wordpress com stats plugin
Home » Pancaran Air Hidup

Mati Setiap Hari

29 March 2015 50 views No Comment Oleh

Bacaan: Filipi 2:5-11|   Nyanyian: KJ 446
Nats:
“…… Ia merendahkan diriNya dan taat sampai mati ………….”. (ayat 8)

Bebek-bebek itu mengikuti dengan taat ke mana arah selembar plastik berwarna merah yang dikibaskan di ujung bambu oleh peternak yang mengawal mereka. Dengan setia mereka mengikut ke mana arah jalan yang ditunjukkan bagi mereka. Padahal setiap hari, di antara mereka harus ada yang mati untuk bisa disajikan di piring-piring para penggemar bebek.

Tidak jauh berbeda dengan para bebek, manusia pun sebenarnya telah paham bahwa akan ada yang mati setiap hari ketika sudah tiba waktunya bagi manusia untuk mengakhiri karyanya di dunia ini. Perbedaannya adalah, manusia tidak seberani bebek yang memasrahkan hidupnya dengan setia mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pemiliknya. Boleh saja manusia menganggap derajatnya lebih tinggi dari pada bebek, tetapi mengapa tidak semenurut bebek kepada tuannya? Manusia pun bisa belajar rendah hati seperti bebek yang tekun berjuang mencari makan sesuai arah yang ditunjukkan untuknya.

Tentulah kita bagian dari umat Allah yang bersedia mengosongkan diri dari segala keangkuhan, bersedia belajar mati setiap hari dari segala hal yang menghambat pertumbuhan jiwa kita. Mati setiap hari artinya manusia bersedia mematikan tiap hal dan keinginan diri yang membuat manusia kehilangan esensi dirinya sebagai gambar Allah. Sedemikianlah Tuhan Yesus mengosongkan diriNya untuk menjadi sama dengan manusia demi penebusan dosa manusia. Lalu siapakah manusia jika tidak bersedia mengosongkan diri dan mengisinya dengan kemuliaan Allah? Ini bukan soal menjadi sama dengan bebek! Tetapi ini bicara tentang bersedia merendahkan diri, mengosongkan diri dari keangkuhan, dan mengisi diri dengan semua hal yang berasal dari kebaikan Ilahi. Merendahkan diri itu bukan sekedar mematikan kesombongan, melainkan juga menghidupkan kesediaan dihina, direndahkan, dikalahkan dan bahkan tersiksa sampai mati. Dalam arti yang demikian itu, begitu sulitnya orang merendahkan dirinya. Bersediakah kita merendahkan diri seperti itu? [Dee]

“Merendahkan diri itu mematikan kesombongan dan menghidupkan kesediaan dihina, direndahkan, dikalahkan dan bahkan tersiksa sampai mati.”

Bagikan Artikel ini:
facebooktwittermail

Comments are closed.