wordpress com stats plugin
Home » Pancaran Air Hidup

Pelayanan

9 April 2016 33 views No Comment Oleh

Bacaan: Kejadian 18:1-8    |   Pujian: KJ 357
Nats:
Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka,… (ayat 2)

Suatu saat, seorang penulis terkenal di bidang marketing, merasa tertarik kepada sebuah perusahaan yang memiliki gerai toko pakaian yang terkenal. Selain menjual pakaian-pakaian yang berkelas, juga memiliki karyawan-karyawan yang ramah dan senantiasa melayani setiap konsumen yang datang dengan ramah, siapapun orangnya, tanpa pandang bulu.

Tergerak untuk membuktikan keramahan pelayanan toko tersebut, maka ia bergegas ke sana. Ketika ia hendak memasuki toko tersebut, seorang wanita yang berpenampilan lusuh mendahuluinya, mungkin ia seorang tunawisma. Dalam hatinya, ia berfikir pastilah satpam akan segera menghentikan langkah wanita itu dan mengusirnya sebelum ia memasuki toko tersebut. Ah…rupanya dugaannya salah, satpam justru membiarkan orang itu masuk. Wanita itu bahkan dengan leluasa mencoba beberapa mantel bulu yang mahal harganya, dan para pelayan toko benar-benar melayaninya dengan ramah dan sopan, meski pada akhirnya perempuan tersebut tidak membeli apa-apa.

Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, sang penulis menanyai pelayan toko yang telah melayani sang wanita tunawisma. “Bagaimana mungkin kalian dapat melayani wanita seperti itu dengan begitu ramah? Tidakkah kalian tahu siapa dia? Bagaimana mungkin kalian membiarkannya mencoba memakai mantel bulu yang mahal harganya?” tanya si penulis tadi. Lalu sang pelayan menjawab: “Bagi kami dia adalah konsumen yang harus kami layani dengan baik dan ramah. Tidak masalah bila ia mencoba beberapa pakaian. Bila kotor, kami dapat mencucinya setelah itu.” Jika kita di posisi penulis tersebut, kitapun juga akan terkejut mendengarnya.

Rupanya, keramahan yang sama juga ditunjukkan oleh Abraham. Ia  melayani para tamu asing yang baru dikenalnya dengan ramah. Kata “pelayanan” bukanlah monopoli gereja. Para praktisi marketing juga merasakan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang penting. Dapatkah kita memetik dan  menghayati makna dari kata “pelayanan” itu sendiri? Ataukah kita masih membeda-bedakan, kepada siapa pelayanan yang kita berikan? [DK]

“Pelayanan setulus hati akan membangkitkan semangat- kesukacitaan.”

Bagikan Artikel ini:
facebooktwittermail

Comments are closed.