wordpress com stats plugin
Home » Artikel

GKJW dan Zaman Informasi

12 January 2009 2,514 views 8 Comments Oleh

Manusia di seluruh dunia sekarang ini berada dalam kondisi saling ketergantungan. Informasi tentang peristiwa atau perkembangan ide yang ada di wilayah benua lain dapat kita peroleh dengan mudah dan dalam waktu yang relatif singkat entah itu melalui radio/televisi, surat kabar, atau internet. Kita mengagumi kemampuan media komunikasi sosial (media cetak, media elektronik, media alternatif) untuk mempersatukan seluruh dunia sehingga dunia ini menjadi sebuah desa dunia.
Hal ini didasarkan pada tesis Marshall McLuhan yang terkenal. Ia mengatakan bahwa yang mengubah budaya dan peradaban itu bukanlah ide, perang atau agama tetapi penemuan teknik baru yang mempengaruhi komunikasi. Teknologilah yang membongkar batas-batas dan membentuk global village atau desa dunia tersebut. Menurutnya “medium itu pesan”. Pesan bukanlah isi doktrin seperti yang diajarkan secara tradisional, melainkan efek yang dihasilkan oleh media pada diri kita.

Media komunikasi sosial telah begitu penting bagi banyak orang. Media menjadi sarana utama untuk memperoleh informasi dan pendidikan, untuk memperoleh bimbingan dan inspirasi dalam perilaku mereka sebagai individu, keluarga dan masyarakat secara luas. Oleh karena itu zaman ini disebut zaman informasi.

Fungsi informasi dari media juga semakin dipacu dengan perkembangan-perkembangan baru di bidang teknologi. Penemuan-penemuan baru: satelit, TV kabel, teknologi digital, dst telah sedemikian rupa mendorong semakin kuatnya fungsi informasi media.

Media juga mampu meningkatkan perasaana memiliki dan memperteguh identitas kelompok, entah itu kelompok yang berdasarkan suku atau agama. Ini fungsi korelasi media yang menghubungkan individu dengan realitas sosial. Misalnya peristiwa-peristiwa mondial yang bersifat keagamaan atau seremonial tentang pertandingan bulu tangkis atau acara Paskah di Vatican dapat meningkatkan rasa kebanggaan menjadi anggota salah satu kelompok.

Media juga menjadi sarana untuk memperteguh nilai-nilai tradisi dan spiritual. Dengan membuat paket-paket program tentang kebudayaan-kerohanian yang menarik, media dapat menyuarakan nilai-nilai dasar hidup manusia seperti keadilan, cinta kasih dan solidaritas sehingga mendorong manusia untuk ikut meyakini atau setidak-tidaknya menghargai bahwa nilai-nilai tersebut mempunyai arti.

Media juga mampu memobilisasi massa. Contohnya gerakan reformasi 1998 yang disebar melalui radio, televisi, majalah, koran, brosur, maupun email mampu memobilisasi massa sehingga memberi dukungan terhadap gerakan reformasi., atau perang Israel-Palestina yang diberitakan oleh media telah mendorong orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk berdemonstrasi menentang agresi Israel/perang,dsb.
Fungsi lainnya adalah menghibur. Keindahan alam, kesenian, dan kebudayaan dapat tersajikan sehingga memperkaya pengetahuan dan menghibur emosi massa.

Fungsi-fungsi tersebut telah sedemikian rupa menunjukkan bahwa efek media massa patut untuk diperhitungkan. Jika kemudian dipertanyakan apa korelasi antara zaman informasi ini, dan fungsi-fungsi media tersebut dengan GKJW sebagai komunitas keagamaan?

Zaman informasi ini telah menghasilkan perubahan-perubahan yang mungkin unpredictable. Terlalu cepat teknologi komunikasi berkembang sehingga menghasilkan dampak-dampak positif dan negatif yang latent maupun manifest. Sebutlah kebiasaan nonton TV anak-anak yang sudah mengalahkan keinginan mereka untuk Sekolah Minggu, konsumerisme yang dianut oleh banyak orang menggantikan nilai kesederhanaan yang diajarkan Tuhan Yesus. Internet yang dimanfaatkan secara salah mengisi pikiran manusia mengalahkan pembacaan Alkitab dan bahkan doa,dst. Gereja memasuki tantangan-tantangan besar. Media melalui proggramnya telah menjadi guru mengalahkan orang tua, sekolah dan bahkan gereja. Media telah mengambil alih peran lembaga-lembaga tersebut. Ini sebuah tantangan besar yang bisa saja tidak disadari.

Sementara itu penyadaran akan dampak media dan upaya-upaya antisipasi agar gereja dan elemennya mengetahui pola kerja media sehingga mampu menyusun strategi untuk membentengi diri dari pembodohan dan dampak negatif media amat minim dilakukan. Kalaupun ada yang melakukan, biasanya hanya soal-soal pengetahuan teknis sebatas pelatihan melek Internet misalnya atau khotbah-khotbah yang sedikit sekali menyinggung tentang dampak media. Soal-soal lain yang berhubungan dengan kritik terhadap media berkenaan dengan dampaknya terhadap kebiasaan jemaat tidak disentuh secara mendalam. Akibatnya persoalan dampak media yang bisa berbahaya ini dianggap sepele. Kedewasaan dalam menerima gempuran media itu penting, namun kedewasaan itu tidak datang begitu saja. Perlu ada pengkondisian. Karena tindakan yang dilakukan oleh seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh media tetapi ketiadaan pendampingan dan dasar-dasar kuat dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan negatif dari gempuran zaman.

Di sisi lain, pemanfaatan media untuk penginjilan adalah urgent di zaman informasi ini. Alangkah baiknya jika kita memiliki bahan-bahan pendidikan untuk anak-anak sekolah minggu, katekisasi remaja dan sidi, katekisasi pra-nikah atau tuntunan untuk Pembinaan Teologi Warga Gereja, atau bahan-bahan lain yang disimpan dalam Compact Disc (CD). Tentunya dibuat dengan profesional melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya dan dengan kemasan yang menarik. Hasilnya di simpan di Perpustakaan GKJW atau di tempat lain yang dipilih GKJW sehingga dapat dicopy atau dibeli oleh jemaat sebagai bahan yang akan dipakai oleh Pendeta,Guru Katekisasi, Guru Sekolah Minggu, Guru Injil atau bahkan keluarga-keluarga untuk membina warga jemaat dan menumbuhkan diskusi/persekutuan dalam keluarga. Jika hampir semua warga jemaat berupaya bisa memiliki bahkan menikmati VCD atau bahkan DVD dilengkapi kaset-kaset nyanyian oleh penyanyi-penyanyi terkenal, atau film-film box office atau apa saja yang sekuler sampai di desa-desa pelosok sekalipun, MENGAPA TIDAK dengan CD yang berisi pembinaan iman yang bisa mereka pakai setiap saat melengkapi pembinaan-pembinaan yang dilakukan oleh pejabat gereja? Mungkin memang jemaat perlu dikondisikan dan dibiasakan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi ini demi kepentingan pertumbuhan iman. Hal itu bisa dilakukan jika GKJW tanggap dengan zaman informasi yang satu sisinya mampu memporak-porandakan ajaran-ajaran baik.

Inspirasi:
Y.I Iswarahadi, SJ (2003),”Beriman dengan Bermedia-Antologi Komunikasi”, Yogyakarta, Kanisius.

Kirimkan Artikel Ini Kirimkan Artikel Ini

Kata Kunci Artikel Ini:

8 Comments »

  • nono said:

    mmmmhhhhh….. pemikiran yang brillian dan memang sudah banyak dipikirkan.. nah terus bagaimana realisasinya…?

    mengingat semakin detik dunia semakin menyempit dengan hadirnya teknologi maka kita pastinya ga boleh kalah dunk…

    dukungan selalu akan diberikan..

    salam hangat
    nono.ganteng@gmail.com

  • Dyah Ayu Krismawati (author) said:

    @nono: Mas Nono, konon sebuah harapan akan menjadi kenyataan jika terus disuarakan dan diyakini oleh banyak orang. Memang perlu komitmen lembaga juga untuk mewujudkan pemikiran semacam ini menjadi sebuah realita. Saya pikir kesadaran kolektif akan membangunkan GKJW mengeksplorasi teknologi untuk pewartaan kabar baik itu. Sekarang gejalanya sudah makin terlihat dengan makin banyaknya jemaat yang sudah memiliki blog meskipun belum optimal.Ke depan, realita seperti yang saya, anda dan banyak orang harapkan itu nampak makin jelas.Perlu optimisme dan kesabaran berproses. Terima kasih sudah membaca tulisan saya.

  • nono said:

    yups tinggal bagaimana isu ini dihembuskan yang akibatnya akan menyegarkan banyak orang…

    dukungan selalu akan diberikan dan disuarakan..
    selamat melayani
    Tuhan memberkati..

    warm regards
    nono.ganteng@gmail.com

    ditunggu tulisan2 berikutnya

  • bayu sagita said:

    Informasi mutlak diperlukan oleh stiap orang di muka bumi, tak terkecuali oleh warga GKJW, untuk mengetahui apa, bagaimana, kapan, dan dimana sebuah peristiwa terjadi di kalangan warga GKJW. Atau juga sebagai sambung rasa, atau sambung katresnanan bagi setiap warga GKJW yang berada di kota-kota maupun yang ada di “pucuk gunung”. Gak perlu muluk2 dalam membangun sebuah sarana informasi, yang sederhana seperti majalah saja bisa. Tapi apa yang dilakukan oleh para “orang pinter” di PHMA???? Mereka justru menutup sarana informasi yang sudah ada sejak dulu yaitu majalah Duta. Trus mau membangun sarana informasi yang seprti apa lagi??? kalo yang gampang dan bisa terjangkau oleh semua lapisan jemaat(asal bisa baca) aja diberangus!!!!!!!!!!!!!!

    Matur nuwun,

    bayu

  • admin said:

    @bayu sagita: Kami juga prihatin jika Majalah Duta-Ria harus berhenti saat ini. Tapi kami berharap bahwa keputusan yang diambil untuk menghentikan penerbitan Duta-Ria hanyalah merupakan “waktu hening” sejenak untuk mempersiapkan diri berkarya lebih baik dan profesional.

  • Lintang - Situbondo said:

    To admin,
    Saya melihat, ada banyak ketertuduhan di balik “waktu hening” (pinjam istilah admin DUTA-RIA yang kita sayangi bersama. Memang, kadang ‘Silence is golden’, but not always gitu kan ?
    Merujuk pada surat yang disebar ke jemaat-jemaat tentang penghentian ‘sementara’ DUTA-RIA, ke sanalah ketertuduhan itu bermunculan. Mungkin hal ini didukung oleh ‘diam-nya’ mereka yang ikut mengambil keputusan di MA, tanpa ‘njlentrehne’ pergumulan yang melatar-belakangi pengambilan keputusan itu. Ada baiknya, tidak semua keputusan persidangan mesti ditutup rapat-rapat dan hanya dijelaskan lewat selembar surat yang hanya memuat keputusan itu sendiri (kecuali yang benar-benar khusus dan dapat menimbulkan dampak kurang baik).
    Saya percaya, pro dan kontra selalu ada. Yang tidak boleh ada (seharusnya) adalah saling menyerang antara mereka. Jika memang penghentian sementara DUTA-RIA itu menjadi kehendak-Nya, percayalah…. kita akan melihat dan merasakan sesuatu yang jauh lebih indah nantinya… oke ?

    Salam untuk admin

  • Lintang - Situbondo said:

    Untuk author :

    Bagaimana ya, caranya membuat jejaring untuk mewujudkan mimpi sampeyan yang begitu indah itu ? sebab saya kuatir, mekanisme kita bukan mekanisme yang mudah untuk tiba-tiba membuat program jadi mendukung tulisan sampeyan itu.

    salam

  • Dyah Ayu Krismawati (author) said:

    @Lintang – Situbondo: Tulisan ini memang hanya salah satu mimpi saya di bidang media dan komunikasi untuk GKJW,pak Ndito. Mimpi ini memang harus dilengkapi dan ditambah oleh mimpi-mimpi banyak orang, baru nanti mungkin bisa dicarikan jalan proseduralnya. Jadi tidak mungkin tiba-tiba! Lha monggo kalau ada tulisan-tulisan/pikiran-pikiran lain yang senada termasuk jalur tepat yang bisa ditempuh, kita kumpulkan. Kalau Obama saja bisa mengatakan: “Yes, we can!” mengapa GKJW tidak!?
    Matur nuwun

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.