Home » Gallery

Duh GUSTI, Ingkang Kawula Purugi Sinten Malih?

Yabes Adonia 19 December 2008 Gallery 1,138 views 15 Commentse-mail artikel ini e-mail artikel ini

Mesin waktu seolah membawa kita kembali ke tahun 1880-an saat memasuki gedung gereja GKJW Jemaat Mojowarno. Tidak banyak yang berubah dari tahun ke tahun. Mimbar kayu berukir, deretan bangku jemaat dan jendela masih tetap asli seperti saat Paulus Tosari berkarya di jemaat ini. Mungkin hanya lonceng dan orgel yang harus “pensiun” dimakan usia.

Tiga larik tulisan huruf jawa menghiasi gevel gereja. Baris pertama dan kedua yang berbunyi: Duh GUSTI, ingkang kawula purugi sinten malih? Paduka kagungan pangandikanipun gesang langgeng.” dan “YOKANAN Bab:6:68.” seolah menjadi ekspresi kepasrahan Jemaat Mojowarno kepada Sang Maha Kasih. Sementara baris ketiga yang berbunyi: “Margane slamet rahe pamenthangan.” seolah menjadi ekspresi iman jemaat pedesaan ini.

Jaman boleh berubah, namun keberadaan gedung gereja GKJW Jemaat Mojowarno tampaknya tak lekang dimakan waktu. Seperti ajaran iman kepada Kristus yang diteruskan dari generasi ke generasi; yang dianugrahkan hanya karena kasihNya.

e-mail artikel ini e-mail artikel ini
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4 out of 5)
Loading ... Loading ...

15 Comments »

  1. foto keren.. gimana kalo dibuat buku foto_foto keren kaya gini yang membahas semua jemaat di GKJW.. cukup foto dan sedikit ulasan aja..

    mhhmhm….

    nono.ganteng@gmail.com

  2. @nono: Wah, ide yang bagus Mas Nono! Rasanya ide itu juga tidak terlalu berat untuk dilaksanakan. Kalau diniati pasti bisa.
    Okelah, kami akan coba “putar otak” untuk bisa mewujudkan buku foto gkjw ini sambil tetap terus berusaha membesarkan blog ini.
    Nuwun.

  3. terus bekerja dan semangat..
    saya dukung sebagai pengunjung…
    komentator (maaf kalo banyak yang ngawur, tapi itulah sudut pandang saya hehehe)..

    kenapa harus putar otak…? yang pasti putar kamera tiap kali berkunjung kemana kan pasti bawa kamera… hehehe

    terserah bangunan baru atau situs lama, bangunan dan grejanya adalah sejarah.. patut untuk di “abadikan” dan “dilestarikan” sukur-sukur bisa “dikembangkan”… (pastinya)

    salam

    nono.ganteng@gmail.com

    promonya dunk mas-mba-pak-bu. maksudnya promo kalo dah ada media online ini…

  4. fotonya ciamik……………..

    sapa yang motret???????????????

    saya setuju dengan ide mas nono, gimana kalo skalian bikin pameran foto tentang GKJW yang bisa dilihat oleh masyarakat umum.

    matur nuwun,

    bayu

  5. salam
    foto bagus
    foto cuma melihat kulit bukan isi
    gedung nya tetap
    manusia didalam nya berubah
    indah dilihat difoto
    manusia ? lihat sendiri
    GKJW nama besar
    sedih/kecewa lihat isi

  6. ayoo mas agung.. dukung pembuatan halaman foto2 GKJW ga usah apatis gt dunk…

    andai aja aku bs motret…

    nono.ganteng@gmail.com

  7. bukan pesimis
    saya juga suka motret
    saya sudah berkunjung ke beberapa jemaat desa , asal mula gkjw.
    tapi ngenes gedungnya baik, tapi pertumbuhan orangnya nol.

    pacitan,maron,segaran,bedali,sidorejo,ranurejo,tambak asri,sitiarjo,pujiarjo,lenggoksono,wonorejo,tunjung rejo,sambirejo,ponorogo,ngawi,sumber pakem,sidomulyo,jember

    rata2 sama pergumulannya.

    agung
    sukolilo

  8. mas2, mbak2, bapak2, ibu2, lan dulur2 sedaya, mungkin maksud dari mas agung bukan untuk pesimis dengan apa yang ada….

    tetapi lebih pada keprihatinan terhadap kondisi GKJW yang kelihatannya megah dan kuat, ternyata rapuh dan sakit dalam kondisi jemaat sesungguhnya.

    tidak usah menutup mata dengan keadaan jemaat GKJW sekarang yang kebanyakan mati suri dan saling mementingkan diri sendiri tanpa melihat sekitarnya.

    jemaat bagai sapi perahan bagi sinode, berapa banyak jemaat GKJW yang kekurangan tapi tidak diperhatikan.

    matur nuwun,

    bayu
    sukolilo

  9. @bayu sagita & Agung: Kami pikir pergumulan gereja banyak kesamaannya tidak hanya GKJW. Keprihatinan-keprihatinan pasti menjadi bagiannya juga dan begitulah sejarah gereja. “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan”. Monggo mas-mas, kami tunggu karyanya.

  10. iya.. ya.. jadi malu kenapa kok ga berkarya saja..???
    mmmhhh… apa ya yang bisa aku lakukan?

    nono.ganteng@gmail.com

    nb: jadi pengunjung yg ngerepotin ky gini termasuk berkarya ga seh??

  11. waduh desoku kesentil dening mas agung he…he….tapi ra ngopo kok mugo2 wae iki biso dadi semangat kanggo tumbuh kembangipun Iman kito sadayanipun dumateng Gusti Yesus Kristus matur nuwun. Mugi sih rahmatipun Gusti Yesus tansah wonten ing tengahipun Jemaat sadaya Halleluya………….Amien

  12. Mari kita teruskan segala perjuangan Mbah Coolen, mbah Dasimah, Mbah Paulus Tosari dalam ladang GKJW.

    Biarlah GKJW tetap menjadi terang dan garam bagi lingkungan dan masyarakat sekitar…..

  13. Ahaa…
    Syukurlah, akhirnya isa melihat gkjw secara lain. GKJW dari sudut fotografi. Yups, setuju banget ide cerdas ini. Yang seperti ini asyik banget.
    Apalagi ada usul bikin buku kronik GKJW dalam fotografi. Mungkin benar, biarlah gambar berbicara. Bukan lagi kata-kata.
    Apalagi, sampai ada gelar pameran foto…wuiih, asyik banget itu.

  14. Mojowarno….
    Wah nnama yang takkan terlupakan apalagi dengan gerejanya.
    AKu dulu sekolah SMP di Mojowarno, Baptis…sidi..pemberkatan Nikah di Mojowarno.
    Gimana kalau kita membuat persekutuan warga GKJW Mojowarno…?
    Tentunya dengan orientasi memajukan mojowarno…

    dwiyanto hp 081 339 90 9999

  15. fotox mantap banget……. gmn cara ambilx tuch???

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>