wordpress com stats plugin
Home » Artikel

DUTA, Sejarah Yang (Ter)Hilang

20 October 2012 1,647 views 3 Comments Oleh

Bagi sebagian banyak orang, sejarah tak punya kontribusi penting. Akibatnya, banyak warisan peninggalan leluhur yang makin lama makin hilang dari peredaran.

Sebaliknya juga, sebagian yang lain menganggap perlunya perlindungan terhadap sejarah warisan nenek moyang. Sebab jika itu tiada, tiadalah pula identitas diri yang dapat dibanggakan.

Presiden RI yang pertama, Ir. Sukarno, pun tak lepas memiliki sikap tersendiri atas hal ini. Salah satu ucapannya yang sering menjadi kutipan adalah “Jas Merah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah.”

Apa lagi yang bisa dibanggakan, jika kita tak lagi memiliki warisan sejarah yang dapat diceritakan turun-temurun kepada anak cucu kelak?

“Salah satu cara untuk menghancurkan sebuah bangsa, bukan lagi pada kekuatan senjata atau peralatan perang modern yang supercanggih sekalipun. Sangat mudah! Jangan ajarkan generasi muda cerita sejarah. Jangan berikan mereka [nilai moral] kisah budaya leluhurnya. Itu sudah cukup untuk melemahkan kekuatan sebuah bangsa. Sangat gampang untuk menaklukkannya.”

Kutipan yang disampaikan oleh penggiat sejarah Historia Community ini bisa jadi sebuah perenungan. Ya, kekuatan apalagi yang dapat mempersatukan kebersamaan sebuah bangsa jika bukan semangat kebesaran warisan nenek moyangnya. Modal apa lagi yang bisa dipergunakan untuk membangun kemandirian mereka?

Barangkali begitu juga yang kini dialami oleh gereja kita saat ini. Semakin banyak generasi yang tak mengerti/paham akan kebesaran “kita”, baik secara institusi maupun semangat kultural yang menghidupinya. Seolah-olah kita kini hanya dapat melihat kelemahan diri dibandingkan dengan yang lain. Kekuatan, potensi diri yang dapat menyemangati kita untuk berbenah dan semakin maju, sepertinya hilang entah ke mana.

Kita kehilangan begitu banyak kisah heroik masa lalu yang bisa menjadi spirit yang dapat mempersatukan gerak langkah bersama. Bagaimana kita dapat mengenal sepak terjang para leluhur kita dalam menjelajahi alas gung liwang-liwung. Berjalan kaki puluhan bahkan ratusan kilometer menembus lebatnya hutan, demi mewujudkan berdirinya sebuah komunitas baru. Semangat yang memancar begitu kuat, yang berakar dari sebuah pengajaran akan Injil Kristus.

Episode kisah yang berulang pada generasi sesudahnya. Dengan semangat yang sama, kelompok-kelompok baru, muncul. Pasamuwan-pasamuwan Kristen Jawi bermunculan tak henti di antero ujung timur Pulau Jawa. Merebak dan merambah ke bidang yang lebih luas, melalui pengajaran (pendidikan) dan kesehatan.

Ringkasan kisah seperti itu, tentu munculnya tidak bisa terjadi secara serta merta. Ada catatan yang masih bisa terlacak keberadaannya. Dari sanalah, kisah-kisah itu dapat diceritakan dari generasi ke generasi.

***

Bagian II

Sebuah kisah sejarah dapat terangkai melalui dua model. Pertama, kisah tertulis. Melalui peninggalan dokumen-dokumen seperti ini, baik berbentuk buku cetak, tulisan tangan atau yang lain, kita bisa membaca cerita-cerita yang ada pada kala itu.

Kedua, sebagaimana hal ini sejalan dengan pemikiran yang terus berkembang. Dari semula ada pemahaman no documents, no history (tidak ada sumber tertulis, tidak ada sejarah). Kini, bertambah pula kesadaran bahwa tidak semua hal ada dalam catatan tertulis. Kekayaan budaya tutur/lisan (oral history) –sebagai bagian dari warisan kebudayaan peradaban manusia– juga dapat menjadi sumber informasi lain, yang juga tidak kalah perannya dengan sumber tertulis.

GKJW sebenarnya kaya akan dua model warisan tak benda ini (cultural heritage). Namun sayangnya, hal ini tidak dapat di-manage dengan baik. Kekayaan ini masih dianggap sebagai nomor kesekian, dan bahkan tidak dianggap penting.

Majalah DUTA adalah salah satu contoh riilnya. Ia yang turut menyebarluaskan gagasan-gagasan tertulis pada zamannya, juga merekam peristiwa-peristiwa yang menjadi bagian dari sejarah yang belum/tidak tertuliskan.

Sayang memang… dan entah kenapa justru hal ini terjadi pada masa yang established (mapan). Zaman serba modern, zaman informasi-komunikasi memegang peranan yang penting. Entah, apakah ini sebuah kemunduran cara berpikir dan memandang secara global (global view). Atau ada sesuatu behind the scene yang memang tidak bisa diraba.

Baiklah coba kita bandingkan bagaimana pemilik media ini memandang dirinya. Menurut zamannya, menurut pandangannya….

Gambar 1 - Kutipan yang ada di Majalah DUTA

Kalimat-kalimat di atas rasanya sudah cukup jelas, jadi tak perlu ada penjelasan lagi bukan?!

Sebagaimana diketahui, secara institusi, GKJW lahir pada tanggal 11 Desember 1931. Empat tahun kemudian, tahun 1935, Majalah DUTA milik GKJW resmi terbit perdana sejak September 1935, berdasar Akta No. VII hasil keputusan sidang MA tgl. 25-27 Juni di Surabaya.

Bahwa keinginan memiliki media sendiri pada zaman tersebut dapat dipahami saat kita tahu apa yang terjadi kala itu. Secara khusus, majalah yang dikhususkan bagi komunitas Jawa kali pertama ada pada bulan Maret 1855, yakni Bromartani. Berturut kemudian ada Sarotama (1911), Djawi Sraja (1914), Trikoro Darmo (1916), Papadjar (1926) dst. Tahun 1930an, Balai Pustaka sekaigus menerbitkan tiga media, yang khusus bagi komunitas Jawa diberi nama Kadjawen. Panjebar Semangat sebagai media terbesar pada zaman pendudukan Jepang dengan oplah 13.000 eksemplar, baru beredar pada 1939. Tentu, ada banyak nama-nama lain yang belum tersebut di sini.

***

Bagian III

Apakah belajar sejarah itu menjemukan? Rasanya tidak juga. Cukup menyenangkan kalau mau menikmatinya. Kita seperti sedang bermain puzzle. Menemukan rangkaian kisah, menyatukannya dan melihatnya secara lebih luas dan utuh.

Gambar ini adalah salah satu misal menelusuri jejak sejarah yang ada. Tak ada yang pernah mengira kalau kantor redaksi DUTA ini pernah berada di jantung kota sekaligus ibukota propinsi Jawa Timur. Sebuah tempat yang sangat-sangat strategis. Jl. Taman Simpang/Jl. Taman Simpang Pahlawan.

Spirit kota Pahlawan ini barangkali yang turut menyemangati Badan PI untuk melanjutkan kiprah Majalah DUTA yang dahulu pernah terbit, dan akibat perang menjadi berhenti. Menjadikannya basis awal untuk menumbuhkembangkan lagi media kebanggaan milik sinode.

Gambar 2. Sampul belakang Majalah DUTA edisi perdana tahun 1972 dan inzet eks. alamat kantor redaksi di Surabaya, 2012. Di mana posisi tepatnya kalau ada yang tahu

Majalah DUTA, meskipun bukan buku sejarah, tapi ia pun banyak mencatat sejarah. Tak sedikit para mahasiswa jurusan sejarah atau teologi yang merujuk dari sini. Namun sayang, ia pun juga harus dicatat sebagai bagian dari sejarah global GKJW.

Gambar 3. Sebuah buku yang diterbitkan di Netherland pada 1998, dengan editor Jan S. Aritonang dan Karel A. Steenbrink. Di dalamnya memuat antara lain tentang GKJW, Majalah DUTA (DOETA).

Majalah DUTA memang terkesan ‘gado-gado’. Beda dengan cita rasa majalah rohani pada umumnya. Kelemahan atau kekurangan ini, ternyata pada sisi lain adalah menjadi kekuatan atau kelebihannya. Ia pun bisa menjelma menjadi majalah segmentasi umum. Pernah dipakai oleh siswa dan guru dalam menambah kompetensi diri melalui karya yang diterbitkannya. Terkadang juga menjadi bahan rujukan untuk pembicaraan lain.

Gambar 4. Materi artikel di Majalah DUTA kategori umum, diterbitkan menjadi buku tersendiri oleh penerbit lain.

Terbitan GKJW yang kini masih eksis dan mudah dijumpai adalah terbitan dwibahasa-dwiwulan Pancaran Air Hidup (PAH). Terbitan ini berisi renungan harian bahasa Indonesia dan Jawa. Salah satu upaya GKJW yang patut diapresiasi dalam rangka turut melestarikan bahasa ibu, yang keberadaannya makin memprihatinkan. Apakah pernah terpikir bahwa terbitan ini dulunya adalah suplemen dari Majalah DUTA?

Gambar 5. Majalah DUTA bisa dikatakan sebagai induk dari terbitan yang ada di GKJW.

Apakah tak ada kerinduan mengharap kehadirannya kembali? Pertanyaan ini sebenarnya tak patut untuk dipertanyakan jika ada pemahaman yang sama akan visi pelayanan yang ada. Simaklah berbagai forum jejaring dunia maya. Jelas, keberadaannya masih dibutuhkan. Sangat…

Tinggal kembali pada pemilik media ini memiliki niat baik itu. Memang, GKJW adalah gereja gerakan warga. Tak perlu harus selalu menunggu pemberian dari atas. Tapi, bagaimanapun juga, melangkah sendiri tanpa restu ‘orang tua’ juga dapat dipersalahkan.

Gambar 6. Sekretariat Majalah DUTA tatkala masih eksis. Rumah yang selalu terbuka bagi para musafir yang hendak belajar jatidirinya.

Pemimpin adalah pelayan. Gembala yang baik akan selalu memberikan yang terbaik bagi domba-dombanya. So?  Kita tunggu saja ke mana episode ini akan bermuara…

Tuhan tak akan membiarkan hati yang terbuka untuk tinggal diam.”

© Hendra Setiawan
20.10.2012

Note: Seluruh gambar repro dan foto by: Hendra Setiawan; kecuali gambar 6 by: Heru SM

Kirimkan Artikel Ini Kirimkan Artikel Ini

3 Comments »

  • endarto said:

    yth: Seluruh Warga GKJW

    Alangkah indahnya kalau ada media ( cetak / online ) untuk warga GKJW yang bisa dipergunakan untuk saling berbagi : pendapat, pertanyaan , keluhan dll.

    Salam
    Endarto Widyandjono
    GKJW Waru

  • hendra (author) said:

    Masih dirintis…
    Tunggu kabar lebih lanjut…

  • imbang said:

    Saya dari GKJW Mojowarno, berniat dan berminat untuk mengangkat sejarah GKJW mojowarno yang tersembunyi untuk dipasang di restoran saya Lesehan 26 Mojowarno.terima kasih.Tuhan Yesus memberkati..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.