wordpress com stats plugin
Home » Archive

Artikel »

[28 May 2013 | 2 Comments | 1,137 views]

Entah kebetulan atau tidak –tapi saya percaya ini semua ada dalam rencanaNYA- Surabaya punya arti penting, tidak saja bagi Indonesia pada umumnya, tapi juga GKJW dalam lintasan sejarahnya.
Sepanjang catatan sejarah yang masih bisa ditelusuri keberadaannya, setidaknya ada peristiwa penting yang bermula dari kota perjuangan ini.

Peristiwa baptisan Kyai Dasimah beserta 34 orang yang lain di Gereja Protestan Surabaya (gereja ketiga yang ada di Jawa setelah Jakarta dan Semarang) tahun 1843. Momentum ini oleh GKJW menjadi titik tolak penanda lahirnya cikal bakal sebagai institusi yang mandiri pada tahun 1931. Hal ini …

Artikel »

[20 Oct 2012 | 4 Comments | 1,793 views]
DUTA, Sejarah Yang (Ter)Hilang

Bagi sebagian banyak orang, sejarah tak punya kontribusi penting. Akibatnya, banyak warisan peninggalan leluhur yang makin lama makin hilang dari peredaran.
Sebaliknya juga, sebagian yang lain menganggap perlunya perlindungan terhadap sejarah warisan nenek moyang. Sebab jika itu tiada, tiadalah pula identitas diri yang dapat dibanggakan.
Presiden RI yang pertama, Ir. Sukarno, pun tak lepas memiliki sikap tersendiri atas hal ini. Salah satu ucapannya yang sering menjadi kutipan adalah “Jas Merah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah.”
Apa lagi yang bisa dibanggakan, jika kita tak lagi memiliki warisan sejarah yang dapat diceritakan turun-temurun kepada anak cucu …

Artikel »

[3 Dec 2011 | 10 Comments | 2,477 views]
Membaca Sejarah GKJW Melalui Cover Majalah DUTA/RIA

Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua kejadian telah ada yang mengatur. Pun demikian halnya, jika di tanggal terakhir bulan ini gereja-gereja “Protestan” memperingatinya sebagai hari reformasi. Gerakan yang pada awalnya hanyalah sebuah otokritik dari seorang teolog dan biarawan Ordo St. Agustinus (O.S.A) dari Jerman, atas kepausan/Gereja Katolik Roma yang terlalu hirarkhis dan legalistik.
Kita tahu akan peristiwa yang terjadi abad XV ini karena ada catatan sejarah yang memuatnya. Verba volent scripta manent; yang diucapkan dengan kata akan lenyap, yang dituliskan akan tetap berlaku abadi.
Barangkali, tak ada salahnya jika kita …

Opini »

[6 Aug 2010 | One Comment | 12,764 views]
“Menamatkan Diri” – Sebuah Kebijakan yang Tak Populer dan Non Populis

Dulu, hitungan 2 tahun ke belakang dan seterusnya, salah seorang senior di Majalah DUTA, baik dalam pertemuan intern dengan anggota redaksi maupun dalam forum lebih besar (melibatkan para pengambil kebijakan struktural di GKJW) pernah berkisah begini. Bahwa di antara sekian banyak terbitan yang beredar di kalangan gereja umumnya (lingkup PGI khususnya), Majalah DUTA mendapatkan apresiasi yang baik. Ia dipuji karena bisa terbit ajeg setiap bulan dan isinya juga tidak membosankan. Bukan melulu hal-hal yang bersifat teologi. Isinya beragam walau tetap mengandung sisi rohani. Bisa dikatakan ia bisa disejajarkan dengan …

Artikel »

[13 Dec 2009 | 11 Comments | 11,804 views]
Sejarah GKJW, Bermula dari Pasar Hewan

Adalah Johanes Emde, yang lahir di tengah keluarga Kristen dari gereja yang beraliran pietisme (yang mementingkan kesalehan hidup). Sebagai petualang, pada 1811 ia kemudian tinggal di Surabaya dan menjadi seorang tukang arloji. Istrinya, Amarentia Manuel adalah seorang putri priyayi Jawa*.
Pada waktu Pdt. Bruckner -pendeta generasi pertama utusan NZG, badan pekabaran Injil Belanda ke tanah Jawa- menerjemahkan Kitab Suci dalam bahasa Jawa, ia mendapatkan salinannya.
Dalam pandangan Emde dan istrinya, buku tersebut lebih baik disebarluaskan kepada orang-orang Jawa. Lewat perantaraan anak gadisnya (nama?), buku ini diterima penjaja sarung keris (mranggi) yang kemudian …

Artikel »

[13 Dec 2009 | No Comment | 3,168 views]
Kapan Saat Tepat Merayakan Natal?

Biasanya, mendekati akhir tahun, banyak tempat perbelanjaan (toko, mal, tempat hiburan) yang memasang pernak-pernik natal sebagai ornamen dekoratif. Tak ketinggalan lagu-lagu natal dikumandangkan sebagai teman dalam berbelanja atau sekadar jalan-jalan memanjakan mata.
Tetapi entah kenapa dalam tahun-tahun belakangan ini sepertinya hal itu menjadi hampa, tak terlalu berkesan lagi di hati. Apakah karena sudah mengalami titik jenuh atau sebagai ‘protes diri’ akibat maraknya euforia dan komersialisasi Natal, [saya] tak tahu pasti. Yang jelas berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Wah, terasa menyenangkan melihat gebyar ruang-ruang yang sarat dengan berbagai hiasan natal. Ditambah dengan alunan …