wordpress com stats plugin
Home » Pancaran Air Hidup

Nasib Si Miskin

1 September 2013 174 views No Comment Oleh

Bacaan : Yeremia 2:4-13.
Nyanyian:
KJ 297: 1
Nats : “….apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu pada-Ku, sehingga mereka menjauh dari pada-Ku,….” (ayat 5)

Selalu saja dia di situ, di sudut jalan itu, menunggu belas kasihan orang yang melewati jalan itu. Bedanya, enam tahun yang lalu tubuhnya masih kecil, kira-kira usianya delapan tahun. Kini, dengan badan yang lebih besar, tumor di hidungnya pun tampak ikut membesar, hampir memenuhi separuh wajahnya. Entah, dari mana asalnya, hidup di mana, tidur di mana. Ya, itulah nasib si miskin. Tentu kita merasa iba kepadanya.

Jika kita, manusia saja merasa iba melihat si miskin itu, terlebih lagi Allah yang sempurna kasih-Nya. Bangsa Israel mengalami kemiskinan hebat dan membuat hati Allah iba. Memang bukan kemiskinan hidup, bukan kemiskinan materi. Karena Allah telah membawa bangsa Israel ke tanah yang subur, mereka dapat menikmati semua buah dari tanah subur itu (ayat 7). Tetapi kenyamanan itu tidak membuat bangsa Israel bersyukur kepada Allah. Mereka justru berpaling dari kasih Allah. Kehidupan mereka semakin menjauh dari kehendak Allah. Para imam Israel tidak lagi bertanya di manakah Tuhan, para nabi bernubuat demi Baal, bukan demi Allah (ayat 8). Segala perbuatan mereka mendukakan hati Allah, membuat bangsa Israel hidup sebagai si miskin rohani. Kemiskinan rohani yang terus-menerus inilah yang membuat Allah sangat iba dengan bangsa Israel. Hingga Allah selalu memberi perhatian kepada bangsa Israel dengan memberikan teguran, mengingatkan, bahkan hukuman Allah kepada bangsa Israel adalah bagian dari iba dan kasih Allah kepada bangsa pilihan-Nya itu.

Bagaimanakah dengan kondisi rohani kita saat ini? Apakah sedang miskin, sedang, atau kaya? Apapun kondisi rohani kita, Allah tidak akan pernah meninggalkan kita dan apakah kita pun sudah mampu senantiasa setia hidup bersama Allah? Kesetiaan yang dikehendaki bukan hanya dalam wujud aktifitas gerejawi dan pelayanan kita, melainkan kesetiaan yang timbul mulai dari dalam lubuk hati kita. Kesetiaan yang timbul dari hati nurani yang terdalam, itulah kesetiaan yang murni. [dee]

“Berdoa kepada Tuhan laksana samudra yang dapat mencapai setiap sudut pantai kebutuhan manusia”. (Fosdic)

Bagikan Artikel ini:
facebooktwittermail

Comments are closed.