Home » Headline

Pendeta Jadul (I)

Sumardiyono 18 January 2010 Headline 214 views 3 Commentse-mail artikel ini e-mail artikel ini

Beberapa tahun yang lalu seorang aktivis pemuda menyampaikan kepada saya, “Pak, sekarang kan jamannya IT. Kenapa jemaat kok tidak tergerak membuat situs sendiri, supaya kegiatan jemaat bisa diketahui oleh warga. Lagi pula sekarang ini kebanyakan warga sudah melek internet.” Saya menjawab, “Anda bisa membuat itu? Dijawab “Bisa Pak”. Saya katakan kepadanya, “Baiklah silakan Anda siapkan konsepnya lalu serahkan saya, akan saya bawa ke teman-teman PHMJ supaya direstui”, tapi segera saya menambahkan, “dengan catatan, ketika sudah punya situs sendiri, saya mensyaratkan setidaknya 2 minggu sekali atau sebulan sekali harus ada ulasan/ artikel yang baru dari lingkungan kita sendiri, bukan mengambil dari situs lain” ……dan setelah bertahun-tahun menunggu tak ada beritanya…..[saya sudah membayangkan betapa sulitnya memelihara rutinitas_yang sepi dari penilaian orang_ tetapi terus menerus melakukan aktivitas: ketekunan membaca, menggali informasi, lalu menuangkan kedalam tulisan...dan itu harus dilakukan secara rutin, bukan dengan busa-busa gagasan, yang banyak ide tetapi tak memiliki ketekunan, kesetiaan dan disiplin...ini persoalan besar yang seringkali tak disadari oleh anak muda yang gagasan dan pikirannya kritis, tetapi tak ditopang daya juang yang tahan banting!]

Pengalaman kedua. “Pak, kegiatan pemuda gereja kok begitu-begitu saja [band, persekutuan doa, kerja bakti]. Bukankah ada banyak tantangan yang kita hadapi. Misalnya hubungan antar umat, kerusakan lingkungan, kemiskinan, pengangguran” Lalu, apa yang baik menurut Anda?”, saya bertanya. Dijawab, “Bagaimana kalau kita bekerja sama dengan LSM. Setidaknya kita punya akses untuk mengerti lebih dalam masalah-masalah yang sedang dialami oleh bangsa ini, bisa Pak?” Saya jawab, “Boleh saja, asalkan sebelum kita merancang lebih jauh hal-hal itu, saya meminta anda bisa mengumpulkan sedikitnya 5 pemuda yang memiliki minat serius terhadap masalah-masalah aktual dan memiliki militansi untuk memperjuangkannya. Setelah itu kita tata bersama bagaimana kita akan melangkah”………sampai tulisan ini dibuat tak muncul yang saya nantikan……

***

pendeta jadulDua hal di atas menyebabkan memori masa muda saya muncul. Pada tahun 1976, saat saya masih siswa SMA saya bertanya kepada bapak saya (pendeta di Jateng), “Pak, kalau kegiatan gereja hanya kebaktian minggu, kunjungan-kunjungan, koor, bijbelkring /pemahaman alkitab dan tak ada kegiatan yang membangkitkan kerohanian pemuda, apa bisa bertahan 10- 20 tahun yang akan datang?” [tidak persis seperti itu yang saya sampaikan waktu itu, sudah lupa-lupa ingat, tetapi intinya seperti itu]. Jawab bapak waktu itu, “Yo, delokken bae, mengko” (ya, lihat saja nanti).

4 tahun yang lalu saya mudik, dan saya sempat mengikuti ibadat Minggu. Saya sempat tercengang ketika masuk ke dalam gedung gereja, dan juga warga jemaat yang hadir. Gedung gereja yang semula hanya berkapasitas 150- 200 orang, sekarang bisa memuat 400 orang, dan di gereja bagian belakang ada ruangan yang dipakai sebagai museum [lihat di http://www.facebook.com/album.php?aid=118031&id=138954164546] ; tak banyak gereja yang memiliki kesadaran sejarah, termasuk GKJW ?.

Bukan hanya itu! Ibadat minggu dewasa yang waktu itu hanya sekali, sekarang menjadi 3 kali. Belum lagi jemaat itu sudah beranak pinak, melahirkan beberapa jemaat baru. Saya bertanya kepada kenalan lama yang tetap tinggal di Wonosobo, “Apakah selama ini ada kegiatan-kegiatan istimewa, sehingga perkembangan gereja amat baik?” Dijawab, “Sepertinya kok biasa-biasa saja ya kegiatannya. Ya, seperti dulu waktu kita masih muda”. Dan dari teman-teman yang pada waktu itu kegiatan-kegiatannya di jemaat biasa-biasa saja, ternyata banyak di antara mereka yang “jadi orang” artinya hidup mereka amat berarti bagi orang banyak.

Mengingat hal di atas, saya menjadi malu sendiri mengingat pertanyaan bodoh/ dangkal/ mentah yang pernah saya lontarkan kepada bapak saya. Saya merasa, waktu itu seperti seorang penonton sepakbola yang yakin bisa bermain lebih baik katimbang Messi atau Ronaldo. Ketika Messi menggiring dan mengarahkan bola ke arah yang tak tepat, saya teriak “Bodoh! Begitu saja nggak bisa. Coba saya yang menggiring bola!” Saya merasa waktu itu mampu membuat kegiatan gereja yang dinamis, aktual, progresif, sehingga kegiatan jemaat tak terasa adem-ayem. Namun jemaat yang dinilai adem ayem itu ternyata mengalami pertumbuhan yang luar biasa [bukan hanya karena beranak pinak, tetapi juga karena orang-orang kristen baru].

Jadi rupanya, perkembangan gereja justru tidak ditentukan oleh ide-ide cemerlang atau gagasan-gagasan baru yang progresif, tetapi dari hal-hal sederhana, yang sepi dari perhatian orang, apalagi dipuji-puji. Misalnya: tetap setia sekalipun undangan yang dibuat dicela teman-teman karena formatnya jadul; tidak bosan mengajak rekan pemuda/ i yang lama tak muncul di kegiatan jemaat; tanggap ketika ibu-ibu jemaat memasuki halaman gereja dengan membawa beban berat, “Mari, bu, saya bawakan”; ketika membaca Warta Jemaat dan mencermati format/ tata letaknya tak menarik, segera menyampaikan ke sekretaris jemaat, “Bolehkah saya membantu membenahi format Warta Jemaat?”, dan tidak menjadi marah atau patah arang ketika niat baiknya ditolak. Melalui hal-hal “sederhana” inilah sedikit-demi sedikit mentalitas, spiritualitas banyak pemuda dibangun. Sehingga tidak heran, sekali pun sederhana kegiatannya, tetapi bisa menghasilkan calon pemimpin yang memiliki integritas. Setidaknya itu yang saya temui. Beberapa teman seangkatan saya, banyak di antara mereka yang “jadi orang”, baik yang berkiprah di gereja, LSM, instansi pemerintah, dll. Sementara saya yang pada waktu itu merasa reformis, progresif, dinamis dan menganggap remeh rutinitas beku, malah jadi orang biasa-biasa saja. Bahkan di antara para pendeta, barangkali termasuk tipe pendeta jadul, yang ketika bertugas di jemaat tidak mampu berkiprah dinamis, apalagi atraktif, melainkan hanya bisa membawa jemaat ke kehidupan yang biasa-biasa saja. Apakah ini, ya, kira-kira maksud Injil Lukas 16:10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”?

Entahlah…..(bersambung)

e-mail artikel ini e-mail artikel ini
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

3 Comments »

  1. laksanakan dulu yang kecil sebagai langkah awal, kemudian cari langkah berikutnya, hidup itu seperti bermin catur, yang tidak setia pada langkah awal yang kecil akan mengalami kekalahan di langkah-langkah berikutnya.

  2. seperti yang bapak tau, ‘SEMUA jemaat BISA mengeluarkan ide dan angan-angan, tapi SEDIKIT SEKALI yang MAU melakukannya. Dewasa ini saya menyadari bahwa greja ini tidak salah, yang salah adalah SAYA yang kurang mengenal potensial GKJW.
    [GKJW tidak jadul | tidak eksklusif | hanya BERBEDA saja]

  3. Orang Muda kan selalu menggebu-gebu dengan pemikiran / ide-ide / gagasan masing-masing ya Pak Pendeta ? . . .itu biasa kata orang . . . maklum DARAH MUDA ( seperti lagunya Rhoma Irama saja ya Pak ). . . Namun akan jadi
    hal yang luar biasa kalau itu dilakukan oleh orang Tua yang dengan berbusa-busa melontarkan pemikiran / ide / gagasan namun hanya asal bunyi (bahasa betawinya NGOMONG DOANG ), adakah Pak? . . . semoga tidak ada ya?
    INJIL LUKAS 16 : 10 seperti yang dituliskan diatas akan menjadi salah satu tuntunan Generasi Muda kita untuk belajar BIJAK supaya nanti pada saat jadi orang Tua bisa menjadi LEBIH BIJAKSANA . . . saya yakin itu.

    Salam,
    GBU

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>