Home » Artikel

Apakah Dosa Sudah Tidak Ada Lagi?

Sumardiyono 21 March 2009 Artikel 390 views One Commente-mail artikel ini e-mail artikel ini

Ada warga jemaat yang bertanya: “Apakah benar bahwa bagi orang percaya sudah tidak ada lagi dosa?” Mencoba menjawab pertanyaan ini, maka kami sampaikan jawaban sbb:

  1. Perlu kita ketahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari sering kali dikacaukan istilah dosa dalam arti dogmatis dan dosa dalam moral.
  2. Secara dogmatis dosa dipahami sebagai kondisi terputusnya hubungan antara manusia dengan Tuhan. Terputusnya hubungan itu terjadi sejak peristiwa pelanggaran Adam dan Hawa terhadap perintah Tuhan. Pelanggaran itu menyebabkan mereka diusir dari taman Eden (Kejadian 3). Sejak itu dosa berkuasa atas diri manusia. Manusia dengan segala upayanya sendiri tidak dapat melepaskan diri dari kuasa dosa itu.
  3. Yesus Kristus-lah yang mampu melepaskan kuasa dosa yang ada pada manusia melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Karya Kristus inilah yang memungkinkan tersambungnya kembali hubungan manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu tidak salah bila dikatakan bahwa didalam Kristus sudah tidak ada lagi dosa- dalam arti hubungan manusia dengan Allah tidak lagi terputus. Perhatikan I Yohanes 3:1-.
  4. Seseorang yang sudah hidup didalam Kristus haruslah mencerminkan ciri-ciri hidup baru yang intinya adalah tidak lagi memiliki keinginan untuk berbuat yang tidak berkenan dihadapan Allah. Kenyataannya adalah masih banyak yang hidup dengan pola lama.

Berarti sekalipun sudah hidup didalam Kristus, namun masih banyak orang Kristen yang tetap setia melakukan pelanggaran. Dalam percakapan sehari-hari, pelanggaran itu juga disebut dosa. Hanya saja. Istilah dosa dalam hal ini bukanlah dosa dalam arti dogmatis (hubungan dengan Tuhan terputus), tetapi dosa dalam arti moral (yaitu wujud dari pikiran dan tindakan yang tidak benar). Tindakan yang tidak benar yang dilakukan oleh seseorang tidak selalu berarti hubungannya dengan Allah tidak benar (terputus).

Barangkali ilustrasi ini bisa membantu menjelaskan:
DosaPak Dadap terbenam ke dalam kolam lumpur, semakin bergerak semakin ia tenggelam. Untunglah ada Pak Waru yang menolong. Pak Waru melemparkan tali kepada pak Dadap. Setelah ditangkap Pak Dadap tali itupun ditarik oleh pak Waru. Pak Dadap selamat, terbebas dari kuasa lumpur!
Namun demikian, pada suatu saat, Pak Dadap ke sawah dan kakinya penuh dengan lumpur lagi. Namun, berbeda dengan sebelumnya, lumpur yang menempel pada kaki pak Dadap kini bisa dibersihkan oleh pak Dadap sendiri.

Kalau kolam lumpur itu ibarat dosa dalam arti dogmatis, maka lumpur di sawah itu dosa secara moral (perilaku tidak baik yang sebenarnya bisa diperbaiki sendiri oleh orang percaya).

Dosa dalam arti dogmatis itu hanya dapat diampuni oleh Tuhan sendiri. Sementara itu, dosa moral dan kesalahan dapat dikendalikan dan diperbaiki oleh diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari kesalahan tidak selalu sama dengan dosa. Contoh: salah ucap, salah eja, salah kutip, dsb, asalkan semua itu dilakukan tanpa kesengajaan.

Memang benar bahwa ada orang percaya yang selalu melakukan pelanggaran-pelanggaran dan tidak dapat mencerminkan cara hidup seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Pertanyaan yang muncul adalah: Dapatkah dosa dalam arti moral bisa berkembang menjadi dosa dalam arti dogmatis? Secara ringkas dapat dijawab “Bisa”. Mari kita kita perhatikan beberapa bagian dari Alkitab ini.

1. Injil Matius 18: 15-17. Bagian bacaan ini mengungkapkan tentang kemungkinan adanya anggota jemaat yang pada akhirnya disebut sebagai ” orang yang tidak mengenal Allah”. Istilah tidak mengenal Allah sama artinya dengan tidak memiliki hubungan yang benar dengan Allah.

2. Injil Yohanes 15: 1-6. Bacaan ini mengingatkan kepada setiap orang percaya agar imannya senantiasa tumbuh dan berbuah. Bila iman tidak tumbuh dan berbuah diibaratkan seperti ranting kering yang layak untuk dipotong dan dibuang. Yang disebut sebagai ranting kering dan tidak berbuah tentulah menunjuk kepada orang percaya yang tidak lagi dapat mencerminkan sikap hidup seperti yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Ranting tentulah tidak kering tiba-tiba, melainkan pelan-pelan. Ini sama dengan perubahan dari dosa dalam arti moral ke dosa dalam arti dogmatis. Bila dosa dalam arti moral dibiarkan terus menerus berlangsung, pada akhirnya bisa berubah menjadi dosa dalam arti dogmatis.

3. I Korintus 10. Pada bagian ini Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa pengalaman Umat Israel pada jaman dahulu adalah cermin untuk kita saat ini. Melalui cermin itu kita dapat melihat bahwa ternyata ada sebagian umat Israel yang binasa di tengah jalan. Mereka binasa karena tidak tekun dan tidak setia kepada Allah. Bagi kita hal itu juga berlaku. Bila kita tidak tekun dan tidak setia maka godaan bisa menguasi kita.

Dari contoh-contoh bagian Alkitab di atas kiranya dapat semakin mengingatkan kita agar kita dapat hidup dengan lebih bijak (bandingkan II Timotius 1: 7 “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban”). Karena keselamatan adalah karunia Tuhan yang luar biasa, janganlah sekali-kali kita sia-siakan!

Oleh karena itu siapa pun dipanggil untuk berupaya agar selalu menumbuhkan imannya. Sebab di depan Tuhan tak ada seorang pun yang bisa mengklaim sebagai yang sudah layak. Haruslah ada upaya terus menerus untuk tumbuh dan tumbuh. Barangkali nasehat Rasul Paulus ini amat baik untuk kita hayati:
“Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh…”
-I Korintus 10: 12

e-mail artikel ini e-mail artikel ini
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

One Comment »

  1. Apakah dosa moral bisa ditukar / dibeli dengan uang dan atau ditukar dengan amal dan perbuatan baik sesorang ? Tentu tidak…………… Sejauh dan selama seseorang menggunakan logika atau logika yang berkuasa dia tidak akan menemukan apa-apa.

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>