wordpress com stats plugin
Home » Artikel

Kepemimpinan Yang Melayani

14 May 2009 7,820 views 2 Comments Oleh

Tiga fenomena yang perlu diwaspadai

1. Saya kutipkan dulu kalimat sbb, “…Saya menyadari bahwa hampir semua orang yang terlibat serius di gereja mana pun akan menyadari bahwa kedatangan ke gereja tidak sinonim dengan spiritualitas pribadi. Ada sebagian orang yang menjadi begitu sibuk dengan ibadah dan proyek gereja, sehingga menjadi tidak peka terhadap kebutuhan mendesak manusia yang ada di sekeliling mereka, dan ini bertentangan dengan ajaran yang mereka percayai secara mendalam…Anda dapat saja aktif di gereja, tetapi tidak aktif dalam menjalankan ajaranNya…” 2

2. Gurita hedonisme yang menyusup ke setiap tulang sumsum manusia Indonesia saat ini, termasuk agamawan. Warga masyarakat dibanjiri bujuk-rayu oleh produk industri kapitalis- konsumtif yang melemahkan kesadaran kritis manusia. Derasnya banjir bujuk rayu tak terimbangi oleh ketahanan daya tangkalnya, dan hal ini terjadi setiap hari, bahkan setiap detik! Budi yang cerdas dibuat tidur oleh apa yang disebut pemberhalaan yang menumpulkan rasionalitas kritis. Jadi, ada pembekuan proses menjadi sadar dan menyadari secara kritis dalam reifikasi (membuatnya semua menjadi thing=benda; dari kata Latin yaitu res = thing dan facere artinya to make)3. Hal ini terjadi baik di lingkungan di luar maupun di dalam gereja. Ciri khasnya adalah penekanan (pengejaran) terhadap kenikmatan/ kenyamanan/ fasilitas/ atraktif/ kulit, bukannya ketekunan, kesetiaan, proses/kedalaman (depth), pengorbanan/ isi.

3. Tembok2 gereja menjadi -ibarat- istana-istana kecil yang senang konflik karena pernik-pernik dogmatik-liturgis, sehingga menjerat kaki gerakan oikumenis sehingga jalannya menjadi tertatih-tatih bahkan jalan ditempat. Jika sudah merasa besar, tak lagi mau tunduk pada gereja, lalu memisahkan diri,dan mendirikan gereja sendiri. Sehingga di Indonesia gereja-gereja tidak semakin bersatu, tetapi justru semakin terpecah-pecah. Tak heranlah kalau Pdt. Eka Darmaputera pernah mengatakan bahwa gerakan oikumene sedang menderita “stroke”.

Memilih siapa: Yesus atau Faust?

where oikoumene will go1. Memang benar bahwa kepemimpinan amat penting dan signifikan dalam kehidupan bersama, baik organisasi sekuler maupun gerejawi. Sulit dibayangkan sebuah organisasi akan mampu melaksanakan tugas panggilannya sesuai dengan program-program yang telah dirumuskan jika organisasi tersebut tidak memiliki pemimpin, atau tidak mempunyai kepemimpinan yang kuat. Pemimpin dan kepemimpinan adalah motor penggerak, dinamisator, motivator, pemberi visi dan inspirasi bagi sebuah organisasi. Soal teknik dan ketrampilan menjadi pemimpin seseorang bisa dilatih, tetapi bagaimana dengan soal jiwa, spirit, kharakter kepemimpinan? Padahal justru di sinilah letak kunci kepemimpinan. Pembangunan watak, spiritual menjadi kekuatan dari dalam yang amat signifikan dalam mewarnai gaya dan buah kepemimpinan sesorang.

2. Hal mendasar yang membedakan kepemimpinan Kristen dan kepemimpinan pada umumnya adalah motivasinya. Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih, ditujukan untuk pelayanan, dan dikendalikan oleh Kristus dan keteladananNya. Pemimpin-pemimpin Kristen yang terbaik mencerminkan sepenuhnya sifat pengabdian yang tanpa pamrih (tidak mementingkan diri sendiri), teguh hati, berani, tegas, berbelas kasih dan mencerminkan tanda pemimpin-pemimpin besar. Untuk menemukan figur pemimpin sempurna dalam perspektif Kristen hanya kita temukan pada figur Yesus.

3. Matius ps. 4 memberikan penjelasan yang amat tegas bahwa memasuki medan kepemimpinan itu tidak mudah! Yesus perlu mempersiapkan diri secara serius sebelum terjun ke medan pelayanan. Ia tak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan diri, berpuasa 40 hari/malam. Ini artinya, spiritualitas yang baik menjadi prasyarat seorang pemimpin Kristen! Dengan memakai bahasa masa kini barangkali tak salah kalau kita sebut Yesus selama 40 hari mematangkan, mengasah spiritualitasnya. Kepemimpinan bukan hanya soal kepala/ kepandaian (head), tetapi juga soal hati (heart), dan tangan (hands).4

4. Yesus tahu apa yang akan dilakukan (misi-Nya) ditengah dunia, ada pekerjaan besar. Dan pekerjaan besar tantangannya juga pasti besar (godaan iblis: tawaran mengubah batu menjadi roti (pragmatis), menjatuhkan diri dan malaikat akan menolong (oportunis); menyembah iblis dan akan segala sesuatu (materialis). Tiga tawaran tersebut bisa ditangkal oleh Yesus! Mengapa? Yesus telah membekali diri-Nya dengan Spiritualitas yang matang. Bandingkanlah dengan sikap Faust yang demi ketiga hal itu ia rela mengadakan kontrak hidup dengan Mephistoles, memberikan jiwanya untuk Mephistoles. Dan jangan lupa tipe Faust gentayangan di sekitar kita! Rela menjual integritas demi kenyamanan/kesempatan/materi sesaat!

5. Spiritualitas Yesus ternyata tidak mandeg, tetapi senantiasa diasah (pagi-pagi benar Ia berdoa, mencari tempat yang sepi). Buah dari kedisiplinan dan ketekunanNya memelihara, mengasah spiritualitasnya, maka Ia menjadi Pemimpin yang melayani: rela membasuh kaki murid-muridnya dengan tulus dan penuh kasih; teguh pada kebenaran, tegas namun juga lemah lembut, visioner, mencerdaskan/memberdayakan orang banyak. Perhatikan misalnya sikap Yesus terhadap perempuan yang tertangkap berzinah, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Sikap Yesus ini menghembuskan cara pandang baru terhadap posisi wanita, juga contoh sikap kritis terhadap golongan yang merasa dirinya paling benar.

6. Yesus sadar sepenuhnya bahwa medan pelayanan bukanlah lahan untuk mencari kenikmatan dan kepuasan pribadi. Sehingga Ia seringkali berhadapan dengan tantangan yang amat besar, dan Ia tidak melarikan diri. Dari situ kita belajar bahwa komunitas/ medan pelayanan/ organisasi bukanlah lahan untuk mencari kesenangan. Dalam hal berorganisasi komunitas orang percaya dibentuk berdasarkan panggilan Allah melalui Kristus sendiri. Memang benar dalam organisasi gereja ada, misalnya: AD-ART, MOU, atau Keputusan-keputusan Organisasi. Berbagai peraturan itu sangat penting dan perlu dihargai karena menjadi simbol dari proses kesediaan untuk menyatukan visi-misi. Oleh karena itu bagi seorang pemimpin komunitas (organisasi gereja) bukanlah tempat untuk mencari kecocokan, tetapi tempat untuk mengabdikan diri (memasuki proses inkorporasi5, = yakni proses memasukkan diri kedalam tubuh gereja sebagai identitas (panggilan) kristianinya. Dalam proses inkorporasi ini tumbuhlah aspek askesis hidup, yaitu membangun kerelaan hati untuk hanya mengabdi kepada Allah (rela berkorban; belajar tahan uji ketika dicurigai dan dicela, bisa menahan diri ketika direndahkan; rela menyimpan pendapatnya sendiri demi tegaknya aturan atau keputusan bersama; tetap setia sekalipun idenya tidak diterima; tahan untuk tidak mengambil nilai-nilai yang menjadi pilihannya secara sendiri dan bersama-sama dapat melaksanakan ketaatan sejati). Di sinilah sering muncul persoalan serius, yaitu ketika seseorang lalu tergiur/ terseret oleh tawaran godaan bersikap pragmatis, oportunis, dan materialis (pengaruh daya cengkeraman hedonisme…???). Akibatnya, al. menjadi lesu (burn out) dalam pelayanan karena tidak mendapatkan “sesuatu”, diskriminatif (pilih-pilih pelayanan), senang membenarkan diri sendiri untuk berbagai alasan, menghitung untung-rugi dalam pelayanan (“Saya akan memperoleh apa?, bukannya apa yang bisa saya berikan”).

Dalam satu suratnya Rasul Paulus menasehatkan Timotius untuk menjadi kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus (2 Tim 2:1). Untuk menjadi kuat orang harus berlatih dengan tekun dan berdisiplin, dan taat mengikuti petunjuk atau aturan yang ditetapkan pelatih. Paulus menggambarkan usaha untuk menjadi kuat dan semakin sempurna ibarat seorang prajurit dan olahragawan (2 Tim 2 : 3 – 6). Tidak ada jalan pintas dan resep serba cepat (instant) untuk menjadi kuat yang sehat selain berlatih dan berlatih.

Ringkasnya kepemimpinan yang melayani setidaknya memerlukan tiga hal mendasar: 1) Senantiasa mengasah spiritualitasnya, 2) inkorporatif: tidak menjadikan lahan organisasi sebagai tempat mencari kesenangan/ mencari untung/ kemudahan, tetapi supaya garam itu semakin terasa asinnya; membangun korporasi menjadi lebih baik; 3) dituntun oleh visi/misi, mau membuka diri terhadap kebutuhan yang lebih luas.

Sekilas Tentang Semangat Oikumene
Perlu disampaikan bahwa Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bukanlah persekutuan gereja se-asas! PGI bukan organisasi aliran tertentu, tetapi sebuah organisasi terbuka (ibarat gerakan bola salju) yang disemangati oleh kerinduan memenuhi panggilan Tuhan Yesus “..supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Berangkat dari kerinduan itulah maka sebagai sebuah organisasi PGI menampung berbagai aliran ke dalam dirinya untuk secara bersama-sama berjuang memenuhi harapan doa Tuhan Yesus “…supaya dunia percaya…”

Semua gereja yang menjadi anggota PGI itu seumpama aliran air hidup yang bersumber (mengalir) dari satu Air Hidup yang benar, yaitu Yesus Kristus. Semua air itu baik, layak minum, tidak tercemar, murni dan membawa kehidupan yang kekal. Yang penting tidak terjadi tindakan saling menonjolkan airnya dan mengeruhkan air orang lain, tetapi tindakan saling mengenal berbagai jenis air hidup dalam berbagai aliran itu. Dengan demikian, maka kesatuan gereja, keesaan tubuh Kristus akan dapat kita tampakkan kepada dunia, dan dunia akan mengakui kita bahwa kita adalah murid-murid Yesus Kristus dan Yesus Kristus adalah Tuhan, sebagaimana doa Tuhan Yesus dalam Yohannes 17:21. Realitas ini merupakan sebuah keunikan PGI. Ke dalam PGI bergabung gereja-gereja beraliran Pentakosta, Injili, Protestan, kharismatik, dll.

Realitas kepelbagaian aliran inilah yang ditampung dalam Gerakan Oikumene Gerejawi yang mengadakan kesepakatan-kesepakatan, a.l. adalah Piagam Saling Mengakui dan Saling Menerima (PSMSM), sebagai salah satu dokumen dari DKG. Gereja-gereja di Indonesia sepakat untuk “Dalam upaya mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia kami mengikrarkan kembali kesediaan saling mengakui dan menerima satu terhadap yang lain dengan segala perbedaan yang ada…” (DKG, 2004, hlm 87).

Gereja-gereja di Indonesia sepakat untuk saling mengakui dan saling menerima hampir dalam semua aspek-aspek gerejawi: keanggotaan, diakonia, Pemberitaan Firman, Pekabaran Injil, Baptisan Kudus, Perjamuan Kudus, Penggembalaan, Disiplin Gerejawi, Pengajaran Pokok-pokok Iman Kristen, Pemberkatan Pernikahan Gerejawi, Pelayan/Pejabat Gerejawi, Penguburan/Pengabuan.

Apabila gereja dan semua orang Kristen di Indonesia menghayati Dokumen Keesaan Gereja ini dalam terang doa Tuhan Yesus serta dengan kerendahan hati, maka pertentangan dan ketegangan antara satu gereja (denominasi) dengan gereja (denominasi) yang lain dapat dihindarkan (Unity in essentials, liberty in non-essentials, and charity in both”).

Posisi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia setempat (PGIS)
Sebenarnya dalam semangat oikumenis posisi PGIS merupakan posisi yang paling strategis untuk membumikan cita-cita PGI. Sebab selama ini wacana dan kegiatan-kegiatan oikumene justru berada di aras yang jauh dari dinamika warga jemaat, dalam arti lebih banyak melibatkan “elit” gereja/ jemaat. Setidaknya ada tiga alasan untuk meyakini bahwa PGIS amat memegang kunci dalam perkembangan oikumene, yaitu:
1. Jumlah gereja yang relatif tidak banyak, sehingga intensitasnya lebih tinggi untuk saling mengenal dan belajar bersama;

2. Gerakan oikumene tidak berada di atas awan tetapi membumi karena berhadapan langsung dengan warga jemaat;

3. Tantangan/pergumulan/ persoalan ditengah masyarakat yang dihadapi realatif sama (misalnya mendaratkan secara oikumenis dan serius: Bagaimana Peran Umat Kristen -bukan hanya gereja A atau B- di kota Batu).

Semoga!

Catatan kaki:

  1. Judul asli tulisan ini adalah “Kepemimpinan yang Melayani (dalam Konteks Pergumulan Oikumenis)” Disampaikan di Seminar Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh PGIS Batu, 21 April 2008.
  2. Stephen Covey, 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif, (halaman 108).
  3. Muji Sutrisno, Mati Lemasnya Kesadaran Kritis, Kompas, 26/10/06. Bandingkan juga pendapat Ir. Hadi Prasetyo (Kepala Bapeprov Jawa Timur), yang menyatakan bahwa sudah menjadi rahasia umum, bahwa hikmat sudah menjauh dari keseharian bangsa kita. Banyak pemimpin yang pandai, cerdas, luas pengetahuan dan pengalamannya, tetapi yang berhikmat? (lihat dua judul bukunya: 1.Indonesia di manakah Engkau dan 2. Sampai di sinikah Indonesiaku).
  4. Lihat Dr. Kenneth Blanchard dan kawan kawan, Leadership by The Book (LTB) mengisahkan tentang tiga orang karakter yang mewakili tiga aspek kepemimpinan yang melayani, yaitu seorang pendeta, seorang professor, dan seorang profesional yang sangat berhasil di dunia bisnis. Tiga aspek kepemimpinan tersebut adalah HATI yang melayani (servant HEART), KEPALA atau pikiran yang melayani (servant HEAD), dan TANGAN yang melayani (servant HANDS).
  5. Lihat, F. Mardi Prasetyo SJ, Kepemimpinan Religius, Pusat Spiritualitas Girisonta, 1998. Halaman 23
  6. Richard M Daulay, Saling Mengenal Aliran Gereja Sepanjang Zaman, harian Suara Pembaruan, 27/5/06

Kirimkan Artikel Ini Kirimkan Artikel Ini

Kata Kunci Artikel Ini:

2 Comments »

  • Negari said:

    Tambahan dari saya
    Kita akan dapat melakukan Kepemimpinan yang melayani KALAU ada “Kepasraahan Total” Kepada Sang Pemilik Kebijakan Kepemimpinan
    Kepasrahan Total ini di bukan DIUSAHAKAN, Tapi di doakan

    salam

    Negari
    GKJW Sidoarjo

  • I Made Mastra said:

    It’s good to be refreshed. Your articles have been a blessings to me. Thankyou.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.