Kapan Saat Tepat Merayakan Natal?
Biasanya, mendekati akhir tahun, banyak tempat perbelanjaan (toko, mal, tempat hiburan) yang memasang pernak-pernik natal sebagai ornamen dekoratif. Tak ketinggalan lagu-lagu natal dikumandangkan sebagai teman dalam berbelanja atau sekadar jalan-jalan memanjakan mata.
Tetapi entah kenapa dalam tahun-tahun belakangan ini sepertinya hal itu menjadi hampa, tak terlalu berkesan lagi di hati. Apakah karena sudah mengalami titik jenuh atau sebagai ‘protes diri’ akibat maraknya euforia dan komersialisasi Natal, [saya] tak tahu pasti. Yang jelas berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Wah, terasa menyenangkan melihat gebyar ruang-ruang yang sarat dengan berbagai hiasan natal. Ditambah dengan alunan lagu dan instrumen natal yang mengiringinya. Jadi betah berada di sana, walaupun bukan di tempat yang memang khas berlabel rohani (Kristen).
Ada Apa Sebenarnya?
Mulai akhir minggu dalam bulan Nopember, gereja -pada umumnya- tengah memasuki pekan-pekan khusus. Diawali dengan Minggu Kristus Raja (Christ the King). Ini merupakan hari minggu penutup tahun liturgi, sekaligus sesaat menyambut adven (pembuka tahun liturgi). Peringatan ini dalam kalender gerejawi jatuh antara tanggal 22-28 Nopember.
Empat minggu berikutnya adalah masa-masa Adven. Adven berasal dari kata adventus, yang berarti kedatangan, pendekatan, hal mendekati, menyongsong. Maksudnya adalah mempersiapkan diri ke arah epifania (= penampakan diri, kedatangan, kelihatan). Minggu Adven I ini dimulai pada empat hari Minggu sebelum 25 Desember. Sedangkan Minggu Adven IV adalah hari Minggu terakhir sebelum 25 Desember.
Sesudah itu? Barulah gereja merayakan Natal (malam Natal 24 Desember dan Natal 25 Desember) dan terakhir epifania (6 Januari). Di antara Natal dan Epifania tersebut, yakni sepekan setelah Natal, tahun sipil memperingati Tahun Baru. Tetapi dalam tradisi kristiani, ini diperingati sebagai hari raya penyunatan Yesus, yang disebut dengan oktav (= delapan) natal. Itulah sebabnya, gereja mengadakan kebaktian pada 1 Januari, tepat dengan Tahun Baru menurut kalender Gregorian.
Memang, Natal tidak dirayakan selama satu-dua hari saja, melainkan beberapa pekan, sehingga waktu-waktu tersebut disebut juga dengan masa raya Natal. Ini dimulai sejak Minggu Adven selama 4 minggu, Natal dan terakhir Epifania. Namun demikian, yang terpenting bukanlah dari peristiwa sesaat dari Natal itu sendiri. Melainkan persiapan dalam menyambut Natal, yang diisi dengan empat pekan adventus.
Empat minggu atau satu bulan lamanya, umat kristiani diberi waktu untuk kembali merenungkan makna kedatangan Yesus -secara jasmaniah di muka bumi ini (kala itu). Masa adven, kembali mengajak para umat untuk kembali berbenah. Kembali, seperti kedatangan-Nya dalam rupa dan sosok seorang bayi. Kembali seperti semula, seperti bayi nan suci, bersih, tak bernoda. Sebuah penghayatan akan makna hidup manusia yang sejati.
Masa adven, juga mengingatkan kembali akan kehidupan di masa datang. Tatkala Ia datang kembali kali kedua di bumi; sebagai Raja dan Hakim Agung. Dalam suasana yang tak menentu dan tak tahu kapan tibanya kelak.
Dalam keadaan serba tak menentu tersebut, kehidupan erat berkait dengan beragam rupa persoalan. Sebagaimana kodrat alamiah manusia, yang sarat dengan kekurangan dan kelemahan, yang seringkali hal seperti itu tidak pernah diharapkan keberadaannya.
Namun, terkait dengan hal itu, biasanya, tatkala kesetiaan menanggung beban terjadi; ketika beban kelihatannya semakin menumpuk, ada saat-saat di luar nalar. Lain dari yang diduga, beda dari terkaan semula, bukan seperti yang diprediksikan. Ada saat, tangan yang tidak kelihatan (The Invisible Hand’s) itu menjamah dengan lembut. Dia yang senantiasa mengulurkan tangan kasih-Nya, membukakan jalan keluar serta memberikan pertolongan yang ‘ajaib’.
Mencari Titik Temu Persoalan
Kenyataan umum bahwa banyak gereja dan persekutuan Kristen tidak tahan dengan saat-saat penantian (Adven). Perayaan Natal juga dilakukan pada waktu Adven. Hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran untuk menghargai Adven sebagai masa penantian dan persiapan. Langsung saja mereka merayakan Natal tanpa mau berlama-lama di Adven. Adven hanya menjadi sekadar ornamen pada kebaktian hari Minggu, sementara Natal tetap dirayakan di luar hari Minggu pada masa Adven.
Mengapa kedua peristiwa itu harus dibedakan? Analoginya, secara manusiawi peristiwa Natal sebetulnya sama persis dengan peristiwa penantian sepasang suami istri terhadap kelahiran putra/i-nya. Sebagaimana hal ini turut dialami oleh pasangan muda Maria dan Yusuf kala itu.
Merayakan peristiwa Natal dalam konteks se-benar-nya adalah sama seperti pada waktu tersebut. Masa Adven adalah masa ketika seseorang sedang menantikan keluarnya si jabang bayi dari rahim sang ibu. Dia akan mengalami perasaan sukacita yang teramat besar tatkala bayi yang dinantikan itu akhirnya bisa menghirup udara bumi ini dengan selamat. Bukan sebaliknya, ketika jabang bayi itu masih tergolek dalam kandungan si ibu. Tentunya, yang muncul bukan rasa kegirangan melainkan rasa cemas, was-was, kuatir. Harap-harap cemas, bagaimana kondisi anaknya nanti, apakah bisa lahir dengan selamat tiada bercacat sedikitpun. (bdk. Yoh. 16:21)
Nah, demikianlah sekiranya gambaran yang tepat ketika orang sedang bersukacita merayakan Natal. Bukan pada saat penantian (adventus) atau pranatal, tetapi justru pada saat kelahiran (natal) dan pascanatal. Mereka akan bergembira karena anak yang dinantikan telah tiba. Harapannya telah terkabulkan.
Namun pada kenyataannya banyak juga yang tidak mau terlalu peduli soal ini. “Pokoknya, Natal harus bulan Desember. Tidak apa-apa merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember.” Argumen ini berlandaskan pada satu di antara tiga teori yang menyatakan bahwa kelahiran Yesus tidak ada yang bisa memastikan tanggalnya dengan tepat. Soal ‘pengakuan’ tanggal 25 Desember itu sifatnya masih spekulatif. Hampir 300 tahun masa awal pengenalan “tradisi baru” ini, tanggalnya selalu berubah-ubah. Asalnya pun bukan dari tradisi gereja mula-mula, tetapi dari tradisi sekular dies natalis solis invicti (hari kelahiran Dewa Matahari yang Tak Terkalahkan).
Dengan begitu, maka rasanya sah-sah saja alasan tersebut dikemukakan. Tidak keliru jika bernatal tak sesuai dengan penanggalan yang dianut universal. Tetapi bila dianalogikan seperti di atas, akan nampak jelas perbedaan tersebut. Yaitu, bagaimana kelak jika si anak tersebut lahir, yang seharusnya lebih meriah lagi perayaan itu. Namun yang nampak, justru setelah masa penantian itu berlalu -tatkala si jabang bayi lahir- keceriaan itu malah surut. Ironis, bukan?
Dalam rangka meningkatkan spiritualitas gereja, alangkah baiknya jika Natal dirayakan setelah 25 Desember. Biarlah Adven tetap dirayakan sebagai Adven, yakni masa pengenangan (akan kelahiran-Nya) dan pengharapan (akan kedatangan-Nya kembali). Dengan demikian, perayaan Natal bisa dilakukan tanpa mengurangi bobotnya karena telah jenuh di Adven.
Selamat Adven, belum Natal …
e-mail artikel ini



(4.5 out of 5)
Have your say!