wordpress com stats plugin
Home » Pancaran Air Hidup

Anakku Tak Dijual

31 May 2015 81 views No Comment Oleh

Bacaan: Roma 8: 12 -17   |   Pujian: KJ 393
Nats: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah ….” (ay.17a)

Orang tua dan anak memiliki hubungan yang sangat unik. Sejak mengetahui akan memiliki anak, tiap orang tua pasti mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin. Sewaktu anaknya lahir, orang tua juga memberikan yang terbaik bagi bayinya, mulai memberi ASI, memberikan pendidikan, memberikan perawatan kesehatan, asuransi, dsb. Pastilah orang tua berusaha memberikan yang terbaik bagi anaknya sesuai dengan kemampuannya. Kalau misalnya ada orang yang datang ke rumah kita dan mau membeli anak kita seharga 1 Milyar Rupiah, diberikan tidak? Ah…saya kira orang tua normal tidak ada yang mau menjual anaknya. Tapi, nanti…saat anak kita lulus kuliah yang susah payah kita biayai dan dapat pekerjaan bagus yang siang malam kita doakan. Lalu, ada orang yang memintanya jadi isteri/ suaminya bagaimana? Kali ini, pasti kita berikan. Gak pakai bayar, alias gratis! Aneh ‘kan?

Hubungan unik antara orang tua – anak inilah yang juga sedang ditawarkan oleh Allah kepada kita orang percaya. Menurut Paulus, kita ini bagaikan anak yang menjadi ahli waris dari janji-janji Allah yang diberikanNya melalui Kristus. Posisi anak selalu istimewa bagi orang tuanya, demikian juga kita di mata Allah. Namun, jangan lupa bahwa setiap anak juga memiliki tugas dan kewajiban terhadap orang tuanya. Anak harus bersedia dibentuk dan dididik oleh orang tuanya dan ia mestilah menjaga nama baik orangtuanya. Demikian pula kita yang telah diangkat sebagai anak-anak Allah, kita memilki hak yang istimewa. Namun jangan lupa bahwa kita pun memiliki tanggung jawab yang istimewa pula, yaitu untuk hidup sesuai kehendak Allah, Bapa kita dan untuk hidup memberitakan kebaikanNya.

Memang menjadi anak Allah tidak berarti kita tak akan merasakan kesakitan, kegagalan atau kekurangan, karena Kristus saja diijinkan menderita. Tapi, bagaimana dalam penderitaan itu kita tetap berusaha setia hidup dan bertindak sebagai anak Allah. Percayalah….suatu saat nanti sebagaimana Kristus dipermuliakan, kita pun akan menerima kemuliaan itu. (Rhe)

“Kasih Allah bagai sentuhan Ibu yang lembut dan bagai lengan kuat Ayah yang senopang.”

Bagikan Artikel ini:
facebooktwittermail

Kata Kunci Artikel Ini:

Roma 8 : 12-17

Comments are closed.