wordpress com stats plugin
Home » Pancaran Air Hidup

Anak-ku

19 October 2014 59 views No Comment Oleh

Bacaan : Matius 22 : 34 – 40  |   Pujian: KJ 395
Nats: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” [ayat 37]

Menjelang ulang tahun anak kami yang kedua dua tahun lalu, saya dan suami iseng menghitung berapa pengeluaran kami untuk Niel sejak lahirnya. Ternyata, jumlah rupiahnya cukup untuk membeli motor sport tipe tertinggi keluaran terbaru. Hitung-hitungan ini belum termasuk “immateriil”, seperti biaya bangun di tengah malam, biaya untuk menyusui, biaya pegal karena menggendong dan biaya mengganti popoknya selama dua tahun. Tapi, tentu sama dengan orang tua “waras” lainnya kami tidak akan menagihkan pengeluaran ini pada Niel. Nah….inilah yang disebut kasih, sebuah alasan yang membuat orang tua melakukan segala hal untuk memberi yang terbaik bagi anaknya tanpa berharap imbalan.

Kasih inilah yang kembali kita baca dalam bagian Alkitab hari ini. Cerita Matius diawali dengan sebuah keterangan bahwa setelah Yesus mengalahkan orang Saduki (yang menolak kebangkitan) dalam perdebatan tentang kebangkitan dalam perikop sebelumnya, orang Farisi berdiskusi untuk mengajukan pertanyaan yang sekiranya bisa mengalahkan Yesus dalam perdebatan (ay.34). Akhirnya, dipilihlah seorang utusan untuk mencobai Tuhan Yesus dengan mengajukan pertanyaan sulit: “Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Pertanyaan ini menjadi sulit karena Taurat adalah hukum yang sentral dalam iman Yahudi. Jika Yesus hanya memilih satu dari Taurat Ia tidak hanya akan kalah dalam perdebatan tapi juga didakwa penyesat dan dijatuhi hukuman. Namun, Yesus memberi jawab dengan menyatakan dua hukum terpenting yang tak terbantahkan: Kasih kepada Allah dan sesama. Lagi-lagi lawanNya tak berkutik mendengar jawaban Tuhan Yesus.

Dalam ibadah minggu kali ini, mari sejenak melihat diri, hati dan laku kita. Sudahkah kasih itu benar kita wujudnyatakan atau masih jadi slogan tanpa makna? Jangan merasa bahwa kasih itu susah diwujudkan. Kasih itu sederhana, sesederhana senyum di tengah kesedihan, sesederhana memaafkan meski terluka  dan sesederhana tetap memperhatikan meski kita terabaikan. Ya…, kasih itu sederhana. [Rhe]

“Kasih adalah seberkas cahaya yang mengalahkan pekatnya kebencian.”

Bagikan Artikel ini:
facebooktwittermail

Comments are closed.