Home » Puspa Ragam

Pak Dadap, Sang Penatua

Sumardiyono 1 October 2009 Puspa Ragam 409 views One Commente-mail artikel ini e-mail artikel ini

DadapPak Dadap seorang penatua di sebuah gereja. Di gereja Pak Dadap tersebut ada seorang warga yang disegani, baik di kalangan warga gereja maupun di masyarakat luas. Ia seorang pimpinan perguruan tinggi. Banyak di antara anggota majelis jemaat adalah staf dari sang tokoh itu.

Pak Dadap bukan dosen dan bukan pula pegawai. Jangankan dosen, tingkat  pendidikannya saja tidak sampai lulus Sekolah Dasar. Pekerjaannya sehari-hari menjajakan rokok dan makanan murah meriah di rombong yang amat sederhana.

Di gereja Pak Dadap setiap kali akan ada pelayanan Perjamuan Kudus (PK) anggota majelis jemaat mengadakan perkunjungan ke setiap keluarga untuk pendadaran/ persiapan. Cara persiapannya agak berbeda dengan yang biasa dilakukan di GKJW. Di gereja pak Dadap seorang anggota majelis diwajibkan mempersiapkan pendadaran dari rumah ke rumah, dan masing-masing yang akan mengikuti PK perlu “ditanting” dulu.

Ketika majelis jemaat mengadakan rapat untuk mengatur pembagian tugas,  Pak Pendeta mengusulkan supaya Pak Dadap lah yang ditugasi mempersiapkan sang  tokoh dan keluarganya. Usul pendeta ini mendapat reaksi yang cukup keras dari anggota majelis jemaat. Intinya mereka menyangsikan /mempertanyakan “kelayakan [tingkat pendidikan, status sosial, wawasan]” Pak Dadap menghadapi “wibawa” sang tokoh dan keluarganya.

Pak Pendeta bersikeras dengan usulnya agar Pak Dadap yang melakukan pendadaran untuk sang tokoh dan keluarganya. Para anggota majelis jemaat -dengan agak menggerutu- akhirnya menyetujui usulan pak pendeta.

Pak Dadap tak terbiasa menolak tugas yang diberikan. Ia terima tugas melayani pendadaran untuk sang tokoh dan keluarganya. Ia menyadari tugasnya amat beratnya. Ia tak punya buku konkordansi apalagi buku tafsir untuk memperkaya bahan renungannya. Ia hanya punya Kitab Suci dan Kidung Pasamuwan.

Dengan keterbatasan yang ada padanya, berangkatlah pak Dadap mengunjungi sang tokoh dan keluarganya. Bekal Pak Dadap cuma 2 hal, yaitu a) hati yang sudah diserahkan kepada DIA; dan b) keyakinan bahwa di gereja orang tak boleh memandang muka. Semuanya sama di depan Tuhan.

Sang tokoh dan keluarganya sudah mengenal pak Dadap sebagai penatua, sekalipun pak Dadap belum pernah ke rumah sang tokoh tersebut. Sang tokoh dan keluarganya menyambut dengan sangat baik dan penuh rasa hormat kepada Pak Dadap. Setelah semua anggota keluarga yang sudah boleh mengikuti PK berkumpul, mulailah Pak Dadap meminta ijin untuk memimpin pendadaran. Ia mengajak semua yang hadir berdoa, bernyanyi, dan pada saatnya ia juga menjelaskan isi dari bagian Alkitab yang dibacanya [padahal yang dihadapi ada yang teolog dan ahli hukum, sementara yang menjelaskan SD pun tak lulus]. Di akhir pendadaran ia nanting (menanyai dan memandang) satu per satu anggota keluarga sang tokoh, “Apakah bapak/ ibu/ saudara/i tidak ada halangan untuk mengikuti PK?”.

Setelah acara pendadaran selesai, sang tokoh dengan segera mendekati pak Dadap, lalu dirangkulnya pak Dadap dengan dekapan yang kuat, sambil mengatakankan “Terima kasih sekali pelayanan panjenengan. Terima kasih. Baru kali ini kami dilayani seperti ini!”. Beberapa kali sang tokoh mengucapkan terima kasih kepada pak Dadap atas pelayanannya. Pak Dadap bingung! “Lho, biasanya bagaimana?”, Pak Dadap bertanya. Sang tokoh segera menyergap dengan jawaban, “Biasanya yang ditugasi ke sini majelis yang dosen kampus ini. Kami hanya dikunjungi lalu didoakan. Itu saja.”

Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.” [Yakobus 2: 9]

e-mail artikel ini e-mail artikel ini
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

One Comment »

  1. Ketika saya kecil, saya bergereja juga di sekitar jawa tengah. sampai akhirnya sidhi kemudian mengikuti pendadaran perjamuan kudus. setiap pendadaran saya selalu menyiapkan diri dipanggil nama saya untuk ditanya, pripun mbak, nderek perjamuan?” dan mempersiapkan jawaban “nggih, kulo nderek”. Ketika sudah menikah saya berpindah mengikuti suami ke jawa timur. Saat mengikuti kebaktian KRW yang dijadwal adalah kebaktian persiapan perjamuan kudus, dari rumah saya sudah mempersiapkan diri, memantapkan hati untuk menjawab “nggih, kulo nderek.”. Tapi sampai akhir kebaktian saya kok nggak ditanya…akhirnya saya dalam hati bertanya dan menjawab sendiri…..ditanya dan tidak ditanya, mengatakan dalam hati dan menyatakan langsung ternyata terasa berbeda. tapi saya menyadari setiap tempat memiliki alasan tertentu untuk melakukan sesuatu. cuma rasanya ada yang hilang.

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>