Mie Goreng Murah Membuat Kaya
Siang itu, untuk kesekian kalinya aku berkunjung di rumah yang ditempatinya sendiri. Seorang nenek tua, tanpa suami, anak dan cucu sekalipun. Harus ia hadapi kehidupannya sendiri, mulai dari membangun rumahnya sampai makan sehari-harinya.
Ia banyak bercerita tentang kesehariannya setiap kali aku datang, mulai dari ayamnya yang tidak rutin bertelor, juragan dimana ia sering diminta membantu, sampai perseteruannya dengan tetangga-tetangganya. Kutatap dan kudengar setiap kalimat yang diceritakan. Bahasa yang kelihatan agak aneh menurutku, saat nenek ini mengucapkannya. Niatnya untuk berbincang denganku dengan basa Jawa krama yang tidak tepat dan pas, tetap ingin ku nikmati paling tidak sebagai hiburan.. (hehe.. jahat nggak sih..?). Selalu ada sesuatu yang ingin dibawakannya untukku setiap kali aku berpamitan pulang.
Sampai suatu saat, seputar hari raya aku kembali berkunjung. Dia bercerita baru saja mendapat bingkisan dari kecamatan. Dia nampak bahagia ada dalam suasana yang baru pertama kali dialami. Disebut namanya dan berdiri di depan banyak orang, lalu pulang dengan sebungkus bingkisan. Ya.. bingkisan yang diberikan dengan harapan bisa meringankan bebannya dan membantu kesulitan yang dilihat oleh banyak orang atas hidup seorang janda yang tinggal sendirian tidak punya siapa-siapa. Aku mendengarnya dan sesekali menimpali dengan guyonan yang membuat kami tertawa bersama.
Sampai tiba saatnya aku harus berpamitan untuk pulang, dia menahanku dengan menawariku untuk mau membawa pemberiannya. Aku kaget karena dia hendak memberikan mie goreng-nya padaku. Awalnya aku menolak karena aku berpikir klasik yang sering kudengar dari banyak orang “pasti dia lebih butuh dari aku… aku kan sering makan mie goreng, lagian aku juga bisa membelinya. Berapa sih, paling juga Rp. 1000,- dan ini kan sesuatu yang jarang buatnya” . Namun, segera aku mencoba membuang pikiran itu saat aku melihat raut wajah yang sudah nampak keriput itu. Wajah yang memaksa atau lebih tepat merayuku untuk menerima pemberiannya, “tenanglah.. banyak kok… cukup untuk berbagi”. Dan saat itu, aku harus mengaku, bahwa inilah saatnya aku menyerah dan menerima pemberiannya. Aku melihat, bahwa dalam keadaan seperti ini, dia bukan orang yang harus dikasihani dengan memberi mie goreng ataupun menolak pemberian mie gorengnya. Dia orang yang harus dikasihi, karena hatinya yang rela berbagi. Ya.. hati yang telah merasa kaya karena bisa memberi kepada orang yang mungkin sepertinya tidak membutuhkan.
Dengan senyuman aku berpamitan membawa pulang mie goreng dengan bonus telur ayam, di dalam tas plastik yang transparan. Sepanjang jalan pulang aku tersenyum di balik sleyer yang menutup sebagian mukamu. Dengan melirik bungkusan yang tergantung, aku berujar “biar saja orang melihat aku pulang membawa mie goreng dan telur dari rumah janda tua yang tak punya. biar saja mereka tertawa atau berbisik.. mereka hanya tidak tahu, betapa nenek itu pasti merasa kaya karena telah nyangoni seseorang dengan sesuatu yang berharga. Bukan sekedar mie goreng yang harganya Rp.1000,- dan bisa kubeli sendiri, bukan dengan sebutir telur yang harganya tak seberapa. Namun, dengan hati yang bisa nyangoni kepulangan pendetanya bersama gairah yang tidak bisa kubeli dengan uang berapapun karena tidak ada toko yang menjualnya itu dengan eceran.
Hatiku seperti bergelora, karena ternyata siang itu, di bawah terik matahari aku membawa bungkusan kecil yang amat sangat mahal dan tidak ternilai. Aku memang harus terus belajar, selalu ada kekayaan batin yang tersembunyi di balik segala macam tampang manusia yang kita jumpai. Dalam tenang dan diam, untuk barang sejenak untuk mendengar hati berbicara.. kita akan menemukan hartanya.. dan meneruskan pada hati yang lain. Sesuatu yang dihantar dari hati, nyampenya ke hati juga.. dan semua orang akan merasa kaya karenanya.
e-mail artikel ini



(4.5 out of 5)
Salam kenal, senang bisa menarik pelajaran berharga dari kisah ini.
27 December 2008 at 6:51 pm