Jika Aku Menjadi…
(Sepucuk Surat Terbuka Untuk Kawula Muda)
Televisi memang sering dianggap sebagai mahluk penghancur generasi masa depan. Atas nama hiburan, banyak acara yang lebih menonjolkan sisi glamour, hura-hura dan kurang mendidik. Bahkan, televisi dengan siaran sinetronnya (meski tidak semua sinetron), sering pula dituduh sebagai penumpul aspek kemanusiaan. Sering menonjolkan perselingkuhan, kemarahan yang membabi buta, tindak kekerasan, mistik, eksploitasi romantisme percintaan yang picisan. Di samping pula, acara berbau rerasan gosip artis, seputar putus-nyambung dan kawin-cerai, serta siapa jatuh cinta kepada siapa. Namun demikian, di antara seambrek acara televisi, tentu masih saja ada satu-dua tayangan yang menarik dicermati. Sebut saja misalnya, ‘bedah rumah’. Acara ini nampaknya ingin menebarkan rasa kepedulian, khususnya kepada orang miskin, dengan jalan membangunkan rumah yang layak huni. Tentu saja, tangis derai air mata keharuan si miskin, menjadi fokus tayangan ini. Meski tidak fokus terhadap penyelesaian akar masalah kemiskinan itu sendiri, ‘rumah baru’ itu cukuplah berarti, khususnya bagi mereka yang memang sedang ‘bernasib’ baik ketiban sampur rejeki tersebut. Acara yang bersifat reality show itu pun marak. Prestasinya mampu mendongkrak rating. Maka, acara serupa pun diadakan oleh stasiun televisi lainnya. Salah satu acara lain yang bertema kepedulian sosial adalah Jika Aku Menjadi. Nampaknya, pihak pengelola cukup prihatin, khususnya terhadap dua hal: Pertama, dengan kawula muda. Hampir 80 persen acara televisi (prime time) kelompok sasaran yang dituju adalah kelompok anak muda. Mulai acara musik, film/sinetron, game bahkan juga reality show semacam Termehek-mehek. Umumnya pula, kelompok manusia muda usia ini seolah ‘dibombardir’ dengan satu tema yang niscaya seragam, yakni kisah percintaan. Nah, kenyataan inilah yang nampaknya ingin dijawab oleh sedikit kelompok pengelola acara televisi, dengan menampilkan tayangan yang menggugah rasa haru, sekaligus belajar peduli terhadap sesama. Barangkali, mereka cukup was was, bagaimana masa depan kawula muda, kalau hanya terus-menerus ‘disuguhi’ tontonan yang itu itu saja. Kedua, pihak pengelola juga ingin memenuhi panggilan sebagai warga bangsa yang baik, yakni dengan mencoba membantu mereka yang kurang beruntung.
***
Dalam “Jika Aku Menjadi…” sering ditampilkan sesosok (seringkali perempuan) orang muda yang tinggal bersama dalam suatu keluarga yang sering disebut kurang beruntung. Kadang seorang mahasiswi, tinggal bersama seorang perempuan tua yang telah hidup sebatang kara. Perempuan tua itu tinggal di sebuah desa (kadang pula di kota), dengan pekerjaan yang hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Pada kesempatan lain, seorang (lagi-lagi) cewek, mahasiswi, tinggal bersama seorang perempuan tua yang pekerjaannya sebagai kuli gendhong di sebuah pasar. Dengan ikut menjalani hidup sehari-hari, para anak muda itu turut serta merasakan pahit getirnya menjadi orang miskin. Ada yang ikut jual jamu gendhong, menjadi kuli gendhong di pasar, ikut membajak sawah, ikut menjadi pemulung barang bekas, ikut jual es cendol, ngarit rumput untuk kambing dan sebagainya. Intinya, mereka diajak merasakan hidup yang apa adanya. Bahkan, menurut orang kebanyakan, hidup sebagai orang susah. Bermandi keringat hanya demi uang Rp 15.000 sampai Rp 30.000 sehari. Jumlah yang bagi kebanyakan kawula muda, hanya cukup untuk biaya beli pulsa atau sekadar browsing, chatting atau ngenet. Termasuk di dalamnya, para anak muda itu juga ikut tidur beralaskan tikar. Mandi di sebuah kamar mandi yang sebenarnya seringkali tak layak disebut kamar mandi (minimal untuk ukuran mereka yang sedang menjadi program ini. Demikian pula dengan makan dengan lauk lapar alias nasi, krupuk dan sambal, kadang dengan sekadar kuluban. Semua itu demi satu pelajaran, mereka ingin merasakan hidup, lengkap seperti ‘tuan rumah’ yang menjadi ‘guru’ mereka. Titik tekannya, mereka belajar hidup susah. Lebih dari itu, diharapkan pula, mereka juga belajar mengucap syukur, justru ketika hidup di dalam keadaan serba kekurangan. Tidak banyak alasan, mengapa ‘sang guru’ itu bisa hidup sedemikian rupa. Hal ini hanya cocok bagi mereka yang ingin menggeluti sebuah persoalan, lengkap dengan segala argumentasi yang ketat dan alasan rasional yang rigid. Misalnya, tentang akar masalah sebab-musabab kemiskinan. Tidak banyak alasan yang diungkap dalam tayangan semacam ini. Mungkin, bukan itu yang ingin menjadi fokus tayangan.
***
Meski sederhana, acara demikian memang layak mendapat perhatian. Acara Bedah Rumah, di beberapa daerah, atau di beberapa Jemaat GKJW, sempat menjadi inspirasi para pemudanya dalam merayakan Paskah atau Natal. Bakti sosial diwujudkan dalam bentuk bedah rumah. Selain ingin berbakti sosial memupuk kepedulian sosial, juga diharapkan dapat membangun kebersamaan. Hidup guyub yang mulai dirasakan memudar, bisa dibangkitkan lewat kegiatan seperti ini. Alhasil, acara Jika Aku Menjadi sebenarnya juga cukup layak dicoba. Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik. Setidaknya, bisa memperkaya atau menyegarkan pola pembinaan. Hal tersebut mengingat, beberapa hal yang biasa terjadi dalam acara atau kegiatan pembinaan selama ini. Pertama, biasanya acara pembinaan pemuda (dan juga orang dewasa di hampir semua Badan Pembantu), sering memakai metode yang ‘serius’. Artinya, metodologi pembinaan sering terjebak dalam pola konvensional, yaitu dengan hadirnya seorang narasumber. Maka, acara menjadi monoton; satu pihak ngoceh (monolog) sendiri, pihak lain (peserta) hanya duduk, mendengarkan (kadang sambil ngantuk). Kadangkala, kalau narasumbernya menarik, akan diselingi guyon biar nggak ngantuk. Bagi jemaat yang mampu menyediakan fasilitas teknologi, kadang memakai alat bantu dengan tayangan layar lebar. Namun, intinya tetap sama, monolog, satu ngomong yang lain duduk manis mendengarkan. Hal ini sering terjadi saat retret pemuda maupun komisi lainnya. Kedua, akhir-akhir ini, semakin sering acara pembinaan dilengkapi dengan outbond. Metode ini sering salah kaprah disebut. Sebab yang sering dilakukan hanya sebatas permainan atau game. Padahal metode outbond cenderung memakai peralatan yang mahal, karena demi menjamin keselamatan. Sebab outbond lebih menggali kemampuan dasar manusia dalam mempertahankan hidup (survival) yang memicu adrenalin. Karena itu dibutuhkan peralatan dan tenaga ahli sebagai pendampingnya. Nah, biasanya, menyiasati hal ini, sering dipakai pola permainan. Baik outbond maupun permainan, temanya berkisar pada membangun kerja sama tim atau kekompakan, memacu semangat kerja keras, atau yang lainnya yang lebih bersifat team work management. Sudah jamak dilakukan, kegiatan pembinaan di gereja, selalu ingin berorientasi kebersamaan. Sebagai sebuah persekutuan, demikian dalilnya, perwujudannya adalah adanya kebersamaan. Tidak bisa diterima pendapat bahwa kebersamaan itu terjadi dalam jumlah kecil. Oleh karena itu, kebersamaan ini selalu berupa kelas besar alias pesertanya massal. Jarang terjadi, pembinaan dalam jumlah peserta yang terbatas (maksimal 25 orang). Bahkan, kalau bisa, sebanyak mungkin pesertanya. Semakin banyak pesertanya, malah menjadi ukuran tingkat keberhasilan suatu kegiatan (mungkin ini standar dari komperlitbang). Ini adalah hal ketiga yang biasa terjadi dalam acara kegiatan pembinaan selama ini Alkisah, dengan kelas besar, acara pun tidak bisa terlalu serius. Artinya, lebih banyak berorientasi mencari cara agar semua peserta (yang berjumlah banyak itu) bisa ikut merasakan terlibat. Kalau acaranya ceramah, tentu monoton, dan tidak asyik. Maka pilihannya adalah outbond (namun lebih sering terjadi game). Nah, kalau sudah demikian (kelas besar), cenderung tidak terlalu mementingkan perjumpaan yang intensif. Baik dalam arti ‘gesekan’ ide yang argumentatif maupun sharing antar-pribadi yang bisa saling mendekatkan pergulatan hidup di antara para pesertanya. Dengan format acara demikian, tentu membutuhkan tenaga, pikiran dan juga tak kalah pentingnya adalah biaya yang cukup besar. Karena itu tidak heran, para pengurus atau panitia penyelenggara, biasanya lebih disibukkan mengurus pencarian dana, menata konsumsi, mengatur transportasi, berburu vila atau penginapan tempat retret serta mencari pembicara. Semua hal itu memang sangatlah penting! Hal keempat, semakin sering pola demikian kita lakukan, semakin memicu pertanyaan, lha kita ini (maaf) lembaga pembinaan (komisi pembinaan) atau lembaga penyelenggara pembinaan (komisi penyelenggara pembinaan…). Lha kalau lembaga pembinaan, mengapa justru memanggil orang lain atau orang dari luar (setidaknya luar jemaat, entah dari MD atau MA, atau gereja lain), diundang untuk menjadi narasumber yang memberi materi pembinaan. Cilakanya lagi, pendeta (di GKJW pendeta merupakan salah satu tenaga pembina yang full timer, selain Guru Injil), malah seringkali hanya ‘kebagian’ ibadah pembukaan atau ibadah penutup. Ya, mungkin hal ini selain sebagai penyegaran, juga megingat materi pembinaan (sifatnya kondisional). Lebih jauh lagi, kelima, acara seperti ini cenderung bersifat insidental. Artinya, sekali diadakan, kecil kemungkinan tindak-lanjut yang dihasilkan. Malah, sering pula terjadi, retret diadakan hanya demi memenuhi PKT. Bukan berangkat dari persoalan yang dibutuhkan, kemudian melahirkan langkah tindak-lanjut di kemudian hari. Jadi, tidak berkesinabungan. Ditambah lagi, hasilnya kurang bisa terukur. Makanya, susah kalau harus dievaluasi…
***
Setelah melihat dinamika seperti itu, mungkin layaklah kita kembali belajar dari acara televisi, Jika Aku Menjadi. Sebab, di dalam acara ini, pembagian peran antara ‘guru-murid’ tidak terlalu terjadi. Bahkan, meski ada pembagian peran ‘guru-murid’ sekalipun, posisinya adalah sejajar, sebanding, yaitu sama-sama saling belajar. Antara mereka yang tinggal dengan pendatang, sama-sama ingin belajar. Dengan begitu, sebenarnya, kita sudah dapat satu metode penyampaian yang dialogis. Tidak monoton, one way traffic. Tidak ada pihak yang merasa lebih mampu dan lebih dulu tahu dari pihak lainnya. Semua bisa menjadi ‘guru’ sekaligus ‘murid’ di saat yang lain. Dengan mengangkat ‘orang lokal’ (orang miskin dalam Jika Aku Menjadi) menjadi narasumber, sebenarnya hal ini merupakan pembalikan atau pembongkaran paradigma lama yang mengatakan bahwa orang miskin tidak tahu apa-apa! Justru sebaliknya, ada banyak hal yang patut dikaji, dicermati dan diteladani dari mereka. Sikap batin mereka menjalani hidup. Maka dari itu, pihak panitia sudah tidak lagi bingung dan pusing tujuh keliling mencari narasumber. Di pihak lain, honor sebagai narasumber itu malah bisa ‘mengalir’ kepada mereka. Hal sebagai penghargaan bahwa kita sudah belajar dari pelbagai pengalaman hidup mereka. Besar kemungkinan, honor tersebut sangatlah tidak sebanding dengan pelajaran yang bisa dipetik. Lebih dari itu, kelima, setiap peserta, memiliki tantangan yang berbeda, sesuai dengan minat mereka masing-masing. Dalam hal inilah, peserta dapat berperan secara aktif. Inilah yang sering disebut dengan metode partisipatif. Setiap peserta adalah subyek, pribadi yang utuh, memliki sekaligus dihargai setiap pengalamannya. Nah, akan lebih lengkap lagi, apabila setelah tinggal bersama (live in) itu, setiap peserta memperoleh kesempatan berbagi pengalaman (sharing). Waoww, tentu akan lebih seru. Masing-masing pengalaman digali. Setiap pribadi dapat mengembangkan imajinasinya. Dengan begitu, setiap pribadi mendapat kesempatan meng-eksplorasi potensi yang ada padanya. Penggalian inilah ‘harta karun’ Jemaat GKJW. Sebut saja misalnya, Jemaat A (pedesaan) live in di Jemaat B (diperkotaan) atau sebaliknya. Tentu bisa digali permasalahan mengapa mereka bisa hidup miskin. Nah, kalau hal itu dijadikan simpul pokok persoalan utama, tentu jalan keluarnya nanti (harapannya) bisa dijawab secara bersama pula. Kerja sama atas dasar keprihatinan dan kepedulian, tentu akan melahirkan kesadaran memunculkan jalan keluar terbaik. Artinya, kerja sama secara holistik besar kemungkinan bisa terjadi. Yakni, kerja sama antar-jemaat pun bisa dijalin. Kerja sama yang dinyatakan dalam program konkrit di dalam PKT (Program kegiatan Tahunan) masing-masing jemaat. Bukankah ini yang disebut dengan semangat patunggilan kang nyawiji berlandaskan gerakan warga? Kalau sudah demikian, sangat besar pula kemungkinan merancang program yang berkelanjutan. Sebab, menyangkut kerja sama ini, tentu membutuhkan waktu yang panjang. Hal ini hanya mungkin dilakukan hanya dengan program yang berkelanjutan. Selain itu, akan kecil kemungkinan terjadinya tradisi ‘copy paste’ program dalam PKT (semoga tidak banyak yang melakukan hal ini). Di pihak lain, yang jauh lebih besar, adalah masing-masing peserta mendapat kesempatan melakukan refleksi berdasarkan keprihatinan mereka. Refleksi batin berbasis keprihatinan inilah yang menyuburkan tumbuh-kembangnya benih-benih penghayatan teologia yang membumi. Dengan semangat teologi inilah, membuka perjumpaan dengan Allah lewat kehidupan orang-orang miskin, lapar dan tertindas. Jadi, tema-tema pedulis sosial, solidaritas, setia kawan, dan sebagainya, tidak perlu lagi dikotbahkan. Akan tetapi sudah menjadi darah-daging hidup sehari-hari. Hidup yang senantiasa terpanggil demi melayani mereka yang miskin, papa, lapar-haus, berbeban berat…bukankah di sekitar jemaat kita banyak para buruh pabrik, para pedagang kaki lima, buruh tani, pemulung, anak jalanan, pekerja seks dan korban ketidakadilan sosial lainnya… Nah, sebentar lagi musim liburan tiba. Baik bagi para siswa SMU maupun mereka yang kuliah. Akan lebih baik, kita mengisi liburan dengan kegiatan yang dapat menyegarkan (bahkan meningkatkan) laju pertumbuhan rohani. Sebut saja misalnya, dengan mengadakan retret ala Jika Aku Menjadi… Kepada merekalah kita diutus… Selamat mencoba…
Foto: Satrio Arismundandar, News Producer, konseptor awal program Jika Aku Menjadi (JAM).
e-mail artikel ini



(4.5 out of 5)
saya sangaaaaat setuju. dan saya sangaaat mendukung. jangan dibicarakan lagi, tapi segera di realisasikan untuk pembuktian bahwa anak-anak ing pasamuwan punya rasa, tidak mati rasa. dan punya tanggung jawab terhadap lingkungan, bukan sekedar hura-hura mengisi liburan.
8 May 2009 at 4:41 pm