Home » Artikel

Doa untuk Penganggur, Cukupkah?

Wardhani Tjiptowardono 17 February 2009 Artikel 488 views 3 Commentse-mail artikel ini e-mail artikel ini

Kesulitan di bidang ekonomi dan lapangan kerja sebagai dampak krisis global, dikhawatirkan akan lebih menakutkan daripada kepercayaan tentang keselamatan serta hidup kekal karena akan memunculkan anggapan bahwa dengan percaya saja belum cukup untuk bertahan hidup.

Ketika himpitan ekonomi tak tertahankan sehingga manusia berbuat nekad, neraka (kerajaan maut) -tempat hukuman kekal dan tempat pembuangan jauh dari hadirat Allah bagi semua orang yang tidak mengacuhkan Allah dan tidak menaati kebenaran firman-Nya- dianggap tempat maya yang tak lagi menggetarkan manusia.

Ungkapan tersebut bisa diterima nalar. Secara manusiawi orang akan membenarkan pendapat bahwa dengan ora (berdoa) saja tak mungkin seseorang memperoleh makanan. Orang harus bekerja agar bisa makan. Ungkapan Latin ora et labora lebih bisa diterima akal sehat. Ya, di samping berdoa orang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bukankah dalam 2 Tesalonika 3:10 dinyatakan:”Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”?

Yang menjadi masalah di republik subur makmur ini bukan warganya yang tidak mau bekerja, tetapi keterbatasan lapangan kerja. Ini salah satu dampak krisis ekonomi, krisis kepercayaan dan krisis lain yang melanda negeri ini sejak medio 1997 dan terulang lagi tahun 2008 ini terimbas krisis ekonomi global. Ya, krisis global lagi-lagi menjadi kambing hitam! Juga dampak korupsi yang mengakar di segala aspek kehidupan hingga menyuburkan gaya hidup serakah dan mementingkan diri sekeluarga.

Ketidakpastian law and order (hukum dan tatanan), merajelanya korupsi, dan situasi politik yang belum menentu berdampak pada kegiatan ekonomi. Banyak perusahaan milik negara, daerah maupun swasta tutup karena terus merugi. Di antaranya ditutup karena investornya memindahkan ke negara lain yang lebih stabil situasi politik dan keamanannya.

Akibatnya jutaan karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Mereka memperpanjang barisan penganggur yang mencapai 40 juta orang (hampir dua kali penduduk Malaysia). Sekolah dan universitas, termasuk yang kejuruan, ikut memproduksi barisan penganggur. Di antara mereka adalah warga gereja, juga GKJW.

Lantas perlukah gereja memikirkan mereka dengan membuat program pemberdayaan dan peningkatan ekonomi warga atau cukup mendoakan mereka dengan meminta -terkadang memaksa-Tuhan memberikan kesempatan atau peluang kerja?

Sebagaimana kita ketahui benang merah Alkitab adalah kasih. Kasih kepada Tuhan dan kepada sesama sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri. Kasih menjadi the way of life, falsafah hidup, tema hidup sesehari orang percaya (baca: pengikut Kristus) atau sebagai visi sekaligus misi hidup mereka.

Yang menjadi masalah bagaimana mewujudkan kasih yang relatif itu. Gereja-gereja kemudian menjalankan misi (tugas) untuk memujudkan visi itu dalam tiga bentuk kegiatan atau trilogi pelayanan yaitu persekutuan (koinonia), kesaksian atau pekabaran Injil (marturia) dan pelayanan sosial (diakonia). GKJW menambahkan dua pelayanan itu yaitu pelayanan di bidang teologi dan penatalayanan. (Keputusan Sidang ke-73 Majelis Agung GKJW tahun 1987 di Kediri.)

Dengan pancalogi pelayanan ini diharapkan orang percaya memujudkan kasihnya secara komprehensif. Teologi menjadi keempat pelayanan yang lain. Penatalayanan merupakan kegiatan mengusahakan dan mengelola secara bertanggung jawab segala daya, dana, sarana dan prasarana pemberian Tuhan Allah. Pembangunan ekonomi warga berdasarkan pelayanan yang kelima ini.

Dengan pancalogi pelayanan kemudian gereja sebagai persekutuan orang-orang yang percaya, berusaha lebih terencana dan terarah dalam melayani mereka yang sengsara, yang remuk hati, yang menjadi tawanan, yang terkurung, yang berkabung, dan memberitakan serta mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, dan nyanyian pujian ganti semangat yang pudar. (Yesaya 61:1-3).

Melalui kegiatan diakonia gereja berusaha mewujudkan kasih yang lebih nyata, yang kontekstual, yang sesuai dengan kebutuhan manusia kini, di sini, antara lain dengan mendirikan rumah sakit, panti-panti sosial dan sekolah-sekolah.

Kemudian banyak pula gereja yang merambah bidang ekonomi, antara lain melalui program pemberdayaan atau peningkatan ekonomi warga dan masyarakat sekitarnya. Bentuk-bentuk upaya diakonia itu antara lain mendirikan koperasi (biasanya simpan pinjam), pembinaan dan pemberian kredit lunak terhadap pengusaha kecil, petani dan nelayan.

Gereja juga menyelenggarakan program pendampingan para buruh migran -TKI (tenaga kerja Indonesia) dan TKW (tenaga kerja wanita) yang akan, sedang dan lepas kerja di manca negara- dan memberitakan adanya peluang kerja serta produk barang dan jasa warga gereja dalam warta gereja yang diterbitkan setiap minggu di gereja.

Usaha PerikananUndang Kontroversi
Kegiatan tersebut secara langsung dan tidak langsung diharapkan bisa mengatasi pengangguran. Namun demikian kegiatan diakonia yang langsung merambah bidang yang dianggap lebih bernuansa duniawi itu, masih mengundang kontroversi. Yang tidak setuju beranggapan, gereja yang rohani tidak pada tempatnya masuk ke dalam urusan yang sering tidak sejalan bahkan bertabrakan dengan urusan pokok gereja.

Ekonomi dianggap kotor karena penuh tipu daya, kedustaan bahkan persaingan yang tidak sesuai dengan hukum kasih. Masuknya program-program ekonomi dalam kehidupan gereja dikhawatirkan akan merusak law and order gereja itu sendiri.

Pendapat ini masuk akal juga. Sebagai contoh usaha koperasi simpan pinjam (credit union) di gereja bisa mengendorkan semangat bahkan menjadikan warga undur dari kegiatan gereja. Mengapa demikian? Ini mungkin sekali terjadi apabila ada warga sebagai anggota koperasi terlibat kredit macet. Mareka tak mampu atau tidak mau mengangsur apalagi melunasi utang atau kreditnya atasu istilah Jawa: ngemplang. Karena malu para pengutang ini tidak muncul lagi dalam kegiatan di gereja.

Untuk mengatasi masalah dikotomis rohani-duniawi dan membuktikan bahwa ekonomi tidak selalu kotor, program pemberdayaan dan peningkatan ekonomi warga di gereja perlu dasar teologis, etika ekonomi dan pengelolaan yang serius (profesional).

Dalam dunia ekonomi tantangan (threat) bisa menjadi peluang atau kesempatan (opportunity). Tentunya apabila si pengelola mampu memanfaatkannya. Kesempatan dalam bentuk lain bisa menjadi sumber penyelewengan.

Ini jika dikaitkan dengan rumus dunia kriminal: P=N+K. Penyelewengan (korupsi, kolusi, nepotisme, ngemplang atau tidak bayar utang, perselingkuhan dan sejenisnya) terjadi karena adanya niat dan kesempatan. Sering terjadi orang yang semula tidak berniat berbuat jahat namun karena ada kesempatan terjadilah yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Kuncinya: pengelola harus menghilangkan kesempatan yang bisa menimbulkan penyelewengan. Kesempatan yang dibuka adalah kesempatan yang merangsang warga aktif bersama-sama mengatasi masalah ekonomi mereka. Untuk keperluan ini pengelola usaha ekonomi warga gereja harus mau dan mampu menerapkan unsur utama manajemen: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling).
Dasar Teologis
Perihal perhatian gereja terhadap masalah ekonomi warga, sebenarnya cukup kuat dasar teologisnya. Tuhan Yesus sendiri tidak alergi terhadap pemberdayaan dan pemenuhan ekonomi (baca: kebutuhan hidup) para murid-Nya. Dia tidak segan-segan menanyakan kebutuhan mereka akan makanan bahkan lauk pauknya seperti terjadi pada penampakan diri setelah bangkit dari kematian-Nya kepada murid-murid di pantai Danau Tiberias.

“Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” kata Yesus di pantai itu suatu siang kepada para murid yang tiba dengan tangan kosong dari upaya mencari ikan semalaman di danau itu. Yesus tidak hanya bertanya tetapi juga memberikan arahan agar mereka menebarkan jala ke arah yang benar sehingga bisa memperoleh banyak ikan. Hasilnya 153 ekor ikan besar. (Yohanes 21:5-6 dan 11)

Menurut nalar manusia, sebagai Tuhan yang sangat rohani tak selayaknya Yesus memperhatikan hal-hal remeh semacam itu. Kenyataan Dia tidak cuma menanyakan atau mengurusi hal-hal yang nun jauh di sana, hal-hal surgawi sebagai kebutuhan nanti, tetapi juga peduli terhadap kebutuhan manusiawi kini di sini.

Dia tidak hanya mengajak murid-muridnya berdoa dan menelaah firman Tuhan tetapi juga mengajak mereka …… sarapan! “Marilah dan sarapanlah,” tutur-Nya dengan lemah lembut setelah beberapa ikan dimasak oleh para murid.

Gereja sebagai tubuh Kristus di dunia tentu tidak salah apabila mengikuti jejak Sang Kepala, Tuhan Yesus sendiri. Perhatian gereja terhadap pemberdayaan dan peningkatan ekonomi bukan mengada-ada tetapi justru perlu diadakan.

Gereja tidak harus membuka usaha tetapi bisa berupa studi tentang etika ekonomi dan gaya hidup hemat antara lain hemat energi, hemat air, hemat kata (saat bertelepon), serta menginformasikan peluang kerja atau usaha bagi warga gereja yang penganggur dan terkena PHK. Bisa saja gereja membuat program pelatihan kerja bekerja sama, berjejaring dengan perusahaan atau warga gereja yang memiliki talenta dan berkecimpung di sektor riil. Bisa juga berjejaring dengan gereja lain atau lembaga agama lain.

Masalahnya, adakah tersisa waktu pemimpin gereja untuk memikirkan nasib si penganggur di tengah kepadatan acara peribadatan yang seremonial? Terpulang kepada masing-masing pemimpin umat dalam menafsirkan dan menghayati amanat Sang Kristus.

Tentunya juga kemampuan mereka untuk melihat dan mengelola potensi warga sehingga yang kuat bisa membantu yang lemah. Ya, yang kuat bermanfaat dan yang lemah tetap bermartabat. Dengan demikian kasih bukan cuma jargon yang tak bisa mengikis anggapan bahwa dengan percaya saja belum cukup untuk bertahan hidup dan kesulitan ekonomi lebih menakutkan daripada neraka.

Si penganggurpun yakin bahwa ucapan Yesus usai melayukan pohon ara dalam perjalanan ke Yerusalem berikut ini, bukan omong kosong.
“Jika kamu percaya kepada Allah dan tidak ragu-ragu, kamu akan dapat melakukan apa yang telah Aku lakukan terhadap pokok ara ini. Bukan itu sahaja, bahkan kamu akan dapat berkata kepada bukit ini,’terangkatlah dan terbuanglah ke dalam laut!’. Hal itu pun akan berlaku apabila kamu berdoa dan percaya bahawa Allah akan melakukan yang kamu minta maka Dia akan melakukan-Nya.
” (Matius 21:21-22, Alkitab bahasa Malaysia terbitan The Bible Society of Malaysia,1996).

Foto:
Pudji Krisanto, warga GKJW di Pepanthan Ngranti, Tulungagung, memanfaatkan pekarangan untuk berbudi daya bibit gerameh. Keuntungannya lumayan untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga., satu kolam 7 m x 11 m bersih Rp 1,5 juta/bulan. (Dhani TW)

e-mail artikel ini e-mail artikel ini
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

3 Comments »

  1. salam

    apa yang ditulis saya senang , semoga bisa nular suksesnya

    beberapa orang alergi jika saya menyebut
    “profit oriented teologi”

  2. memang sudah seharusnya GKJW ini mau dan mampu untuk memberdayakan jemaatnya. hal ini mengingat banyaknya potensi jemaat2 GKJW. tapi skali lagi kita dihadapkan dengan birokrasi yang tidak berkembang dan diperparah dengan “para birokrat” greja yang feodal dalam meyikapi perkembangan permasalahan kehidupan dunia ini sehingga tidak mampu beradaptasi dengan cepat unutk melihat peluang pemberdayaan jemaat.

    hal ini juga bukan berarti kehidupan bergreja harus profit oriented, itu keliru besar, karna bergereja bukan hubungan yang hanya memikirkan keuntungan semata…. kalau berpikiran profit oriented trus kalau gereja tidak membawa keuntungan maka kita tidak ke greja gitu?

  3. profit oriented teologi. banyak yang menyebut hal itu baik buat Gereja, tapi coba dilihat dari segi-segi kehidupan Gereja.. kata profit saja sudah menunjukan nada yang bias. dalam artian,banyak makna yang terkandung. tetapi tujuan dari profit oriented sudah jelas, yaitu untung. saya sepakat dengan apa yang dikatakan bayu bahwa jika tujuan dari profit oriented tidak tercapai maka Gereja akan kehilangan jemaatnya perlahan-lahan.

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>