ”Tidak apa-apa. Toh, saya tetap menjadi pendeta dalam operet itu, meski hanya lima menit terakhir,” ujarnya lantas tersenyum.
Menurut Sekretaris Gereja GKJW Surabaya Bowo Mulyono Hadi, operet kali ini merupakan gabungan lima wilayah warga anggota gereja GKJW Surabaya. ”Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang setiap wilayah selalu menampilkan kesenian masing-masing. Tahun ini, kami menggabungkannya dengan tujuan mempererat rasa persatuan dari setiap umat,” jelasnya.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh umat untuk menjadi pendamai adalah mengakui segala kesalahan yang pernah dilakukan serta memohon maaf. ”Pesan itulah yang ditekankan kepada umat,” ujarnya.
Kehadiran para Punakawan tersebut mampu menghidupkan suasana yang memang sudah terbangun dengan baik. Tidak jarang para jemaat yang hadir tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah mereka. ”Kali pertama keluar saja sudah terlihat lucu,” kata Mulyono Nugroho, salah seorang jemaat GKJW. (dan/fat)
Sumber: Jawa Pos
e-mail artikel ini




(4.5 out of 5)
Have your say!