Categories:

Persembahan Persepuluhan

Beberapa waktu yang lalu saya telah menulis secara ringkas tentang persembahan. Dengan tulisan itu diharapkan setidaknya kita memiliki dasar untuk menjawab pergumulan tentang persembahan. Namun agaknya tulisan itu belum cukup, sehingga ada beberapa saudara yang mendesak saya untuk menulis secara khusus tentang persembahan persepuluhan. Untuk menghormati dan menghargai permintaan itu, maka saya berusaha menyampaikan pemahaman saya tentang persembahan persepuluhan dibawah ini.

Saya akan mengawali tulisan ini dengan menyampaikan pemahaman tentang persembahan persepuluhan yang saya ambil dari beberapa buku dan beberapa situs di internet. Dari situ diharapkan kita memiliki pengetahuan bahwa pemahaman tentang persembahan persepuluhan ternyata amat beragam.

1. J. Karuniadi dalam bukunya yang berjudul “Persembahan Persepuluhan” menyampaikan pemahamannya tentang persembahan persepuluhan antara lain sebagai berikut:

2. Pdt. Yacobus Handjojo Wijaya dalam bukunya “Perpuluhan” menyampaikan hal-hal berikut:

3. Larry Burkett dalam bukunya “Persembahan dan Persepuluhan” menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

4. Berikut ini disampaikan pemahaman tentang persembahan persepuluhan yang saya ambilkan dari internet (Catatan : di internet banyak sekali karangan tentang persembahan persepuluhan, tidak hanya puluhan tetapi ratusan karangan). Saya tidak sanggup membaca semua karangan, saya hanya menyampaikan beberapa saja. Saya mulai dari karangan dr. Charles Stanley (www.maleakhi.com) “Mengapa Persepuluhan itu penting?” yang menyampaikan a.l. sebagai berikut:

5. Herlianto dalam tulisannya (di www.yabina.org) “Persepuluhan?” menyampaikan pendapat sebagai berikut:

6. Karangan berjudul “Sepuluh Persen Saja?” dalam http://wancil.singcat.com menyampaikan pemahamannya sbb.:

Dari beberapa cuplikan dari berbagai karangan di atas, setidaknya kita menemukan 3 pemahaman tentang persembahan persepuluhan, yakni:

  1. Persembahan persepuluhan harus, mutlak, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang, dan wajib hukumnya. Melanggar ketentuan ini akan mengakibatkan hidup tidak terberkati. Biasanya landasan Alkitab yang dipakai adalah Maleakhi 3.
  2. Persembahan persepuluhan itu patokan minimal. Bila bisa mempersembahkan lebih dari sepersepuluh, mengapa tidak! Misalnya 15% dari penghasilan. Itupun belum termasuk persembahan lainnya, misalnya: ibadat Minggu, ucapan syukur, dll.
  3. Persembahan persepuluhan tidak mengikat kita lagi karena Yesus Kristus telah menebus dosa-dosa kita. Bahkan kalau kita masih memiliki pemahaman bahwa dengan memberikan persembahan persepuluhan maka hidup kiita akan terberkati, maka sebenarnya kita telah meremehkan karya penebusan oleh Yesus Kristus.

Masing – masing pendapat biasanya menyatakan diri sebagai yang paling benar, karena masing-masing memiliki dasar Alkitabnya. Menghadapi kenyataan ini, kita harus bagaimana?

Saya secara pribadi tidak memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa dari antara tiga pendapat di atas salah satunya adalah yang paling benar, walaupun masing-masing berpedoman pada Alkitab. Mengapa? Karena persembahan itu ditujukan untuk Tuhan. Hanya Tuhan yang berhak menilai atau menghakimi. Oleh karena itu saya tidak bisa -tidak mungkin- mewakili Tuhan untuk mengatakan bahwa pendapat nomor satu benar dan yang kedua dan ketiga salah, atau sebaliknya! Bandingkan dengan Kitab Kejadian 4 yang berisi cerita tentang persembahan oleh Kain dan Habil. Di pasal itu tidak ada penjelasan tentang mengapa persembahan Kain ditolak, sedangkan persembahan Habil diterima. Kalau demikian halnya, apakah itu berarti tidak ada pedoman untuk mengetahui apakah persembahan kita diterima atau ditolak oleh Tuhan?

Sebelum saya menanggapi pertanyaan di atas dan menjawab bagaimana sikap kita terhadap persembahan persepuluhan, kita perlu memperhatikan bagaimana Alkitab sendiri bersaksi tentang persembahan persepuluhan. Di bawah ini akan disampaikan beberapa kesaksian Perjanjian Lama tentang persembahan persepuluhan.

  1. Imamat 27:32, mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi Tuhan.
  2. Bilangan 18:21, mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan diantara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka. Pekerjaan pada Kemah pertemuan.
  3. Bilangan 18:24 sebab persembahan persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel kepada Tuhan sebagai persembahan khusus Kuberikan kepada orang Lewi sebagai milik pusakanya; itulah sebabnya Aku telah berfirman tentang mereka: “Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel.”
  4. Bilangan 18:26 “Lagi haruslah engkau berbicara kepada orang Lewi dan berkata kepada mereka: Apabila kamu menerima dari pihak orang Israel persembahan persepuluhan yang Kuberikan kepadamu dari pihak mereka sebagai milik pusakamu, maka haruslah kamu mempersembahkan sebagian dari padanya sebagai persembahan khusus kepada Tuhan, yakni persembahan persepuluhanmu dari persembahan persepuluhan itu…
  5. Ulangan 14:28, Pada akhir tiga tahun engkau harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya di dalam kotamu;
  6. II Tawarikh 31:5, Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar.
  7. Nehemia 10:38, Seorang imam, anak Harun, akan menyertai orang-orang Lewi itu, bila mereka memungut persembahan persepuluhan. Dan orang-orang Lewi itu akan membawa persembahan persepuluhan dari pada persembahan persepuluhan itu ke rumah Allah kami, ke bilik-bilik rumah perbendaharaan.
  8. Maleakhi 3:10, Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai kelimpahan.

Dari ayat-ayat di atas, setidaknya kita menemukan beberapa macam praktek persembahan persepuluhan, yaitu:

  1. Persembahan persepuluhan untuk Tuhan (Imamat 27:32, mohon pasal 27 dibaca secara keseluruhan). Untuk saat ini mereka yang memahami persembahan persepuluhan ditujukan untuk Tuhan, maka mereka akan menyerahkan persembahan persepuluhannya ke gereja atau Lembaga Pelayanan Kristen di mana mereka menjadi anggotanya. Gereja melalui majelis Jemaatlah yang akan mengatur penggunaannya. Mereka tidak mau menyerahkan persembahan persepuluhan untuk pribadi pendeta atau tenaga gereja lainnya.
  2. Persembahan persepuluhan untuk manusia (dalam hal ini untuk kebutuhan hidup suku Lewi dan para imam, lihat Bilangan 18:24, dan banyak sekali ayat lainnya). Untuk saat ini bagi mereka yang memahami persembahan persepuluhan ditujukan untuk manusia, maka mereka akan menyerahkan persembahna persepuluhan kepada pribadi pendeta atau tenaga gereja lainnya. Mereka tidak mau menyerahkan persembahan persepuluhan ke Majelis Jemaat atau bendahara gereja, karena diimani akan melanggar perintah Tuhan.
  3. Persembahan persepuluhan setiap tahun ketiga (Ulangan 14:28). Dari ayat ini menjadi lebih jelas bahwa persembahan persepuluhan pada waktu itu ada aturannya. Misalnya: persembahan persepuluhan pada tahun pertama dan kedua dibawa ke Bait Suci untuk dinikmati bersama, sedangkan persembahan persepuluhan pada tahun ketiga tidak dibawa ke Bait Suci, tetapi masing-masing keluarga memberikannya kepada orang-orang miskin di sekitar tempat tinggalnya.
  4. Persembahan persepuluhan diterima sebagai pilihan antara berkat dan hukuman (Maleakhi 3:10). Mereka yang mendasarkan diri pada pemahaman hurufiah ayat ini cenderung selalu meyakini bahwa semakin diberkati. Gereja yang mempraktekkan persembahan persepuluhan secara disiplin, maka gereja itu akan “diberkati” (dalam arti tidak akan kekurangan dana). Bila tidak, maka akan terjadi sebaliknya.

Dari kutipan yang diambilkan hanya dari beberapa ayat di Alkitab sudah bisa kita temukan beberapa perbedaan pemahaman dan praktek tentang persembahan persepuluhan, belum lagi kalau kita mau menghubungkan persembahan persepuluhan dengan -misalnya- pelaksanaan tahun Yobel (tahun pembebasan), tentu akan lebih rumit lagi. Dengan demikian jelas bahwa persembahan persepuluhan ternyata ada bermacam-macam.

Bagaimana Sikap Kita?

1. Secara penghayatan iman (teologi) GKJW termasuk dalam lingkaran tradisi teologia Calvinis. Salah satu ciri khas teologia Calvinis adalah memahami Kitab Suci secara kontekstual (tidak ayat per ayat). Dalam gereja yang bercorak Calvinis jarang sekali ada diskusi khusus tentang persembahan persepuluhan. Karena memang dalam tradisi teologia Calvinis tidak pernah mengambil satu ayat di Kitab Suci menjadi pokok dogmatika. Kalau satu ayat lalu dijadikan pokok dogmatika akan sangat berbahaya, membingungkan, dan bahkan bisa mengacaukan kehidupan bersama. Sekedar contoh, kita ambil satu ayat dari Injil Matius 18:21-22. Kalau kita mengartikan ayat ini secara hurufiah sebagai kebenaran yang tidak bisa diartikan lain, maka setiap orang Kristen harus mengampuni mereka yang bersalah kepadanya sebanyak 490 kali, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang, sebab ini adalah perintah Tuhan Yesus sendiri! Padahal di bagian lain Tuhan Yesus ketika berhadapan dengan seorang wanita yang berbuat zinah hanya mengatakan “Aku pun tidak menghukum engkau!” (Yoh 8).

Bukti bahwa gereja yang bercorak calvinis tidak memberi perhatian khusus pada persembahan persepuluhan dapat dilihat pada data berikut ini . Pada tahun 2003 di GKJW Jemaat Waru ditemukan data tentang persembahan persepuluhan sebagai berikut:

a) Ada 4 (empat) orang dengan inisial tya, ats, gama3 dan grd yang secara disiplin (hampir setiap bulan) menyerahkan persembahan persepuluhan dengan jumlah berkisar antara Rp. 50.000; – Rp. 420.000;. Berarti rata-rata penghasilan lebih-kurang 3 juta rupiah/bulan.

b) Ada satu NN (tanpa diketahui dari wilayah berapa) yang menyerahkan persembahan persepuluhan dengan jumlahnya antara Rp. 50.000; – Rp. 600.000;

c) Ada beberapa NN dan nama-nama tertentu yang menyerahkan persembahan persepuluhan tetapi tidak rutin (setahun kadang dua atau tiga kali saja, maksimal 6 kali) dengan jumlah yang bervariasi antara Rp. 1.000; – Rp. 500.000;

Catatan: Pernah ada satu kali persembahan persepuluhan sebesar Rp. 1.336.000,-.

Dari data tahun 2003 di atas dapat disimpulkan: a) Warga jemaat yang secara ajeg mempraktekkan persembahan persepuluhan jumlahnya sangat sedikit, hanya 4 (empat) orang dari 570 keluarga (dibawah 1%); b) Agaknya ada pemahaman yang keliru tentang persembahan persepuluhan. Ada yang memahami persembahan persepuluhan sebagai persembahan yang diambilkan sepersepuluh dari penghasilan ekstra, bukan penghasilan rutin. Misalnya seseorang mendapatkan bonus dari tempat kerjanya 10 juta, maka satu juta (sepersepuluh) diserahkan ke gereja, dan itu dipahami sebagai persembahan persepuluhan, padahal itu sebenarnya persembahan syukur. c) Baru warga jemaat yang penghasilannya sekitar 3 juta rupiah/bulan ke bawah yang mempraktekkan persembahan persepuluhan.

Data tahun 2004 tidak berbeda jauh dengan data tahun 2003, hanya ada beberapa tambahan (NN), dan yang berinisial: HN, DPH. Sedangkan data tahun 2005 (Januari-Maret) menunjukkan perubahan dengan semakin banyaknya warga jemaat (NN) yang menyerahkan persembahan persepuluhan dengan jumlah persembahan berkisar antara Rp. 5.000; – Rp. 400.000;. Dan semakin banyak warga jemaat dengan inisial tertentu yang menyerahkan persembahan persepuluhan: TYA, GRD, GAMA3, HN, ET, YK, LDS, WD, WM, DNG, PR, LGI, SG, VMMCS, MM, TP-1, DVN, DR, WA, JAB, AEXZ, Cah Kunjang, 3006, 3030, 3045, dsb. Jumlah yang dipersembahkan berkisar antara Rp. 15.000; – Rp. 1.150.000;.

Catatan:

2. Kitab Maleakhi 3 (ayat 10 khususnya) yang sering dijadikan dasar oleh aliran tertentu sebagai cara mempersembahkan yang paling benar, justru sebenarnya tidak tepat! Mengapa? Setidaknya ada beberapa alasan:

3. Kalau begitu, apakah saat ini menyerahkan persembahan persepuluhan itu salah? Menyerahkan Persembahan sepersepuluh dari penghasilan itu boleh bahkan amat baik kita lakukan, asal dengan motivasi yang baik, yaitu: a) untuk mengucap syukur secara teratur atas kasih dan berkat keselamatan dari Tuhan yesus Kristus; b) untuk melatih diri agar kerohanian kita semakin baik dan tidak menempatkan harta-uang sebagai yang utama dalam hidup (mengikis sifat egoisme – materialisme). c) tidak menjadikan angka sepersepuluh sebagai hukum mutlak! Namun demikian menyerahkan persembahan sepersepuluh dari penghasilan bisa saja salah kalau motivasinya tidak benar, misalnya: a) menganggap itu sebagai persembahan yang paling benar; b) ditujukan untuk mendapatkan berkat berlimpah; c) takut kalau tidak memperoleh berkat! Kalau ini yang terjadi, maka sebenarnya persembahan itu arahnya kepada diri sendiri, bukan kepada Tuhan.


Catatan-catatan praktis

  1. Persembahan itu bukan “sesajen”. Persembahan Kristen itu murni sebagai ungkapan rasa syukur atas berkat dan kasih keselamatan dari Tuhan, jadi motivasinya semata-mata ingin mengungkapkan rasa syukur. Beda dengan sesajen yang senantiasa diiringi dengan permintaan-permintaan tertentu. Sedangkan dalam doa kita bisa menyampaikan segala macam permohonan kita, sejauh permohonan itu tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan.
  2. Untuk saat ini yang disebut dengan istilah persembahan persepuluhan hakekatnya sama dengan persembahan bulanan. Jadi warga jemaat yang telah menyerahkan persembahan persepuluhan, mestinya tidak perlu lagi mengisi persembahan bulanan.
  3. Saya pribadi menyatakan penghargaan yang amat tinggi kepada warga jemaat yang dengan motivasi yang benar telah mampu mempraktekkan persembahan sebesar sepersepuluh dari penghasilannya setiap bulan atau setiap mendapatkan penghasilan. Penghargaan itu disampaikan bukan karena gereja memiliki semakin banyak uang, melainkan karena semangat hidup saudara yang tidak mau jatuh dalam kerakusan dan mendewakan uang. Semoga kemurahan hati yang telah tumbuh itu menjadi sarana bagi Saudara untuk semakin melihat bahwa keindahan dan kebahagiaan hidup itu memang tidak ditentukan oleh uang. H Nadesul menulis sebagai berikut, “Riset membuktikan uang telah gagal mengatrol kebahagiaan. Studi sejak tahun 1950-an mengungkapkan, kebahagiaan tidak bertambah dengan uang yang bertambah. Tak ada batas tertinggi berapa kecukupan itu. Sayang banyak orang lupa, tidak semua bisa dibeli dengan uang…Semakin banyak orang di dunia kena penyakit tak bermakna (neurosis noogenic)” – Kompas, 13 April 2005 halaman 5 dengan judul ‘Tikus Juga Doyan Uang’. Perhatikan pula kitab Pengkhotbah 5: 9-10.
  4. Penghargaan yang tulus juga saya tujukan kepada warga jemaat yang dengan penuh kesungguhan dan ketulusan hati berupaya dan mempraktekkan memberikan persembahan dengan sebaik-baiknya. Bagi saya, jumlah tidak menjadi soal, entah 1%, 2% atau berapa pun dari penghasilan, yang paling penting adalah semuanya kita serahkan dengan hati dan sikap hidup yang memuji dan memuliakan Tuhan. Gereja bukan tempat untuk mengumpulkan uang, tetapi sebagai sarana untuk menghayati dan memberlakukan kehendak Kristus dengan sebaik-baiknya.
  5. Bagi warga jemaat yang telah secara ajeg menyerahkan persembahan persepuluhan disarankan untuk mempertahankan semangat itu, dengan catatan: yagn ada didalam hatinya bukan keinginan untuk mendapatkan pengembalian berkat materi berlipat, tetapi benar-benar sebagai ungkapan rasa syukur!
  6. Ada banyak warga jemaat -yang saya tahu- telah memberikan persembahan yang nilainya tidak bisa diukur dengan uang, misalnya: waktu, tenaga, pikiran, kesetiaan.
  7. Pranata GKJW menyatakan bahwa setiap warga dewasa (sudah sidhi) mempunyai kewajiban dan tanggungjawab untuk turut memikul kebutuhan gereja, dan hal ini antara lain diwujudkan dengan memberikan persembahan bulanan. Bagi warga jemaat tertentu mungkin tidak mudah menentukan kelayakan dalam mengisi persembahan bulanan. Supaya kita tidak mengisi persembahan bulanan ala kadarnya atau asal mengisi, barangkali pengalaman gereja di Belanda bisa dijadikan bahan pertimbangan . Gereja-gereja di Belanda mempunyai ketentuan umum untuk warga jemaat dewasa (sudah sidhi), yakni menyerahkan setidaknya 2% dari penghasilannya ke gereja. Tentu angka 2% tidak tinggi, tetapi itu bisa dipakai sebagai tahap awal untuk belajar memberikan persembahan secara sadar, teratur, dan bertanggungjawab. Biarlah dengan berjalannya waktu yang disertai pertumbuhan rohani kita, maka angka 2% bisa terus ditingkatkan sedikit demi sedikit. Semoga!

Related Posts

By Sumardiyono on 24/01/2009 · Posted in Featured


Author: Sumardiyono


14 Comments

micko gkjw caruban

jadi persembahan perpuluhan bukan termasuk kolekte mingguan ya
i see …

Posted on January 27th, 2009

sumarsono s.sos

Saya sangat salut dan sependapat dalam pemahaman tentang PERSEMBAHAN PERPULUHAN dan secara umum tentang pemahaman PERSEMBAHAN yang dikupas oleh Bpk. Pendeta Sumardiyono. Semoga semakin banyak Warga semakin paham dan semoga Jemaat Waru semakin maju didalam Iman khususnya didalam memahami tentang “PENTING”nya PERSEMBAHAN sebagai UCAPAN SYUKUR terlebih dapat membuat warga Jemaat selalu ingat akan “JANJI” KRISTUS kepada kita yang dapat membuat kita selalu mengucap SYUKUR…

Hallo Pak Pendeta saya tunggu topik berikutnya……..
TUHAN MEMBERKATI……!

Posted on February 11th, 2009

Pdt. Jonet Soedarmoko

makalah ini pernah dijadikan bahan studi pendeta, GI, dan vikar di MD Surabaya Timur I di Jemaat Rungkut…
ada beberapa hal tambahan yang dibahas dalam studi tersebut:
1. menurut Pdt. Bambang Margono, S.Th (Jemaat Rungkut), persembahan persepuluhan di GKJW itu sebenarnya telah lama ada, yakni saat dia masih kecil hidup di jemaat Mojowarno, setiap menjelang hari raya unduh-unduh selalu menyisihkan sepersepuluh dari hasil pertanian yang dikumpulkan, dan dipersembahkan pada saat hari raya unduh-unduh. Namun dalam perkembangannya di jemaat kota (Surabaya)yang tidak memiliki hasil pertanian, maka bapaknya pada waktu itu bertugas untuk menarik persembahan bulanan yang merupakan sepersepuluh dari penghasilan sebulan setiap warga gereja yang sudah berpenghasilan. Jadi persepuluhan di GKJW itu yang di desa dipersembahkan waktu unduh-unduh itu, dan di kota dipersembahkan dalam persembahan bulanan itu. (Mohon koreksi dari pak Bambang karena ini catatan saya pada waktu itu).
2. forum studi pendeta itu juga sepakat bahwa persepuluhan di GKJW dalam bentuk apapun, selama dipersembahkan ke gereja, dan tanpa motivasi yang dimaksud salah oleh pak Sumardiyono di atas, tetap diperbolehkan ada dan dikelola dengan baik sesuai dengan kehendak Tuhan.

Semoga penjelasan saya ini bisa menjadi pelengkap apa yang sudah dijelaskan pak Yon di atas.
Tuhan memberkati kita.

Pdt. Jonet Soedarmoko
Ketua KPT-D Surabaya Timur I.

Posted on February 11th, 2009

nurhayadi nuri

besarnya persembahan tidak ada korelasinya dengan besarnya iman…..besarnya iman bisa dibaca dari keputusan seseorang untuk memberikan besarnya persembahan……berapakah persembahan kita sebagai warga gereja mungkin kalah besar dari iuran organinsasi preman

Posted on March 16th, 2009

David Susanto

Saya tertarik untuk mengetahui lebih detil mengenai sejarah persepuluhan.
Dalam http://prayershack.freeservers.com/article_Tithing-and-Clergy-Salaries.html
Tithing and Clergy Salaries
by Frank Viola

Article copied exactly as printed from source:
http://www.ptmin.org/tithing.htm

Persepuluhan dihubungkan dengan clergy salary, ada sejarah yg mencatat bahwa pada masa gereja mula2 di abad pertama, praktek persepuluhan tidak ditekankan. Kemudian gereja pada abad 8 menjadikan persepuluhan sebagai peraturan yang wajib dilakukan oleh umat.

nah yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Sejak kapan gereja katolik pada akhirnya menghentikan praktek persepuluhan tsb dan bagaimana Gereja Katolik mencukupi kehidupan para romo, uskup, dan pelayan gerejawi lainnya
2. Sejak kapan gereja protestan menghidupkan kembali praktek persepuluhan ini dan apa yang melatar belakanginya?
Apa Bapak punya literatur yang membahas mengenai hal ini, mungkin ada konsili2/ketetapan2 yg ditetapkan oleh gereja.

Saya mengucapkan banyak terima kasih atas informasinya. Tuhan memberkati.

Posted on October 13th, 2009

Vanessa

Syaloom..

Saya sampai sekarang belum benar2 mengerti sepenuhnya tentang bagaimana menghitung perpuluhan yang benar. Yang saya ingin tanyakan adalah:

1. Setiap tgl/minggu ke berapa perpuluhan itu dibayarkan?
2. Sebagai pengusaha, bagaimana menghitung perpuluhan? apakah 10% dari omzet sebulan atau 10% dari untung bersih?
3. Lalu bagaimana jika ternyata dalam suatu bulan tidak mendapat untung bahkan malah merugi, bagaimana menghitung perpuluhannya?

Terima kasih sebelumnya dan Tuhan memberkati.

Posted on January 15th, 2010

Mr.Ceguk

berapapun jumlah persembahan,bagi saya tidak peduli 10%,20% atau apapun yg berhubungandengan matematika menurut pendapat saya tidak berlaku dihadapan Tuhan karena saya yakin dengan rumus 2 ikan dan 5 roti….,memamg tidak dipungkiri gereja sebagai organisasi tetap membutuhkan dana,karena tanpa itu…gereja tak bisa berjalan tapi kenapa mesti memilah perpuluhan atau bukan..yang terpenting “tulus” dan bagi saya sebagai warga biasa,kisah janda miskinlah yang patut kita teladani dan kita aplikasikan didalam hidup yang telah dianugrahkan kepada kita,,,,,amin

Posted on April 23rd, 2011

Mr.Ceguk

hanya 3 kategaori:
1. Kisah sang janda miskin
2. rumus 2 ikan + 5 roti
3. tulus

Posted on April 23rd, 2011

Peterus Tayu

Ibu Vanessa,

Menurut saya, persepuluhan dihitung dari gaji kotor (sebelum pajak) untuk karyawan dan keuntungan bersih bagi pengusaha.

Sedangkan saat memperhitungkan dan mempersembahkannya tergantung dari periode perhitungannya, misal jika karyawan bulanan maka dipersembahkan setiap bulan setelah terima gaji, jika pengusaha dipersembahkan setiap perhitungan akhir laba rugi usaha diketahui (bisa per bulan atau per proyek).

Tuhan memberkati.

Posted on August 19th, 2011

dias

Shalom..
Dulu saya selalu berpikir persembahan itu kan yang penting dilakukan dengan sukacita ( secara manusiawi kalau kehilangan banyak kan tidak sukacita toh? hehe…:() tahu artinya kan?..:)
saya baru belajar untuk memberikan perpuluhan, setelah beberapa minggu lalu ada PA mengenai masalah ini, dan setelah memberikan perpuluhan rasanya ada sukacita dan damai karena saya bisa belajar untuk melaksanakan perintah Tuhan, sudah jelas kok 10% anak SD juga sudah bisa menghitungnya, kalau saya karyawan ya berapa yang ada di slip gaji itu(gaji kotor) x 10% = perpuluhan,
mungkin untuk pengusaha omset x 10% = perpuluhan (mungkin yang lain bisa menambahkan)bukankah kalau jualan kita juga bayar PPN 10% ke pemerintah? ini mungkin juga berlaku sama untuk Tuhan:)
kalau petani, hasil panen x 10% = perpuluhan
gak perlu takut miskin, Tuhan kita kaya kok…tak akan Dia membiarkan kita kelaparan…
GBU all

Posted on June 17th, 2012

Danny

@dias, menambahkan saja, kalau 10% buat pengusaha itu bukan omzet kotor namun omzet bersih (setelah dikurangi harga modal), karena ada beberapa bisnis yang omzet bersihnya kurang dari 10% dari harga modal – contoh jualan grosir baju.

Saya mau tanya juga nih, apakah perpuluhan kita mesti diberikan semua ke gereja ?atau bisakah dibagi-bagi dengan yang lain ? contoh 5% gereja, 5% orang tua, dll

thx

Posted on March 4th, 2013

Singgih Prasetyo

@Danny

Yang tidak membolehkan anda membagi pendapatan anda sendiri siapa?
Kan tidak ada..

memberi memang mulia.. bahkan memberikan semua yang anda punya itu sangat mulia, tapi apa kebutuhan anda dan anak istri anda sudah anda penuhi… kalau belum ya malah anda akan dituntut oleh anak istri bukan?
Sepanjang anda sudah memenuhi kebutuhan dari orang-orang yang lahir dari pernikahan anda maka anda bebas memberikan kepada siapapun bahkan tidak hanya sepuluh persen melainkan 100% juga boleh dan anda menjadi seorang dermawan sejati

Posted on May 20th, 2013

de serano

Pertanyaan sdr David Susanto menarik, tetapi tidak di jawab.
1. Ada beberapa point yg dikatakan Herlianto di atas saya setuju. Bahwa kurban PL adalah kurban materi. Dengan tujuan penghapus dosa bagi imamnya, dan setelah bersih baru bisa menjadi perantara Allah dan manusia.
2. KURBAN KRISTUS adalah paripurna, kurban salib. Jadi bukan lagi kurban materi.
3. Allah bukan pemuas nafsu duniawi kita. Ada bahaya Kekakuasaan Allah yg disembah menjadi dikerdilkan. BERKAT ALLAH MELAMPAUI METERI, BERKAT TDK PERNAH SENDAT, berkat untuk siapapun. Entah yg kaya atau miskin semua diberkati. Maka logika kesaksian yg disebutkan oleh pendeta seakan-seakan persepuluhan bisa mengatasi masalah, bahkan menyembuhkan. Mohon ini dipahami secara benar sehingga tdk menjadi promosi dan show iman yg tdk masuk akal.Ada yg datang kerja pagi, ada yg siang, ada yg sore. Semua endapat bayaran sama. Dalm hal ini bukan mata duitan seperti org farisi ttp menunjukkan sebuah hadiah, anugerah dan belaskasih Allah.
4. Setiap kitab, PL dan PB ditutlis dlm tradisi dan konteks masing-masing. Kita tdk bisa menjadikan satu ayat atau perikop mjd dasar pembenaran persepuluhan.
5. Pertanyaan dlm GERJA KATOLIK oleh saudara David Susanto, bahwa perpecahan dalam Gerja Katolik awal salah satunya adl juga masalah uang. Luter protes masalah simone dan proses mdtpkan hak2 previlegi dari negara.
6. Dalam banyak hal, semua org pasti butuh uang, termasuk dlm gereja katolik. Dlm gereja katolik ada persembahan atau kolekte setiap kali ibadat. Ada juga iurastola, intensi syukur atau stipendium. Namun tidak menjadi sebuah keharusan atau ketergantungan, apalagi persepuluhan. Gereja dan umat beriman percaya bahwa keberlangsungan gereja adalah daya Roh Kudus yg tdk di uangkan.
7. Untuk kelangsungan hidup hamba Tuhan dibutuhkan uang, tetapi bagaimana proses mendapatkannya. Gereja perlu berbunid sehingga mdj mandiri secara financial, tdk ribut uang tp urus yg spiritual. Perlu keseimbangan.
Bagaimana menggunaksn uang sama dengan bgm kegunaan doa. Syalomm

Posted on June 30th, 2013

Waskitha

pernyataan de serano sangat menarik tetapi saya hanya ingin mengomentari pernyataan yang nomer 7 saja.

gereja tidak ribut uang tapi urus yang spiritual saja, tapi masalahnya apakah pendeta yang melayani ibadah itu sudah mantap secara finansial sehingga mereka mau tidak digaji? sepanjang pendetanya masih minta digaji ya gereja akan selalu ribut uang dong.. kan untuk bayar pendeta..

masalahnya akan lain bila yang mau masuk jadi pelayan gereja itu adalah orang yang sudah mandiri secara finansial (tidak nebeng hidup pada gereja)

sekedar bahan renungan untuk mejemen gereja dimasa depan

Posted on July 5th, 2013

Post Comment