<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Pemilihan Penatua dan Diaken: Antara Intrik, Motivasi dan Panggilan</title>
	<atom:link href="http://www.gkjw.web.id/pemilihan-penatua-dan-diaken-antara-intrik-motivasi-dan-panggilan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gkjw.web.id/pemilihan-penatua-dan-diaken-antara-intrik-motivasi-dan-panggilan</link>
	<description>Situs Komunitas Greja Kristen Jawi Wetan</description>
	<pubDate>Fri, 10 Sep 2010 12:43:51 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
		<item>
		<title>By: Djoko Soelistijo</title>
		<link>http://www.gkjw.web.id/pemilihan-penatua-dan-diaken-antara-intrik-motivasi-dan-panggilan#comment-3876</link>
		<dc:creator>Djoko Soelistijo</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 06:03:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjw.web.id/?p=613#comment-3876</guid>
		<description>Pemilihan Penatua dan Diaken?
    Yang ada di dalam pikiranku pasti TIDAK SAMA atau BERBEDA dengan pilkada, ataupun pilpres karena (masih menurut pikiran saya) Penatua dan Diaken bukan katagori pemilihan tetapi lebih dekat dengan panggilan. Memang mekanisme yang digunakan adalah ada tata cara pemilihan. Benar! seperti yang bapak tulis, namun ada satu pertanyaan yang perlu dijawab. Jika seorang Penatua dan Diaken telah terpilih (terpanggil), bagaimana kita mengetahui bahwa orang tersebut benar-benar terpanggil dan indikatornya apa?
    Disisi lain,bagaimana dengan proses pilihan yang mekanismenya "bergaya politik" atau "bernuansa politik"? wajarkah atau tidak?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilihan Penatua dan Diaken?<br />
    Yang ada di dalam pikiranku pasti TIDAK SAMA atau BERBEDA dengan pilkada, ataupun pilpres karena (masih menurut pikiran saya) Penatua dan Diaken bukan katagori pemilihan tetapi lebih dekat dengan panggilan. Memang mekanisme yang digunakan adalah ada tata cara pemilihan. Benar! seperti yang bapak tulis, namun ada satu pertanyaan yang perlu dijawab. Jika seorang Penatua dan Diaken telah terpilih (terpanggil), bagaimana kita mengetahui bahwa orang tersebut benar-benar terpanggil dan indikatornya apa?<br />
    Disisi lain,bagaimana dengan proses pilihan yang mekanismenya &#8220;bergaya politik&#8221; atau &#8220;bernuansa politik&#8221;? wajarkah atau tidak?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: edi sunarno</title>
		<link>http://www.gkjw.web.id/pemilihan-penatua-dan-diaken-antara-intrik-motivasi-dan-panggilan#comment-3794</link>
		<dc:creator>edi sunarno</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 13:05:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjw.web.id/?p=613#comment-3794</guid>
		<description>Menurutku memang demikian Bapak, walaupun masing-masing jemaat memiliki karakter yang berbeda, namun secara umum kondisi sami mawon. Ada yang secara manusia ingin sekali terpilih, namun belum dapat trwujud, ada yang ingin tidak terpilih (namun mau mundur tidak berani, takut dijewer Tuhan Yesus), sehingga setelah terpilih kurang dapat mewujudkan panggilan tersebut, dengan alasan "isaku ya ngene iki".
Semoga dengan semakin bertambahnya wawasan dan pemahaman yang ada, warga jemaat menjadi semakin menyadari tugas panggilannya, sehingga "gunung es" tidak semakin membesar, namun dapat mencair sedikit demi sedikit seiring perkembangan dan pergerakan warga yang semakin dewasa.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurutku memang demikian Bapak, walaupun masing-masing jemaat memiliki karakter yang berbeda, namun secara umum kondisi sami mawon. Ada yang secara manusia ingin sekali terpilih, namun belum dapat trwujud, ada yang ingin tidak terpilih (namun mau mundur tidak berani, takut dijewer Tuhan Yesus), sehingga setelah terpilih kurang dapat mewujudkan panggilan tersebut, dengan alasan &#8220;isaku ya ngene iki&#8221;.<br />
Semoga dengan semakin bertambahnya wawasan dan pemahaman yang ada, warga jemaat menjadi semakin menyadari tugas panggilannya, sehingga &#8220;gunung es&#8221; tidak semakin membesar, namun dapat mencair sedikit demi sedikit seiring perkembangan dan pergerakan warga yang semakin dewasa.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
