Pelajaran Tentang Anugerah Hidup
Dalam lubang kecil dalam tanah di sebuah gubug, hiduplah sekeluarga tikus. Ada bapak tikus, ibu tikus dan dua bersaudara, Tini dan Tika. Saat ini mereka sibuk untuk mengumpulkan makanan sebelum saat panen para manusia habis.
Setiap malam, mereka berkumpul. Lalu mendengarkan sang bapak tikus atau ibu tikus bercerita tentang kehidupan manusia yang diluar sana. Dan malam itu, sang ibu tikus bercerita akan kehidupan bapak tua penjual kerupuk singkong.
“Hidup adalah sebuah anugerah Tuhan yang nilainya tak sebanding dengan uang, perhiasan dan emas. Didalamnya muncul sebuah tanda tanya besar, apakah hidup kita saat ini dapat menjadi anugerah, menjadi berkat bagi lainnya” Demikian kata ibu tikus.
“Saat aku masih ada ditengah kota, aku melihat hal tak pernah ku alami sampai hari ini. Seorang bapak tua, dengan membawa dua buah plastik besar, dikaitkan dalam sebuah pikulan, di kanan dan kirinya, berisi kerupuk singkong. Ia tersenyum sambil duduk di pojok sebuah plaza. Waktu itu hujan turun, sebentar berlalu, meninggalkan dingin yang cukup mengigit.”
“Aku melihat dan mendengar, ia tersenyum serta menawarkan kerupuknya itu pada tiap orang yang lewat didepannya. Ia mengacungkan tangannya sambil membawa seplastik krupuk dan berkata, ‘Mas, Mbak, ini kerupuk enak. Bisa dicoba. Murah kok…..’. Suaranya mulai pelan tak terdengar seiring riuhnya suasana. Dan aku heran, setiap orang yang ditawarinya hanya diam. Menoleh pun tidak. Tak ada juga yang membalas senyum. Aku berpikir, apakah manusia itu seperti patung batu, yang tak punya mulut, mata ataupun telinga”.
“Anak-anakku, Tini dan Tika, inilah kehidupan manusia yang sampai hari ini mereka perankan bersama. Tapi biarlah manusia itu melakukan. Walau setiap dari mereka tentunya tak inginkan dipandang rendah oleh manusia lain. Kenyataannya, tak lebih semua manusia bisa melakukannya, merendahkan orang lain, walau itu tak disadari sebelumnya. Kita pun, para tikus juga bisa melakukan yang seperti dilakukan manusia itu”.
“Anak-anakku, secara sadar atau tidak, tiap dari diri kita memiliki sebuah keinginan. Dan berharap keinginan itu bisa terwujud. Banyak hal yang menjadi keinginan kita. Keinginan untuk mendapatkan kesenangan semata akan hobinya, tubuhnya yang molek, atau membeli sesuatu barang yang dianggap berharga.”
“Semua itu adalah hal yang bersifat pribadi, atau setidaknya keinginan yang bisa membuat dirinya bisa ‘wah’ atau menjadi lebih baik dari sebelumnya.”
“Namun dari inilah, kita melupakan sesuatu, makna dari anugerah kehidupan. Menerima, membagikan dan mengucap syukur.”
“Menerima diartikan mendapatkan sesuatu yang tak pernah didapatkan sebelumnya, dengan tangan terbuka dan senyum sebagai bagian dari rasa berterimakasih pada pemberinya.”
“Membagikan diartikan sebagai memberikan sebagian atau pantas menurut pemberi sebagai ungkapan kegembiraan dan ucapan syukur pada Tuhan dalam menerima suatu berkat. Itupun disertai dengan ketulusan dan senyum.”
“Mengucap syukur diartikan sebagai ungkapan rasa berterima kasih pada Tuhan sebagai sang Pemberi Kehidupan atas anugerah yang tak ternilai. Itu bisa diwujudkan dalam ungkapan membagi berkat.”
“Tini dan Tika, ibu dan bapak mengharapkan kalian berdua selalu ingat akan ketiga hal ini. Apalagi saat ini kita bersama-sama bekerja keras mengumpulkan makanan untuk disimpan dan dipergunakan disaat musim hujan tiba. Kalian tak boleh berpikir, bagaimana bisa menikmatinya, dalam kesendirian, sampai apa yang kita kumpulkan habis tak tersisa. Lalu melupakan teman, saudara dan orang lain yang tak semujur kita.”
“Anak-anak, mari kita berdoa bersama-sama: ‘Tuhan, saat ini bekerja keras untuk mengumpulkan makanan. Terimakasih Tuhan, untuk semua makanan yang kami dapatkan samapai hari ini. Tuhan, kami adalah para tikus kecil yang tak sepandai atau tak sebaik manusia yang hidup diatas kami. Namun, kami ingin bisa mengerti dan melakukan akan anugerah hidup yang telah Tuhan berikan pada kami. Kami tikus kecil, yang berbadan kecil, namun hati kami tak kecil. Tuhan, kami ingin bisa selalu membagi dan mengucap syukur atas apa yang Tuhan beri. Semoga dalam hidup kami, tak memandang rendah para tikus yang lain atau manusia. Ajarkan kami akan kebaikan kasihMu. Ajarkan kami pula untuk membalas senyum pada teman yang memberikan senyum ketulusannya pada kami. Amin’”
e-mail artikel ini



(4.5 out of 5)
Have your say!