Categories:

Firman-Mu Itu Pelita Bagi Kakiku Dan Terang Bagi Jalanku

Bacaan, 2 Samuel 12: 1- 7, 13 – Nats, Mazmur 119: 105

1. Bulan Desember sudah dekat. Setidaknya ada beberapa hal penting menyongsong datangnya bulan Desember, yaitu:

a. Masa adven
b. Natal
c. Tutup tahun

Masing-masing peristiwa itu memiliki makna penting bagi hidup kita sebagai orang percaya. Masa adven adalah serangkaian waktu yang mengajak orang-orang percaya untuk mempersiapkan diri -terutama batin, rohani- dalam menyambut peringatan kelahiran Sang Bayi Suci. Pada masa adven ini menjadi saat (momentum) yang baik bagi orang percaya untuk “berdiri di depan cermin” meneliti wajah dan bahkan tubuh kehidupan yang kita jalani. Asalkan kita tidak memakai kacamata hitam ketika memandang diri sendiri, maka akan kita temukan banyak noda pada tubuh kehidupan kita: menganggap diri paling benar/ mampu/ tahu, tidak bisa menahan diri/ emosi, mudah mencurigai orang lain tanpa data yang pasti, meremehkan orang lain, dst. Sebaliknya kalau kita memakai kacamata hitam, wajah dan tubuh kehidupan kita tampak bersih, tanpa noda! Tetapi tentu berbahaya kalau kita berkaca dengan memakai kacamata hitam! Sebab ketika kita merasa teramat pede (percaya diri), kita melenggang di depan orang banyak, padahal di sebelah kiri mulut kita ada butir nasi yang menempel atau sisa saos tomat atau bahkan gincu yang tak rata. Berbahagialah Saudara yang tanpa kacamata hitam ternyata mendapatkan bahwa wajah dan tubuh kehidupan Saudara bersih, tanpa noda!

Sedangkan peristiwa Natal jelas mengingatkan kita bahwa kasih Allah itu tidak teoretis, tetapi nyata (“love is real”). DIA yang mahakuasa berkenan hadir dalam kehinaan demi pembaharuan hidup manusia. Peristiwa ini mestinya mengingatkan kita bahwa hidup kita semata-mata karena anugerah Allah (sola gracia). Tanpa anugerah itu kita tidak bisa hidup secara benar. Oleh karena itu kepada kita amat dianjurkan untuk merenung ulang apakah kita telah menempatkan DIA sebagai YANG UTAMA atas hidup kita?

Lalu tentang Tutup Tahun. Biasanya sebelum tahun yang baru datang banyak orang menyiapkan sebuah “resolusi” [= ketetapan hati, atau semacam nazar. Misalnya "Mulai tahun 2010 saya akan berhenti merokok"; "Mulai tahun 2010 saya tidak akan menilai buruk orang lain sebelum saya tahu persis duduk persoalannya" atau "Tahun depan saya akan menerima apa pun yang ditugaskan oleh gereja kepada saya"]. Oleh karena itu menjelang akhir tahun seseorang akan lebih intensif dalam mencermati kekurangan-kekurangan hidupnya supaya bisa menentukan prioritas yang perlu diperbaiki.

2. Untuk menggali lebih dalam kesediaan kita untuk diperbaharui terus menerus juga dalam rangka kita menyiapkan tiga peristiwa di atas baiklah kita belajar dari kisah tentang raja Daud dan nabi Natan.

Daud
Dia adalah seorang raja, penguasa kerajaan. Daud bukan raja dadakan, tetapi sejak remaja sudah dikenal oleh rakyat banyak, terutama setelah ia dapat mengalahkan Goliat ["...Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya."_1 Samuel 17: 42]. Sebagai raja ia memiliki fasilitas hidup yang serba berlimpah, termasuk para prajurit pilihan yang bertugas melindunginya. Dengan kekuasaannya tentulah amat mudah bagi Daud untuk menyingkirkan siapa pun -orang-orang yang tidak disenangi- yang akan menghalangi kelanggengan kekuasaannya. Tetapi Daud bukan tipe penguasa yang jahat, ia cukup bijak. Raja Daud memiliki kedekatan dengan Tuhan.

Tetapi ternyata Daud tidak sempurna. Ketika petang hari tiba Daud berjalan-jalan di atas sotoh rumah, dilihatnyalah seorang perempuan cantik (Betsyeba) di luar istana. Daud tak sekedar melihat, tetapi pandangan pertama itu amat menggoda gejolak hatinya. Ia tergoda untuk memiliki perempuan itu. Daud tak mampu menguasai diri. Lalu dipakailah kekuasaannya untuk mendapatkan perempuan itu. [...Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: "Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu." Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia_2 Samuel 11: 3, 4]. Daud jatuh dosa!

Perbuatan dosa selalu diupayakan disembunyikan. Daud pun demikian. Daud mencari cara untuk aman dari tanggung-jawab. Dipanggillah Uria [suami Betsyeba] yang sedang dalam tugas negara untuk kembali. Uria diberi kesempatan untuk istirahat di rumah sehingga bisa tidur bersama istrinya. Tetapi upaya Daud itu menemui jalan buntu. Uria memang datang menemui Daud, tetapi ketika ia diminta untuk istirahat di rumah, ia menolak! Sebagai pemimpin pasukan ia merasa tidak pantas, sementara para prajurit berlelah berjuang, masakan ia bersenang-senang dengan istrinya. Pusinglah Daud! Tetapi si jahat tak pernah kurang akal. Dibuatnyalah Uria mabuk sehingga secara tak sadar ia tidur di kamar Daud, setelah itu Uria ditempatkan di garis paling depan dalam pertempuran ["Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati."_2 Samuel 11: 15]. Upaya yang dilakukan oleh Daud ini adalah dalam rangka memutus mata rantai informasi, supaya pelaku kejahatan tidak terlacak.

Dosa yang satu menuntut melakukan dosa lainnya, itu yang dialami oleh Daud: berselingkuh, menjadi licik, dan membunuh.

Nabi Natan
Berita tentang perselingkuhan Daud pada akhirnya diketahui oleh nabi Natan. Diutuslah nabi Natan oleh Tuhan untuk menemui raja Daud. Tentulah bukan tugas yang mudah bagi Natan untuk menemui Daud, sebab Daud seorang penguasa yang bisa melakukan apa saja, termasuk menyingkirkan orang-orang yang tidak disenanginya. Lebih-lebih saat itu Daud sedang “mabuk asmara”. Tetapi Natan bukan nabi yang suka mencari aman untuk dirinya sendiri. Ketaaatannya kepada perintah Tuhan melebihi ketaatannya kepada hal-hal lain. Natan bukan tipe nabi yang terkooptasi. Sehingga pada akhirnya berhadapanlah Natan dengan Daud.

Dengan memakai kalimat alegoris Natan menyampaikan cerita kepada Daud “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu.” Daud rupanya mengikuti alur cerita yang disampaikan Natan dengan sungguh-sungguh. Dan rupanya cerita itu menyentuh hati Daud. Terbayang dibenak Daud betapa jahatnya si kaya. Menggelegaklah hati Daud oleh kemarahan terhadap perilaku si kaya. Sebagai raja ia harus bijaksana, berani menghukum yang semena-mena terhadap orang kecil. Perhatikan tanggapan Daud atas cerita itu [...Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan."]. Terbayang oleh Daud untuk segera memerintahkan prajuritnya untuk menangkap orang kaya itu dan menjatuhi hukuman.

Barangkali tatapan mata nabi Natan semakin tajam tertuju pada Daud yang sedang bereaksi atas ceritanya. Segera saja setelah Daud mengungkapkan kemarahannya terhadap si kaya yang berbuat jahat kepada si miskin, nabi Natan tanpa ragu menyahut dengan suara lantang “Engkaulah orang itu!” Suasana menjadi teramat sunyi, hening. Jarum jatuh pun mungkin terdengar!

Palu godam serasa dipukulkan ke kepala Daud. Terlintas pada pikiran orang biasa, memerahlah muka Daud dan pastilah akan segera bangkit berdiri sambil berkacak pinggang dan berkata, “Natan, jangan sembarang kamu bicara. Jaga mulutmu! Kamu tahu siapa yang kamu hadapi? Aku raja, penguasa negeri ini. Saat ini juga aku bisa memerintahkan pengawal untuk memenggal kepalamu! Keluar sekarang juga atau pengawal akan segera membunuhmu!” Segera setelah itu Daud memerintahkan sekretarisnya untuk membuat “Iber-iber” yang disebarkan ke semua rakyat. Inti isi “iber-iber” itu menjelaskan kepada rakyat bahwa Daud raja yang setia, tak akan mungkin melakukan perselingkuhan [anak saya yang terkecil suka nyeletuk "Berbuat baik kok dipamerkan!"]. Barangkali itu pula yang kita lakukan ketika melakukan kesalahan lalu ada yang menegor, entah secara langsung atau melalui pemberitaan firman. Bukan bersyukur karena diingatkan tetapi justru membenci yang mengingatkan.

Ternyata Daud tidak melakukan seperti yang dibayangkan di atas. Ia tidak reaktif. Ia tidak membela diri. Daud rupanya memiliki rasa hormat yang amat tinggi kepada utusan Tuhan [bandingkan pula dengan perilaku Daud saat bersembunyi di sebuah goa ketika dikejar-kejar oleh Saul untuk dibunuh. Ketika itu Daud memiliki kesempatan emas untuk membunuh Saul, tetapi tidak dilakukan. Dikatakannya, "Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."]. Sehingga ketika Natan dengan lantang mengatakan “Engkaulah orangnya”, Daud terkejut, tertegun dan secara cepat ia mawas diri sejujur-jujurnya (saya bayangkan seperti perangkat anti virus yang meng-scan data, lalu menemukan adanya virus berbahaya!). Daud lemas, tak berkutik, pandangan kosong, mungkin dengan ungkapan lirih ia mengatakan “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Daud tidak sedang berbasa-basi melalui ungkapan itu. Ungkapan itu keluar dari pengakuan yang datang dari hati terdalam, sebab setelah itu ia melepaskan semua atribut kebesarannya ["....ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah.."_2 Samuel 12; 16]. Daud tidak meminta Natan untuk membuktikan kesalahan Daud atau setidaknya mengkonfirmasi atas info dari siapa sehingga Natan menuduh Daud berselingkuh. Daud amat menyadari bahwa urusan dengan Tuhan bukanlah soal lembaran-lembaran bukti, tetapi kesadaran dari hati yang terdalam yang diperlukan. Bagi Daud penilaian di depan Tuhan jauh lebih penting daripada penilaian oleh manusia. Sehingga Daud tidak takut citra dan kewibawaannya akan hancur di hadapan rakyatnya, ketika dirinya mengaku salah secara terbuka. Lebih baik dipermalukan di depan manusia daripada ditolak oleh Tuhan [ia tidak tergoda untuk jaim]

3. Lalu Bagaimana?
Dari Daud kita belajar tentang:

Dengan sikap di atas kewibawaan dan nama besar Daud tidak surut, sekalipun memang ada serentetan hukuman yang harus dipikul oleh Daud.

Dari nabi Natan kita juga bisa belajar, yaitu tentang:

Tegoran keras dari Natan tidak menyebabkan Daud marah atau membenci Natan, tetapi justru bersyukur. Dan rasa syukur itu ditandai melalui kesungguhannya menggali semangat rohaninya (a.l. melalui berpuasa) Daud ingin hidup seturut dengan tuntunan firman Tuhan. Semoga kita pun mau belajar sebagaimana Daud yang senantiasa tergerak untuk secara progresif memperbaharui diri terus menerus dengan cara mau hidup dituntun oleh firmanNya. Entah ketika firman itu menghibur atau menegor keras kita. Dengan prinsip ini, mari kita sambut undangan Perjamuan Kudus dari Tuhan itu dengan penuh rasa hormat dan sukacita, karena hidup yang terus diperbaharui.

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku
dan terang bagi jalanku_Amin.

Tulisan diatas adalah Bahan Persiapan Perjamuan Kudus untuk Majelis Jemaat GKJW Jemaat Waru

Related Posts

By Sumardiyono on 12/11/2009 · Posted in Renungan


Author: Sumardiyono


Be the first to post a comment.

Post Comment