wordpress com stats plugin
Home » Pancaran Air Hidup

Monumen

3 March 2016 60 views No Comment Oleh

Bacaan: Yosua 4: 1-13 |     Nyanyian: KJ 427
Nats:
“Jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu? maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya. (ay. 6b-7)

Kita sering menjumpai monumen-monumen di berbagai daerah. Ada monumen berupa patung orang, patung binatang, patung buah, candi, dll. Di kompleks kantor Majelis Agung juga ada monumen dengan patung kecil burung merpati. Monumen ini adalah monumen peringatan 150 tahun baptisan pertama orang Jawa di Jawa Timur. Tentu setiap monumen mempunyai cerita khusus sejarah atau riwayat seseorang atau sesuatu.

Bangsa Israel juga mendirikan monumen peringatan karya Tuhan yang ajaib. Monumen mereka tidak berupa patung, melainkan hanya berupa tumpukan 12 batu. Itu disebabkan mereka dilarang membuat patung dalam bentuk apapun (Kel. 20: 4-5). Yang sangat penting dari monumen itu bukanlah monumennya sendiri, melainkan cerita peristiwa terjadinya karya Tuhan yang menyeberangkan umat Israel di sungai Yordan memasuki tanah Kanaan. Air sungai Yordan berhenti mengalir ketika tabut Tuhan hendak menyeberang mendahului/ memimpin bangsa itu. Peristiwa itu tentu sangat menarik bagi anak/ cucu mereka. Inilah salah satu cara meneruskan kepada anak/ cucu mereka tentang riwayat perjuangan bangsa Israel dan karya pertolongan Tuhan terhadap umatNya. Dengan cerita melalui monumen itu anak cucu mereka diharapkan turut memiliki jiwa juang nenek moyang mereka dan serta keyakinan akan karya pertolongan Tuhan yang kekal.

Kita atau nenek moyang kita tentu juga mempunyai pengalaman perjuangan dan karya pertolongan Tuhan. Kita juga seharusnya menceritakan pengalaman itu kepada anak/ cucu kita. Untuk itu, adalah baik membawa anak/ cucu kita berziarah ke monumen-monumen itu dan menceritakan peristiwa yang diperingati dengan monumen itu. Namun tanpa berziarah pun kita seharusnya terus menceritakan kepada anak/ cucu kita tentang karya Tuhan dan perjuangan umatNya di masa lampau. [st]

“Bangkitkan jiwa juang dan keyakinan dengan cerita masa lampau!”

Bagikan Artikel ini:
facebooktwittermail

Comments are closed.