wordpress com stats plugin
Home » Opini

Pemilihan Penatua dan Diaken: Antara Intrik, Motivasi dan Panggilan

29 September 2009 3,818 views 2 Comments Oleh

Dauran Anggota Majelis Jemaat (Penatua dan Diaken) adalah sebuah proses yang selalu dan harus terjadi di GKJW. Pranata tentang Jabatan-jabatan Khusus dan Pranata tentang Majelis, Ortala , iber-iber maupun peraturan khusus tentang tata cara dan mekanisme pemilihan telah dipersiapkan dengan maksimal di seluruh Jemaat. Proses pemilihanpun sudah dimulai dengan tidak lupa himbauan untuk mendasari dengan doa dalam menentukan pilihan masing-masing warga gereja. Layaknya sebuah pesta demokrasi gerejawi yang terkadang dibumbui dengan adanya kampanye kecil-kecilan dan bahkan kemungkinan adanya tim sukses yang dengan “sengaja menata” aturan main lokal untuk sebuah hasil tertentu bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Kita tidak bisa munutup mata terhadap kemungkinan dan kenyataan ini dalam era demokrasi seperti saat ini. Walaupun pemilihan selalu diawali proses ritual “doa” yang terkadang dapat dijadikan sebagai alat legalisasi proses dan hasil pemilihan. Bukan maksud penulis mengenyampingkan makna doa itu sendiri namun ketika aroma politik praktis merambah medan gereja hal ini cukup rasional dan realistis. Kita memang tidak harus pesimis dan bersikap skeptis dalam proses pemilihan ini, namun sekali lagi kita harus mampu menangkap realita dengan tanpa meninggalkan konsep-konsep teologis dalam bergereja. Sebuah proses pemilihan Penatua dan Diaken tentu mempunyai goal yang baik demi sebuah pengembangan pelayanan di Jemaat, namun di balik harapan pemilihan yang bervisi jernih tentu bisa terjadi adanya sebuah “kepentingan” dari sekelompok atau segolongan orang yang tidak dapat dipungkiri.

MajelisSebagai warga GKJW yang baik, melayani Tuhan dan sesama adalah sebuah kewajiban dan tugas yang mulia. Terpilih menjadi Penatua atau Diaken adalah merupakan kesukaan yang luar biasa sebagai momentum yang sangat tepat untuk melayani lebih intens atau lebih sungguh di samping tanggungjawab berat yang menyertainya. Hasil sebuah proses pemilihan adalah antara terpilih dan tidak terpilih. Pesan teologis yang dikumandangkan selalu menekankan agar warga yang terpilih untuk mau menerima “panggilan’ (Pranata Tentang Jabatan-jabatan Khusus Bab IV Pasal 20 ayat 1, Pranata tentang Majelis Bab I Pasal 2 ayat 1) tersebut. Pertanyaan kita : benarkah demikian? Benarkah orang yang terpilih identik dengan orang yang terpanggil? Keadaan “terpilih” adalah hasil proses kegiatan gerejawi sedangkan “terpanggil” adalah sebuah proses pergumulan iman yang bersifat pribadi dan spesifik. Seseorang yang terpilih perlu memahami secara iman apakah memang dirinya terpanggil untuk menjadi seorang anggota Majelis. Namun kita juga tidak bisa begitu saja memvonis “tidak baik” bagi mereka yang menolak dengan tanpa kita mengetahui alasan yang jelas dari mereka. Memang penolakan atas dasar ketidakmampuan, tingkat pendidikan akademis yang rendah dan ketiadaan waktu tidak dapat dibenarkan oleh gereja karena terkesan tidak mengandalkan kekuatan Allah dengan segala janjinya (2 Korintus 6 : 2) namun hanya berhitung atas dasar kualitas dan kemampuan diri sendiri. Di satu sisi di berbagai Jemaat memang begitu sulit untuk mencari orang yang “mau” untuk menjadi anggota Majelis tanpa dicari penyebabnya dan pada umumnya mencari mudahnya dengan “sengaja mengusahakan” mengangkat kembali anggota majelis daur sebelumnya. Seolah masalah ini selesai namun sebenarnya justru akan membangun gunung es yang semakin tinggi yang suatu saat akan menjadi masalah dalam proses regenerasi. Tampaknya “hallo effect’ atau kesan bahwa sosok seorang anggota Majelis harus “serba bisa” dan memiliki wawasan teologi yang luas telah menjadi momok yang menakutkan bagi warga atau mungkin bahkan sebaliknya anggota Majelis yang diharapkan menjadi sosok “panutan moral” telah mengalami degradasi sehingga menimbulkan kekecewaan dan mematikan motivasi warga untuk menjadi seorang Majelis.

Di sisi lain ada juga mereka-mereka yang “berharap” dan bahkan “berusaha” agar terpilih dengan motivasi, tendensi dan kepentingan tertentu. Ini merupakan tantangan gereja dan kelak akan menimbulkan masalah besar dalam bergereja. Menjadi Penatua dan Diaken bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan karena “kekuasaan” dan “kehormatannya”. Tidak terpilih menjadi Penatua dan Diaken bukan pula sebuah petaka, kehancuran dan kehinaan. Ke”legawa”an dan dukungan moral terhadap Penatua dan Diaken terpilih merupakan prasyarat utama keberhasilan sebuah proses regenerasi dari kegiatan dauran. Keberhasilan pelayanan seorang Penatua dan Diaken tidak terletak dan ditentukan oleh kemampuan akademis, ekonomi dan kekuatan pengaruh seseorang tetapi lebih ditentukan oleh motivasi, hati yang bersih dan visi yang jernih untuk melayani. Seorang Penatua dan Diaken harus selalu mendahulukan kehendak Allah , Jemaat dan gereja diatas kepentingan diri sendiri. Memiliki wibawa dan moral kristiani, saling melayani dalam kasih, saling menggembalakan, mau dan bisa bekerjasama dengan orang lain, mampu dan menghargai keterbedaan dan selalu berusaha untuk lebih mencari kesamaan daripada perbedaan ( Pranata tentang Majelis Bab I pasal 3 ). Sudah waktunya warga gereja di samping memahami sisi kerohanian gereja juga harus memahami sisi organisasi dari gereja seperti di antaranya pemahaman terhadap Tata & Pranata, Ortala maupun peraturan Jemaat sehingga fungsi kontrol terhadap kebijakan gereja dapat berjalan dan warga mampu dan berani mengkritisi kebijakan gerejanya. Warga gereja harus menjadi subyek dalam proses aktualisasi “gereja sebagai gerakan warga” dan bukan hanya sebagai obyek demi kepentingan gereja saja. Semoga tulisan ini bisa menjadi refleksi bersama dalam memahami proses pemilihan Penatua dan Diaken daur 2010-2012 khususnya bagi warga GKJW.

Kirimkan Artikel Ini Kirimkan Artikel Ini

Kata Kunci Artikel Ini:

2 Comments »

  • edi sunarno said:

    Menurutku memang demikian Bapak, walaupun masing-masing jemaat memiliki karakter yang berbeda, namun secara umum kondisi sami mawon. Ada yang secara manusia ingin sekali terpilih, namun belum dapat trwujud, ada yang ingin tidak terpilih (namun mau mundur tidak berani, takut dijewer Tuhan Yesus), sehingga setelah terpilih kurang dapat mewujudkan panggilan tersebut, dengan alasan “isaku ya ngene iki”.
    Semoga dengan semakin bertambahnya wawasan dan pemahaman yang ada, warga jemaat menjadi semakin menyadari tugas panggilannya, sehingga “gunung es” tidak semakin membesar, namun dapat mencair sedikit demi sedikit seiring perkembangan dan pergerakan warga yang semakin dewasa.

  • Djoko Soelistijo said:

    Pemilihan Penatua dan Diaken?
    Yang ada di dalam pikiranku pasti TIDAK SAMA atau BERBEDA dengan pilkada, ataupun pilpres karena (masih menurut pikiran saya) Penatua dan Diaken bukan katagori pemilihan tetapi lebih dekat dengan panggilan. Memang mekanisme yang digunakan adalah ada tata cara pemilihan. Benar! seperti yang bapak tulis, namun ada satu pertanyaan yang perlu dijawab. Jika seorang Penatua dan Diaken telah terpilih (terpanggil), bagaimana kita mengetahui bahwa orang tersebut benar-benar terpanggil dan indikatornya apa?
    Disisi lain,bagaimana dengan proses pilihan yang mekanismenya “bergaya politik” atau “bernuansa politik”? wajarkah atau tidak?

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.