Natal dan Budaya Populer
Budaya Populer atau seringkali juga disebut budaya massa ditandai dengan beberapa ciri yaitu ketika suatu produk diproduksi secara massif, komersial, dan bersifat dangkal. Zaman ini adalah zaman budaya massa. Hampir segala sesuatu telah menjadi komoditas untuk mencari keuntungan, mem-persuasi orang dengan trik yang jitu namun tanpa isi. Makna yang sebenarnya menjadi sesuatu yang sulit untuk dihayati. Tak terkecuali Natal.
Telah berabad-abad tradisi Natal menyuguhkan berbagai macam emosi. Natal dimaknai dengan begitu beragam. Bagi sebagian besar orang, Natal berbarti masa berkumpul dengan seluruh keluarga, dan berkumpul demikian berarti menunjukkan eksistensi diri kepada orang lain sehingga hal-hal artifisial yang menyertainya adalah pakaian, perhiasan, kendaran dan hal-hal material lainnya. Berkumpul juga berarti menyediakan makanan. Tidak sekedar makanan untuk mengenyangkan perut tetapi di dalamnya ada gengsi tersendiri. Karena ketika memakan makanan yang dianggap lezat luar biasa, maka sang tuan rumah akan dipuji dan dianggap sebagai keluarga berkelas dengan menu makanan yang tidak hanya terasa lezat luar biasa namun juga menu yang bermacam ragam.
Maka tidak heran jika pusat-pusat perbelanjaan pada bulan Desember berlomba menjual segala macam barang untuk memenuhi selera pasar dan gengsi material manusia. Sambil memutar lagu-lagu Natal, maka konsumen akan merasakan kehangatan sorgawi sambil berbelanja sepuas-puasnya, sebanyak-banyaknya, seluar biasa mungkin. Dengan berbelanja sebanyak-banyaknya maka Natal yang dirayakan akan semakin meriah. Denga semakin meriahnya Natal tersebut dirayakan maka berarti semakin serius orang tersebut menyambult Natal. Dengan demikian berarti religiusitas orang tersebut tidak perlu diragukan. Maka menjelang dan masa Natal berbelanjalah sebanyak mungkin karena dengan demikian anda adalah orang Kristen yang religius, yang serius menyambut Natal.
Demikian persuasi produsen, sehingga tidak heran jika pada masa Natal para produsen menyediakan barang-barang mulai dari pohon-pohon Natal plastik berbagai ukuran dengan segala pernak-perniknya, Ringtone-Ring Tone lagu-lagu Natal, hingga pakaian dalam bernuansa Natal. Hingga inovasi-inovasi baru lainnya yang semakin menarik konsumerisme massa. Natal menjadi komoditas, Natal adalah barang dagangan.
Padahal Natal dalam Kekristenan adalah sukacita dalam kesederhanaan, kerendahan hati dan solidaritas.
Apalah artinya merayakan Natal dengan suasana meriah, makanan berhamburan, kegembiraan meluap-luap jika saudara di sekitar kita kelaparan. Apalah artinya baju bagus dan perhiasan-perhiasan gemerlap menyambut Natal jika sesama kita dicengkeram kemiskinan. Apalah artinya gereja merayakan kemeriahan Natal dengan biaya berjuta-juta sementara Kristus yang lahir itu datang dengan kesederhanaan.
Kita perlu kewaspadaan. Natal yang telah menjadi komoditas begitu merasuk dalam pikiran setiap orang sehingga berubah menjadi hiper-realitas. Makna yang sesungguhnya tenggelam dalam kemeriahan populerisasi Natal. Lalu Natal yang sesungguhnya menjadi hilang makna.
gambar:gettyimages
e-mail artikel ini



(4.5 out of 5)
walah 2 lha natal dibuat apa saja jangan dibuat pusing dalam theologi apapun untuk memanipulasi kecerdasan jemaat dari dahulu kala juga dilakukan dengan cara mengkomersilkan properti2 ibadah semakin wah propertinya semakin tinggi juga opininya bahwa Tuhan semakin berkenan
17 January 2009 at 6:05 pm