wordpress com stats plugin
Home » Pancaran Air Hidup

Emangnye Gue Pikirin?

31 January 2015 36 views No Comment Oleh

Bacaan: Markus 12:35-44   |   Pujian: KJ 415:1-3.
Nats: “…tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.“ (ayat 44b)

Ada sebuah ungkapan Jawa berbunyi: ‘Dadi dalan emoh ngambah, dadi godhong emoh nyuwek, dadi banyu emoh nyawuk’. Artinya: jadi jalan tidak mau melewati, jadi daun tidak mau merobek, jadi air tidak mau menciduk. Ungkapan tersebut menggambarkan kebencian seseorang terhadap orang lain, sehingga menjatuhkan semacam ‘kutukan’ tidak mau berhubungan lagi dengannya seumur hidup. Sikap antipati seperti itu bermula dari perselisihan yang bisa menimbulkan permusuhan dan kebencian mendalam.

Tuhan Yesus menawarkan cara hidup untuk mencegah perselisihan, permusuhan, dan kebencian dengan cara berikut ini:

  • Yakin bahwa Mesias adalah Allah sendiri dalam diri Tuhan Yesus dimana kita memperoleh norma-norma kehidupan melalui ajaran-ajaran-Nya.
  • Jangan mengeksploitasi sesama, menipu orang miskin dan harta miliknya, serta mengambil keuntungan dengan berlaku alim untuk memperoleh status, pengakuan, dan kehormatan.
  • Jangan munafik! Spiritualitas yang nampak, misalnya membaca Alkitab, berdoa di tempat umum, atau mengikuti ritual-ritual gerejawi dapat menjadi palsu jika motivasi untuk melakukannya adalah agar menjadi perhatian dan dihargai orang.
  • Jaga agar perbuatan kita konsisten dengan keyakinan kita. Tetaplah hidup bagi Kristus, meskipun tidak ada seorangpun yang melihatnya.
  • Jangan menyesatkan sesama dengan memberi beban aturan baginya. Tugas dan kewajiban kita adalah menemani, membimbing, dan menumbuhkan.
  • Memberi dengan rela, murah hati, dan semangat bersyukur akan memiliki nilai yang tinggi/ berharga.

Permusuhan dan kebencian selalu menimbulkan dampak negatif bagi kedua belah pihak, oleh sebab itu perlu dihindari dengan ungkapan bijak masyarakat Jawa: ‘Wani ngalah luhur wekasane’ (mau mengalah, mulia pada akhirnya), permusuhan bisa diredam sedini mungkin. Demikianlah orang Jawa mencoba membangun kehidupan harmonis. Amin. (Esha).

“Serasikan kata dan perbuatan untuk mewujudkan syalom.”

Bagikan Artikel ini:
facebooktwittermail

Comments are closed.