wordpress com stats plugin
Home » Artikel

Membaca Sejarah GKJW Melalui Cover Majalah DUTA/RIA

3 December 2011 2,406 views 10 Comments Oleh

Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua kejadian telah ada yang mengatur. Pun demikian halnya, jika di tanggal terakhir bulan ini gereja-gereja “Protestan” memperingatinya sebagai hari reformasi. Gerakan yang pada awalnya hanyalah sebuah otokritik dari seorang teolog dan biarawan Ordo St. Agustinus (O.S.A) dari Jerman, atas kepausan/Gereja Katolik Roma yang terlalu hirarkhis dan legalistik.

Kita tahu akan peristiwa yang terjadi abad XV ini karena ada catatan sejarah yang memuatnya. Verba volent scripta manent; yang diucapkan dengan kata akan lenyap, yang dituliskan akan tetap berlaku abadi.

Barangkali, tak ada salahnya jika kita juga belajar dari apa yang pernah kita miliki pada masa lalu. DOETA/DUTA; majalah sinode GKJW yang terbit perdana Oktober 1935 [dan berhenti penerbitannya pada Januari 2009].

Peristiwa reformasi sepertinya begitu bersejarah bagi terbitan GKJW. Bulan Oktober dipilih kembali menjadi momentum kebangkitan DUTA dalam rangka menjalankan visi misinya yang sempat terhenti oleh karena perang kemerdekaan.

Bagai seorang “ibu”, DUTA telah berhasil melahirkan beragam terbitan (pembinaan) berkala yang lain. Dua di antaranya adalah Pancaran Air Hidup dan RIA, yang sebelumnya berupa suplemen DUTA. Sebuah momentum yang fenomenal pada masanya …

Ya, GKJW terus membangun … baik fisik ataupun non fisik. Pembangunan secara fisik banyak disukai karena ada peninggalan yang bisa terlihat. Walau sayang, kadang hal ini meniadakan ciri khas arsitektur kejawaan yang dahulu pernah ada; berganti wajah bangunan yang modern dan terkesan elite.

Secara imani, pembangunan iman warga secara kasat mata menghadapi dua faktor kendala yang tetap menjadi PR sampai kapanpun. Internal, benturan soal kontekstualisasi iman dan budaya Jawa. Ekternal, benturan paham teologi di sekitar GKJW.

Ke mana arah pemberdayaan warga? Sebuah pertanyaan sekaligus sebuah pernyataan yang sebanding. Tanggung jawab dalam memberdayakan segenap potensi, sekaligus menjawab tantangan sebagai gereja gerakan warga

Hari pembangunan adalah salah satu warisan mata rantai sejarah yang hilang. Berjuang melawan lupa, supaya kita tidak abai terhadap sejarah. Agar kita juga tak menjadi alpa (tidak memiliki keterangan apa-apa, tidak ada penjelasan) karenanya..

Dengan iman, menatap masa depan. Inilah pernyataan iman yang selayaknya terus diperdengarkan dan dihayati. Bahwa segala persoalan bisa dihadapi secara bersama-sama. Ada rasa solidaritas untuk saling berbagi dan memberi …

Perkembangan teknologi ibarat pedang bermata dua. Ia bisa disikapi secara berbeda; baik oleh generasi yang sama maupun antar generasi. Kita tidak peka terhadap hal ini. Alhasil, jadilah gereja sebagai pengekor barisan … terlambat untuk bergerak.

Obah tapi gak owah … Kondisi riil yang sedang dihadapi. Memang, sejatinya kita mendambakan keteguhan dasar pijak, walau zaman terus berubah. Obah tapi gak owah … Tetapi yang juga disadari, senyatanya kita juga turut bergerak namun serasa tetap jalan di tempat. Obah tapi gak owah

Kita bukan debu yang gampang terhempas. Debu ada di mana saja. Kegerakan dan pergerakan kita jarang sekali terekpose ke permukaan. Jadilah kesan, seperti yang sudah-sudah: obah tapi gak owah

Tiga perempat abad usia GKJW. Sebuah ajakan untuk tetap, “Mari berjuang …”

Potensi generasi muda, lintas batas yang semestinya patut terus dipupuk dan diasah. Sayang, das sollen tak selalu berjalan mulus dengan das sein. Mimpi, harapan, asa, cita-cita kadang tak terjadi dalam kenyataan, realita, yang ada sesunguhnya. Keterlibatan gereja, pemangku kepentingan bisa jadi tak sejalan seiring dengan pelaksana, kaum awam …

Zaman yang terus menggelinding demikian cepat, mau tak mau menuntut gereja untuk tanggap terhadap perubahan tersebut. Alon-alon memang waton kelakon, tapi dalam sikon tertentu harus ada semacam URC (unit reaksi cepat) supaya kita tidak terus ketinggalan dalam melangkah bersama … Gereja masa kini butuh pendidikan yang peka menjawab persoalan zaman.

Rajutan mimpi indah harus berakhir … Untaian sepenggal kisah sejarah yang tertulis di DUTA cukup sampai di sana. Kisah yang sama yang turut menjadi bagian dari lembar sejarah GKJW.

Tak ada kesedihan dan duka. Tak ada asa dalam menghadapi aral bersama. Tak ada yang mengingatkan, tak ada lagi kisah terurai …

Generasi kanak-kanak yang “malang” … RIA, anak dan sekaligus adik kandung DUTA pun sama ‘nasib’nya. Mengajar mereka untuk dapat belajar dari sejarah, tetapi ‘guru’ dan bahan ajar sejarah an sich (itu sendiri) menjadi tiada …

Gemar membaca. Sebuah ironi … Nyata, riil di hadapan kita! Apa karena ketidakmampuan, atau karena ketidakmauan untuk –sekali lagi- “Belajar dari Sejarah”?

Terus berjuang, capai cita-cita … Harapan manis yang bisa diberikan.

Apa lagi?

Kirimkan Artikel Ini Kirimkan Artikel Ini

Kata Kunci Artikel Ini:

10 Comments »

  • Raymond Valiant said:

    Ikut terharu dengan kilas balik Majalah Duta dan Ria. Ternyata, menutup lebih mudah dari menghidupkan.

  • Drijanto Mestoko said:

    Majalah Duta memang sudah mati dan tinggal menjadi kenangan yang menyenangkan dan menyedihkan.
    Namun apakah tidak mungkin Majalah Duta terbit kembali dalam bentuk Majalah Electronic…????

  • ayik said:

    Memang tak mudah melupakan…apalagi melupakan sejarah yang telah membesarkan kita (GKJW)
    DUTA/RIA dalam bentuk elektronik…kayaknya kurang pas banget dengan warga jemaat kita, yang notabene, membaca saja masih canggung dan tergagap-gagap dengan media yang makin universal. ya, semoga PHMA lebih cermat menyikapi kebutuhan jemaatnya.

  • slamet said:

    Tergagap-gagap juga mending masih bisa hidup drpd majalah walaupun tak tergagap-gagap tapi sudah gak ketahuan dimana pusaranya.

    ibaratnya ga ada rotan akarpun jadi…

  • Jonet Soedarmoko said:

    Akhirnya, kembali aku tidak mampu berbuat apa lagi terhadap usaha membangkitkan DUTA/RIA ini….
    Sekedar informasi, saat aku masih di dalam PHMA (sampai akhir Juli 2011), ternyata rekan-rekanku sesama PHMA waktu itu sangat minim sekali perhatiannya pada usaha itu, dengan berbagai alasan, nyatanya tidak ada usaha nyata sampai sekarang…
    Entah apa maunya? Padahal Sidang MA (aku lupa edisi ke berapa) telah memandatkannya…Ketidakmampuan atau ketidakmauan?

  • Negari said:

    Salam
    Apakah yang harus kami bantu untuk menerbitkan DUTA ?
    Kalau dana awal …mari kita cari….kalau soal personel masa sih dari sekian ratus orang warga tidak ada ?

    Salam

    Negari
    GKJW Sidoarjo

  • dwidjo ss said:

    Jika ada kemauan keras, maka saya yakin Duta bisa terbit lagi.
    Utk PHMA pikirkan dengan serius usaha penerbitan ini, pasti bermanfaat dan mendatangkan keuntungan yang luar biasa.

  • Singgih Prasetyo said:

    Iya tuh kalo duta muncul lagi aku akan berlangganan tetap

    ayo yg lain memberi komitmen biar ada semangat memunculkan duta

  • Hida Diyanto said:

    Iseng aku cari Majalah Duta, ternyata yg ku temukan warta berakhirnya majalah Duta. Maksud hati ingin kirim artikel dan menjalin relasi kembali dengan para pengelola Duta, maklum sudah sekian lama aku tidak mengikuti perkembangan Duta karena tidak lagi di GKJW. Sayang, sungguh sangat sayang jika harus berakhir, semoga cepat dipulihkan, kembali terbit, dan tetap menjadi inspirasi dalam pertumbuhan pelayanan dan religiusitas di GKJW. Aku tunggu infonya, aku siap kirim artikel.

  • david bahagia said:

    kalo terbit lagi, aku siap jadi personilnya…

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.