wordpress com stats plugin
Home » Pancaran Air Hidup

Memahami Alam

3 August 2014 30 views No Comment Oleh

Bacaan : Matius 14 : 22 – 33  |  Pujian : KJ 440: 1, 3
Nats : “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” [Ayat 27]

Saat gunung Merapi meletus beberapa bulan yang lalu, kita melihat kedahsyatan letusan yang menghancurkan pemukiman di sekitarnya. Ada korban jiwa, korban ternak dan kerugian material lain yang tidak sedikit jumlahnya. Beberapa orang menganggap hal ini sebagai bencana. Namun yang menarik, ada beberapa warga sekitar yang menanggapinya dengan pola pikir yang positif. Bahwa Merapi meletus untuk membangun kembali lingkungan atau alam di sekitarnya.

Saat Merapi meletus, ada ribuan ton material vulkanik yang keluar. Melalui letusannya seakan gunung Merapi ingin menggantikan kembali material-material batu dan pasir di sekitarnya yang nyaris habis di ambil manusia. Habis diambil dan dipergunakan kegiatan-kegiatan manusia di dalam kehidupannya.  Abu vulkanik yang keluar saat gunung meletus, diyakini pula membawa kesuburan bagi lingkungan di sekitarnya.  Tak salah bila kemudian ada masyarakat yang meyakini bahwa saat gunung meletus, sejatinya adalah proses alam untuk mengembalikan harmonisasi atau keseimbangan keadaan agar tetap bermanfaat bagi manusia dan mahluk ciptaan lainnya.

Jelas di sini bahwa apa yang terjadi, tak lepas dari perkenan Tuhan Allah Sang Pencipta. Keberadaan alam dan segala yang terjadi merupakan siklus kehidupan yang terjadi sebagai upaya Allah melestarikan bumi dan mahluk yang ada di dalamnya. Sebagai bagian dari alam dan mahluk ciptaan Tuhan yang dikarunia akal budi, tentu manusia memiliki peranan penting terhadap keseimbangan alam. Manusia berhak mengelola alam, tetapi sekaligus bertanggungjawab terhadap kelestarian alam.

Manakala alam melakukan upaya untuk “membangun dirinya” dengan berbagai cara, termasuk ketika bergolak, seharusnya kita tetap memandang dengan tenang dan bijak. Tak perlu takut, sebab Tuhan ada di dalam setiap pergerakan alam. Di tengah kondisi yang mencekam, bila ada kepasrahan diri kepadaNya serta hidup yang selaras dengan alam, kita akan tetap dapat melihat karya AgungNya. Juga suara lembutNya yang berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” [Oka]

Melestarikan alam adalah salah satu tanda menghargai kebesaran dan keberadaan Tuhan.”

Bagikan Artikel ini:
facebooktwittermail

Comments are closed.