wordpress com stats plugin
Home » Opini

Kawin Beda Agama, Mengapa Tidak ?

29 July 2010 37,911 views 120 Comments Oleh

“….karena cinta kuat seperti maut,
kegairahan gigih seperti dunia orang mati,
nyalanya adalah nyala api TUHAN!,
air yang banyak tak dapat memadamkan cinta.”
~Kidung Agung 8:6-7

I. Pengantar

marriage Kerapkali dilontarkan pernyataan bahwa cinta pada hakikatnya merupakan sesuatu yang subtil dan menembus batas. Dikatakan subtil (halus/tak kentara) karena memang misterius. Tak ada seorangpun yang mampu secara pasti memahami mengapa, bagaimana dan kapankah cinta datang, bersemi serta menghangatkan sanubari. Agaknya dari situ lantas jamak dipopulerkan idiom “jatuh cinta,” mengingat kehadiran cinta yang tiba-tiba, layaknya seseorang yang tiba-tiba terpelanting dan jatuh. Dan dikatakan menembus batas karena memang itulah keniscayaan cinta. Semua bangunan tembok pemisah yang direka oleh manusia seperti ras, adat, suku, budaya, bahasa, aturan main, ideologi dan agama, pada kenyataannya tak dapat membendung nyala cinta. Karena nyalanya adalah nyala api TUHAN! –demikian sabda Kidung Agung.

Begitu sepasang anak manusia terhisap dalam pusaran cinta, maka secara substantive sejatinya tiada yang dapat menghalangi kesatuannya. Dan kalaupun toh dipaksa untuk berpisah, maka tentu akan segera bermunculan kisah-kisah baru; kisah cinta berlatar tragedi sejenis Romeo and Juliet ataupun Siti Nurbaya. Karenanya tak berlebihan jika kitab Kidung Agung di dalam Perjanjian Lama memberikan apresiasi yang sangat mendalam akan keagungan cinta: “Begitu cinta membara, maka sungai-sungai tak dapat memadamkan serta menghanyutkannya.”

Dengan demikian cinta pada hakikatnya merupakan sesuatu yang sacred, sakral. Bersumber dari kedalaman Kasih Sang Khalik sendiri.

Bahwa dalam perjalanannya cinta menjadi tidak lagi sakral dan tercemari oleh banyak pengaruh profan yang bersumber dari kedagingan manusia, sehingga pijar cinta memudar atau malah musnah, maka itu perkara lain. Namun penghargaan terhadap cinta adalah sesuatu yang mutlak.

Maka dalam rangka menopang dan mengupayakan struktur pendukung bagi keberadaan cinta, institusi perkawinan pun lantas hadir serta mengemuka. Dan mereka yang hendak melangsungkan perkawinan pada prinsipnya tak boleh dihalang-halangi. Seorang penjahat yang paling sadis pun diperkenankan, dijamin atas nama cinta dan Hak Azasi Manusia, tidak boleh dilarang jika meminta melangsungkan perkawinan. Konsekuensinya, hal yang sama juga idealnya diberlakukan bagi sepasang anak manusia yang berbeda agama….Kawin beda agama, mengapa tidak ?

II. Kawin beda agama (campur) dalam Alkitab

Jika mencermati kisah-kisah perkawinan dalam Perjanjian Lama, maka terdapat penolakan, atau dengan kata lain, kata TIDAK atas frase kawin beda agama.

(Lihat kisah Ulangan. 7:1-11; Keluaran. 34:12-16; Maleakhi. 2:10-15; Ezra. 2:59-62; Nehemia. 7:61-64; 13:23-29.) Sebagaimana penelusuran kawan saya, Pdt Andri Purnawan, penolakan tersebut dilatarbelakangi pemahaman bahwa tatkala perkawinan beda agama dilakukan maka umat Yahweh yang secara kuantitas jumlahnya jauh lebih kecil daripada umat/bangsa lain yang berbeda agama akan terancam luntur.

Atas dasar kekuatiran lenyapnya Yahwehisme, demi alasan mengamankan identitas, serta konservasi jumlah penganut iman yang sedikit, maka munculah pelarangan dan penolakan terhadap kawin beda agama/beda suku. Umat Yahweh hanya boleh kawin dengan sesama umat Yahweh, tidak boleh kawin dengan goyim/yang bukan umat Yahweh.

Namun berdasar penelusuran Pdt Andri Purnawan, tak dapat dipungkiri pula bahwa kenyataan dari perjumpaan dengan peradaban dan suku bangsa lain yang beragam, menjadikan kawin beda agama sebagai realitas yang tak terhindarkan. Andri mencatat bahwa, bahkan “tokoh-tokoh besar” Israel pun mengalaminya, seperti diperlihatkan dalam :

  • Kej. 38 :1-2 (Yehuda kawin dengan Syua,wanita Kanaan)
  • Kej. 46: 10 (Simeon kawin dengan wanita Kanaan)
  • Kej. 41:45 (Yusuf kawin dengan Asnat, anak Potifera, imam di On-Mesir)
  • Kej. 26:34 (Esau dengan Yudit, anak Beeri orang Het)
  • Bil. 12:1 (Musa – sang pemimpin Israel – kawin dengan seorang perempuan Kusy)

Bahkan dalam konteks tertentu malah diijinkan. Sebagaimana terdapat dalam Ulangan 21:10-14. yang merupakan rangkaian dari perikop yang berbicara mengenai hukum perang yang ditetapkan bagi orang Israel (lihat Ul. 20 – 21 :14). Andri mengungkapkan bahwa pada bagian ini dengan gamblang diatur apabila Israel menang perang, menawan musuh dan diantaranya ada para perempuan yang menarik, maka perempuan itu harus diperlakukan secara manusiawi, dihormati hak-haknya.Lalu “sesudah itu bolehlah engkau menghampiri dia dan menjadi suaminya, sehingga ia menjadi istrimu.” Dalam konteks ini perkawinan dengan perempuan non-Israel/yang beragama lain diijinkan supaya umat tidak terjatuh pada dosa kejahatan perang, dalam hal perlakuan biadab terhadap para perempuan tawanan perang.

Dalam Perjanjian Baru (PB).
Andri Purnawan di dalam penelusurannya atas Perjanjian Baru mencatat penggunaan teks 2 Kor. 6:14 yang berbunyi “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” yang merupakan teks favorit, yang paling sering dikutip untuk melegitimasi pelarangan melakukan perkawinan dengan orang yang berbeda agama.

Namun jika menilik konteksnya, Andri menerangkan bahwa sejatinya ayat itu tidak ditujukan untuk melarang atau mendukung seorang Kristen menikah dengan orang non-Kristen, melainkan lebih ditujukan bagi mereka yang baru saja bertobat namun pasangannya masih memeluk kepercayaan yang lama. Tujuannya jelas, yakni agar orang-orang Kristen/petobat baru, benar-benar menerapkan kekudusan dalam hidupnya dan tidak lagi terjatuh dalam kehidupan cemar yang masih menjadi gaya hidup pasangannya. Mereka dipanggil untuk menularkan positive influence bagi pasangannya yang belum percaya. Paulus tetap melarang orang-orang Kristen menceraikan pasangannya yang berbeda iman, kecuali pasangannya yang menginginkan (lihat : I Kor. 7:12-16, I Petrus 3:1-7).

Maka dengan demikian, berdasarkan penelusuran Andri diatas, dapat diketengahkan pokok baru tentang kesucian.
Di dalam Yudaisme berkembang hukum halal-haram. Apabila yang suci bertemu dengan yang cemar, maka yang suci dikalahkan oleh yang cemar, oleh yang najis. Dari situ kemudian berkembang konsep separasi radikal yang memisahkan secara dikotomis antara -mereka yang suci-dengan-mereka yang najis.

Namun di dalam Perjanjian Baru konsep itu dirombak.

Yang suci tidak perlu bercerai dengan yang cemar. Umat tebusan tidak perlu memisahkan diri dari umat yang bukan tebusan. Karena bukan hanya yang najis/cemar saja yang dapat mempengaruhi. Yang suci pun juga mampu untuk mempengaruhi yang cemar. “Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh istrinya dan istrinya yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya”(1Korintus 7:14). Dan kenyataan ini menurut Pdt. DR Bambang Ruseno merupakan proklamasi yang luar biasa.

Gusti Yesus sendiri, melalui aksiNya yang menyentuh langsung orang yang terkena lepra, perempuan Samaria, perempuan yang kena pendarahan, dan kumpulan manusia lain –yang di dalam tradisi Yudaisme diklaim sebagai golongan cemar/najis-pada hakikatnya telah membongkar pemahaman tentang kesucian yang semula bersifat tertutup/eksklusif menjadi terbuka/inklusif. Dan tentunya roh dari pemahaman ini diteruskan serta digemakan ulang oleh Paulus selaku muridNya di dalam surat-surat penggembalaan, termasuk kepada jemaat di Korintus.

Jika dikaitkan dengan kawin beda agama, maka tatkala yang berbeda dianggap sebagai najis, secara teologis perkawinan itu tidak selalu bermakna bahwa yang suci akan dicemarkan oleh yang najis, sehingga harus dilarang. Melainkan dapat bermakna sebaliknya; yang najis sangat mungkin dipengaruhi oleh yang suci melalui kesaksian keseharian hidup yang nyata. Sehingga tidak harus dilarang.

III. Kawin beda agama: sejak sejarah Gereja hingga Hindia Belanda
Scisma ke II atau perpecahan gereja pada kisaran tahun 1500-1800 antara Katolik versus Protestan sebenarnya diawali oleh perselisihan pada ranah ajaran. Yang kemudian menjalar dan mengakibatkan pertentangan (perebutan) kekuasaan secara politis. Perselisihan yang terjadi secara tak terelakkan pada gilirannya memunculkan jurang pemisah.

Menurut L.M Gandhi SH (dalam: “Pelaksanaan UU Perkawinan dalam perspektif Kristen,” BPK-GM, 1994, hlm 131) semula orang katolik dilarang untuk kawin dengan non katolik. Dan mengingat gereja Katolik berkuasa maka di wilayah Eropa awalnya perkawinan tunduk pada hukum dan ketentuan gereja. Karenanya pemberlakuan hukum perkawinan bersifat kaku dan eksklusif.

Namun seiring dengan semangat reformasi yang melanda zaman itu, pada gilirannya di Eropa timbulah protes serta gejolak pemberontakan terhadap kekuasaan gereja. Maka pasca revolusi Perancis, akhirnya diundangkanlah Code Civil. Dengan demikian perkawinan memperoleh babak baru; diatur sebagai perkara sekuler, ditata dalam hukum perdata yang dibedakan serta tidak lagi berada dalam ranah kewenangan gereja/agama. Konsekuensinya seseorang bisa saja meminta untuk dicatatkan perkawinannya oleh Negara (legitimatio), namun tidak merasa perlu untuk meminta pemberkatan (konfirmatio) pada pihak gereja.

Pada masa Hindia Belanda, semula dalam rangka mencegah percampuran identitas yang disinyalir dapat meruntuhkan bangunan “kasta”yang dibuat penguasa, maka VOC menekankan separasi/pemisahan secara ketat. Dan ketika pada 1799 VOC menyerahkan kedaulatan ke tangan pemerintah Hindia Belanda, kebijakan pelarangan kawin “campur” juga masih diberlakukan. Artinya, orang Belanda dilarang keras kawin dengan pribumi/bumiputra. Orang Indonesia Kristen juga dilarang melakukan perkawinan dengan non Kristen. Sebagai dampaknya, banyak pasangan yang berupaya menyiasati dengan melakukan “kumpul kebo” atau melakukan perkawinan tersembunyi.

Namun mengingat dinamika perjumpaan antar manusia yang muskil begitu saja dapat dihalangi, pada perkembangannya seiring dengan terbitnya kesadaran baru –terhadap keberadaan cinta yang memang tidak seharusnya dihalangi– maka pada tahun 1848 larangan kawin beda agama pun dicabut. Lantas pemerintah Hindia Belanda menerbitkan aturan serta hukum materiil yang mendasari perkawinan “beda agama” yang disebut sebagai: Regeling op de Gemengde Huwelijk disingkat GHR, Staatsblaad.1989 no 158.
Di dalam GHR pasal 7 ayat 2 terdapat klausul yang berbunyi:

“…Perbedaan agama, bangsa atau asal sama sekali bukanlah menjadi halangan untuk perkawinan itu.”

IV. UU perkawinan No 1/1974 & implikasinya terhadap kawin beda agama

Ketika Indonesia Merdeka pada tahun 1945, muncul semangat untuk secara mandiri mengatur landasan bagi kehidupan bersama di bumi Indonesia, yang didasari oleh Pancasila. Kemudian dalam prosesnya diajukan dan dibahaslah rancangan undang-undang (RUU) perkawinan yang berdasarkan Pancasila, bersifat Nasional, berlaku bagi seluruh warga negara serta menjamin kepastian hukum.

Semula pasal 2 ayat 1 RUU Perkawinan berbunyi:

“Perkawinan adalah sah apabila dilakukan di hadapan pegawai pencatat
perkawinan, dicatat dalam daftar pencatat perkawinan oleh pegawai tersebut, dan dilangsungkan menurut ketentuan Undang-Undang ini dan atau ketentuan hukum perkawinan pihak-pihak yang melakukan perkawinan, sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini
” (Albert Hasibuan, Beberapa Pokok Pikiran Tentang Penyelesaian masalah “perkawinan campuran, dalam Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan dalam perspektif Kristen, Jakarta:BPK-GM, 1994, hlm77-79)

Namun menurut Albert Hasibuan, pembahasan RUU tersebut mendapat reaksi dan protes keras dari golongan yang menghendaki berlakunya hukum agama di dalam peraturan perundangan perkawinan. Reaksi keras tidak hanya menyangkut sahnya perkawinan, tetapi juga tentang asas monogami, perceraian, perwalian, termasuk juga pasal (11) ayat (2) RUU yang memuat ketentuan yang memungkinkan kawin beda agama.

Maka ketika Undang Undang Perkawinan disahkan, muncullah ketentuan yang bersifat kompromistis. Albert mengungkapkan bahwa UU Perkawinan no 1/1974 dikatakan kompromistis karena memberlakukan hukum agama menjadi hukum positif, sebagai hukum Negara: pada akhirnya Pasal 2 ayat 1 UU no 1/1974 berbunyi:

Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”

Jadi yang semula di dalam draft RUU, sahnya perkawinan adalah jika dilakukan di hadapan Negara, kini sahnya perkawinan adalah ketika dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan. Dan tentang kawin beda agama dalam RUU pasal 11 ayat 2 menjadi dihilangkan (di-drop). Namun tetap timbul kesimpangsiuran dalam menafsirkan pelaksanaannya. Terutama berkaitan dengan kawin beda agama.

Di dalam UU No.1/1974 pasal 57 memang diatur tentang kawin campur, dan yang dimaksud adalah:

…perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.”

Sementara untuk perkawinan “campuran” antara dua orang yang berbeda agama sama sekali tidak diatur. Maka jelas terdapat kekosongan hukum. Dengan demikian dapat dipahami jika alasan “ketiadaan aturan” kerapkali digunakan sebagai justifikasi/dasar pembenar dari pihak Catatan Sipil, lembaga agama, bahkan Gereja, guna menolak mereka yang hendak melangsungkan perkawinan beda agama.

Namun jika dicermati di dalam ketentuan peralihan pasal 66 UU No.1/1974, terdapat pernyataan yang berbunyi:

” untuk perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan berdasarkan atas Undang-Undang ini, maka dengan berlakunya Undang-Undang ini, ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijk Ordonantie Christen Indonesiers S. 1933 No.74), Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling Op De Gemengde Huwelijken S.1898 No.158), dan peraturan peraturan lain yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam Undang-Undang ini, dinyatakan tidak berlaku.”

Sehingga menurut Albert Hasibuan, dengan mendasarkan diri pada penafsiran “a-contratio” atau tafsir yang membandingkan perbedaan dan melihat sisi sebaliknya, maka kalimat “sejauh telah diatur”, sejatinya dapat berarti bahwa Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling Op De Gemengde Huwelijken S. 1898 No 158, yang disingkat GHR) masih tetap berlaku, dan dapat digunakan, mengingat bahwa aturan tentang kawin beda agama memang belum ada dan belum diatur di dalam UU no1/1974.

V. Konsekuensi eklesiologis

Pasal 66 di atas pada gilirannya mendasari terbitnya akta KETETAPAN SIDANG MPL-PGI NOMOR 01/MPL-PGI/1989 Mengenai Pemahaman Gereja-Gereja di Indonesia tentang Sahnya Perkawinan dan Perkawinan Bagi Warga Negara Yang Berbeda Agama. Ketetapan yang dirumuskan dalam persidangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor pada 29 April 1989, juga menetapkan konsekuensi eklesiologis; bahwa gereja dapat memberkati perkawinan beda agama.

Lantas bagaimana dengan Greja Kristen Jawi Wetan ?
Sebagai dasar kiprah dan gerak langkah gereja, maka tersebutlah Tata dan Pranata GKJW terbitan Majelis Agung tahun 1996. Di dalam bagian pranata tentang perkawinan memang sama sekali tidak terakomodasi pergumulan yang terkait dengan kawin beda agama. Dalam Bab IV.Hal Khusus, pasal 16 bahkan sayup-sayup terdengar gema paradigma eksklusivisme, ketika diungkapkan bahwa:

apabila ada suami-istri yang salah satunya masuk Kristen, perkawinannya belum dapat disahkan secara gerejawi”

Dengan demikian yang perkawinannya dianggap sah secara gerejawi hanyalah mereka yang sama-sama menganut agama Kristen. Jika hanya salah seorang yang menganut agama Kristen maka tidak sah. Sementara secara biblical sejatinya jelas bertolak belakang dengan semangat pemahaman 1 Korintus 7:14 yang bercorak inklusif.

Faktanya, GKJW memang menghadapi pergumulan mengenai kawin beda agama. Bahkan secara strategis GKJW pernah berkorespondensi langsung dengan Dirjen BIMAS Kristen Departemen Agama RI, menyoal kawin beda agama, yang kemudian dibalas per tanggal 29 September 1976.
Di dalam isi surat balasan, dikemukakan persetujuan BIMAS Kristen Depag RI tentang kesimpulan dan penjelasan GKJW terkait pasal 66 UU No.1/1974 yaitu:

a. Hal-hal yang sudah diatur dalam UU No 1/1974, maka peraturan yang sudah ada sebelumnya tidak berlaku, sebab yang berlaku adalah peraturan yang sekarang.

b. Mengenai hal-hal yang belum diatur di dalam UU1/1974, maka peraturan yang sudah ada sebelumnya dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah-masalah ini, dengan demikian pasal (75) dari HOCI masih berlaku.

Hanya saja, kala itu yang digunakan GKJW sebagai dasar hukum argumentasi kawin beda agama bukanlah GHR melainkan HOCI/Huwelijk Ordonatie Christen Indonesier, pasal 75, yang juga mengatur ketentuan tentang kawin beda agama.

Dengan demikian di satu sisi, secara tekstual, dengan mendasarkan pada Tata-Pranata tahun 1996, GKJW terlihat menganut paham eksklusivisme. Menutup diri terhadap kemungkinan kawin beda agama. Berkat perkawinan dipahami hanya secara eksklusif diperuntukkan kepada sesama umat tebusan. Karenanya bagi suami-istri yang salah satunya masuk Kristen, perkawinannya belum dapat disahkan oleh gereja.
Padahal secara hakiki, gereja bukanlah Kristus.Gereja bukanlah sumber berkat, melainkan hanyalah sekadar sarana guna mengejawantahkan berkat yang bersumber dari Tuhan sendiri.

Di sisi lain, secara factual, GKJW di dalam praksisnya sebenarnya nampak tidak begitu saja menutup mata terhadap dinamika konteks yang membutuhkan perhatian dan pelayanan nyata. Buktinya, ketika terdapat pergumulan terkait keberadaan warga yang hendak kawin beda agama, GKJW tidak tinggal diam. Ada upaya untuk melayani dan merengkuh. Dan komitmen pelayanan tersebut setidaknya terlihat dengan keberadaan “surat advokasi/pembelaan” kiriman PHMA kepada BIMAS Kristen Depag RI pada tahun 1976 yang berisi saran dan meminta persetujuan bagi penggunaan dasar hukum HOCI pasal 75, guna mendukung terlaksananya kawin beda agama secara konstitusional.

Jadi, dengan mengingat bahwa Tuhan itu baik bagi semua orang dan penuh rahmat terhadap yang dijadikanNya (Maz 145:9), serta dengan memperhatikan tema Program Kegiatan Pembangunan (PKP) GKJW yang selama ini selalu berorientasi pada upaya untuk menjadi rahmat bagi sesama dan dunia, maka GKJW perlu menegaskan sikapnya bahwa pada prinsipnya Greja Kristen Jawi Wetan mengakui dan menghargai perkawinan beda agama.

Ketika prinsip ini diamini, artinya GKJW berani menegaskan bahwa agama sebagai hasil konstruksi manusia tidak seharusnya digunakan untuk menegasikan/meniadakan cinta sebagai sesuatu yang ultimate dan sacral.

Sehingga konsekuensinya, tatanan/pranata yang tertulis pun harus direvisi guna menyelaraskan dengan prinsip yang digenggam. Konsekuensi berikutnya, jika terdapat pasangan yang hendak meminta pemberkatan kawin beda agama, maka Majelis Jemaat tidak diperkenankan untuk menolak dan harus tetap melayaninya. Termasuk juga turut mendampingi prosesnya untuk ke Catatan Sipil, atau ke Pengadilan Negeri, guna mendapat yurisprudensi yang bisa digunakan sebagai dasar pencatatan sipil.

VI. Beberapa keberatan dan kesulitan teknis.
Walaupun demikian bukan berarti kawin beda agama tidak menemui hambatan. Saya mencatat beberapa keberatan yang muncul, salah satunya yang dilontarkan oleh sobat Andri Purnawan:

“Ketidaksamaan standar moral etis dalam sebuah keluarga bisa saja terjadi. Dan sangat mungkin menjadi awal dari sebuah bencana besar dalam hidup berkeluarga, terutama jika keluarga itu berhadapan dengan problem rumah tangga. Misalnya : yang satu mengharamkan perceraian, sementara yang lain mengatakan boleh. Yang satu memegang erat asas monogami, yang lain mengatakan boleh poligami asal adil, dan masih banyak masalah yang lain, termasuk menyangkut makanan perihal halal/haram, ada tidaknya meja pemujaan di rumah, dsb. Ada lagi satu pertanyaan prinsip. Siapakah yang menjadi kepala rumah tangga? Tentu bukan lagi Kristus. Dampaknya keluarga tersebut bisa jadi tidak akan dapat memainkan peran dalam menjawab tugas kerasulan untuk menjadi garam dan bercahaya bagi Kristus. Jika dipaksakan untuk terus berjalan sendiri? Bisa! Tapi sehatkah keluarga yang demikian?”

Argumentasi di atas memang benar. Itu sangat mungkin terjadi. Namun yang pertama, bahaya perpecahan dan ketidakmampuan untuk mentolerir perbedaan/ketidaksamaan standar moral, sejatinya tidak hanya melulu menjadi resiko yang harus dihadapi oleh mereka yang melangsungkan kawin beda agama saja, melainkan menjadi resiko dan bahaya yang harus diantisipasi secara bijak oleh setiap semua pasangan yang membangun rumah tangga-apapun agamanya. Memang diperlukan pengelolaan dan kebijaksanaan bagi mereka yang melakoni kawin beda agama, namun bukan berarti dapat diklaim begitu saja, bahwa seolah-olah mereka yang kawin beda agama jauh lebih rentan untuk mengalami bencana besar jika dibandingkan dengan mereka yang kawin seagama.

Apakah sebilah pisau yang mempunyai faktor resiko dapat melukai tangan dan potensial digunakan sebagai alat pembunuhan harus dilarang keberadaannya? Tidak begitu bukan?!. Walaupun mengandung resiko, namun tidak berarti bahwa keberadaan pisau harus sama sekali dilarang peredarannya.

Maka demikian pula dengan kawin beda agama. Keberadaan resiko dalam perkawinan dua orang yang berbeda agama, tidak dapat dibawa begitu saja pada kesimpulan untuk menegasikan/melarang kawin beda agama.

Bahwa kemudian dipandang perlu untuk memberikan touchstone yang mendeskripsikan secara rinci faktor resiko dalam kawin beda agama, maka ini menjadi kewajiban Gereja guna memaparkan dan mendampingi dalam proses katekisasi khusus.

Yang kedua, terkait dengan asumsi triumphalistis, yang mengklaim bahwa keluarga beda agama tidak akan mampu menjawab tugas kerasulan untuk menjadi garam dan terang. Asumsi tersebut menurut saya dibuat melalui kacamata eksklusif, dengan penekanan bahwa hanya yang sewarna-lah yang dapat mewujudnyatakan misi. Yang berbeda warna tidak.

Maka sebaliknya, adakah jaminan bahwa yang sewarna/keluarga kristen dapat secara tuntas mewujudnyatakan garam dan terang, serta memberlakukan Misio Dei secara tuntas dan total?
Jika menjadi garam dan terang sejatinya terkait dengan perilaku keseharian, yang diwujudkan melalui ujaran, pikiran dan tindakan yang dilingkupi kasih, maka tidakkah mungkin bagi keluarga yang berbeda agama untuk menghadirkan harmoni dan kedamaian melalui kisah hidup keseharian mereka?

Saya pikir kemungkinan itu senantiasa terbuka lebar. Dan ketika taruhlah sesuatu yang baik, yang indah, yang sedap didengar, yang dilandasi oleh kasih serta kebenaran hadir dan muncul sebagai buah hidup dari keluarga beda agama, maka bukankah sejatinya hal tersebut juga merupakan upaya pemberlakuan kehendak Allah?

Di dalam Yohanes 14:15 Gusti Yesus berujar, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu.” dan dalam Yoh 15:17 Gusti Yesus mengungkapkan bahwa: “Inilah perintahKu kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Maka ketika keluarga beda agama memberlakukan kasih secara nyata, tidakkah mereka dapat disebut sebagai keluarga yang menuruti perintah Tuhan dan membiarkan nilai-nilai Kristus untuk mengepalai serta menutun rumah tangga mereka?

Yang artinya secara tidak langsung juga dapat disebut sebagai keluarga yang dikepalai oleh Kristus sendiri bukan?!

Kesulitan teknis
Beberapa pertanyaan terkait dengan kesulitan teknis.

  • Bagaimana dengan formulir N1-N5 yang dibuat dengan asumsi sama agama?
  • Bagaimana pula dengan KTP yang disyaratkan oleh catatan sipil harus seagama?

Mengingat kawin beda agama merupakan kasus khusus, maka formulir N1-N5 diisi sesuai prosedur, dan sertakan juga KTP secara apa adanya. Agama tak perlu direkayasa untuk disamakan. Ketika catatan sipil tidak bersedia menerima pengajuan kawin beda agama dan tetap menolak walaupun telah disodorkan argumentasi dengan mendasarkan pada ketentuan peralihan UU No 1/1974 pasal 66, yang memungkinkan berlakunya HGR/HOCI, maka artinya greja harus memiliki kebijaksanaan khusus.
Dasar bagi kebijaksanaan khusus adalah UU No 1/74 pasal 2 ayat 1, yang menyebutkan bahwa “perkawinan sah menurut hukum masing-masing agama.”
Maka dengan demikian, majelis jemaat memiliki kewenangan untuk mengesahkan kawin beda agama dan membuat Surat Tanda Pengesahan Kawin Beda Agama/SuTaPKaBA (sehingga memenuhi kaidah “sesuai hukum masing-masing agama”). Setelah itu SuTaPKaBA diberikan pada catatan sipil untuk dicatatkan. Namun jika pihak Catatan Sipil masih menolak, dan tidak bersedia menerima, maka dengan dasar surat penolakan tersebut, dimintakan yurisprudensi ke Pengadilan Negeri supaya diterbitkan surat perintah pencatatan.

  • Bagaimana jika ada yang hendak melangsungkan kawin beda agama, namun tidak bersedia diberkati di gereja?

Maka -sebagaimana dituturkan oleh Pdt. Sumardiyono– mekanismenya dapat diatur melalui persidangan Majelis Jemaat khusus yang agenda tunggalnya adalah mengesahkan perkawinan beda agama. Di dalamnya tidak ada berkat. Hanya doa.

  • Bagaimana jika ada yang bersedia diberkati di gereja, namun dengan tetap meminta pengakuan dan penghargaan atas perbedaan keyakinan yang dianutnya?

Mengapa tidak. Artinya, gereja dapat menghadirkan pemuka agama sesuai dengan agama yang dianut oleh salah seorang mempelai. Sebagaimana yang diberlakukan di GKJ Salatiga, pemberkatan perkawinan dapat dilakukan oleh pendeta dan kiai, secara bersamaan sekaligus, dengan menggunakan liturgi khusus.

Dibalik kesemuanya ini, segala sesuatu yang teknis pada hakikatnya hanya mengikuti dari hal-hal yang bersifat prinsip. Maka ketika secara prinsip gereja memutuskan untuk mengubah dirinya dari paradigma iman eksklusif/tertutup ke paradigma iman yang inklusif/terbuka, maka yang teknis dapat ditata dengan mendasarkan diri pada hal-hal yang prinsip. Akhirnya, perkawinan beda agama pada konteks tertentu, jika memang harus terjadi…mengapa tidak.***

Bahan rujukan:
- UU Perkawinan No.1 tahun 1974.
- Pdt. Andri Purnawan, Nikah Beda Agama, Mungkinkah?, di posting pada www.gkjwcaruban.org/….
- Weinata Sairin, J.M Pattiasina, ed., Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan dalam Perspektif Kristen, himpunan telaah tentang perkawinan di lingkungan: Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, BPK-GM, 1994.
-Tata dan Pranata Greja Kristen Jawi Wetan, Majelis Agung GKJW, 1996

Kirimkan Artikel Ini Kirimkan Artikel Ini

Kata Kunci Artikel Ini:

120 Comments »

  • bambang said:

    shallom, saya dibesarkan dalam linkungan GKJW sangat senang dengan adanya artikel ini, selama ini banyak ditempat asal saya yang menyindir nikah beda agama bahkan sampai dikucilkan, semoga dengan adanya wacana diatas berikut aplikasinya dapat membuka mata hati semua warga esensi dari gereja. Saya sendiri nikah dengan istri katolik juga secara katolik tahun 94, karena di GKJW waktu itu katanya tidak bisa.
    Memang banyak konflik yang terjadi baik administrasi maupun moril, tetapi selama kita punya prinsip dan misi yang sama dan memegang teguh bahwa apa yang kita lakukan dapat dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan, semuanya akan berjalan baik, dan yang harus kita ingat bahwa jangan sampai kita ikut dalam agama mereka.

  • Yovi Yonatan said:

    Salam dalam kasih Kristus.

    Saya sangat kaget membaca artikel ini. Mengapa ada umat Tuhan, khususnya warga GKJW yang menyatakan bahwa perkawinan beda agama itu boleh. Padahal hal tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan kehendak Allah. Saya sangat-sangat tidak setuju dengan artikel ini. Mari kita belajar Alkitab bersama lebih dalam lagi. Jangan sampai filsafat atau pandangan duniawi mengacaukan pemahaman atau kebenaran Alkitab. Jangan sampai kita sebagai warga GKJW disesatkan. Kiranya Roh Kudus-lah yang mencerahkan dan menuntun kita berjalan dalam terang Firman Allah dan kehendak Allah.

    Tuhan memberkati.

  • prabowo said:

    salam dalam kasih Tuhan Yesus
    di dalam perjalan percintaan sepasang muda mudi, sebelum sampai pada keputusan untuk menikah pasti sudah ada kesepakatan ataupun pendekatan2 dengan bebagai macam cara, terutama jika mereka adalah pasangan yang beda agama.
    dengan bekal nasihat orang tua dan juga pergumulan iman pribadi, kita sudah bisa mengatakan “TIDAK” (pasangan yang beda agama) untuk melangkah lebih lanjut karena bagaimanapun juga terang tidak bisa disatukan dengan gelap. kalaupun ada sakit hati atau kepedihan, itulah beratnya kalau kita ikut memikul salib Yesus.
    dengan adanya “peluang” bahwa gereja sebagai tempat pelabuhan terakhir para orang tua dalam membentengi putra putrinya supaya tidak terjadi perkawinan beda agama ternyata melegalkan / memberkati perbedaan itu, kemana lagi orang tua akan berharap.
    kita menyadari bahwa cinta itu anugerah yang mengalir seperti air, tapi aliran itu juga bisa kita bendung selama aliran air itu belum sampai jauh, begitu juga yang kita harapkan kepada para generasi muda (khususnya generasi penerus GKJW) kita bisa membina mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana pasangan hidup yang tidak beresiko (menghadapi tantangan hidup saja kita sudah beresiko tentunya kita tidak mau menambah lagi jika seumur hidup kita berdampingan dengan “resiko”).
    alangkah bijaksananya jika dalam pembahasan kegerajaan GKJW tidak mengarah kepada “bolehkah gereja memberkati perkawinan beda agama??” akan tetapi “ada masalah apa? banyak generasi penerus gereja GKJW memilih pasangan beda agama??” bukankah ini menjadi tanggung jawab gereja yang peduli akan masalah di warganya, karena kalau gereja berkata “boleh” mungkin itu untuk pasangan2 muda yang sekarang sedang memohon legalitas mereka, apakah GKJW akan membiarkan para generasi penerus yang lainya yang sedang berjuang untuk konsisten dengan pemahaman2 dari orang tua, teman, gereja dan pergumulan iman mereka tentang pasangan yang seiman, bukankah mereka akan hancur dan kecewa jika gereja yang sekarang berkata “boleh” untuk pasangan yang beda agama.

  • durrdid said:

    syallom.
    Saya senang mendengar artikel ini.
    Puji Tuhan dengan menikah beda agama ternyata ada dampak postifnya,
    Keluarga saya ada yg menikah dua agama dan puji Tuhan lawatan Tuhan bekerja, saudara saya membawa jiwa dr keluarga barunya.
    Jadi buat saya jika pernikahan beda agama di kemudian hari berdampak seperti ini, berapa banyak jiwa yang kita bawa???
    Bukankah tiada yang mustahil bagiNya.
    Semua tergantung bagaimana kita menjalaninya dn tangan Tuhan selalu bekerja atas kita.
    Tolong doa nya karna sebentar lagi saya juga mau menjalani menikah dua agama,
    Semoga orang ini tidak mencoba menipu kami.
    klo ada info lain hub 087888938140.
    amin

  • xiang2 said:

    bawa jiwa??? itu pandangan dunia.. sebelum melakukan pernikahan bahkan pacaranpun mereka harus tahu motivasi yang mereka bangun atas dasar apa.. banyak pernikahan beda agama terjadi karena salah membuat pondasi dalam sebuah hubungan. karena mengutamakan perasaan mereka. makanya benar kata alkitab daging itu lemah.. kalau pacaran dan pernikahan HANYA dibangun atas dasar cinta atau cinta yang utama.. itu seperti orang yang membangun rumahnya diatas pasir.. cinta bisa hilang tetapi kalau hubungan dibangun karena Tuhan yang utama dalam hidup mereka, maka tidak ada pemikiran untuk menikah beda agama.. orang itu akan berpikir bukan berdasarkan daging tapi roh yang datang dari Tuhan..
    iblis senang membuat anak Tuhan menyalah artikan keinginan Tuhan dalam alkitab sehingga kita jatuh.. terutama dalam hal pikiran.. dari awal ketika memutuskan untuk memilih pasangan cobalah bergumul tanya Tuhan apa ini yang terbaik.. kalau memang beda agama jangan langsung ditrabas asal pacaran..itu salah satu yang membuat orang meng iakan pernikahan beda agama.. tidak pernah bergumul.. dah kadung cinta dipacarin terus dah dinikahin ga peduli agamanya ap.. terus mulai membelah dirinya dengan berbagai pendapat yang pada akhirnya hanya menguntungkan dirinya sendiri,” dah pokoknya cinta..cinta..” hmm itu yang sering terjadi.. itu namanya dah lompat kejurang… ga pake mikir dulu..

    jangan seperti orang bebal.. berpikir dulu, doa, semua ada waktu, jgn cepat ambil keputusan, kenal dia dulu.. bawa dia mengenal Pribadi yang kamu yakini yaitu yesus kristus dan bagaimana pandangannya.. kalau sudah ga satu pikiran bagaimana bisa bersatu..
    kamu salah pilih pasangan hidup nyesal seumur hidup, apalagi juruslamat, salah pilih nyesal sampai kekal. bahkan bersatu dengan orang yang tidak percaya dengan juruslamatmu.. hmm.. ga bisa mngomong dah..pikirkan sendiri.. Tuhan kamu taruh di bagian mana dalam hatimu apa pasanganmu yang utama.. pasangan itu bukan akhir dari hidup mu.. kita hidup didunia ini untuk belajar dari teladannya.. Tuhan akan menyediakan pasangan yang terbaik ketika kita sudah melakukan yang terbaik didalam Tuhan.. tentukan prioritas mu di hidupmu..

    ya banyak tanggapanlah mengenai masalah ini intinya apa yang kamu ikat dibumi akan terikat disorga dan apa yang kamu lepaskan dibumi akan terlepas disurga. so kata paulus semua diperbolehkan tetapi apa semua itu berguna dan semuanya punya punishmannya masing2 dari apa yang kita pilih..
    Tuhan yesus memberkati.
    maaf bila ada salah kata..

  • Yovi Yonatan said:

    Shallom,

    Menyambung pendapat saya beberapa waktu yang lalu.
    Ini masalah SANGAT SERIUS bagi GKJW dengan adanya wacana ‘membolehkan kawin beda agama”. Jangan sampai jiwa-jiwa GKJW terhilang gara2 wacana yang tidak Alkitabiah ini. Mohon para pemimpin GKJW mulai dari MA sampai PHMJ memberi klarifikasi mengenai hal ini. Kalaupun tidak ada yang tergerak hatinya, marilah kita semua yang mempunyai beban pelayanan di GKJW & yang merasa terpanggil serta yg memiliki hati buat GKJW, untuk memberikan jawaban yang benar dan bertanggung jawab kepada jiwa2 GKJW baik melalui ibadah patuwen, kelompok kecil, PD, dll., bahwa perkawinan dengan orang yang tidak seiman itu tidak sesuai dengan kehendak ALLAH. Allah itu Kudus. Orang yang lahir baru di dalam Kristus itu adalah orang Kudus. Jadi tidak mungkin Allah yang Kudus itu menghendaki kita untuk bersatu (kawin) dengan yang tidak kudus. Suami adalah kepala istri, seperti Kristus adalah Kepala Jemaat. Kristus dan jemaat adalah persatuan yang kudus. Jadi tidak mungkin yang kudus bersatu dengan yang tidak kudus. Perkawinan suami istri itu sama seperti hubungan Kristus dengan Jemaat.

    Maaf bila ada kata-kata saya yang tidak berkenan. Saya mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan yang benar. Kalau saya tidak menyampaikan yang benar, saya berdosa kepada Kristus Juruselamat saya.

    God Bless You all…
    Salam kasih dan persaudaraan.

  • Muara Basung said:

    Syalom,

    To Pak Yovi Yonatan Yth,

    Anggaplah topik ini sebuah bahan diskusi yang perlu kita kritisi secara bijak dan kepala dingin.

    Saya melihat sampeyan terjebak dalam postur pemikiran “pihak aku paling benar(kudus)” dan “pihak lain tidak benar (kafir)”.

    Tempatkan dulu posisi sampeyan pada pihak yang mengalami hal diatas (judul topik ini). Lantas, bagaimana gereja (GKJW) menyikapi hal itu???

    Terkadang, kita perlu sebagai bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

    Salam Hormat,

    MuaraBasung

  • Yovi Yonatan said:

    Dear Pak Muara,

    Terima kasih tanggapannya. Memang benar kita harus menanggapi wacana tersebut dengan bijaksana. Kita umat Kristus tentunya punya pemahaman bahwa orang yang beriman pada Kristus adlh org benar karena telah dibenarkan oleh Allah dan ini jelas ada dalam Alkitab. Orang yang telah dibenarkan adalah orang yang telah dikuduskan. Jadi orang yang belum beriman pada Kristus adalah belum orang kudus. Perkawinan di dalam Kristus adalah perkawinan yang kudus karena suami istri tersebut adalah sama-sama orang yang telah dikuduskan oleh Allah (sama-sama beriman pada Kristus). Dan itulah kehendak Allah yang Dia sampaikan kepada kita melalui Alkitab.

    Sebenarnya ini sudah jelas untuk menanggapi wacana perkawinan beda agama. Kita nantinya akan menghadapi banyak wacana yang menyimpang dari kebenaran Alkitab. Kita harus siap untuk itu dan harus memberi jawaban yang benar dan alkitabiah. Sebagai umat Kristus kita akan benar2 diuji apakah kita adalah murid Kristus yang setia.

    Tuhan memberkati.
    Shallom.

  • Muara Basung said:

    Salam damai,

    Secara gamblang, -seperti sudah diuraikan Bung Ndiman (;-)dalam tulisan di atas-, kita (semua umat manusia) diciptakan untuk menjadi anggota keluarga Allah dan sebagai penerima kasihNya yang sempurna, melalui pengorbanan anakNya Yesus Kristus.

    Saat kita menerima dan mengakui Kristus sebagai Juru Selamat, kita menjadi anakNya dan menerima kasihNya yang tidak bersyarat.

    Kasih Allah dalam diri Kristus adalah tetap dan mutlak. Tidak satupun keadaan yang dapat membuat Tuhan berhenti mengasihi kita!

    1) Ingatlah, prajurit Romawi yang meminta Yesus untuk menyembuhkan hamba prajurit tersebut. Apakah permintaan sang prajurit itu diabaikan, hanya karena ia tidak termasuk umat pilihan Allah??? Akan tetapi, oleh karena Tuhan melihat iman sejati orang itu, maka Tuhan -oleh kasihNya- berkenan memenuhinya (band. Lukas 7 : 2 – 3, 9 – 10).

    2) Sebelum bertobat, Rasul Paulus secara terang meragukan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah. Oleh karenanya, Saulus (Paulus) menganiaya pengikutNya secara keji. Tetapi nyatanya, Tuhan memakainya untuk tugas besar, menginjili bangsa-bangsa.

    Pikiran saya, manusia tidak dapat sepenuhnya memahami ke-Maha Kuasa-nya Tuhan Allah. Yang saya yakini, Kristus mengajar kita, untuk menerima para pencuri, pemungut cukai, orang-orang yang termajinalkan, orang tawanan, orang-orang yang tercecer, untuk diselamatkan, tanpa cap, stempel dan syarat apapun.
    Karena sejatinya, Tuhan baik kepada semua orang.

    Teriring salam Kasih Kristus!

  • Kriwel said:

    maaf sodara sodara…
    saya jadi ingat dengan kisah orang Farisi yang marah marah gak trima cz murid Yesus makan gak pake cuci tangan. Dalam kisah itu, kaum farisi berujar bahwa murid Yesus najis, gak kudus, cemar, kafir, gak sesuai dengan aturan, gak sama dengan dogma. dan Yesus menanggapi dengan mengucapkan bahwa peraturan sbnrnya untuk manusia, bukan manusia untuk aturan.

    Dengan begitu ada satu hal yang mendasar yang digariskan oleh Yesus. Yakni…KASIH! yang mengatasi aturan buatan manusia.

    Prabowo, Xiang2, Yovi…
    apakah yang anda bela? aturan keagamaan? ego kekristenan?
    apakah dogma sempit yang mengkotak-kotakkan dan memisahkan manusia? apakah di dalam benak anda akan selalu muncul garis pemisah antara manusia “yang dianggap kudus suci”, dengan “yang dianggap najis, cemar?”

    ketika Tini dan Tono yang berbeda agama saling jatuh cinta, dan sepakat menyatukan diri sampai mati,tanpa berpretensi untuk memaksakan yang lain untuk memeluk agama yg gak diyakini…
    maka apakah anda akan juga menghalangi mereka?
    faktanya negara kita memang mempersulit, agama juga harus diakui ikut-ikutan mempersulit. kasih dihalangi oleh aturan. alasannya Tini terbuat dari minyak, Tono dari aer, so minyak dan aer gak boleh nyatu.haram hukumnya…benar begitukah??

    yang saya yakini bukan itu yang diperjuangkan Kristus Yesus.
    ingat sodara…hanya kasih-lah yang terbesar diantara iman dan pengharapan.
    karena KasihNya Tuhan hadir menyelamatkan kita yang cemar dan najis. karena kasihNya Yesus berani menembus batas, mau meluk perempuan samaria, perempuan siro fenesia yang dianggap najis,gak kudus.
    karena kasihNya pula Paulus di dalam suratnya menasihatkan spy mereka yang telah kawin beda agama u/gak saling berpisah/menceraikan psgnnya yang gak seiman.
    dan idealnya, karna kasihNya pula gereja juga bersedia memeluk mereka yang memilih untuk kawin beda agama. dan bukan malah melipat tangan sambil mengutuk seperti layaknya farisi yang mudah nganggap sesat mrk yg gak sesuai dg dogma.

    salam hangat dari Kriwel!

  • joe said:

    Topik seperti ini merupakan topik yang sangat sensitif sehingga perlu kehati-hatian dalam menyikapinya, saya ingin kita mencoba merenungkan beberapa hal:
    1. hati-hati dengan penggunaan ayat alkitab untuk memberikan legitimasi atas pendapat kita. tafsir atas ayat alkitab tentunya sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial, pendidikan, pengalaman si penafsir. bahkan bukan tidak mungkin ada upaya ‘memperkosa’ ayat alkitab untuk mempertahankan pendapat. untuk topik ini mungkin saja penjelasannya berada di luar tafsir atas ayat alkitab.
    2. membedakan cinta dan nafsu. sepertinya ini merupakan hal yang sangat sulit. saya khawatir, banyak orang bersembunyi dibalik frasa sakti “cinta” untuk memberikan landasan bagi pengambilan keputusan, meskipun bisa jadi sebenarnya keinginan kuat itu lebih didorong oleh “nafsu”.nafsu bukan hanya yang terkait dengan sex semata, tetapi bisa berupa keinginan untuk menguasai, untuk selalu bersama dll.
    3. hati-hati dengan tagline “membawa jiwa baru”. buat saya ini sangat serius. saya adalah pribadi yang tidak mementingkan ‘jumlah’ orang kristen. yang penting bagi saya adalah kualitas kekristenan, bukan kuantitas. jadi berapapun banyaknya pertumbuhan orang kristen, tanpa kualitas pertobatan yang benar, buat saya hal itu tidak ada artinya.

    atas topik tersebut saya adalah orang yang tidak sependapat dengan adanya perkawinan beda agama. berikut alasannya:
    1. dalam pernikahan / perkawinan tentunya akan muncul berbagai permasalahan. bagaimana sepasang suami istri menyelesaikan masalah? bagi sepasang suami istri kristen, guidance-nya – jelas- adalah alkitab! bagaimana dengan pasangan suami-istri yang berbeda, bisakah sebuah masalah diselesaikan dengan 2 guidance yang berbeda? yang bisa jadi akan bertentangan. apakah salah satu berdoa menurut iman kristen dan yang lain berdoa dengan caranya sendiri? sebagai orang kristen, saya yakin bahwa guidance saya adalah iman kristen, alkitab, di luar itu saya tidak tahu kebenarannya.
    2. saya selalu diajarkan untuk berdoa setiap ada keputusan yang penting. sepertinya dalam masalah ini, kita pun harus tanya sama Tuhan. dan saya percaya akan ada jawaban. menurut saya, seandainya ada pasangan yang berbeda ketika masih pacaran, sang calon yang bukan orang kristen harus terima Tuhan terlebih dulu. itupun dengan catatan, bahwa ia (yang bukan orang kristen itu) menjadi kristen karena benar-benar menemukan keselamatan dalam Yesus Kristus dan bukan hanya karena ingin menikah dengan pasangan (saya tahu ini akan sulit dibuktikan).
    3. menurut saya, tidak perlu gereja memberikan dasar hukum melalui tata-pranata gereja untuk melegalkan hal seperti ini meskipun dengan alasan hak asasi manusia. saya khawatir, hal ini malahan akan mendistorsi iman jemaat, mendistorsi kesakralan pernikahan (karena ternyata menikah dengan yang tidak seiman itu mudah dan ada landasan hukumnya, bahkan tidak memerlukan pergumulan apapun).

    salam kasih dalam Tuhan Yesus Kristus

  • Yovi Yonatan said:

    Dear saudara-saudaraku yang terkasih di dalam Kristus,
    Terima kasih atas semua tanggapan saudara.

    Dear Pak Muara,
    Yang Bapak sampaikan tgl 19 Okt. 2010 itu benar adanya. Namun menurut saya itu tidak ada hubungannya dengan wacana kawin beda agama…. Konteksnya berbeda Pak. Contoh tentang prajurit Romawi dan rasul Paulus itu tidak bisa dikaitkan dg perkawinan… Tuhan Yesus memang mengasihi org berdosa, hina, pemungut cukai, tawanan, itu memang benar. Tuhan baik kepada semua org itu memang benar. Itulah anugerah umum yaitu Tuhan memberi matahari dan oksigen tidak hanya kepada orang Kristen tapi untuk semua orang di bumi ini. Namun juga ada anugerah khusus yaitu Allah menyelamatkan manusia yg berdosa yang hanya karena imannya kpd Yesus. Allah tidak menghendaki anak-anakNya menikah dengan orang yg tdk seiman itu bukan berarti Allah membenci org yg tdk seiman itu. Allah membenci dosa, bukan membenci manusia yg berdosa karena dosalah yg membuat manusia tidak kudus. Kalau Allah membenci manusia berdosa, Allah tidak perlu mengirimkan PutraNya utk menebus manusia itu. Allah bisa saja langsung memusnahkan manusia. Namun nyatanya tidak bukan? Jadi kitapun tidak boleh membenci manusia yg berdosa. Kita harus membenci dosa. Namun bukan berarti kita serta merta mau menikah dengan orang yg tidak seiman dg alasan kita mencintainya. Seperti yg telah saya sampaikan sebelumnya bahwa pernikahan Kristen mencerminkan hubungan Kristus dengan jemaat. Hubungan Kristus dg jemaat adlh hubungan yg ekslusive dan kudus. Di Alkitab pun dijelaskan bahwa suami harus mengasihi istri sama seperti mengasihi Kristus. Dan istri harus tunduk kpd suami seperti tunduk kpd Kristus. Jadi jelas bahwa suami istri harus sama-sama mengasihi Kristus (=beriman pada Kristus) dan menjadikan Kristus sebagai pemimpin bahtera perkawinan mereka. Jadi sekali lagi saya tdk membenci orang diluar Kristus atau menganggap mereka najis dan tdk layak didekati. Tidak!! Kita tidak menikah dg org di luar Kristus bukan berarti kita membenci mereka. Mohon ini dibedakan.

    Terima kasih atas perhatian saudara-saudara semua. Walaupun 1000 org setuju dg perkawinan beda agama, namun saya akan tetap menyampaikan bahwa perkara itu tidak berkenan di mata Tuhan. Kita harus menilai segala sesuatu dari sudut pandang Allah dalam Alkitab, bukan dari sudut pandang duniawi atau manusiawi kita. Standar hidup tertinggi kita adalah ALKITAB, bukan filsafat manuasia.

    Salam kasih persaudaraan di dalam Kristus. GBU all…

  • Yovi Yonatan said:

    Dear Pak Kriwel saudaraku,
    Salam damai dalam Kristus.
    Contoh orang Farisi dan para murid Tuhan yang saudara sampaikan itu tidak ada hubungannya dengan wacana kawin beda agama ini. Konteksnya beda pak.
    Saya tidak membela aturan keagamaan atau ego kekristenan spt yg saudara tanyakan. Saya hanya menyampaikan apa yang benar menurut Alkitab. Dalam pikiran saya tidak pernah ada garis pemisah antara manusia kudus dengan berdosa, secara hubungan sosial intrapersonal. Saya tidak pernah membenci atau menjauhi mereka yang belum beriman pada Kristus. Kasih harus mengasihi semua org tanpa terkecuali namun bukan berarti kita seenaknya menikahi orang yang tdk seiman dg alasan kasih. Karena bila demikian, kita sudah tidak lagi mengasihi Allah. Kasih kita kpd Allah haruslah di atas segala-galanya. Kasih orang percaya harus mencerminkan kasih Allah. Kalau kita menikah dg orang yang tdk seiman, bagaimanakah pertanggungjawaban kita kpd Kristus?? Bagaimanakah kita bisa ber-apologetika ttg iman kita kpd dunia kalau hidup kita tidak seturut dg citra Kristus?? Mohon maaf bila ada kata-kata saya yg tdk berkenan. Tuhan menghendaki kita utk saling menasehati dan menegor yang salah menjelang hari Tuhan yg semakin dekat. Tuhan memberkati kita semua.

    Salam kasih dan damai.

  • joe said:

    Salam kasih dalam Yesus Kristus
    sila baca : Maleakhi 2: 10 -16
    judul perikop:
    “TUHAN memarahi Israel karena kawin campur dan perceraian”

    rasanya ini menjadi rujukan atau dasar bagi permasalahan ini

    kalau melihat perjalanan sejarah bangsa Israel, penyembahan berhala masuk ketika bangsa Israel melakukan kawin-mawin dengan suku-suku di sekitarnya yang menyembah dewa-dewa. Dan akhirnya TUHAN murka.

    Tuhan memberkati

  • wem said:

    salooommm….
    yg jelas dg kawin beda agama akan menambah masalah yg sulit dikemudian hari. kita jangan melihat sekarang ini tapi nanti setelah beberapa tahun perkawinan itu dilalui. tidak sedikit pasangan yg beda agama mengalami kesulitan dlm pemecahan masalh dlm rumah tangganya. kita tdk bisa menutup mata, coba lihat rekan-2 kita seiman yg perkawinan beda agama apabila mengalami masalah dlm rumah tangganya. yg satu minta petunjuk ( konseling) dg pendeta dan yg satu (konseling) dg kiyai atau tokoh agam lain. sdh jelas akan beda pendapat masing-2. belum lagi kalau sdh punya anak. “mau dibawa kemana iman anak-2 kita”?? biasanya akan berebut untuk membawa iman anak-2. ingat!! bukan sekarang, nanti setelah dilalui buuuaaaanyak masalah-2 besar yg siap menghadang. intinya jikalau kita mau merenungkan jangan sekali-2 mencoba untuk kawin beda agama. di gereja banyak menangani masalah-2 rumah tangga akibat kawin beda agama. “Hidup ini pilihan” yg belum terlanjur jangan deh… ngeriiii….

  • kriwel said:

    Sodaraku Yovi
    Begini dulur… substansi kawin beda agama yang diwacanakan, menurut saya terkait erat dengan KASIH yang mengatasi aturan ~ KASIH yang memungkinkan rengkuhan.
    Sementara substansi kisah farisi yang jadi ilustrasi, menurut saya terkait erat dengan ATURAN yang mengatasi kasih ~ ATURAN IMAN/DOGMA yang menghalangi kasih.
    Maka, anda tidak bisa begitu saja memelintirnya dengan mengatakan beda konteks.
    Lha wong jelas-jelas secara kontras berkaitan erat. Konteksnya nyambung secara substantif. Jadi lihatlah lebih dalam, dan lepas sejenak kacamata anda. ???
    Bukankah yang juuuaauuhh lebih penting itu K A S I H. Walaupun tak bisa dipungkiri bahwa sisi paradoks dalam semua agama, memang cenderung memungkinkan pengebirian kasih atas nama aturan iman.

    Dan karena anda ngomong iman maka sekarang ayo kita ngomong iman. Yukkss…?
    Siapa tho yang dikatakan beriman?
    Iman = Aman. Jadi mereka yg merasa aman tentram dan selalu siap menjatuhkan diri di tengah ketidakpastian hidup–dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan akan menopang-lah yang bisa disebut orang beriman. Maka jika begitu iman itu kan selalu berdimensi vertikal tho?! Benar tidak?! Begitu pula dengan pengharapan, selalu terkait dengan keyakinan terhadap Tuhan yang bersifat vertikal. Iya kan?!
    Sementara, KASIH, tidak hanya bersifat vertical, melainkan juga harus horizontal. Artinya begini, saya/anda bisa saja berkotbah bahwa saya/anda tahu betul apa kehendak Tuhan, dan membela kehendak Tuhan mati-matian (seolah saya/anda sendiri yang paling tahu tentang Tuhan, koyok Amrozi hehehe). Saya/anda juga bisa saja nyuruh gunung pindah ke laut, untuk nunjukkan bahwa saya/anda memang imannya TOP bener. Namun jika saya/anda gak punya KASIH, maka sama aja koyok gong tho..?!

    + Dalam sejarah perang salib yang saya baca di wikipedia. konon katanya ada dalam rangka membela iman. Karena itu prajuritnya disebut faith defender, tapi menurut saya itu peristiwa gak bermutu. Karena jelas-jelas gak ada kasih disitu. Lha wong namanya perang… koyok gong juga, muspra tanpa guna.
    ++ Sodara Yovi yg terkasih bilang: “kasih harus mengasihi semua org tanpa terkecuali, namun bukan berarti kita seenaknya menikahi orang yang tidak seiman dg alasan kasih.”
    Menurut saya ini pernyataan yg inkonsisten.
    1. Kasih dikatakan tanpa terkecuali, lha kok kemudian muncul frase pengecualian “bukan berarti kita seenaknya menikahi orang yg tdk seiman dg alasan kasih.”
    2. Saya gak ngerti apa yg dimaksudkan. Harusnya katakan saja bahwa kasih Kristen memang eksklusif hanya untuk sesama Kristen. Itu lebih tegas. posisinya juga jelas, seperti jamanne Ezra, jamannya Nehemia, posisinya eksklusif.
    3. Sehingga dengan pengecualian itu, maka terlihat bahwa anda memang memiliki batasan kategori dalam benak anda; Kristen dengan Kristen, hitam dengan hitam, kudus dengan kudus, cemar dengan cemar.
    Nah kalo sudah begitu ya saya ragu, bisakah diajak berdiskusi dengan kepala dingin…lha wong sejak awal kacamatane sudah eksklusif. Wis gak trimo. hehehe peace bos???
    +++ Sodara Yovi yg terkasih juga membuat kesimpulan: “suami hrs ngasihi istri sama sperti Kristus ngasihi jemaat. Istri hrs tunduk pd suami sperti tunduk pd Kristus.” Lalu anda menyimpulkan: “Jadi jelas suami-istri hrs mengasihi Kristus.”
    Sori banget, menurut saya kesimpulannya melompat jauh. Kalo disederhanakan ungkapan anda kan begini:
    1. Tono hrs ngasihi Tini seperti Kristus ngasihi jemaat
    2. Tini hrs tunduk pd Tono sperti jemaat tunduk pd Kristus.
    Maka kesimpulannya:
    3. harusnya Tono dan Tini saling mengasihi, sperti Kristus ngasihi jemaat.
    Bukan sperti kesimpulan tafsiran anda: Tono dan Tini hrs mengasihi Kristus. Karena apalah artinya Tono dan Tini ngaku mengasihi Kristus, sama-sama jd kristen, jd majelis, jika nyatanya rumah tangga mereka tidak diwarnai oleh kasih, dan malah setelah nikah selama 15 tahun ealah…malah bercerai…ya tho?!
    Maka poin pentingnya adalah pada saling mengasihi antara suami –istri, sebagaimana Kristus mengasihi jemaat. Begitu ?

    Apakah mereka yang kawin beda agama berarti TIDAK mengasihi Allah?
    Berdasarkan kacamata eksklusif, maka anda menjawab benar, mereka tidak mengasihi Allah.
    Menurut saya, anda harus berhati-hati!! Siapakah kita, manusia yg hina ini, sehingga mampu mendakwa dan bisa dengan mudah menjadi allah yang melontarkan anathema/kutukan?
    Gereja di konteks lawas (ketika belum terpecah) pernah terjatuh dan menjadi allah. Gereja pernah melontarkan ekstra ecclesia nulla sallus/di luar gereja TIDAK ADA keselamatan. Itu pernyataan yg tegas. eksklusive-minded, dan arogan sekale.
    Namun puji Tuhan kini telah direvisi.
    Menilai mereka yang gak kenal Kristus = gak slamet, itu sama saja memposisikan diri sebagai hakim. Sementara dlm Yoh 3:16-17 diungkap bahwa yg brada dalam hukuman/gak slamet adalah mrk yg memilih utk berada dalam gelap. Maka jika tak mengenal Kristus maka apakah mrk akan langsung anda sebut sebagai gelap?
    Menurut saya bukan sekadar mereka yg mengenal Kristus dan berujar Tuhan…Tuhan-lah yg slamet dan masuk kedalam Kerajaan Allah, melainkan mereka yang melakukan kehendakNya. Yg melakukan kehendakNya = terang, yg tidak melakukan = boleh disebut gelap. Yang melakukan kehendakNya = slamet, yang gak melakukan = gak slamet.
    Lalu apakah kehendakNya?
    Mengutip ayat yg dikutip di atas, Yoh 14:15, 15:17: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintahKu” Inilah perintahKu kepadamu:kasihilah seorang akan yang lain.” Jelas bukan. Apakah ada batasan disitu, bahwa kasih hanya ditujukan untuk mereka yg seiman saja? Tidak! Apakah ada batasan disitu bahwa mereka yg disebut terang = mereka yg mau masuk agama kristen? Tidak.
    Perkara prinsip yg Tuhan Yesus ungkapkan juaauhh melebihi batasan dan kategori agama. kehendakNya melebihi lembaga agama dan aturan iman yg diformulasikan manusia. Karena itulah Tuhan Yesus tak pernah berniat mendirikan agama Kristen. Dia berujar “Aku datang bukan untuk meniadakan melainkan untuk menggenapi”

    Maka jika Tini dan Tono yg berbeda agama mampu mewujudkan kasih secara nyata melalui kata-perbuatan dan setia membangun rumah tangga sampai akhir, tidakkah mereka telah melakukan perintah Tuhan untuk saling mengasihi? Jadi mengapa mereka didakwa (seolah telah pasti) bahwa mereka gak slamet?
    Tentang alasan apologetika (uhh…saya harus browsing kesana-kemari u/tau arti kata ini. ternyata sama dg apologia ya hehe? btw thx mbuat saya blajar tentang hal baru)
    Menurut saya yg bodo ini, apologia, apologetika itu pola lawas. Semangatnya bertarung. Berhadap-hadapan, menang-menangan. Untuk mempertahankan ajaran gereja, yg ternyata sering ajaran manusia. Tentu dalam tahap tertentu ok lah, krn kita kan jg disuruh membri pertanggungan jawab terhadap terkait apa yg kita anggap benar. Tapi nyatanya apologetika tidak banyak berfungsi dalam mencegah perpecahan gereja tho?!.
    Maka jika masih hendak memberlakukan apologia, maka pola dan semangatnya harus diubah. Lebih dari sekadar bertarung, bukan sekadar menang-menangan, bukan sekadar sok nasehati/ngotbahi, melainkan semangat menulari dunia dengan pengaruh positif-seperti yg diungkap dlm tulisan. Contohnya: “Suami yg tidak beriman dikuduskan oleh istrinya dan istri yg tidak beriman dikuduskan oleh suaminya (1Kor7:14)”
    Dan dalam hal ini saya sepakat dengan anda, bahwa menulari dunia dengan pengaruh positif itu harus dilakukan dg hidup seturut Citra Kristus. Maka jika demikian, karena:
    - Citra Kristus merupakan wujudnyata dari ketulusan kasih yang tanpa syarat,
    - Citra Kristus slalu berhubungan dengan pelukan, selalu merengkuh, tak pernah membeda-bedakan orang (termasuk agamanya),
    - Jika mengingat bahwa Kristus lebih mementingkan kasih dan kemanusiaan daripada aturan iman (karena aturan untuk manusia), lantas yuk mari membuka mata.
    Lihat kesaksian hidup dari mas Bambang, Durdidd dan (mungkin) banyak kawan lain, yg mengungkapkan bahwa tidak semua realitas kawin beda, akan menjadi bencana dan seburuk asumsi anda.
    Dan saya sangat tidak rela, jika nama Tuhan dan kehendakNya anda bajak untuk kepentingan kacamata eksklusif anda. Jadilah bijak.
    Maafkan saya.
    Kiranya KasihNya menyelimuti kita.
    Salam hangat

  • kriwel said:

    Salam hangat mas Joe,
    Saya tergelitik gan. sori sori sori jek??? tapi menurut saya anda harus belajar dengan lebih baik lagi untuk membaca teks. Jujur ya, pemahaman konteks anda buruk. Anda blum baca uraian dg baik, tp langsung mnyimpulkan.
    1. bkankah sdh dijlaskan dlm tulisan di atas bhw dlm Alkitab ada 2 paradigma, yakni eksklusif (Ezra, Maleakhi, Nehemia) dan inklusif (Ulangan 21, I Kor. 7:12-16, I Petrus 3:1-7 dll) dan msg2 cara pandang ada alasannya, ada latar cerita dan konteksnya. Maka ndak tepat juga jika tiba-tiba anda melegitimasikan pelarangan kawin beda agm dengan berujar bahwa Tuhan murka! Saya kuatir mas Bambang yg tlah menceritakan kisahnya, dg serampangan dituduh akan dimurkai Tuhan gara-gara kawin beda agama. Wah wah jika asal comot Maleakhi, lalu teksnya dicopykan bgt sj, tanpa tau konteksnya, itu sama aja boong gan, dan gak bisa menjelaskan mengapa para tokoh Alkitab yg kawin beda agama kok gak tertimpa murka Allah…hayoo:p ini sy kutipkan dr tulisan di atas
    Yehuda kawin dengan Syua,wanita Kanaan, Kej. 46: 10 (Simeon kawin dengan wanita Kanaan), Kej. 41:45 (Yusuf kawin dengan Asnat, anak Potifera, imam di On-Mesir),Kej. 26:34 (Esau dengan Yudit, anak Beeri orang Het),Bil. 12:1 (MUSA- sang pemimpin Israel – kawin dengan seorang perempuan Kusy) Belum lagi bagaimana mnjlaskan Ul 21:10-14 yg memperbolehkan kawin campur/beda agm? Nah karma ntu, baca lg dong..?
    2. Ketidak setujuan anda dg alasan guidance yg beda juga sudah ada jawabnya, neh saya kutipkan:
    yang pertama, bahaya perpecahan dan ketidakmampuan untuk mentolerir perbedaan/ketidaksamaan standar moral, sejatinya tidak hanya melulu menjadi resiko yang harus dihadapi oleh mereka yang melangsungkan kawin beda agama saja, melainkan menjadi resiko dan bahaya yang harus diantisipasi secara bijak oleh setiap semua pasangan yang membangun rumah tangga-apapun agamanya. Memang diperlukan pengelolaan dan kebijaksanaan bagi mereka yang melakoni kawin beda agama, namun bukan berarti dapat diklaim begitu saja, bahwa seolah-olah mereka yang kawin beda agama jauh lebih rentan untuk mengalami bencana besar jika dibandingkan dengan mereka yang kawin seagama.
    Apakah sebilah pisau yang mempunyai faktor resiko dapat melukai tangan dan potensial digunakan sebagai alat pembunuhan harus dilarang keberadaannya? Tidak begitu bukan?!. Walaupun mengandung resiko, namun tidak berarti bahwa keberadaan pisau harus sama sekali dilarang peredarannya.
    Maka demikian pula dengan kawin beda agama. Keberadaan resiko dalam perkawinan dua orang yang berbeda agama, tidak dapat dibawa begitu saja pada kesimpulan untuk menegasikan/melarang kawin beda agama.
    Bahwa kemudian dipandang perlu untuk memberikan touchstone yang mendeskripsikan secara rinci faktor resiko dalam kawin beda agama, maka ini menjadi kewajiban Gereja guna memaparkan dan mendampingi dalam proses katekisasi khusus.
    Yang kedua, terkait dengan asumsi triumphalistis, yang mengklaim bahwa keluarga beda agama tidak akan mampu menjawab tugas kerasulan untuk menjadi garam dan terang. Asumsi tersebut menurut saya dibuat melalui kacamata eksklusif, dengan penekanan bahwa hanya yang sewarna-lah yang dapat mewujudnyatakan misi. Yang berbeda warna tidak. Maka sebaliknya, adakah jaminan bahwa yang sewarna/keluarga kristen dapat secara tuntas mewujudnyatakan garam dan terang, serta memberlakukan Misio Dei secara tuntas dan total?

    Begitulah mas Joe. Kiranya KasihNya menyelimuti kita, salam hangat dr Kriwel gaan.

  • wem said:

    puji tuhan,

    saudaraku seiman kita gak perlu debat yg gak ada kesimpulan yang pasti. kelihatannya seperti KASIH tapi coba lihat kalimat demi kalimat lama-2 tegang dan mancing emosi masing-2 membenarkan diri dengan argumannya.. kecuali dalam debat ini ada kesimpulan yg disahkan oleh gereja GKJW. sebetulnya siapa yg nulis paparan diatas? dan apakah tulisan tersebut sudah dibenarkan dan disetujui oleh gereja (GKJW)? debat kita sudah mengarah ke “EMOSIONAL SEMUA”. YG SETUJU kawin dg beda agama silahkan…. yg GAK SETUJU termasuk saya ya silahkan gak ada yg ngelarang kok. kan yg nanggung dan merasakan yg ngejalani kawin beda agama dan kalau GKJW menyetujui aturan tersebut tolong segera di sosialisasikan kesemua jemaat sampai ke kelompok-2. tks Tuhan Yesus memberkati kita semua.

  • kriwel said:

    Hi Wem,
    Saya setuju dg opini anda gan…
    Saya sepakat, kalo gak setuju, ya gak usah maksa dong, apalagi pakai ngomongin “ini kehendak Allah, Allah pasti murka.” Sebaliknya kalo setuju, ya silahkan dijalani, sambil mengingat bahwa perjuangan kasih ternyata bueraat, cz banyak yg menentang. Begitu kan..

    Tapi saya juga ada gak setujunya dengan anda gan…
    Wem said: “nanti setelah beberapa tahun perkawinan dilalui, tidak sedikit pasangan yang mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah.”

    Menurut saya, kesulitan gak hanya berlaku untuk mereka yang beda agama gann…
    Saya kenal dengan pasutri yg beda agama. Sudah sepuh dan hingga kini mereka baik-baik saja, harmonis. Anaknya dua, yg satu cowok-kristen, satunya lagi cewek, muslim. Anaknya yg cowok kini jadi pengurus persekutuan pemuda. Semntara yang cewek sudah nikah dan punya anak satu. Waktu kecil mereka gak jadi rebutan orang tua, ketika SMU mereka nentukan sendiri apa yg hendak dianut…
    Sebaliknya saya juga kenal dengan pasangan seagama. Dulunya sama-sama aktif di gereja. Istrinya malah jadi majelis di gereja. Tapi setelah 15 tahun nikah, sekarang faktanya mereka bercerai tuh… anaknya malah sekarang gak tau rimbanya, kemarin temen-temen berusaha keep contact, tapi gak juga ada kabar…
    Artinya gak brarti yang satu lebih baik dari yang lain kan….ojo digebyah uyah gann. Dan kenyataan yg seperti itulah yg melatarbelakangi “pembelaan” saya

    Wem juga said: “yang satu ke pendeta, yang satu ke kiai”
    So what…opo gak boleh tho gan?
    Lebih baik begitu kan. Daripada yang pernah saya tahu, pasutri kristen, si istri konseling ke Pendeta, tapi suaminya malah rajin NDUKUN (golek sugih, spy karir ningkat). Walaupun sama-sama kristen, namun belum tentu nilai yang dijalaninya benar.
    Jangan digeneralisir Wem. Pacar saya kristen gan, dan saya juga gak pengen nikah beda agama, namun jangan sok melarang dan dengan mudah melontarkan argumen yg mengutuk keras/brasumsi negatif terhadap mrk yg kawin beda agama gaann…

    Anda bisa berkata ngeri, cz kacamata anda outsider. Coba masuk lebih dalam deh, dan lihat dengan mata hati, bicaralah jg dengan mereka yg sudah nikah beda agama secara langsung, supaya terbuka. Ok gan…peace!

    Salam hangat.

  • joe said:

    Buat Mas Kriwel,
    Thanks untuk komennya, mungkin saya harus belajar banyak dari anda,
    tetapi ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan:
    1. Mungkin anda bisa membantu saya dengan memberikan tafsir atas (a) judul perikop pada kitab Maleakhi tersebut (b) ayat 11 dari kitab yang sama. kutipannya sebagai berikut: “Yehuda berkhianat dan perbuatan keji keji dilakukan di Israel dan di Yerusalem, sebab Yehuda telah menajiskan tempat kudus yang yang dikasihi TUHAN dan telah menjadi suami anak perempuan allah asing”.
    2.Guidance yang saya maksud bukan sekedar standar moral lho, lebih kepada bagaimana implementasi iman Kristen dalam menghadapi berbagai masalah. Buat saya keimanan berbeda dengan moralitas. dan Alkitab adalah guidance bagi saya dalam konteks keimanan (bukan sekedar standard moral). Kalau kita pakai standard moral, mungkin orang yang nggak punya TUHAN juga lebih moralis daripada kita.
    3. Murka TUHAN sebagaimana saya maksud, dalam konteks sejarah bangsa Israel adalah dikarenakan setelah bangsa Israel kawin mawin dengan suku sekitar yang menyembah berhala, kemudian bangsa Israel meninggalkan TUHAN. Oleh karena itulah TUHAN murka, karena mereka tidak mampu mempertahankan keimanan mereka. Jadi saya menulis “TUHAN murka” bukan dalam konteks kawin beda agama, tetapi dalam konteks sejarah Israel (semoga lebih bisa di pahami. @ wem : ini nggak emosional kok)
    4. Pertanyaan terakhir: apakah ketika tidak ada masalah, hal itu sudah bisa diklaim sebagai sesuatu yang “benar”?

    Thanks to all of you: besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya

    TUHAN memberkati

  • kriwel said:

    salam hangat mas Joe,
    ahh…anda berlebihan gann, jgn blajar dari saya yg bodo ini, lebih baik blajar langsung ke Tuhan sumber hikmat.peace gann.
    tentang tafsir, saya kira judul perikop itu sudah tepat gaann… saya juga sepakat dengan penjelasan anda, yg skrg lebih mengena. jd Yang dimurkai Tuhan ialah mereka yang tidak setia. thats the poin gan…

    teman saya barusan bilang kalo muslim juga punya dalil yg semacam itu. jadi menurut dia, walaupun pindah agama dianggap halal (lâ ikrâha fî ad-dîn /tidak ada paksaan dalam beragama), namun Allah dikatakan gak suka.

    karena itu mereka yang tetap setia dengan agama yg diyakini,dan gak milih pindah agama dg alasan apapun (termasuk demi alasan nikah) itu artinya harus dihargai tho?! itu namanya punya prinsip gan, tetap mengimani apa yg sejak semula diyakini. oke kan……

    Maka, konsekuensinya, ketika pasangan yg beda agama gak mau pindah, n tetep setia dg prinsipnya, itu harus dihormati. Dan agama harus memberikan pintu legitimasi bagi pasangan beda agama agar tidak terjadi keterpaksaan pindah agama dalam pernikahan. begituu…

    lalu tentang moral. moral=etika. etika=pedoman normatif yg dispakati dalam hidup. etika terkait dg kedalaman hidup manusia. karna itu standar moral/etika biasanya dikenal scr universal (ex: gak boleh bunuh, gak boleh nyolong yg bukan miliknya, hrs menghargai, etc) etika beda dg etiket yg hanya trkait dg aspek lahiriah (ex:boleh/gak mrokok, bgmana cara berpakaian yg sopan,bertutur dg baik –sebagaimana yg tengah dipelajari anggota BK DPR ke Yunani..uh mesakke)
    balik ke topik, maka bagi kita, etika/moralitas kristen tentu gak bisa lepas dari iman kristen, yang standar rujukannya Alkitab.(ex: 10 hukum torat=etika normatif berdasar iman pd Tuhan) dlm hal ini saya setuju dg anda gan…patokan kita Alkitab.

    naa, bagi yg nikah beda agama, tentu aja etiket, iman, kitab n dogmanya bisa beda sekalee, namun rujukan etisnya pasti sama,cz berlaku universal. contohnya: gak boleh selingkuh,kudu saling mengasihi,gak mentingin diri,mo berkorban,menghargai,hormat,gak egois dsb dsb…shg kalo rujukan etis itu dilanggar, yo buat opo nikah…kan begitu gan.

    truss tentang pertanyaan anda: apakah ketika tidak ada masalah, hal itu sudah bisa diklaim sebagai sesuatu yang “benar”?
    mnurut saya yo iya. jelas skalee.
    misalnya begini: seseorg dianggap gak bener/salah kalo dia korup, maling yg bkn miliknya. seseorang jg diklaim benar, bkn karna agamanya, tp karna KLAKUANNYA tho??
    maka ketika Republik kita ini bejibun masalahnya,yo ga bs disalahkan juga jk banyak yg mngklaim negara kita ini gak benar.
    banyak masalah=gak bener, harmonis=bener.
    jadiii, kalo dlm rmh tangga beda agama gak ada masalah (KDRT nihil, selingkuhan nihil, malah harmonis)lalu mengapa tidak bisa disebut sbg rmh tangga yg benar?! walopun beda kyakinan…
    pertanyaan sya, apakah org yg satu rumah tangga n berbeda agamanya itu gak bener???

    eling…seseorang dibenarkan berdasar kelakuannya lo. bkn skedar karna imannya. org farisi, ahli torat itu golongan orag beriman. rajin puasa,ibdah rutin,njalanke aturan iman dg benar,suka menjauhi yg najis dan yg dilarang Tuhan……
    tapi ketika mereka gak punya KASIH, gak toleran, mrasa benar sendiri, gak brsedia merangkul, yo kuwi gak bener gann… lebih benar org samaria yg baik hati–walopun diklaim gak slamet/gak bener oleh org Yahudi.

    iman pengharapan dan kasih, yg pualingg besar yo k a s i h.
    Tuhan memberkati juga

  • nori said:

    salom….
    wah-10x….anda kok getol dan semangat banget untuk memperjuangkan kawin beda agama. sudahlah kalau anda merasa bener dan membenarkan kawin beda agama silahkan…
    toh tidak semua orang setuju dg pendapat saudara. amin

  • nori said:

    shallooommm…

    kang kriwel yg mengasihi tuhan yesus..

    1. yoh 14:15 15:17 itu perintah tuhan unyuk mengasihi sesama manusia bukan kasih “cinta” antar laki-2 dan perempuan. jelas beda.

    2.anda jangan mengutip ayat-2 alkitab dg sepotong-2. tolong baca perikupnya. bahaya kalau kita baca ayat-2 sepotong-2 tanpa tahu makna sesungguhnya. contoh seperti ayat yg saudara kutip 1kor 7:12 itu ditujukan kepada orang-2 yg sudah terlanjur kawin beda agama sebelum paulus menyampaikan kotbahnya. artinya orang-2 tersebut belum tahu/tidak tahu. makanya paulus menegaskan pd ayat 12, 13 “bagi yg sdh terlanjur kawin dg tdk seiman jgn diceraikan..” tolong sekali lagi jangan memelintir ayat-2 sepotong untuk pembenaran diri.

    3. perkawinan dalam perjanjian lama dg perjanjian baru sangat jauh berbeda. di perjanjian lama : “kawin beda agama bisa (bukan boleh)dilakukan, bahkan kawin lebih dari satu sangat bisa”.
    kalau kawin beda agama bisa, apa bedanya kawin lebih dari satu? contoh : kalau pria kristen istri agama laen, kalau tuhan memperbolehkan kawin beda agama berarti juga boleh kawin lebih dari satu dong.? yg penting akhlaknya bagus soleh dsb, dsb tdk seperti kawin seiman tapi selingkuh, korupsi, KELAKUANNYA jelek dll. apa begitu ?

  • monitor said:

    Kulanuwun,
    Nyuwun sewu, saya tertarik untuk menanggapi.
    Saya rasa dik Nori tidak boleh berpikir begitu. Sebagaimana yang lain yang “getol” menolak, maka Kriwel-pun juga sah saja untuk “getol” mendukung. baik juga jika memperhitungkan Bambang yang kersa memberi kesaksian, seperti tercantum di atas.

    Saya yang selama ini memonitor proses diskusi, merasakan bahwa dialektika ini asyik dan menarik. dan karena sebenarnya setiap kita hanya memiliki “sekeping kebenaran,” maka biarlah proses diskusi ini dapat memperkaya satu sama lainnya. salut untuk web gkjw ini yang bersedia membuka kesempatan bagi terjadinya proses seperti ini.

    jadi bagi yang PRO maupun yang KONTRA, marilah diskusi ini diletakkan pada porsi yang mencerahkan dan menambahkan kekurangan bagi masing-masing. mekaten, pareng, mugi Gusti paring berkah.
    silahkan dilanjut…

    nuwun,
    Mrs.Rahayu tukang monitor

  • kriwel said:

    Mpok Nori yang juga mengasihi Tuhan,
    keep cool gan..tenang.. begini.
    bukan tanpa alasan saya semangat 45 membela, karna anda tidak merasakan apa yg dirasakan kawan Durddid dan Bambang…saat saya menyelami pilihan dan komitmen mereka,maka saya merasa bahwa tidak layak jika mereka disalah-salahkan, n dihakimi,jadi saya juga berhak dooong untuk membela mrk yg mo kawin beda agama…..so what.peace gann…
    mengasihi itu gak ada batasannya. kasih antara pasutri include dalam kasih yg menembus batas. maka Yoh juga relevan utk dibicarakan dalam konteks suami istri.
    tentang surat Paul, saya setuju dengan konteks yg u omongin, namun saya melihatnya dalam rangka mendukung semangat Yovi utk berapologetika. jadi saya katakan jika apologia harus pake pola baru, gak sekedar menang-menangan, tapi semangat utk menulari secara positipphh. sebagaimana “Suami yg tidak beriman dikuduskan oleh istrinya dan istri yg tidak beriman dikuduskan oleh suaminya (1Kor7:14)” loo itu kan menulari dg semangat positif tho…nah dalam arah itu saya ngomong. jd tulung u jg pelajari konteks pembicaraan saya.oke gaann…

    saya ga tau Tuhan membolehkan manusia poligami opo gak..saya kan bukan Tuhan! tapi yg saya tau, manusia ada yg menafsir boleh, dan ada yg nafsir gak boleh. mnurut saya yo gak boleh yo. prinsip kristen monogami gaann.
    jadi jika org yg beda agama kawin, maka apakah bisa terjadi yg satu tiba-tiba njaluk poligami? ya bisa saja. dan harus diakui ini kelemahan dari kawin beda agama, karna standar rujukannya beda too.
    namun, bukan berarti yg sama agama gak punya potensi utk mlakukan kelemahan yg semacam ini kan…
    jadi daripada melihat segala sesuatunya dengan sisi lemah, dengan asumsi yg buruk n negatif, lebih baik melihat dari sisi positifnya aja. seperti yg diuraikan di atas, pisau itu bisa digunakan untuk membunuh (kelemahan), namun juga bisa digunakan untuk memotong wortel(kebaikan) slalu ada 2 sisi itu tho…tapi bukan brarti karna ada sisi lemahnya maka pisau dilaranggggg…kan gak gitu yo.
    jadi dari uraian diatas saya brsyukur krn diajar utk tidak sembarangan melarang dan tidak dengan mudah mendakwa org yg kawin beda agama sebagai org yg sesatt, gak bener, dan pasti hidupnya ancur brantakan.

    btw…mpok nori mbok kalo nulis “Tuhan” huruf T-nya yang gedhe, jangan pake huruf kecil “tuhan”…hormati DIA!!! oke gaannn…
    peace yo.
    salam hangat dari kriwel

  • diajeng said:

    Wah..wah, seru juga diskusinya…
    Kesan pertama saya, ini adalah Sebuah pencerahan… paling tidak bagi gereja yang berusaha memenuhi panggilan Tuhan dengan terus mencari bentuk2 pelayanan yang kreatif.
    Mengapa ‘pencerahan’, karena menurut saya.. gereja akan semakin membuka diri bagi jawaban atas persoalan real kehidupan, tanpa kehilangan citranya sebagai perwujudan gambar Kristus sendiri..
    Terlintas di pikiranku, seorang lelaki muda yang kehadirannya hampir-hampir selalu menimbulkan gejolak pada waktu itu, karena orang2 yang merasa mapan dan benar terusik oleh cara berpikir dan bersikapnya. Sebenarnya, tidak dilanggarnya aturan2 Yahudi waktu itu, justru ia mewujudkan damai bagi mereka yang membuka diri untuk kehadiran sentuhan Ilahi.
    “tidak boleh dalam hukum Yahudi, bersentuhan dengan orang Samaria ; Melempari perempuan yang dianggap berzinah, itu menegakkan aturan ; Menimbang halal dan haram adalah ajaran nenek moyang yang adalah perintah Tuhan..”
    Namun, di atas semua itu, Sang Guru muda itu mengajarkan lewat lakunya bahwa dimanapun Dia berada, Dia berusaha menjadi jawaban atas pergumulan. Ia menjadi pencerah di tengah kebuntuan. Dan Dialah terang di tengah kegelapan. Jadi, tidak berlebih, jika gereja belajar dari Sang Guru itu..

    Bagaimana dengan kawin beda agama???
    Ada atau tidaknya aturan resmi yang memperbolehkan atau tidak, kenyataan yang saya lihat banyak orang menemukan panggilan hidupnya lewat pilihan ini..
    Dulu, sebelum UU no I / 1974, mungkin mereka melakukan dengan damai.. (dengan kawin BS)
    Namun, dalam perkembangannya.. negara ini justru lebih suka menjadi duri dalam daging bagi sesamanya. Dengan berlindung di bawah sayap lembaga agama, mereka sembunyi dari tanggung jawab ini. Catatan sipil tidak lagi bisa melakukannya.
    Lalu bagaimana dengan lembaga agama..??? hampir pasti, sayapnya seolah patah berhadapan dengan persoalan ini. Tidak ada yang mau merengkuh dalam hangat sayapnya, alasannya : karena mereka berbeda.
    Negara memberi celah atas nama Hak Asasi Manusia, tapi itupun dengan setengah hati yang begitu enggan..!! catatan sipil bisa mencatat perkawinan jika ada surat penetapan dari pengadilan. Namun.. pengalaman banyak orang yang dengan semangat ’45 menempuh jalur ini… SULIT dan RIBETnya minta ampun..!! sudah begitu, lama dan MAHAL. Belum lagi, pengalaman seorang teman yang baru-baru ini mencoba mengurusnya, pihak catatan sipil di kota kami tidak mau memberi salah satu persyaratan yang justru penting.
    Mengapa mereka sampai di situ.. bertemu dengan keribetan2…??
    Lembaga agama manapun, telah terlebih dahulu membangun tembok yang tinggi bagi mereka yang berbeda ini. Hanya karena tidak ada aturannya. (lha kenapa tidak dibuat aturan aja ya…???)
    Banyak pasangan yang berbeda, dalam hal ini mengalami kebuntuan yang sangat. Bukan sekedar karena gairah untuk segera menikah, namun karena mereka ingin menjadi pribadi beriman yang setia dengan pilihan iman dan cintanya sebagai anugerah Sang Tuhan. Saya membayangkan, teman2 itu seperti ditinggalkan sendirian (wah, kok jadi seperti Yesus saat berhadapan dengan imam besar Kayafas ya..seorang murid pemberani sekelas Petrus saya ogah mengenalnya)… Gereja tidak bisa mengesahkan niat suci mereka , karena berbeda warna.. lembaga agama lain pun tidak..
    Mungkin muncul juga alasan, ‘keputusan ini, jika diwadahi ini melukai hati orang-orang beriman… ‘
    Sejatinya, (berangkat dari berbagai langkah yang kemudian ditempuh oleh banyak Teman) ada banyak hati yang terluka, ketika pada akhirnya.. dalam kesendirian dan tangisan itu mereka harus menempuh jalan yang tidak pernah mereka inginkan sebagai seorang yang sama-sama beriman “saya akan keluar dulu, lalu saya akan kembali (bertobat) nanti…” semakin aneh bukan, ada kesalahan dan pertobatan yang dirancang dengan sengaja… tapi bagaimana lagi, karena tidak ada solusi di gereja. Lebih parah lagi, di tengah luka itu mereka masih juga dicap menjual Yesus demi cinta, atau menyalibkan Yesus untuk kedua kali.. ( wha.. jangan2 (orang-orang di) gereja punya andil dalam ‘penyaliban’ Yesus ini, seperti para imam dan ahli taurat waktu itu..
    Ataukah sebaliknya, apa justru tidak juga menggores luka, kalau ada yang memutuskan “oke.. saya akan ikut masuk denganmu demi perkawinan ini, tapi setelah itu.. saya akan kembali keluar..” pasangan yang tahu dan sadar dengan keputusan ini, pasti akan menangis dalam senyum jemaat yang hadir dalam ibadah babtisan.. Dan mungkin satu-satunya yang menjadi teman adalah Sang Guru Muda yang dulu pernah menemani perempuan yang sedang sendiri hampir mati dilempari batu.. Lalu jika nanti benar, dia keluar.. maka jemaat akan juga berkata “ iman kok dipermainkan… kasihan sekali pasangan itu..!”
    Teringat saya dengan kotbah salah satu Pendeta tentang tulisan Paulus akan kisah Petrus dalam Kisah 10 ; 9 – 18).. manusia sering kekeh berpegang dengan aturan yang diwariskan (yang haram dan halal), ketimbang kehendak Dia yang memberikan aturan itu… (Petrus tidak mau makan binatang yang diberikan Tuhan, karena itu akan dianggap menyalahi aturan Tuhan)
    Sudah saatnya, Gereja melakukan sesuatu yang merahmati kehidupan. Jika ada seorang yang dengan teguh, berdiri di atas iman dan keyakinannya yang teguh, inilah yang harus dieman, harus dijaga dan direngkuh.. saatnya, gereja menjadi teman dalam kesendirian pergumulan di ranah ini. Menerima perbedaan mereka tetap sebagai karunia Tuhan..! dadi talanging berkah. Jika gereja menjadi jawaban, mereka tidak perlu masuk dalam jurang kegelapan permainan aturan di negeri ini. Bahkan gereka bisa membuka kedua tangannya, untuk merangkul warga dan pasangannya yang berbeda sebelum menikah. Mempersiapkan pembinaan dan pembekalan, layaknya katekisasi pra nikah. Mengajak mereka menguji keputusan dan kesungguhan mereka, jika pada akhirnya pembekalan/persiapan itu memantapkan langkah mereka atau bahkan membuat mereka memutuskan untuk mempertimbangkan ulang keputusan mereka. PUJI TUHAN to.. karena gereja telah menjadi pencerah.. gereja telah menjadi penolong dan jawaban atas pergumulan..
    Apa yang dikuatirkan..???
    Bagaimana anak2..?? bagaimana jika ada masalah..?? dan bagaimana-bagaimana yang lain..???
    Itu masalah teknis yang bisa ditata, dalam suasana cerah..!!

    Salam,
    diajeng

  • Yovi said:

    Dear Pak Kriwel,
    Salam kasih…
    Tidak bisa disangkal memang, saat ini banyak orang Kristen yang abu-abu. Konsep iman Kristen-nya sudah campur baur dengan konsep dan filsafat dunia yang kadang ga sesuai Alkitab. Padahal Tuhan tidak menghendaki kita abu-abu. Kalau kita mengaku percaya Kristus maka 100% konsep iman kita harus sesuai dengan Alkitab. Lha untuk tahu kebenaran Alkitab itu ya harus belajar mendalam dalam bimbingan Roh Kudus. Lha saat ini itu banyak orang yang malas belajar Alkitab. Maunya instan pas kebaktian minggu saja. Memang tidak semua demikian tapi memang tidak sedikit juga yang demikian. Beberapa konsep dasar iman Kristen yang bisa kita pakai untuk menelaah kawin beda agama yaitu :
    1. Alkitab tidak pernah salah. Alkitab adalah Firman Allah yang menuntun manusia kepada Kristus sehingga dengan iman kepada Kristus itu membawanya kepada hidup kekal. Alkitab adalah standar hidup tertinggi dari umat Kristus.
    2. Allah kita adalah Allah Tritunggal yang terdiri dari Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus.
    3. Allah yang menciptakan lembaga perkawinan dan seharusnyalah perkawinan itu memuliakan Allah. Memuliakan Allah berarti memuliakan Bapa, Kristus dan Roh Kudus dengan tidak terpisah.
    4. Laki-laki akan kawin dengan istrinya dan keduanya menjadi satu daging. Satu daging berarti suami istri itu adalah satu kesatuan utuh. Allah sendiri yang telah menyatukan meraka sehingga mereka bukan lagi dua melainkan satu.
    5. Kristuslah yang menjadi dasar suami-istri karena Kristuslah Sang Firman itu sendiri.
    6. Hukum kasih yang terutama dan yg pertama adalah kasih kepada Allah (Bapa, Kristus, Roh Kudus). Karena kita mengasihi Allah maka kita pasti mampu mengasihi manusia secara benar.
    Jadi pertanyaannya :
    1. Bagaimana kita bisa memuliakan Allah (Bapa, Kristus, Roh Kudus) kalau suami istri tersebut beda iman, padahal suami istri tsb adalah satu?
    2. Allah menuntut penyembahan suami istri yang sdh menjadi 1 tsb 100% kepada Allah (Bapa, Kristus, Roh Kudus). Jadi bagaimana bisa kalau salah satunya tidak beriman kpd Kristus?? Kalau beda iman maka penyembahan kita tidak 100% kepada Allah (Bapa, Kristus, Roh Kudus). Dan kasih kita sudah tidak lagi kepada Allah (Bapa, Kristus, Roh Kudus). Tidak mungkin suami-istri yg satu itu menyembah Kristus dan secara bersamaan menyembah selain Kristus.
    3. Bila suami istri beda iman, apa bisa menjadikan Kristus sebagai dasar hidup suami istrinya?? Karena suami istri adlh satu maka dasar hidupnya harus satu juga. dan Allah menghendaki Kristuslah yang menjadi dasar hidup suami istri yang takut akan Tuhan. So, beda iman PASTI tidak dikehendaki Kristus.

    Saudara-saudaraku semua, janganlah kasih kita yg utama kepada Allah tergantikan dengan kasih kepada pasangan kita yg tidak seiman. Dengan menikahinya, berarti kita sudah tidak mengasihi Kristus 100 %.

    Saudara-saudaraku…. Saya sangat menghormati pendapat saudara-saudara yg tdk sependapat dengan saya. Saya hanya mengajak saudara mengkaji lebih dalam lagi kebenaran Alkitab dan tahu mana yg benar, mana yg filsafat dunia/manusia. Untuk tahu kita ‘abu-abu’ atau ga ya mari kita berkaca pada Alkitab. Semoga kita bukan orang yg ‘abu-abu’ melainkan orang yang taat dan takut kepada Allah 100%. Sekali lagi maaf bila kata-kata saya tidak berkenan. Selamat merenung dan kembali kepada Alkitab. Tuhan memberkati kita semua.

    Salam damai dalam kasih Kristus.

  • sumardiyono said:

    Saya senang dengan diskusi hangat ini. Ada perbedaan pendapat yang tajam, namun semua masih memakai kalimat yang baik dan sopan. Saya berharap kesantunan berbahasa tetap terjaga, dan silahkan teruskan diskusi. Semoga catatan diskusi ini bisa menjadi dokumen penting bagi GKJW. Salam dan doa saya untuk Anda semua.Tks.

  • ietha nugraheny said:

    hiks..

    makin bingunglah saya :D

  • aremanita said:

    Syalom !!!
    Penulis apakah sudah melakukan penelitian di masyarakat tentang kawin campur beda agama????
    Kalau sudah, Lebih besar mana ? berapa persen rumah tangga yang bermasalah dengan yang rumah tangganya harmonis yang kawin campur?
    Atau penulis memang pelaku kawin campur.
    Semoga tulisan ini hanya sebatas diskusi!!!!!

  • Dawir said:

    Sipplah..jadi inget di perempatan jalan ada tulisan “turn left go ahead”..so, go ahead bung ndiman..i luv u full..

  • Nastiti said:

    :) salam damai untuk kita semua…

    saya sangat bahagia ada article ini,kebetulan saya sedang menjalankan hubungan beda agama yang punya niat baik sampai ke pernikahan.
    Memang pernikahan beda agama mengundang pro dan kontra, itu normal dan bagi yang tidak setuju sah2 saja. Kalau saya, KASIH adalah dasar kami (pasangan beda agama) menjalankan hubungan. Tuhan Yesus mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi tanpa terKECUALI. Alangkah indahnya hidup ini jika kita bisa memahami makna kasih yg benar dan menjalankannya dalam kehidupan kita daripada kita memusingkan diri kita sendiri untuk membeda-bedakan mana yg “kudus” mana yang “tidak kudus”, mencari jiwa, dll.

    Tuhan menciptakan dunia ini dengan penuh perbedaan, hanya saja Dia ingin manusia ciptaanNya hidup damai berdampingan dengan segala perbedaan yang ada. Jika kita hidup damai, bukankah menyenangkan hati Tuhan.

    Dua Agama yg berbeda itu hanyalah memilih untuk melewati jalur yg berbeda. Ibarat mau ke tujuan yg sama, yg satu lewat jalur A dan yang satu lewat jalur B. Dan dalam perjalanannya, ada Kasih yg menyertai.

    Trimakasih untuk Bapak Hardiyan Triasmoroadi atas article yang bagus ini! God Bless!

    Mohon maaf kalau ada salah kata, saya bukan warga GKJW yg alkitabiah, saya warga GKJW biasa. Hanya seorang manusia yang berusaha memahami dan menjalankan KASIH yang diajarkan Tuhan Yesus.

    Salam damai,
    Nastiti. :)

  • diajeng said:

    mbak Nastiti…
    semoga cinta Tuhan hadir dalam cinta kasih suci panjenengan…
    dan suasana sorga mewarnai kehidupan damai yg panjenengan perjuangkan.
    doa kami untuk panjenengan..

  • oom ncut said:

    tobat dulur…..
    dosa itu dikatakan dosa sejak terlintas dalam pikiran bung…
    termasuk ketika terlintas saat anda pertama kali tercetus membuat opini ini..

    apa ini hasil didikan sekolah pendeto GKJW???
    menyedihkan…
    selalu berkutat dengan Alkitab tetapi masih aja tidak memahami kontek tiap2 ayat yang anda sadur…
    memalukan…

    semakin menyedihkan saja GKJW ni..
    coba pikir, kenapa GKJW sangat2 tidak berkembang???
    apa sebabnya???
    ya ini, kapal, mobil, bis, berjalan sesuai keinginan sopirnya…
    begitu juga GKJW, kalo sopirnya tahes, penumpangnya selamat sampai tujuan, lah kalo mabok gini ya sampek kuburan…

    mana ada pendeta yang slingkuhan, rokok’an, ngebir.. mana lagi selain di GKJW…
    mana ada pendetonya yang makmur??
    (jgn bilang karena jemaatnya) semua karena pemimpinnya…
    ingat AMSAL 15:6 (dirumah orang benar ada banyak harta benda, tetapi penghasilan orang fasik membawa kerusakan)
    begitu juga GKJW.. (anggap saja GKJW itu rumah)
    mau bikin program, susah bener cari duit…
    mau mbangun gedung aja mbulet stengah mati…
    mau apa susah bener…
    (jadi tau kan kenapa…????)

    sudahlah…
    belajarlah lagi bung dian sbeleum berkoar kaya berkoar macem begini..
    benerin dulu mata kuliah yang dapet E ato D…
    masa ga tau kalo TERANG TIDAK BISA BERSATU DENGAN GELAP???
    udah ga usah dibantah…
    ga usah coba2 utik2 pake ayat2 puisi… gak masuk…
    apalagi mau usahain opini ini masuk jadi tata pranata greja….
    hadeeeeewwww……

    atao.. jangan2 anda yang mau melegalkan status perkawinan anda dengan opini ini..
    atao anda hanya mencari sensai???
    pengen tenar?? (mbok ya ikut GKJW idol…)
    butuh perhatian??? (emang istri anda kemana??)
    ckckckckc…..
    kalo bener, kasian jemaat anda dicaruban…
    dipimpin nabi palsu…
    trus anda2 yang setuju dengan opini ini, mbok ya mikir……
    pakailah otak anda buat mikir…
    pakailah mata anda buat baca alkitab n ngerti konteks… (secara Pdt)
    pakailah hati anda untuk tau kebenaran firman Tuhan.. (kecuali udah jadi sambel goreng)

    skali lagi…
    tobat…..

  • Tatoba said:

    Shalom,

    Menurut saya, memang jauh lebih baik jika kita menikah dengan pasangan yang juga seiman (bukan hanya sekedar se-agama, tapi juga mempunyai kedewasaan iman yang juga baik). Tapi jika sampai ‘terpaksa’ menikah beda agama, itupun juga merupakan kebebasan pasangan tersebut. Bagi orang-orang yang sudah berani mempertanggungjawabkan perbuatannya itu kepada Tuhan, dan berkata pada Tuhan, “Tuhan saya mencintai pasangan saya yang tidak seiman dengan saya, namun saya akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya ini” Yah silahkan menikah seperti itu. Tapi jika sampai karena pasangan itu, anda sampai kehilangan kasih dan iman anda pada Tuhan Yesus, yah jangan salahkan Tuhan dengan berkata “kenapa Tuhan mempertemukan saya dengan pasangan saya ini?” dan juga jangan kaget jika Tuhan akan meminta pertanggung jawaban atas perbuatan anda yang meninggalkan kasih dan iman kepadaNya.

    P.S
    Jalan menuju surga itu tidak sama dengan jalan menuju Roma.
    Jika banyak jalan menuju Roma, hanya ada 1 jalan menuju surga yaitu melalui Tuhan Yesus. (Yoh 14 : 6) Jadi jika pasangan anda tidak beriman pada Tuhan Yesus, yakinkah kalian sedang berjalan pada 1 jalan yang akan mempertemukan kalian pada 1 muara yang sama nantinya?

    God bless..
    Tuhan Yesus memberkati.

  • eko said:

    Wah…diskusi yang menarik ya…..saya cuma ngutip kata-kata yang saya dapat dari pendeta saya…Jika kita ini sebagai manusia SADAR, bahwa kita ini diciptakan berbeda…maka dengan demikian kita akan bisa menghargai sesama kita…termasuk di dalam perkawinan baik pasangan kita yang seiman atau berbeda agama, memang betul semua harus ditujukan untuk kemuliaan Tuhan, tapi bagaimana cara kita bisa memuliakan Tuhan jika kita sendiri menganggap diri kitalah yang paling benar…kita menganggap orang lain najis sedangkan kita ini umat yang kudus( apa bedanya kita dengan orang Farisi ?) terus apa guna juga Tuhan selalu memakai perumpamaan melalui orang2 yang tidak mengenal Tuhan?…kalau dilihat dari sejarahnya, apa yang dikatakan di dalam alkitab ditujukan untuk umat Israel, bukan kita…tapi marilah kita belajar….bahwa kasih Tuhan tidak terbatas…

    Apa orang berdosa, najis, kafir tidak layak untuk mendapat kasih Tuhan ? seperti yang Tuhan Yesus bilang. (Matius 9:13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”)

    atau haruskah kita menghakimi sesama kita?(Yoh 8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”)

    maaf mungkin tulisan saya agak menyimpang dari topik, tapi yang saya lihat disini, mulai ada unsur menghakimi satu dengan yang lain…dan disinilah lebih tepatnya saya tidak setuju…mari kita saling melengkapi satu dengan yang lainnya, bukanya saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya…dengan dasar keakuan yang ditonjolkan…Bukankah Tuhan itu adalah KASIH…

    Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang atau salah dalam penafsiran, karena saya juga baru belajar untuk berteologia…

    Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita sekalian

    eko

  • Rika said:

    Untuk Semua…

    Saya sedih.. ingin menangis membaca semua ini..
    Tolong kembalilah ke TUHAN YESUS KRISTUS
    bukan pada ajaran dunia yang humanis dan sebagainya..

    Mohon hikmatNya dengan sungguh-sungguh
    berdoa dan berpuasa..
    Sudahkah anda semua melakukan semua ini?

    Ia inginkan kita jadi terangNya, mengenalkanNya sampai ke ujung bumi
    bukan terbawa oleh arus jaman atau pada tuhan yang lain

    Yang ingin saya sampaikan
    Iman dan agama tidak sama. seorang yang beragama kristen belum tentu memiliki iman kristen. tapi orang yang memiliki iman kristen pastilah beragama kristen.

    Saya tetap berprinsip bahwa akan sangat sulit menjalani kehidupan bersama dengan suami atau istri kita dengan iman yang berbeda..

  • Miss said:

    Syalom…

    Bukan hanya kaget, saya terus terang kecewa dan sedih dengan adanya artikel ini. Jika yang membaca adalah orang yang benar2 mau belajar Alkitab dan menyelidikinya tidak apa-apa karena rasa penasaran dan keingin tahuannya yang dibarengi dengan hikmat Allah akan menuntun kepada kebenaran.
    Tapi jika artikel ini dibaca oleh orang yang ingin mendapat dukungan dari hubungannya yang sekarang dengan orang beda agama sungguh merupakan suatu hal yang sangat disayangkan. Karena pastilah orang tersebut akan langsung menerimanya tanpa menggali lebih dalam, tanpa melakukan pendalaman Alkitab pada setiap konteks alkitab yang telah disebutkan.

    Sejauh yang saya tahu, pernikahan bukan sekadar sama atau beda agama.
    Sepertinya kita perlu menggali kembali apa yang menjadi tujuan dari pernikahan. Hanya karena cinta, kah?
    saya rasa tidak sesempit itu.
    Karena dalam pernikahan ada unsur menjalankan visi Tuhan.
    Setiap orang dan pasangannya haruslah dapat saling mendukung dalam mengerjakan visi yang telah ditanamkan oleh Tuhan.
    Relasi dengan pasangan harusnya semakin mendukung pertumbuhan rohani masing – masing utnuk semakin mengenal Tuhan dan memuliakan Nama-Nya.
    Pernikahan harus menjadi berkat.

    Saya sangat menyukai analogi segitiga yang menggambarkan relasi antara Tuhan dengan manusia dan pasangannya.
    Di titik puncak segitiga terdapat Tuhan, sedangkan di bawah, di masing – masing sisinya terdapat manusia dan pasangannya.
    Relasi ini tidak bersifat satu arah, melainkah saling timbal balik. Semakin dekat jarak antara manusia dan pasangannya dengan Tuhan, maka semakin dekat pula jarak mereka (karena garis yagn ad jadi semakin pendek).
    Orang yang sama Kristen pun masih sering gagal dalam menjalankan ketaatan dan kasihnya kepada Tuhan untuk semakin mendekatkan jarak, apalagi dengan orang yang tidak menyembah Tuhan Yesus?

    Untuk Anda yang mau menikah, benar – benar pilihlah pasangan hidup dengan penuh hikmat… karena pernikahan sekali seumur hidup,
    salah memilih pasangan bisa menghancurkan hidup anda dan dapat menjauhkan Anda dari visi yagn telah ditetapkan oleh TUhan

  • Muara said:

    Syalom!
    Oom cut dan kawan lain yg sejenis..:) , gak usah kalap! Sejatinya, kehidupan ini pasti dibarengi perbedaan prinsip, kepentingan, dan keyakinan. Jangan berharap akan ada kesepakatan pada semua hal di waktu yg sama di tempat yg sama. Perbedaan dan friksi akan selalu ada dari batin sampe fisik. Kita hanya bisa meminimalisir, mawas diri, lebih arif, dan berdialog secara elegan. Jagalah hati dan mulut(tulisan)-mu, kawan. Jangan kalap dan reaktif! Jangan intoleran untuk atas nama prinsip atau untuk atas nama apapun, oi sohib!!!

  • dalbo said:

    Saya penasaran kalo artikel ini dihubungkan dengan MATIUS 28 : 19-20 . Anyone can explain to me ?

    : abis baca artikel ini, saya jadi rada mikir, mikir bagaimana perasaan mereka terhadap orang disekitar mereka, termasuk orang tua yang telah membesarkan mereka. Lalu saya penasaran, apakah mereka mungkin mengasihi orang lain, tapi apakah mereka mengasihi orang tua mereka masing-masing ?

  • Pal said:

    Agak kaget baca artikel ini, saya bukan jemaat GKJW tapi saya care dengan smua umat Tuhan.
    untuk GKJW tolong artikel ini dibahas lebih dalam lagi. walaupun saya tidak mempunyai basic Theologi namun yang saya imani bahwa “Bagaimana gelap bersatu dengan terang”, terang dalam konteks adalah pengikut Kristus (bukan Kristen) toh Tuhan Yesus tidak mendirikan agama kristen. kita dikatakan Kristen adalah karena kita menerima dia sebagai satu-satunya juruselamat hidup kita (Yoh 3:16). tujuan dari pernikahan bukan sekedar untuk memperoleh “kesenangan”, status, ataupun anak, namun adalah dalam rangka mengerjakan visi yang dari Tuhan. dijadikan 1 berarti menjadi kepunyaan Tuhan seutuhnya, klo 1 beda tidak mengimani Kristus gimana mau jadi 1. bukan soal lebih kudus atau apa, tapi memang ketika kita menerima Kristus maka Roh Kudus diam didalam kita.
    Artikel ini bisa dipostkan berarti sudah ada persetujuan dari pimpinan GKJW.
    jemaat yang 150.000 orang itu jangan sampai dibuat bingung. Alkitab tetap menjadi dasar kepercayaan kita.

    Tuhan berkati
    Gb

  • Yovi said:

    Shallom…

    Salam kasih dalam Kristus.
    Di awal dulu saya sudah minta para pimpinan GKJW untuk memberikan konfirmasi yang tegas mengenai opini ini. Tapi sampai sekarang sy masih belum tahu. Dimanakah para pimpinan GKJW yang telah belajar teologi bertahun-tahun????? Tolonglah pimpinan tertinggi memberikan ketegasan!! Bagaimana pendapatnya mengenai “Kasus” ini????

    Saya tidak rela banyak warga GKJW yang disesatkan oleh persetujuan kawin beda agama ini. Maaf bila saya keras, karena saya memiliki hati di GKJW. Saya ingin GKJW menjadi gereja yang BENAR-BENAR berdasarkan pada ALKITAB. SOLA SCRIPTURA !!!!!

    Semoga TUHAN memberikan terang pada hati warga GKJW yang gelap.

    Tuhan memberkati kita semua.

  • admin said:

    Saudara-saudara terkasih,
    Sebagai admin, kami perlu menerangkan beberapa hal terkait dengan tulisan ini.

  • 1. Mohon dicermati bahwa website ini BUKAN situs resmi Greja Kristen Jawi Wetan (lihat tentang situs ini) sehingga artikel yang ditulis dalam situs ini tidak semuanya merupakan sikap resmi GKJW.
  • 2. Artikel ini dimuat dalam kategori “Opini” (perhatikan site navigation di atas judul tulisan). Untuk itu tempatkanlah artikel ini sebagai sebuah “wacana/discourse”. Dari diskusi yang berkembang, nampak adanya pro dan kontra tentang masalah kawin beda agama. Hal itulah yang juga dihadapi oleh GKJW. Kami kira, silang pendapat dalam hal ini akan memberikan gambaran lebih dalam bagi penulis artikel ini maupun GKJW untuk membahas dan mengambil sikap terhadap kenyataan pluralitas masyarakat kita.
  • 3. Pembahasan oleh pimpinan gereja tentang kawin beda agama tentu tidak akan dilakukan dalam situs ini. GKJW memiliki mekanisme tersendiri untuk menyikapi persoalan-persoalan yang ada. Segala macam keputusan yang diambil oleh gereja tentu akan disosialisasikan kepada warga jemaat.
  • Selamat merenung dan melanjutkan diskusi…
    admin gkjw.web.id

  • ayu said:

    mas Yovi, saya kok merasa anda selalu sok jadi terang ya.
    ingat…mereka yang merasa diri terang, biasanya selalu membenarkan diri en menganggap yg berbeda tu selalu gelap dan sesat.
    mas Eko benar kok saat ngomong pake dasar :”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Ini bukan waktunya menghakimi,tapi menghargai!!

  • yolan said:

    Kawin beda agama atau beda suku, beda status sosial, atau beda kebangsaan sekalipun menurut saya sangat wajar. toh perkawinan itu juga terjadi karena perbedaan (beda jenis kelamin).
    Yang perlu digaris bawahi adalah agama ada untuk manusia, bukan manusia untuk agama.
    Alangkah picik manusia yang berpikir bahwa mau kawin saja harus dengan orang yang seagama, kalau mau kawin dengan orang yang dicintai ya kawin saja, lha kalau kebetulan orang yang dicintai itu beda agama ya cari jalan keluarnya.
    Jadi manusia sebaiknya tidak picik-picik amat, buka wawasan dan cari kebijaksanaan yang universal.

    Kalau ada rekan yang mau diskusi lebih dalam silahkan kirim aja email, karena kalau ditulis secara vulgar disini jangan-jangan ada tokoh-tokoh yang kebakaran jenggot.

  • ketua KPPM Darmo said:

    minum aer dingin ahh…

    mau nanya kepada admin. Tentang pernyataan anda di no.1; tentang tidak semua adalah sikap resmi GKJW. Saya mengutip dari artikel diatas “Jadi, dengan mengingat bahwa Tuhan itu baik bagi semua orang dan penuh rahmat terhadap yang dijadikanNya (Maz 145:9), serta dengan memperhatikan tema Program Kegiatan Pembangunan (PKP) GKJW yang selama ini selalu berorientasi pada upaya untuk menjadi rahmat bagi sesama dan dunia, maka GKJW perlu menegaskan sikapnya bahwa pada prinsipnya Greja Kristen Jawi Wetan mengakui dan menghargai perkawinan beda agama.” [ini merupakan statement resmi dari PHMA atau bukan?]

    Pernikahan Beda Agama – Saya secara pribadi mengambil sikap: Tidak Setuju

    Terima kasih, silahkan lanjutkan diskusi. Jangan lupa pertanyaan saya ya …

  • Darmo said:

    Syalom,

    Jadi ingat masa lalu, bulek saya yang lulusan S2 Yogya jurusan XX yang ngotot melarang saya nikah dengan pacar saya yg beda agama. waktu itu saya madulke bulek ke simbah. akhirnya simbah cuma begini : “Nyedhako Min (Hermin) tak kilanane bathukmu, bocah durung ngerti lor kidul wes wani aweh pitutur sing ora bener”.

    Simbah ngendiko, sak karebmu le wong kowe wis gede.

    hik hik hik.

  • Nora said:

    Dear Admin,

    Saya check Maleakhi 2 : 10-16 yg di sebut salah satu peserta diskusi, koq judul perikopnya tidak begitu cocok sama isinya. Tapi kita jgn terlalu berpatokan dengan judul perikop karena judul itu dibuat LAI. Kadang2 judulnya ada yg cocok dan ada yang tdk cocok. Kita lihat isi dari perikop tsb. Setahu saya alkitab yg aslinya tidak ada judul perikop. Setahu saya alkitab tidak mengenal namanya agama. Agama merupakan ciptaan manusia, oleh karena itu alkitab tidak pernah mengatur pernikahan yg berbeda agama. Tapi alkitab mengajarkan bagaimana hidup sebagai suami istri menurut ajaran Yesus. Allah itu sangat luar biasa dia tahu bahwa umatnya akan berdebat tentang perbedaan keyakinan dalam kehidupan baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun berrumah tangga sehinga dia memberi kita dasar2 iman melalui firmanNya, sebagaimana beberapa ayat yang saya kutip sbb:

    - Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya (malaekhi 2:15).

    Komen : Kita harus setia terhadap pasangan kita, jd tidak boleh punya pasangan lain.

    - Markus 10 : 1-11 (terlalu panjang jd tolong buka alkitab)

    Komen : menurut saya ayat ini menyatakan hal2 yg perlu diperhatikan sebelum menikah
    1.yang menikah harus perempuan dan laki-laki,
    2. Mereka siap meninggalkan orang tua.
    3.Sang perempuan bukan isteri orang lain dan belum pernah menikah dan tidak dicerai hidup.
    4. Sang laki-laki bukan suami orang lain dan belum pernah menikah dan tidak dicerai hidup
    5. Diatas semua itu mereka percaya bahwa mereka dipersatukan oleh Allah dan tidak ada yang boleh memisahkan sehingga.

    Dalam hal diatas ini saya berpendapat bahwa Tuhan jelas menyatakan kalau kita menikah dengan seseorang yg sudah pernah dicerai hidup tidak boleh kawin lagi karena Tuhan mengatakan dengan jelas HUKUMNYA ZINAH. Tapi tragisnya kondisi saat ini begitu banyak orang bercerai dan begitu gampangnya mereka menikah kembali di rumah Tuhan dengan disaksikan jemaat Allah dan pendeta dengan gagahnya menopang tangan memberi doa berkat. Dan hal itu kita lihat di TV para publik figur orang Kristen melakukan hal itu. Koq pemimpin gereja kita tdk bertindak ya??? Gereja menghalalkan perzinahan….. pdhal hukumnya sdh jelas

    2 Kor 6 : 14, Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

    Komen : ayat ini menyatakan dengan orang-orang tak percaya. Kalau dibaca ayat selanjutnya tak percaya disini adalah menyatakan percaya Al Masih atau Belial/berhala.

    1 Kor 7 : 13, Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
    1Kor. 7:14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
    1Kor. 7:16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
    1Kor. 7:39 Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.

    Komen: Menurut saya disini Allah sangat LUAR BIASA dia tahu bakal ada perdebatan mengenai perbedaan sehingga dia memberikan ayat ini. Tapi Allah meminta anak-anaknya tetap teguh pada imannya karena Allah tidak mau anak2 yang dilahirkan menjadi anak2 cemar. Walaupun pasangan kita tidak beriman dia tidak mengijinkan kita menceraikan kecuali orang yg tak beriman itu minta berpisah kita harus melepaskannya bukan melepaskan iman kita. Jadi anda yang punya pasangan berbeda kepercayaan harus siap untuk berpisah kalau pasangan anda meminta anda harus meninggalkan keyakinan anda. Jika anda berpisah bukan karena tidak mencintai pasangan anda tapi anda harus memilih. Jgn pernah mencintai sesuatu di dunia ini melebihi Tuhan Allah krn hal itu bisa menjadi berhala. Segala sesuatu yg ada didunia ini adalah milik Allah jd kalau anda memilih sesuatu di dunia maka Allah dapat mengambilnya kapan saja.

    Saya ingin bertanya manakah yang benar?

    Menikah dengan seseorang yang single (blm pernah menikah atau cerai mati) tapi tidak mengakui Al Masih sebagai Tuhan dan jurus selamat atau dengan orang yang dicerai hidup?

    Saya sangat sedih mendengar begitu banyak pengikut Kristus yang kawin cerai dan begitu bangganya bisa menikah lagi. Padahal Firman sangat jelas menyatakan hubungan suami istri putus apabila salah satu meninggal. Bgmn peranan kita apabila melihat hal ini??

    Saya setuju dengan salah satu peserta diskusi yang menyatakan yang kualitas bukan kuantitas. (Mat 22:14, Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.)

    Saya masih banyak kekurangan mohon maaf jika ada yang salah. Maaf saya hanya mencantumkan sebagian dari Firman. Mari kita jangan melihat Firman sepotong-potong dan kita check ulang ke Alkitab.

    God Blessed

  • handogo said:

    sori,numpang lewat,saya orang katolik,aku baca smua tulisan koq berantem smua ada yang independen,fanatik dan kena pengaruh,begini sodara-sodara.kalo berbicara kawin beda agama boleh ato gak,itu smua dilihat dari suatu tempat,negara kita bhineka tunggal ika,banyak bahasa,suku dan banyak aliran agama.mau-tidak mau,suka tidak suka kawin beda agama pasti terjadi inilah namanya pluralisme.kalo sodara-sodara gak mau nikah beda agama ya cari yang seiman itupun kalo dapat,rencana manusia beda degan rencana Tuhan lho….kalo mau memperkuat iman ayo ke pulau madura,jujur saja saya kerja di madura selama 2 tahun,muslim 99,99%,non muslim 00.1111% bayangkan bedanya.anehanya saya ketemu non muslim cuek bebek,tapi ketemu orang muslim madura wuuiih ramahnya minta ampun,pulang ke surabaya aja dibawain oleh-oleh banyak banget,gimana menurut kalian apakah,agama kalian yang paling baik????semua agama baik,orangnya aja rada rusak.ya smoga jadi renungan,GBU

  • chory said:

    Selama Anda diberkati, menjadi berkat, menjadi positif, memberikan dampak positif, tidak melukai hati orang lain, terutama Tuhan…

    GO AHEAD!!

    God Bless U… ^^

  • vino said:

    Membaca artikel di atas perihal kawin beda agama, sepertinya membawa suatu perubahan, bahkan ada istilah Terobosan Pelayanan.Apakah sesederhana itu ? saya kira tidak! segudang masalah akan timbul kalau sudah ada perbedaan prinsip.
    Diatas ada Firman Tuhan yang dipahaminya lain sehingga perkawinan beda agama bisa di lakukan.
    Saya memang bukan kurang setuju, tetapi tidak setuju!

    Tolong di camkan ini!
    Ada teman saya suami istri yang beda agama. yang perempuan Kristen. semula sepertinya baik-2 saja,setelah punya anak 3 suami mulai ingin kawin lagi , karena memang diperbolehkan menurut ajarannya .yah, apa yang terjadi ? akhirnya mereka kawin juga.
    Ini perbedaan yang sangat-2 prinsip.
    Sudah banyak contoh-2 yang lain. tapi kenapa pihak gereja sepertinya
    justru meng Amini ini semua. saya banyak kenalan juga Pendeta-2 dari Bethany , mereka pun tdk setuju, kawin beda agama, lebih-2 pemberkatan di Gereja.
    Mudah-2an GKJW tidak salah memahami Firman Tuhan, saya kawatir orang Kristen Boleh kawin dan punya istri lebih dari satu, hanya gara-2 pemahaman yang dipaksakan ? Tuhan memberkati.

  • handogo said:

    kritikan maupu saran pastinya dapat melukai hati orang lain,perjuangan pasti ada pengorbanan,nah korbannya itu pastilah manusia,untuk itu coba kita lihat negara kita buka negara agama tapi juga bukan negara sekuler,jadi negara kita adalah NKRI,kesatuan antar umat beragama tidak perlu dipermasalahkan,masalah kawin beda agama adalah hak manusia,kalaupun ada yang melarana artinya pelanggaran HAM.di ajaran katolik diperbolehkan menikah beda agama,akan tetapi pemberkatan tetap di gereja katolik.ini artinya pluralisme negara semakin kuat,jika ada yang melarang itu adalah egocentris orang tersebut.jadi jika anda menolak kawin beda agama boleh aja,tapi ingat negar kita ada berapa agama dan kepercayaan,jika dihitung lebih dari 3.untuk itu mari jangan berantem.

  • eko said:

    buat Bpk. vino :setahu saya di GKJW pun pasangan yang menikah beda agama pun tidak bisa dilayani…apalagi pemberkatan…sekedar info saja. thx
    Buat admin : opni yang benar2 membangun…walaupun banyak pro dan kontra… maju terus…GBU

  • Baptiswan said:

    kasihan anaknya ntar -_-”

  • admin said:

    @ ketua KPPM Darmo : Kutipan artikel yang anda tuliskan adalah saran dan pernyataan penulis opini bukan statement resmi dari PHMA.

    Terima kasih

  • endarto said:

    aku cuma mau tanya sedikit.
    kalau misalnya pasangan salah satunya beragama Islam, kan mesti sebelum Pak Naib mensyahkan perkawinan, setahuku calon temanten tuh harus kembali baca Sahadat, nach ketika baca sahadat berarti kan ornag kristen sudah mengingkari Imannya?
    meskipun di atas mengutip penjelasan Bp Sumardiyono,aklau dari GKJW bisa hanya didoakan dihadapan majelis greja.
    Monggo sinten ingkang sampun nyekseni nikha benten agami versi Muslim , nyuwun tulung kulo nyuwun dipun jelasaken
    Nuwun n JBus

  • Paulus said:

    Ass.Wr.Wb… Syaloom…

    saya rasa terlalu rumit penjelasan sdr Pdt Hardiyan T

    saya hanya mencoba analogi yang ringkas:

    1. Allah Swt/ YAHWEH tidak pernah membedakan manusia berdasarkan agama.. sebab Dia tidak menciptakan agama Yahudi, Kristen, Islam dsb.. Menurut saya : Agama itu hasil cipta manusia karna bagian dari budaya.

    2. Ismael dan Ishak itu anak sah dari Abraham/ Ibrahim.. Ini terlihat artinya keduanya merupakan Umat Allah kasihi. Keduanya melahirkan bangsa yang besar, Bangsa Yahudi dan Bangsa Arab (bukan Islam).

    3. Islam sendiri dari akar kata aslama : berserah kepada Allah.. yang diserap dari kebudayaan Yahudi..

    4. Di islam : sering disebut non islam itu kafir dan musyrik.. sebagai tameng buat melegalkan larangan nikah beda agama… padahal kafir berasal dari kata kafirun artinya : berpaling dari ajaranNya tidak tertulis berpaling dari Islam?? ajaranNya banyak dan semua berakar dari Taurat (torat di Islam). Musyrik sendiri berasal dari kata musyurikun : melakukan perbuatan syrik… perbuatan syirik itu misalnya: berdoa panjang dengan tujuan tertentu, dukun, jadi paranormal, dsb.

    Syalomm… Wassalam..

    Paulus

  • eunike hariyanti said:

    Salam Sejahtera Dalam Kasih Kristus

    Saya dibesarkan dilingkungan GKJW dan yang diterapkan oleh Bapak Ibu adalah menikahlah dengan orang yang seiman,dan pemikiran itulah yang saya tekankan dalam pemikiran saya,sampai akhirnya saya menikah dengan seorang yang seiman dan dari GKJW juga,yang saya pikirkan saat itu dengan menikah seorang yang seiman kita bs membentuk keluarga yang prefect segalanya.Semua impian itu adalah sirna adanya karena tidak adanya keharmonisan dan komunikasi yang saya harapkan…setelah 4 tahun mempertahankan pernikahan akhirnya kami berpisah dan saya mulai merubah pemikiran saya tidak selamanya seorang yang seiman bisa berpikir sejalan dan seirama,dan pada akhirnya saya menemukan seseorang dari kepercayaan yang berbeda karena saat itu sangatlah tidak wajar bila kita menikah dengan orang yang tidak seiman maka kami putuskan untuk menikah diluar negeri karena dia adalah warga asing akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kekasih dan suami saya tercinta selama 9 tahun kebersamaan saya bersamanya kami saling menghormati dan kami bs berkomunikasi dengan sangat baik,dan kami mendidik putri kami dengan pengertian yang dalam bahwa semua kepercayaan itu adalah mengajarkan bagaimana untuk menjadi orang yang saling mengasihi,so saya tetap ke gereja aktif dalam kegiatan gereja dan putri kamipun sekolah di sekolah kristen dan suami saya tetap mendukung kegiatan saya,dan sayapun memberikan kebebasan kepada dia untuk melakukan kegiatan kepercaya nya.Setelah saya membaca artikel ini,saya saya sangatlah bangga bila sekarang GKJW berkembang dengan pemikiran yang modern.Allah memberikan cinta adalah untuk saling mengasihi bukan untuk saling membedakan.Excellent proud of your article.GBU.

  • Agustian said:

    Syalom..
    Diskusinya bagus.. ada perkembangan ke arah yg lbh baik dan membuka wawasan..
    Yg ingin saya kemukakan adalah tidak ada yang salah karena baik kawin beda agama maupun kawin seagama selalu diikuti konsekwensinya masing2. Bagi yang merasa mampu dan mau untuk menghadapi dan menjalani berbagai macam resiko baik jangka pendek maupun jangka panjang dari kawin beda ya kawinlah..
    Bagi yang merasa hidup ini sudah rumit dengan berbagai macam problema ya minimalisirlah problema itu dengan menghindari kawin beda agama selagi belum terlanjur..
    Akhirnya… up to you..

    Salam

  • andy said:

    salom buat saudara ku dalam Tuhan

    saya dibesarkan dalam lingkungan GKJW dan saya salut buat kerukunan yang ada.soal nikah beda agama saya tdk setuju sekali dikarenakan didalam membangun suatu rumah tangga tdk ada yang namanya imam buat keyakinan yang berbeda dan kalau dari awal sudah beda pasti didalam suatu rumah tangga tdk akan memuliakan TUHAN karena satu dengan yang lain ada kesepakatan dengan pasangan kita tidak boleh ini dan itu karena takut menyinggung dan adanya persaingan untuk saling mengalahkan

    salam
    Andy prasetyo

  • Bowo EmHa said:

    Salam dalam Kasih Kristus,
    Mohon ikut menanggapi : Yang jelas saya termasuk yang berpendirian TIDAK SETUJU JIKA GEREJA MELEGALKAN KAWIN BEDA AGAMA, sebab Kepala Gereja adalah KRISTUS.
    Namun berdasar fakta yang terjadi, saya ingin “urun rembug”, sbb :
    1. Menikah (bukan kawin)beda agama pada dasarnya merupakan hak asasi seseorang, So yang mau dan merasa benar menjalankan keputusan tersebut -go ahead !! Persoalan akan menghadapi berbagai persoalan : Beda iman, beda pengharapan, beda pendapat, beda-beda yg lain termasuk jika harus tidak mendapat restu dari Ortu/Keluarga masing-2 ya silakan ditanggung sendiri. Sebaliknya, jika hal tersebut dianggap membahagiakan ya silakan, bukankah yg dapat merasakan ya orang/pasangan tersebut ?
    2. Soal AGAMA (baca : ageman : pakaian)yg ada di dunia ini, menurut saya semuanya sama. Harapan para penganutnya tentu sama (baca : sedaya agami punika sami mawon). Yang berbeda adalah Kepada siapakah ajaran agama tersebut beriman ? Secara pribadi saya memiliki ayat favorit :
    Galatia 2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.dan Yoh. 14 : 6,Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Jadi kesimpulannya : Yang beriman kepada Yesus Kristuslah, yang diselamatkan bukan yang beragama (KTP) KRISTEN
    3. Berdasarkan Pengalaman Pribadi : Masing-masing boleh menyatakan pendapat, pengalaman dan definisinya- dan itu sah-sah saja. Ingat : masing-masing orang memiliki kebenaran, sayangnya kalau ia berada di tengah-tengah sekumpulan orang maka pendapat yang 50 + 1 yang lebih benar. Pengalaman saya : Dulu saya pernah pacaran dan punya calon pendamping beragama lain dan saya berharap nanti dapat mengajaknya menjadi satu agama (namun itu pendapat saya). Setelah saya bertanya kepada beberapa Pembimbing saya dan baca FirmanNya (Firman Allah = Allah, Yoh : 1:1), maka akhirnya saya memutuskan untuk berpisah baik-2, menjadikan ia sahabat dan sekarang saya menikah satu iman (juga satu agama): dikaruniai 3 anak, dan mereka juga (satu iman dan satu agama). Dan saya berharap apa yang saya jalani seturut dengan kehendak Tuhan (Maaf : Saya tidak mengatakan pengalaman saya terbaik, tapi banyak diharapkan oleh warga Jemaat Kristen umumnya)
    4. Menurut saya, sekali lagi maaf, jika di dunia ini ada banyak perbedaan itu memang dikehendaki oleh Tuhan. Tapi soal pernikahan, saya lebih memilih sikap Yosua, Yosua 24 :15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!(baca : Allah Tritunggal)” Memo : Waktu saya mau menikah dulu pernah dinasehati : pernikahan itu akan dipersatukan dan diberkati oleh Tuhan jika memenuhi syarat : satu Roh (Iman), Satu Jiwa (pendapat) dan Satu Tubuh (manusia), sedangkan yang di luar itu hanya dapat dipersatukan saja.
    5. Selanjutnya bagi yang ingin kawin beda agama : Dipersilakan, sebab itu hak asasi anda. Saya juga tidak akan menghalangi !! Bahkan saya akan tetap mengucapkan selamat dan Saya akan mendoakan, Kiranya Tuhan memberikan yang terbaik bagi anda. Hanya saran saya : Kalau ada yang lebih baik, mengapa mencari banyak masalah…
    Selamat merenungkan Firman Tuhan dan kehendakNya, baik yg bersifat Vertikal maupun Horisontal.
    6. Akhir kata bila boleh urun rembug : Kolose 2:18-19, Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya,tetapi I tes. 5 : 17-21,Tetaplah berdoa.Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.Janganlah padamkan Roh,dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
    Selamat melanjutkan diskusi, Salam damai buat semuanya, Amin

  • Danang said:

    Bagaimana bisa dua menjadi satu dalam Tuhan bila bila salah satunya tidak dalam Tuhan ?

  • Hartoyo said:

    Salam,
    Sebenarnya banyak hal yang harus diperhatikan oleh banyak pihak. Yang jelas apa sih peran Gereja dalam masyarakat ? apa hanya untuk ibadah saja dan tidak peduli dengan kondisi dan perkembangan dari jemaatnya. Bukankah itu adalah gereja yang buta. Hanya pandai berceramah tapi tidak pandai dalam menerapkannya.
    Langkah paling tepat adalah gereja harus peduli…..mengingat kita meyakini bahwa jodoh ada ditangan Tuhan. Fakta dan keyakinan ini sudah diterima oleh banyak pihak.
    Ketika hal ini terjadi dan ternyata jodohnya dari pemeluk agama lain apa Tuhan yang salah …. ? tentu orang yang bodoh yang menyalahkan Tuhan.
    Lalu bagaimana peran Gereja ?
    1. Diam saja dan tidak peduli ?
    2. Merespon tetapi mendapat cemooh dari pihak gereja
    3. Mencari jalan tengah yang diragukan oleh masing masing pihak.

    Sekarang faktanya adalah apakah di Gereja gereja GKJW se Jawa Timur tidak mengalami peristiwa ini ? ….. mengingat perkembangan tehnologi yang semakin canggih.

    Mungkin dari 3 poin paling banyak poin 1 yang di pakai oleh pihak gereja yaitu diam dan pura pura tidak tahu.
    Atau dalam tata pranata GKJW warga yang bersangkutan harus mengikuti sakramen pertobatan ? …. Pertanyaannya adalah kenapa harus pertobatan wong yang bersangkutan tidak meninggalkan iman Kristen ? Orang yang tidak berbuat dipaksa untuk berbuat ( berpura pura hamil diluar nikah ) kan itu kurang tepat . Hal ini yang harus di evaluasi lagi…

    Sebagai Gereja yang berakar dari jemaat maka hendaknya gereja mau mengambil sikap menghadapi perkawinan beda agama. Karena kenyataannya di jemaat GKJW ada satu atau dua orang warganya yang menikah di luar gereja tetapi tidak mau meninggalkan imannya.

    Sebuah perenungan bagi dedengkot GKJW.
    Saran kami :
    jangan hanya diam saja dan pura pura tidak tahu itu sama dengan gembala yang dengan sengaja meninggalkan dombanya. Jika hal ini terus berlajut maka 50 tahun lagi GKJW tidak mempunyai jemaat. Karena jemaatnya lari ke gereja lain atau ke agama lain.

    Kami menaanggapi ini supaya pihak pihak terkaid menyadari dan mau peduli dengan warga jemaatnya. jangan hanya warga yang dituntun rembos atau dituntut mematuhi tata pranata. Bukankah Tata Pranata adalah lanjaran supaya tanamannya tumbuh menjadi lebih baik. Jangan sampai tata pranata ( lanjaran ) justru mematikan tanamannya. Sebuah renungan.

  • Yovi said:

    Dear all,

    Back to the Bible !

    GBU

  • betty said:

    Shalom,

    Disini saya ingin membagikan sebuah cerita pengalaman pribadi saya. Saya adalah pelaku penikahan beda agama. Dimana pernikahan saya sebenarnya berdasarkan satu paksaan dari pihak keluarga saya. Tapi disini saya tidak menyalahkan siapa2 karena saya percaya semua ini terjadi dengan seijin Tuhan. Saya menikah tidak di gereja jadi secara keyakinan pasangan saya dimana saya saat itu meninggalkan agama saya untuk mengikuti agama pasangan saya tersebut tapi sebenarnya di dalam lubuk hati saya, saya tidak bisa membuang iman saya kepada Tuhan Yesus. Berjalannya waktu di tahun pertama saya mencoba mengikuti keyakinan suami sampai pada suatu titik dimana saya tidak bisa lagi untuk berpura2 mengikutinya, sampai suatu hari saya mendapat penglihatan melalui mimpi dimana Tuhan Yesus menunjukkan n menampakkan diri kepada saya apabila saya ingin selamat hanya ada satu jalan yaitu keselamatan didalam DIA. Penglihatan ini terjadi sampai tiga kali. Sehingga membuat saya menjadi memberontak terhadap keinginan suami utk saya mengikuti ritual keagamaannya yg sebenarnya tidak saya yakini sama sekali. Sampai suatu ketika suami bertanya, apa yg membuat saya dulu meninggalkan agama Kristen. Disitulah kesempatan untuk saya menjelaskan bahwa dilubuk hati saya yg paling dalam saya tidak pernah sekalipun bisa meninggalkan iman saya kepada Kristus Yesus. Hal itu membuat suami marah dan dia getol untuk berkonsultasi dgn para pimpinan agama maupun saudara2nya yg seiman dan sebagian besar mereka menyarankan utk suami mengusir saya pergi dari rumah. Akhirnya saya diusir dari rumah. Saya pergi tapi kemudian suami memohon2 untuk saya kembali dan menjemput saya dimana ada perjanjian apabila saya mau kembali asal saya diperbolehkan untuk beriman kepada Tuhan Yesus. Sekembalinya saya awal2 semua baik2 saja, suami bisa menerima dan mendukung, tapi beberapa bulan kemudian kami terlibat beda pendapat yg akhirnya berujung pada kemarahan suami tentang keyakinan saya, suami marah kepada saya dan menyinggung2 permasalahan awal yaitu saya murtad sampai hampir saja saya mau dibunuhnya dengan pisau besar dan saya disuruh utk bertobat dan mengikuti keyakinannya tp saat itu saya hanya pasrah dan menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan Yesus dan puji Tuhan sepertinya suami tersadar akan perbuatannya dan mohon ampun kepada saya dan saya yakin itu semua karena berkat pertolongan Tuhan Yesus.

    Sejak peristiwa itu (setahun yg lalu) sampai sekarang rmh tangga kami berjalan dengan baik2 saja, usia pernikahan kami baru berumur 2,5 tahun dan sampai saat ini kami blm dikaruniakan momongan. Meski begitu, sampai detik ini meskipun semuanya sepertinya berjalan baik2 saja, sy bisa merasakan bahwa suami masih tetap berharap utk sy mengikuti keyakinannya begitupun jg sy. Sampai saat ini pun apabila sy akan ke gereja suami kadang2 msh mencoba utk menghalangi dgn mengajak sy jalan2 supaya sy tdk jadi ke gereja, berpura2 sakit sehingga sy tdk bisa meninggalkan dia, dll tp sy memahami maksud dia dan tdk membencinya, sy tetap mengasihinya krn Tuhan mau kita senantiasa mengasihi org lain meskipun org tsb tdk sepaham dgn kita. Tuhan sendiri tdk memaksakan kita utk mengikutiNYA, Tuhan memberi kita kehendak bebas, meski firmanNYA sangat tegas.

    Jadi saudara2 sekalian, mengenai pernikahan beda agama ini bagi sy yg sedang menjalaninya, apabila blm terlanjur/msh tahap pacaran lebih baik JANGAN (dalam keluarga sy rata2 menikah beda agama,dulunya sy beranggapan bahwa menikah beda agama bukanlah suatu masalah yg penting sy tetap mengasihi tp stlh menjalani sendiri ternyata menikah beda agama sangatlah berat, tdk semudah yg dipikirkan). Tetapi bagi yg telah terlanjur menikah beda agama, tetaplah setia dan pegang teguh firman Tuhan, tetap kasihi pasanganmu, kerjakan apa yg menjadi bagianmu dgn memandang trs kepada Tuhan Yesus, carilah kerajaan Tuhan dan kebenaranNya. Dan akhirnya saudara2, saat kita jatuh cepatlah tangkap tangan Tuhan dan bangkit bersama2 denganNya, jalani hidup ini sesuai apa yg dikehendakiNya, disisa waktu kita didunia ini gunakan sebaik2nya utk senantiasa mengasihi Tuhan dan orang lain. GBU all.

  • soegeng armadi said:

    artikel ini cukup menarik untuk disimak namun untuk pembaca perlu ketelitian dan pemikiran yang mendalam bukan hanya dari sudut keimanan namun juga dari sudut sosial kemasyarakatan (kristiani). Bukan hanya kita pikirkan bahwa seseorang kawin dengan pasangannya berdasarkan cinta yang sekonuong-konyong koder,(mis: ayat yang dipakai sebagai dalam pembukaan artikel, contoh-contoh dalam alkitab yang dipakai dalam landasan artikel yang dianggap sebagai pembenar dari opini artikel – dicontohkan kawinnya saja tapi tidak diulas akibat dari kawin tsb- , landasan UU dsb). Bukankah kawin beda agama justru menimbulkan lebih banyak persoalan dibanding orang yang seagama? (bukan berarti yang seagama nggak punya persoalan lho!)saya sarankan untuk lebih luas pembahasannya dari sudut teologia dan dampak sosial kemasyarakatannya, Apakah penulis ingin kawin dengan pasangan yang beda agama atau sudah kawin dengan pasangan yang beda agama atau anggota keluarga penulis ? critain dong pengalaman empirisnya bukan hanya sekedar wacana yang dikembangkan berdasarkan hal-hal yang kayaknya dalam tapi sebenarnya dangkal, janganlah tulisan ini menyesatkan jemaat, OYI ?

  • fredy barus said:

    Kawin beda agama repot (istilsh) gusdur karena sah nya perkawinan oleh Undang-undang perkawinan yi satu agama dan berlaku pada peraturan dan aturan kita.
    kalau punya anak nanti mereka ikut agama bapak ato ibu… kasian juga, ada kasus ato terjadi pd teman q.

  • nova saputra said:

    sebuah isu yang menarik untuk dibahas…sebaiknya dalam memberikan pendapat harus didasarkan pada nilai teologis yg benar…penulis artikel sepertinya kurang memahami metode penafsiran yang benar, kurangnya penguasaan bahasa ibrani dan yunani, serta kurangnya pemahaman teologi PL dan PB. Shg ayat2 yang digunakan terlalu dipaksakan untuk memperkuat pendapatnya.

  • galant said:

    duh gusti..!!

    kisah pribadi saya..kok mirip dalam artikel ini..??
    apakah Tuhan sengaja menyindir saya..untuk mengingatkan seorang manusia yang penuh dosa..bak domba yang hilang..agar kembali ke pangkuannya..!!
    ampunilah segala dosa-dosa saya..!!
    terima kasih Tuhan..atas petunjukmu..!!
    Puji Tuhan..amin..!!

  • Jovi said:

    Salam semua saudaraku :)
    Sebelum berkomentar saya minta maaf dulu jikalau ada kata-kata yg keliru atau salah, dan saya tidak ada maksud SARA sama sekali.
    saya membaca dari awal sampai akhir. Menurut saya, artikelnya baik-baik saja dan bahkan bisa membantu saudara-saudara kita yg membutuhkan informasi tentang hal tersebut. Yang jadi masalah ketika saya membaca komentar-komentar yang ada.
    Ketika membaca komentar-komentar yg ada, saya semakin KAGUM dengan kebesaran-Nya karena Tuhan menciptakan mahluk yang sangat unik satu dengan lainnya.
    Ternyata kita manusia memang SANGAT TERBATAS sekali daya pemikirannya akan tetapi sangat BERANI SEKALI dalam menyimpulkan sesuatu.
    Yahh saya juga termasuk manusia, sehingga daya pikir saya juga terbatas dan juga sangat berani menyimpulkan sesuatu.

    Dari semua komentar di atas saya mempunyai 2 pertanyaan sederhana :

    1.Apakah seseorang yg beriman adalah seseorang yg ber-Agama tertentu?
    2.Apakah seorang yg beragama adalah merupakan seseorang yg beriman ?

    Pertanyaan nomor 1 sangat gampang dijawab, karena setiap agama akan menjawab YA, Dia se-agama dengan ku, jelas dia se-iman dengan ku dan itu jalan yang Benar. SETIAP AGAMA menjawab demikian. Akan timbul lagi pertanyaan : Lalu Mana yg benar ???? dan akan muncul lagi jawaban yang sama dari tiap Agama karena masing-masing menganggap mereka yg BENAR. Dan jawaban itu akan menimbulkan pertanyaan yg sama lagi, Siapa yg benar ???

    Pertanyaan Nomor 2 juga sama hal-nya dengan jawaban pertanyaan pertama karena setiap agama tertentu akan menjawab bahwa “setiap umatnya sudah seharusnya merupakan orang yg beriman, tergantung dia menjalankan perintah agamanya atau tidak”. Hal ini akan selalu menimbulkan pertanyaan lagi, lalu agama mana yg benar ??? dan semua jawaban akan sama untuk tiap agama dan akan muncul lagi pertanyaan, siapa yg benar lagi ?

    Saudaraku….
    - Apakah kita sedang meremehkan kekuasaan Tuhan ?
    - Apakah kita menyimpulkan bahwa Tuhan menciptakan manusia, TAPI
    TUHAN LUPA memasukan database tentang Agama di pikiran kita ???
    - Darimana Pengetahuan tentang agama diperoleh tiap manusia ????
    - Apakah jika seorang anak kecil ditelantarkan di hutan yang
    kebetulan bisa bertahan hidup disana tanpa ada teman manusia, juga
    bisa mengetahui tentang AGAMA ???
    - Apakah seorang anak yg terlahir cacat (buta, bisu, tuli) juga bisa
    mengetahui tentang AGAMA ??? dan apakah anak itu tidak ber-iman ???
    Lalu darimana anak yg cacat (buta,bisu,tuli) bisa tau kalo lapar
    dia harus merengek sehingga orangtuanya memberikan dia makan ????
    sedangkan orangtua-nya tidak bisa memberikan pengetahuan terhadap
    dia karena dia bisu, buta dan tuli.

    Sekali lagi….karena saya manusia dengan keterbatasan pemikiran dan ke-Beranian yg sangat luar biasa dalam mengambil kesimpulan maka saya menyimpulkan sebagai berikut :
    Menurut saya, IMAN adalah hubungan sebuah entiti atau individual dengan Tuhan tanpa dilandasi oleh agama manapun juga. Sedangkan AGAMA adalah suatu komunitas kepercayaan terhadap JALAN yang ditempuh untuk menuju jalan Tuhan.

    KESIMPULAN : Semua agama, selama menuju ke Jalan Tuhan adalah BENAR adanya. Seseorang tidak bisa dikatakan ber-Iman karena memeluk suatu agama tertentu, karena seseorang ber-iman atau tidak hanya Dia dan TUHAN yg tau.

  • Holy said:

    Duh Gusti panjenengan apura Pdt. Hardiyan Triasmoroadi punika, amargi mboten mangertos menawi ingkang dipun serat puniko saged nyesataken lare nem-neman.

  • Ida said:

    Salam Damai Kristus,

    sebenarnya saya mau tanya, tapi ini kok komennya udah panjang banget, dan saya belum baca semuanya, gak sanggup saya bacanya, karena saya tidak ada dasar ilmu theologie yang dalam sekali.

    memang saya saat ini sedang diperhadapkan dengan situasi seperti yang diperdebatkan di atas, calon adalah seorang katholik, kami bertemu waktu masi sekolah dulu karena saya dari TK sampe SMA juga di sekolah katolik, dia SMA malah di sekolah kristen.

    ibu dari calon saya seorang kristen tapi papa seorang katolik, mereka diberkati dan diteguhkan di 2 gereja.

    yang saya pertanyakan, ketika dikatakan gelap tidak bisa bersatu dengan terang, apakan saudara2 kita yang katolik adalah manusia2 gelap?

    saya sekarang hidup di eropa dan disini di sahkan untuk menikah antara kristen dan katolik. dan gereja juga mengakui. tidak harus salah satu pindah agama.
    trimakasih atas penjelasannya,

    terang kasih Tuhan menyertai langkah kita.

  • Dikky Priastowo said:

    Salam dalam kasih Kristus,

    kalo menurut saya membangun pernikahan/keluarga adalah membangun nilai-nilai surgawi/ilahi didalamnya. itu seharusnya dijadikan dasar utama, bukan sekedar untuk meneruskan keturunan ato legalitas seks.
    pernikahan beda agama bukan masalah boleh ngga boleh, tetapi lebih kepada resiko dan dampak yang ditimbulkan, karena akan terjadi bentrokan/peperangan nilai-nilai yang telah dikembangkan dari keluarga masing-masing, utamanya nilai-nilai iman.

    Mari kita berkaca pada Kejadian 6 : 1 – 8, diceritakan bagaimana anak-anak Allah (keturunan Seth) lebih mengedepankan kecantikan fisik daripada latar belakang/nilai-nilai yang dikembangkan dari keturunan anak manusia (keturunan Kain). Dapat kita lihat di pasal sebelumnya (pasal 4) bagaimana nilai-nilai yang dikembangkan di dalam keturunan Kain (ada poligami dan pembunuhan disana).
    Dan didalam perikop tersebut (Kej 6 : 1 – 8), bagaimana dampak yang ditimbulkan dari peperangan/bentrokan nilai-nilai, dimana kejahatan manusia semakin berkembang pesat dan betapa TUHAN murka sehingga ingin melenyapkan semua yang hidup di bumi.

    akhirnya hanya didapati keluarga Nuh yang masih mempertahankan nilai-nilai surgawi di dalam keluarga, dan mendapat kasih karunia Allah.

    Bukan berarti kalo kita dianjurkan memilih pasangan dari yang seiman, menganggap yang tidak seiman itu najis. tetapi lebih kepada memenuhi kehendak TUHAN. menurut saya menjaring jiwa melalui pernikahan tidak lah tepat. Alangkah lebih baik menjadi kesaksian dan teladan bagi lingkungan sekitar dengan membangun pernikahan dengan yang seiman.

    Bukan berarti kalo menikah dengan yang seiman menjamin pasangan tersebut lebih baik contohnya tidak mungkin terjadi perceraian dan lain-lain, hal itu juga tergantung dari pertumbuhan iman masing2 pribadi. Tetapi paling tidak, ada dasar2 menjadikan Kristus sebagai kepala keluarga. Karena di dalam keluarga juga ada tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai ilahi/surgawi kepada anak-anak sehingga nama Kristus dipermuliakan di dalam keluarga.

    Kalau Anda memberi contoh tokoh-tokoh didalam Alkitab, apakah berarti patut diikuti sebagai pembenaran opini anda, apakah dengan begitu berarti Anda juga akan membenarkan perbuatan Yehuda menghampiri perempuan sundal yang ternyata menantu nya Tamar, yang walaupun demikian juga dipilih Allah untuk menurunkan Tuhan Yesus. Tidak demikian bukan, kita tidak bisa asal mencomot kisah2 di Alkitab untuk dijadikan pembenaran keinginan kita.

    Semoga mencerahkan.

    Tuhan memberkati

  • andi said:

    syalom buat semuanya

    wah nih artikel sangat menarik untuk dibaca, itu semuanya kembali ke yang menjalani hidup, memang lebih gampang melihat semut di mata orang lain ketimbang gajah dimata sendiri, saya bukan orang yang pandai dan juga bukan orang yang hapal dengan semua ayat2 alkitap, dari nenek saya hingga saya 100% kristen (maksudnya keturuan), dan saya tidak pernah berfikir untuk menikah dengan beda agama, setelah saya menikah dengannya, dan istri saya itu singer di salah satu gereja, untuk berdoapun mungkin tidak pernah lupa tapi kenapa kelakuannya tidak sesuai. dan pertanyaan saya menyikapi beberapa komentar teman-teman diatas, jika istri ketahuan berbuat yang tidak bagus dan tidak layak apakah pantas untuk dipertahankan ?, “saya hanya manusia biasa yang punya emosi”, apakah harus tetap dipertahankan hingga ajal menjemput ?. untuk beda agama di tempat saya tinggal ada yang beda agama, dan hampir semua orang mencibir mereka termasuk saya dan istri saya, dan akhirnya mereka berkebun jauh dari keramaian tapi hingga saat ini mereka akur dan kabar terakhir dia punya cucu dari putri ketiganya.”mereka saling menghargai dan menghormati, mereka tidak pernah memaksa untuk masuk/pindah menjadi satu agama, beberapa tahun saya pisah dengan istri saya, dan saya bertemu dengan mereka dan bertanya apa yg membuat mereka bisa bertahan untuk memeluk agama masing2, mereka tidak banyak bicara ” Nabi ADAM kan hanya ada satu “, kristen percaya dengan Adam, kamipun juga percaya dengan Adam, jadi tidak ada alasan perbedaan, kecuali Adam kristen beda dengan Adam kami nah itu mungkin benar ada perbedaan, bagi kami agama merupakan ajaran agar manusia tidak memperbanyak dosa.

    mohon maaf ini pengalam hidup saya menurut saya tidak ada salahnya situs ini membahas hal seperti ini, karena dulu saya pernah mencibir mereka tapi apa, justru saya yg tidak bisa mempertahankan keluarga saya, kutip “Perkataan berkuasa”, jadi terkadang manusia bisa merendahkan menilai orang lain karena bukan mereka yang menjalaninya.

  • Wayonk said:

    Anggap saja pengakuan kepada perkawinan beda agama itu sebagai “pintu darurat”. Kalau bisa sih semua lewat “pintu utama”. Tetapi tetap diperlukan “pintu darurat” itu. Hehe…

  • tina said:

    Dear All,
    walaupun artikel ini sudah basi sekali (coz taun lalu) tapi tetap saja menggoda untuk dikomentari :D

    Bagi penulis dan orang2 yang setuju dengan pernikahan beda agama, semoga anda semua segera bertobat. Karena anda belum dapat membedakan Kasih dan Keadilan Allah.

    Bagi orang2 yang tidak setuju, semoga anda dapat secara konsisten menunjukkan integritas Kristiani & menjadi berkat.

    Akhir kata, semoga Tuhan mengasihani Gereja kita (GKJW/ GKJ) & tidak meninggalkan kita dalam kesesatan.

    Soli Deo Gloria

  • Ryo said:

    Salam Sejahtera,

    Dear All,
    Akhirnya topik Pernikahan Beda Agama muncul juga di GKJW, setelah mulus teraplikasi di GKJ Salatiga.
    Saya bersyukur atas pemahaman Teologi dangkal yang saya miliki, sebatas “Pejah Gesang Nderek Gusti”,slalu mengingatkan saya untuk selalu menyadari keberadaan KRISTUS sebagai TUHAN dalam kehidupan.
    Saya juga PRIHATIN dengan para lulusan Sekolah Teologi yang pinter2, tetapi justru “membuang” TUHAN dari kehidupannya. Memberkati Pernikahan Beda Agama adalah penolakan secara langsung atas otoritas TUHAN sebagai Kepala dalam Pernikahan Kristen.Hal ini mengingatkan saya akan kisah Penyaliban Tuhan Yesus, yang justru diprakarsai oleh Ahli Taurat, Farisi bahkan Imam Besar.
    Akankah hal ini merupakan Indikasi Liberalisasi Gereja sedang dimulai, mengikuti gerakan sama pada Gereja2 di Belanda (yabina.org)? kita lihat aja kelanjutannya.
    Terlepas dari apakah yang sedang terjadi, sebagai jemaat GKJW, kita tetap harus selektif dalam menerima semua ajaran dari semua pihak terkait.
    Salut kepada teman2 yang masih kritis dalam comment2 di atas, tetap semangat di dalam melayani domba2 milik TUHAN

    TUHAN Memberkati
    Ecclesia semper reformanda

  • agbusan said:

    salam sejahtera,
    menurut saya boleh saja asal yang bersangkutan tetap pada pendiriannya,yaitu tetap setia dan beribadah pada keyakinannya sendiri, tidak boleh fanatik, urusan keturunan(anak)biar memilih sendiri karena menurut saya semua ajaran agama itu baik.

  • Yovi said:

    Gandum dan ilalang tumbuh bersama. Pada saatnya nanti ilalang akan dicabut dan dibuang oleh Sang Pemilik. Di dalam GKJW pasti banyak ilalang. Mana ilalang, mana gandum, hanya bisa diuji dengan Firman Tuhan. Ilalang tidak taat Firman Tuhan. Gandum adalah anak-anak Tuhan yang takut dan taat akan Firman Tuhan. Apakah kita termasuk ilalang? Mari berkaca pada Firman Tuhan. Semoga GKJW tidak disesatkan dan tetap menjadi Gereja Tuhan yang benar dan menjadi berkat, bukan malah menyesatkan.

    Tuhan memberkati kita semua….

  • Ayu said:

    Salam.
    Pak Yofi yang bisa menentukan dibakar atau hidup itu Tuhan sendiri.ilalang gandum tumbuh bersama tapi tidak perlu dihakimi,karena saya dan pak Yofi bukan Tuhan kan?
    Apa yg beda agama itu ilalang?dan sampeyan itu gandum? Sok sekali kita yg fana ini kok jadi hakim. Saya rasa kita harus hargai dan akui yang beda.
    Ayu.

  • felix suwito said:

    Shallom..
    Pernikahan Beda agama Boleh saja, Tapi saya sarankan untuk tidak melakukan nya krn konsekuensi-nya Sangat berat.
    JBU.

  • kokok said:

    permasalahannya sebebarnya pada standard hidup kita. Jika kita memang mengimani Kristus saja tujuan hidup kita.. maka segala langkah hidup kita berorientasi ke sana. apakah kita bisa tenang jika kita yakin selamat sementara pasangan hidup kita tidak? bukankah pernikahan itu adlah juga wujud terjalinnya persekutuan Kristus dengan jemaatNya? bagaimana kita dapat membangun persekutuan dengan indah jika pasangan hidup kita tidak mengenal KRISTUS.
    MEMANG CINTA BERASAL DARI TUHAN tetapi bukankah setelah dosa masuk makna cinta itu dikorupsi oleh dosa? jika kita mengakui cinta itu dari Tuhan maka kita juga akan berpikir 2 kali untuk menikah dengan orang yang tidak mencintai TUhan.

  • teguh said:

    maaf ikut comment krna menarik jg
    Ok dlam Alkitab Tuhan g pernah bilang agama Kristen atau non Kristen, Tuhan cm minta percaya(ini berhubungan dengan iman kepada Bapa yg sorga).Cm jd pertanyaan kalo dlam perjalanannya yg satu punya iman dalam Tuhan Yesus sedangkan yg lain tidak, bgm? Efesus 4:5
    bs g ini terjadi kalo pasangan kita beda (termasuk didalamnya beda agama/beda gereja)

  • Hunter said:

    Nikah beda Agama,…Puji Tuhan,..keputusan yang saya ambil di tahun 1995-1997 untuk tidak meneruskan keputusan saya dalam hal menikah dan jalan dengan keyakinan sendiri-sendiri,..menuai berkat yang sunggguh luar biasa sampai saat ini,…ungkapan Cinta itu Buta,..memang ada benarnya,.. sadarilah bagi yang sedang mengalami hal ini,…tentukan putusan benar dan tepat walau mungkin saat ini Anda rasakan sangat sakit,…Sadarilah, bahwa untuk hidup penuh keselamatan,…cinta dan janji setia dengan pasangan Anda saja tidak cukup,….selamat berjuang Tuhan memberkati

  • Summer said:

    Syalom semua..
    Saya mw tanggapin diskusi ini dgn sdkt cerita mengenai pengalaman pribadi saya sendiri.

    Pemikiran saya dl saya HARUS mencari pasangan sesama Kristen.
    Tp kemudian saya pny pengalaman pahit ttg mantan pacar saya dimana dy Kristen, sll k gereja setiap minggu, melayani Tuhan d gerejanya. Pandangan saya k dy wkt itu adlh dy bs menjadi penuntun n pendamping hdp saya yg sempurna.
    Tp ternyata dy dan keluarganya menipu uang saya bkn dlm jumlah sdkt.Saya memberikan pinjaman uang k dy krn saya dulu berpikir dy Kristen n melayani Tuhan. Ga terbesit dlm pikiran saya wkt itu kalo dy akan menipu saya. Selain menipu, dy akhir2 hub kami, dy melakukan kekerasan fisik.

    Memang msh bnyk pria2 Kristen yg lain. Tp jika seandainya d dunia ini pria Kristen lajang cm dy seorang, apa mgkn saya hrs ttp bersama dy? Sedangkan pria2 lain yg jauh lbh baik dr dy tp agamanya saja yg bkn Kristen tp sikap n tata cara menjalani hdp hmpr sesuai dgn yg diajarkan dlm alkitab hanya saja mrk tak k gereja, apa saya ttp hrs bersama mantan pacar saya yg Kristen dan pelayanan d gereja tp sudah menipu saya?

    Itu saja yg mw saya sampaikan. Trm ksh.

  • dian said:

    menurut saya, ketika kita mencintai seseorang kita jangan terlalu di kuasai oleh perasaan cinta tersebut sehingga kita tidak bisa berpikir jernih…semisal kalo hubungan sudah banyak merugikan kita, tapi krna ketidak berdayaan kita untuk mengendalikan cinta atau bahkan meredamnya…kita jadi terlarut dan terombang ambing dalam hubunga cinta yg merusak dn merugikan tersebut.

    so intinya adalah milikilah kekuatan untuk mengendalikan perasaan cinta apapun kondisinya…

    nah begitu juga ketika kita menghadapi sebuah masalah pacar kita beda agama, seblum nikah…kalo kita punya pengendalian emosi yg bagus kita bis berpikir baek dan buruknya nikah beda agama.

    namun mengingat di artikel ini di jelaskan bahwa nikah beda agama “boleh” dan sama2 punya resiko .

    kembali kepada keputusan anda…

    anda berpikir nikah beda agama tetep tidak bisa, ya udah anda harus kuat untuk memutuskan pisah..

    tapi kalo anda meresa ada legitimasi buat nikah beda agama, salah satunya mengacu pada penjelasan di artikel ini…silahkan lakukan..

  • Tresia Sinaga said:

    Salam…

    siang ini lg browsing2 cari grja untuk kebaktian mlm natal di surabaya,(saya domisili bali n berencana ke sby natal nanti) dan menemukan website ini dan tertarik dgn topik ini:
    saya sudah menjalani masa pacaran selama hampir 4 thn dgn yg beda agama, kepribadian yg baik, santun, sabar n setia ada di dirinya (semua teman n kerabat beri penilaian yg sama). penikahan beda agama sempat telintas di benak saya, rasa nyaman bersama dia membuat keinginan nikah beda agama semakin kuat, kemudian saya cuba bertanya pada diri sendiri beberapa hal :
    1. Apa yg saya cari dlm pernikahan?
    2. Apakah rasa sayang (cinta)yg ada di hatiku adalah benar2 tulus mengasihi dia (kasih tanpa syarat)atau hanya untuk menutupi rasa kesepian, keinginan untuk di perhatikan, disayangi dan dimanja? cinta yg ada padaku adalah cinta yg menuntut, yaitu menuntut untuk dia balik mengasihi dan mencintai. Manusia adalah fleksibel, akan berubah dan perubahan itu dipengaruhi oleh lingkungan (suasana) sekitar, perubahan itu juga akan mempengaruhi fluktuasi (perubahan)perasaan, dan apabila kita bicara tentang cinta, kita juga bicara mengenai perasaan, karena cinta berasal dari perasaan. perasaan berubah = rasa cinta berubah.
    3. saya HARUS menyaadari bahwa perasaan cinta yg ada saat ini tidak bisa menjadi pegangan utama untuk aku melanjutkan kepernikahan. saya perlu sesuatu yg absolut yg bisa di jadikan pegangan.
    4. saya mengakui dan mempercayai pernikahan adalah suatu ikatan yg sakral dan “kudus”, “kudus” karena saya percaya dlm ikatan ini saya tidak hanya berbicara ttg hubungan kami (manusia) tp hubungan dgn Tuhan, hubungan yg “mutlak”, hubungan antara Pencipta dan Ciptaan, karena suami harus menjadi wali Tuhan (Yesus Kristus) dalam keluarga, pertanyaan bagaimana dia bisa jd wali Tuhan di keluarga kalau pasangan saya tersebut tidak kenal (percaya) Yesus Kristus? siapa yg di wakilkannya nanti, dan apakah sosok yg di wakilkannya nanti adalah sosok (oknum) yg saya kenal (percaya)?
    5. Pacar saya “tau” mengenai Yesus Kristus, dia pernah ikut kebaktian natal, pernah ikut kebaktian minggu di gereja, dan pernah baca renungan pagi selama 1 bulan; ketika saya tanya apakah dia nyaman dgn Yesus Kristus, jawabannya adalah dia melakukannya supaya saya bahagia. dan saya percaya jawaban itu jujur dan jawaban itu membuktikan hal yg selama ini saya tahu “Hanya Tuhan yg dapat mengubahkan sebuah hati dan memenangkan suatu jiwa”
    6. Banyak sekali permasalahan dalam hidup, sepanjang perjalanan hidup saya, jalan keluar dari masalah adalah saat saya datang kehadapan Tuhan, mengaku dosa dan berserah, memang jawaban Tuhan atas masalah itu tidak saat itu juga lgsg “abrakadabra” tp saya di pulihkan, pemulihan dari dalam itu keluar menjadi spirit baru dlm menghadapi permasalahan dan pasti menang. saya berasumsi kalau 2 org hidup bersama, permasalahan pasti lebih rumit, org bilang 2 kepala (org)dlm menyelesaikan satu masalah pasti lebih mudah, BENAR, JIKA ke-dua kepala tersebut dalam satu visi, satu dasar (pondasi), tp kalau mreka berbeda dlm visi (pondasi)bukannya menemukan solusi baru tp mereka hrus menyamakan pandangan dulu, yg takutnya bkn menyelesaikan masalah awal tp menimbulkan riak (masalah) baru. banyak kali saya ketemu dan bertanya pada orang – orang tua yg sudah menikah puluhan tahun (termasuk ortu saya), saya mempertanyakan mengapa pernikahan mereka bisa bertahan lama? Jawabnya :” kalau bukan memandang sumpah pernikahan yg di ikrarkan di gereja (janji kepada Tuhan), semua permasalahan dlm pernikahan sdh bisa buat beliau putus asa dan bercerai”
    7. menurut saya, Baik itu belum tentu benar dan KEBENARAN itu tidak selalu baik di dengar, tp saya tidak mau mengesampingkan Kebenaran demi kebaikan. karena Kebenaran itu Mutlak, tidak bisa di Fleksibel-kan, tapi Kebenaran selalu membawa kebaikan…
    8. Saya adalah Ciptaan, dan Pencipta saya adalah Tuhan yg saya imani dalam Yesus Kristus, saya percaya Pencipta saya punya rencana untuk saya waktu DIA menciptakan saya… (semua ciptaan di ciptakan tujuannya untuk kepentingan Pencipta)

    Semoga pemahaman saya ini bisa menjadi bahan pertimbangan buat teman-teman yg mengalami pacaran beda agama, dan saya sangat menyarankan untuk tidak meneruskan ke pernikahan Beda Agama,tidak ada yg lebih indah dari perasaan sukacita saat kita saling menguatkan di dalam Yesus Kristus… GBU

  • Theodore Baswara said:

    saya senang sekali mendapatkan banyak pengetahuan dari artikel ini dan komentar-komentar yang menyertainya.. :D

    Ini kesimpulan untuk diri saya pribadi:

    saya tidak melarang orang lain melakukan pernikahan beda agama, yang bisa saya lakukan adalah memberikan segala faktor resiko pernikahan beda agama itu, yang menurut saya pribadi begitu berat karena ada permasalahan lain yang tidak akan dialami orang yang menikah dengan agama yang sama.. (seperti cerita orang-orang di atas).

    saya percaya pernikahan beda agama juga dapat mencapai kebahagiaan dengan toleransi yang sangat kuat (seperti cerita-cerita di atas), namun tidak akan dapat mencapai kebahagiaan sesempurna pasangan yang menyatu, tubuh, jiwa dan rohnya. pernikahan beda agama hanya akan mampu menyatukan tubuh dan jiwa.

    saya pribadi selagi dapat mencari dan memilih. saya akan mencari yang seagama, terlebih yang beriman kepada Kristus dengan sungguh.

  • saipul said:

    Syalom,

    Saya tetap berpendirian denganmendasarkan akan pada Firman Tuhan, bahwa, perkawinan beda agama saya tidak setuju.

  • chris said:

    duch makasih buanget kang kriwel yg mau berpihak pada pernikahan beda agama. ini memancing lebih bersemagat,membuka peluang dan menepis ketakutan saya.saya memang akan melangsungkan pernikahan beda agama di greja katolik,mohon doanya ya semoga sukses dalam menjalani pra nikah dan setelah nikah.semoga adem ayem mpe oma opa. yg ga setuju silahkan,yg setuju maturnuwun…..

  • EDY BLITAR said:

    Pengalaman keluarga kami tentang perkawinan yang berbeda,
    Kami sampaikan saja yang negatifnya saja :
    Perkawinan berbeda agama sangat rentan timbul masalah yang crusial.

    1. Perkawinan berbeda agama itu PASTI mengalami ujian yang berat sebagai HUKUMAN karena melanggar kekudusan ALLAH ( saudara kami celaka ). Bahkan 3 keluarga kami mengalami musibah kecelakaan semua setelah menikah berbeda agama.

    2. Sepanjang hidupnya KEKURANGAN padahal kerja keras dalam bekerja, kyaknya semua sirna ditelan bumi ini hasil usahannya.

    3. Setelah suaminya mati, kakakku kembali bertobat dan masuk gereja kembali, dan akhirnya DIBERKATI walaupun sudah janda umur 59 tahun, DIA rela kehilangan anak-anaknya tapi dia temukan YESUS kembali saat usia lanjut dan DIA pamit kepada anak-anaknya. bahwa mama kembali kepada YESUS sebagai ALLAH dan Kekasih hatiNYA. DIA rela kehilangan semuanya asalkan tidak kehilngan YESUS juru selamatNYA

    4. Saran aja nich. Kalau mau SENGSARA HIDUPMU menikahlah beda AGAMA sesuai saran teolog seperti diatas. INI FAKTA bukan lelucon.

    5. Amin 3x.

  • Tri said:

    Salam Damai Sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus…

    teringat sebuah cerita(nyata)…
    ada seorang yang berIMAN bahwa keselamatan hanya ada di dalam KRISTUS…
    namun orang itu tetap ingin berAGAMA(beribadah secara) Katolik…
    dia lebih suka suasana beribadahan di grj Katolik drpd d grj Kristen… cz ibadah di katolik dirasa lebih ‘khusyuk’ drpd d Kristen…

    lalu timbul pertanyaan…
    jika orang tsb ingin menikah dgn org Kristen…
    apakah diperbolehkan bagi orang Kristennya???
    atau manakah yang dilarang dalam Alkitab…
    pernikahan beda AGAMA ataukah pernikahan beda IMAN???
    atau nyang menjadi pertanyaan sederhana…
    apakah AGAMA = IMAN???
    mohon tanggapannya, krn pengetahuan saya tentang Alkitab tidak banyak…

    namun saya secara tegas menolak pernikahan beda IMAN…
    apapun latar belakang dan tujuannya…
    karena saya beranggapan bahwa keluarga seperti kelompok kecil(KK)/cell group(CG)/kelompok tumbuh bersama(KTB) yang berkeinginan untuk tumbuh secara bersama-sama, bukan hanya dalam hal duniawi namun juga dalam IMAN di dalam Yesus Kristus…

    Tuhan Yesus Memberkati…

  • slamet kristanto said:

    Syalom….
    Tujuan perkawinan adalah menciptakan keluarga yang takut akan Tuhan dan membesarkan anak dalam keimanan kristen
    Bagaimana visi dan misi hidup keluarga beda agama yang berbeda?
    Bagaimana keimanan anak2 yang lahir dari pernikahan beda agama?
    Apakah anda ingin sebagian keluarga anda tidak mendapat jaminan hidup kekal di Surga?

    Kalau memang cinta anda kepada pasangan lebih besar daripada cinta anda kepada Tuhan, silahkan menikah beda agama!

    Tuhan memberkati!

  • rock said:

    satu kata,, sesat!!… maaf kalo kata2 saya terlalu extrem… tapi mmg pada kenyataannya kidung agung sangat rentan dengan penyalahan arti,, membaca kidung agung tanpa kajian yg lebih dalam membuat salah dalam penerapan….. dgn pembenaran2 sebuah fakta bisa jadi sangat buram krn secara manusiawi semua yg berbau cinta dan perang smua dianggap sah2 saja… tetapi ketetapan Alah sangat mutlak dan amin,, terang tidak dapat bersatu dengan kegelapan apalagi dgn sebuah pernikahan…. bukan membatasi terang yang ingin mengubah kegelapan menjadi terang tapi walaupun hal tersebut ingin dilakukan sebaiknya sebelum ada janji suci,, karena setelah pernikahan semua menjadi berbeda,semua akan berpengaruh kepada iman, keturunan, keluarga.. semoga bermanfaat.. God bless…

  • whiska said:

    hemmm…saya jg sedang mengalami hal serupa …dan begitu sulitnya ,,,sama2 saling menghargai saja menurut saya tidak cukup…
    mohon doanya saja , smoga orang terdekat saya dijamah hatinya oleh Yesus sehingga dia tidak ragu lagi dan mantap ikut agama saya yaitu kristen..
    gbu

  • Bobi said:

    eling eling……….Menikah beda agama bukan berarti meninggalkan Allah dan agama……………….
    jadi saya dukung fulllllll…………
    bagi yang mau beda agama silahkan……..
    maju teruuus…………………………
    jangan dengarkan penghakiman manusia…………..
    saya yakin Tuhan cinta semua orang gak liat agamane.
    maju teruuuuus……………………..
    Tuhan berkahi

  • Nia Kurnia said:

    Saya Sedang menjalani hubungan beda agama, saya seorng muslim dan pasangn saya non muslim, kami ingin melanjjutkn hubungan ini ke jenjeng pernikahan tapi kami takut untuk berterus terang pada keluarga, apa yg hrus saya lakukan,..?

  • windy said:

    perkawinan beda agama boleh.yang kita kawini manusia jadi g ada kata haram.tuhan mencintai semua manusia.matahari dan oksigen untuk semua orang tanpa membeakan agama apapun.gkjw jangan kolot dan kaku.semangat dalam kasih tuhan yesus.

  • oktastika said:

    Terimakasih pak Pendeta atas wawasannya.
    Semoga prosesi pernikahan kami lancar.

  • indra said:

    tuhan menciptakan semuanya itu untuk kebaikan bkan untuk perbedaan,,, tuhan mencintai umatnya yang beriman padanya dan melakukan segala yang baik,,, agama hanya cover saja,,, agama pada dasar dan isinya sama,menyembah tuhan sang pencipta,,,

  • okta said:

    tuk mbak nia kurnia.

    tng aja mbak jgn tll takut pd kluarga, kan smua kluarga pgn anggotanya bahagia. jd hadapi sj, cm smua ada kosekwensinya dan prosesinya hrs melalui salah satu agama (itu kalo pernikahannya pgn diakui pemerintah).
    Itu tinjauan prosedural dan legalitasnya.
    Tinjauan substansinya adalah “gak masalah mau nikah beda agama, memangnya agama itu bikinan siapa sih kok jadi sedemikian menakutkan bagi sebagian manusia. Semua agama itu bikinan manusia coy. Yang penting kita berbuat baik selama hidup.. maka kemungkinan besar setelah kita mati nantinya akan mengalami sesuatu yang lebih baik daripada org yg berbuat jelek dimasa hidupnya. semua tetanggaku yang sdh mati belum ada yang kembali hidup lagi di dunia ini jd aku (kita semua) belum pernah tau apapun tentang sesuatu sesudah mati, kalau sekarang banyak yang bercerita tentang bagaimana dan seperti apa sesudah kematian maka dia bohong besar.
    nah terserah anda, mau mementingkan faktor prosedural dan legalitas atau mementingkan substansinya.

  • Wijaya Candra said:

    pernikahan beda agama memang bukan haram bagi umat kristen namun secara moral pernikahan beda agama sangat rentan terhadap iman kita sebagai anak anak terang karena ada tertulis “Terang tidak dapat bersatu dengan kegelapan ”
    Mari kita melihat kehidupan Raja Salomo , akibat dari perkawinan dengan orang yang bukan membawa dampak pada kehancuran kerajaan Israel
    dari kisah tersebut TUHAN mengingatkan kita agar dalam memilih tulang rusuk kita jangan hanya mengandalkan nafsu keinginan kita pribadi
    Memang sangat indah kata kata firman TUHAN ” SUAMI MENGUDUSKAN ISTERI DAN ISTERI MENGUDUSKAN SUAMI ” Namun realitanya Raja Salomo jatuh dalam dosa penyembahan allah lain dan hal itu yang terjadi pada masyarakat kita
    TUHAN kita bukan TUHAN yang oteriter DIA memberkan kebebasan bagi kita untuk memilih namun orang karena pilihan ADAM dan HAWA,mereka telah mengadaikan kemuliaan ALLAH
    Demikian pula halnya dengan SIMSON yang menyerrahkan kehormatan bangsa israel pada seorang gadis filistin
    sekarang terpulang pada iman kita masing masing untuk suatu pilihan
    sebagai akhir kata izinkan aku mengajukan pertanyaan bersifat restoris untuk kita renungkan ” SUDAH TADAK ADA LAGI KAH WANITA ATAU PRIA LAIN YANG SESUAI DENGAN PILIHAN TUHAN DAN YANG TAKUT AKAN TUHAN ????

  • Harry said:

    Topik yang sangat menarik, semua harus bijaksana menyikapinya Tuhan punya rancangan yang indah untuk manusia termasuk siapa yang akan menjadi pendamping kita kelak,bawa dalam doa setiap pergumulan yang kita jalani bukankah Tuhan ada di kedalaman hati manusia dan hanya sejauh doa,turunkan “aku” masing2 dan “pokoke”…….Tuhan cuman pesan pada kedua manusia itu “Semua pohon ini boleh kamu makan kecuali POHON Pengetahuan Baik dan Buruk”……., Dan pesan terakhir saat Tuhan “akan meninggal dunia” di atas Kayu salib, ” Jadikan semua bangsa muridku”….
    Tuhan Memberkati kita semua.

  • VeldRomZ said:

    Syalom sejahtera smuanya…..

    Kita ini manusia …
    Agama dan perbedaan lain manusia yg buat….
    Cinta dan kasih punya Tuhan.
    So… Jngan saling men judge smbarangan..
    Kalian Tuhan ?? Melarang adanya cinta dan kasih di antara manusia….
    Makasih GBU

  • andika said:

    Syalom saudara2…jd dimana donk tempat Nikah beda agama nya??and kasi donk contact person nya,,biar bs di hubungi sekrng..terimakasi..

    salam..

  • munthe said:

    temen2..
    perkawinan itu menuju kebahagian yang kekal..
    kekal itu dunia dan akhirat..

    mgkin didunia bisa..
    tp dikhirat,,???
    apa mgkin salah satu Tuhan bisa mengikhlaskan hambanya ke syurga Tuhan yg lain?

    ato kedua Tuhan bersepakat menyatukan hamba2 yg berbeda agama disatu syurga???

    pikirkan,jodoh bukan hanya nafsu..
    pasti ada yg lebih baik yg seagama dengan qt..

    jgn menyalahkan karunia Tuhan..

  • Geta R. Mein Diesty said:

    sangat setuju u/ menikah beda agama.
    sebab yg ngejalanin hub. itu kita, bukan mereka.
    buat apa menikah sesama agama tapi ujungnya tidak bahagia.

  • Mark said:

    Allah Bapa,

    Hanya Engkaulah yang bisa menciptakan mahkluk sempurna seperti kami di Dunia ini. Kau titipkan kami pada manusia-manusia(orang tua) yang beragama ini, itu dan sebagainya. Kau beri kami rezeki, kesehatan, teguran, dan nafas kehidupan tanpa melihat apa Agama Kami.

    Allah Bapa,

    Aku yakin dalam setiap pilihanku, Kau sudah telebih dulu tahu apa yang akan aku pilih, dan Kau terlebih dulu tahu apa yang akan terjadi dengan pilihanku. Tapi aku yakin, dalam setiap pilihanku,Kau takkan meninggalkan Ku sendiri, Karena Kau maha Pengasih, Maha Pengampun.\

    Allah Bapa,

    TerimaKasih atas perbedaan yang telah Kau ciptakan ini, Sungguh terasa Indah melihat bermacam-macam “jenis bunga” di taman dunia Ini.

    Allah Bapa,
    Jangan Tinggalkan aku disaat aku mencoba menjadi Terang Di tempat yang Gelap, dan juga jangan lepaskan Tangan ku ini, saat Aku menjadi Garam Di air yang Tawar.

    TerimaKasih Allah Bapa,
    Atas semua yang telah Kau berikan Pada kami. Lindungi, berkati dan Ampunilah segala dosa-dosa kami ya Allah.
    Serta kuatkanlah hati kami para pasangan beda Agama dalam mengarungi bahtera kehidupan. Agar Kami bisa bertahan dalam hubungan ini, sampai ajal memisahkan kami.

    Di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, aku tlah berdoa dan mengucap Syukur. Amien

  • yanti said:

    dalam kehidupan nyata yang saya lihat, banyak tipuan. awalnya ok saya akan ngikut kamu. nikah. eh balik kucing. sendiri2. konflik di anak. ikut sekolah minggu atau tpa. itu soal kecil2nya. artinya apa? janganlah kita menghabiskan energi untuk memikirkan yang sebenarnya tidak perlu kita pikirkan.

    klo kita anak Allah, maka kita di pimpin roh Allah. nah jangan di pimpin roh cinta. karena cinta juga adalah sebuah roh.

    secara indvidu, silahkan belajar keimanan sendiri. tapi secara lembaga, gkjw tdk boleh ada pembiaran. lihat contoh di luar negeri. karena ada desakan di masyarakat, maka gereja memberkati pernikahan sejenis. nah gimana itu logika teologikanya..

  • safa said:

    Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu…. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
    Bukan kasihilah istrimu melebihi Allhamu….
    Perenungan : semua orang Kristen harus bertanya : What whould Jesus Do? Bila Yesus yang menghadapi keadaan ini apa yang akan DIA (YESUS) lakukan?

  • Singgih Prasetyo said:

    haduh kawin seagama aja sudah banyak masalah.. apalagi beda agama

    ayo komen semua

  • Robertwie said:

    Hebat..jadi boleh ya…Pak Pendeta lho yg bolehin… =)

  • sapto said:

    boleh saja tapi nikahnya tidak di GKJW, kalau pengen nikahnya dilayani di GKJW ya harus dibaptis dulu… ini artinya pasti seagama !!!

  • surya said:

    syalom, mencermati isi tulisan diatas bagi yang bisa menikah dgn yg seiman sungguh suatu kebahagiaan dan berkat yang harus di syukuri. pertanyaannya bila mana ada yang tidak seiman apakah sebaiknya dia tak menikah? atau mungkin ada sodara2 yang bisa membantu mencarikan pasangan yg sepadan….. setiap apa yang kita baca sebaiknya di renungkan kembali bagi yang membaca…. karena setiap orang tidak sama.

  • Zho said:

    Saya pribadi, tidak bisa membenarkan atau menyalahkan apakah Boleh atau Tidaknya perkawinan beda agama.. bukan kapasitas saya, dan tidak diperkenankan seperti yg tertulis di ALkitab..

    Saya hanya bisa memberi pendapat bahwa akan banyak orang yang terluka saat pernikahan antar agama terjadi. :(

  • bejo lukito said:

    kalau dasar dalilnya seperti yg dibahas di atas, lama-lama bisa saja poligami diakui di gereja. ayatnya bisa dicari-cari sajalah… sing penting seneng kabeh…

  • Viking Garut said:

    Sepertinya Jika Memang di halalkan di agama katolik atau protestan atau agama lain kecuali islam, Boleh saja !!

    tetapi???

    indonesia berlandas negara demokrasi bukan islam

    tetapi??

    indonesia berkomunitas 90 persen lebih beragama islam !!

    jadi??

    monggo silahkan ngomong ny di publik atau diskusi dengan yg berwenang bukan di artikel yg memang di buat buat,

    silahkan kumpulkan artikel kehalalan nya dari kitab anda, pasti terjawab dengan artikel dari Al-Qur’an yg tidak pernah di rubah, berbeda dengan injil yg bisa di rupah gimana asik nya !

  • widagdo said:

    tuhan pencipta alam semesta beserta isinya, manusia besyukur dan berdoa pd tuhan. banyak suku dan perbedaan tuhan sudah merencanakannya karena sebagai sang pencipta. apa tuhan memiliki ego seperti manusia? apa tuhan membenci perdamaian? tidak tentunnya…
    apakah kerukunan dan kasih itu harus pilih memilih? tuhan tidak murka seperti manusia…

    silahkan dilogika sebagai manusia yg beraklhak… apakah seorang pemulung miskin yg sangat baik dan menolong kpd siapapun yg dia temui selama hidupnya, tiba ajalnya krn dia beragama A trs masuk neraka krn sesungguhnya tuhan itu B.. apa tuhan seMurka itu???

    apa kehendak tuhan manusia tdk ada yg mengerti, seperti kapan datangnya kiamat.

  • novavi said:

    Pasangan saya seorang muslim apa bisa pernikahan dilakukan secara dua agama?

  • wak djo said:

    sae sedoyo…
    kawin beda agama gk masalah, sing penting rukun.
    cinta setia neng Gustine dewe-dewe. sah wae….
    masku yo kawin beda agama, sampek saiki rukun, setia, saling menghormati.
    suwun kabeh dulur…….

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.