Mitos
Sudah seminggu ini Mas Bimo pergi ke Bali. Pekerjaannya mengharuskan dia sering meninggalkan aku dan putri kecil kami, Arum. Gadis kecilku itu sangat periang. Sebentar lagi dia naik kelas 2 SD. Malam ini dia tidur lebih sore dari biasanya, pasti kecapekan mengerjakan PR-nya. Pelan kulongokkan kepalaku di pintu karnarnya. Ah… tidurnya pulas sekali. Tak pernah bosan aku memandangi malaikat kecilku ini setiap kali
dia tidur. Rambutnya yang ikal, kulitnya sawo matang, pipi gembul dan mata kecilnya.
Hmmm… aku ingat Mas Bimo, putri kecil kami sangat mirip dengannya. Tapi dia sedikit kegemukan. Kuhela nafasku dalam, pasti salah kami kurang perhatikan pola makannya sehingga dia sedikit kegemukan.
Hari ini tidak seperti biasa, pulang sekolah dia menangis. Dia bilang sangat ingin jadi peserta kontes “Puteri-puterian” untuk acara ulang tahun sekolah bulan depan. Tapi Arum bilang, dia tidak terpilih. Dia tidak tahu kenapa, hanya kata Yuri teman sebangkunya, yang dicari yang punya rambut lurus panjang, kulitnya putih, dan tidak gemuk. Hatiku sedih sekali waktu dia bilang, “Ma, kenapa sih Arum tidak cantik, rambutnya tidak lurus, kulit Arum tidak putih, udah gitu gemuk lagi!”.
Ya ampun!! Sebenarnya sudah berkali-kali kukatakan kepadanya bahwa dia sangat manis. Dan sudah kujelaskan pula bahwa cantik itu kriterianya tidak hanya kalau rambutnya panjang, kulit putih, dan tinggi langsing. Tetapi kelihatannya, dia masih sangat terpengaruh pendapat teman sebangkunya tadi siang sehingga lupa permahaman yang kutanamkan sejak dulu. Maklum dia masih terlalu kecil. Ya begitulah! manusia yang umurnya sudah dewasa saja mudah sekali dipengaruhi apalagi gadis kecilku yang baru tujuh tahun ini. Kudekati dia, kuusap rambutnya pelan.
Teng…teng... jam dinding di ruang tengah bernyanyi.Kulihat jam dinding di kamar Arum, masih jam 21.00. Pelan aku berjalan ke ruang tengah, menuju sofa kesayanganku. Tidak ada yang kukerjakan malam ini, lagipula rasanya aku mendekati menstruasi. Aku selalu mengalami Pre-Menstruation Syndrome (PMS), badan pegal-pegal, sakit kepala, malas, flush on dan emosiku tidak stabil. Kalau sudah seperti ini, biasanya aku menandai kalender dengan spidol merah, supaya kalau Mas Bimo sedang di rumah, dia mengerti kalau aku lagi “kacau” .
Kuraih remote kontrol di depanku, mungkin menonton televisi dapat membantuku melewati malam ini. Satu persatu jari jemariku menekan tombol remote kontrol… haa ini saja… acara lagu-lagu lama. Sebentar lagi mereka akan menyanyikan “love story” lagu kenanganku dengan Mas Bimo. Tapi harus ada iklan dulu. Ah… lama sekali. Kupelototi iklan TV itu satu demi satu… iklan lotion pemutih kulit, pembersih muka dengan pemutih, lulur mandi pemutih lagi, jamu pelangsing, krem pembesar payudara…haahh… aku tersenyum kecil ingat Marni teman kerjaku. Suatu hari, dia bilang kepadaku kalau dia ingin kulitnya bisa kelihatan lebih putih dan payudaranya bisa lebih besar biar suaminya tidak lagi selingkuh dengan Sales Promotion Girl (SPG) yang tinggal di gang sebelah rumahnya. Marni yang malang… setiap kali belanja bersama, kulihat dia selalu memborong produk pemutih dan krem pembesar payudara itu. “Ini pengeluaran ekstra Dis… terpaksa, gara-gara SPG sialan itu!” begitu dia sering mengumpat.
Marni… Marni … sudah sering aku mengatakan kepadanya kalau itu bukan cara yang baik dan bijak untuk menyelesaikan masalah keluarganva. Tapi, mulutku ini sudah capek rasanya menasehati dia, nampaknya yang dia perlukan hanyalah seorang pendengar yang baik. Dan sebagai sahabatnya aku pastti berusaha melakukan yang terbaik untuk membantunya merasa nyaman. Tiga hari ini dia tidak masuk kerja, di telepon dia bilang kalau sedang dalam perawatan dokter kulit gara-gara kulitnya yang sensitif itu alergi berat, muncul bercak-bercak merah setelah sebulan memakai lotion pemutih dan krem pembesar payudara itu. Dokter bilang, kalau dia tidak berhenti memakai produk itu, lama kalamaan dia bisa kanker kulit.“Sialan Dis, aku jadi ngeluarin uang ekstra lagi nih. Udah hasilnya nggak jelas! Kulitku gak putih-putih malah sakit begini. Trus payudaraku… boro-boro tambah besar … tambah lara kabeh!” begitu dia menyesali dirinya.
Kuhela nafas panjang, lagu “Love Story “sudah lewat sejak tadi. Pikiranku melayang lagi… Mas Bimo sedang apa ya malam ini?. Nanti saja sebelum tidur kutelepon, aku biasa memberinya ciuman selamat malam. Kumatikan televisi sudah jam 23.30, perlahan aku melangkah ke kamar Arum, kudekati tubuh kecil yang tengkurap di atas tempat tidur itu, “Tidurlah nyenyak sayangku, kau tidak perlu cemas dengan dirimu, puaslah dengan keadaanmu, Tuhan menciptakan engkau baik adanya, tak perlu kau percayai kecantikan yang hanya diukur dari putihnya kulit, tinggi dan langsingnya tubuh, panjang dan lurusnya rambut dan besarnya payudara. Itu semua hanya mitos! Cantik adalah ketika kau berguna bagi orang lain, ketika kau penuh kebahagiaan dan ketika hatimu senantiasa penuh syukur dalam setiap keadaan.!”
Kunaikkan selimutnya, kucium dia lembut. Aku melangkah menuju kamarku, di depan cermin kamar kutatap bayanganku.Kantong mataku semakin terlihat sisa begadang kemarin.Kukompres saja nanti… aku tersenyum kecil membayangkan ribuan bahkan mungkin jutaan perempuan lain juga sedang mengamati detil wajahnya malam ini,sudah berapa banyak kerutannya, flek hitamnya,dan panik karena jerawat. Kubalikkan badanku dan berjalan menuju tempat tidur. Sambil rebahan kuangkat gagang telepon, jariku menari di atas angka-angka, “Hallo… hai!” Di ujung telepon kudengar suara teduh yang selalu kurindukan… “Selamat malam Gadisku, selamat tidur!”
Dimuat di Suluh 2004
e-mail artikel ini




(4.5 out of 5)
” Two Tumbs ”
Cerpen yang bagus,sungguh menggambarkan hari-hari seorang istri yang cakap.
Hati suaminya pasti tidak kekurangan cinta dan keuntungan…
Istri yang takut akan TUHAN siapakah yang memilikinya.???
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia ( Amsal 31:28 )
Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji (Amsal 31:30)
GBU
sumi-s’pore
28 March 2009 at 10:00 am