Ecclesia Militans
ECCLESIA MILITANS
Bacaan I Korintus 10: 1- 12
1. Minggu Pertama bulan Oktober ternyata tidak hanya sebagai Hari Perjamuan Kudus se Dunia, tetapi juga Hari Pekabaran Injil Indonesia. Kedua hari besar itu di Indonesia dirayakan secara bersama oleh gereja-gereja yang tergabung dalam wadah oikoumenis dengan cara mengadakan Perjamuan Kudus. Setidaknya ada dua tujuan dalam peringatan hari besar tersebut, yaitu: a. Gereja mengakui bahwa kehidupannya bisa lestari hanya karena campur tangan kuasa Kristus yang telah mengorbankan diri melalui penderitaan, kematian dan kebangkitanNya; b. Gereja diharapkan mengingat tugas dan panggilannya dihadirkan di dunia ini bukan hanya untuk dirinya sendiri tertapi juga untuk dunia (pemberitaan Injil/ bersaksi).
2. Mungkin akan muncul pertanyaan, apakah di dalam Perjanjian Lama sudah ada gereja? Jlka asumsi kita tentang gereja sebagaimana yang berkembang pada masa kini, barangkali kita akan berkata bahwa di dalam Perjanjian Lama belum ada gereja. Namun di dalam Perjanjian Lama ada dua istilah, yang menggambarkan tentang umat Tuhan, yaitu Qahal ‘. Istilah ini dipakal dalam pelbagal bentuk, namun pada intinya menggambarkan jemaat yang beribadat, perkumpulan sidang. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa Gereja [dalam arti persekutuan umat percaya] tak hanya di Perjanjian Baru, tetapi juga sudah ada sejak Perjanjian Lama. Persekutuan umat percaya yang dikhususkan ini berpijak dari kitab Keluaran 20: 2 “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” Tuhanlah yang memanggil, mengumpulkan, dan mengkhususkan umat-Nya (bangsa Israel) di antara bangsa-bangsa lain. Ciri-ciri “qahal” adalah:
a. Allah yang berinisiatif mengumpulkan;
b. Kepercayaan kepada Yahweh;
c. Ketaatan pada Perintah Yahweh;
d. Kepercayaan pada janji-janji-Nya
Bangsa Israel mengalami pasang-surut kehidupan dalam menyikapi kepercayaan mereka kepada Yahweh. Bahkan dalam perjalanan pengembaraan di padang gurun sebagian besar justru tak tahan hidup dengan ciri-ciri di atas [Perhatikan, a.l.: Keluaran 17:3; I Korintus 10: 5]. Apa yang terjadi pada bangsa Israel menjadi “isyarat” bagi gereja pada Perjanjian Baru bahwa persekutuan orang percaya juga akan menghadapi tantangan yang berat.
3. Gereja dalam Perjanjian Baru memiliki ciri-ciri yang sama dengan qahal. Hanya saja pusat gereja adalah Yahweh yang telah memasuki kehidupan manusia dengan cara yang begitu manusiawi [Yesus Kristus]. Untuk memelihara agar ciri-ciri gereja tetap terpelihara, maka gereja dipanggil untuk:
a. Melakukan pemberitaan Firman Tuhan [Mz 1: 2, Yeremia 15: 16, Lukas 2: 19]
b. Melakukan pelayanan sakramen
c. Melakukan penggembalaan baik umum maupun khusus [Yohanes 15: 5-6; I Petrus 1: 15- 16)
4. Tantangan-tantangan dari I Korintus 10: 1- 12
Penyembah berhala
a. Makan minum= kaum hedonis, nafsu menumpuk kesenangan duniawi
b. Percabulan= immoral= tidak menghormati tubuh sebagai ciptaan baru yang sudah dikuduskan.
c. Mencobai Tuhan= tak berpengharapan, pendek pikirannya
d. Bersungut-sungut= mengeluh= tak bisa bersyukur
5. Ecclesia semper reformanda
Gereja masih di dunia, sehingga gereja masih menghadapi berbagai godaan dosa [gereja belum sempurna, lebih-lebih GKJW!]. Oleh karena itu pada diri gereja selalu ada yang perlu diperbaharui. Dan untuk itu diperlukan umat Tuhan yang secara tulus dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan gerejanya. Orang-orang yang tidak mengenal lelah selalu menyampaikan kebenaran firman Tuhan, sekali pun tantangan yang dihadapi begitu beratnya.
Panggilan sederhana untuk diri kita
I Korintus 10: 12 mengingatkan kita semua untuk mau mawas diri secara cermat, sebab dari situlah potensi membangun atau merusak itu bisa muncul. “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” Ayat ini penting untuk pertumbuhan gereja, karena didalam gereja selalu saja ada orang-orang yang merasa kuat/ mampu/ berpengalaman [over confidence), sehingga tak perlu mendengarkan suara orang lain. Hal itu ternyata menjadi salah satu penyebab persoalan gereja, entah ketegangan, konflik atau bahkan perpecahan gereja! [sekedar catatan; negara Indonesia termasuk negara yang amat parah dalam hal perpecahan gereja!]
6. Gereja yang kokoh (ecclesia militans: arti sebenarnya= gereja yang berperang) adalah gereja yang warganya selalu memiliki kehausan belajar [ttg pengetahuan-pengetahuan baru, moral, kesabaran, kerendahan hati, ketulusan, bersyukur]. Kesediaan mengambil sikap ini menjadikan hidup kita ibarat tanah yang subur, yang akan ditumbuhi tanaman-tanaman yang menghasilkan buah yang lebat [teguh beriman; taat pada perintahNya, kuat pengharapannya). Hal ini menjadi modal yang diperlukan untuk menghadapi musuh gereja, yakni: kemiskinan, cara hidup pragmatis (berpikir pendek untuk kepentingan sesaat), hedonisme (keserakahan duniawi), eksklusivisme (menyendiri, merasa hanya kelompoknya yang paling benar).
7. Semoga dengan semangat terus belajar, gereja menjadi semakin mampu mendekati apa yang menjadi kehendak pemilik gereja, yaitu Kristus sendiri.
“…..hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”_Mat.5:16]
Persiapan Perjamuan Kudus Oikoumene GKJW Jemaat Waru, 3, 4 Oktober 2009
e-mail artikel ini


(4.5 out of 5)
Have your say!