<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Pak Dadap, Sang Penatua</title>
	<atom:link href="http://www.gkjw.web.id/pak-dadap-sang-penatua/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gkjw.web.id/pak-dadap-sang-penatua</link>
	<description>Situs Komunitas Greja Kristen Jawi Wetan</description>
	<pubDate>Fri, 10 Sep 2010 12:29:58 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
		<item>
		<title>By: tiwi</title>
		<link>http://www.gkjw.web.id/pak-dadap-sang-penatua#comment-3893</link>
		<dc:creator>tiwi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:17:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjw.web.id/?p=622#comment-3893</guid>
		<description>Ketika saya kecil, saya bergereja juga di sekitar jawa tengah. sampai akhirnya sidhi kemudian mengikuti pendadaran perjamuan kudus. setiap pendadaran saya selalu menyiapkan diri dipanggil nama saya untuk ditanya, pripun mbak, nderek perjamuan?” dan mempersiapkan jawaban “nggih, kulo nderek”. Ketika sudah menikah saya berpindah mengikuti suami ke jawa timur. Saat mengikuti kebaktian KRW yang dijadwal adalah kebaktian persiapan perjamuan kudus, dari rumah saya sudah mempersiapkan diri, memantapkan hati untuk menjawab “nggih, kulo nderek.”. Tapi sampai akhir kebaktian saya kok nggak ditanya…akhirnya saya dalam hati bertanya dan menjawab sendiri…..ditanya dan tidak ditanya, mengatakan dalam hati dan menyatakan langsung ternyata terasa berbeda. tapi saya menyadari setiap tempat memiliki alasan tertentu untuk melakukan sesuatu. cuma rasanya ada yang hilang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika saya kecil, saya bergereja juga di sekitar jawa tengah. sampai akhirnya sidhi kemudian mengikuti pendadaran perjamuan kudus. setiap pendadaran saya selalu menyiapkan diri dipanggil nama saya untuk ditanya, pripun mbak, nderek perjamuan?” dan mempersiapkan jawaban “nggih, kulo nderek”. Ketika sudah menikah saya berpindah mengikuti suami ke jawa timur. Saat mengikuti kebaktian KRW yang dijadwal adalah kebaktian persiapan perjamuan kudus, dari rumah saya sudah mempersiapkan diri, memantapkan hati untuk menjawab “nggih, kulo nderek.”. Tapi sampai akhir kebaktian saya kok nggak ditanya…akhirnya saya dalam hati bertanya dan menjawab sendiri…..ditanya dan tidak ditanya, mengatakan dalam hati dan menyatakan langsung ternyata terasa berbeda. tapi saya menyadari setiap tempat memiliki alasan tertentu untuk melakukan sesuatu. cuma rasanya ada yang hilang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
