wordpress com stats plugin
Home » Artikel

Kebangsaan dan Kerukunan Antar Umat Beragama

10 February 2009 23,439 views 4 Comments Oleh

A. Kebangsaan Indonesia

Kerukunan umatProklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia memang baru dinyatakan pada 17 Agustus 1945. Namun proses untuk menuju pada hari proklamasi itu sudah dilalui cukup lama dan panjang. Proses nasionalisme Indonesia itu dapat diruntut dari berdirinya organisasi kebangsaan dengan didirikannya organisasi Boedi Oetomo, pada 20 Mei 1908. Kemudian diikrarkannya Soempah Pemoeda tahun 1928, sangat menentukan arah perjuangan untuk mencapai proklamasi itu.

Dari peristiwa sejarah nasional itu, kita dapat mengerti bahwa kebangsaan Indonesia tidak serta merta muncul namun bagaimana proses melampaui berbagai perbedaan suku, ras, agama dan antar golongan itu dapat dilalui untuk mencapai tujuan kemerdekaan suatu bangsa, yakni Bangsa Indonesia yang merdeka. Hal ini juga bisa dilihat para tokoh kemerdekaan Indonesia yang juga mempunyai perbedaan suku, ras, agama dan golongan.

Agama Kristen yang banyak disangka sebagai agama yang dibawa para penjajah, sebenarnya juga mengalami proses yang sama dengan agama-agama lainnya yang dipeluk oleh bangsa Indonesia. Kalau kita lebih teliti membaca peninggalan sejarah kita, agama Kristen sudah mempunyai pemeluk yang orang asli Nusantara sejak jaman Majapahit, artinya sebelum para penjajah dari Eropa membawa kekristenan ke Nusantara, para pemeluk agama Kristen sudah berusaha hidup di tengah-tengah kehidupan saudara sebangsanya yang berbeda keyakinan. Sehingga tidak ada alasan bagi pemeluk agama Kristen untuk tidak hidup rukun dengan berbagai pemeluk agama lainnya. Apalagi kalau yang diteladani pemeluk agama Kristen adalah Yesus Kristus dan para muridNya.

Yesus Kristus yang hidup di tengah-tengah bangsa Yahudi, ternyata selain memiliki nasionalisme bangsa Yahudi, Yesus juga mengajarkan dan hidup rukun dengan suku bangsa) yang biasanya dikucilkan atau dijauhi oleh bangsa Yahudi umumnya, misalnya cerita tentang perempuan Samaria.

Namun hal ini bisa menjadi sulit bagi para pemeluk agama Kristen di Indonesia yang merasa diri paling benar dalam penafsiran Kitab Suci Agama Kristen. Karena semangat mengabarkan Injil yang begitu besar sehingga yang mendapat perhatian hanya bagaimana menjadikan semua bangsa murid Yesus, sehingga ajaran-ajaran Yesus tentang hidup damai dan rukun sebagai bangsa yang memiliki berbagai perbedaan, sering tidak mendapat penekanan.

Kebangsaan Indonesia bagi pemeluk Agama Kristen seharusnya dihayati sebagai menjadi garam dan terang dunia, sebagaimana yang diajarkan Yesus Kristus untuk menjadi berkat bagi semua orang. Kebangsaan Indonesia tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab pemeluk agama Kristen. Setiap warga negara Indonesia seharusnya mempunyai tanggung jawab menghayati Kebangsaan Indonesia dalam hidup sehari-hari dalam rangka mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


B. Pluralisme sebagai dasar Kerukunan Antar Umat Beragama

Dalam sejarah kekristenan di dunia ini, ternyata tidak mudah bagi para pemeluk agama Kristen sejak dari perkembangannya untuk menghayati hidup rukun di tengah kemajemukan umat beragama di dunia ini. Butuh waktu yang lama dan panjang untuk bisa memahami bahwa kemajemukan itu tidak dapat dihilangkan sekalipun seluruh dunia mengetahui siapa Yesus Kristus itu. Sejarah membuktikan bahwa kekristenan yang disebarkan dari Timur Tengah ke Eropa bahkan ke seluruh dunia, tidak menjamin semua orang Kristen di dunia ini benar-benar telah meninggalkan kemajemukannya. Orang Kristen di Afrika jelas tidak bisa disamakan seluruhnya dengan orang Kristen di Amerika, bahkan orang Kristen di Asia juga tidak bisa disamakan begitu saja dengan orang Kristen di Australia sekalipun jaraknya dekat. Sehingga dapat dirumuskan bahwa kemajemukan itu adalah fakta yang tidak dapat dihilangkan.

Fakta inilah yang oleh para ahli agama Kristen di dunia ini, perlu mendapat perhatian. Karena jika hanya menggunakan satu sudut pandang saja dalam mengabarkan Injil, tentu yang terjadi justru kekristenan tidak dapat menjadi berkat bagi semua orang. Para ahli tersebut antara lain Alan Race, Ken Gnanakan, Gavin D’Costa, Paul F. Knitter, Hans K√ľng, dan yang lainnya. Sekalipun tidak semua orang Kristen di dunia ini mengenal mereka dan menyetujui tulisan mereka, namun sebagian besar umat Katolik dan Protestan di dunia ini mulai dengan serius mempraktekkan hasil studi para ahli tersebut. Apa yang diajarkan mereka ?

Secara sederhana dapat disampaikan bahwa tidak dapat dipungkiri adanya kelemahan manusia dalam menafsirkan ajaran Yesus Kristus oleh para pemeluknya, sehingga menimbulkan tiga pengelompokan cara pandang orang Kristen terhadap kemajemukan agama di dunia ini, yakni kelompok Ekslusif, Inklusif dan Pluralis.

Yang pertama disebut adalah kelompok Eksklusif. Kelompok ini menganggap bahwa di luar Yesus Kristus tidak ada keselamatan lain, artinya orang yang tidak memilih Yesus Kristus itu sebagai Juruselamatnya tidak selamat baik di dunia ini maupun setelah mati. Sehingga mereka wajib mengabarkan Injil (Berita Sukacita) Yesus Kristus kepada orang-orang tersebut, sampai orang-orang itu mengimani Yesus sebagai Juruselamatnya, apapun resikonya.

Berikutnya adalah kelompok Inklusif. Kelompok orang Kristen ini menganggap bahwa di luar Yesus Kristus tetap ada jalan keselamatan lain, tetapi bagi dirinya jalan keselamatan yang paling benar adalah dalam Yesus Kristus. Sebenarnya dalam kelompok inipun masih dapat dibagi dua kelompok lagi, yakni kelompok yang tetap mengabarkan Injil pada orang yang belum kenal Yesus Kristus dengan tujuan formal yakni menambah jumlah orang Kristen sekalipun tidak terlalu memaksa, biasa disebut kelompok inklusif-eksklusif. Dan satunya adalah kelompok yang tetap mengajarkan Injil tanpa memedulikan apakah orang itu menjadi Kristen atau tidak, yang penting ikut bersama-sama menghadirkan damai sejahtera di bumi ini, kelompok ini biasa disebut inklusif-pluralis.

Kelompok yang terakhir adalah kelompok pluralis. Kelompok orang Kristen ini menganggap di dalam agama-agama selain Kristen sebenarnya sudah ada ajaran Yesus Kristus, sehingga tidak perlu lagi mengabarkan injil. Bahkan identitas sebagai pemeluk agama Kristen dianggap tidak penting lagi, karena yang penting adalah tetap menghargai kemajemukan dan tetap bekerjasama melakukan kebaikan di dunia ini.

Secara jumlah pengikut dari masing-masing kelompok ini belum ada data yang membuktikan lebih besar yang mana jumlah pengikutnya. Namun dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari buah atau hasil cara hidup mereka sehari-hari. Sejauh ini kelompok inklusif masih menjadi pilihan yang lebih bisa diterima hidup di tengah-tengah dunia ini. Namun kelompok inklusif ini masih perlu melengkapi diri dengan pemahaman pluralisme yang baik. Karena seringkali kelompok kristen pluralis disamakan dengan pluralisme, maka perlu dijelaskan perbedaanya. Pluralisme tidak hanya ada dan dimiliki oleh kelompok Kristen pluralis tadi. Pluralisme adalah paham atau ajaran yang menghargai kemajemukan agama dan lainnya, karena mempunyai dasar pemahaman yang sama bahwa Tuhan yang menciptakan dunia ini adalah Tuhan yang mempunyai kasih untuk seluruh ciptaannya tanpa membedakan apapun.

Dengan paham ini, tentu kita koreksi dan hilangkan kejelekannya, artinya dengan pluralisme yang baik, kita dapat membangun kerukunan antar umat beragama di dunia ini. Karena pada hakekatnya perbedaan itu tidak dapat dihilangkan.

C. Kekristenan di tengah bangsa Indonesia

Dari penjelasan di atas, sekalipun tidak mungkin untuk mengajak semua orang Kristen di Indonesia untuk menjadi seorang Kristen yang sama pemahamannya dengan kita semua, tentu tidak ada salahnya jika kita saat ini bisa menilai kekristenan mana yang cocok di tengah bangsa Indonesia ini. Kalau semua anak bangsa Indonesia setuju untuk mempertahankan kerukunan antar umat beragama, maka orang Kristen yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia perlu memiliki pemahaman kemajemukan yang bertujuan untuk membangun kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Artinya kekristenan yang cocok hidup di tengah Indonesia ini adalah yang tidak eksklusif, sehingga ada proses belajar dan dialog dengan saudara sebangsa dan setanah air yang berbeda agama dan keyakinannya.

Dari berbagai dialog yang terjadi, ternyata tidak jarang dapat mengikis kecurigaan dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi. Misalnya, semula banyak orang mengira kalau umat Katolik itu menyembah patung sehingga dianggap sebagai kaum kafir, namun setelah mendapat penjelasan bahwa patung itu sebagai sarana membantu konsentrasi dalam menyembah Tuhan, maka kecurigaan dan penghakiman itu bisa dihindari. Demikian juga prasangka dunia internasional terhadap umat Muslim di Indonesia dapat dihilangkan dengan penjelasan yang dilandasi saling menerima satu dengan yang lain.


D. Ajakan

Kekristenan di Indonesia yang pluralistik sekalipun, tentu tidak dapat berbuat apa-apa, tanpa kerjasama dan dukungan dari seluruh komponen bangsa. Oleh karena itu, dengan segenap kerendahan hati, mari merespon ajakan untuk kita semua, bahwa hidup sebagai bangsa Indonesia yang sedang mengalami berbagai keadaan seperti selama ini, sangat membutuhkan pemahaman dan praktek hidup yang dilandasi pemahaman kemajemukan yang baik sebagai dasar kebangsaan dan hidup rukun antar umat beragama. Biarlah dengan kekuatan itu kita dapat segera keluar dari keadaan yang selama ini banyak membawa penderitaan saudara sebangsa dan setanah air Indonesia ini.
Tuhan memberkati

Makalah ini disampaikan dalam acara “Dialog Kebangsaan dan Kerukunan Antar Umat Beragama” yang diselenggarakan oleh Pengurus GP Anshor Bangkalan, 30 Agustus 2008 di Bangkalan

image: gettyimages

Kirimkan Artikel Ini Kirimkan Artikel Ini

Kata Kunci Artikel Ini:

4 Comments »

  • Gerry said:

    “dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam DIA, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lian yang di berikan kepada manusia yang olehnya kita dapat di selamatkan” kisah Para Rasul 4:12………..

  • Teguh Budiono, ST said:

    Salam Damai,
    Ibarat 6 orang buta yg mencari kebenaran tentang seekor gajah, masing2 merasa benar dengan yg dipegangnya. Yang satu mengatakan bahwa gajah itu seperti ular karena yg dipegang ekornya, yg satu bilang gajah itu seperti tembok yg keras karena perut yg dipegangnya, satu lagi menyalahkan lainnya dan dengan yakin berkata bahwa gajah itu seperti bambu yg besar karena kaki yang dipegangnya. Sebenarnya mereka semua sedang memegang kepingan puzzel untuk mengetahui gambar apa yang sedang dicari.
    Demikian juga hubungan intra dan ekstra beragama saya berpendapat bahwa setiap yg kita pegang akan saling menyempurnakan jika saling dibagikan. Dengan demikian setiap agama justru bisa benar-benar menjadi agama dakwah, sebagai contoh orang islam boleh mendakwahi orang kristen, demikian juga sebaliknya karena dilakukan berdasarkan kasih untuk membagikan sebagian apa yang diketahuinya tentang kebenaran Tuhan tentu harus dibarengi dengan kedewasaan tinggi dan rasa mengasihi. Toh pada akhirnya keyakinan itu bersifat pribadi, artinya seseorang mau menyembah apa atau siapa itu terjadi karena keputusan dan keyakinan secara pribadi. Ingat bahwa sekalipun Syeh Siti Jenar, Imam Ali, Yesus Kristus bahkan secara politik ORBA melenyapkan tokoh-tokoh komunis, sebuah isme atau kepercayaan atau keyakinan tidak akan hilang dengan memusnahkan orangnya, bahkan dikemudian hari akan muncul buku-buku, pertanyaan dan pencariaan tentang kebenaran dari sebuah kepercayaan yang diberangus. Jadi mari saling menyapa, saling mendakwahi, saling menolong (tentu tidak dalam arti melanggar kepentingan umum), supaya hidup lebih hidup.
    Tuhan memberkati anda semua.
    Salam

    Teguh Budiono, ST
    (Anggota GKJW Tunjungsekar kelompok 1)

  • Paulus said:

    Salam.. Ass.Wr.Wb,

    Saya melihat akhir-akhir ini sering dikumandangi plural dan kerukunan seperti sebuah nyanyian. Namun, menerut saya ketika bicara plural dan semacamnya kita sudah bicara soal hasil atau tujuan (atau di Islam : Muamalah), sedangkan akarnya soal Iman (Islam : Aqidah) tidak pernah kita perbaiki. Manusia itu menurut saya, bagaikan semua pohon yang terdiri atas 3 bagian :
    1. Akar : melambangkan Iman (di Islam : Aqidah)
    2. Batang : melambangkan Hukum (di Islam : Syariat)
    3. Buah : melambangkan hasil sikap kita (di Islam : muamalah)

    Jadi, hemat kata :
    Jangan kita terlalu hiperbola membahas plural atau kerukunan antar beragama apabila kita belum dapat memperbaiki “akar” kita (iman/ aqidah kita)

    Wassalam.. Syaloom GBU

    Paulus

  • wawan said:

    kalo gitu gimana dengan mandat Kritus kepada kita para murid-Nya (bagi yang benar” ngerasa kalo murid Kristus) untuk menjadikan seluruh bangsa murid-Nya??? apa kita abaikan begitu saja???
    memang Kristus mengajarkan kita untuk hidup rukun dengan semua orang yang ada disekitar kita namun itu dengan tujuan untuk mengabarkan berita keselamatan kepada mereka….
    coba ingat apa pernah Tuhan Yesus kompromi untuk menyimpan berita keselamatan itu??? dalam setiap interaksi Tuhan Yesus dengan orang” disekitar tidak pernah sekalipun melewatkan untuk mengajar dan menawarkan keselamatan yang hanya ada dalam Dia….
    seperti contoh diatas yaitu pertemuan Yesus dengan perempuan samaria. disitu Yesus juga mengajar dan juga menawarkan air hidup….
    jika kita memang benar” mengaku sebagai murid Kristus maka sebagai murid kita tentu akan mengikuti apa yang diajarkan dan diperintahkan Guru kita yaitu Kristus Yesus…

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.